Kaum Hilbatar: Perang Dunia dan Kejayaan Nusantara

Wahai saudaraku. Pada periode zaman ke enam manusia (Nusanta-Ra), maka sebelum masa kehidupan Nabi Musa AS, hiduplah kaum yang dulunya tinggal di sekitar Jambi-Palembang sekarang. Kaum tersebut bernama Hilbatar, yang didirikan oleh sekelompok orang yang berasal dari kaum sebelumnya yang bernama Artamia. Sebelum tinggal di Swarnula (penamaan tanah Sumatera waktu itu), dulunya mereka tinggal di sekitar Semarang sekarang, di kerajaan Druwakati. Akibat perang besar yang menghancurkan kerajaan Druwakati, mereka tersebar ke berbagai negeri. Salah satunya adalah mereka yang akhirnya tinggal di Swarnula, atau lebih tepatnya di sekitar wilayah Jambi-Palembang sekarang. Lambat laun di tempat baru itu mereka mendirikan kaum dan kerajaan yang baru yang bernama Hilbatar.

Kaum Hilbatar ini termasuk di antara kaum yang terbaik di zamannya. Mereka hidup dalam kemakmuran dan mampu membangun peradaban yang tinggi. Kota-kota yang mereka bangun sangat megah dengan gaya arsitektur yang besar, tinggi dan juga menawan. Bisa dikatakan bahwa apa yang dibangun di negeri kaum Hilbatar ini menjadi inspirasi dan kiblat pembangunan di hampir seluruh kota besar dunia. Bahkan tidak hanya di zaman mereka, tetapi sampai ke zaman berikutnya, seperti pada masa kehidupan bangsa Sumeria, Mesopotamia, Babylonia, Mesir, India dan Persia.

Dan sebelum kita membahas lebih jauh tentang kaum Hilbatar atau perang dunia yang terjadi kemudian, maka perlu diketahui dulu bahwa periode zaman Nusanta-Ra itu dibagi ke dalam tiga periode waktu, yaitu awal, tengah dan akhir. Periode awal di zaman ini berlangsung selama ±500.000 tahun, periode tengah selama ±200.000 tahun, sementara yang akhir berlangsung selama ±100.000 tahun. Jadi total waktu untuk periode zaman ke enam manusia ini (Nusanta-Ra) adalah sekitar ±800.000 tahun. Selama itu, maka terdapat tiga periode waktu yang mewakili tiga jenis karakter dan model kehidupan manusianya. Di periode awalnya, peradaban manusia saat itu terdiri dari gabungan antara kesaktian dan teknologi, sementara yang kedua lebih kepada kesaktiannya saja meskipun tetap ada teknologinya; tapi tak secanggih di periode awal. Sedangkan yang di periode akhirnya kembali seperti model kehidupan di periode awalnya, hanya saja saat itu levelnya sudah jauh berbeda. Di periode yang terakhir ini, khususnya tentang kesaktian dan teknologinya, maka sudah tak sehebat manusia di periode yang awal. Sudah jauh menurun dan terus menurun sampai di periode zaman selanjutnya, yaitu zaman Rupanta-Ra ini (zaman kita sekarang).

Nah, untuk lebih jelasnya mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Awal kisah
Kisah bermula pada abad ke 439 di periode awal zaman Nusanta-Ra, atau setelah ±2.000 tahun lebih kerajaan Girimalaka runtuh. Sebelumnya, kerajaan besar yang didirikan oleh raja Hirmalaka itu akhirnya runtuh karena perang saudara yang berkepanjangan. Mereka yang selamat dari musibah itu lalu menyingkir ke tempat lain dan memulai kehidupan yang baru disana. Setelah beberapa generasi, atau sekitar ±2.256 tahun kemudian, mereka kembali membangun kerajaan baru yang bernama Druwakati. Meskipun pada saat itu bukan kerajaan yang besar, mereka bisa hidup makmur dan cukup disegani oleh bangsa lainnya.

Kerajaan Druwakati ini didirikan oleh seorang yang bernama Silmalaka. Ia adalah putra dari Galsumalaka, pemimpin dari sisa-sisa penduduk kerajaan Girimalaka yang menyingkir ke wilayah di sekitar Semarang sekarang. Disana, ia dan para pengikutnya lalu mendirikan kerajaan baru yang bernama Druwakati. Tapi karena dianggap seperti duri di dalam daging, kerajaan ini lalu ditaklukkan oleh kerajaan Murakata yang tinggal di sekitar Pontianak, Kalimantan Barat sekarang. Akibat dari serangan itu, keturunan dari kaum Artamia ini tercerai berai lagi dan harus menyelamatkan diri dengan cara mengungsi ke tempat lain. Sebagian dari mereka ada yang hijrah ke tanah Swarnula (penamaan kawasan Sumatera saat itu) dan mencari penghidupan baru disana. Di tempat yang baru itu, sekali lagi keturunan dari kaum Artamia ini mencoba membangun kejayaannya.

Waktu pun berlalu. Setelah 5 generasi atau setelah 1000 tahun lebih, akhirnya kejayaan itu tiba. Pemuda yang bernama Harumalaka berhasil membangun kerajaan yang bernama Hilbatar. Ia adalah putra tertua dari pemimpin klan Simadati (salah satu kelompok pecahan dari kerajaan Druwakati). Dari ayahnya yang bernama Mishamalaka, ia masih mewarisi trah raja-raja di kerajaan Druwakati. Lalu dari kerajaan itu, ia juga masih mewarisi darah raja-raja di kerajaan Girimalaka lalu Hiramia hingga yang paling awal adalah raja-raja di kaum Artamia lalu Haluria dan Karimala. Semua kerajaan dan kaum itu adalah leluhur dari klan Simadati, khususnya bagi Harumalaka dari sisi ayahnya. [Tentang hal ini silahkan baca: Kaum Artamia: Bangkit dan hancurnya leluhurku]

***

Untuk lebih jelasnya tentang waktu kehidupan manusia di zaman Nusanta-Ra itu, berikut ini kami berikan keterangan singkat tentang masa-masa yang terlalui sebelum berdirinya kaum Hilbatar. Yaitu:

1. Kaum Karimala adalah asal usul pertama dari kaum Hilbatar. Mereka itu di antara manusia yang selamat saat transisi zaman kelima (Dwipanta-Ra) menuju zaman keenam (Nusanta-Ra) terjadi. Artinya, mereka termasuk di antara kaum-kaum pertama yang hidup di periode zaman ke enam manusia (Nusanta-Ra). Sebelum terbagi, mereka diberi waktu hidup selama 26 generasi, atau sekitar ±7.800 tahun.
2. Pada akhirnya kaum Karimala harus dibagi. Setelah terbagi menjadi empat (Haluria, Simaria, Giramia, dan Pulsaria), maka berdirilah kerajaan Haluria selama 46 generasi, atau sekitar ±13.800 tahun.
3. Terjadi perang saudara dan perebutan kekuasaan di antara ke empat kerajaan keturunan kaum Karimala (Haluria, Simaria, Giramia, dan Pulsaria). Kerajaan Haluria kalah dan harus menyingkir ke tempat lain. Di tempat yang baru mereka mendirikan kaum dan kerajaan baru yang bernama Artamia di sekitar Nganjuk, Jawa Timur sekarang. Mereka hidup makmur dan berperadaban tinggi dengan waktu hidup selama 60 raja, atau sekitar ±10.000 tahun (di masa kaum ini umur manusia sudah semakin pendek).
4. Pada akhirnya, kaum Artamia diperintahkan untuk berpindah ke dimensi lain. Tapi sebelum semuanya pindah, tiga kelompok dari mereka itu diperintahkan untuk membangun kerajaan baru di tanah Jawa. Ketiganya bernama kerajaan Hiramia, Diramia dan Ziramia. Di masa generasi ke 15-16 mereka, ketiga kerajaan itu saling berperang dan akhirnya dihancurkan oleh kerajaan Arnomar yang datang dari utara. Artinya ketiga kerajaan itu, khususnya kerajaan Hiramia, berdiri hanya selama 16 generasi saja, atau sekitar ±4.800 tahun saja.
5. Sepeninggalan kerajaan Hiramia, keturunan kaum Artamia tak pernah mendirikan kerajaan baru. Mereka hidup mengembara dan atau membaur dengan kaum lainnya. Setelah ±2.500 tahun, mereka baru kembali mengambil peranan penting dengan ikut serta dalam perang dunia pertama di awal zaman Nusanta-Ra. Dipimpin oleh Hirmalaka, mereka juga mendirikan kerajaan baru yang bernama Girimalaka di sekitar Kediri, Jawa Timur sekarang. Tapi setelah 12 generasi atau setelah ±3.500 tahun berdiri, kerajaan Girimalaka pun runtuh akibat perang saudara yang berkepanjangan. Butuh waktu selama lebih dari 2.250 tahun agar keturunan dari kaum Artamia ini bangkit dan mendirikan kerajaan lagi. Dan akhirnya mereka pun mendirikan kerajaan baru yang bernama Druwakati yang berada di sekitar Semarang.
6. Kerajaan Druwakati tak lama berdiri karena hancur akibat diserang oleh kerajaan Murakata. Artinya hanya selama 2 generasi atau sekitar ±516 tahun saja kerajaan ini berdiri.
7. Setelah kerajaan Druwakati runtuh, maka butuh waktu selama 5 generasi atau lebih dari 1.000 tahun agar keturunan kaum Artamia bisa bangkit dan mendirikan kerajaan baru lagi. Dan akhirnya mereka mendirikan kaum dan kerajaan baru yang bernama Hilbatar. Dibawah kepemimpinan seorang pemuda yang bernama Harumalaka, semua itu bisa terwujud. Kaum Hilbatar ini tinggal di sekitar antara Jambi dan Palembang sekarang.
8. Kesimpulannya, butuh waktu lebih dari 45.000 tahun – sejak memasuki periode zaman keenam (Nusanta-Ra) – untuk kaum Hilbatar bisa didirikan. Mereka bukan kaum yang tersendiri, melainkan tetap berasal dari kaum sebelumnya, yaitu kaum Artamia dan Karimala.

***

Awalnya, ketika kerajaan mereka (Girimalaka) runtuh, semua keturunan kaum Artamia menghilang ke dalam bayang-bayang. Seiring itu pula mereka juga menjadi bangsa pengembara yang terselubung rahasia. Oleh sebab itu, maka jasa-jasa serta jerih payah kaum mereka di masa lalu jarang dinyanyikan dalam lagu atau dicatat di dalam buku sejarah. Biasanya hanya sebatas cerita lisan dan semakin sedikit pula yang diingat tentang kejayaan mereka kecuali oleh anak keturunannya sendiri. Meskipun begitu, sebagian dari kaum Artamia tetap berharap bahwa suatu saat nanti mereka bisa kembali mendirikan peradaban yang besar yang sesuai dengan apa yang telah diwariskan oleh leluhurnya dulu; kaum Artamia.

Selama lebih dari 1.500 tahun, keturunan kaum Artamia yang tersisa dari kerajaan Girimalaka hidup menyendiri dan terbagi ke dalam tiga klan. Di antara ketiga klan itu bernama Simadati, Wilajati dan Milahati. Setiap klan dipimpin oleh seorang Zimar (semacam kepala suku) yang terhormat. Meskipun hanya sebatas suku yang terasing, dibawah kepemimpinan sosok yang masih mewarisi darah para raja kaum Artamia itu, setiap klan hidup damai dan teratur. Mereka tetap bisa membangun peradaban yang tidak ketinggalan di zamannya. Meskipun hanya sebatas suku yang terasing, maka dibawah kepemimpinan Zimar (ketua klan) yang pintar, setiap klan bisa hidup makmur. Dan meskipun bukan sebuah kerajaan yang besar, setiap klan tetap sangat disegani oleh bangsa-bangsa yang ada di sekitar kawasan Jarwihala (penamaan Nusantara di masa itu). Mereka tetap dihormati, karena masih keturunan dari kaum Artamia yang terkenal hebat dan agung itu.

Waktu pun berlalu selama 3 generasi atau sekitar ±756 tahun sejak berdirinya ketiga klan (Simadati, Wilajati dan Milahati). Seorang pemimpin dari klan yang bernama Simadati akhirnya berhasil menyatukan dan memimpin sisa-sisa dari kaum Artamia itu untuk mendirikan kerajaan baru. Ia bernama Silmalaka, sedangkan kerajaan yang dibangun saat itu diberi nama Druwakati. Lokasi dari kerajaan itu sekarang berada di sekitar Semarang, Jawa Tengah. Disana mereka bisa hidup makmur dan mulai menaiki tangga peradaban.

Tapi karena kerajaan tetangga mereka yang bernama Murakata (yang ada di sekitar Pontianak, Kalbar sekarang) merasa bahwa kerajaan Druwakati itu sebagai ancaman dan bisa menjadi duri di dalam daging, maka terjadilah pertempuran besar. Kerajaan Druwakati berhasil dikalahkan oleh kerajaan Murakata tepat di masa generasi mereka yang ketiga, atau sekitar ±516 tahun setelah berdirinya kerajaan Druwakati. Orang-orang yang selamat dari musibah itu lalu menyelamatkan diri dengan cara exodus (mengungsi) ke tempat lain. Mereka terpisah lagi menjadi tiga klan, yaitu Simadati, Wilajati dan Milahati. Salah satu rombongan dari klan Simadati yang dipimpin oleh Wijayamalaka, akhirnya tiba di sebuah lembah yang terdapat di sekitar antara Jambi dan Palembang sekarang. Disana ia dan para pengikutnya lalu mendirikan hunian baru dan menetap selama beberapa generasi.

Waktu pun terus beranjak selama 4 generasi, atau sekitar ±1.095 tahun setelah kerajaan Druwakati runtuh. Tak lama kemudian lahirlah seorang anak laki-laki keturunan klan Simadati dari pasangan Mishamalaka dan Sayinama. Anak laki-laki itu lalu diberi nama Harumalaka. Dari ayahnya, ia masih keturunan dari kaum Artamia melalui garis silsilah kakeknya yang bernama Dirhamalaka bin Siranmalaka bin Wijayamalaka. Wijayamalaka sendiri masih keturunan langsung dari raja-raja di kerajaan Druwakati (kerajaan penerus kaum Artamia).

