Revolusi dan Perubahan Dunia

Wahai saudaraku. Manusia telah hidup dalam banyak periode zaman. Dari awalnya dulu, maka sudah terdapat enam zaman yang pernah dilaluinya. Dan kini, kita sedang hidup di periode zaman ke-7 atau yang disebut dengan zaman Rupanta-Ra. Setiap periode zaman itu memiliki batas waktunya sendiri. Ada yang berlangsung selama milyaran tahun, tapi ada pula yang hanya sebatas jutaan tahun bahkan selama ribuan tahun saja. Dan sesuai dengan informasi yang telah kami dapatkan, maka periode zaman Rupanta-Ra ini sudah berlangsung sekitar 7.000 tahun lebih. Mungkin tak lama lagi akan berakhir.

Setiap periode zaman memiliki karakter dan model kehidupan yang berbeda. Segala yang hidup didalamnya pun saling berlainan di antara periode zaman yang berlangsung. Apa yang terjadi di satu periode zaman, tak bisa pula dijadikan patokan (standar) utama bagi kehidupan yang berlangsung di periode zaman lainnya. Setiap periode zamannya itu punya ciri khas, kelebihan dan kekurangannya sendiri. Dan semuanya itu sudah diatur dengan sangat teratur oleh Sang Maha Pencipta, sesuai pula dengan kebutuhan dan kondisi dari hamba-Nya pada masa itu.

Untuk lebih jelasnya, kami akan sebutkan satu persatu nama periode zaman yang dimaksudkan disini. Di antaranya yaitu:

1. Purwa Duksina-Ra (zaman asal muasal manusia)
2. Purwa Naga-Ra (zaman asal manusia kedua)
3. Dirganta-Ra (zaman puncak peradaban dan kesaktian)
4. Swarganta-Ra (zaman puncak ilmu pengetahuan dan teknologi)
5. Dwipanta-Ra (zaman keseimbangan peradaban)
6. Nusanta-Ra (zaman kerajaan besar/kekaisaran)
7. Rupanta-Ra (zaman membingungkan) -> zaman kita sekarang
8. Hasmurata-Ra (zaman puncak keindahan dunia) -> zaman yang akan datang
9. Zaman…?

Ke tujuh zaman di atas – kecuali Hasmurata-Ra, sebab belum terjadi – telah berjalan sesuai dengan yang telah Hyang Aruta (Tuhan YME) kehendaki bagi umat manusia. Ia tidak bisa berpindah atau bergeser sedikit pun bila memang belum waktunya. Semuanya terus berganti sesuai dengan periode yang telah di tetapkan-Nya. Dan pada setiap pergantian zaman, maka terjadi pengurangan masa di dalam waktunya. Artinya, waktu di periode zaman sebelumnya akan terasa lebih lama dari pada waktu di periode zaman berikutnya. Ini akan terus terjadi hingga batas waktu yang telah Tuhan tentukan, yang semuanya itu telah sesuai pula dengan keadaan zaman, jumlah penduduk Bumi, serta kebutuhan hidup dari mereka sendiri. Tak perlu heran, karena Tuhan mampu dengan sangat mudah untuk mengubah hukum alam yang ada.

Dan kita sekarang ini hidup dalam waktu yang paling singkat masanya bila dibandingkan dengan semua periode zaman sebelumnya. Sebagai contoh, 1 hari di periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra) akan sebanding dengan 10 hari di zaman kita sekarang. Dulu, masa dalam satu hari saja pergerakannya akan terasa sangat lambat – karena itulah sangat jauh perbandingannya dengan sekarang. Tapi atas kehendak-Nya, maka di setiap periode zaman itu akan terus berkurang alias semakin cepat, dan terus berkurang hingga hari ini. Karena itulah, waktu peradaban mereka di zaman dulu sangat jauh berbeda dengan kita sekarang. Begitu pula dengan umurnya, karena dulu mereka bisa hidup bahkan selama ribuan tahun. Baca: Waktu yang semakin cepat berlalu: Inikah tanda akhir zaman?

