Jenis Elemen, Makhluk dan Dimensi Kehidupan

Wahai saudaraku. Kali ini saya akan sedikit menjelaskan secara umum tentang sesuatu yang tak umum dan semoga bisa menjawab apa yang terbilang khusus. Dan pengetahuan ini bersifat universal, berlaku bagi siapapun. Khususnya bagi mereka yang mau belajar dan ingin terus menambah wawasannya. Sebab ilmu itu sifatnya tak terbatas. Selalu ada yang baru atau yang lain disaat kita mau terus mencarinya.

Ya. Perlu dipahami dulu bahwa ada begitu banyak jenis ciptaan Tuhan di dunia ini, semuanya beragam dan unik. Yang diketahui secara umum kini hanyalah secuilnya saja. Sebab, alam semesta seperti tempat tinggal kita sekarang ini tidak hanya ada satu. Langit “tingkat pertama” itu sangatlah luas ukurannya dan secara umum baru diketahui sebagian kecilnya saja. Dibawah kolong langit itu ada banyak alam semesta, setidaknya ada 6 buah alam semesta lain yang setara dengan tempat tinggal kita, bahkan lebih. Di setiap alam semesta itu tentu ada banyak galaksi, planet dan makhluk lain yang hidup di dalamnya. Mereka juga harus menjalani takdir Tuhan seperti halnya kita. Tetap harus memilih antara patuh atau membangkang perintah Tuhan. Tapi semua pribadi juga telah diberikan hak pilih dan kebebasan untuk itu, samalah dengan kita manusia. Dan nanti pun tinggal menanggung konsekuensi dari setiap pilihan yang telah ia ambil, sama pula dengan kita.

Ya. Langit itu sangatlah luas dan unik. Dan perlu diketahui pula bahwa selain alam semesta, maka ada bermacam jenis dimensi kehidupan yang ada dibawah kolong langit. Sepengetahuan saya, setidaknya ada sekitar 101 dimensi yang berbeda yang menjadi tempat tinggal dari setiap jenis makhluk-Nya. Setiap dimensi itu punya namanya sendiri. Dan kita ini (manusia) tinggal di salah satu dimensi yang ada yang bernama Aryasyi. Dimensi “nyata” inilah (Aryasyi) yang terus menjadi wadah bagi ke tujuh buah alam semesta yang ada sampai Hari Kiamat nanti. Diluar itu, di setiap dimensi lainnya, ada lagi alam semesta lain yang tingkat kehidupannya bahkan lebih tinggi dari kita.

Untuk itu, selain Manusia, Jin, Malaikat, Hewan dan Tumbuhan, maka ada pula golongan Peri, Cinturia, Karudasya, Walluha, Birmanu, Maltasi, Rihasa, Sihara, Nura dan Himasya. Mereka semua adalah di antara jenis-jenis makhluk lain yang hidup di tempat lain, bahkan di alam semesta atau dimensi lainnya. Mereka tidak tinggal di dimensi kita, tapi mereka hidup tak jauh berbeda dengan kita – dalam sudut pandang tertentu. Sebab dalam kondisi apapun mereka itu akan menjalani takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan bagi mereka semua. Ada perintah dan larangan yang juga harus mereka tunaikan. Ada banyak urusan, tugas, kewajiban, amanah dan tanggungjawab yang harus mereka laksanakan. Setiap tindakan akan menerima balasannya, di dunia ataupun di akherat nanti. Karena itu, nanti mereka juga akan di hisab seperti halnya kita. Akan masuk Syurga atau Neraka pun sama juga dengan kita.

Lalu tentang asal usul (bahan dasar) penciptaan mereka, maka perlu diketahui pula bahwa sebenarnya di alam semesta ini jenis elemen itu tidak hanya ada air, tanah, api, udara, ether dan cahaya saja. Ada banyak lagi yang lain yang tidak umum diketahui oleh manusia. Setahu saya, di alam semesta kita ini setidaknya ada 105 buah elemen. Semuanya itu punya peran dan fungsinya masing-masing. Hanya saja memang tak semua orang bisa mengetahuinya.

