Kaum Artamia: Bangkit dan Hancurnya Leluhurku

Wahai saudaraku. Pada masa-masa awal periode zaman ke-6 (Nusanta-Ra), atau sekitar ±800.000 tahun silam, hiduplah sekelompok masyarakat yang tinggal di sekitar Jawa Timur sekarang. Mereka ini di antara manusia yang selamat dari bencana dahsyat pada saat transisi zaman sebelumnya. Atas bimbingan seorang Nabi yang bernama Awila AS, mereka pun kembali membangun peradaban yang maju.

Dalam sejarahnya, mereka ini berasal dari kaum yang sebelumnya tinggal di sekitar pulau Sulawesi bagian barat sekarang. Nama kaum tersebut adalah Karimala dan sudah hidup disana selama 1 juta tahun lebih. Namun menjelang masa transisi zaman ke-5 (Dwipanta-Ra) menuju ke zaman ke-6 (Nusanta-Ra), mereka lalu mendapatkan informasi bahwa zaman akan segera berganti baru. Yang memberi kabar saat itu adalah seorang Maharesi yang bernama Ranatasya. Melalui begawan itu pula kaum Karimala ini mendapatkan petunjuk tentang apa yang harus mereka lakukan sebagai persiapan untuk menghadapi bencana dahsyat itu. Karena mau dengan sadar diri mengikuti setiap petunjuk dari Maharesi Ranatasya, akhirnya mereka bisa selamat pada saat pemurnian total sedang terjadi di muka Bumi. Selanjutnya, di kemudian hari mereka mengganti nama kaumnya menjadi Artamia. Semua hanya atas petunjuk Tuhan melalui seorang utusan-Nya yang bernama Awila AS.

Untuk lebih jelasnya, mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Awal kisah
Kisah ini bermula pada saat menjelang pergantian zaman ke-5 (Dwipanta-Ra) menuju zaman ke-6 (Nusanta-Ra) manusia. Saat itu, sudah beberapa puluh tahun alam sering memberikan peringatan lewat begitu banyak bencana alam yang terjadi. Hampir di seluruh penjuru Bumi, gejolak alam seperti tak mau berhenti. Banyak kaum dan negeri mereka yang dihantam bencana alam luar biasa. Berbagai jenis bencana besar sering muncul dan menimbulkan begitu banyak kesedihan dan penderitaan.

Namun demikian, tak banyak kaum atau kerajaan yang peduli dengan peringatan itu. Banyak dari mereka yang tetap saja larut dalam kesenangan duniawi dan terus saja merusak keseimbangan alam. Segala macam keburukan dan sifat negatif telah mereka lakukan siang dan malam. Kemaksiatan, keserakahan, kekufuran, kezaliman, pembangkangan, perang dan sebagainya terus saja berlangsung. Hanya mereka yang sudah mengenal diri sejatilah yang tak mau mengikuti kebiasaan buruk dari kaumnya, atau oleh hampir seluruh penduduk Bumi saat itu. Mereka inilah yang kemudian selamat atau diselamatkan saat pemurnian total terjadi. Merekalah yang menjadi cikal bakal umat manusia hingga sekarang.

Singkat cerita, di suatu wilayah di sekitar Sulawesi bagian barat sekarang, hiduplah kaum Karimala dalam keadaan damai dan sejahtera. Seperti kaum terdahulu yang bijak, kaum ini juga hidup dalam keseimbangan lahir dan batinnya. Dengan keseimbangan itulah, mereka mendapat anugerah Tuhan dengan hidup secara damai dan penuh kemakmuran. Dan selain menguasai ilmu kesaktian, kaum Karimala ini juga menguasai teknologi. Karena itulah, kaum ini mendapat tempat yang istimewa di zamannya, di hadapan semua bangsa di seluruh dunia.

Waktu pun berganti dan tibalah masa pergantian zaman. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh para Nabi dan Resi, proses transisi pada saat itu berlangsung sangat keras dan menyakitkan. Semua jenis bencana alam dahsyat pun terjadi di hampir seluruh permukaan Bumi. Gempa-gempa dahsyat berdatangan susul menyusul, gunung-gunung meletus hampir secara bersamaan, tsunami yang teramat tinggi berulang kali terjadi, angin ribut yang menakutkan kerap menemani, perubahan cuaca panas atau dingin sering kali terjadi, dan kehancuran moral manusia menjadi indikasi ke arah datangnya hari penghakiman. Dan ketika hari “H” pemurnian total zaman itu terjadi, maka kehancuran yang sangat dahsyat pun tiba. Sebagian besar penduduk Bumi saat itu tewas mengenaskan tanpa ampun. Hanya yang telah mempersiapkan diri yang bisa selamat atau diselamatkan. Merekalah orang-orang yang beriman dan terus berserah diri kepada Tuhannya dalam ketulusan.

Singkat cerita, kaum Karimala ini adalah di antara manusia yang selamat pada saat transisi zaman itu terjadi. Mereka bisa selamat oleh sebab telah mengikuti petunjuk dari Maharesi Ranatasya. Dengan terus memperbanyak amal lahir dan batiniah secara tulus, akhirnya mereka diselamatkan oleh kaum yang tinggal di dimensi lain. Kaum tersebut bernama Ramalta. Dulu mereka ini adalah kaum manusia yang pernah hidup di awal periode zaman kelima (Dwipanta-Ra). Hanya saja atas kepatuhannya pada hukum Hyang Aruta (Tuhan YME), mereka lalu diperintahan untuk hijrah ke dimensi lain.

Pada saat menjelang hari “H” transisi zaman terjadi, atas perintah Tuhan kaum Ramalta harus menyelamatkan kaum Karimala. Karena itulah, mereka hadir lagi ke alam nyata dunia ini melalui portal khusus antar dimensi. Dengan armada pesawat antariksanya, kaum Ramalta itu lalu mengangkut setiap orang dari kaum Karimala yang beriman untuk pergi meninggalkan Bumi. Selama ±25 tahun kemudian, kaum Karimala pun tinggal di dalam pesawat kaum Ramalta itu. Selama itu pula mereka diajak untuk menjelajah ke berbagai tempat atau planet atau sistem tata surya lain di seputaran galaksi Megola (nama galaksi kita bagi kaum Ramalta). Adapun semua kebutuhan hidup mereka (kaum Karimala) itu telah dipersiapkan oleh kaum Ramalta.