Begitu pula di setiap periode zamannya itu telah terjadi rotasi atau perpindahan tempat tinggal setiap ras dan bangsanya. Contoh, jika sekarang di benua Afrika telah dipenuhi oleh mereka yang berkulit hitam (ras Negroid), maka dulu justru dipenuhi oleh mereka yang bermata biru (ras Kaukasoid dan Nordik). Saat itu orang dari ras Negroid tidak tinggal di benua Afrika, karena mereka itu tinggalnya di benua Australia sekarang. Ini terjadi pada periode zaman ketiga (Dirganta-Ra). Lalu di periode zaman lainnya tempat tinggal dari kedua ras di atas berpindah lagi. Begitulah seterusnya terjadi rotasi berkali-kali sampai pada masa sekarang ini. Dimana ras Negroid itu mayoritas tinggalnya di benua Afrika, sementara yang ras Kaukasoid dan Nordik justru berada di benua Eropa.

Lalu, mengapa ada kata “Ra” pada setiap nama dari setiap periode zaman di atas? Apa maknanya?

Kata “Ra” yang terdapat pada ujung nama periode zaman di atas merupakan simbol titik orientasi penyembahan kepada Hyang Aruta (Tuhan Yang Maha Esa) yang di aplikasikan dalam hidup pribadi dan ketatanegaraan. Karena kata “Ra” ini berarti keagungan-Nya. Sehingga yang dimaksudkan dengan keagungan disini adalah atas rahmat-Nya maka zaman yang sedang berlangsung bisa terjadi dan sebagai tempat dari keberlangsungan kehidupan setiap makhluk, khususnya manusia. Bukan sebagai wujud atau simbol penyembahan kepada matahari atau dewa matahari dan atau sesuatu yang lainnya. Tetapi kepada Dzat Yang Maha Tunggal semata.

Istilah “Ra” juga merupakan konsep ketuhanan dalam penamaan Nusantara di masa lalu, yang artinya adalah “Hur atau Bur” atau Matahari atau Maha Cahaya atau Maha Kuasa (Tuhan). Bukan matahari itu sendiri. Sebab kata “Ra” disini merupakan identitas bangsa Nusantara di zaman dahulu yang disebut sebagai Suryamaril (bangsa Matahari) atau Syampural (Negeri Matahari), atau bangsa yang selalu membawa cahaya kehidupan. Entah sengaja atau tidak, para peneliti Barat kini terbiasa menyebutnya dengan istilah Bangsa Arya.

Sedikit informasi, bahwa konsep tentang “Ra” ini juga terdapat di peradaban Mesir kuno. Disana Ra (Re atau Amun-Ra) merupakan sosok dewa matahari yang dianggap sebagai dewa tertinggi. Konsep ini mereka dapatkan dari Nusantara, sebagaimana penjelasan di atas. Tapi sayangnya telah terjadi banyak pergeseran makna, yang seharusnya merupakan simbol dari Tuhan Yang Maha Esa, yang menjadi titik orientasi penyembahan kepada-Nya dan di aplikasikan ke dalam bentuk ketatanegaraan, malah menjadi perilaku syirik besar. Dan lebih buruknya lagi bahkan rajanya sendiri (Faroh/Fir`aun), yang merupakan anak manusia biasa, disembah layaknya Tuhan sendiri. Bagi yang tak bersedia, maka akan dihukum berat, bahkan dibunuh dengan cara yang keji.

Begitu pula yang pernah terjadi di Nusantara. Pernah suatu masa dimana raja atau ratu dan rakyatnya telah menyembah Matahari. Itu bisa terjadi karena mereka telah salah mengartikan maksud dari kata “Ra” ini. Mereka menerjemahkan makna dari “Ra” sebagai Maha Cahaya dengan logika semata. Sehingga jadilah anggapan mereka bahwa yang di maksud sebagai Maha Cahaya itu adalah apa yang jelas mereka lihat setiap harinya; yaitu matahari. Mereka pun akhirnya juga menyembah matahari itu atau makhluk supranatural yang menurut mereka yang menguasai matahari. Ini sebuah kekeliruan yang terjadi sekian lama, sampai akhirnya ada sosok yang meluruskan kembali prinsip “Ra” yang sesungguhnya, yang telah diterapkan sejak periode zaman sebelumnya. Mereka pun (bangsa Nusantara) kembali kepada prinsip “Ra” yang sejati, yaitu menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Hanya saja, selang beberapa milenia berikutnya, mereka kembali tersesat dengan tidak lagi menyembah dan mengikuti hukum dari Hyang Aruta (Tuhan YME) secara murni. Dan ini terus berulang sebanyak beberapa kali hingga di zaman Rupanta-Ra ini.