Sebagai anak tertua, maka setelah ayahnya pensiun, Harumalaka-lah yang akan menggantikan posisinya sebagai pemimpin klan Simadati. Tapi sebelum itu, sejak masih remaja, Harumalaka sangat jarang tinggal di desanya. Ia lebih sering keluar desa dan berpetualang ke berbagai negeri untuk mencari ilmu dan pengalaman. Dimana pun ada orang pintar dan sakti, Harumalaka akan belajar dengan tekun kepadanya. Selama lebih dari 25 tahun hal itu terus saja ia lakukan, dan banyak pula guru yang telah ia serap ilmunya. Hanya sesekali saja sang pemuda pulang ke desanya untuk sekedar melepas rindu dengan keluarganya.

Namun demikan, selama ±25 tahun itu Harumalaka justru tak merasa puas dengan ilmu yang telah ia dapatkan. Meskipun sudah banyak ilmu dan kemampuan yang telah dikuasai, namun di hatinya masih terasa ada yang kurang. Karena itulah ia kembali berpetualang untuk menambah ilmu dan pengalamannya. Selama 6 bulan lebih ia kesana-kemari mencari guru yang mampu menyegarkan dahaga dihatinya. Banyak negeri yang telah ia kunjungi tapi masih saja tidak menemukan apa yang dicari. Sampai pada suatu ketika ia ingin beristirahat penuh setelah cukup lama berjalan. Dibawah sebuah pohon yang rindang, Harumalaka tertidur pulas. Di dalam tidurnya saat itu, ia lalu bermimpi ketemu seorang pria yang kharismatik. Sosok tersebut lalu menunjukkan cara dan kemana ia harus berjalan mencari ilmu.

Singkat cerita, saat terbangun dari mimpinya itu, Harumalaka langsung merenung sejenak. Diterkanya semua isi mimpi yang baru saja didapatkan. Tak lama kemudian barulah ia mengerti bahwa mimpi itu adalah petunjuk baginya. Inilah yang selama 6 bulan terakhir telah ia cari-cari. Oleh sebab itu, tanpa pikir panjang Harumalaka lalu berjalan mengikuti kata hatinya. Banyak bukit yang telah ia daki, setiap lembah pun ia lewati dan sungai telah berhasil ia seberangi. Selama 7 hari 7 malam sang pemuda terus berjalan dan sesekali saja beristirahat untuk makan atau pun tidur. Sampai akhirnya pada suatu ketika, di pagi hari yang ke delapan, Harumalaka sampai di tepian sebuah sungai yang airnya berjeram. Saat ingin mengambil air, tanpa disengaja ia bertemu dengan seorang pria tua. Sosok tersebut juga akan mengambil air. Setelah bertegur sapa dan melihat dari dekat wajahnya, ternyata sosok itu adalah orang yang hadir di dalam mimpinya. Ia adalah seorang Maharesi yang bernama Kalsiyana.

Waktu pun berlalu, Harumalaka mulai berguru kepada Maharesi Kalsiyana selama beberapa tahun. Dengan sosok yang bijak tersebut, ia lalu belajar tentang berbagai ilmu pengetahuan dan kesaktian. Karena selama lebih dari 15 tahun ia belajar dengan tekun, maka selama itu pula kemampuan yang didapatkan terus meningkat secara drastis. Selama itu pula banyak ilmu pengetahuan dan kesaktian yang berhasil ia kuasai. Adapun khusus untuk ilmu kesaktian, Harumalaka telah meningkatkan kemampuannya untuk bisa terbang secepat kilat dan menghilang. Untuk bisa menghilang, selain mempelajari mantranya, ia juga harus ber-tapa brata selama 130 hari di dalam tanah (di kubur hidup-hidup). Sedangkan untuk bisa terbang, maka ia harus ber-tapa brata terlebih dulu di dalam laut selama 360 hari. Setelah itu, barulah ia diajarkan mantranya. Selain itu, khusus untuk bisa mengendalikan elemen alam (tanah, air, api, udara, dan petir), maka pada saat itu ia harus berlatih keras tentang berbagai hal dan ditambah lagi dengan ber-tapa brata di puncak gunung selama 7 tahun. Ilmu tingkat tinggi itu menurut Maharesi Kalsiyana bernama Dirmantala.

Setelah menguasai ilmu Dirmantala, pelajaran pun tetap diteruskan khususnya tentang hakekat tauhid dan spiritual. Suatu hari saat sedang asyik berbincang-bincang, mereka kedatangan seorang tamu agung. Saat itu, tiba-tiba di dekat mereka muncul seorang pria yang sangat berwibawa. Ia mengucapkan salam dan tersenyum kepada guru dan muridnya. Melihat itu, sepertinya Maharesi Kalsiyana sudah mengenali sosok tersebut, yang ternyata seorang Nabi yang bernama Awila AS. Adapun tujuan sang Nabi datang saat itu adalah untuk menyampaikan petunjuk bagi Harumalaka. Nabi Awila AS pun berkata: “Wahai ananda. Beberapa hari kedepan, kau harus mulai menjalankan tapa brata selama 50 tahun di puncak gunung. Tujuan dari tapa brata itu sendiri adalah untuk meningkatkan daya energi dan kemampuan lahir batinmu. Adapun caranya harus melalui tiga tahapan. Pertama, selama 15 tahun pertama kau harus ber-tapa brata dengan cara duduk bersila menghadap ke arah barat. Kedua, selama 15 tahun berikutnya engkau harus ber-tapa brata lagi dengan cara berdiri di atas kedua kakimu. Dan yang ketiga, selama 20 tahun terakhir kau harus ber-tapa brata dengan cara berdiri kaki satu. Semua tapa brata itu harus di lakukan dengan khusyuk di puncak sebuah gunung yang pancaran energinya besar”

Ya. Menurut Nabi Awila AS, tujuan lain dari tapa brata itu adalah agar Harumalaka siap untuk menerima apa saja yang memang menjadi haknya. Selain itu, di kemudian hari ia akan menjalankan tugas besar yang sulit. Karena itu, dengan ber-tapa brata secara khusyuk selama beberapa waktu, maka ia baru akan siap menghadapi segala tantangan dari tugas besarnya nanti. Mendengar penjelasan itu, Harumalaka hanya bisa diam menerimanya. Ia yakin dengan apa yang telah disampaikan oleh sang Nabi tanpa ada ragu sedikit pun di hatinya. Maharesi Kalsiyana juga mengiyakan hal itu, karena sang Begawan merasa apa yang disampaikan oleh sang Nabi memang benar adanya. Tugasnya saat itu sama dengan sang Nabi yaitu membimbing Harumalaka agar siap menjalankan tugasnya nanti.

Singkat cerita, setelah mengatakan hal itu, maka tak lama kemudian Nabi Awila AS hilang dari pandangan. Oleh sang guru, Harumalaka lalu disarankan untuk melakukan tapa brata itu di puncak gunung Murahala (dulu berada di antara Jawa Tengah dan Jawa Timur). Menurut sang Begawan, di lokasi itu terus memancar energi alam yang sangat besar. Ini akan sangat membantu siapapun dalam menjalankan tapa brata. Tapi memang seiring itu pula akan banyak ujian dan halangan yang harus dilalui, baik dari alam nyata maupun goib.

Catatan: Saat itu penampilan gunung Lawu tak seperti sekarang. Bahkan disana belum ada gunung Lawu itu. Yang ada hanyalah gunung raksasa yang bernama Murahala. Gunung itu memiliki ketinggian sekitar ±5.675 mdpl. Beberapa ratus ribu tahun kemudian barulah gunung itu meletus secara eksplosif (meledak) dan menjadi sebuah kaldera yang sangat luas. Pada saat gunung Murahala itu meletus, dampaknya sangat luar biasa bagi alam dan makhluk hidup yang ada. Saking dahsyatnya, membuat orang-orang yang tinggal di tanah Jawa saat itu harus mengungsi ke tempat lain untuk sekedar menyelamatkan diri. Selama ribuan tahun kemudian tanah Jawa kosong tak berpenghuni, kecuali oleh bangsa jin dan sejenisnya. Seiring itu pula, perlahan-lahan dari kaldera itu muncullah gunung baru yang tumbuh dengan cepat. Gunung ini sangat aktif dan terus mengeluarkan magma dari puncaknya (gunung berapi aktif). Tentang penamaan, maka pada awalnya gunung itu disebut Lahwu, kemudian Dimaru, lalu Mahendra dan akhirnya kini sebagai Lawu. Gunung Lawu itu pun pernah meletus beberapa kali, bahkan secara eksplosif (meledak) tapi tumbuh lagi, dan kini telah memiliki ketinggian sekitar ±3.265 mdpl.

Lalu, atas bimbingan dari gurunya, Harumalaka mampu menjalankan tapa brata yang sangat keras itu dengan baik. Meskipun banyak hujan badai, cuaca yang sangat dingin dan ekstrim, bahkan godaan dari makhluk halus yang kerap terjadi, sang pemuda mampu melalui itu semua, tahun demi tahun. Setiap tahapan dalam tapa brata itu pun telah ia lalui dengan benar dan sukses. Semakin lama ia ber-tapa, maka dari dalam tubuhnya pun memancar aura magis yang sangat besar. Hal ini membuat mereka (jin, siluman, hewan) yang tinggal di sekitar gunung Murahala menjadi terkesima. Itu berlangsung selama lima tahun terakhir, sampai pada akhirnya tubuh Harumalaka pun berpindah ke dimensi lain. Ke sebuah dimensi yang tak semua orang bisa mengunjunginya.

Saat itu Harumalaka diizinkan pindah ke dimensi ke-8 (Gulatasyi). Disana ia bertemu dengan para leluhurnya yang berasal dari beberapa kerajaan besar di masa lalu. Saat bertemu dengan para leluhurnya itu, Harumalaka tidak hanya bisa bertegur sapa, berkenalan dan mendengarkan kisah heroik dari mereka, tetapi ia juga menerima warisan pusaka dan tambahan kesaktian. Dan sebagai keturunan dari kaum Artamia, sang pemuda pun menerima cincin Syalimara dan kitab Natakawa yang menjadi warisan dari Nabi Awila AS. Selain itu, ia juga menerima benda pusaka lainnya seperti keris Hurtalara, tombak Rimhasa, pedang Nigamara, busur panah Kiswarata dan tongkat kekuasaan yang bernama Armunhar. Semua benda pusaka itu akan membantunya dalam membangkitkan kejayaan kaumnya sekali lagi.

Singkat cerita, setelah ia bertemu dengan para leluhurnya dan kembali ke dimensi nyata dunia ini, Harumalaka berniat untuk segera kembali ke desanya. Atas restu dan bimbingan dari gurunya yang bernama Maharesi Kalsiyana, ia lalu mencoba membangkitkan kejayaan kaumnya. Awalnya memang penuh tantangan, tapi akhirnya berjalan lancar dan sesuai dengan harapan.

2. Kebangkitan kerajaan Arnomar
Pada masa awal kehidupan klan Simadati di tanah Swarnula (Sumatera), atau sekitar abad ke 439 di periode awal zaman Nusanta-Ra, kekuasaan dari kerajaan Arnomar yang tinggal di utara (sekitar Laut China Selatan sekarang) memang telah runtuh. Itu bahkan terjadi sejak awal kehidupan leluhur mereka (kerajaan Girimalaka). Dibawah pimpinan seorang pemuda yang bernama Hirmalaka, kerajaan dibawah pimpinan seorang raja penyihir itu dapat dihancurkan. Dan memang pertempuran saat itu bisa dikatakan sebagai perang dunia pertama di periode zaman Nusanta-Ra. Hampir semua kerajaan yang ada ikut terlibat, karena saat itu adalah perang penentuan nasib kehidupan di Bumi selanjutnya. Perang besar itu adalah perang antara kebenaran dan kebatilan.

Lalu, setelah klan Simadati yang merupakan keturunan dari kaum Artamia dari trah kerajaan Druwakati berdiri lagi dan mulai menata kehidupannya, kekuatan dari kerajaan Arnomar mulai bangkit. Selama 3 generasi, kerajaan itu memang belum terlalu menampakkan diri atau menjadi ancaman yang serius bagi dunia. Tapi sejak masa kehidupan dari Mishamalaka (pemimpin klan Simadati ke-4), kekuatan dari kerajaan jahat itu mulai bergerak. Dan ketika anaknya yang bernama Harumalaka masih menjalankan tapa brata-nya di puncak gunung Murahala, raja penyihir dari kerajaan Arnomar dan pasukannya telah menyerbu Milnaya, kota perbatasan kerajaan Antasa yang tinggal di perbatasan utara Jarwihala (Nusantara). Bersama puluhan ribu pasukannya, ia bahkan terus menyerang dan mendesak negeri-negeri yang ada di luar perbatasan utara kawasan Jarwihala (Nusantara). Termasuklah pada akhirnya sampai mengganggu kenyamanan dari bangsa-bangsa yang tinggal di sekitar Swarnula (tanah Sumatera) dan Dilata (daerah di sekitar Laut Karimata sekarang) saat itu.

Setelah berhasil menguasai Milnaya pada sekitar tahun 45.347 sejak memasuki periode awal zaman Nusanta-Ra, kerajaan Arnomar tidak melanjutkan penyerangannya. Mereka kembali ke negerinya di utara untuk beberapa waktu, dan meninggalkan 5.000 orang lebih pasukan untuk menjaga Milnaya agar tak direbut kembali oleh orang-orang dari selatan. Di negerinya itu (yang kini berada di sekitar Laut China Selatan), raja Ar-Maruktar terus mengumpulkan kekuatan untuk kemudian kembali mengobarkan perang kepada bangsa-bangsa yang tinggal di kawasan Jarwihala (Nusantara). Tujuannya adalah sama seperti dulu, yaitu mendirikan kekaisaran dunia yang berpusat di Arnomar. Raja Ar-Maruktar tetap ingin menjadi penguasa tunggal di seluruh dunia.

