Diri Manusia Itu?

Wahai saudaraku. Mari kita membahas lebih dalam tentang diri manusia yang sebenarnya. Ini sangat penting, mengingat telah banyak yang melupakannya, bahkan tidak pernah tahu sama sekali. Dengan membahas tentang hal ini, setidaknya kita diingatkan kembali tentang siapakah diri kita sesungguhnya dan apa tujuan kita hidup di dunia ini. Harapannya tentu demi kebaikan dan kesempurnaan kita sendiri.

Manusia, sosok makhluk yang tinggal di alam raya ini yang harus membuktikan kemanusiaannya sendiri. Sebelum bisa, ia harus terlebih dulu memahami siapakah dirinya sendiri. Dengan pengetahuan itulah, ia baru akan hidup sebagai pribadi yang utuh dan menjadi manusia yang sejati. Tanpa hal itu, ia takkan jauh berbeda dengan sebongkah batu yang tak pernah bergerak. Mati sebelum waktunya.

Ya. Manusia itu adalah sosok yang unik. Di dalam dirinya terdapat beberapa unsur dan wujud yang bisa menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tapi sebaliknya, semuanya itu akan terpisah-pisah tanpa adanya pengetahuan tentang Diri Sejati. Seseorang hanya akan bisa tetap menyatu dalam kesatuan yang benar, pada saat ia telah mampu memahami dan menyatukan keseluruhan bagian dalam dirinya sendiri baik dalam pikiran dan perbuatannya. Jika terpisah-pisah, itu akan sama dengan bangunan rumah yang mudah runtuh tersiram hujan.

O.. Apakah dunia ini sebenarnya? Siapakah manusia itu yang sesungguhnya? Renungkanlah akan hal ini. Dan kau harus tahu bahwa manusia itu tidak hanya terdiri dari tubuh tanah liatnya saja, tetapi juga unsur goib (non materi) yang bersemayam di dalamnya. Zahir hanyalah wadah bagi diri pribadi untuk menjalankan perannya di alam nyata dunia ini. Karena itu, zahir manusia tersusun dari beberapa unsur materi, yaitu tanah, air, api, udara dan ether. Kelima elemen inilah yang menjadi bahan utama terbentuknya jasad manusia dan menjadi wujud keberadaannya. Sebab, tanpa jasad maka manusia itu bukanlah manusia, tetapi malaikat atau sesuatu yang lainnya. Dan ini tidak boleh terjadi, karena sudah menjadi kodrat manusia untuk tetap harus menjadi manusia. Sebab manusia itu sendiri adalah bukti nyata dari kesempurnaan penciptaan. Bukan lantaran keindahan fisiknya atau kekuatannya atau kesaktiannya, tetapi karena ujian hidup yang harus dan mampu ia jalani itu lebih berat dari semua makhluk. Dan bagi mereka yang berhasil menghadapi setiap ujian hidup itu, maka layaklah ia dikatakan sebagai Khalifah (pemimpin makhluk) karena kesempurnaannya sendiri. Tanpa ujian, maka siapapun takkan bisa terbukti keunggulannya.

Sementara itu, di dalam zahir manusia itu ada bagian-bagian diri manusia yang seolah-olah terpisah padahal satu kesatuan yang utuh. Ada Ruh, Jiwa, Sukma, Nyawa, dan Hati, yang semuanya adalah bagian terpenting dari sejatinya manusia. Kelimanya harus diketahui lalu dipahami dan diusahakan untuk tetap dipersatukan oleh setiap pribadi – minimal dalam pikiran. Dan ini harus dengan ilmu yang cukup dan pengertian yang mumpuni. Setiap pribadi selayaknya mencari tahu dulu apa sebenarnya kelima bagian dirinya itu. Selanjutnya berkenalan, berbincang-bincang (diskusi), dan akhirnya bersatu kembali dengan kelimanya itu di dalam satu wadah yang bernama Diri Sejati.