Selama ±25 tahun kaum Karimala ikut menjelajahi galaksi Megola bersama kaum Ramalta. Berbagai macam keahlian juga telah mereka dapatkan dari kaum Ramalta. Ini memang harus di lakukan sebagai bentuk persiapan untuk hidup mereka selanjutnya. Apapun yang telah mereka pelajari dari kaum Ramalta bisa mereka terapkan di Bumi nanti. Dan sampailah pada akhirnya mereka harus kembali ke Bumi untuk melanjutkan kehidupan mereka disana. Di Bumi kaum Karimala terus membangun peradabannya dengan tidak melupakan ilmu ke-Tuhanan (agama) dan kesaktiannya.

2. Pembagian kerajaan dan terpecahnya kaum Karimala
Di Bumi, selama 25 generasi kaum Karimala hidup dalam kemakmuran dan keseimbangan. Mereka hidup dalam kepatuhan yang tinggi pada setiap aturan dan hukum dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Namun sebelum moksa, pemimpin mereka yang ke-26 bernama Sri Maharaja Jasmirata membuat keputusan yang akan mengubah segalanya. Atas petunjuk yang ia dapatkan, maka kerajaan Murtapala (nama kerajaan kaum Karimala) harus dibagi. Dan karena ia memiliki empat orang anak, maka diputuskan bahwa kerajaan pun dibagi menjadi empat. Pembagian di lakukan secara merata kepada masing-masing anaknya, baik ia laki-laki maupun perempuan.

Waktu pun berlalu selama 45 generasi sejak berdirinya empat kerajaan. Selama itu, kehidupan dari ke empat kerajaan tetap dalam keadaan aman dan makmur. Adapun ke empat kerajaan itu bernama Haluria, Simaria, Giramia, dan Pulsaria. Karena berasal dari leluhur yang sama, ke empat kerajaan ini hidup dalam kebersamaan dan kasih sayang. Mereka terus saling membantu jika ada yang kesusahan, dan saling mengunjungi untuk terus mengikat hubungan silaturahmi.

Namun semua itu mulai berubah sejak generasi ke-46 mereka. Raja dari kerajaan Simaria yang bernama Sri Maharaja Garidala Rakyalika mulai berambisi untuk menguasai semua kerajaan lainnya. Ia sangat ingin mendirikan sebuah kekaisaran yang dapat menguasai semua wilayah Jarwinala (nama Nusantara saat itu). Dan untuk mewujudkan semua ambisi itu, Raja Garidala mulai menyerang kerajaan milik saudaranya yang lain. Satu persatu berhasil ia taklukkan, tinggal kerajaan Haluria yang belum bisa ditaklukkan karena mereka masih bertahan dan terus melawan.

Singkat cerita, setelah di kepung selama lebih dari 3 bulan, akhirnya pimpinan dari kerajaan Haluria itu pun harus minta berunding. Raja yang bernama Sri Maharaja Wismaria Haltayara itu lalu meminta rakyatnya di ampuni. Ia rela menyerahkan tahta kerajaan asalkan penguasa kerajaan Simaria itu tidak menghabisi atau menawan prajurit dan rakyatnya. Mereka bersedia pergi dari negeri mereka itu asalkan tidak diganggu atau disakiti lagi. Mendapat tawaran seperti itu, raja Garidala pun berkenan menerimanya. Ia mempersilahkan raja Wismaria dan rakyatnya untuk pergi meninggalkan kerajaan Haluria, dengan syarat tahta kerajaan diserahkan kepadanya.

Sesuai hasil perundingan, setelah 3 hari kemudian Sri Maharaja Wismaria Haltayara beserta prajurit dan rakyat yang mendukungnya pergi meninggalkan kerajaan Haluria. Dari pusat kota Mustala, raja Wismaria dan pendukungnya itu berjalan kaki ke arah tenggara. Selama 35 hari mereka berjalan tanpa henti kecuali untuk istirahat selama 1-2 hari, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Tua muda, besar kecil, semuanya saling membantu dan hidup prihatin dengan cara memetik hasil hutan dan berburu. Meskipun mereka hidup tak layak, namun tak ada yang meratapi semua itu. Setiap orang justru tampak sangat tabah dan ikhlas dalam menjalani takdir Tuhan itu.

Suatu ketika, di saat mereka sedang beristirahat selama dua hari dari perjalanannya, tepat di malam harinya, raja Wismaria berjalan menyendiri ke dalam hutan. Setelah cukup jauh berjalan, tanpa ia kira sebelumnya, di tepian sebuah sungai berbatu ia bertemu dengan seorang utusan Tuhan yang bernama Awila AS. Sang Nabi lalu memberikan petunjuk agar sang raja membawa kaumnya itu ke arah selatan lalu ke arah barat. Mereka harus terus berjalan sampai pada akhirnya tiba di sebuah lembah yang berada di kaki gunung Dillas (nama gunung Wilis saat itu) yang ada di sekitar kabupaten Nganjuk, Jawa Timur sekarang. Disana mereka bisa membangun tempat tinggal yang baru, dan akhirnya nanti akan mampu membangun kerajaan yang besar. Dan sebelum pergi, Nabi Awila AS memberikan sebuah benda pusaka berupa cincin permata biru yang bernama Syalimara dan kitab yang bernama Natakawa. 

Menurut sang Nabi kedua pusaka itu akan membantu sang raja membangun kembali peradaban kaumnya. Selain itu, kedua pusaka itu juga untuk bekal bagi setiap raja yang memimpin dan juga syarat mutlak bagi siapapun yang ingin memimpin kerajaan – seseorang harus mampu memegang dan menggunakannya. Sang Nabi juga memberi nama untuk kaum dan kerajaannya nanti, yaitu Artamia, yang berarti agung dan berjaya.

3. Pendirian kerajaan dan peradaban kaum Artamia 
Setelah sampai di lokasi yang dimaksudkan oleh Nabi Awila AS, raja Wismaria dan rakyatnya mulai membangun peradaban mereka kembali. Sesuai petunjuk dari Nabi Awali AS, maka selang beberapa belas tahun kemudian, mereka lalu mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Artamia. Nama ini sama dengan nama kaumnya, yang berarti agung dan berjaya.