Kerajaan Arnomar ini adalah kerajaan yang penuh misteri dan kegelapan. Meskipun sudah runtuh selama ribuan tahun, kerajaan ini akhirnya mampu bangkit lagi dengan cita-cita yang sama. Raja mereka yang dulunya pernah dikalahkan, ternyata tak pernah bisa mati. Dia hanya menyingkir, karena sudah terdesak oleh kekuatan dari persekutuan manusia dan bangsa Peri yang dipimpin oleh Hirmalaka, pendiri kerajaan Girimalaka. Selama ribuan tahun ia menghilang. Namun ketika sudah mempunyai kekuatan, tanpa menunggu waktu lagi Ar-Maruktar segera mengumpulkan para pelayan setianya. Dari dunia nyata atau pun alam goib, ia kumpulkan terus menerus anak buahnya itu. Sampai pada akhirnya dirasa cukup untuk bisa melakukan penaklukkan.

Raja penyihir yang bernama Ar-Maruktar itu adalah orang yang sangat sakti. Ia sebenarnya seorang anak manusia yang berasal dari Zimatah (kepulauan Jepang sekarang). Tapi setelah ber-tapa brata selama lebih dari 1.000 tahun dan mendapatkan banyak kesaktian, ia mulai berubah menjadi sombong. Karena ilmu yang dimiliki itu, semakin hari Ar-Maruktar bahkan menjadi bengis. Ia memang sakti mandraguna, tak bisa mati dan bisa berhubungan langsung atau memerintahkan makhluk dari dimensi lain. Ia juga mampu mengendalikan kelima elemen yang ada (tanah, api, air, udara dan petir) dengan sangat mudahnya. Selain itu, Ar-Maruktar juga bisa membuat embun beku dan mencairkannya, atau mendatangkan badai angin yang disertai petir sekehendak hatinya. Dengan kesaktian yang dimiliki, ia juga mampu mengubah-ubah wujudnya dan setiap kata-katanya bisa menjadi mantra yang mempengaruhi pikiran. Tak jarang pula kutukannya bisa menjadi kenyataan, kecuali bagi mereka yang berilmu tinggi dan hatinya bersih.

Ya, kesaktian dari raja penyihir itu memang sangat sulit untuk dicari tandingannya. Karena itu, ketika mendengar ia telah kembali, banyak bangsa di dunia yang merasa cemas. Tanpa kekuatan yang setara dengan Hirmalaka (pendiri kerajaan Girimalaka yang pernah mengalahkan Ar-Maruktar), maka bisa dikatakan tak ada lagi yang mampu membendung invasi dari kerajaan Arnomar. Selama lebih dari 70 tahun, raja Ar-Maruktar terus menaklukkan kerajaan-kerajaan yang ada di ketiga wilayah dunia saat itu. Tinggal yang di wilayah Jarwihala (Nusantara) saja yang belum dikuasai sepenuhnya.

Lalu, kerajaan Arnomar ini memang selalu diselimuti oleh banyak misteri. Berada di lereng gunung berkabut dan agak jauh dari peradaban manusia membuatnya semakin terasing dan susah diamati. Istananya terbilang megah, yang terbuat dari batu hitam bercampur krem yang sangat tebal, begitu pula dengan benteng kotanya. Sangat kokoh dan tetap berdiri meskipun sudah ribuan tahun ditinggalkan. Dibawah komando raja abadinya yang bernama Ar-Maruktar, kerajaan Arnomar lalu menaklukkan banyak kerajaan di wilayah utara (wilayah antara China sampai ke Russia sekarang), timur (wilayah antara Korea, Jepang dan sebagian Samudera Pasifik sekarang) dan barat (wilayah antara Myanmar sampai ke Iraq-Iran sekarang). Mereka juga telah menaklukkan beberapa kerajaan di Zurmahala (penamaan benua Afrika saat itu) bagian utara. Setelah itu, mereka tinggal bergerak untuk menaklukkan bangsa-bangsa yang tinggal di wilayah selatan (Nusantara).

Tapi pada sekitar tahun ke 38.115 sejak memasuki periode awal zaman Nusanta-Ra, semua kerajaan di wilayah selatan bergabung dan melawan dengan sengit. Dan terjadilah perang dunia pertama di masa lalu yang melibatkan ratusan kerajaan besar dan kecil. Jutaan pasukan ikut mewarnai jalannya pertempuran besar itu. Dan di masa lalu, sezaman dengan kerajaan Girimalaka, kerajaan bengis itu dapat dihancurkan. Sisa-sisa dari pasukannya dihabisi dan sebagian lainnya berhasil melarikan diri. Tapi sayang, ternyata itu bukan akhir dari segalanya. Karena rajanya, Ar-Maruktar tetap bisa menyelamatkan diri dan terus mengumpulkan kekuatan serta kesaktiannya lagi. Selama lebih dari 7.300 tahun ia bersembunyi, mengumpulkan kekuatan dan menunggu waktu yang tepat untuk bangkit. Dan di masa kehidupan klan Simadati, kerajaan Arnomar itu kembali bangkit. Sang raja penyihir, Ar-Maruktar sendiri yang memimpin kebangkitan itu. Bersama pasukan dan abdi setianya, perlahan tapi pasti mereka mulai berkuasa di Bumi.

2. Menyatukan dan mendirikan kaum Hilbatar
Sebelum perang dunia kedua yang terjadi pada tahun ke 45.485 sejak memasuki periode awal zaman Nusanta-Ra, perang antar kerajaan manusia memang kadang terjadi. Terlebih pada saat itu telah bangkit pula kerajaan Arnomar di luar perbatasan utara Jarwihala (Nusantara). Atas ambisi dari rajanya, Ar-Maruktar, kerajaan Arnomar terus menyerang negeri-negeri yang ada di sekitar wilayahnya. Tujuannya adalah untuk mendirikan kekaisaran yang bisa memimpin dunia. Peristiwa gaduh itu terus berlanjut selama lebih dari 70 tahun, sampai akhirnya seorang pemuda keturunan dari kaum Artamia yang bernama Harumalaka telah selesai dalam tapa brata-nya.

Setelah merampungkan tapa brata selama ±50 tahun di puncak gunung Murahala (asal usul gunung Lawu sekarang), Harumalaka kembali ke desanya di Simadati. Tapi sebelum sampai di desanya itu, ia sempat mengunjungi wilayah kerabat dekat mereka dari klan Wilajati. Namun sebelum sampai ke pusat desanya, ia melihat ada dua kubu pasukan yang saling berhadapan. Saat itu mereka bahkan sedang berbaris di dekat perbatasan kedua negeri dan sudah bersiap untuk perang. Setelah diamati simbol dan benderanya, ternyata keduanya adalah klan Wilajati dan Milahati, dua saudara se-kaum dari klan Simadati (klannya Harumalaka). Dan setelah diselidiki, ternyata keduanya sedang memperebutkan hak atas kepemimpinan dari kaum Artamia. Keduanya merasa paling berhak dan layak menjadi pemimpin dari semua keturunan kaum Artamia. Karena itulah, untuk menyelesaikan perseteruan itu, kedua klan memutuskan untuk berperang. Hasil dari medan pertempuran nanti akan menentukan siapa yang paling berhak atas kepemimpinan kaum Artamia.

Singkat cerita, kedua klan akhirnya berperang habis-habisan. Banyak yang jatuh sebagai korban, namun begitu kedua klan tersebut tetap seimbang, belum ada yang menjadi pemenangnya. Setelah lewat tengah hari, kondisi pertempuran tak banyak berubah. Yang terlihat justru semakin banyak yang tewas, sebuah pemandangan yang sangat menyayat hati. Harumalaka terus mengamati dari jauh pertempuran sengit itu. Awalnya ia masih bisa menahan diri, tapi sebagai seorang keturunan raja-raja kaum Artamia, Harumalaka akhirnya merasa sedih dan tak tega. Ia sudah tak tahan lagi saat melihat kaumnya sendiri justru saling bantai tanpa belas kasihan. Sungguh memilukan.

Akhirnya, karena sudah tak tahan lagi, maka secepat kilat Harumalaka sudah berada di tengah medan pertempuran. Dengan satu kali teriakan, tanah lapang yang ada di medan pertempuran itu berguncang hebat. Suara yang keluar dari mulut sang pemuda saat itu memekakkan telinga siapa saja. Orang-orang langsung berhenti dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah melihat kesana-kemari, mereka mendapati ada seorang pemuda yang berdiri di tengah-tengah pertempuran. Sosok tersebut sangat berkharisma sekaligus terlihat sangar. Di tubuhnya melekat baju zirah mengkilat berwarna emas bercampur merah, hijau dan biru. Tak ada yang pernah melihat model baju zirah yang seperti itu, karena sangat indah bentuknya. Lalu di tangan kanan sang pemuda itu terdapat sebilah tombak yang memancarkan cahaya kemilauan. Siapa pun yang melihat sosok tersebut akan merasa kagum sekaligus cemas.

Semua orang yang melihat Harumalaka, baik ia dari golongan perwira atau pun prajurit biasa akan merasa keheranan. Penampilannya membuat siapa saja akan berdecak kagum sekaligus ngeri. Dari tubuhnya memancar sinar yang membuat orang-orang menunduk takluk, kecuali bagi mereka yang memang sudah terlalu angkuh. Nah bagi yang angkuh itu, Harumalaka segera mengingatkan untuk tidak mengikuti nafsunya. Jika masih tetap angkuh, siapa pun ditantang untuk beradu kesaktian dengannya.

Selang beberapa waktu, ternyata ada seorang kesatria yang menerima tantangan itu. Ia adalah putra dari pemimpin klan Milahati yang bernama Zuriyamaka. Sang pemuda terkenal sakti mandraguna dan susah dicari tandingannya. Karena itu dengan percaya dirinya ia langsung maju dan menyerang Harumalaka seorang diri. Tapi baru saja mendekat dan melepaskan satu ajian, tubuhnya sudah langsung di hantam energi yang begitu besar menyerupai petir. Dalam waktu singkat, ia sudah tak mampu berdiri dan akhirnya pingsan di tempat. Ia tak terluka parah, hanya lecet sedikit, kemudian lemas dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri. Harumalaka sengaja melakukan itu karena sejak awal ia tak ingin korban jiwa terus bertambah.

Setelah kejadian itu, Harumalaka menunjukkan kekuatan dengan mendatangkan badai petir di setiap sudut medan pertempuran. Banyak orang yang dibuat sangat ketakutan, tak terkecuali para pemimpin klan yang ada. Setelah itu, Harumalaka segera menantang siapapun yang ingin berhadapan dengannya, jika masih tak mau menghentikan pertempuran. Ini bukan karena kesombongan diri, tapi demi menghentikan pertempuran yang tak berguna saat itu. Dan karena melihat akibat yang diterima oleh Zuriyamaka – padahal ia baru saja maju beberapa langkah, maka tak ada seorang pun yang berani maju. Semua orang hanya tertunduk malu dan hormat.

Melihat itu, Harumalaka segera menghentikan pertunjukkannya. Ia pun kembali berpenampilan seperti pemuda biasa dan berpakaian ala rakyat jelata. Dengan sikap yang santun, ia lalu meminta kedua pemimpin klan untuk berbicang-bincang dengannya. Tapi sebelum itu, ia sempat berkata dihadapan semua orang. Katanya: “Wahai semuanya. Apakah yang kalian lakukan ini? Apakah kalian sudah lupa bahwa kita semua adalah saudara. Kau, kau, kau, kalian dan aku ini masih sama-sama keturunan kaum Artamia. Kita bersaudara. Lalu mengapa kalian justru saling berkelahi dan bermusuhan seperti ini? Apakah kalian lupa tentang ajaran leluhur kita tentang kebersamaan dan cinta kasih? Apakah memang benar-benar telah sirna dari hati dan pikiran kalian tentang hebatnya kebersamaan dan gotong royong? Bukankah itu yang membuat leluhur kita, kaum Artamia, bisa membangun kejayaan? Apakah kalian tak menginginkan hal itu kembali terwujud dimasa kita ini? Apakah tidak sebaiknya kita kembali bersatu dan membangun peradaban? Renungkanlah itu semua!”

Mendengar kata-kata itu, setiap orang yang ada di medan pertempuran hanya bisa terdiam. Mereka seperti orang yang baru tersadar dari mimpi buruknya, bahwa apa yang mereka lakukan saat itu adalah kebodohan saja. Dan ternyata, setelah berbincang-bincang dengan pemimpin kedua klan, mereka bisa sampai bertikai seperti itu oleh karena hasutan dan fitnah yang di lakukan oleh dua orang yang mengaku dirinya sebagai Begawan bijak. Pada setiap klan mereka telah menyampaikan hal yang berbeda, penuh hasutan, fitnah, dan perlahan-lahan terus membangkitkan rasa iri, dengki dan kebencian dari satu klan kepada klan lainnya. Kedua klan juga selalu diiming-imingi dengan nikmatnya kekuasaan dan kejayaan tanpa mempedulikan dampak buruk bagi klan lainnya, bahkan klannya sendiri. Itu terjadi selama lebih dari lima tahun.

Ya. Orang yang mengaku sebagai Begawan itu memang ahli bersilat lidah, tapi setiap kata-katanya itu bermuka dua. Seolah-olah benar, tapi sebenarnya hanya kejahatan yang terselubung. Dan sosok yang menyamar sebagai Begawan bijak itu ternyata adalah anak buah dari raja Ar-Maruktar, sang penguasa kerajaan Arnomar. Mereka disuruh untuk menghasut sisa-sisa dari kaum Artamia agar terus terpecah belah, bertikai dan akhirnya tak pernah bisa bangkit. Sebab Ar-Maruktar masih takut sebab dulu dari kaum itulah ia bisa dikalahkan. Karena itulah, ketika Harumalaka bisa menghentikan pertempuran saat itu, sosok penghasut yang dimaksudkan itu segera raib entah kemana. Lenyap, bak hilang ditelan bumi.

Singkat cerita, Harumalaka bisa mendamaikan kembali klan Wilajati dan Milahati. Bahkan akhirnya ia diangkat sebagai pemimpin dari ketiga klan. Atas amanah itu, Harumalaka dan kaumnya kembali membangkitkan kejayaan dari kaum Artamia dengan nama barunya yaitu Hilbatar atau yang berarti bangkit dan berjaya. Selama 10 tahun lebih Harumalaka terus melatih kaumnya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keahlian. Semua kemampuan itu berasal dari pengalaman, pelajaran yang ia dapatkan dari para gurunya (terutama Maharesi Kalsiyana), dan tentunya dari kitab Natakawa warisan Nabi Awila AS. Banyak hal yang secara teknis terdapat di dalam kitab pusaka itu, sehingga Harumalaka dan kaumnya tinggal menirunya saja. Di beberapa hal mereka juga bisa berinovasi atau menambahkannya sesuai kebutuhan.