Wahai saudaraku, dapatkah kau memahami pengetahuan ini? Apakah dunia ini sebenarnya? Manusia, Jin, Malaikat, Peri, Cinturia, Karudasya, Walluha, Birmanu, Maltasi, Hewan, Tumbuhan, Bumi, Galaksi, benda-benda, elemen dan lainnya. Bagaimanakah semuanya diciptakan? Dari apa asal mereka? dan mengapa mereka itu tercipta dan untuk apa? Dan apakah yang akan terjadi setelah semuanya mati atau sirna? Pikirkan dan renungkanlah pengetahuan ini.

Dan apakah kau akan menjawab bahwa tubuh manusia itu terbentuk dari tanah dan air yang mengalir didalamnya sebagai darah dan kebaikan. Api memberikan kekuatan dan kehangatan pada tubuh. Termasuklah rongga yang ada di dalam tubuh yang diisi oleh udara dan ether. Karenanya, dalam tubuh manusia itu ada unsur tanah, air, api, udara dan juga ether. Kelima elemen dasar itu yang disebut dengan Panca Mahabhuta.

Ya. Kau tidak salah tentang hal itu, tapi perlu kau renungkan lagi apakah sudah benar pendapatmu. Sebab jika sebatas itu pemahamanmu, maka setiap manusia itu, sehebat apapun dia, maka tak lebih dari sekedar kelima unsur itu saja. Bahkan orang shalih dan penjahat pun terdiri dari kelima elemen itu, tidak lebih. Jika begitu, lantas apa yang menjadi keutaman dari manusia? Apa keunggulannya? Dan apa pula yang kau pikirkan, apakah tanah (zahir) saja?

Tidak saudaraku. Memang tubuh manusia terbuat dari tanah yang melambangkan ciri khas dari manusia itu sendiri. Semua ikatan dan unsur lainnya pun mengakar dari tubuh yang berasal dari tanah itu. Tapi, jika ini memang benar 100%, pertanyaannya adalah kenapa saat manusia mati tubuhnya akan hancur? Apakah benar setelah tubuh mati manusia itu juga mati?

Tidak saudaraku, karena kenyataannya setelah tubuh mati manusia akan tetap hidup. Semua bagian dirinya kecuali tubuh zahir akan terus hidup dan menjalani kehidupan lainnya. Dan tak ada satupun bagian dari tubuhnya, atau pun yang mengakar di dalam tubuhnya yang menjadi ciri khasnya. Sebab, yang menjadi ciri khas bagi setiap diri manusia itu hanyalah sifat, tingkah laku dan amal ibadahnya.

Lalu berpikirlah tentang bagaimanakah sifat, tingkah laku dan amal diciptakan? Pahamilah itu hai saudaraku. Karena ketahuilah bahwa kehidupan manusia itu adalah wujud keserasian antara sesuatu yang tampak dan yang tidak tampak. Tanpa keserasian dari keduanya, maka sebenarnya seseorang itu belumlah hidup dalam arti yang sesungguhnya. Makanya sifat, tingkah laku dan amal ibadahlah yang membedakan antara satu manusia dengan yang lainnya. Bukan unsur/elemen dalam dirinya.

Nah, dasar dari itu semua adalah tiga sifat manusia yang disebut dengan Triguna. Terdiri dari Tamas, Rajas, dan Satvam. Lantas apakah yang dimaksud dari ketiganya itu hai saudaraku?

Tamas adalah kebodohan. Menghabiskan waktu kehidupan tanpa memikirkan baik dan buruknya sesuatu. Seperti halnya kehidupan binatang yang semata-mata ingin memenuhi setiap keinginan tubuhnya saja, maka manusia pun akan sama dengan itu jika ia hanya larut dalam sifat Tamas ini. Satvam artinya adalah kebaikan itu sendiri. Ketika seseorang memikirkan tentang keadilan, kebenaran dan kasih sayang, itu adalah kebaikan – terlebih ketika ia tidak hanya sebatas memikirkannya saja, tapi mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan di tengah kedua hal itu (Tamas dan Satvam) adalah orang yang menguasai ilmu pengetahuan, tapi ia juga akan tertarik pada nafsu tubuh dan juga pikirannya sendiri. Dari hal itulah, akan lahirlah Rajas atau dalam arti sosok manusia yang hidup dalam keangkuhan dan dikuasai oleh nafsu angkara.