Selanjutnya, oleh karena memiliki sebuah kitab yang diberikan oleh Nabi Awila AS, raja Wismaria dan rakyatnya mulai menerapkan isi dari kitab tersebut. Kitab Natakawa ini bukanlah kitab sembarangan. Isinya memuat berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kisah dari kitab ini sangat panjang dan berganti-ganti kaum atau zamannya. Tapi kitab ini bukanlah sebuah kitab wahyu yang suci, sebab isinya merupakan kumpulan dari beberapa aturan dan metode yang terbaik yang pernah diterapkan oleh peradaban besar di masa lalu. Jadi, bila ada sebuah kaum yang memiliki peradaban tertinggi, khususnya sejak periode zaman Purwa Naga-Ra (zaman kedua manusia), maka di ambillah sebagian aturan atau sistem yang terbaik untuk dikumpulkan di dalam satu jilid buku. Yang kemudian atas petunjuk-Nya pula, maka kitab ini lalu diberi nama Natakawa. Yang artinya:

Nata = memperlihatkan
Kawa = aturan yang jelas
Jadi, Natakawa itu berarti memperlihatkan aturan hidup yang jelas.

Orang yang menuliskan kitab ini adalah Nabi Syis AS. Beliau ini hidup sejak periode zaman Purwa Duksina-Ra (zaman pertama manusia). Suatu ketika sebagai seorang Nabi, beliau mendapat petunjuk dari Tuhan untuk menjalankan tugas dalam mengumpulkan beberapa aturan dan sistem yang terbaik, yang ada di berbagai zaman dan bangsa di dunia. Atas kehendak Tuhan, beliau mendapatkan anugerah untuk bisa hidup di setiap zaman manusia. Karena itulah, dimana pun terdapat satu peradaban yang terbesar, yang di dalamnya terdapat kemakmuran dan kemuliaan, maka disanalah beliau harus mengambil sebagian contoh aturan atau sistem yang terbaik untuk kemudian di kumpulkan ke dalam satu buku. Sebagai contoh, ada lima kaum terbesar yang pernah beliau kunjungi, yaitu:

1) Kaum Gulawita: Kaum ini hidup pada pertengahan periode zaman Purwa Naga-Ra (zaman kedua manusia). Mereka dulunya tinggal di sebuah wilayah yang sekarang dikenal dengan daratan China bagian selatan. Pada kaum ini beliau mengambil contoh tentang aturan dalam perekonomian dan perdagangan.
2) Kaum Asputara: Kaum ini hidup pada akhir periode zaman Purwa Naga-Ra (zaman kedua manusia). Mereka dulunya tinggal di sebuah wilayah yang sekarang lebih dikenal dengan Russia. Pada kaum ini beliau mengambil contoh tentang ketatanegaraan.
3) Kaum Wartaya: Kaum ini hidup pada awal periode zaman Dirganta-Ra (zaman ketiga manusia). Mereka dulunya tinggal di antara ujung barat pulau Sumatera dan Srilanka, atau sebuah perairan yang kini dikenal dengan Samudera Hindia. Pada kaum ini beliau mengambil contoh tentang aturan dalam kehidupan sosial.
4) Kaum Aryamaka: Kaum ini hidup pada pertengahan periode zaman Dirganta-Ra (zaman ketiga manusia). Mereka dulunya tinggal di sebuah wilayah di Nusantara, tepatnya di pulau Jawa. Pada kaum ini beliau mengambil contoh tentang nilai-nilai kekeluargaan.
5) Kaum Hugartal: Kaum ini hidup pada akhir periode zaman Dirganta-Ra (zaman ketiga manusia). Mereka dulunya tinggal di sekitar wilayah pegunungan Alpen yang ada di Eropa barat sekarang. Pada kaum ini beliau mengambil contoh tentang teknologi maju.

Demikianlah sebagian contoh bagaimana Nabi Syis AS bisa mengumpulkan aturan dan sistem yang terbaik. Dan tidak hanya terbatas di ke empat kaum di atas, karena sebenarnya pada semua benua yang ada di dunia ini. Jadi, dimana pun terdapat kaum yang berhasil dalam membangun peradaban yang terbesar di zamannya, di setiap benua yang ada, maka beliau akan tetap mendatanginya untuk bisa mengambil aturan yang terbaik disana. Yang kemudian disatukan dengan aturan dan sistem yang telah dikumpulkan sebelumnya ke dalam sebuah kitab. Kitab itu lalu diberi nama Natakawa.

Selanjutnya, setelah selesai mengumpulkan beragam aturan dan sistem terbaik yang pernah ada, maka kini waktunya untuk memberikannya kepada satu kaum agar dijadikan sebagai pedoman mereka dalam membangun sebuah peradaban. Pada waktu itu, di periode zaman Swarganta-Ra (zaman ke empat manusia), yang pertama kali menerima kesempatan itu adalah kaum yang bernama Kahamayang. Kaum ini awalnya bukanlah kaum yang besar, karena bahkan mereka itu sebenarnya orang-orang yang tersingkir dari kaum induknya yang bernama Manguni. Dulu mereka ini tinggal di wilayah yang sekarang dikenal dengan Laut China Selatan. Dan karena tersingkir, mereka pun harus mencari tempat tinggal yang baru, yang akhirnya sekarang berada di sekitar perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepatnya di sekitar kaki gunung Lawu sekarang (sekitar kabupaten Magetan, Jatim). Hanya saja pada saat itu gunung Lawu yang ada sekarang ini masih belum ada, yang ada disana adalah gunung Rahwalu. Gunung raksasa bersalju itu memiliki ketinggian ±6.235 mdpl. Karena perubahan gerak magma dan tekanan inti Bumi, gunung ini lalu berubah menjadi gunung berapi dan akhirnya meletus secara eksplosif (meledak). Jutaan tahun kemudian di lokasi kaldera gunung Rahwalu ini, muncullah gunung baru yang kini disebut Lahwu atau Lawu. Gunung ini pun sudah berulang kali meletus, bahkan pernah secara eksplosif (meledak). Sampai pada akhirnya sekarang dengan ketinggian hanya sekitar ±3.265 mdpl.

Jadi, dengan berpatokan pada isi kitab Natakawa, maka kaum Artamia ini mulai menata kehidupan mereka menjadi lebih teratur dan makmur. Mereka telah diperkenalkan dengan berbagai aturan dalam kehidupan dan ilmu pengetahuan yang terbaik. Hasilnya mereka mampu membangun peradaban yang gemilang. Salah satu ciri khas dari peradaban mereka saat itu adalah bangunan yang bertingkat-tingkat dari batu marmer atau pualam atau giok atau emas yang disebut Ramiya atau Haliya (sekarang disebut Candi dan Piramida). Ada banyak bangunan seperti itu yang mereka bangun, yang semuanya hanya sebatas untuk pemanis taman kota atau istana.