Dan di dalam tradisi kaum Hilbatar itu tidak ada perbedaan antara pria dan wanitanya. Keduanya memiliki hak yang sama jika ia ingin belajar. Terlebih memang semua itu untuk bisa membangun peradaban yang tinggi, menyejahterakaan kehidupan mereka dan mempersiapkan segala kemungkinan dalam menghadapi invasi kerajaan Arnomar yang kian menggila. Karena itu, hanya dalam waktu yang relatif singkat, keturunan kaum Artamia ini mampu kembali membangun peradaban yang tinggi. Kian hari semakin berkembang dan majulah peradaban kaum Hilbatar.

3. Perang dunia kedua
Pada sekitar tahun ke 45.295 sejak memasuki periode awal zaman Nusanta-Ra, kerajaan Arnomar mulai menaklukkan hampir semua wilayah di luar perbatasan utara Jarwihala (Nusantara). Satu persatu kerajaan besar dan kecil telah dikuasai dan harus menyerahkan upeti setiap enam bulan atau setahun sekali. Bagi yang menolak akan dihabisi tanpa ampun. Begitulah kekejaman demi kekejaman yang di lakukan mulai dari raja hingga tingkat prajurit bawah di kerajaan Arnomar.

Mengetahui kondisi yang seperti itu, mulailah bangsa-bangsa yang ada di Jarwihala (Nusantara) bersekutu dan mengikat hubungan politik dan militer. Hanya saja mereka belum benar-benar bisa menyelesaikan masalah yang ada, sementara kekuatan dari kerajaan Arnomar dan koloninya terus bertambah dan hampir tak terbendung lagi. Bangsa-bangsa yang ada di Jarwihala (Nusantara) kala itu masih terpecah-pecah dalam beberapa kelompok, sesuai dengan wilayah atau kaum mereka masing-masing. Karena itu, ketika harus berhadapan dengan kerajaan Arnomar dan sekutunya dalam pertempuran besar, mereka tak mampu berbuat banyak. Dalam waktu yang singkat, mereka akhirnya dihancurkan oleh kekuatan besar dari kerajaan yang telah kenyang dengan pertempuran itu. Satu persatu wilayah yang ada, khususnya di luar perbatasan utara, timur dan barat Jarwihala, telah dikuasai. Tinggal yang di wilayah selatan, yaitu Jarwihala (Nusantara) sendiri yang belum. Dan barulah di tahun 45.347, Milnaya yang merupakan kota perbatasan kerajaan Antasa yang ada di utara akhirnya ditaklukkan oleh kerajaan Arnomar. Ini lantas menjadi sinyal bagi semua kerajaan yang ada di kawasan Jarwihala untuk segera menyatukan visi dan misi mereka kedepan. Jika tidak, mereka akan hancur dan tinggal kenangan saja.

Setelah Milnaya ditaklukkan oleh kerajaan Arnomar, maka selama lebih dari 100 tahun berikutnya kondisi dunia terus dalam kondisi yang tak menentu, tidak stabil. Dengan segala ambisinya, kerajaan Arnomar terus berusaha untuk bisa menaklukkan puluhan kerajaan yang ada. Wilayah utara, timur dan barat telah banyak mereka kuasai, tinggal yang di wilayah selatan (Jarwihala) saja yang belum tersentuh. Mereka masih tetap bertahan dan terus bertahan selama lebih dari 1 abad. Karena itulah, untuk sementara fokus dan konsentrasi dari kerajaan Arnomar hanya ke kerajaan yang ada di wilayah utara, timur dan barat saja. Setelah berhasil mengumpulkan kekuatan yang lebih banyak, barulah mereka akan bergerak untuk menaklukkan seluruh kawasan Jarwihala (Nusantara).

Melihat kondisi itu, pada sekitar tahun 45.465 sejak memasuki periode awal zaman Nusanta-Ra, Harumalaka lalu mengambil inisiatif dengan mengajak setiap bangsa merdeka yang tersisa untuk bersatu. Tawaran itu ia tujukan tidak hanya kepada sesama bangsa manusia, tetapi juga kepada dua bangsa Peri yang masih tinggal jauh di selatan Jarwihala. Dan karena kelihaiannya dalam berdiplomasi serta ditambah dengan kesaktian dan pusaka yang ia miliki, akhirnya semua bangsa yang merdeka di kawasan Jarwihala (Nusantara) mau bergabung dalam satu panji perjuangan. Kedua bangsa Peri yang terkenal susah ditemui itu pun akhirnya mau bergabung. Baik kerajaan Maltanir atau pun Salhunir, kedua bangsa Peri itu siap berjuang bersama dengan manusia untuk melawan kezaliman raja Ar-Maruktar dan pasukannya.

Waktu pun berlalu. Setelah lebih dari 10 tahun, diputuskanlah bahwa Harumalaka yang menjadi panglima tertinggi semua pasukan koalisi bangsa-bangsa yang tinggal di wilayah Jarwihala (Nusantara). Lalu sesuai dengan perkembangan yang ada, maka tak ada jalan lain kecuali harus berperang dengan kerajaan Arnomar dan semua koloninya. Saat itu, di wilayah Jarwihala (Nusantara) belum terdapat apa yang kini disebut dengan Laut Jawa dan Laut Karimata. Disana masih terhampar luas padang rumput, hutan, gunung dan perbukitan. Ada pula sungai-sungai besar dan danau yang terdapat di beberapa tempat, yang menambah keindahan dan kesuburan tanah di kawasan itu. Disanalah berdiri kerajaan besar dan kecil yang sebagian besarnya berasal dari kaum yang berbeda. Selama ribuan tahun mereka semua hidup aman dan makmur disana. Tapi setelah kota Milnaya milik kerajaan Antasa berhasil direbut oleh kerajaan Arnomar, ketenangan di kawasan itu terganggu, bahkan akhirnya terus merambat ke seluruh wilayah Jarwihala (Nusantara). Untunglah pada waktu itu, kerajaan yang berada di sebelah selatan kerajaan Antasa yang bernama Himbara mampu bertahan. Kerajaan itu cukup besar dan menjadi benteng terakhir sebelum bala pasukan kerajaan Arnomar bisa memasuki wilayah Jarwihala (Nusantara) sepenuhnya.

Sesuai kesepakatan bersama, seluruh pasukan koalisi bangsa-bangsa di Jarwihala bergerak menuju ke perbatasan kerajaan Himbara. Di utara negeri itu, pasukan koalisi bangsa manusia dan Peri akhirnya bersatu dan siap menghadang pasukan pimpinan raja Ar-Maruktar. Selang 15 hari setelah mereka tiba disana, maka tibalah bala pasukan Arnomar dan sekutunya. Tidak kurang dari 2 juta pasukan siap tempur yang hadir, yang semuanya terdiri dari berbagai bangsa manusia – yang telah ditaklukkan – yang hidup di ketiga arah mata angin (timur, barat dan utara). Selain itu, di antara mereka itu ada pula pasukan dari bangsa yang wujudnya aneh. Mereka bertubuh seperti manusia tapi berkulit hitam kasar dan memiliki satu atau dua buah tanduk di kepalanya. Rambut mereka lebat terurai, warna mata mereka kuning kemerahan dan tidak sedikit yang bertaring, baik ia bertubuh besar atupun kecil. Selain mereka ini, ada banyak pula hewan-hewan yang rupanya juga aneh. Dalam ukuran yang besar atau pun kecil, hewan-hewan itu tampak menyeramkan, jelas sangat berbeda dengan hewan pada umumnya. Dan semuanya tunduk dalam satu komando raja Ar-Maruktar. Itu pun bisa terjadi karena pemimpin mereka, yaitu raja Ar-Maruktar, adalah seorang penyihir jahat yang bersekutu dengan raja kegelapan.

Perlu diketahui bahwa di zaman itu, seperti tradisi pada masa sebelumnya, maka dalam setiap pertempuran orang-orang akan berjiwa kesatria. Meskipun peradaban mereka sudah tinggi, tapi dalam urusan perang mereka lebih memilih untuk berduel dan adu kesaktian langsung. Jika tidak seperti itu, mereka akan dianggap sebagai pengecut atau pecundang. Karena itulah, tak pernah terlihat peralatan perang yang canggih di dalam kedua belah pasukan yang bertikai. Mereka lebih bangga dengan kemampuan diri pribadi (ilmu kanuragan dan kadigdayan) ketimbang peralatan perang yang canggih. Dan sebagaimana tradisi di masa lalu, maka dalam setiap divisi pasukan itu akan terdiri dari 65.500 pasukan berkuda (kavaleri), 25.500 pasukan gajah, 21.670 kereta kuda, dan 109.350 orang prajurit pejalan kaki (infantri) yang di lengkapi dengan berbagai senjata (pedang, tombak, panah, gada, ketapel, dll). Sangat besar untuk ukuran peradaban di masa itu, bahkan bagi kita di masa sekarang.

Ya. Seperti itulah kondisi pasukan perang di masa itu. Dan pasukan koalisi pimpinan Harumalaka terdiri dari 5 divisi, atau berjumlah sekitar ±1.110.100 orang. Dari semua jumlah itu, sekitar 15% nya adalah kaum wanita yang sudah terlatih dalam ilmu kanuragan dan kadigdayan. Dan semua jumlah itu bisa terwujud karena ada sekitar 65 kerajaan besar dan kecil di kawasan Jarwihala (Nusantara) yang telah bergabung dan siap berjuang habis-habisan. Jumlah itu bahkan bisa bertambah, mengikuti situasi yang berkembang di dunia pada saat itu pula.

Namun demikian, tetap saja jumlah mereka itu jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan pasukan koalisi kerajaan Arnomar. Sebab, di kubu kerajaan Arnomar itu telah terkumpul sebanyak 10 divisi siap tempur. Semuanya adalah gabungan dari pasukan kerajaan Arnomar, negeri sekutu dan juga semua pasukan kerajaan yang telah mereka taklukkan. Tidak kurang dari 100 kerajaan yang secara suka rela atau pun dipaksa untuk bergabung dengan pasukan kerajaan Arnomar. Dengan begitu, di kubu kerajaan Arnomar saat itu sudah terkumpul pasukan sekitar ±2.220.200 orang, atau dua kali lipat lebih banyak dari pasukan di kubu Harumalaka. Karena itulah, dengan congkaknya raja Ar-Maruktar merasa bisa menguasai Jarwihala (Nusantara) dalam waktu singkat. Dan kali ini ia mengira tidak akan gagal untuk yang kedua kalinya.

Singkat cerita, di hari ke 3 sejak pasukan koalisi kerajaan Arnomar tiba di perbatasan negeri Himbara, maka perang dunia kedua pun terjadi. Kali ini tanpa ada perundingan sama sekali, maka semua pasukan telah saling berhadapan di sebuah lembah yang sangat luas. Dan ketika terompet perang sudah dibunyikan, kedua belah pasukan langsung bergerak menyerang dan beradu kemampuan. Dalam waktu singkat dentingan suara pedang dan teriakan yang memilukan dari mereka yang terluka sudah mewarnai pertempuran. Kedua belah kubu saling bantai tanpa ampun. Membuat darah berceceran dimana-mana dan segera menganak sungai.

Perang dunia kedua itu sangat dahsyat dan tidak ada yang hidup saat itu pernah melihat yang sejenisnya. Suasana sejak awal pertempuran sudah sangat mencekam sekaligus mengagumkan. Banyak dari para kesatria gagah berani mengeluarkan kemampuan yang istimewa, yang sangat jarang diketahui. Misalnya ada yang bisa mengendalikan elemen alam (tanah, air, api atau udara), yang dengan itu mereka mampu menciptakan berbagai bentuk ledakan besar atau gelombang dan getaran yang keras disertai badai yang merusak. Banyak pula yang mengeluarkan senjata pusaka seperti pedang, tombak, panah dan gada, yang dalam satu kali serangan saja bisa menjatuhkan puluhan musuh. Selain itu, ada beberapa dari para senopati yang mampu mengubah-ubah wujudnya, yang dengan begitu mereka bisa lebih sangar dalam bertarung. Dan suasana perang saat itu jadi semakin mengagumkan, karena ada berbagai strategi dan formasi perang dari kedua belah pasukan. Keduanya terus mereka pertunjukkan di medan pertempuran itu. Sungguh memukau, dan dari kedua belah pihak tak ada yang mau mengalah atau pun berhenti.

Waktu pun terus berlalu selama 5 hari, sementara kondisi pertempuran masih belum menghasilkan pemenangnya. Sudah ratusan ribu pasukan yang gugur selama perang dunia itu berlangsung. Melihat itu, raja Ar-Maruktar sudah tak sabar lagi. Dalam pertempuran besar itu, ia benar-benar ingin mengeluarkan semua kesaktiannya. Sejenak ia lalu berdiam diri dan membaca mantra. Tak lama kemudian di kedua tangannya muncul sebuah tongkat warna emas yang bersinar terang. Sinarnya lalu memancar ke atas dan kemudian turun lagi ke bawah tanah, ke salah satu bukit yang ada di sebelah utara medan pertempuran. Ada suara ledakan yang keras saat sinar itu menghantam bukit, dan setelahnya ada pula getaran yang kuat disertai dengan hancurnya bukit tersebut. Ternyata dari dalam bukit itu muncul sosok raksasa yang luar biasa besarnya. Ia lalu bangkit dan segera tegak berdiri menghadap ke arah pasukan yang sedang bertempur. Tubuhnya diselimuti oleh bebatuan yang bercampur dengan aliran lahar yang membara. Sangat mengerikan, karena suaranya pun keras menggelegar.