Untuk itu, hanya dengan menciptakan keseimbangan antara nafsu, kebodohan dan kebaikan, maka sifat manusia dapat ditentukan arahnya. Ketiga hal itu tak bisa jauh dari hidup manusia, bahkan sangat kuat pengaruhnya. Makanya dengan mengendalikan ketiganya saja, seseorang akan menempuh jalan kebenaran yang sejati.

Pun, ketahuilah dulu apa yang dimaksud dengan diri manusia itu? Sebab, manusia tidaklah hanya gabungan dari kelima elemen dasar itu, tidak hanya kelima wujud materi itu.

Kelima elemen, panca indera, panca penggerak dan ketiga sifat (Tamas, Rajas, Satvam) bahkan bukan segalanya tentang manusia. Dan agar manusia dapat menjalankan fungsinya, dia memerlukan energi. Dan energi itulah yang disebut dengan Kehendak.

Catatan tambahan:
1. Panca indera (Panca Buddhindria) terdiri dari: (1) Caksundria (penglihatan/mata), (2) Srotendria (pendengar/telinga), (3) Ghranendria (penciuman/hidung), (4) Jihwandria (pengecap rasa/lidah), dan (5) Twakindra (peraba/kulit).
2. Panca penggerak (Panca Karmendria) terdiri dari: (1) Garbendria (mulut), (2) Panindria (tangan), (3) Padendria (kaki), (4) Payundria (organ pelepasan), dan (5) Upasthendria (alat kelamin).

Jadi, apakah manusia itu adalah kehendak? Tidak juga saudaraku. Karena bersamaan dengan Kehendak dan ke-18 unsur dalam diri manusia itu (panca mahabhuta, panca buddhindria, panca karmendria, dan triguna) adalah ciptaan. Dan makhluk yang disebut manusia itu, yang terdiri dari ke-18 unsur lalu ditambah dengan Kehendak ini, merupakan percikan terkecil dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Inilah yang dinamakan sebagai Jiwa. Ketika ciptaan dan manusia menjadi satu, yang berarti ketika percikan terkecil dari Tuhan berada di dalam tubuh seseorang sebagai Jiwa, saat itulah manusia akan hidup. Dan ia akan benar-benar hidup jika ia pun bisa memahami akan hal ini dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari dengan kesadaran. Alias tidak hanya sekedar mengekor pada orang lain.

Lalu, apa yang dimaksud dengan Jiwa dan apa pula yang dimaksud dengan memahaminya?

Itu seperti ketika seseorang menggunakan kendaraan untuk bisa beraktifitas, maka seperti itulah Jiwa kepada tubuh. Melalui kendaraan tubuh, manusia akan mengalami suka dan dukanya kehidupan dunia ini. Ia pun bisa melakukan apapun yang ia mau sebatas perizinan-Nya. Tetapi Jiwa sendiri bukanlah tubuh. Karena tubuh masih bisa dihancurkan, sementara Jiwa tidak. Jiwa itu abadi dan tak bisa dihancurkan oleh senjata apapun, ataupun dibakar oleh api, dikeringkan dengan udara, dan dilemahkan oleh air. Walau pun Jiwa itu berada di dalam tubuh, tetapi ia kekal. Tubuh itu bisa saja dibunuh atau dihancurkan, tetapi Jiwa tidak akan bisa dimusnahkan. Jiwa itu bahkan berada dimana-mana, tidak berwujud (non materi), dan kekal abadi. Dan ketahuilah, bahwa Jiwa-Jiwa itu sebenarnya tak terpisahkan dengan JIWA YANG SATU. Bahkan semuanya berada di dalam JIWA YANG SEJATI ini. Dan siapakah JIWA YANG SEJATI itu sebenarnya? Dia-lah Hyang Aruta (Tuhan YME).

