Armudaya: Kebangkitan dan Kehancuran Leluhurku

Wahai saudaraku. Ada banyak kehidupan yang telah dilalui oleh umat manusia. Sejak zaman pertama (Purwa Duksina-Ra), maka telah begitu banyak jenis peradaban manusia yang bangkit dan hancur secara bergantian. Semua hanya mengikuti hukum sebab akibat yang telah ditetapkan oleh Hyang Aruta (Tuhan YME) bagi kehidupan dunia fana ini. Tak ada yang bisa mengubah atau pun menundanya walau sesaat. Semuanya hanya akan mengikuti dengan mutlak disertai dengan hak pilih yang melekat pada setiap pribadi.

Di akhir periode zaman ke empat (Swarganta-Ra) atau sekitar 250 juta tahun silam, tersebutlah sebuah wilayah yang sangat istimewa di muka Bumi ini. Dulu ia diberi nama Mellayur atau yang berarti permata surga. Mellayur di zaman dahulu adalah nama untuk semua wilayah di antara Simadala (Samudera Hindia) dan Gwisadala (Samudera Pasifik). Orang sekarang menyebutnya dengan Nusantara, dan pada saat itu masih berupa satu daratan yang sangat luas. Di bagian selatan, kawasan ini dibatasi oleh lautan luas yang bernama Dailaka. Lautan ini sangat luas dan bertemu langsung dengan satu benua yang terasing bagi manusia. [Tentang periode zaman manusia, silahkan Anda baca: Revolusi dan perubahan dunia]

Di Mellayur itu berdirilah sebuah kerajaan yang diberi nama Armudaya. Negeri ini dulunya berada di sekitar antara Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan (kini sudah menjadi Laut Jawa dan Laut Karimata). Sebagaimana kerajaan termahsyur di masa lalu, Armudaya menjadi pusat peradaban dunia dan tumbuh sebagai negeri yang sangat makmur. Negeri ini sangat luas, sampai-sampai susah ditentukan batas wilayahnya yang sebenarnya. Hanya saja di sebelah utara negeri ini, tepatnya di seberang sungai Orgalis, terdapat negerinya bangsa Peri yang disebut Istanir. Negeri bangsa Peri itu terlihat hijau dan tenang, tak pernah dikunjungi manusia kecuali sedikit. Kemudian jauh di luar perbatasan negeri Armudaya itu, tepatnya di sebelah timur laut negerinya, terdapat pula negeri bangsa Cinturia yang damai. Sementara bangsa Karudasya tinggal di luar batas timur negeri Armudaya. Disana mereka hidup terasing dari bangsa manapun.

Catatan: Bangsa Cinturia itu bertubuh campuran antara manusia dan burung, sementara bangsa Karudasya bertubuh campuran antara manusia dan kuda. Keduanya bukan hewan atau jin, melainkan golongan tersendiri yang diciptakan oleh Hyang Aruta (Tuhan YME). Dulu mereka pernah hidup berdampingan dengan manusia, seperti halnya bangsa Peri, tapi pada akhirnya menghilang. Satu persatu dari mereka itu berpindah ke dimensi lain hingga hari ini.

Selain bangsa Peri Istanir, ada satu bangsa Peri lain yang lebih terhormat. Mereka itu sering disebut dengan Peri Tinggi yang bernama Milhanir. Meski berkerabat dengan Peri Istanir, mereka ini tinggal jauh dari Mellayur. Di seberang laut Dailaka mereka membangun peradaban mereka, sangat terasing dari bangsa manapun yang hidup di muka Bumi. Tak pernah ada manusia atau bangsa lainnya yang berkunjung ke negeri mereka, kecuali hanya sedikit. Itu pun hanya atas izin atau undangan mereka. Jika melanggar, maka resikonya buruk sekali.

Sezaman dengan kerajaan Armudaya, ketiga bangsa lain itu (Peri, Cinturia dan Karudasya) telah banyak berkurang. Mereka tidak musnah karena perang atau kematian massal, tetapi memilih untuk pindah ke dimensi lain. Bagi yang tidak, mereka tetap bisa tinggal di alam nyata, di muka Bumi ini. Berdampingan dengan manusia dan mengikuti pahit getirnya kehidupan dunia ini. Dan akhirnya sampai harus berperang dengan manusia oleh sebab pemimpin manusia saat itu selalu terjerat ego dan keserakahannya sendiri.

Ya, begitulah gambaran kehidupan di masa lalu yang tak banyak lagi diketahui. Orang-orang sudah melupakannya, bahkan menganggap ini hanya sebatas mitos atau dongeng belaka. Tak jarang pula yang berperilaku sinis dan mengira ini hanya sebatas khayalan saja. Ya, biarlah mereka mau bilang apa, karena disini kami akan terus menyampaikan apa yang bisa disampaikan. Percaya syukur, tapi kalau tidak yang silahkan. Itu hak Anda sekalian, kami takkan memaksa dan merasa kecewa.

1. Asal usul kerajaan Armudaya
Kisah bermula dari sosok yang bernama Aunor Lismaya. Ia adalah seorang keturunan dari kaum Zarhika yang dulunya bermukim di sebelah barat Gwisadala (Samudera Pasifik), tepatnya di sekitar kepulauan Solomon sekarang. Asal usul dari kaum ini melalui sosok yang bernama Zarhika yang menikah dengan seorang wanita dari bangsa Peri Milhanir yang bernama el-Aliyasi, putri raja Sir el-Hurainira. Negeri bangsa Peri ini berada di arah selatan Mellayur, di seberang laut Dailaka. Pada masa itu, daratan itu oleh bangsa Peri diberi nama Silmarutya, sedangkan negeri mereka bernama Silhari. Daratan itu kini sudah tidak ada, sudah menjadi bagian dari Samudera Hindia.