Menyaksikan itu, semua orang terkejut dan menghentikan pertempuran. Mereka benar-benar tak menyangka bila hal yang semacam itu bisa terjadi di zaman mereka. Namun demikian, peristiwa yang menegangkan itu tak berhenti sampai disitu saja. Karena tiba-tiba bangkit pula sosok raksasa yang berwujud kesatria dari dalam bukit yang lain. Mereka berjumlah dua orang, dan merupakan penjaga wilayah utara Jarwihala, atau di arah sebelah selatan dari medan pertempuran saat itu. Hanya dalam kondisi tertentu saja mereka akan bangkit dan ikut berperang. Tujuannya adalah untuk melindungi wilayah Jarwihala dan tetap tegaknya keadilan di Bumi. Dan saat itu adalah waktu yang tepat untuk mereka melaksanakan tugasnya.

Singkat cerita, para raksasa dari kedua kubu segera bertarung dengan sengit. Siapapun yang hadir saat itu segera menyingkir jauh. Jika tidak, mereka hanya akan jadi korban yang sia-sia. Dan waktu pun terus berlalu. Kedua pihak ternyata seimbang, baik dalam hal kekuatan atau pun kesaktiannya. Dentuman keras dan getaran yang dahsyat terus mewarnai pertarungan keduanya, membuat orang-orang semakin ketakutan. Tapi seiring waktu berlalu, akhirnya kedua penjaga Jarwihala itu mulai unggul. Dalam beberapa kali serangan, kedua penjaga itu telah menguasai jalannya pertarungan. Di setiap serangan, satu persatu anggota tubuh raksasa yang dibangkitkan oleh Ar-Maruktar itu hancur. Dan itu terus terjadi berulang kali, sampai akhirnya kepala raksasa itu pun ikut hancur berkeping-keping. Sang raksasa itu akhirnya tewas.

Sungguh suasana pada saat itu sangat menegangkan sekaligus menakutkan. Semua orang hampir tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Bagaimana bisa raksasa-raksasa itu muncul dan ikut bertempur. Dan karena raksasa andalannya kalah, raja Ar-Maruktar semakin marah. Ia segera mengeluarkan kemampuan liciknya dengan membuka portal goib untuk mendatangkan pasukan dari dimensi lain. Tapi karena pasukan itu tak begitu membantunya – lantaran bisa dihadapi oleh bangsa Peri, raja Ar-Maruktar meminta bantuan dari sekutunya untuk mengirimkan lagi pasukan yang lebih sakti. Di antara mereka itu adalah setan-setan yang berpenampilan kesatria (gagah) yang kesaktiannya sulit dicari tandingannya. Dan benar, sangat sedikit dari pasukan Harumalaka yang bisa menghadapi mereka. Umumnya hanya dari kalangan para senopati, raja atau bangsa Peri yang mampu menghadapinya secara langsung. Karena itu, bangsa Peri sendiri akhirnya menjadi sangat kewalahan. Dan karena para setan kesatria itu terus bertambah, akhirnya pasukan Peri sampai terdesak dan hampir kalah.

Melihat itu, Harumalaka segera membantu pasukan Peri dengan cara membagi dirinya menjadi dua sosok. Keduanya berperang di dua tempat yang berbeda lengkap dengan senjata yang juga berbeda. Tapi karena ia juga harus berhadapan dengan raja Ar-Maruktar yang teramat sakti, maka tak banyak yang bisa ia lakukan. Meskipun hampir semua kemampuan telah ia kerahkan, pasukan bangsa-bangsa Jarwihala pun akhirnya tersudut, hampir kalah. Melihat itu, raja Ar-Maruktar justru semakin bersemangat untuk segera menyudahi pertempuran. Ia lalu meminta bantuan lagi dari sekutunya yang ada di dimensi lain. Kali ini ia meminta kepada tuannya itu, raja kegelapan, untuk mengirimkan para senopati-nya yang lebih sakti. Ketika mereka datang, semua senopati itu pun langsung melakukan serangan yang mengerikan. Suasana di medan pertempuran sudah tak karuan dan terjadi kehancuran dimana-mana. Akibatnya banyak sekali dari pasukan Harumalaka yang gugur. Dan kesaktian dari para senopati raja kegelapan itu seperti tak bisa ditandingi lagi. Semakin lama semakin banyak yang lebih sakti yang datang dan terus saja memporak-porandakan medan pertempuran.

Dalam kondisi yang genting seperti itu, Harumalaka hanya bisa berdoa agar mereka bisa selamat dari pembantaian. Saat itu ia pun sadar bahwa kesaktian mereka tak sehebat bangsa manusia yang hidup di periode zaman sebelumnya. Karena itu, dalam kondisi yang begitu mendesak, meluncurlah kalimat-kalimat doa yang tulus dari dalam hatinya. Ia memohon kepada Tuhan agar mengirimkan bantuan kepada mereka. Atas doanya itu, Hyang Aruta (Tuhan YME) pun berkenan mengabulkannya. Tak lama kemudian datanglah bantuan yang tak terduga. Dari Kahyangan turunlah sekelompok pasukan yang dipimpin oleh seorang Dewa yang bernama Hildayasya. Sang Dewa diutus oleh penguasa Kahyangan untuk membantu manusia dan bangsa Peri dalam menghadapi pasukan raja kegelapan. Dalam rombongan itu terdapat juga beberapa orang Begawan yang juga siap membantu.

Ya. Karena mereka adalah para Dewa dan Begawan dari Kahyangan, maka pertempuran yang terjadi kemudian sudah di luar kebiasaan. Baik para Dewa maupun Begawan, mereka langsung menghadapi para senopati raja kegelapan itu dengan kesaktian yang luar biasa. Mereka lalu bertarung adu kesaktian yang menimbulkan getaran dan guncangan yang dahsyat dimana-mana. Suara dentuman yang menggelegar terus terdengar disaat mereka saling mengadu ajiannya. Petir dan badai sering kali muncul dan membuat suasana menjadi semakin gaduh. Sesekali dari mereka ada yang menghancurkan bukit hanya dengan satu kali serangan, sementara yang lainnya bahkan mengangkat bukit itu lalu dilemparkan ke arah lawan. Hal itu jelas membuat orang-orang yang ada di medan pertempuran menjadi semakin cemas. Belum pernah mereka melihat atau mendengar pertempuran yang sedahsyat itu. Bahkan tak sedikit dari mereka yang ingin segera lari dari medan pertempuran.

Pertarungan saat itu semakin sengit dan ternyata berlangsung alot. Semua terjadi karena para senopati raja kegelapan itu memang terbukti sakti mandraguna. Tidak mudah untuk bisa menaklukkan mereka, terlebih mereka pun bisa hidup kembali setelah terbunuh. Itu belum lagi dengan terus bertambahnya jumlah para senopati – yang diperintahkan oleh raja kegelapan – yang datang ke medan pertempuran. Ini jelas semakin menambah gaduh keadaan dan membuat semakin banyak orang yang ketakutan dan ingin segera lari dari lokasi. Suasana menjadi sangat menegangkan tapi sekaligus membuat siapapun kian terpana. Sangat disayangkan jika tak menyaksikannya langsung.

Awalnya para Dewa dan Begawan itu bertarung di permukaan tanah, tapi kemudian mereka terbang kesana kemari. Berbagai bentuk senjata pusaka pun telah mereka keluarkan, dan banyak pula ajian yang sudah mereka lepaskan. Kedua belah pihak yang saling berlawanan itu terus saja mempertontonkan kesaktian yang memang sudah di atas rata-rata manusia. Perang saat itu bukan lagi perang biasa. Sebab, di antara mereka itu sudah mulai mengubah-ubah wujudnya dan sesekali menarik benda-benda angkasa (sejenis meteor) untuk dilemparkan ke arah lawannya. Selain itu, ajian yang mereka keluarkan semakin unik dan terlihat memukau. Hal seperti itu berulang kali terjadi dan membuat suasana menjadi semakin menakutkan.

Hingga akhirnya tanpa disangka-sangka oleh siapapun, tiba-tiba muncullah sesosok kesatria yang gagah perkasa. Ternyata ia adalah raja kegelapan yang bernama Durwaka, tuannya raja Ar-Maruktar. Sosok ini sebenarnya bukan yang pertama kalinya berurusan dengan manusia di Bumi. Ia dulu pernah mengobarkan perang dunia di masa periode zaman sebelumnya, seperti di masa kehidupan Dinasti Arhilatara dan Raja Mahidara. Dan kali ini, untuk memenuhi rasa dendamnya, Durwaka kembali muncul dan ingin mengusai dunia. Sementara raja Ar-Maruktar itu hanyalah bawahannya yang setia dari golongan manusia di Bumi.

Singkat cerita, Durwaka sudah berdiri mengambang di udara, di atas medan pertempuran. Dengan tangan yang di lipat di atas dada serta sikap wajah yang congkak, ia menyaksikan para Dewa dan Begawan sedang bertarung dengan para senopati-nya. Ia lalu tertawa dan berkata bahwa tak banyak lagi yang bisa di lakukan oleh para Dewa dan Begawan itu, karena ia telah datang. Setelah itu, Durwaka segera menyerang para Dewa dan Begawan itu tanpa ampun. Dengan kesaktian yang ia miliki, para Dewa dan Begawan terpojok dan akhirnya mundur sesaat. Hanya tinggal Dewa Hildayasya yang masih tetap bertahan meskipun ia dikeroyok. Melihat keadaan itu, sekali lagi Durwaka berkata sombong dan mengejek bahwa tak ada yang bisa mengalahkannya. Para Dewa dan Begawan yang ada saat itu bukanlah tandingannya. Mereka akan segera ia habisi tanpa ampun.

Setelah mengatakan itu, Durwaka kembali tertawa dan merasa puas. Tapi baru saja ia tertawa, sesuatu yang tak di sangka-sangka pun terjadi. Dari arah langit tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar diiringi munculnya cahaya putih kebiruan yang sangat terang. Cahaya tersebut lalu berubah wujud menjadi seorang pemuda yang sangat rupawan, lengkap dengan pakaian perangnya. Ternyata sosok tersebut adalah seorang Bhatara yang bernama Anggarasya. Sang Bhatara hadir saat itu karena telah mendapatkan tugas dari Hyang Aruta (Tuhan YME) untuk membantu para Dewa dan Begawan yang sedang berhadapan dengan raja kegelapan. Dengan sikap yang berwibawa tetapi sangar, sang Bhatara langsung menjalankan tugasnya. Ia segera menghukum para senopati Durwaka dengan menciptakan serangan berupa sambaran petir yang sangat mengerikan. Dengan sambaran itu, semua senopati setan itu tumbang dan akhirnya lumpuh. Setelah itu, karena para senopati setan itu tak bisa mati, maka sang Bhatara mengeluarkan sebuah guci berwarna hijau untuk mengurungnya. Hanya tinggal Durwaka saja yang belum dikalahkan, karena ia memang yang paling kuat.

Melihat itu, Durwaka masih tetap angkuh karena merasa paling sakti. Tapi yang menjadi lawan tandingnya saat itu adalah seorang Bhatara, yang bukan sekedar kesatria biasa. Kedudukannya di Kahyangan berada di atas para Dewa dan Begawan yang telah berperang sebelumnya. Karena itu, meskipun di hantam dengan berbagai ajian, sang Bhatara tak bergeming sedikitpun. Ini jelas membuat Durwaka emosi dan ia langsung mengeluarkan ilmu kesaktian yang lebih tinggi. Durwaka langsung membagi dirinya menjadi lima. Setiap sosoknya mengenakan baju perang dengan warna yang berbeda. Begitu pula di tangannya terdapat senjata yang jenisnya juga berbeda-beda.

Kelima sosok Durwaka itu kemudian langsung menyerang Bhatara Anggarasya secara bersamaan dari segala arah. Berbagai ajian dan kesaktian yang dikeluarkan untuk menyerang tubuh sang Bhatara. Tapi ternyata tak sedikipun yang bisa melukai atau bahkan sekedar menyentuh kulitnya. Sang Bhatara hanya tersenyum dan ketika melihat Durwaka akan mengeluarkan kesaktiannya yang lain, tiba-tiba sang Bhatara mengubah ukuran tubuhnya menjadi raksasa. Dengan sekali sabetan tangannya, kelima sosok Durwaka itu terpental jauh dan jatuh ke Bumi. Tapi Durwaka bukanlah sosok kesatria biasa. Kelima bagian dirinya itu lalu menyatu kembali dan akhirnya berniat untuk mengeluarkan ilmu pamungkasnya.

Setelah kelimanya bersatu, tak lama kemudian dari dalam tubuh Durwaka memancar sinar terang berwarna kuning kemerahan yang terus membesar. Terasa sekali bahwa energi yang dikeluarkan saat itu sangatlah besar, dan semakin lama maka semakin membesar. Dan ketika dirasa cukup, justru sinar itu memisahkan diri dari tubuh Durwaka. Setelah sepenuhnya terpisah, energi ini lalu membentuk semacam bola yang bergerigi tajam dan terus berpijar semakin terang. Bola cahaya itu lalu berada di atas telapak tangan kanannya dan siap untuk segera dilepaskan ke arah musuhnya. Tapi sebelum itu terjadi, dengan cepat Bhatara Anggarasya membuatkan semacam perisai transparan berbentuk bola yang melingkupi mereka berdua. Ini bertujuan agar apa yang terjadi nanti tak berdampak langsung bagi kehidupan di Bumi.