Tapi dulu, maka atas petunjuk serta mukjizat yang diberikan Tuhan kepada Nabi Hasipala AS, ke 105 elemen itu pernah ditunjukkan kepada seorang raja sombong yang bernama Yakula. Ia adalah penguasa tertinggi di kerajaan Taratana. Sebuah kerajaan besar yang dulu pernah ada di sekitar wilayah Korea sekarang, tepatnya pada sekitar periode zaman Dwipanta-Ra (zaman kelima manusia). Saat itu, sang raja sudah tersesat dengan menyembah kelima elemen alam. Ia pun memaksa rakyatnya untuk mengikuti keyakinannya itu. Kalau tidak mau, mereka akan dihukum berat. Oleh sebab itulah, hampir setiap harinya kekerasan dan kezaliman terus di lakukan bagi siapa saja yang tak mau patuh kepadanya. Bahkan sesekali sang raja memerintahkan bawahannya untuk mengoreng hidup-hidup mereka yang tak mau mengikuti keyakinannya itu. Kekejaman itu selalu di laksanakan di depan istana kerajaan dan disaksikan oleh semua warga. Sampai akhirnya diutuslah seorang Nabi bernama Hasipala AS untuk memperbaiki keadaan buruk di kerajaan Taratana itu.

Sang Nabi lalu berusaha untuk menyadarkan sang raja dengan langsung menemuinya di istana. Sang raja ini terkenal sangat sakti dan bisa mengendalikan kelima elemen alam (tanah, air, api, udara dan ether) dengan sangat mudahnya. Karena itu ia pun tak mau mudah percaya pada ajakan dari sang Nabi. Dengan sikap yang angkuh, sang raja lalu menantang sang Nabi untuk menunjukkan kebesaran Tuhannya dengan adu kemampuan debat dan kesaktian. Dengan sombongnya raja Yakula merasa sudah paling hebat di seluruh dunia. Karena itulah ia pun menantang agar sang Nabi bisa menunjukkan elemen lain – sesuai dengan omongan sang Nabi – jika memang ada. Dan ternyata atas izin Tuhan, pada saat itulah Nabi Hasipala AS bisa menunjukkan ke 105 jenis elemen yang ada. Bahkan di antara elemen-elemen itu ada yang lebih kuat – karena mampu melebur atau menghilangkan elemen lain – dari kelima elemen yang diketahui oleh sang raja. Mulai dari bentuk, warna sampai dengan karakternya, maka setiap elemen itu berbeda-beda. Antara satu dengan lainnya tak ada yang sama. Hal ini jelas mengejutkan sang raja. Tapi karena ia telah dikuasai oleh ego dan kesombongan diri, tetap saja sang raja berpaling dari kebenaran. Hingga akhirnya ia harus menerima azab yang perih sejak di dunia. Bersamaan dengan istananya yang hancur, sang raja harus mati tertimpa bencana besar dan tersambar petir yang sangat mengerikan.

Kisah di atas menunjukkan bahwa di alam semesta ini ada banyak jenis elemen. Memang ada yang telah umum diketahui, tapi ada banyak pula yang tidak, bahkan tak pernah di lihat langsung oleh mata manusia Bumi. Karena itu, bersikap rendah hatilah dengan pengetahuanmu selama ini. Karena sebenarnya ada banyak sekali yang tidak kita ketahui. Ada banyak sekali rahasia dan misteri di dunia ini yang belum terungkap. Dan semuanya itu hanya sekedar untuk menunjukkan kebesaran dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Bahkan sebenarnya tak perlu, karena segala sesuatu itu hanyalah sebagian dari Diri-Nya. Dia tak terbatas ruang dan waktu, Dia berada di dalam dan di luar waktu, Dia selalu terlihat dan tak terlihat. Karena Dia-lah Sang Penguasa segalanya tanpa perlu menguasai.