Sekian lama kaum Artamia ini menikmati hidup dalam kemakmuran. Sesekali Nabi Awila AS mengunjungi mereka dan mengajarkan tentang berbagai hal. Setidaknya ada 12 hal pokok yang pernah diajarkan oleh sang Nabi kepada mereka ini. Di antaranya:

1. Aturan dalam rumah tangga.
2. Aturan dalam bernegara.
3. Aturan dalam perekonomian.
4. Aturan dalam kehidupan sosial.
5. Aturan dalam bertetangga.
6. Aturan antara sesama makhluk Tuhan.
7. Aturan antara manusia dengan Tuhan.
8. Aturan dalam seni dan budaya.
9. Aturan dalam pembangunan (arsitektur, teknologi).
10. Aturan dalam pertanian.
11. Aturan dalam perkebunan.
12. Aturan dalam peternakan dan perikanan.

Dengan bekal 12 aturan itulah kaum Artamia mampu membangun peradaban terbesar mereka. Dan mereka ini termasuk kaum yang sangat cerdas, karena saat di ajarkan oleh Nabi Awila AS, mereka bisa cepat memahaminya. Bahkan selanjutnya mereka pun tidak pernah berhenti dalam berinovasi. Hal ini semakin memajukan peradaban mereka selanjutnya.

Dan seperti kaum Kahamayang sebelumnya, adapun di antara contoh inovasi mereka pada saat itu adalah:

1. Di bidang pertanian; mereka berhasil menciptakan varietas tanaman budidaya yang baru.
2. Di bidang perkebunan: mereka berhasil menciptakan varietas tanaman buah yang baru.
3. Di bidang peternakan dan perikanan: mereka berhasil menciptakan species hewan baru.
4. Di bidang ekonomi: mereka berhasil meningkatkan kualitas dan kuantitas perekonomian.
5. Di bidang ketatanegaraan: mereka telah menata aturan hukum dan menerapkannya pada bidang pertahanan, kerjasama, pengembangan teknologi, dll. Merekalah yang meletakkan dasar hukum di seluruh dunia pada masanya.
6. Di bidang teknologi: mereka telah berhasil menciptakan berbagai jenis peralatan yang berteknologi super canggih, bahkan lebih hebat dari manusia sekarang. Misalnya, anti gravitasi dan menciptakan gravitasi sendiri atau membangun pesawat antariksa berkecepatan cahaya atau alat teleportasi.

Kaum Artamia ini pada akhirnya menjadi satu kaum yang termaju di zamannya, bahkan bisa di bilang bahwa peradaban yang telah mereka bangun saat itu menjadi pusat peradaban dunia. Mereka hidup dalam kemakmuran dan kemajuan, dengan rata-rata usianya antara 200-350 tahun. Teknologi mereka sangat maju, bahkan lebih hebat dari manusia di zaman sekarang. Salah satu contohnya mereka berhasil menciptakan kapal selam yang biasa disebut dengan Milal. Mereka juga telah berhasil masuk ke dalam perut Bumi dengan kendaraan khusus yang diberi nama Gularmi untuk meneliti tentang inti Bumi. Selain itu, mereka ini sering kali menjelajah ke luar angkasa – untuk melakukan penelitian – dengan pesawat super canggih berkecepatan cahaya. Pesawat bertenaga kristal biru itu diberi nama Swanir. Sepanjang sejarahnya, dengan pesawat super canggih itu mereka tidak hanya menjelajah sebatas planet dalam sistem tata surya kita saja, tetapi sampai ke beberapa sistem tata surya dan galaksi lainnya. Dan contoh yang terakhir adalah berhasil menciptakan sebuah alat teleportasi yang disebut Zingkal.

Sebenarnya mereka tidak suka berperang, tetapi demi menjaga keutuhan negeri mereka maka tak ada pilihan untuk tidak menciptakan berbagai jenis peralatan perang. Terlebih dimasa mereka itu banyak kerajaan yang berlomba-lomba mendirikan kekaisarannya, maka mau tidak mau kaum Artamia harus selalu siap untuk berperang. Perlombaan teknologi senjata pun terjadi, dan semua bangsa yang ada saat itu terus berupaya menjadi yang terdepan. Sehingga tidak ada pilihan bagi sebuah negara untuk tidak ikut berlomba dalam teknologi senjata jika tak ingin dijajah. Dan benar, bahwa sejak 5.000 tahun masa kehidupan di periode zaman Nusanta-Ra itu, bangsa-bangsa di seluruh dunia mulai saling berperang dan berlomba-lomba untuk mendirikan kekaisarannya.

Singkat cerita, sepanjang peradaban kaum Artamia, tidak ada satu kaum pun yang berani menyerang mereka, karena lebih banyak yang justru menjalin kerjasama di berbagai bidang demi meningkatkan taraf hidup mereka. Semua itu bisa terjadi lantaran teknologi yang dimiliki oleh kaum Artamia ini adalah yang terhebat. Dan satu lagi keunggulan dari kaum ini adalah mereka tetap sangat menjaga keahlian ilmu kanuragan dan kadigdayan mereka. Terlebih di suatu kesempatan Maharesi Ranatasya berkunjung ke negeri mereka untuk mengajarkan tentang berbagai ilmu kesaktian. Karena sikap kaum Artamia ini tetap rendah hati, semua ilmu itu hanya dipergunakan untuk tujuan positif dan berguna untuk kemaslahatan bersama. Ini pula yang menjadi bekal bagi setiap pribadi untuk bisa moksa dengan mudah di akhir hidupnya di dunia. Dan demi menjaga kestabilan dunia, ilmu kesaktian itu bersifat sangat rahasia dan hanya boleh diajarkan untuk kaum mereka saja.

Demikianlah sifat mereka yang tidak suka dengan kekerasan, terlebih peperangan yang akan mendatangkan bencana. Meskipun mereka memiliki teknologi persenjataan yang hebat, mereka tetap sangat cinta kedamaian dan tidak pernah berhasrat untuk menaklukkan bangsa lainnya. Mereka juga senang berbagi ilmu pengetahuan, sebagaimana yang telah dipesankan oleh Nabi Syis AS dan Nabi Awila AS. Dan mereka sudah merasa puas dengan apa yang telah Tuhan anugerahkan kepada mereka dengan banyak bersyukur dan rendah hati. Karena itu pulalah, mereka diperintahkan untuk berpindah ke dimensi lain, dan menjalani kehidupan yang lebih baik disana sampai kini.