Kisah pun berlanjut. Meskipun Durwaka sudah mempersiapkan dirinya semaksimal mungkin, Bhatara Anggarasya hanya tersenyum. Dan ketika Durwaka sudah melepaskan ajian pamungkasnya itu, sang Bhatara tetap berdiri sambil tersenyum. Kumparan energi itu tak berdampak apapun bagi dirinya, meskipun ledakan yang ditimbulkannya sangat dashyat. Sebanyak dua kali Durwaka melakukan serangan, tapi sebanyak itu pula tak berarti apa-apa bagi sang Bhatara. Dan ketika Durwaka ingin menyerang untuk yang ketiga kalinya, Bhatara Anggarasya segera mengangkat tangan kanannya lalu menjentikkan jari telunjuknya. Hanya sekali jentik, tak lama kemudian bola energi milik Durwaka itu hancur. Tak sempat menyentuh tubuh sang Bhatara, atau bahkan hanya sekedar mendekatinya. Puncak kesaktian Durwaka itu seolah-olah tak ada artinya sama sekali. Dan ketika ia menyaksikan bahwa ilmunya itu tak berdampak sedikitpun pada sang Bhatara, Durwaka langsung melarikan diri. Tapi sebelum kabur, ia sempat mengancam. Katanya: “Ya, kali ini aku harus pergi dari hadapan kalian. Beruntung karena kalian mendapatkan bantuan. Jika tidak, maka sudah pasti hancurlah kalian semua. Aku tak merasa kalah, karena akan tiba saatnya nanti aku akan kembali lagi dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Yang kalian hadapi saat ini memang diriku tetapi sebenarnya bukanlah aku. Di zaman yang baru nanti kalian akan benar-benar berhadapan denganku atau pun tuanku. Saat itulah kehancuran kalian akan tiba”

Singkat cerita, kondisi pertempuran segera berubah drastis setelah raja kegelapan; Durwaka dapat dikalahkan. Para Dewa, Begawan dan Bhatara Anggarasya masih berada di medan pertempuran. Hanya saja mereka berdiri di udara, tidak langsung bersentuhan dengan manusia atau Peri di Bumi. Sementara itu, raja Ar-Maruktar memang sempat terpukul karena tuannya itu kalah. Tapi lantaran sudah dikuasai oleh kesombongan diri, ia tetap merasa belum kalah. Ia masih tetap ingin menang dan segera memimpin penyerangan kepada pasukan Harumalaka. Dan akhirnya pertempuran besar pun kembali terjadi.

Melihat itu, para Dewa, Begawan dan Bhatara Anggarasya tak ikut campur. Itu bukan lagi urusan mereka, karena tugas mereka hanya sebatas mengalahkan pasukan kegelapan yang datang dari dimensi lain. Untuk urusan dengan raja Ar-Maruktar dan pasukannya, itu sudah menjadi tugas Harumalaka dan pasukannya untuk berperang sampai titik darah penghabisan. Para penghuni Kahyangan itu hanya cukup mengamatinya saja. Dan karena tidak ada yang mau mengalah atau berhenti sementara korban jiwa terus berjatuhan, maka pada akhirnya Bhatara Anggarasya memberikan saran yang bisa di terima oleh semua pihak. Beliau mengatakan agar setiap pemimpin pasukan untuk bertarung secara kesatria (duel). Itu merupakan jalan yang terbaik dan sudah menjadi kebanggaan bagi para kesatria sejak dulu kala. Artinya, untuk menentukan hasil pertempuran saat itu, maka antara raja Ar-Maruktar dan Harumalaka harus bertarung satu lawan satu sampai mati.

Waktu pun berlalu, atas saran itu maka raja Ar-Maruktar dan Harumalaka akhirnya setuju. Mereka lalu saling berhadapan di tengah medan pertempuran. Semua pasukan dari kedua belah pihak menghentikan pertempurannya. Mereka hanya menyaksikan pemimpin mereka itu bertarung secara jantan sampai titik darah penghabisan. Tak ada yang boleh mengganggu atau pun membopong dari belakang, karena itu akan mencederai kemuliaan dari pertarungan itu. Sementara itu, para Dewa, Begawan dan Bhatara Anggarasya segera raib dari pandangan. Mereka kembali ke Kahyangan dan menyaksikan jalannya pertarungan dari sana.

Dan sampailah waktunya kedua kesatria itu saling beradu ketangkasan dan kesaktiannya. Baik Harumalaka dan Ar-Maruktar sama-sama sosok yang sakti mandraguna. Meskipun Ar-Maruktar lebih senior dan ber-tapa brata lebih lama, ia tetap kewalahan menandingi kesaktian Harumalaka. Setiap serangan yang ia lancarkan selalu dapat di atasi oleh Harumalaka. Begitu pula saat ia menyerang dengan berbagai senjata pusaka, maka bisa ditangkis pula oleh Harumalaka dengan senjata pusakanya. Akhirnya, pertarungan kedua kesatria itu berlangsung alot, bahkan sampai lebih dari satu hari satu malam.

Di hari yang kedua, sejak pagi harinya raja Ar-Maruktar mulai mengeluarkan ilmu-ilmu tertingginya. Ia segera mengendalikan berbagai macam elemen alam secara bersamaan untuk menyerang Harumalaka. Mendapati serangan itu, Harumalaka segera mengeluarkan ajian Dirmantala. Dengan ajian itu ia juga bisa mengendalikan berbagai elemen alam untuk bisa menangkis atau membalas serangan dari raja Ar-Maruktar. Setiap serangan akan dibalas dengan serangan pula. Kedua kesatria itu tak ada yang mau berhenti atau mengalah. Mereka telah larut dalam pertarungan yang semakin sengit. Membuat suasana pada saat itu menjadi semakin menegangkan. Kedua kesatria itu memang memiliki kemampuan yang sulit dicari tandingannya di Bumi. Membuat siapapun yang ada di kedua belah pasukan menjadi kagum dan terkesima.

Awalnya mereka bertarung di daratan, tapi kemudian mulai di atas bukit, gunung, danau, lautan dan sampai pula di udara. Dimana pun lokasi mereka bertarung, bermacam-macam pula kesaktian telah mereka keluarkan. Selama itu, keduanya masih tetap seimbang. Sampai pada akhirnya mereka memutuskan untuk adu kesaktian dengan cara duduk bersila. Saat itu, mereka sudah kembali lagi ke tengah-tengah medan pertempuran. Di hadapan semua pasukan, keduanya lalu duduk bersila saling berhadapan. Dalam beberapa menit, keduanya ber-semedhi dan membanca mantra. Selama itu, terasa bahwa energi yang terpancar dari keduanya semakin besar dan mendesak semua orang untuk menyingkir. Ada pula pancaran sinar dari dalam tubuh keduanya yang membuat semua orang harus menjauh dari kedua sosok tersebut. Sesekali hentakan energinya bahkan mendorong keras siapapun yang berada di sekeliling mereka. Suasana pada saat itu pun semakin menegangkan, karena dampak dari kesaktian dua kesatria itu menimbulkan angin kencang yang berputar-putar dan halilintar yang menggelegar.

Dan sampailah waktunya antara Harumalaka dan Ar-Maruktar untuk mengadu kesaktian mereka. Dalam waktu sekejap mereka berdiri, terbang ke atas dan dari kedua tangannya muncul kumparan-kumparan energi yang berwarna-warni. Ketika keduanya saling beradu, maka terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga. Getaran dan guncangan pun terus mengikuti. Bahkan tekanan energi dari benturan-benturan itu berulang kali menghempas orang-orang yang ada di sekitar medan pertempuran. Bagi yang kuat dan berilmu tinggi mereka hanya merasakan sedikit hentakkan, tapi bagi yang tidak atau sekedar prajurit biasa bahkan sampai terpental. Begitu kuat hempasan energi yang berasal dari adu kesaktian dua kesatria itu. Sungguh mengagumkan.

Selama lebih dari 15 menit kedua kesatria itu terus beradu kesaktian. Sampai pada akhirnya, keduanya memutuskan untuk segera mengakhiri pertarungan itu. Baik Harumalaka atau pun Ar-Maruktar lalu memutuskan untuk mengeluarkan ilmu pamungkasnya. Dan hanya dalam hitungan detik, keduanya sudah melepaskan pukulan jarak jauhnya. Kali ini keadaannya sangat berbeda dari sebelumnya. Ketika ilmu pamungkas (berbentuk kumparan energi) dari keduanya itu saling beradu, maka suara yang terdengar justru hanya seperti “jlep” saja, tak menggelegar. Namun setelah itu, selang 3 detik kemudian barulah terdengar suara dentuman yang sangat keras diiringi pijaran api yang berulang kali. Guncangan pun terasa sangat kuat, menggetarkan daratan dan menghempas keras semua pasukan. Banyak dari mereka yang roboh dan terpental. Sementara tanah di sekitar medan pertempuran sampai terbelah-belah dan sebagian lainnya berserakan.

Sungguh, apa yang terjadi saat itu sangat memukau. Bagi mereka yang terlibat dalam perang dunia kedua itu, pertarungan antara Harumalaka dan Ar-Maruktar adalah yang terhebat. Walau tak sedahsyat pertarungan para Dewa sebelumnya, tidak pernah ada yang menyaksikan bila manusia memiliki kesaktian yang seperti itu. Karena itulah apa yang menjadi hasilnya nanti akan menentukan jalannya pertempuran. Dan ternyata, setelah kedua kesatria itu terpental dan jatuh ke tanah, maka hanya Harumalaka yang mampu berdiri meskipun tubuhnya terluka. Sedangkan raja Ar-Maruktar hanya terbaring lemah tak berdaya. Ia tak dapat menggerakkan tubuhnya, seperti lumpuh. Tapi karena tak bisa mati lantaran ilmunya, Ar-Maruktar segera berkomat-kamit membaca mantra. Akibat dari mantranya itu, maka tak lama kemudian tiba-tiba dari arah langit ada sebuah tangan raksasa yang mengambil tubuhnya. Dalam waktu singkat, tubuh raja Ar-Maruktar itu pun lenyap dari pandangan, hilang ke dimensi lain.

Melihat kejadian itu, semua orang terkejut dan segera bertanya-tanya apa yang terjadi, kemana sang raja lalim itu pergi? Dalam kondisi yang penuh tanda tanya itu, turunlah sekali lagi Bhatara Anggarasya ke Bumi. Dihadapan semua orang, sang Bhatara pun berkata: “Wahai semuanya. Ketahuilah bahwa Ar-Maruktar belum mati. Apa yang kalian lihat tadi (tangan raksasa) itu adalah milik tuannya. Ar-Maruktar telah diselamatkan oleh junjungannya, yang kalian semua tidak pernah tahu siapa dia. Dan nanti, akan tiba waktunya ia dan tuannya itu akan kembali lagi ke Bumi untuk menimbulkan kekacauan. Di atas Durwaka, maka masih ada lagi tuannya yang lebih sakti. Dendam yang memenuhi hati mereka akan dicurahkan pada saat itu, di zaman yang baru nanti (Rupanta-Ra) . Sehingga apa yang terjadi di dunia nanti akan sangat gaduh, miris dan menakutkan. Semua kekuatan kegelapan akan datang dan merusak peradaban manusia. Karena saat itulah perang besar (perang kosmik) akan terjadi dan menentukan segala bentuk kehidupan dunia. Perang dahsyat itu, yang telah dikabarkan dari zaman pertama (Purwa Duksina-Ra), akan lebih dahsyat dari semua perang yang pernah terjadi. Bersiaplah kalian. Dan kabarkanlah ini pada anak cucumu nanti!” Setelah mengatakan itu, sang Bhatara kembali ke Kahyangan dan tak pernah turun ke Bumi selain untuk bertemu dengan beberapa orang kesatria utama.

Singkat cerita, karena yang menang saat itu adalah Harumalaka, maka yang menjadi pemenangan dalam perang dunia kedua itu adalah pasukan koalisi bangsa-bangsa Jarwihala (Nusantara). Tapi, ternyata tak semua pihak mau menerimanya. Di dalam pasukan kerajaan Arnomar ada yang setuju tapi tak sedikit pula yang justru menolaknya. Oleh sebab itu, terjadi lagi pertempuran antara pengikut setia raja Ar-Maruktar itu dengan pasukan Harumalaka. Dalam pertempuran saat itu, kali ini mereka benar-benar dihabisi. Yang berhasil kabur segera kembali ke negerinya di utara lalu bersembunyi disana. Selama berabad-abad mereka pun tak pernah lagi menonjolkan diri, apalagi menyerang kerajaan lain. Ini terjadi sampai akhirnya negeri mereka itu hancur akibat letusan gunung dan tenggelam menjadi danau lalu sampai akhirnya menjadi lautan di masa sekarang.

Selanjutnya, karena pasukan kerajaan Arnomar telah kalah dan sebagian lainnya ditumpas, maka merdekalah semua bangsa yang telah dijajah sebelumnya. Setelah merasa cukup, semua pasukan kerajaan dari wilayah utara, timur dan barat kawasan Jarwihala (Nusantara) pun kembali ke negerinya masing-masing. Baik mereka yang terpaksa berperang (karena menjadi taklukkan kerajaan Arnomar) atau pun pasukan yang ada di kubu Harumalaka, semuanya merasa puas dan senang karena terbebas dari ancaman hidup yang mengerikan. Dan setelah kembali ke negerinya masing-masing, semua kerajaan tetap menjalin koalisi dengan bangsa-bangsa yang ada di Jarwihala (Nusantara) selama ribuan tahun. Itu dengan sadar mereka lakukan untuk menjaga keamanan dan kestabilan di kawasannya. Keadaan dunia pun kembali normal seperti dulu dan terus menciptakan kemakmuran selama ribuan tahun.

4. Kejayaan kaum Hilbatar
Setelah memenangkan pertempuran, Harumalaka dan kaumnya kembali ke negeri mereka yang berada di antara Jambi dan Palembang sekarang. Disana mereka kembali melanjutkan pembangunan di segala bidang. Sekolah, rumah sakit, pasar, pabrik, perumahan dan taman kota terus mereka bangun. Begitu pula dengan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kerajinan, pertambangan dan industri selalu mereka utamakan. Hasilnya mereka olah sedemikian rupa untuk bisa layak dijual. Mereka terus menjalin hubungan diplomatik dan melakukan perdagangan dengan negeri-negeri tetangga. Yang dari keutungan itu mereka pun bisa membangun kejayaan bagi kaumnya.

Ya. Apa yang terjadi di negeri kaum Hilbatar telah menjadi omongan di semua bangsa. Hanya dalam waktu yang relatif singkat, mereka mampu membangun peradaban yang sangat tinggi. Ini tentu atas kerja keras mereka sendiri dan panduan yang didapatkan dari kitab ilmu pengetahuan yang bernama Natakawa. Dari kitab warisan Nabi Awila AS itu, Harumalaka dan kaumnya bisa mengambil banyak pelajaran dan contoh terbaik dari peradaban manusia. Dan karena mereka termasuk kaum yang cerdas, maka apa yang dijelaskan di dalam kitab itu bisa mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga hanya dalam waktu beberapa puluh tahun saja, mereka sudah menjadi bangsa yang sangat maju. Bahkan akhirnya menjadi pusat peradaban dunia.