Nah, kalau engkau bertanya tentang asal usul (bahan dasar penciptaan) dari ke 10 makhluk itu (Peri, Cinturia, Karudasya, Walluha, Birmanu, Maltasi, Rihasa, Sihara, Nura dan Himasya), maka jawabannya adalah bahwa mereka itu terbuat dari unsur/elemen lain di luar kelima elemen yang ada (tanah, air, api, udara, dan ether). Tentang detilnya, maaf belum bisa saya uraikan disini, terlebih sangatlah susah untuk menjelaskannya karena memang sulit mencari perbandingannya atau bahkan sekedar kalimatnya dalam bahasa kita. Mereka juga bukan terbuat dari cahaya seperti halnya para Malaikat. Tapi yang jelas mereka itu terbuat dari unsur/elemen lain yang tak umum diketahui oleh manusia di Bumi.

Lalu tentang untuk apa mereka itu diciptakan? Maka jawabannya sama dengan kita. Yaitu untuk tetap bersyukur, patuh, rendah hati, berserah diri dan menyembah kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Karena di dunia ini mereka akan mendapatkan ujian hidup untuk bisa membuktikan tentang keimanan mereka. Apakah tetap sama dengan saat mereka masih tinggal/hidup di Alam Ruhani dulu? Apakah setelah tinggal di dunia ini mereka tetap patuh dan mengagungkan Tuhan?

Makanya, semua dari mereka itu juga dianjurkan untuk selalu patuh pada setiap perintah dan larangan-Nya, tak berbeda dengan kita. Tapi memang ada beberapa bentuk syariat mereka yang berbeda dengan kita. Semua itu tentu disesuaikan pula dengan karakter dan model kehidupan mereka disana. Lah wong mereka itu kan bukan manusia yang hidup di Bumi ini, makanya ada beberapa aturan yang bahkan harus berbeda dengan kita. Begitu pula tentang bagaimana nasibnya setelah mati? Maka jawabannya pun samalah dengan kita. Karena ada kehidupan lain yang harus mereka jalani nanti, dimana ketika disana maka setiap dari mereka itu juga harus tetap mempertanggungjawabkan segala bentuk perbuatannya di dunia ini. Yang beriman akan mendapatkan kebahagiaan, sementara yang ingkar akan menerima azab yang perih. Demikianlah Hyang Aruta (Tuhan YME) telah mengatur dengan sangat teratur kehidupan di dunia ini. Semuanya hanya sementara dan sebatas terminal (tempat transisi) untuk kehidupan selanjutnya yang abadi (akherat).

Sepertinya itu saja yang bisa saya sampaikan. Maaf jika tidak memuaskan, atau justru terlalu panjang dan membosankan. Sekali lagi terimakasih karena Anda masih mau membaca. Semoga tetap bermanfaat.

Rahayu Bagio… _/|\_

Jambi, 27 April 2017
Harunata-Ra

(Tulisan ini muncul sebagai penjelasan kepada sahabat pembaca yang bernama Tufail alias @TufailRidha)

Iklan

16 thoughts on “Jenis Elemen, Makhluk dan Dimensi Kehidupan

  1. Selalu mengesankan walaupun pernah berkali-kali membacanya tapi tetap tidak membosankan, saya ada pertanyaan lain dengan mereka Para Leluhur yang sekarang ini telah pindah ke Dimensi lain, sebelum zaman Rupanta-Ra tentunya dimana syariat Islam belum ada apakah mereka ini telah atau sudah mengikuti pula dengan yang di syariatkan pada zaman yang sekarang? saya membayangkan sarana peribadatan yang mereka buat pasti membuat kita tercengang akan kemegehannya 🙂. dilain hal saya ada firasat tentang akan kemunculan sesuatu yang besar di selatan jawa anggap saja cuman hayalan. tapi alangkah beruntungnya kita apalagi di zaman yang baru nanti kesemua makhluk tsb bisa bersilaturahim dengan kita umat manusia. Hatur Nuhun kang Harunata-Ra semoga selalu dalam lindungan Hyang Aruta selalu diberikan kemudahan dan kelancaran dalam berbagai hal, juga Keselamatan dan Kebahagian tentunya Dunia maupun Akherat.
    Salam.
    Rahayu Salawasna _/|\_