Ya. Dalam setiap perputaran roda dunia atau perjalanan waktu di setiap periode zaman itu, selalu ada gejolaknya. Gejolak itu terdiri dari dua jenis, pertama adalah gejolak untuk kebangkitan, sementara yang kedua justru gejolak yang menuju pada kehancuran. Selama setiap periode zaman itu berlangsung pun kedua gejolak ini terus menemaninya. Hanya saja ada masanya dimana level gejolak yang ada terus meningkat dan berdampak luas bagi semua kehidupan di Bumi. Tapi sebaliknya, ada pula hanya sebatas pemanis suasana zaman yang ada – contohnya perang Ramayana dan Mahabharata. Dan di setiap penghujung zamannya, biasanya akan ada perubahan besar dan menyeluruh di seluruh dunia – kami menyebutnya dengan pemurnian total. Dan ketika semuanya itu selesai, maka sejak saat itu pula manusia telah memasuki periode zaman yang baru, yang jelas berbeda dengan zaman sebelumnya.

1. Kondisi zaman Rupanta-Ra
Wahai saudaraku. Karena kita hidup di periode zaman Rupanta-Ra, maka pembahasan selanjutnya akan difokuskan tentang zaman ini saja. Dimana seperti yang kita ketahui sendiri bahwa di masa sekarang ini kehidupan manusia telah mewakili semua jenis dan karakter dari semua periode zaman sebelumnya. Ada masanya manusia hidup dalam cahaya yang terang benderang (dibawah kepemimpinan orang-orang shalih), tetapi tidak sedikit yang hidup di dalam kegelapan dan kebinasaan. Itu pun terus berlangsung hingga hari ini. Dan periode zaman ini adalah zaman dimana ia sangat membingungkan. Sebab di dalamnya banyak sekali terjadi pembangkangan, kemaksiatan, kemunafikkan, kesyirikan, dusta, fitnah, adu domba, riya’, keserakahan, kesewenang-wenangan, lupa diri dan cinta duniawi. Pertempuran besar kerap terjadi, bahkan disebut pula dengan perang dunia karena telah melibatkan hampir seluruh negara yang ada. Kebodohan pun tidak lepas darinya, lantaran banyak sekali orang yang sebenarnya pintar tapi senang mengikuti ajakan setan yang ingin memperbudak manusia. Sehingga, dan bila tiba waktunya nanti, zaman ini pun akan berakhir. Yang tentunya disertai dengan perang dahsyat dan bencana yang sangat besar (azab Tuhan) dalam berbagai cara. Tanda-tandanya sudah terlihat jelas di sekitar kita.

Sungguh, zaman yang satu ini telah benar-benar sering terlepas dari apa yang pernah ada (tradisi) di wilayah Nusantara dulu. Yaitu sebuah prinsip “Ra” yang sejati (aturan Tuhan Yang Maha Esa) dengan hanya menggunakan hukum Tuhan sebagai sistem ketatanegaraan secara murni. Apapun alasannya, dengan mengikuti aturan yang dibuat oleh manusia kini (demokrasi, sosialisme, fasisme, nazisme, komunisme, liberalisme, kapitalisme, dll) tetaplah tak sesuai lagi dengan prinsip “Ra” yang sebenarnya, yang pernah ada di Nusantara pada masa lalu.

Padahal, di akhir periode zaman ini ajaran Tuhan telah lama disempurnakan. Ada banyak pula yang menghafal serta mengajarkannya. Namun, itu tetap tidak menjadikan orang-orang yang hidup di akhir periode zaman Rupanta-Ra ini menjadi lebih banyak yang zuhud dalam hidupnya atau mumpuni keimanannya. Mereka memang pernah hidup dalam kebaikan dan keridhaan-Nya, tetapi itu tidak berlangsung lama. Karena tak lama kemudian banyak sekali dari mereka yang kembali kepada kejahiliyahan, tentunya dalam versi yang baru. Sehingga periode zaman ini pun adalah satu periode yang paling membingungkan dari semua periode zaman sebelumnya. Karena segala sesuatu yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia sebenarnya telah ada, lengkap dengan semua fasilitas yang cukup murah dan mudah. Namun sayang, itu tidak lantas menjadikan mereka tetap berada dalam kebenaran dan keimanan yang sejati. Mereka justru telah melakukan kerusakan yang pernah di lakukan oleh semua kaum terdahulu, bahkan lebih parah dan tidak jarang justru melakukan hal-hal buruk yang belum pernah di lakukan oleh kaum-kaum yang pernah ada di masa lalu. Dan semua ini sudah menjadi pilihan hidup mereka dan mereka sangat bersikeras dengan hal itu. Makanya saat ada yang mengingatkan tentang jalan kebenaran, justru yang mengingatkan itulah yang dianggap telah sesat lalu dikucilkan, bahkan jika perlu harus dibunuh. Ini sering terjadi dalam kurun waktu yang tidak singkat.