Kemudian, bila kau bertanya tentang diri yang sebenarnya dari manusia  atau tentang Ruh, Sukma, Nyawa dan Hati itu? Maka jawabanku adalah sebaiknya kau pahami dulu dengan sebenarnya tentang Jiwa-mu itu. Sebagaimana uraian singkat di atas, maka cobalah memperdalamnya lagi. Kau pun bisa memperbanyak referensi lain dan kajiannya, karena yang disampaikan dalam tulisan ini hanya secuilnya saja. Tentu ada yang lebih detil dan lebih jelas dari artikel ini. Karena diriku ini hanya bisa menyampaikan sebatas kemampuanku saja. Sebab masih belajar, bahkan baru di tingkat dasarnya. Sehingga maafkanlah atas kekurangan ini, dan tolong maklumi juga kebodohanku.

Tidak ada jalan yang instan untuk meraih kemuliaan. Semua butuh proses dan cara yang bertahap dalam kesabaran. Semoga kita semua hidup dalam kebaikan dan keselamatan.

Salam Rahayu _/|\_

Jambi, 29 Maret 2017
Harunata-Ra

(Disarikan dari berbagai sumber)

Iklan

15 thoughts on “Diri Manusia Itu?

  1. ninggalin jejak

    …..”Termasuklah rongga yang ada di dalam tubuh yang diisi oleh udara dan ether. Karenanya, dalam tubuh manusia itu ada unsur tanah, air, api, udara dan juga ether. Kelima elemen dasar itu yang disebut dengan Panca Mahabhuta.”

    dan ketika lagi raba-raba tentang ether dan agak nemuin kesoktauan dikit trus kebaca bawahnya..
    .
    ….”Ya. Kau tidak salah tentang hal itu, tapi perlu kau renungkan lagi apakah sudah benar pendapatmu. Sebab jika sebatas itu pemahamanmu, maka setiap manusia itu, sehebat apapun dia, maka tak lebih dari sekedar kelima unsur itu saja.”

    der kaya terbaca pikiran ane broo 😀 mantap, dah kaya sulap aja nih cara penulisannya. 😀
    Semoga tetap diberikan energi untuk melanjutkan tulisan-tulisan selanjutnya broo..terima kasih

  2. Hehe.. Gak lah bro, bukan sulap kok.. cuma kebetulan aja ane pernah berbincang dg diri sendiri, memposisikan diri seperti yg sedang berdiskusi dalam artikel di atas.. 🙂
    Aamiin.. Makasih doanya bro Arvin, makasih juga udah mau baca.. semoga kebaikan dan keselamatan untuk kita semua.. 🙂

  3. Mas bro saya selama ini megikuti cerita anda anda memang sangat luar biasa
    Saya juga orangnya suka tirakat jarang tidur malam lebih banyak semadi daripada tidur malamnya
    Saya sebenarnya lelah dengan keadaan seperti ini di negeriku sendiri siapa dan kapan kah ia muncul ? Aku tetap sabar menunggu , mungkin ada 3 orang yang akan keluar di penghujung zaman ini (Al mahdi, kalki dan isa)
    Saran saya masbro buat cerita perang zaman purba aja kalau saya atau perkara tentang cinta itu lebih menarik di blog anda .

    1. Terimakasih mas Dikydarma atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. tetap sabar aja deh mas, hidup tetap harus dijalani, tentunya dengan kebaikan dan kebenaran.. Biarlah waktu yang menunjukkan bahwa kita telah sampai pada akhir dari penantian.. bahwa sang pemuda telah datang dan menegakkan keadilan dunia.. Siapa yang ingkar akan dimusnahkan, yang bertobat akan dimaafkan dan diajak kembali ke jalan yang benar.. 🙂
      Makasih mas utk sarannya.. Tapi ya saya cuma berusaha yang terbaik aja.. tentu disini gak bisa juga kalo hanya menulis tentang perang zaman purba atau cinta memululu, harus ada variasi, tema dan pembahasan yang lain.. Ya biar pembaca blog ini gak bosan, karena ada pilihan bacaan.. 🙂