    1. Salam juga kang Tufail.. terimakasih karena masih mau berkunjung, semoga tetap bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. coba sesekali saya dong yang dikasih info atau ilmu kang, pengen juga dapat sesuatu yang lain atau yang baru dari sampeyan.. 🙂
      Tapi baiklah, saya akan coba menjawab pertanyaan sampeyan itu semampu saya, tepatnya dalam beberapa point, yaitu:
      1. Perlu dipahami dulu bahwa salah jika kita menganggap syariat Islam belum ada sebelum masa Rasulullah Muhammad SAW. Karena sesungguhnya ajaran Islam itu telah diturunkan sejak masa Nabi Adam AS. Inti syariatnya tetap sama di setiap zamannya atau yang diajarkan oleh para Nabi itu, hanya saja memang teknisnya agak sedikit berbeda untuk mengikuti keadaan zaman dan kondisi manusianya. Contoh, mereka juga mengucapkan Dua Kalimat Syahadat yg didalamnya berisi tentang keyakinan kepada Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai utusan, hanya saja kalimatnya saat itu tidak dalam bahasa Arab seperti sekarang karena di zaman itu bangsa dan bahasa Arab pun belum ada, sehingga mereka harus memakai bahasanya sendiri. Setelah bangsa dan bahasa Arab ada, kaum-kaum yang bukan orang Arab pun tetap mengenal Dua Kalimat Syahadat tapi dalam bahasa lain atau bahasa kaumnya sendiri. Barulah dimasa Rasulullah SAW Dua Kalimat Syahadat itu harus diucapkan dalam bahasa Arab sebagai wujud universal dan kesatuan ummat. Contoh lain seperti ibadah puasa dan zakat, mereka juga punya kewajiban ttg itu tapi waktu dan ukuran dalam berzakat atau kapan waktu dan berapa lamanya berpuasa yg berbeda dengan kita sekarang. Ya disesuaikan dengan kondisi dan model kehidupan di zaman itu. Selain itu, mereka juga melaksanakan ibadah haji atau lebih tepatnya ibadah sembahyang dan tawaf di depan Ka`bah, hanya saja tata caranya sedikit berbeda dengan di zaman kita sekarang. Karena itulah, ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW itu tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah disampaikan oleh para Nabi di masa lalu. Hanya saja yang beliau bawa di zaman Rupanta-Ra ini merupakan kesimpulan atau rangkuman atau penyempurnaan daripada semua syariat para Nabi dan Rosul terdahulu. Karena itulah beliau disebut Khatamul Ambiya (penutup dari para Nabi dan Rosul). Tentang nama ajaran/agama, ya tetap sama dengan yang dibawa oleh para Nabi dan Rosul sejak zaman Ayahanda Adam AS dulu, yaitu Islam. Nama Islam ini bukan hanya berarti damai, tetapi lebih kepada selamat atau keselamatan.
      2. Tentang ibadahnya, maka hal ini sebenarnya pernah saya singgung di artikel yg berjudul Kaum Jalawaya. Disana juga telah dijelaskan tentang ibadah puasa, zakat, sedekah dan saling berbagi yang pernah di lakukan kaum tersebut – sebagai contoh ibadah kaum-kaum terdahulu.. Memang sedikit berbeda secara teknis dengan syariat Islam di zaman kita sekarang, tapi intinya tetaplah sama. Dan sepengetahuan saya, Rukun Iman dan Rukun Islam itu pun sudah ada sejak dulu, telah di ajarkan oleh semua Nabi dan Rosul, hanya saja istilah dan tata caranya yang sedikit berbeda. Semua menyesuaikan dengan periode zaman, kondisi peradaban dan bahasa kaumnya. Setelah masa Rasulullah Muhammad SAW, semua syariat para Nabi dan Rosul itu disatukan dalam satu tatanan dan aturan yang tertib dengan nama yang sama yaitu Islam.