Sama dengan kaum Kahamayang sebelumnya, maka ada beberapa alasan mendasar yang menyebabkan mereka ini diizinkan untuk berpindah ke dimensi lain. Yaitu:
1. Mereka tetap berpegang teguh pada keyakinan tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa.
2. Semakin hebat teknologi yang dikuasai, mareka justru semakin beriman kepada Tuhan dan patuh kepada semua aturan-Nya.
3. Meskipun harta berlimpah mereka tidak lantas cinta duniawi.
4. Kehidupan sosial di antara mereka sangat harmonis dan mereka tidak pernah merasa iri atau dengki kepada yang lainnya. Justru senang berbagi, apapun itu, dengan ikhlas dan penuh rasa cinta.
5. Hukum hanya dijadikan sebagai pengingat saja, karena mereka tidak pernah melanggar hukum apapun. Mereka sangat taat hukum, sehingga tak ada hakim, pengadilan dan penjara di negeri mereka ini.
6. Mereka sangat menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup.

Jadi, bila dilihat dari ke enam hal di atas, maka jelas sekali bahwa sifat dari kaum Artamia ini sangat bertolak belakang dengan umumnya sifat manusia dan bangsa-bangsa di masa sekarang. Oleh karena itu, sebagai bonus, maka Tuhan memerintahkan mereka untuk berpindah ke dimensi lain. Perpindahan mereka ini tidak hanya sebatas orang perorangnya saja, tetapi juga beserta kota tempat mereka tinggal dan teknologi yang mereka miliki. Namun sebelum semuanya berpindah dimensi, ada sebagian dari mereka itu yang harus tetap tinggal di Bumi. Mereka harus menjalankan tugas untuk mendirikan sebuah kerajaan dan beranak pinak untuk meneruskan keturunannya. Setelah kedua tugas itu selesai, barulah mereka diizinkan untuk berpindah dimensi dan bergabung dengan kaum mereka lagi.

4. Raja-raja kaum Artamia
Kaum Artamia ini diberikan waktu hidup di muka Bumi selama ±10.000 tahun. Selama itu ada 60 orang raja dan ratu yang pernah memimpinnya. Adapun di antara mereka itu adalah sebagai berikut:

1. Sri Maharaja Wismaria Haltayara -> pendiri kaum Artamia.
2. Sri Maharaja Zularia Haltayara
3. Sri Maharaja Kasiria Haltayara
4. Sri Maharaja Tidamaria Haltayara
5. Sri Maharaja Linsanaria Haltayara
6. Zira Timanuria Haltayara -> mulai berganti gelar dari Sri Maharaja menjadi Zira (raja) atau Zari (ratu) karena ada perubahan dalam bahasa mereka.
7. Zira Kisramaria
8. Zira Goramaria
9. Zira Tarmudaria
10. Zari Niratariyama -> seorang ratu, putri dari Zira Tarmudaria (raja ke-9)
11. Zira Zulmaria
12. Zira Dirtamaria
13. Zira Hatarimaria
14. Zira Hasmaria
15. Zira Madilaria
16. Zari Umhalariyama -> seorang ratu, putri dari Zira Madilaria (raja ke-15)
17. Zira Karusazaria
18. Zira Kimoramia
19. Zira Lizarakia
20. Zira Firamalia
21. Zira Tiradalia
22. Zira Suradahia
23. Zira Narasimaria
24. Zira Kutarulia
25. Zira Malamaria
26. Zira Rugatirasia
27. Zira Ramanataria
28. Zira Tiradaramia
29. Zari Larasatiyama -> seorang ratu, putri dari Zira Tiradaramia (raja ke-28)
30. Zira Katsuramia
31. Zira Hantaramia
32. Zira Busratamia
33. Zira Hasukalania
34. Zira Sibanaramia
35. Zira Kaswaribania
36. Zira Toradaria
37. Zira Wildaramia
38. Zira Zintarasia
39. Zira Soramalia
40. Zira Maladamia
41. Zari Milanandiyama -> seorang ratu, putri dari Zira Maladamia (raja ke-40)
42. Zira Kuratamania
43. Zira Narasastria
44. Zira Husakalamia
45. Zira Zintaralia
46. Zira Puramandamia
47. Zira Tadiramalia
48. Zira Kaswarasitaria
49. Zari Hasitanaliyama -> seorang ratu, putri dari Zira Kaswarasitaria (raja ke-48)
50. Zira Hidamaritamalia
51. Zira Nutaramia
52. Zira Mataramania
53. Zira Hasitaramia
54. Zira Puramarania
55. Zira Kusmaramia
56. Zira Dirgamania
57. Zira Nilhayamia
58. Zira Nusantaramia
59. Zira Wandinaramia
60. Zira Limantaramia -> raja terakhir yang membawa kaum Artamia berpidah ke dimensi lain.

Selama berdirinya kerajaan Artamia ini, suksesi kepemimpinan selalu berjalan lancar. Tidak pernah terjadi huru-hara atau perang saudara ketika akan di laksanakannya pergantian raja atau ratunya. Semua bisa terjadi karena kaum ini tidak senang dengan sifat iri, dengki dan fitnah. Mereka tidak mau mencampuri urusan yang bukan haknya. Terlebih memang sudah menjadi konstitusi negara bahwa raja atau ratu akan mewariskan tahta kepada yang dia kehendaki, terutama anak kandungnya. Itu hak sepenuhnya sang raja atau ratu. Dan selama sejarah kerajaan Artamia ini, maka biasanya seorang raja atau ratu akan mewariskan tahtanya kepada putra/putri mahkota. Sedangkan putra/putri mahkota sendiri adalah sosok yang telah dibekali dengan berbagai ilmu dan kebijaksanaan. Karena itulah ia pun bisa memimpin kerajaannya dengan sangat baik dan bijaksana.

5. Kehancuran kaum Artamia
Sebelum berpindah dimensi, sebagian orang dari kaum Artamia harus menjalankan tugas di Bumi. Saat itu, ada tiga kelompok yang mendapat mandat untuk mendirikan tiga kerajaan. Tiga kerajaan ini terpisah jarak dan wilayahnya. Yang di sebelah Timur bernama Hiramia, di tengah bernama Diramia, dan yang di barat bernama Ziramia. Kerajaan Hiramia yang ada di timur meliputi daratan dan lembah yang subur, yang membentang dari Dinala (pulau Lombok sekarang) sampai gunung Rahwalu (gunung Lawu) – artinya semua wilayah mulai dari NTB, Bali, Madura dan Jawa Timur sekarang. Kerajaan Diramia meliputi wilayah di antara gunung Rahwalu (Lawu), perbukitan Gizal (perbukitan Menoreh), gunung Sarmita (gunung Slamet), dataran Birnula (Laut Jawa sekarang) dan Surimala (Samudera Hindia) – artinya semua wilayah Jawa Tengah, Jogjakarta, sebagian Laut Selatan dan Laut Jawa sekarang. Sedangkan kerajaan Ziramia yang berada di barat berbatas langsung dengan wilayah kerajaan Diramia di timur, Swarulana (pulau Sumatera sekarang) di barat, dan Surimala (Samudera Hindia) di selatan dan barat daya – artinya semua wilayah Jawa Barat, Jakarta, Banten, dan Lampung sekarang. Dan perlu diketahui bahwa pada saat itu semua wilayah Nusantara bagian barat (pulau Jawa, Madura, Bali, Lombok, Kalimantan, Sumatera, Malaysia, Thailand dan Kambodia) masih dalam satu daratan.