  4. Maha Benar Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi. Ya Allah, hanya kepada-Mu kami mengadu. Semoga Hyang Aruta (Tuhan YME) tidak mengunci hati, pendengaran dan juga penglihatan kita untuk selalu terus bertakwa “eling lan waspodo” hati-hati, ingat, mawas diri dan waspada. Dan selalu dalam lindungan-Nya. Mudahmudahan kita selalu diberi kekuatan, kesabaran, kerendahhatian, keikhlasan, kesederhanaan dan selalu pandai bersyukur. Kalau boleh tahu mereka ini siapa ya.. 🙂 Walluha, Birmanu, Maltasi…? Dari apa asal mereka? dan mengapa mereka itu tercipta dan untuk apa? Dan apakah yang akan terjadi setelah semuanya mati atau sirna? Semoga kang Harunatara Hyang Aruta (Tuhan YME) jadikan manusia dengan pribadi yang Menakjubkan.
    Salam.
    Rahayu Salalawasna _/|\_

    1. Aamiin.. Semoga kita diberikan kebaikan dan keselamatan di dunia dan akherat nanti.. 🙂
      Tentang pertanyaan kang Tufail itu, sebenarnya perlu pembahasan khusus agar detil dan jelas. Tapi karena keterbatasan, maka saya hanya akan sedikit menjelaskan secara umum tentang informasi yang gak umum dan semoga bisa menjawab apa yang terbilang khusus.
      Perlu dipahami dulu bahwa ada begitu banyak jenis ciptaan Tuhan, semuanya beragam dan unik. Yang diketahui secara umum kini hanya secuilnya saja. Sebab, alam semesta seperti tempat tinggal kita skr ini tidak hanya ada satu. Langit pertama itu sangatlah luas ukurannya dan secara umum baru diketahui sebagian kecilnya saja. Dibawah kolong langit itu ada banyak alam semesta, setidaknya ada 6 buah alam semesta lain yang setara dengan tempat kita, bahkan lebih. Di setiap alam semesta itu tentu ada banyak galaksi, planet dan makhluk lain yang hidup di dalamnya. Mereka juga harus menjalani takdir Tuhan seperti kita. Tetap harus memilih antara patuh atau membangkang perintah Tuhan. Tapi semua pribadi juga tetap diberikan hak pilih dan kebebasan untuk itu, samalah dengan kita manusia.
      Ya. Langit itu sangatlah luas dan unik. Dan perlu diketahui pula bahwa selain alam semesta, maka ada bermacam jenis dimensi kehidupan yang ada dibawah kolong langit. Sepengetahuan saya, setidaknya ada sekitar 101 dimensi yang berbeda yang menjadi tempat tinggal dari setiap jenis makhluk-Nya. Setiap dimensi itu punya namanya sendiri. Dan kita ini (manusia) tinggal di salah satu dimensi yang ada yang bernama Aryasyi. Dimensi “nyata” inilah (Aryasyi) yang terus menjadi wadah bagi ke-7 buah alam semesta yang ada sampai Hari Kiamat nanti. Diluar itu, di setiap dimensi lainnya, ada lagi alam semesta lain yang tingkat kehidupannya bahkan lebih tinggi dari kita.
      Nah, terkait dengan pertanyaan kang Tufail tentang golongan Walluha, Birmanu, dan Maltasi itu, maka mereka semua itu adalah di antara jenis-jenis makhluk lain yang hidup di tempat lain, bahkan di alam semesta atau dimensi lainnya. Mereka tidak tinggal di dimensi kita, tapi mereka hidup tak jauh berbeda dengan kita – dalam sudut pandang tertentu. Sebab dalam kondisi apapun mereka itu akan menjalani takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan bagi mereka semua. Ada perintah dan larangan yang juga harus mereka tunaikan. Ada banyak urusan, tugas, kewajiban, amanah dan tanggungjawab yang harus mereka laksanakan. Setiap tindakan akan menerima balasannya, di dunia ataupun di akherat nanti. Karena itu, nanti mereka juga akan dihisab seperti halnya kita. Akan masuk surga atau neraka pun sama juga dengan kita.
      Lalu tentang asal usul (bahan dasar) penciptaan mereka, maka perlu diketahui pula bahwa sebenarnya di alam semesta ini jenis elemen itu tidak hanya ada air, tanah, api, udara, ether dan cahaya saja. Ada banyak lagi yang lain yang tidak umum diketahui oleh manusia. Setahu saya, di alam semesta kita ini setidaknya ada 105 buah elemen. Semuanya itu punya peran dan fungsinya masing-masing. Hanya saja memang tak semua orang bisa mengetahuinya.