      3. Tentang tempat ibadah, janganlah kita menganggap bahwa sifat dan karakter mereka dulu itu sama dengan kita. Karena jika sekarang manusia berlomba-lomba dalam membangun kemegahan tempat ibadah, maka mereka dulu tidak begitu. Mereka tidak mementingkan hal itu, tetapi lebih kepada membangun jati diri dan kemuliaan hatinya. Itu yang lebih utama bagi mereka. Terlebih syariat para Nabi di waktu itu banyak yg justru mengajarkan bahwa ibadah itu sebaiknya sendiri-sendiri saja agar terhindar dari riya dan bisa lebih fokus serta khusyuk. Itu pun karena model ibadah mereka pada masa itu adalah duduk tafakur alias seperti ber-semedhi. Tempatnya pun bisa dimana saja, yang penting sreg dan bersih. Masalah waktu pelaksanaan, maka biasanya dua kali sehari; yaitu subuh dan magrib. Tapi ada pula yang justru tengah malam seperti syariat untuk kaum Jalawaya. Jadi, pada waktu itu setiap orang harus duduk tafakur/semedhi ke arah kiblat atau Ka`bah. Sehingga kita gak usah heran kalau mereka banyak yang bisa moksa, lah wong ibadah mereka saja sudah seperti ber-semedhi untuk persiapan moksa gitu kok.. 🙂
      Jadi, ibadah yg seperti semedhi itu akan susah atau justru tidak bisa di lakukan secara beramai-ramai (jamaah). Karena itu, mereka jarang membangun tempat ibadah khusus apalagi sampai begitu megahnya, terlebih memang tidak disyariatkan pada masa itu. Memang ada dari kaum terdahulu yg melaksanakan sembahyang secara beramai-ramai, tapi pelaksanaan ibadahnya tetap harus sendiri-sendiri (tidak seperti shalat berjamaah, karena mereka duduk melingkar dan melakukan tafakur-nya sendiri-sendiri). Sebab ibadah sembahyang mereka kala itu ya seperti orang yg ber-semedhi atau meditasi, bahkan tak mungkin bisa bersama-sama. Dalam tafakur atau semedhi itu, mereka semua lantas bersyukur, berzikir dan memikirkan hakekat Tuhannya lebih mendalam. Jadi mereka berkumpul di satu gedung khusus, duduk berdampingan tapi niat dan ibadahnya tetap di kerjakan sendiri-sendiri. Selain itu, biasanya setelah ibadah akan ada orang yang mengisi materi (semacam berceramah) untuk jadi bahan diskusi atau penambah ilmu pengetahuan mereka, khususnya tentang agama. Ini biasanya di lakukan oleh sang Nabi atau pemimpin kaum atau orang yang di tuakan.
      Di beberapa kaum memang ada bangunan tempat ibadah, tapi biasanya hanya semacam gedung aula saja, bukan bangunan khusus tempat ibadah; seperti halnya masjid dimasa sekarang. Tidak banyak kaum yang sengaja membangun tempat ibadah. Kalau pun ada, maka karena tingkat seni dan keahlian mereka dalam membangun sangat tinggi, secara otomatis tentu arsitektur bangunan tempat ibadah mereka saat itu sangat megah. Bentuknya bermacam-macam, tapi pada umumnya seperti kuil, candi atau masjid di masa sekarang. Banyak ukiran dan permata, tapi tidak ada patung atau simbol apapun di dalamnya, persis seperti kondisi dalaman masjid.
      4. Tentang sesuatu yang akan muncul di Selatan Jawa, saya tidak bisa berkomentar. Biarkanlah waktu yang membuktikan nanti. Semoga itu yang terbaik bagi kehidupan di Bumi, tapi kalau pun tidak, semoga itu bisa menjadi sumber kehancuran di Bumi ini tapi juga untuk bisa memperbaikinya kembali seperti dulu kala.
      Semoga kita semua mendapat perlindungan dan keselamatan dari Hyang Aruta, tidak hanya di masa kini, tetapi dimasa transisi zaman nanti dan setelahnya.. 🙂
      Rahayu bagio.. _/|\_