Ketiga kerajaan ini mewarisi kemampuan yang dimiliki oleh kerajaan Artamia. Hanya saja mereka ini sudah tidak begitu tertarik dengan kemampuan teknologi yang super canggih. Mereka tidak lagi “gila-gilaan” dalam membangun teknologi, apalagi sampai harus bisa menjelajah ke luar angkasa. Karena pada saat itu memang mereka lebih tertarik dengan hal-hal yang sederhana dan ilmu kesaktian saja. Sehingga banyak dari mereka yang senang ber-tapa brata mencari ilmu untuk meningkatkan kemampuan diri.

Namun demikian, setelah ±500 tahun berlalu, mereka juga berhasil membangun peradaban yang tinggi dengan teknologi yang cukup tinggi. Di kerajaan Hiramia, garis keturunan murni dari Sri Maharaja Wismaria Haltayara (pendiri kaum Artamia) pun dipertahankan dan dipelihara dengan baik. Namun di kerajaan Diramia dan Ziramia garis keturunan murni itu diabaikan dan lambat laun lenyap. Kedua kerajaan itu juga sering kali bertikai dan akhirnya menyeret kerajaan Hiramia untuk ikut serta. Keadaan ini yang akhirnya semakin mempercepat kemunduran kaum Artamia. Masalah utama yang menjadi sumber perselisihan adalah tentang siapa yang menjadi pewaris utama dari kaum Artamia, siapa yang lebih unggul di antara mereka dan mengenai batas wilayah negara mereka.

Waktu pun terus berlalu sementara konflik di kerajaan Diramia dan Ziramia tetap berlanjut. Mereka pun terus menggalang kekuatan dan dukungan dari berbagai kerajaan lain. Dan pada akhirnya mereka juga ingin menguasai kerajaan Hiramia yang ada di timur. Alasan utama dari keinginan itu karena di kerajaan Hiramia terdapat Armun Han (semacam menara kristal) yang berdiri di dekat pinggiran kota Hiramia. Di dalam menara itu terdapat berbagai pusaka warisan kaum Artamia, termasuk kitab Natakawa pemberian Nabi Awila AS.

Pada masa pemerintahan raja Hirakalia (raja ke-15 Hiramia), kejahatan besar telah menghampiri Jarwihala (istilah Nusantara pada saat itu). Tak lama kemudian, muncullah sebuah kerajaan Arnomar di utara (di sekitar Laut China Selatan sekarang) di lereng gunung berkabut. Disana banyak berkumpul orang-orang jahat, setan, demit dan makhluk keji lainnya. Penguasa negeri itu dikenal dengan nama Ar-Maruktar, sang raja penyihir. Dibawah komandonya, kerajaan Arnomar berambisi untuk segera menjadi penguasa dunia.

Selang ±40 tahun kemudian, di masa pemerintahan raja Wirakalia (raja ke-16 Hiramia, anak raja Hirakalia), maka karena di kerajaan Diramia dan Ziramia sudah tak ada lagi raja yang berasal dari keturunan murni dari Sri Maharaja Wismaria Haltayara, maka raja Wirakalia menuntut kekuasaan penuh atas Armun Han. Tuntutan itu ditentang oleh Jazkali (raja ke-15 Ziramia) namun disetujui oleh Surmali (raja ke-15 Diramia). Karena merasa tak mampu bila harus berperang menghadapi koalisi kerajaan Hiramia dan Diramia, maka raja Jazkali menjalin hubungan dengan raja Ar-Maruktar dari kerajaan Arnomar di utara. Awalnya mereka bersekutu dengan cara rahasia, tapi akhirnya terang-terangan.

Raja Ar-Maruktar telah banyak menaklukkan kerajaan lain di seputaran Jarwihala (penamaan Nusantara di masa itu), karena itu ia juga siap mengerahkan seluruh pasukan dari negeri taklukkannya itu untuk melawan koalisi kerajaan Hiramia dan Diramia. Tapi sebelum perang besar terjadi, maka selama bertahun-tahun pasukan kerajaan Hiramia terus berusaha mengusir para pengganggu yang berasal dari utara, dari kerajaan Arnomar. Itu terjadi karena tanpa bersekutu dengan kerajaan Ziramia, kerajaan Arnomar memang ingin menaklukkan seluruh wilayah Jarwihala, khususnya kerajaan Hiramia dan Diramia. Karena kedua kerajaan itu telah menjadi mercusuar di kawasan Jarwihala pada zaman mereka.

Waktu terus berlalu. Di tahun ke 25 sejak bersekutu dengan kerajaan Ziramia, sepasukan besar kerajaan Arnomar bergerak menyeberangi sungai Kohila, lalu masuk ke wilayah kerajaan Hiramia dan mengepung menara Armun Han. Bersama sekutunya dari kerajaan Ziramia, pasukan besar pimpinan raja Ar-Maruktar ingin segera menguasai tempat penyimpanan pusaka itu. Setelah bisa menguasai Armun Han dan mengambil pusakanya, mereka akan bergerak menaklukkan kerajaan Hiramia dan Diramia. Jika mereka berhasil, maka bisa dikatakan raja Ar-Maruktar akan menjadi kaisar dunia.

Pertempuran besar pun terjadi. Setiap kubu yang saling berhadapan itu telah berkoalisi dengan puluhan kerajaan lainnya. Mereka lalu berperang habis-habisan dan berlangsung sengit. Segala macam kemampuan, strategi dan kesaktian telah dikeluarkan oleh kedua belah pihak. Selama 15 hari penuh perang besar itu terjadi, yang menelan korban ratusan ribu jiwa. Kerajaan Hiramia dan Diramia kalah, sementara raja Wirakalia pun gugur sebagai pahlawan. Menara Armun Han lalu dihancurkan, tetapi semua pusaka utama kaum Artamia tak ditemukan. Ternyata sebelum akhirnya gugur, raja Wirakalia telah menyelamatkan semua pusaka warisan kaum Artamia yang tersimpan disana. Semua pusaka itu telah dibawa ke istana kerajaan Hiramia untuk disembunyikan disana. Seorang anak yang tepercaya yang ditugaskan untuk membawanya dan menjaga semua pusaka utama itu.