Sungguh, kota yang mereka bangun sangat indah. Di setiap sudut kotanya dibangun berbagai fasilitas umum yang lengkap. Tak ketinggalan pula keindahan arsitekturnya yang membuat siapapun akan terpesona. Ada banyak bangunan besar tinggi dan berpilar, yang bentuknya sangat megah. Di atas beberapa atap bangunan, baik itu gedung istana, kantor kementrian ataupun menara kota, maka terdapat bola kristal yang akan bersinar di malam hari. Ini membuat kota menjadi terang meskipun sudah gelap (malam). Selain itu, tidak sedikit bangunan seperti piramida dan candi dalam ukuran yang beragam yang mereka bangun di beberapa tempat untuk menambah keindahan kota. Semua bangunan itu berasal dari bahan baku pilihan seperti batu marmer, pualam dan giok, bahkan ada yang dari emas dan perak. Tak ada yang dibangun dari bahan asal-asalan atau yang hanya mampu bertahan singkat. Semuanya dari bahan yang terbaik di masanya dan dikerjakan dengan sangat halus dan rapi. Karena itulah bangunan-bangunan itu bisa bertahan dan utuh selama ribuan tahun.

Selain itu, tata kotanya pun sangat indah dan teratur. Ada banyak taman dan kolam yang indah, air mancur yang beragam bentuk, dan sungai-sungai buatan (kanal-kanal air) yang mengalir jernih di beberapa sudut kota. Semua itu jelas membuat siapapun akan terkagum-kagum dan betah untuk tinggal di kota Din Arion (nama ibukota kerajaan kaum Hilbatar). Dan memang, karena mereka tinggal di negeri yang hanya mengalami dua musim dalam setahun, maka kota-kota mereka selalu dikunjungi oleh berbagai bangsa di dunia. Di antara mereka ada yang hanya sekedar berwisata, tapi ada pula yang sengaja datang untuk menuntut ilmu dan pengalaman hidup. Untuk hal ini, kaum Hilbatar sangat terbuka. Hanya saja, bagi siapapun yang melanggar aturan atau berusaha mengganggu atau mengubah adat istiadat yang ada di negeri kaum Hilbatar, maka ia akan mendapatkan hukuman berat. Tak ada tawar menawar dalam hal ini, dan semua orang harus bisa mematuhinya.

Lalu, sebagaimana leluhurnya dulu, maka kaum Hilbatar juga mampu membangun teknologi yang hebat. Meski tak sehebat kaum Artamia, mereka juga berhasil menciptakan berbagai peralatan canggih yang bisa membantu kehidupan mereka sehari-hari. Dan itu terus berkembang sampai pada akhirnya mereka juga berhasil membangun armada luar angkasanya yang biasa disebut Zrutas. Dengan memanfaatkan energi kristal biru, mereka bisa menjelajah ke beberapa planet dan sistem tata surya lainnya. Tujuan mereka saat itu hanya untuk penelitian dan mengagumi kekuasaan Tuhannya. Dengan semakin banyak mereka bisa menjelajahi angkasa, maka semakin kuatlah keimanan mereka. Dan itulah yang terjadi sampai akhirnya mereka diperintahkan untuk berpindah ke dimensi lainnya.

Dan satu hal yang paling mengagumkan dari kaum Hilbatar ini adalah rasa syukur dan keimanannya. Semua teknologi dan kenikmatan hidup yang diperoleh mereka saat itu tidak lantas menjadikannya lupa diri. Di samping terus mengembangkan kemampuan duniawi, mereka tetap disiplin dalam ilmu akheratnya. Mereka sangat mendalami ajaran agama, yang berasal dari syariat Nabi Awila AS. Selain itu, Maharesi Kalsiyana juga sering mengunjungi mereka untuk sekedar bertegur sapa atau mengajarkan tentang beberapa hal. Karena itulah, kebiasaan dari kaum ini adalah tidak melakukan dosa dan kekufuran. Dan ketika sudah tua mereka harus mempersiapkan diri untuk moksa. Rata-rata di umur antara 200-250 tahun mereka sudah harus mengasingkan diri di tengah hutan atau di kaki gunung, menjauhi segala urusan duniawi. Setelah cukup waktu, akhirnya satu persatu dari mereka yang mengasingkan diri itu pun moksa, berpindah ke dimensi lain. Tinggallah generasi penerus mereka yang melanjutkan cita-cita dan harapan kaum Hilbatar. Sungguh kehidupan kaum yang luar biasa dan patut diteladani.

5. Raja-raja kaum Hilbatar
Di muka Bumi, kaum Hilbatar diberi waktu hidup selama ±8.250 tahun. Selama itu, mereka dipimpin oleh 55 orang raja dan ratunya. Semuanya hidup dalam kebajikan dan kebijaksaan. Karena itulah selama di Bumi, kaum Hilbatar ini hidup dalam kemakmuran dan keseimbangan. Semua di lakukan dengan penuh kesadaran diri, tanpa ada paksaan atau pun iming-imingan. Mulai dari raja sampai rakyat jelata, semuanya melakukan kebaikan itu dengan rasa senang dan rendah hati.

Adapun nama-nama raja dan ratunya adalah sebagai berikut:

1. Harumalaka, bergelar Sri Maharaja Harumalaka Haltayara Lin Artamia -> pendiri kaum Hilbatar. Ia memakai nama gelar leluhurnya lagi.
2. Sri Maharaja Minamalaka Haltayara Lin Artamia
3. Sri Maharaja Dimantamalaka Haltayara Lin Artamia
4. Sri Maharaja Sunamalaka Lin Artamia
5. Sri Maharaja Wilamalaka Lin Artamia
6. Sri Maharaja Diyantamalaka Lin Artamia
7. Sri Maharaja Hurakamalaka Lin Artamia
8. Sri Maharaja Sahurimalaka Lin Artamia
9. Sri Maharaja Jimantamalaka Lin Artamia
10. Sri Maharaja Yajumalaka Lin Artamia
11. Sri Maharaja Erutamalaka Lin Artamia
12. Sri Maharaja Dwipamalaka Lin Artamia
13. Sri Maharaja Dirgamalaka Lin Artamia
14. Sri Maharaja Murdamalaka Lin Artamia
15. Sri Maharaja Hisantamalaka Lin Artamia
16. Sri Maharaja Rekulamalaka Lin Artamia
17. Sri Maharaja Pustamalaka Lin Artamia
18. Sri Maharaja Hirgamalaka Lin Artamia
19. Sri Maharaja Zistamalaka Lin Artamia
20. Sri Maharaja Sastramalaka Lin Artamia
21. Zamira Haruntamalaka Lin Artamia -> Atas petunjuk dari Nabi Awila AS, maka terjadi perubahan gelar untuk raja atau ratunya. Zamira untuk raja dan Zimala untuk ratu.
22. Zamira Binartamalaka Lin Artamia
23. Zamira Nurtamalaka Lin Artamia
24. Zimala Intanarima Lin Artamia
25. Zamira Wahikamalaka Lin Artamia
26. Zamira Qusimalaka Lin Artamia
27. Zamira Misadimalaka Lin Artamia
28. Zamira Surtamalaka Lin Artamia
29. Zamira Ondinamalaka Lin Artamia
30. Zimala Misyamarima Lin Artamia
31. Zamira Gilastamalaka Lin Artamia
32. Zamira Wedamalaka Lin Artamia
33. Zamira Vistamalaka Lin Artamia
34. Zamira Danuramalaka Lin Artamia
35. Zamira Isfahamalaka Lin Artamia
36. Zamira Ujayamalaka Lin Artamia
37. Zamira Kultamalaka Lin Artamia
38. Zamira Nibastamalaka Lin Artamia
39. Zamira Hiyaltamalaka Lin Artamia
40. Zamira Biswaramalaka Lin Artamia
41. Zamira Uraknamalaka Lin Artamia
42. Zimala Lunamarima Lin Artamia
43. Zamira Jiyantamalaka Lin Artamia
44. Zamira Firmantamalaka Lin Artamia
45. Zamira Sirabamalaka Lin Artamia
46. Zimala Mehantarima Lin Artamia
47. Zamira Duslimalaka Lin Artamia
48. Zamira Ariyamalaka Lin Artamia
49. Zamira Hijaztamalaka Lin Artamia
50. Sri Maharaja Murtamalaka Haltayara Lin Artamia -> gelar raja di kembalikan seperti semula atas petunjuk dari Nabi Awila AS.
51. Sri Maharaja Swastamalaka Haltayara Lin Artamia
52. Sri Maharaja Puradimalaka Haltayara Lin Artamia
53. Sri Maharaja Jimantamalaka Haltayara Lin Artamia
54. Sri Maharaja Loharimalaka Haltayara Lin Artamia
55. Sri Maharaja Vratamalaka Haltayara Lin Artamia -> raja terakhir kaum Hilbatar. Di masa ini kaumnya berpindah ke dimensi lain.

Demikianlah daftar nama raja dan ratu yang pernah memimpin kaum Hilbatar. Selama itu, tak pernah terjadi keributan atau persengketaan jabatan untuk raja atau pun ratunya. Mereka hidup dalam kerukunan dan kedamaian. Tak ada yang mau mencampuri urusan yang bukan haknya. Bahkan jabatan pemimpin kaum bagi mereka itu adalah sesuatu yang sangat sulit dan tak semua orang berhak. Hanya bagi yang mendapat Wahyu Keprabon dan yang mampu memegang pusaka utama kaum Hilbatar saja yang bisa memikulnya. Sebab dalam hidup, mereka telah jauh dari sifat iri, dengki, serakah dan fitnah. Mereka lebih senang menyerahkan jabatan itu kepada yang memang layak untuk menerimanya. Karena itu, setiap pergantian kepemimpinan, selalu berjalan dengan lancar dan aman.

6. Akhir kisah
Setelah perang dunia kedua selesai, Harumalaka dan pasukannya kembali ke kerajaan mereka di Din Arion yang ada di Swarnula (tanah Sumatera). Meskipun banyak yang gugur, mereka tetap senang dengan hasil dari pertempuran saat itu. Setelah berjuang mati-matian, akhirnya mereka bisa menang dan tetap merdeka dari penjajahan. Dan sebagai anak keturunan kaum Artamia mereka pun bangga, karena sejak saat itu kaum Hilbatar telah sangat disegani dan menjadi acuan dalam peradaban dunia. Semuanya karena semangat yang terdapat di dalam kaum Hilbatar itu sendiri, ditambah lagi dengan figur sosok pemimpinnya; Harumalaka, yang terkenal sakti dan bijaksana.

Harumalaka sendiri hidup selama 453 tahun di Bumi. Sebelum akhirnya moksa, ia sempat berpesan kepada kaumnya. Di hadapan mereka yang di kumpulkan di alun-alun istana kerajaan, ia pun berkata: “Dar’en hiyak namung del arun bis hiya ertafu lih nandiya erkulah. Mereja likasma hidam sambu nik erun syikal niyen tali Bhumi rakjam hisanbi. Iye pratar nel meya aen han marlom diya alhidam Swarna-Jawi ayahi nosten nid willat. Wanika libastan hasyima lira syafudi lis Jarwihala estela jaihi maknam wratuli. Minawi rathi widalta li Khalifah naima Sri Maharaja Dwipa Eka Mandala Dharma Hyang Gurunabhakti Sri Winahanggatra Sang Manggaladara Jayajaya Bhuwana Pasya. Niwang talha binasta ertafaru swadila Rupanta-Ra hikamta bilah tanturah eyam” Setelah mengatakan itu, ia lalu mengasingkan diri jauh ke dalam hutan yang ada di gunung Kurlida (sekitar Jambi sekarang). Selang dua tahun kemudian, Harumalaka pun akhirnya moksa.

Ya. Selama berdiri di Bumi, kaum Hilbatar pernah dipimpin oleh 55 orang raja dan ratunya. Selama itu, kehidupan kaum selalu bersifat seimbang antara lahir dan batinnya. Mereka terus berkarya di dunia, tapi seiring itu pula tak pernah meninggalkan urusan akheratnya nanti. Karena itu, atas sikap yang baik itu, kaum Hilbatar dianugerahi kehidupan yang makmur dan sejahtera. Kota-kota yang mereka bangun sangat indah dan megah, bahkan menjadi kiblat dari peradaban dunia. Semua bangsa berguru kepadanya, baik dalam urusan dunawi, kebatinan dan ukhrawi. Terlebih sepak terbang dari kaum mereka itu sudah sangat terkenal sejak perang dunia kedua berlangsung.

Pun, negeri kaum Hilbatar menjadi kawah candradimuka bagi siapa saja yang ingin menimba ilmu dan pengalaman hidup. Banyak bangsa di dunia yang datang kesana dan berguru kepada orang-orang bijak dari kaum Hilbatar. Setelah merasa cukup, mereka kembali ke negerinya dan mencoba untuk menerapkan ilmu yang sudah mereka dapatkan itu. Inilah awal dari menyebarnya ilmu dan pengetahuan kaum Hilbatar di seluruh dunia. Dan ternyata, hanya dalam waktu puluhan tahun saja, bangsa-bangsa yang berada di belahan Bumi lainnya sudah bisa membangun peradaban yang tinggi. Kota-kota yang mereka dirikan pun sangat megah dan indah. Sebuah pencapaian yang mengagumkan.