  2. Subhanallah… Sahaya Menjura, sulit buat saya untuk bisa mendapatkan jawaban seperti ini. Apalagi “anjeun” mau belajar sama saya aduh jadi segan. 🙂 apa atuh sayamah masih awam lagi bodoh yang tak kunjung pintar. 🙂 Kalimat ini yang penting “Mereka tidak mementingkan hal itu, tetapi lebih kepada membangun jati diri dan kemuliaan hatinya”. ini yang sudah tidak ada lagi pada para pemimpin, habib, syekh, kyai apapun gelar mereka. Dan juga sudah menjadi ketetapan-Nya siapa yang diberi Petunjuk dan yang di kehendaki-Nya pula para pemimpin itu diberikan Rahmat dan Karunia dalam memimpin. mungkin itulah, para pemimpin sekarang ini tidak pernah mendapatkan Wahyu/wangsit untuk tugas memimpin dari
    Yang Maha Kuasa. Hatur Nuhun kang Harunata-Ra semoga kita manusia yang selalu diberikan Rahmat dan Karunianya oleh Hyang Aruta dan juga Keberkahan.
    Salam.
    Rahayu Salawasna… _/|\_

    1. Sama2lah kang Tufail, syukurlah kalau bisa menjawab pertanyaan sampeyan, semoga tetap bermanfaat.. 🙂
      Wah apalagi saya nih kang yang lebih awan dan bodoh ini, karena itu mohon sekiranya sampeyan berkenan berbagi ilmu, pengalaman dan info.. ya tentang apa saja, monggo..
      Hmmm.. gitulah kang prinsip leluhur kita di masa lalu.. Bedanya kita skr dg mereka dulu ya bahwa mereka lebih mengutamakan esensi atau makna, sementara manusia zaman sekarang lebih mementingkan tampilan zahir.. hakekat telah benar-benar dilupakan, akibatnya hidup menjadi kosong dan hampa tanpa makna.. Sibuk dengan duniawi dan semakin lupa dengang ukhrawi, kalau pun masih inget ya itu hanya sebatas ingatan saja, tanpa ada upaya untuk mempersiapkan diri sebagaimana mestinya atau berusaha menemukan yang sejati..
      Tentang kondisi negeri ini ya semua bermula dari sistem ketatanegaraan yang ada skr ini sudah tidak lagi sesuai dengan karakter bangsa ini. Apa yang ditetapkan jelas sekali memutus mata rantai kehidupan tradisi dan budaya dengan para leluhur. Warisan mereka telah diabaikan, karena justru lebih mengagungkan yg berasal dari bangsa asing. Akibatnya para pemimpin dan pembesar negeri ini sudah tak lagi mendapatkan Wahyu Keprabon untuk bisa memangku jabatan dan wangsit untuk menjalankan pemerintahan. Makanya gak usah heran kalau keadaan di negeri ini semakin carut marut, terpuruk dan penuh dengan kekufuran.. Tinggal nunggu kehancurannya saja yang kini memang sedang menjelang. Akan ada gelombang, getaran, guncangan dan tekanan yg luar biasa nanti..
      Semoga kita selalu diberikan keselamatan di dunia dan akherat nanti, semoga kesempatan untuk memperbaiki diri tak pernah kita abaikan.. semoga Hyang Aruta sudi meridhoi dan memberikan ampunan kepada kita yang mau berusaha.. 🙂

    1. Sama2lah mas Dikydarma, terimakasih juga atas kunjungannya… moga tetap bermanfaat.. 🙂
      Ya karena sejak zaman pertama dulu memang selalu hanya sedikit yang tetap terbuka hatinya mas.. Inilah wujud dari seleksi alam, yang terpilih selalu dalam jumlah yang lebih sedikit. Namanya juga “disaring”, sampahnya tentu banyak sekali. Karena itu tetaplah bersyukur dengan kesempatan yg didapatkan skr, teruslah membuka hati dan meresapi hakekat dari kehidupan ini.. kita sudah di akhir zaman ini dan menjelang masa transisinya..
      Btw, Jatim nya dimana mas?