Mengetahui pusaka yang ia inginkan tak ada di menara Armun Han, raja Ar-Maruktar segera menyiapkan pasukannya untuk menyerang pusat kota kerajaan Hiramia. Dengan ambisi yang membara, ia bergerak bersama ratusan ribu pasukannya. Sesampainya di kota Sumalia (nama ibu kota kerajaan Hiramia), pertempuran pun terjadi. Raja Ar-Maruktar segera memimpin penyerangan ke benteng kerajaan itu. Berbagai peralatan perang digunakan untuk menggempur benteng itu, sampai akhirnya ia menyerah dan runtuh. Setelah benteng itu runtuh, maka seisi kota langsung diserang dan jadi porak poranda. Banyak orang yang dibunuh secara keji, baik tua atau pun muda, pria maupun wanita sama saja. Darah terus mengalir menganak sungai. Wajah Bumi pun segera berwarna merah menakutkan.

Sejak saat itu, kerajaan Hiramia telah dijajah oleh orang-orang jahat dari utara. Pemimpinnya tentulah raja Ar-Maruktar, sementara raja Jazkali hanya sebagai Senopati-nya saja. Ia tak bisa berbuat apa-apa jika tak ingin negerinya pun ikut dihancurkan. Kaum Artamia yang tersisa di kerajaan Hiramia banyak yang dibunuh, yang lainnya sempat melarikan diri dan menyingkir jauh ke Timur. Salah satunya adalah rombongan yang dipimpin oleh putra raja Wirakalia yang bernama Zamiralia. Sesuai pesan terakhir dari ayahnya, ia harus menjaga pusaka utama warisan kaum Artamia itu. Dan kalau bisa ia juga harus membawa sebanyak mungkin dari kaumnya untuk segera pergi menyelamatkan diri ke Timur.

Sejak penaklukkan itu, maka bisa dikatakan hancurlah kaum Artamia. Yang tersisa hanyalah orang perorang dalam kelompok kecil yang kemudian tinggal di negeri kaum lainnya. Mereka terpisah-pisah dan akhirnya mulai “menghilang” karena telah bercampur dengan bangsa lainnya melalui pernikahan. Anak keturunan mereka tidak begitu mewarisi kemampuan dan semangat dari kaum Artamia. Karena itu, kebangkitan dari kaum hebat itu pun tak pernah terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama. Sampai pada akhirnya, setelah 3.000 tahun lebih, muncullah seorang pemimpin muda yang memiliki pusaka utama dari kaum Artamia. Secara garis silsilah, ia masih berkaitan dengan kaum Artamia karena masih keturunan dari Zamiralia bin Wirakalia (raja ke-16 kerajaan Hiramia). Dan ia bisa memiliki pusaka dari kaum Artamia itu setelah mendapatkan petunjuk dari leluhurnya.

Atas izin dan kehendak Yang Maha Kuasa, pemuda yang ternyata bernama Hirmalaka itu bisa memperoleh pusaka milik kaum Artamia. Dengan jalan tapa brata selama ±50 tahun di puncak gunung Mehru (gunung Semeru sekarang), Hirmalaka bisa mendapatkannya dari para leluhurnya sendiri yang telah moksa. Pusaka-pusaka itu lalu menjadi bekal dirinya saat mendirikan kerajaan. Adapun kerajaan yang berhasil ia dirikan saat itu bernama Girimalaka. Lokasi dari kerajaan ini sekarang berada di sekitar kabupaten Kediri, Jawa Timur. Dan sebagai seorang raja besar, ia lalu memakai gelar Sri Maharaja Hirmalaka Sridanaya Lin Artamia. Sejak saat itu, maka masuklah kehidupan di tanah Nusantara, khususnya di bagian baratnya, ke dalam era kerajaan-kerajaan yang mengandalkan kesaktian diri dan benda pusaka. Hal ini bahkan terus berlanjut sampai ke periode zaman selanjutnya, yaitu zaman ke-7 manusia sekarang ini (Rupanta-Ra).

Dan khusus untuk pusaka warisan dari kaum Artamia itu, maka selepas kerajaan Girimalaka raib dari muka bumi, masih terus diwariskan dari waktu ke waktu. Ada beberapa orang raja dan kesatria yang pernah memegangnya. Setelah itu kembali raib entah kemana dan tak tahu rimbanya. Sesekali muncul lalu hilang kembali. Sampai akhirnya di sepanjang periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra), pusaka-pusaka itu tak pernah muncul kembali. Sepertinya masih menunggu waktu yang tepat bagi seorang yang terpilih untuk memegangnya – atau mungkin sudah? Entahlah. Dalam hal ini, tentu pemuda tersebut akan membangkitkan kejayaan dari kaumnya sekali lagi.

6. Penutup
Demikianlah sekilas gambaran dari kisah kehidupan kaum Artamia dan keturunannya. Sebuah kaum yang telah sampai pada puncak peradaban manusia. Sikap mereka luar biasa dan selalu patuh pada hukum dan aturan dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Hanya saja, keturunan mereka itu tak seperti mereka lagi. Memang bukan sepenuhnya kesalahan mereka bila akhirnya kaum Artamia hancur, tapi apa yang telah mereka putuskan saat itu ikut mempengaruhinya. Terlebih semua itu memang sudah menjadi suratan takdir Yang Maha Kuasa, dimana setiap kaum atau negara atau kerajaan itu akan ada masa berakhirnya, maka kaum Artamia pun harus menghilang. Di masa kerajaan Hiramia-lah kehancuran itu terjadi, terutama setelah mereka diserang oleh kerajaan Arnomar yang bersekutu dengan kerajaan Ziramia; saudara mereka sendiri.