      Tapi dulu, maka atas petunjuk serta mukjizat yang diberikan Tuhan kepada Nabi Hasipala AS, ke 105 elemen itu pernah ditunjukkan kepada seorang raja sombong yang bernama Yakula. Ia adalah penguasa tertinggi di kerajaan Taratana. Sebuah kerajaan besar yang dulu pernah ada di sekitar wilayah Korea sekarang, tepatnya pada sekitar periode zaman Dwipanta-Ra. Saat itu, sang raja sudah tersesat dengan menyembah kelima elemen alam. Ia pun memaksa rakyatnya untuk mengikuti keyakinannya itu. Kalau tidak mau mereka akan dihukum berat. Oleh sebab itulah, hampir setiap harinya kekerasan dan kezaliman terus di lakukan bagi siapa saja yang tak mau patuh kepadanya. Bahkan sesekali sang raja memerintahkan bawahannya untuk mengoreng hidup-hidup mereka yang tak mau mengikuti keyakinannya itu di depan istana kerajaan. Sampai akhirnya diutuslah seorang Nabi bernama Hasipala AS untuk memperbaiki keadaan buruk di kerajaan Taratana itu. Beliau lalu berusaha untuk menyadarkan sang raja dengan langsung menemuinya di istana. Sang raja ini terkenal sangat sakti dan bisa mengendalikan kelima elemen alam dengan sangat mudahnya. Karena itu ia pun tak mau mudah percaya pada ajakan dari sang Nabi. Dengan sikap yang angkuh, sang raja lalu menantang sang Nabi untuk menunjukkan kebesaran Tuhannya dengan adu kemampuan debat dan kesaktian. Dengan sombongnya sang raja merasa sudah paling hebat di seluruh dunia. Karena itulah ia pun menantang agar sang Nabi bisa menunjukkan elemen lain jika memang ada – sesuai dengan omongan sang Nabi. Dan ternyata atas izin Tuhan, pada saat itulah Nabi Hasipala AS bisa menunjukkan ke 105 jenis elemen lain yang ada. Bahkan di antara elemen-elemen itu ada yang lebih kuat dari kelima elemen yang umum diketahui oleh sang raja. Mulai dari bentuk, warna sampai dengan karakternya, maka setiap elemen itu berbeda-beda. Antara satu dengan lainnya tak ada yang sama. Hal ini jelas mengejutkan sang raja. Tapi karena ia telah dikuasai oleh ego dan kesombongan, tetap saja sang raja berpaling dari kebenaran. Hingga akhirnya harus meneriman azab yang perih sejak di dunia.
      Kisah dan fakta sejarah di atas menunjukkan bahwa di alam semesta ini ada banyak jenis elemen. Memang ada yang umum diketahui, tapi ada banyak pula yang tidak, bahkan tidak pernah dilihat langsung oleh mata manusia Bumi. Karena itu bersikap rendah hatilah dengan pengetahuan kita selama ini. Karena sebenarnya ada banyak sekali yang tidak kita ketahui. Ada banyak sekali rahasia dan misteri di dunia ini. Dan semua hanya sekedar menunjukkan kebesaran Hyang Aruta (Tuhan YME). Bahkan sebenarnya tak perlu.
      Nah, kalau kang Tufail bertanya tentang asal usul (bahan dasar penciptaan) dari ketiga makhluk itu (Walluha, Birmanu dan Maltasi), maka jawabannya adalah bahwa mereka itu terbuat dari unsur/elemen lain di luar kelima elemen yang ada (tanah, air, api, udara, ether). Tentang detilnya, maaf belum bisa saya jabarkan disini, terlebih sangatlah susah untuk menjelaskannya karena memang sulit mencari perbandingannya atau bahkan sekedar kalimatnya dalam bahasa kita. Mereka juga bukan terbuat dari cahaya seperti halnya para Malaikat. Tapi yang jelas mereka itu terbuat dari unsur/elemen lain yang tak umum diketahui oleh manusia Bumi.
      Lalu tentang untuk apa mereka itu diciptakan, maka jawabannya sama dengan kita. Yaitu untuk tetap patuh, berserah diri dan menyembah kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Karena di dunia ini mereka akan mendapatkan ujian hidup untuk membuktikan keimanan mereka ketika masih tinggal di Alam Ruhani dulu. Makanya, semua dari meraka itu juga dianjurkan untuk selalu patuh pada setiap perintah dan larangan-Nya, tak berbeda dengan kita. Tapi memang ada beberapa bentuk syariat mereka yang berbeda dengan kita. Semua itu tentu disesuaikan dengan karakter mereka pula, lah wong mereka itukan bukan manusia yang hidup di Bumi ini, makanya ada beberapa aturan yang bahkan harus berbeda dengan kita. Begitu pula tentang bagaimana nasibnya setelah mati, maka jawabannya pun samalah dengan kita. Ada kehidupan lain yang harus mereka jalani, dimana ketika disana maka setiap dari mereka itu juga harus tetap mempertanggungjawabkan segala bentuk perbuatannya di dunia ini. Yang beriman akan mendapatkan kebahagiaan, sementara yang ingkar akan menerima azab yang perih.
      Sepertinya itu aja yang bisa saya jelaskan kang. Maaf kalau tidak memuaskan, atau justru terlalu panjang dan membosankan. Sekali lagi terimakasih karena sampeyan masih mau berkunjung. Semoga tetap bermanfaat.. 🙂
      Rahayu Bagio _/|\_