Semua keturunan dari Zarhika mendapatkan keistimewaan. Karena masih mewarisi darah Peri melalui istrinya (el-Aliyasi), mereka lalu berumur sangat panjang melebihi semua manusia. Dan setelah lebih dari 2.500 tahun, di negeri yang bernama Aidanta, lahirlah keturunan Zarhika yang bernama Aunor Lismaya, putra Melnor Widuyala. Ia lalu dibesarkan oleh kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang. Karena masih mewarisi darah bangsa Peri, maka sebagaimana ayah dan leluhurnya, Aunor Lismaya juga berumur sangat panjang melebihi manusia biasa. Dan ketika sudah dewasa dan cukup umur, Aunor Lismaya menggantikan posisi sang ayah sebagai pemimpin kaum Zarhika. Dimasa kepemimpinanya, kaum Zarhika mendapat ujian berat berupa kekeringan dan perang saudara. Untuk mengamankan para pengikut setia dan sanak saudaranya, Aunor Lismaya memutuskan untuk hijrah ke tempat lain. Di tempat yang baru itu ia berharap bisa hidup dengan aman dan makmur bersama kaumnya.

Dalam perjalanan mencari tempat tinggal yang baru, Aunor Lismaya bertemu dengan seorang utusan Tuhan yang bernama Nuhaila AS. Sang Nabi memberikan petunjuk kemana Aunor harus pergi dan mendirikan tempat tinggal bagi kaumnya. Lokasi tersebut kini berada di sekitar Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan, atau yang sekarang disebut dengan Laut Jawa dan Laut Karimata. Berdasarkan petunjuk dari sang Nabi, dalam waktu yang tidak terlalu lama, Aunor Lismaya dan pengikutnya mampu membangun kampung yang layak bagi mereka. Seiring berjalannya waktu, kampung tersebut banyak di datangi oleh orang-orang yang berdagang atau mencari rempah-rempah atau ingin bergabung dan ikut membangun desa. Selang beberapa puluh tahun kemudian, mereka mulai mendirikan sebuah kerajaan yang kelak menjadi negara yang besar dan terpandang. Kerajaan itu lalu diberi nama Armudaya, atau yang berarti kuat dan berjaya. Sementara rajanya memakai nama gelar “Mar” yang berarti pemimpin dan “Minastir” yang berarti pelindung dan pengayom yang masyhur. Contoh penamaan rajanya yaitu Mar-Aunor Lismaya Minastir.

2. Ras dan ciri fisik
Penampilan fisik dari kaum Zarhika ini mirip dengan ras yang sekarang kita kenal dengan nama ras Mongoloid Asia (atau ras Turkik: satu ras yang mendiami kawasan di Asia Tengah). Hanya saja ciri-ciri khusus mereka ini bertubuh tinggi (8-10 meter) dan tegap, warna kulitnya putih kekuningan, berambut hitam dan atau pirang, warna matanya hitam kecoklatan, berhidung mancung, sementara wajahnya sedikit oval tetapi lebih cenderung lonjong. Atau sebagai gambarannya, mereka ini adalah representasi dari orang-orang yang hidup di wilayah negara; Turki, Azerbaijan, Kazakhstan, Kirgiztan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Hanya saja harus diakui mereka itu lebih rupawan.

Sungguh, secara fisik mereka dianugerahi bentuk tubuh yang sempurna dan menawan. Mereka pun dikarunia umur yang sangat panjang, karena rata-rata hidupnya sampai usia 950 tahun, bahkan bisa lebih dari 1000 tahun. Dengan umur yang begitu panjangnya, tidak aneh bila mereka menjadi bangsa yang hebat dan mampu menata kehidupan yang makmur dengan tingkat peradaban yang sangat tinggi. Mereka itu di antara kaum-kaum yang menunjukkan keunggulan manusia sebagai makhluk.

3. Maruta (penghidupan)
Di tempat yang baru, kaum Zarhika pimpinan Aunor Lismaya oleh Tuhan diberikan tanah yang sangat subur dan bisa menghasilkan semua kebutuhan mereka. Banyak kandungan mineral di dalamnya disertai dengan berlimpahnya cadangan air. Ada satu sungai besar yang mengalir di negeri mereka, yang diberi nama Yamulta. Sungai itu berhulu di pegunungan Murdara (Himalaya) dan bermuara di Simadala (Samudera Hindia). Sehingga karena itulah banyak terdapat lahan pertanian dan perkebunan sejenis gandum, padi, sayur mayur, rempah-rempah, umbi-umbian, dan lain sebagainya. Terdapat pula perkebunan buah semacam semangka, jeruk, apel, paprika, anggur, sejenis buah naga, delima, salak, pisang, timun, labu, dan lain sebagainya.

Selain itu, seiring waktu berlalu mereka pun hidup dari beberapa sektor yang lain, di antaranya:

1) Peternakan Hilamu (hewan campuran antara domba dan sapi). Hewan ini di ambil bulunya, susunya dan juga dagingnya. Selain itu ada juga dari hewan jenis unggas, kuda (khusus untuk militer), domba dan lainnya.
2) Perikanan dan nelayan.
3) Kerajinan anyaman, keramik, gerabah, souvenir, perhiasan, dll.
4) Pertambangan emas, perak, titanium, tembaga, besi, dll.
5) Industri makanan, minuman, tekstil, peralatan dan perlengkapan.
6) Industri persenjataan, perkapalan, pesawat terbang, dll.

a) Sunibara (kehidupan ekonomi dan pasar)
Di puncak kejayaannya, maka pasar yang ada di Simalaya (ibukota kerajaan Armadaya) tidak jauh berbeda dengan pasar di zaman kita sekarang. Terdapat sebuah bangunan pasar yang berada di dalam satu atap yang banyak tiang-tiang besi sebagai penyangganya. Tempat berjualannya lebih seperti kios-kios yang terbuat dari kayu dan batu alam, lalu sebagiannya lagi masih di atas lantai pasar (lesehan). Semua relatif hampir sama dengan pasar yang umum di masyarakat kita sekarang, hanya saja lebih tertata rapi dan mereka pun lebih sadar akan kebersihan dan kesehatan.

Di pasar ini pun telah tersedia semua kebutuhan pokok masyarakat Armadaya hingga jajanan pasarnya. Terdapat pula pasar yang khusus menyediakan kain dan pakaian, berbagai jenis hewan dan dagingnya, mesin dan elektronik, peralatan pertanian, perkebunan dan bangunan, bahkan perhiasan dan keramik. Yang semuanya masih berada di dalam satu komplek pasar. Selain itu, terdapat banyak pertokoan di dalam sebuah gedung bertingkat yang khusus menjual perhiasan yang mewah dan mahal.