Sampai pada akhirnya, tibalah waktunya bagi kaum Hilbatar untuk berpindah ke dimensi lain. Sebelum berangkat, ada satu rombongan dari mereka yang ditugaskan untuk membangun sebuah peradaban di Bumi. Setelah cucunya lahir, barulah mereka diizinkan untuk menyusul kaumnya, berpindah ke dimensi lain. Anak dan cucunya itulah yang harus meneruskan tradisi dan garis keturunan kaum Artamia di muka Bumi, bahkan sampai sekarang tapi masih “tersembunyi”. Sebelum rombongan itu berangkat, raja terakhir mereka yang bernama Sri Maharaja Vratamalaka Haltayara Lin Artamia sempat berpesan. Katanya: “Syir`anuk biya killada murrata him salti mejja ikang taru. Winal tabur dih angta Swarna-Jawi sifata luwah bis rajuka urin. Yalla namasta illahi dam`iyalta Khalifah jayyin hasulsya. Rekata urda hiba rahibala Rupanta-Ra swarutan hisnultan”

Setelah mengatakan itu, kelompok yang mendapat tugas mendirikan kerajaan baru diperintahkan untuk segera menjalankan tugasnya. Sementara itu, selang lima hari, kaum Hilbatar akhirnya diizinkan untuk berpindah ke dimensi lainnya. Tidak hanya manusianya, tetapi juga bangunan, kota dan teknologinya. Sosok yang menyampaikan perintah itu adalah Nabi Awila AS dan Maharesi Kalsiyana. Keduanya datang secara bersamaan dan sekaligus membimbing mereka untuk bisa pindah ke tempat yang telah ditentukan. Sejak saat itu, kaum Hilbatar tidak pernah muncul ke Bumi ini kecuali beberapa orang rajanya saja. Mereka muncul untuk menjalankan tugas dalam membimbing keturunannya saat mereka mendapat kesulitan atau ingin mendirikan kejayaan kaumnya.

Demikianlah kisah singkat dari kaum Hilbatar ini. Sama dengan tulisan sebelumnya, disini kami hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja. Tidak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya, karena itu adalah hak pribadi Anda sekalian. Kami tidak akan kecewa atau pun merasa bangga dengan sikap Anda, karena kami disini hanya bertugas untuk menyampaikan saja. Percaya syukur, tapi kalau tidak ya silahkan.

Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung. Rahayu _/|\_

Jambi, 18 Mei 2017
Harunata-Ra

Iklan

13 thoughts on “Kaum Hilbatar: Perang Dunia dan Kejayaan Nusantara

  1. Subhanallah… Wawww luar biasa kagum saya juga mencengangkan saya bisa bayangin kalau di Filmkan bisa berpuluh-puluh episode hehehe.. 🙂 beda pisan sama kisah sebelum-sebelumnya seperti Kirasadatu atau Mahidara dan juga yang lebih lawas lagi Zurai pada perang Paricaranya walaupun mungkin semua itu leluhurnya Harumalaka. Yang menarik ada tokoh Dewa dan Bhatara Anggarasya kedua mahkluk ini seperti apa kisah penciptaannya kang Harun belum pernah menyinggung seingat saya, apakah kedua tokoh ini dari golongan seperti kita yang dengan kesaktian/keilmuwannya sudah tingkat tinggi atau memang makhluk yang diciptakan khusus oleh Hyang Aruta seperti – Peri, Karudasya dlsb karena sepengatahuan saya mereka hanya ada di kisah/cerita Pewayangan saja, lebih konyol lagi ada sosok jenglot yang ndak diterima bumi konon kabarnya itu sama memakai gelar Bhatara Karang, Giwang dslb. Kalau tidak melanggar Protap sudah hampir dua minggu lebih ada pasukannya Zire atau Widastu di atas rumah yang sedang melakukan proses penyaringan mungkin seperti bintang terang tp ada tiga warna 🙂 di bilang bintang da bukan da beda posisinya.. dan juga Btw kalau bahasa sekarangmah pintu Portal sudah ada di negara mana hehe.. 🙂. Hatur Nuhun gedegede-an Kang Harunata-Ra nambah lagi wawasan dan ilmu pengetahuan saya tentang Leluhur, banyak sekali manfaat saya dapat. Mudah-mudahan kita selalu dalam lindungan-Nya. Semoga Hyang Aruta menuangakan kita Ketabahan, Keikhlasan, Kesabaran, Kerendahan Hati dan Pandai Bersyukur.
    Salam
    Rahayu _/|\_

    1. Syukurlah kalo suka dengan tulisan ini.. Nuhun ya kang Tufail karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Betul kang, ceritanya panjang dan berliku, apalagi masih byk data dan info yg ada dari kaum ini yg bisa dijelaskan.. Artikel ini cuma ringkasannya aja kok.. jadi kalo di bikin film tentu byk bgt episode nya.. Hehe.. 🙂
      Tentu beda bangetlah kang dg kisah sebelumnya, tapi yg jelas kesaktian manusia di zaman kaum Hilbatar ini sudah jauh menurun dibanding dg kaum sebelumnya, di perang dunia sebelumnya.. Ya itu karena udah beda zaman, beda pula kemampuan manusianya, dan jenis atau lama wkt tapa bratanya juga beda bgt.. Dan karena manusia pada saat zaman sebelumnya emg sakti bgt, makanya para Dewa dan Bhatara gak sampai hrs turun tangan.. Kalo dulu sampai ada malaikat yg hrs turun tangan itu karena musuhnya emg jauh lebih sakti dan gak bisa diatasi oleh manusia atau peri, bahkan para dewa sendiri.. Durwaka yg dulu beda dg yg muncul di zaman kaum Hilbatar.. Durwaka di zaman Harumalaka itu cuma bagian dari Durwaka yg sebenarnya, yg asli masih bertapa brata..
      Tentang para Dewa dan Bhatara, mrk itu nyata dan fakta, bukan dongeng atau mitos belaka.. Tapi ttg siapa mrk? maka ada protap yg gak boleh saya langgar.. jadi maaf ya kang karena saya gak bisa jelaskan disini.. Biarlah waktu atau bahkan mrk sendiri yg menjelaskannya nanti.. Akan ada waktunya nanti semua pemahaman ttg mrk yg sebenarnya akan diluruskan kembali..
      Khusus ttg jenglot atau biasa juga disebut Batara karang, itu mah setan yg nyamar. Tujuannya jelas utk nyesatkan manusia.. Karena itu gak pantas bgt menyandang nama Bhatara, karena sosok Bhatara yg sejati itu sgt mulia dan luarbiasa hebatnya.. Selama ini saya sgt menyayangkan karna orang2 justru menyematkan nama agung itu kpd makhluk jahat seperti sosok jenglot itu.. Setan emg udah berhasil nyesatkan pemahaman manusia, ratusan tahun ini.. khususnya bangsa kita yg percaya dg jenglot itu..
      Tentang proses seleksi, hingga skr masih berlangsung dan hasilnya kian miris, makin sedikit yg hidup dalam zona hijau.. Di negeri ini Pasukan Langit byk yg patroli dan terus mengamati.. Suatu saat mrk tentu akan bertindak.. Yg sampeyan liat itu bisa jadi mrk, karena mrk terkadang berkamuflase dlm bentuk bola cahaya mirip bintang..
      Tentang portal dimensi, maka di Bumi ini sejak dulu ada di bbrp tempat, dua di antaranya berada di tanah Jawa.. Keduanya ttp ada disana sepanjang masa.. Lain halnya bagi seorang yg sakti mandraguna seperti Ar-Maruktar, maka dimana aja ia bisa membuka portal dimensi utk datangkan makhluk dr dimensi lain…
      Gitu aja kang yg bisa saya jelaskan. Semoga kita selamat dan atau diselamatkan di masa transisi zaman ini.. Rahayu bagio _/|\_

  2. Satu karakter wayang ceritanya bisa hampir setebal buku kamus bayangkan ada beratus karakter wayang jawa yang belum diketahui namanya dan riwayatnya cek google karakter wayang yang belum diketahui. (anda akan tercengang dan belum melihat rupanya yang sangar yang hanya lihat itu hanya segelintir nama yang terkenal saja seperti zaman cerita ramayana dan mahabharata.

  3. Assalamualaikum,
    Wah seru nih sejarahnya. Apalagi membayangkan berada di zaman tersebut, belum lagi kengerian akan munculnya perang kosmik yang lebih dahsyat di zaman Rupanta-Ra ini.
    Saya ingin bertanya sedikit (jika tidak melanggar protap yang ditentukan), sudah berapa lama kah zaman Rupanta-Ra berjalan?
    Lalu apakah ada kaum dan kerajaan2 zaman Rupanta-Ra ini yang berpindah ke dimensi lain (dengan izin Tuhan YME)?
    Terima kasih sebelumnya untuk penjelasannya.

    1. Wa’alaikumsalam..
      Syukurlah kalo suka dg tulisan ini, makasih mbak Nadnad karena masih mau berkunjung.. Moga ttp bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. entahlah, kita skr ini sebenarnya beruntung atau tidak hidup di zaman ini. Kalo bayangkan masa lalu rasanya sih beruntung bgt hidup di masa skr apalagi aman begini, tapi kalo bayangin perang kosmik yg akan terjadi nanti justru bikin stres bahkan putus asa, gak kebayang kengerian dan kegaduhan yg bakal terjadi nanti, dan itu mungkin akan kita rasakan langsung..
      Tentang waktu periode zaman Rupanta-Ra, setau saya sudah berlangsung selama 17.000 tahun lebih, dan skr sudah berada di ujungnya, alias menjelang masa transisi zaman..
      Tentang kaum yg pindah dimensi, tentu di zaman Rupanta-Ra ini juga ada yg berpindah, tidak hanya mrk yg tinggal di Nusantara tapi juga di belahan bumi lainnya.. Hanya saja jumlahnya tak sebanyak kaum atau kerajaan yg hidup di periode zaman sebelumnya.. Artinya makin lama makin sedikit yg bisa berpindah..
      Itu aja yg bisa saya jelaskan mbak, maaf kalo kurang memuaskan.. 🙂

      1. Maaf ms oedi, bola cahaya spt bintang itu kecil dan bergerak lincah seperti memperhatikan dan mengawasi manusia kah,sy jd keingat th 2003 sewaktu kos di jogja pernah dikejar begituan tp sy buru2 tutup pintu kamar sy,abis ga tau itu apaan,klo bukan menurut ms oedi sy diikuti oleh sapa…..terimakasih

      2. Hmm.. setau saya sih mrk itu (pasukan langit) gak bergerak lincah karena biasanya sgt tenang dan pergerakannya pelan, makanya jarang disadari oleh manusia.. Mereka juga sgt jarang muncul secara kasat mata, lebih sering transparan dan tak bisa dideteksi oleh teknologi manusia skr.. Utk mengawasi manusia, mrk pun gak perlu mendekat karena teknologi mrk super canggih, lebih hebat dr teknologi pencitraan satelit bikinan manusia skr. Jadi sebenarnya cukup dari luar angkasa aja udah sama kok dg liat dalam jarak 1 meter, sangat jelas.. Kalaupun mrk mendekat atau menampakkan diri dalam bentuk bola cahaya atau yg lainnya, itu cuma salah satu bentuk kamuflase mrk, dan itu hanya salah satu bagian yg ada di salah satu sudut persawatnya.. Badan pesawat mrk secara utuh gakkan pernah mrk tampilkan skr, karena blm waktunya.. Selain itu, tujuan lain kenapa mrk sedikit menampakkan diri, adalah utk merangsang manusia agar berpikir dan mengambil hikmah, bahwa skr sudah semakin dekat waktu pemurnian total, bumi akan di daur ulang dan ditata ulang lagi.. Hal ini udah berlangsung puluhan tahun kok. Cuma gak byk dari manusia yg sadar, mau belajar dan mempersiapkan diri..
        Trus dari cerita mas Wowo di atas, sepertinya itu bukan pasukan langit. Bisa jadi makhluk lain yg emang bisa mengubah dirinya jadi bola cahaya.. Lalu karena dia sampai seperti ngejar/ngikutin sampeyan sampai ke kosan, bisa jadi itu dari bangsa jin banaspati atau yg sejenisnya.. Makhluk seperti itu emang kerap jadi bola cahaya atau bola api.. Umumnya bertujuan jahat pada manusia. Bisa karena atas kemauannya sendiri, tapi bisa juga karena di suruh oleh sekutunya dr bangsa manusia seperti dukun atau tukang sihir..
        Satu info tambahan, ada bbrp kemungkinan ttg penampakan bola cahaya. Tujuannya ada yg baik dan ada pula yg buruk. Kalo yg baik ciri khasnya berwarna putih atau putih kebiruan, datang dari arah langit, bergerak perlahan dan stabil, atau bisa juga cepat tapi langsung muncul di hadapan seseorang yg emg ingin ditemuinya. Perasaan yg ada saat itu tidak menakutkan tapi lebih kepada tenang dan mengharukan.. Sedangkan bola cahaya yg jahat biasanya berwarna kuning atau orange atau kemerahan, pergerakannya gak stabil dan datang secara horizontal atau bukan dari arah langit.. Aura magis atau suasana yg terasa saat itu biasanya gak enak, ngeri, merinding dan agak menakutkan.. Itu karena energi si bola cahaya yg emang negatif..
        Gitu mas, moga menjawab pertanyaannya.. 🙂

      3. Kalo yg putih kebiruan jatuh dari langit itu kejadian waktu kls 2 sd sama pas bln ramadhan,benar kata mas oedi cahaya itu diam sebentar didepan sy lalu sy julurkan tangan sy kedalamnya ada rasa tenang dan hangat tapi ga lama dia melesat cepat hilang dr hadapan sy…jawaban ms oedi jadi buka memori sy lagi,makasih banyak mas oedi.cuma sampe skrg sy blm dapat penjelasannya maksud diliatin cahaya putih kebiruan itu…

      4. Wah nyante aja mas.. Gak perlu berterima kasih kok, kalo bisa akan saya jawab, tapi kalo gak ya harap maklum karena saya cuma orang awam.. 🙂
        Hmmm mungkin emang blm waktunya sampeyan tahu apa maksudnya itu.. Semua itu ada waktunya kok, sabar aja.. 🙂

  4. Warna putih bersinar,seinget sy pas bln ramadhan…benda itu hanya bergerak turun naik(lincah) yg sy maksud btknya seperti bintang klo banaspati kan seperti jilatan api…

    1. Tidak semua banaspati itu berbentuk jilatan api loh.. Bbrp nya berbentuk bola api bahkan cahaya juga, ini yg sering menyesatkan manusia.. Apalagi kalo cahaya itu akhirnya berbicara atau ngasih sesuatu ke seseorang.. Seolah-olah itu baik, padahal tipuan belaka.. Perlu mawas diri kalo pernah mengalami yg seperti itu..

      1. Oh baiklah ya pikir sy dikota jogja di bln ramadhan banaspati ga bakal kelayapan masuk kota…hehehehe maklum mas sy baru berani cerita sama sampeyan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s