Sejak hancurnya kerajaan Hiramia, maka bisa dikatakan kehidupan dari kaum Artamia telah berakhir. Memang garis keturunan dari kaum ini tetap ada, tapi mereka tak pernah membangkitkan kejayaan kaumnya lagi. Barulah setelah 3.000 tahun berlalu, maka kebangkitan itu terjadi. Di pimpin oleh seorang pemuda yang bernama Hirmalaka, kaum Artamia kembali mendirikan kerajaan yang bernama Girimalaka. Kerajaan ini akhirnya tumbuh sebagai kekaisaran yang makmur dan menjadi cikal bakal kerajaan selanjutnya di Jarwihala (Nusantara) hingga kini. Hanya saja perlu diketahui bahwa hal itu tidak terjadi secara terus menerus. Sebab Nusantara pada masa lalu sering tertimpa bencana dahsyat. Selepas kerajaan Girimalaka, wilayah di Nusantara bagian barat khususnya pernah berulang kali bersatu atau terpisah lagi oleh lautan. Akibat perubahan iklim dunia, laut sering menjadi daratan dan daratan pun kembali menjadi lautan. Dengan keadaan seperti itu, manusia yang hidup di Nusantara pada masa lalu berulang kali pula harus hijrah ke negeri seberang, ke daratan benua lainnya. Setelah cukup lama hidup di negeri lain, dan saat mengetahui kondisi daratan di Nusantara telah membaik, mereka pun kembali ke tanah leluhurnya itu. Hal ini pernah berulang kali terjadi sampai waktu beberapa ribu tahun sebelum tarikh Masehi.

Akhirnya, apa yang diuraikan di atas bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Setiap hal yang baik atau pun buruk – yang pernah terjadi sejak masa kehidupan kaum Karimala lalu kerajaan Haluria kemudian kaum Artamia sampai di kerajaan Hiramia – harus di ambil hikmahnya. Terlebih karena posisi kita sekarang yang hampir sama dengan kaum Karimala – yang hidup di akhir zaman ke-5 (Dwipanta-Ra), maka kita pun harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Dan karena kita sudah berada di ujung periode zaman ke-7 ini (Rupanta-Ra) – ditambah lagi dengan begitu banyak pertanda alam yang muncul di sekitar kita, marilah bersama-sama untuk semakin mempersiapkan diri sebelum menyesal. Ingatlah bahwa setiap kali transisi zaman itu terjadi, akan datang bencana yang maha dahsyat. Semua itu adalah bagian dari proses permunian total, agar kehidupan di Bumi ini bisa kembali normal dan harmonis. Cepat atau lambat itu akan terjadi lagi nanti, di masa generasi kita ini.

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung. Salam Rahayu _/|\_

Jambi, 06 Mei 2017
Harunata-Ra

Catatan:
1. Ada banyak hal yang tak bisa disampaikan disini karena memang harus dirahasiakan dulu, belum waktunya sekarang.
2. Seperti artikel sebelumnya, silahkan Anda percaya atau tidak percaya dengan informasi ini. Kami tidak akan memaksa atau merasa kecewa. Tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.

Iklan

4 thoughts on “Kaum Artamia: Bangkit dan Hancurnya Leluhurku

  1. Nambah lagi wawasan dengan kisah dari Para Leluhur kita, karenanya harus terus berusaha untuk membuka cakrawala hati dan pikiran, menjadi pembalajaran merenungi kisah-kisah dari kaum lawas, Karena dengan begitu kita harus belajar untuk bersikap bijak, rendah hati, pandai bersyukur dan selalu menempuh jalan kebenaran yang sejati. Ada sedikit pertanyaan tentang kerajaan Arnomar dg rajanya Ar-Maruktar yang masih di rahasiakan kayaknya 🙂 tentang akhir dari cerita kerajaan tsb apa tidak ada perlawanan dari keturunan kerajaan Artamia biasanya ada perang sengit untuk ditumpas habis seperti artikel yang lalu. Semoga kita selalu mendapatkan kebaikan, keselamatan dan kemuliaan dunia akherat dan juga Mudah-mudahan Hyang Aruta masih berkenan buat kita untuk selalu berbuat yang sesuai dengan petunjuk-Nya berada dalam golongan yang beruntung.
    Salam.
    Rahayu Salawasna _/|\_

  2. Nuhun kang Tufail karena masih mau berkunjung, semoga tetap bermanfaat.. 🙂
    Betul kang, kita skr harus mengambil hikmah yg sebanyaknya dr kisah para leluhur.. Lantaran kita pun sedang dan akan mengalaminya.. Dan inilah yg menjadi titik fokus artikel ini, terutama pada pembahasan yg di bagian awal2nya..
    Hmm.. Tentang nasib kerajaan Arnomar, maka perlu dipahami lagi bahwa di setiap artikel yg ada di blog ini terdapat fokus pembahasan, ada konteks utama yg dimunculkan dan ada pula yg hanya sebagai tambahan atau pemanis… Nah khusus di kisah ttg kaum Artamia ini, maka kerajaan Arnomar adalah yg tambahan saja, bukan lagi yg terpenting.. Kalau pun ada pembahasan lebih lanjutnya, itu terdapat dalam buku yg saya tulis, tidak perlu di blog ini, terlalu panjang nanti.. Begitu pun semua kisah yg disampaikan di blog ini cuma pengantar atau pengenalan saja, yg versi lengkapnya ada di dalam buku yg akan jadi bekal utk anak cucu nanti..
    Jadi, fokus pembahasan dalam artikel ini ya ttg kaum Artamia dan keturunannya saja. Dan mengenai kisah akhir dari kerajaan Arnomar itu lebih detilnya memang harus dlm kisah sendiri, karena menyangkut kisah dari kerajaan lainnya juga, khususnya kerajaan setelah runtuhnya kerajaan Hiramia.. Jadi ceritanya akan lain lagi, alias punya alurnya sendiri.. Menjadi lebay kalo disampaikan juga di artikel ini.. Ora elok hehehe.. 🙂
    Sebagai tambahan, ttg gimana kisah akhir dr kerajaan itu tentu jelas sgt menarik.. Tentang perang? Jelas ada perang besarnya. Melibatkan byk negara seperti halnya perang Mahabharata. Jadi gambaran perang dunia ketiga (perang cincin) yg ada di film Lord of The Rings masih kalah hebat deh.. Bahkan bisa dibilang perang saat itu menjadi perang dunia yg dahsyat pada zaman mrk.. Dan perang itu adalah perang antara kebenaran dan kejahatan, jadi bukan lagi perang karena bangsa, wilayah, tahta, golongan dan agama.. Perang dahsyat itu menjadi penentu kehidupan dunia selanjutnya, dan pihak yg menang akan menguasai dunia sepenuhnya..
    Gitu aja dulu kang, maaf kalo tidak memuaskan..
    Semoga kita termasuk yg selamat atau diselamatkan nanti.. Rahayu bagio.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s