Untuk bertransaksi, mereka sudah menggunakan uang koin yang terbuat dari emas dan perak. Mata uang ini diberi nama Mayar, dengan nilainya sebagai berikut:

1 koin perak kecil = segelas susu
1 koin perak besar = sekantung Mirala (sejenis beras) atau Dirala (sejenis gandum).
1 koin emas = 10 koin perak yang besar
20 koin emas = 1 ekor Hilamu (hewan campuran antara domba dan sapi)

b) Polatura (dunia industri)
Bangsa Armadaya banyak memiliki latura (pabrik). Setiap pabrik akan disesuaikan dengan kebutuhan produksinya dan untuk urusan di dalam bidang yang telah ditentukan sebelumnya. Apakah untuk keperluan militer (persenjataan), tekstil dan sebagainya. Bahkan setiap pabrik akan berada di bawah kendali Lakirata (menteri)-nya masing-masing.

Di antara sektor industri yang dimiliki oleh negara Armadaya pada masa kejayaannya adalah sebagai berikut:

1) Industri pertanian dan perkebunan (pengolahan bahan makanan dan minuman)
Di dalam industri ini, mereka telah berhasil memproduksi berbagai hasil pertanian dan perkebunan dalam bentuk kemasan. Contohnya pengemasan sejenis padi dan gandum di dalam karung dari kain. Mereka juga telah membuat berbagai makanan ringan dari kentang dan lainnya, yang dikemas di dalam plastik. Begitu pun kue dan roti yang juga sudah mereka kemas di dalam plastik. Bahkan mereka juga telah membuat jus dari sari buah-buahan yang dikemas di dalam botol plastik.

Untuk bisa mengawetkan makanan atau minuman, mereka ini memanfaatkan tanaman Pamura (sejenis bayam) yang diperas batang dan daunnya untuk diambil airnya. Dengan mencampurkan air perasan dari tanaman Pamura ini, maka makanan atau minuman bisa terawetkan selama 1-2 bulan.

2) Industri perikanan
Di dalam industri ini, mereka telah mengemas ikan yang telah diberi bumbu di dalam kaleng (semacam sarden). Ikan kalengan ini akan awet di dalam kemasan itu, tetapi tidak bisa selama bertahun-tahun seperti yang terjadi pada masa kita sekarang, karena mereka hanya mau menggunakan bahan pengawet yang alami saja, yaitu dari tanaman Pamura. Sehingga setiap makanan kaleng yang mereka produksi hanya bisa bertahan antara 2-3 minggu saja. Selain itu, mereka hanya mengandalkan teknik pengemasannya saja.

3) Industri tekstil
Dalam industri ini, mereka telah menggunakan mesin tenun untuk bisa membuat kain. Mesin ini bekerja otomatis, yang dikontrol oleh manusia. Sehingga untuk satu meter kain, mesin ini mampu membuatnya hanya dalam waktu satu jam saja. Mesin tenun ini biasa disebut dengan Hacitun.
Mereka juga menggunakan mesin jahit untuk bisa membuat pakaian jadi. Bahkan mereka pun telah membuat sebuah mesin khusus yang bisa membuat pakaian secara otomatis tanpa bantuan tangan manusia lagi, yang biasa disebut Tamiya. Jadi, seseorang hanya cukup memilih jenis pakaian yang di inginkan dengan cara menekan tombol pilihannya. Selanjutnya pakaian itu akan di proses dengan sendirinya oleh mesin Tamiya ini hingga menjadi satu jenis pakaian jadi. Dan biasanya, untuk satu jenis pakaian jadi, maka waktu yang dibutuhkan antara 6-8 jam saja.

4) Industri eletronik dan otomotif
Dalam industri eletronik, mereka telah berhasil memproduksi berbagai jenis peralatan rumah tangga, seperti Muraca (kulkas), Halika (blender), Kusar (setrika), Ricah (sejenis mesin pemeras buah untuk jus), Gilas (mesin cuci), dan Miyarda (sejenis labtop/komputer tablet). Semua peralatan itu menggunakan krital biru sebagai sumber energinya.

Khusus untuk yang otomotif, mereka telah berhasil memproduksi Molida (mobil) yang mampu membawa 4 orang penumpang. Kendaraan ini memanfaatkan energi kristal biru dan mampu melaju dengan kecepatan maksimal 80 Km/jam. Untuk keperluan mengangkut barang dalam jumlah banyak, mereka lalu menciptakan Korsada (truk). Selain itu, ada satu jenis kendaraan lain yang jika dimasa kita sekarang disebut dengan sepeda motor. Kendaraan ini juga memanfaatkan energi kristal biru dengan kecepatan laju maksimalnya adalah 100 km/jam. Kendaraan ini mampu membawa 2 orang penumpang (berboncengan) dan biasa disebut dengan Misora.

Selain itu, mereka juga telah memproduksi mesin pertanian dan perkebunan seperti Gilar (mesin pembajak sawah), Kratur (traktor), Daimu (mesin pompa air), dan Surta (mesin penggiling padi atau gandum). Semuanya di produksi untuk kebutuhan dalam negeri, hanya sedikit saja yang di ekspor ke luar negeri.

5) Industri perkapalan
Di dalam industri ini, mereka telah berhasil memproduksi berbagai jenis perahu untuk menangkap ikan. Kapal ini terbuat dari gabungan antara kayu dan besi, yang biasanya digunakan oleh para nelayan atau untuk mengangkut manusia (alat transportasi). Semuanya sudah menggunakan mesin yang bertenaga dari kristal biru, sehingga tetap ramah lingkungan. Dalam bahasa mereka kapal laut jenis ini biasa disebut dengan Simakapa.

Selain untuk keperluan masyarakat umum, mereka juga telah memproduksi kapal laut untuk keperluan militer. Kapal jenis ini biasa disebut dengan Kasurapa. Di desain dengan bentuk yang sangat menarik dan telah dibekali dengan teknologi yang canggih serta peralatan persenjataan yang juga moderen, seperti meriam dan rudal. Pembangkit tenaga utama dari kapal ini sama saja dengan kendaraan yang lainnya, yaitu batu kristal biru. Kapal ini cukup besar untuk ukuran di zamannya, karena mampu membawa awak kapal sebanyak ±20 orang dan penumpang kapal (tentara) sekitar 50-60 orang.