      1. Ow di Trowulan yah.. waah berarti sampeyan akrab banget dong dengan situs Majapahit disana??
        Hmm.. kalo asal usul ayah saya dari Mojokerto sih agak ke barat dikit mas, setelah Jombang, di Nganjuk tepatnya.. 🙂

      1. Baiklah, mahluk ini pernah menampakan diri ada 3 seperti keluarga keluar dr dalam tanah…hanya mereka berupa bayangan bentuk manusia tp ga punya bayangan seperti manusia, sampai sekarang sy masih blm ketemu jawabannya..anehnya mahluk ini bisa bersentuhan dg benda di sekitarnya dan kembali hilang msk ke dlm tanah.

      2. Hmm menengok dari penjelasan masnya dan sebatas pengetahuan saya yg awam ini, kemungkinan besar mrk itu dari golongan jin yg memang berdiam diri di dalam tanah.. Sesekali mereka akan muncul ke permukaan tanah, dan dalam kesengajaan atau memang karena sial mrk itu bisa dilihat oleh manusia.. Dan karena jin itu juga punya byk ras dan bangsanya, kalau tidak salah mrk itu disebut dengan Goureh.
        Itu saja mas yg bisa saya bagikan, semoga bermanfaat.. maaf kalo tidak memuaskan.. 🙂

  3. Iya ms makasih byk infonya…justru sy lega akhirnya bisa dapat jawabannya,maaf y ms klo sy mengganggu soalnya sy sering diliatin yg aneh2….kadang ada bentuk bintang cahaya putih datang, klo ga sinar putih yg suka melesat cepat….ntr bentuk monyet tp bulunya hitam legam,klo ndak suara menggelegar yg manggil nama sy sampe keringet dingin…atau mahluk putih seperti awan bercahaya yg bawa sy jln2…msh byk sih ms, sy jd enggan berteman krn sering datang firasat yg kadang baik kadang buruk…celakanya klo kematian paling lemes denger teman atau org dekat pamitan…sekedar share y ms mungkin ms bisa ksh saran ke sy apa yg hrs sy lakuin