Ya. Tentulah zaman Rupanta-Ra (zaman kemunafikan) ini, yang tidak lagi menganut konsep “Ra” yang sejati itu, akan cepat berakhir. Caranya bisa beraneka ragam, seperti; bencana lemah terbam (tanah amblas), gempa bumi, angin topan, tsunami, gelombang panas dan kekeringan, badai salju, gunung meletus, hujan meteor dan “pembataian massal” yang di lakukan oleh “Pasukan Langit”. Sebagaimana yang dulu pernah terjadi di zaman kelima (Dwipanta-Ra), yang telah dimusnahkan semua peradabannya. Sehingga berakhirlah zaman yang “sangat unik” ini (Rupanta-Ra) dan di masa depan nanti akan  meninggalkan sejarah yang sangat memilukan. Dan semua itu memang harus terjadi, agar kehidupan yang lebih baik di periode zaman yang baru nanti segera terwujud.

“O.. Untuk menyempurnakan revolusi, akan ada penghancuran yang menyeluruh. Itu harus terjadi, karena masa depan tak boleh dikorbankan. Dan untuk bisa melaksanakannya, maka peradaban atau kebiasaan yang ada kini, yang terus memberikan duka dan kekacauan, harus dikubur. Semua yang tak sejalan dengan aturan Tuhan, akan dimusnahkan. Agar muncul kebudayaan baru yang lebih baik di dunia ini. Waktulah yang menentukan kapankah itu terjadi. Dan semua akan patuh kepada waktu yang terus berjalan, tanpa kompromi”

2. Transisi zaman dan permurnian total
Sungguh, pada masa transisi zaman nanti, semua jenis dan golongan makhluk akan terlibat. Mereka juga akan saling bersinggungan tanpa ada pembatas lagi seperti sekarang. Setiap dari mereka itu punya bagian tersendiri dari proses pergantian zaman ini. Ada yang berperang, ada pula yang bertugas menyelamatkan. Dan sebenarnya ini bukanlah yang pertama dalam kehidupan dunia. Karena sejak milyaran tahun silam, ada “Pasukan Langit” yang telah mengelilingi, memonitor dan bekerja untuk melindungi dan memastikan kehidupan di Bumi ini tetap pada jalur kebenaran Yang Absolut. Dan ketahuilah bahwa mereka itu berasal dari alam yang vibrasi dan dimensinya lebih tinggi dari kita. Karenanya mereka juga punya kemampuan yang luar biasa, dan tentunya di atas kita. Baca: Nurrataya: para penjaga bumi dalam masa transisi zaman. 

Lantas mengapa harus mereka? Mengapa pula mereka datang dan menghakimi? Itu karena kehidupan di Bumi ini telah terpuruk dan buruk sekali kondisinya. Jalan yang murni dan suci telah lama ditinggalkan, dan orang-orang kian lupa dengan diri sejatinya. Terlalu banyak tuhan, terlalu banyak pula imajinasi yang keliru tentang cinta dan kesempatan. Akibatnya terlalu banyak pula keserakahan, pengerusakan alam dan perang. Dan mereka ingin semua orang juga mengikuti apa yang telah ia lakukan dengan alasan kebebasan dan hak pilih. Siapapun yang mengajak untuk kembali pada kebenaran Tuhan akan dicap sebagai orang yang sok suci atau malah dibilang sesat. Sehingga kehidupan di Bumi ini pun kian buruk dan tak seimbang lagi.

Oleh sebab itu, mereka itu (Pasukan Langit) akan muncul lagi dalam kapasitasnya sebagai hakim dan algojo. Mereka itu bertugas dalam menjaga keseimbangan alam yang berpusat di Bumi ini – jika kehidupan di Bumi rusak maka semua tempat di alam raya ini juga ikutan rusak, begitu pula sebaliknya. Dan mereka tetap hadir dengan kekuatan yang sangat besar yang tak tertandingi oleh manusia Bumi. Semua itu hanya untuk menunjukkan bahwa Tuhan Yang Sejati tetaplah Yang Maha Perkasa. Walau tak terlihat, Tuhan Yang Esa itu tetaplah yang menguasai segalanya. Mereka (Pasukan Langit) itu adalah bukti nyata – yang bisa dilihat langsung oleh manusia Bumi sekarang – tentang kekuatan dan keberadaan Tuhan. Sehingga dari “Pasukan Langit” itu, maka hadirlah kembali aturan dan tuntunan suci untuk umat manusia. Bagi yang mengikutinya, maka hidupnya akan selamat dan sejahtera. Namun bagi yang tak bersedia, maka hidupnya akan penuh musibah dan kerugian.