6) Industri persenjataan dan penelitian
Meskipun mereka terus melakukan penelitian dan pengembangan teknologi, tetapi untuk persenjataan tak begitu mereka utamakan. Terlebih dalam tradisi mereka bahwa berperang itu harus bertarung satu lawan satu (duel), maka dari itu bentuk dan jenis persenjataan mereka masih dipertahankan seperti semula. Untuk urusan perang, mereka lebih mengutamakan ilmu kanuragan dan kadigdayan. Begitulah kebiasaan atau model kehidupan manusia di masa itu. Karenanya persenjataan militer mereka masih seputar pedang, tombak dan panah saja.

Tapi memang ada beberapa teknologi super canggih yang mereka miliki. Di antaranya pesawat terbang yang disebut dengan Swinta. Pesawat ini memanfaatkan energi kristal biru, sehingga mampu melaju dalam kecepatan cahaya. Pesawat jenis ini tidak untuk keperluan perang, karena hanya untuk penelitian saja. Daya tampung dari pesawat ini sebanyak 80-100 orang. Di dalam pesawat ini, semua kebutuhan hidup manusia telah dilengkapi dengan detil. Tak ada yang terlewatkan, termasuk perkebunan dan tamannya. Dengan pesawat model inilah mereka bisa menjelajahi luar angkasa dan melakukan penelitian sekaligus untuk berwisata. Dan mereka telah berhasil menjejakkan kakinya di beberapa planet yang ada di dalam sistem tata surya kita. Setidaknya ada 10 tempat/planet yang telah mereka datangi saat itu, di antaranya seperti Kasu (Venus), Kuma (Mars), Latin (Jupiter), Sutan (Saturnus), Sanusi (Uranus), Bokura (Neptunus), Sulta (Pluto), Sura, Morah dan Bounta. Khusus untuk planet Bumi mereka sebut Nusa. Selebihnya mereka mulai menjelajahi sistem tata surya atau galaksi lainnya.

Dalam setiap proses produksinya, mereka telah menggunakan dua cara, yaitu cara manual dan otomatis. Cara manual adalah cara yang masih menggunakan tenaga manusia, sedangkan cara yang otomatis adalah cara yang telah menggunakan bantuan robot. Robot-robot itu sebagiannya ada yang masih di kendalikan oleh manusia, tetapi ada juga yang telah bekerja sendiri, sesuai dengan yang telah diinginkan (di program). Selain itu, semua limbah pabrik tetap ramah lingkungan, bahkan bisa langsung di minum. Yang semuanya itu atas berkat energi kristal biru yang telah berhasil mereka manfaatkan secara maksimal.

Untuk target produksi, mereka menggunakan sistem per 10 hari kerja. Jam kerja Orita (karyawan) dimulai dari jam 7 pagi hingga jam 3 sore. Upah dibayarkan setiap selesai bekerja alias upah harian. Terdapat hari libur yang diberikan per 3 hari kerja dengan lama waktunya satu hari. Ada juga hari libur selama 7 hari yang diberikan di setiap enam bulan sekali. Selain itu, diberikan pula waktu cuti/izin kerja yang lama waktunya disesuaikan dengan jenis cuti/izinnya. Dan ada pula waktu libur lainnya yang mengikuti kebijakan dari kerajaan (libur nasional).

Usia kerja yang ditentukan oleh pemerintah saat itu minimal 25 tahun dan maksimal 100 tahun. Syarat untuk bisa bekerja yaitu setiap pelamar harus sudah lulus pendidikan di tingkat Milata (tingkat kedua) atau Milla (tingkat ketiga) dengan menunjukkan ijazah kelulusannya. Dalam bekerja, setiap Orita (karyawan) selalu diberikan jatah makan siang antara jam 9-10. Mereka juga mendapatkan jaminan kesehatan dan jaminan pensiun.

Terdapat struktur kepemimpinan di dalam setiap pabrik, yang semuanya akan sama, tidak berbeda, hanya saja harus di sesuaikan dengan kementerian yang membawahinya. Adapun strukturnya adalah sebagai berikut:

1) Lakirata …. (menteri…..) -> sesuai dengan bidangnya
2) Pilusa (kepala pabrik)
3) Pilutana (manajer bahan baku)
4) Pilutida (manajer produksi dan penjualan)
5) Orita (karyawan)

Demikianlah uraian singkat tentang kondisi kehidupan di kerajaan Armudaya ini. Terlihat bahwa mereka telah mencapai satu tatanan yang rapi dan moderen. Semoga bisa mencerahkan dan memotivasi kita untuk terus maju dalam berkarya.

4. Daftar raja-raja
Selama berdiri, ada sekitar 1.259 orang yang pernah memimpin kerajaan Armudaya. Semuanya terdiri dari raja dan ratu. Ada sosok yang baik budi, berwibawa dan bijaksana, sebaliknya ada pula yang jahat dan merusak kehidupan. Semuanya menjadi bagian yang tak terpisahkan selama kerajaan ini berdiri. Sudah menjadi suratan takdir yang harus diterima, lebih tepatnya lagi dipilih oleh mereka.