    1. Wah saya ini cuma orang awam yg gak pengalaman sih mas.. Masih baru belajar kok.. Jadi kurang kompeten dlm urusan yg gituan.. 🙂
      Tapi dari penjelasan mas Wowo di atas, dan kalau saya tidak salah itu menunjukkan bahwa tingkat kesadaran diri sampeyan mulai meningkat dari level keadaan umumnya orang awam. Jika mau melakukan tirakat hidup dan meditasi secara disiplin, maka kesadaran itu akan terus meningkat. Tanda awalnya kadang terdengar suara-suara (gaib) yang terasa asing dan aneh, atau justru familiar. Suara-suara tersebut bisa jadi berasal dari hati nurani, tapi bisa juga yg berasal dari makhluk dimensi lain. Itu terjadi karena kesadaran seseorang telah berada di ambang batas antara dunia nyata dengan dunia goib. Suara-suara tersebut bukanlah sengaja mengganggu, karena justru menunjukkan bila seseorang sudah mulai berhasil mengubah dirinya menjadi “radio transistor” yg bisa “menangkap sinyal/frekuensi” dari alam goib. Bahkan jika lebih khusyuk lagi, maka seseorang bisa juga melihat sosok-sosok yang berada pada dimensi lainnya – yang selama ini tidak bisa dilihat dengan kasat mata – dan juga bisa langsung berkomunikasi dengan mereka. Nah, pada tahap ini bisa jadi ia mampu menangkap petunjuk-petunjuk yang berasal dari para leluhurnya (orang yang telah moksa). Bentuknya bisa berupa mimpi ataupun secara langsung saat berdiam diri (semedhi, meditasi, tafakur). Dalam kasus tertentu seseorang juga bisa melihat yg tak kasat mata atau yg tak umum bisa dilihat orang tanpa latihan khusus, alias dengan sendirinya karena itu adalah bakat dan anugerah yg ia dapatkan. Inilah keadaan yg sepertinya pernah mas Wowo rasakan, kecuali sebelumnya sampeyan udah rajin meditasi atau tafakur.
      Jadi silahkan di teruskan saja dg sikap yg sabar, tenang dan hati-hati. Tetaplah menjaga niat bahwa semua itu bukan utk mencari kesaktian atau agar menjadi lebih hebat dari orang lain, tetapi hanya utk bisa mengenal diri sendiri dan Tuhan secara lebih dalam. Teruslah menggunakan perasaan sreg di hati pada setiap fenomena metafisika yg dialami, kalo gak sreg jg diteruskan, atau bila perlu segera tinggalkan atau tolak saja.. Dan jangan pula bersikap jumawa dg kelebihan yg ada skr, sebab itu bisa jadi pintu gerbang menuju kesesatan.. Setan demit senang bgt menyusup hati siapa saja yg jumawa..
      Lalu, sepertinya indera keenam mas Wowo itu udah terbuka, tinggal diasah aja kemampuan dan pemahamannya. Dan kalau mas Wowo mau terus disiplin dalam tirakat hidupnya, kemampuan indera keenam itu akan terus meningkat.. Tapi disini, pesan saya harus selalu berhati-hati, karena apa yg ada di dimensi goib itu sgt rentan dg kesesatan.. Bentuk yg unik, cahaya, suara dan sosok yg pernah sampeyan lihat atau ketemu itu bisa jadi positif tapi bisa juga sgt negatif.. Susah memastikan kalo blm begitu kenal dan paham ttg kehidupan alam goib dan para sosok yg tinggal disana.. Dan ada byk kekuatan khususnya negatif yg akan berusaha menarik perhatian masnya utk ngikutin dia. Kelihatannya saja baik padahal cuma jebakan saja, agar diri sampeyan terpukau lalu akhirnya bisa tertipu dan tersesat.. Byk cara yg akan mrk tempuh, termasuk ngajak jalan2 atau ngasih kekuatan dan pusaka..
      Karena itu sgt perlu seorang guru atau pembimbing yg nyata, yg bisa ketemu langsung dg sampeyan, yg bisa tatap muka langsung dan berdiskusi dg sampeyan ttg byk hal. Jadi gak bisa cuma lewat tulisan di internet atau telponan saja.. Harus ketemu langsung, berkali-kali, biar mantap dan jelas.. Karena memang butuh banyak sekali obrolan dan sharing ttg hal ini. Kalo gak nanti risikonya bisa berbahaya..
      Jadi saran saya, sebaiknya mas Wowo mencari guru atau pembimbing yg mumpuni dalam olah batin dan kewaskitaan.. Tidak harus paranormal, tapi sosok tersebut adalah orang yg rendah hati, berilmu, alim dan tidak terlalu terikat dg duniawi..
      Mungkin itu aja yg bisa saya sampaikan disini mas, maaf kalo kurang memuaskan.. Semoga berhasil.. 🙂

      1. Sama mas sj sy bertanya karena kalo baca tulisan mas dapat energi positif,kalo yg pusaka atau kesaktian sy tidak memerlukannya sdh ada Tuhan YME,iya terkadang datang lewat mimpi tp sy lawan kalo diajak pergi rasanya capek, selama ini blm disesatkan malah sebaliknya.halah jumawa gimana sy ga bisa apa2 semua milik Tuhan,sy hanya lihat kehidupan sebagai cth dan pembelajaran bg manusia untuk tidak lepas dari Tuhan.mas ga keberatan kan kalo sy bertanya lagi,soale baru kali ini sy bisa ketemu mas walau tidak langsung tapi dapat sregnya, sdh sy cari gurunya dan ketemu dg mas sj ya hehehe.

      2. Knp ya mas semakin dekat akhir tahun ini kok atmosfernya ga nyaman sekali sy seperti di tengah kekacauan yg bercampur aduk antara kemarahan dan kesedihan yg menyanyat, bumi ini seperti menangis dan berontak,taukan masnya gmn klo sy cerita ke orang lain pasti dibilang aneh derita sy yah hihiuihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s