  5. ” Tidak ada jalan yang instan untuk meraih kemuliaan. Semua butuh proses dan cara yang bertahap dalam kesabaran. ”

    Quote ini emang benar adanya. Sebuah keberhasilan itu tidak dapat kita dapat secara mudah. Perlu adanya sebuah perjuangan untuk mendapatkannya. Yah, semua itu harus step by step. Terima kasih sudah menginspirasi 🙂

    1. Oke, sama2lah mas/mbak Sasa.. Terimakasih juga atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂
      Ya begitulah seharusnya. Kita mesti tetap sabar dan tekun menaiki tangga kemuliaan itu.. yang gak sabar dan tekun ya takkan sampai di tujuan itu… Perlu keteguhan hati dan usaha yang gigih kalau ingin mendapatkan hasil yang maksimal.. 🙂

      1. I have learn some excellent stuff here. Certainly worth bonakkrmiog for revisiting. I surprise how much effort you set to make this sort of excellent informative site.

  6. Subhanallah. Sahaya menjura ! luarbiasa ilmu pengetahuan dan pengalaman Kang Harunatara ini manusia yang diskusi atau belajar langsung dari para Begawan atau Nurrataya mungkin. Selalu dan tetap banyak manfaat dan juga syafaat buat saya. Hatur Nuhun.
    Salam.
    Rahayu Salawasna _/|\_

    1. Sama”lah kang.. Syukurlah kalo bermanfaat, terimakasih juga karena masih mau menyimak.. 🙂
      Waah jangan gitu kang, saya mah cuma kebetulan aja tau dikit tentang itu.. Saya ini masih awam dan bodoh kang, masih belajar di tingkat dasar.. 🙂
      Rahayu..

    1. Terima kasih mas karena masih mau berkunjung, syukurlah kalo suka dg tulisan ini, moga ttp bermanfaat.. 🙂

      Hmm ttg jiwa dan hati, maka bisa saja orang punya versi dan persepsinya berbeda, semua tergantung dari sudut pandang mana ia melihat dan sudah sebatas mana ia memahami.. Tidak ada yg salah, terlebih keduanya itu termasuk hal yg goib yg bahkan diluar kemampuan kita utk tahu banyak. Hanya saja kita gak boleh berhenti utk mencari tahu. Harus terus belajar dan menggali informasi agar semakin dekat dg kebenaran yg sejati.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s