Adapun nama-nama penguasa di kerajaan Armudaya ini – tidak semuanya – adalah sebagai berikut:

1. Mar-Aunor Lismaya Minastir -> pendiri kerajaan.
2. Mar-Zurainur Dirnula Minastir
3. Mar-Rimlara Nibahuri Minastir
4. Mar-Datira Hattarima Minastir
5. Mar-Hutarama Libayura Minastir
6. Mar-Kisarala Minastir
7. Mar-Kasiwara Minastir
8. Mar-Simatara Minastir
9. Mar-Litarama Minastir
10. Mar-Muatara Minastir
.
.
500. Mar-Koramada Minastir
501. Mar-Narasama Minastir
502. Mar-Sutalira Minastir
503. Mar-Ramsara Minastir
504. Mar-Tiralama Minastir
505. Mar-Kalsarala Minastir
506. Mar-Simarala Minastir
507. Mar-Tilhamara Minastir
508. Mar-Hutajimara Minastir
509. Mar-Zirakatula Minastir
510. Mar-Duksamura Minastir
.
.
1.246. Mar-Kasuwarasi Minastir
1.247. Mar-Soxramala Minastir
1.248. Mar-Hattaramira Minastir
1.249. Mar-Dirtarayana Minastir
1.250. Mar-Norakurila Minastir
1.251. Mar-Sidakutara Minastir
1.252. Mar-Zutramari Minastir
1.253. Mar-Uradali Minastir
1.254. Mar-Rahulari Minastir alias Tar-Morawardala Rahulari Ardunakoh -> pendiri wangsa Tar dan cikal bakal kehancuran kerajaan.
1.255. Tar-Morawardala Kurnitahala Ardunakoh
1.256. Tar-Morawardala Atanartari Ardunakoh
1.257. Tar-Morawardala Kinaharista Ardunakoh
1.258. Tar-Morawardala Giratahura Ardunakoh
1.259. Mar-Kasurazala Minastir -> raja terakhir kerajaan Armudaya.

Selama berdirinya kerajaan Armudaya ini, suksesi kepemimpinan tak selalu berjalan lancar. Pernah terjadi huru-hara ketika akan di laksanakannya pergantian raja atau ratunya. Tidak hanya sekali, tapi sempat berkali-kali walaupun akhirnya bisa didamaikan kembali. Namun demikian, kerajaan ini tetaplah sebagai kerajaan yang sangat kuat dan disegani oleh dunia pada masanya.

5. Ambisi sang penguasa
Kerajaan Armudaya bertahan selama lebih dari 1 juta tahun. Sejak 1000 tahun berdiri, kerajaan ini kian bertambah kekuatan dan kegemilangannya. Bangsa ini pun semakin bijak dan bahagia. Tapi sebagaimana kisah-kisah kaum dan kerajaan besar dimasa lalu, bayang-bayang gelap perlahan jatuh menimpa mereka. Semua itu mulai muncul dimasa pemerintahan raja ke-1.253 yang bernama Mar-Uradali Minastir. Semakin mereka bahagia dan makmur, semakin pula mereka mendambakan keabadian. Mereka mencintai bangsa Peri, tetapi mereka juga iri dengan bangsa itu lantaran mereka berumur sangat panjang. Dan perlahan mereka pun mendambakan wilayah selatan (negeri bangsa Peri Milhanir) dan ingin menguasainya sekaligus.

Setelah 1.050 tahun memimpin kerajaan Armudaya, Mar-Uradali Minastir turun tahta dan digantikan oleh anak tertuanya yang bernama Rahulari. Setelah menjadi raja, Rahulari memakai gelar resmi sebagai Mar-Rahulari Minastir. Lain dengan ayahnya, Mar-Rahulari Minastir secara terang-terangan ingin menguasai negeri bangsa Peri Milhanir. Ia mendapatkan ide itu lantaran tergiur dengan hasutan seorang yang bernama Elmaru. Katanya, dengan bisa menguasai negeri bangsa Peri itu dan tinggal disana, Mar-Rahulari Minastir akan hidup abadi seperti halnya bangsa Peri. Dengan demikian, bayangan gelap itu kian pekat dan cita-cita akan keabadian kian merasuki pikiran banyak orang.

Mar-Rahulari Minastir punya dua orang saudara. Yang pertama laki-laki bernama Sidahamari dan yang kedua seorang wanita bernama Liyadari. Berbeda jauh dengan kakaknya, Sidahamari tak ingin berperang dengan bangsa Peri. Ia merasa ada hubungan erat antara leluhurnya dan bangsa Peri itu. Akibat dari sikapnya itu, ia berseberangan keras dengan kakaknya. Bangsa Armudaya pun akhirnya terbagi dua; di satu pihak mendukung raja Mar-Rahulari Minastir, di pihak lainnya merupakan pendukung setia Sidahamari yang berjumlah lebih sedikit. Semakin lama kedua kelompok ini saling curiga dan akhirnya sering bentrok dan bertikai.

Waktu pun terus berlalu, raja Mar-Rahulari Minastir diberi umur yang sangat panjang dalam memimpin negeri Armudaya. Karena itulah ia semakin angkuh dan mulai menindas siapa saja yang tak setuju dengan sikapnya. Ia pun mulai meninggalkan nama gelar leluhurnya (kata “Mar” dan “Minastir“) dan menggantikannya dengan menyebut dirinya sendiri sebagai Tar-Morawardala Rahulari Ardunakoh, sang penguasa dunia. Bagi kalangan pendukung Sidahamari, ini merupakan sebuah pertanda buruk, sebab gelar tersebut – khususnya “Morawardala” dan “Ardunakoh” – menunjukkan keangkuhan dan lebih indentik dengan kaum tirani dan penjajah. Dan ternyata sang penguasa kerajaan Armudaya itu mulai menindas atau bahkan menghukum para pendukung setia Sidahamari. Kian hari semakin banyak saja yang menjadi korban kezaliman itu. Karena itulah, sebagian mereka lalu memisahkan diri dan mendirikan hunian (tempat tinggal) lain di kaki gunung Murda yang ada di sebelah barat negeri mereka.

Singkat cerita, keadaan di negeri Armudaya kian mencekam, terlebih lagi bagi pendukung setia Sidahamari. Namun demikian kekuasaan dan kekayaan bangsa Armudaya tetap bertambah. Hal ini masih tak membuat mereka puas, sebab umur mereka justru semakin pendek seiring ketakutan mereka pada kematian. Mereka lalu menganggap bahwa kebahagiaan dan kenikmatan mereka akan lenyap dalam kematian. Padahal mereka lupa bahwa ada kehidupan yang abadi setelah kematian raga. Dunia ini hanya sementara, karena itulah siapapun harus terus mempersiapkan bekal yang cukup untuk menjalani kehidupan yang abadi nanti di akherat. Tubuh memang bisa mati dan hancur, tetapi jiwa akan abadi selamanya.

Selama ribuan tahun kekayaan dan kekuasaan keturunan Tar-Morawardala Rahulari Ardunakoh semakin bertambah. Keadaan ini tetap begitu sampai pada masa pemerintahan Tar-Morawardala Atanartari Ardunakoh, cucu Tar-Morawardala Rahulari Ardunakoh. Namun seiring itu pula tanda-tanda kemerosotan sudah mulai muncul. Itu disebabkan para bangsawan mereka sibuk dengan usaha melebarkan kekuasaan. Negeri-negeri di sekitar kawasan mereka satu persatu ditaklukkan. Atas hal itu, tak semua dari mereka yang setuju, terutama para pendukung Sidahamari. Hal inilah yang menjadi sebab utama kenapa pada akhirnya kaum Zarhika terpecah-pecah dalam beberapa klan. Di antaranya adalah Tar-Alkalin, Tar-Minalin, Tar-Kusadin, Tar-Widailin dan Tar-Himanilin. Di antara klan itu juga saling berebut pengaruh dan tahta kerajaan. Akibatnya kondisi di negeri Armudaya sering dilanda huru-hara.

Salah satu klan yang paling membanggakan diri adalah klan Tar-Alkarin. Mereka ini masih keturunan langsung dari Tar-Morawardala Rahulari Ardunakoh (raja ke-1.254). Sebagai keturunan dari pendiri wangsa Tar, mereka lantas menganggap klan yang lainnya itu dibawah kemuliaan mereka. Begitu pula meskipun masa hidup kaum mereka semakin menyusut, klan Tar-Alkarin ini tetap sebagai yang tertua. Mereka hidup dengan usia yang lebih lama dari klan yang lainnya. Dan bila dibandingkan dengan usia kaum lainnya di seluruh dunia saat itu, usia mereka mencapai 2-3 kali lipatnya. Hal ini semakin membuat mereka sombong dan lupa diri. Akibatnya kepudaran bangsa mereka semakin cepat terjadi.

Melihat keadaan itu, pemimpin dari klan Tar-Minalin bernama Kinaharista atau yang bergelar Tar-Morawardala Kinaharista Ardunakoh (raja ke-1.257) merebut tahta dari klan Tar-Alkalin dan berupaya memperbaiki keadaan. Namun semua itu sudah terlambat karena terjadi pemberontakan oleh klan Tar-Alkarin. Saat ia meninggal, pemimpin klan pemberontak merebut kekuasaan dan menjadikan pemimpin klan mereka sebagai raja baru yang bergelar Tar-Morawardala Giratahura Ardunakoh (raja ke-1.258). Dibawah kepemimpinannya, kerajaan Armudaya menjadi bangsa yang beringas dan suka berperang. Sang raja bercita-cita untuk menjadi raja bagi seluruh dunia.

Waktu pun berlalu, kekuatan militer kerajaan Armudaya semakin besar dan tangguh. Ini membuat sang raja menjadi semakin angkuh dan bangga dengan kejayaan itu. Ia lalu memutuskan untuk segera menyerang bangsa Peri Tinggi (Milhanir) di negerinya yang berada di selatan. Ia ingin merebut kekuasaan di negeri itu dan tinggal disana sebagai penguasa dunia. Maka akhirnya ia dan bala pasukannya berlayar dengan armada perang yang sangat besar. Mereka menuju negeri yang menurut penjelasan dari Elmaru (penasehat raja ke-1.254, pendiri wangsa Tar) bisa membuat orang hidup abadi. Sebab disana pula terdapat sumber air dan tiga buah permata sakti dari langit. Dengan memiliki kedua jenis pusaka itu, siapapun akan hidup abadi seperti bangsa Peri.

6. Hancurnya keangkuhan
Segala kebutuhan sudah disiapkan, setiap peralatan dan logistik pun telah dimuat. Dan berlayarlah armada besar kerajaan Armudaya ke negeri selatan, ke negerinya bangsa Peri Milhanir. Mereka harus menyeberangi laut Dailaka untuk bisa sampai di tanah negeri bangsa Peri itu. Daratan itu oleh bangsa Peri Milhanir diberi nama Silmarutya, sementara kota bangsa mereka disebut Silhari. Sebuah negeri yang sebenarnya sangat terasing bagi manusia. Dan sudah selama jutaan tahun tak ada yang pernah berkunjung kesana, kecuali hanya sedikit. Tak banyak yang berani datang kesana, sebab resikonya besar sekali, terlebih jika mereka tak diizinkan atau berniat buruk.

Armada kapal itu terus mengarungi lautan luas. Menjelang sampai di tepian pantainya, mereka lalu membuat keributan dengan membunyikan terompet-terompetnya. Mereka melanggar batas tata susila dan adat kesopanan. Dengan ambisi dan nafsu yang membara, pasukan pimpinan raja Tar-Morawardala Giratahura Ardunakoh (raja ke-1.258) itu berlaku sombong dan angkuh. Karena itulah, pada akhirnya mereka terkena tulah yang menyakitkan. Bangsa Peri Milhahir pimpinan Sir el-Alainur memohon perlindungan kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Karena hati mereka bersih dan tulus, Hyang Aruta pun menerimanya. Seluruh pasukan kerajaan Armudaya dihantam badai topan dan petir yang sangat mematikan. Akibat dari badai itu, satu persatu pemimpin pasukan termasuk raja Tar-Morawardala Giratahura Ardunakoh sendiri pun tewas terkena sambaran petir. Dan belum lama mereka mendarat, turunlah dua orang hamba Tuhan dari langit (dari golongan Ainur dan Malaikat) ditengah-tengah pasukan besar itu. Dalam satu kali hentakan kakinya, daratan yang ada langsung bergulung dan terbelah. Membenamkan seluruh pasukan yang ada, kecuali beberapa orang untuk kembali ke negerinya di utara. Mereka itu menaiki kapal yang tersisa, lalu diperintahkan untuk mengabarkan apa yang sudah terjadi pada raja Tar-Morawardala Giratahura Ardunakoh dan semua pasukannya. Sebagai bentuk peringatan untuk semua manusia bahwa kesombongan itu akan berbuah kehancuran.

7. Akhir kisah
Pada masa raja ke-1.259 (Mar-Kasurazala Minastir) kerajaan Armudaya berhasil dikembalikan pada kondisi semula. Raja yang satu ini termasuk sosok yang menentang keinginan dari raja Tar-Morawardala Giratahura Ardunakoh (raja ke-1.258) untuk menaklukkan negeri bangsa Peri Milhanir. Karena itu ia tak ikut dalam pasukan raja bengis itu dan selamat dari azab yang menimpa mereka. Ia berasal dari klan Tar-Minalin dan masih cucunya Tar-Morawardala Kinaharista Ardunakoh (raja ke-1.257). Karena kondisi kaumnya terpuruk setelah hancurnya pasukan raja Tar-Morawardala Giratahura Ardunakoh di pantai negeri Silhari, tampuk kepemimpinan kaum dan kerajaan jatuh ke tangan Kasurazala. Setelah menjadi raja, ia memakai kembali gelar leluhurnya dulu, yaitu menjadi Mar-Kasurazala Minastir.

Waktu pun berlalu. Atas bimbingan dari Nabi Nuhaila AS, ia dan para pendukungnya selamat dari azab dan kejatuhan dari kerajaan mereka bisa terhindar. Sebagai raja, Mar-Kasurazala Minastir terus bersikap bijak dan mendorong bangsanya untuk berpegang teguh pada hukum dan aturan Hyang Aruta (Tuhan YME). Selama mereka tetap berpegang teguh dengan kedua hal itu, hidup mereka akan aman dan sejahtera.

Ya. Kehidupan di negeri Armudaya bisa kembali aman dan makmur karena mereka patuh pada hukum Tuhan. Apa yang terjadi pada kehidupan di negeri Armudaya pun menyebar cepat ke negeri bekas jajahan mereka. Kebaikan itu terus menyebar seperti wabah ke segala penjuru. Begitu pun sebagian dari penduduk Armudaya, pimpinan salah satu anak raja Mar-Kasurazala Minastir yang bernama Minawartasi, diperintahkan untuk hijrah ke tempat lain dan mendirikan peradaban baru disana. Tempat baru itu kini berada di sekitar Brunai Darussalam. Disana mereka lalu mendirikan kerajaan baru yang bernama Hastinara. Kerajaan ini termasuk yang selamat saat pergantian zaman terjadi.

Namun karena sudah menjadi suratan takdir-Nya, maka masa bagi kerajaan Armudaya pun harus berakhir. Karena itu, tugas utama dari raja Mar-Kasurazala Minastir adalah mempersiapkan rakyatnya untuk berpindah ke dimensi lainnya. Atas bimbingan dari Nabi Nuhaila AS, mereka terus melatih diri untuk lebih mengenal diri yang sejati. Ini juga untuk mempersiapkan diri mereka (lahir dan batin) agar bisa berpindah ke dimensi lainnya. Dan semua itu hanya atas perintah dari Hyang Aruta (Tuhan YME) saja. Sebab, jika mereka berhasil memperbaiki diri, maka mereka pun akan selamat dari azab Tuhan yang dahsyat di dunia maupun di akherat nanti. Tapi jika tidak, maka negeri Mellayur akan ditimpa bencana yang mengubah semua yang ada. Tidak akan ada yang bisa menyelamatkan diri, kecuali berpindah ke dimensi lain.

Singkat cerita, maka berpindahlah bangsa Armudaya beserta kotanya ke dimensi lain, tepatnya ke dimensi kelima (Nilbati). Sementara negeri yang sebelumnya menjadi tempat mereka masih tetap seperti semula. Tidak ada yang menghuninya sampai 500 tahun kemudian. Mereka itu adalah orang-orang yang berasal dari barat, yaitu dari kaum Rudata. Di bekas negeri Armudaya itu, kaum Rudata ini lalu membangun peradaban mereka. Sekitar 2500 tahun lebih mereka tinggal disana dan menjalani kehidupan dengan makmur. Sampai pada akhirnya ketetapan Tuhan harus berlaku bagi semua penduduk Bumi. Periode zaman ke empat (Swarganta-Ra) saat itu harus berakhir dan digantikan dengan zaman yang baru (Dwipanta-Ra).

Dan saat sebelum pemurnian total itu terjadi, bertahun-tahun alam sudah memberikan sinyal. Sejak lama, dimana-mana mulai terjadi banyak bencana alam dan perang. Bagi yang sadar akan pertanda itu, mereka terus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Sementara bagi yang tidak, mereka terus larut dalam kekufuran dan kehinaan. Lalu terjadilah pergantian zaman yang telah ditetapkan. Secara serentak dimana-mana terjadi bencana yang teramat dahsyat. Bumi seolah-olah diaduk dalam sebuah penggorengan. Daratan dan lautan diguncang dengan begitu kuatnya. Membuat topografi wilayah Bumi menjadi berubah secara drastis.

Ya. Ada banyak daratan yang ditenggelamkan saat itu, sebagian lainnya justru lautan yang naik kepermukaan menjadi daratan. Gunung-gunung yang lama meletus, sementara yang baru bermunculan. Mellayur (Nusantara) secara bertahap mulai terbagi-bagi dalam banyak pulau. Sejak saat itu kondisi kehidupan di muka Bumi berubah total dengan model dan karakter yang baru. Demikianlah Hyang Aruta (Tuhan YME) mengaturnya dengan segala kebijaksanaan-Nya. Siapapun tak bisa menghindar. Hanya yang tetap patuh dan berserah diri kepada-Nya saja yang selamat dan atau diselamatkan. Mereka adalah sebagian kecil dari seluruh bangsa dan ras manusia yang hidup pada masa itu. Inilah yang menjadi cikal bakal (leluhur) manusia hingga sekarang. Merekalah leluhur kita semua.

Akhirnya, semoga penjelasan ini bisa membantu kita untuk mengingat kembali siapa sejatinya diri kita. Sebagai manusia dan hamba Tuhan, maka apa yang seharusnya kita lakukan sekarang dan nanti? Terlebih kita sekarang pun sudah berada di akhir periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra). Mari selalu bersikap elin lan waspodo, dengan begitu kita akan selamat atau diselamatkan.

Salam Rahayu _/|\_

Jambi, 20 April 2017
Harunata-Ra

(Maaf, disini kami hanya bisa memberikan ringkasan tentang kaum ini. Belum waktunya untuk diterangkan semua)

Iklan

12 thoughts on “Armudaya: Kebangkitan dan Kehancuran Leluhurku

  1. Alhamdulillah..
    Perlahan, penjelasannya muncul juga. Berkaitan dengan Madisyali Khulafayah dan Na’an si ului dan khalifah. Kisah2 inilah yg patut direnungkan.
    Terima kasih, mas Oedi.

  2. Terimakasih juga mas/mbak Nadnad karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂
    Iya, semua itu ada waktunya, saya hanya bisa mengikuti yg sudah jadi ketetapan-Nya. Makanya disini hanya bisa patuh pada protap yg ada. Jika dilanggar, akan berakibat buruk terutama bagi saya pribadi. Mohon kesabarannya utk menunggu lanjutan info dan penjelasan dari tulisan/artikel yg terdahulu.. 🙂
    Akhirnya, mari kita sama2 utk lebih banyak merenung ttg makna kehidupan ini, salah satu caranya dengan mengulik lebih byk kisah kaum2 terdahulu.. 🙂

      1. Hmm.. Sebenarnya ada bbrp jenis kristal biru di dalam perut Bumi, ada pula di planet dan tata surya lainnya.. Semuanya punya jenis energi, kemampuan dan kapasitasnya sendiri.. Nah ttg kristal biru yg digunakan oleh Pasukan Langit berbeda dg yg digunakan oleh bangsa Armudaya. Yg digunakan oleh Pasukan Langit lebih tinggi kualitasnya.. Contoh perbandingannya seperti pertamax dg avtur..

  3. Terimakasih juga mbak Silvie Amelia utk kunjungan dan dukungannya.. 🙂
    Oh ya? Wah syukurlah kalo gitu, moga tulisan ini bermanfaat 🙂

  4. Banyak sekali hal yang harus kita pelajari dari Leluhur kita, sedikit sekali mungkin manfaat yang telah atau kita dapat dari mereka Para Leluhur. Satu hal terutama yang sangat-sangat menarik tentang teknologi Kristal Biru yang sangat luar biasa, di zaman kita sekarang baru sebatas remeh temeh tentang Teknologi ramah lingkungan dibanding dengan para Leluhur kita dahulu… Waaww masih di luar nalar dan imajinasi kita. Alhamdulillah semakin terus bertambah wawasan saya banyak manfaat/hikmah-nya dari kisah Para Leluhur kita yang bukan hanya harus kita petik tapi kita tanam dan panen..🙂 mudah-mudahan Hyang Aruta mensegerakan proses akhir Zaman Rupanta-Ra, sudah gerah kita hidup di zaman ini. Semoga kita termasuk dalam golongan manusia yang selamat dan diselamatkan pada hari-H nya nanti, untuk menikmati Keindahan dan Kebahagian di zaman Hasmurata-Ra. Hatur Nuhun kang Harunata-Ra semoga Hyang Aruta memberikan kemudahan dan kelancaran dalam berbagai hal, juga Keselamatan dan Kebahagian di Dunia dan Akherat.
    Salam.
    Rahayu Salawasna _/|\_

    1. Nuhun juga kang Tufail karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Ya itulah pentingnya mempelajari sejarah, karena kita bisa lebih tau ttg siapa diri kita yang sebenarnya skr.. Apa yg kurang dan salah? Apa yg harus diperhatikan, diperbaiki dan ditingkatkan? Karena ternyata peradaban kita skr tak lebih hanya sebatas pengulangan saja, bahkan dibeberapa hal justru melakukan kemunduran, jauh tertinggal dari para leluhur dulu… Dan ttg kristal biru, tidak hanya bangsa Armudaya saja yg pernah memakainya, ada bbrp kaum lainnya.. Sebatas yg sudah kami gali sejarahnya, ada sekitar 15 kaum yg pernah memakainya, dan mrk semua sudah berhasil menjelajahi angkasa, baik ke planet, sistem tata surya atau galaksi lainnya.. Mungkin oleh sebagian besar orang hal ini hanya dianggap fantasy, tapi begitulah faktanya.. Kaum terdahulu emang lebih hebat dari kita.. Byk alasan untuk itu, salah satunya umur mrk sangat panjang, fisik yg lebih besar dan kuat, dan kecerdasan yg tentu melebihi kita.. Dg modal itu saja tentu mrk bisa membangun peradaban yg lebih hebat dari kita..
      Harus, bahkan wajib bagi kita dan anak cucu kita utk terus mengulik dan menggali informasi ttg leluhur atau kaum” terdahulu. Kita bisa byk belajar dan lebih pentingnya lagi bisa mencontoh kebaikan dan keunggulan mereka.. Jangan pernah mengabaikan hal ini jika tak ingin celaka dunia akherat..
      Apa yg disampaikan dalam tulisan ini hanyalah sebagian kecil informasi dr para leluhur dan peradabannya.. Masih ada byk lagi yg belum, masih byk lagi yg bahkan lebih mencengangkan.. Siapapun yg mengetahui atau mampu melihatnya pasti akan terkagum-kagum sekaligus merasa malu dg kondisi peradaban dunia skr… Masih tahap perkembangan saja sudah berlaku sombong.. Teknologi yg kini dianggap sgt canggih itu, bagi para leluhur kita justru dianggap sudah usang alias kuno (ini pengalaman pribadi)..
      Aamiin ya Robb.. Semoga yg mau bersiap dari skr diberikan keselamatan saat pergantian zaman ini terjadi, semoga kita bertemu dan hidup bersama di zaman Hasmurata-Ra yg indah itu.. Semoga kita bisa bertetangga di kota yg telah dijanjikan-Nya nanti…
      Rahayu Bagio _/|\_

    1. Iya mas saya ingat.. sampeyan kan yang koment di artikel Candi Prambanan dan Diri Manusia itu toh?
      Terimakasih karena masih mau berkunjung, semoga tetap bermanfaat.. 🙂
      Salam juga mas.. tapi ngomong” saya baru dengar tentang Prajurit Gajah Mada? maksudnya mas??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s