Dan kehidupan pun terus berlanjut, sementara transisi zaman ini akan tetap berlangsung sesuai waktu-Nya. Lalu, setelah berakhirnya periode zaman Rupanta-Ra ini, berikutnya akan bangkitlah sebuah konsep “Ra” yang murni, dengan tatanan peradaban yang sesuai pula dengan hukum Tuhan Yang Sejati. Konsep di periode zaman itu akan sama halnya dengan di zaman awalnya dulu, yaitu zaman Purwa Duksina-Ra. Namun dikarenakan berbeda zaman dan topografi wilayah yang tidak lagi sama, maka ia akan menyandang nama sebagai zaman Hasmurata-Ra atau yang berarti zaman keadilan, keindahan dan keseimbangan dunia. Sebuah tatanan “Ra” yang sejati dan akan meliputi di 75% wilayah dunia. Dan inilah zaman yang terindah, yang telah lama dikabarkan oleh para utusan Tuhan sejak milyaran tahun silam.

Jadi, periode zaman Hasmurata-Ra inilah yang pernah dikabarkan oleh para utusan Tuhan dan kitab suci sejak dulu. Sebuah zaman yang tidak akan lama lagi menjelang. Karena tanda-tanda yang pernah dijelaskan telah nyata adanya. Di periode zaman Hasmurata-Ra itu, akan bangkit sebuah peradaban yang terbesar dan termegah dalam sejarah umat manusia. Mungkin tidak akan ada lagi yang semisal dengannya, bahkan sampai di Hari Kiamat nanti. Dan yang terjadi pada masa itu adalah berdirinya sebuah ibukota negara, di sebuah tempat di Bumi ini, dengan nama yang memiliki makna sebagai pusat peradaban dunia. Kota tersebut begitu indahnya, tak pernah disaksikan oleh siapapun sebelumnya. Baca: Periode zaman Hasmurata-Ra.

Selanjutnya, pada waktu itu telah berkuasa sistem ketatanegaraan yang berlandaskan pada hukum Tuhan yang murni. Begitu pula dengan tulisan dan bahasa yang ada, semuanya telah digantikan dengan yang baru yang sesuai dengan petunjuk Tuhan. Memang akan ada perang dahsyat yang belum pernah disaksikan sebelumnya (karena tidak hanya melibatkan sesama manusia, tapi semua makhluk yang ada di alam semesta), tapi perang itu ibarat menyapu halaman rumah agar bersih dari kotoran. Setelah pertempuran itu, barulah tercipta ketertiban dan keteraturan di seluruh dunia, di setiap dimensi yang ada. Kehidupan semua makhluk – kecuali sang kegelapan dan pengikutinya – akan kembali harmonis seperti dahulu kala. Inilah masa dimana keindahan dunia secara adil dan seimbang bisa terwujud dengan nyata. Inilah periode zaman Hasmurata-Ra. Tapi hanya akan dirasakan oleh mereka yang telah mempersiapkan diri dari sekarang dan tetap teguh dengan jalan kebenaran yang sejati.

Kemudian, sebagaimana kehendak-Nya, maka zaman Hasmurata-Ra pun akan berakhir. Semuanya hilang seiring dengan kembali rusaknya akhlak manusia. Pada masa itu tak ada lagi kebaikan yang sejati, karena semua orang akan larut dalam kekufuran dan cintai duniawi. Dan ini terus berlangsung sampai ketentuan dari Hyang Aruta (Tuhan YME) berlaku lagi bagi semua makhluk. Kehidupan dunia pun akan berubah secara drastis.

3. Penutup
Wahai saudaraku, mari kita merenung sejenak. Dulu butuh waktu 100 tahun hingga populasi manusia bisa mencapai satu milyar orang. Lalu 100 tahun lagi sudah sampai 2 milyar. Kemudian cukup 50 tahun saja untuk berlipat ganda. Lalu berlipat ganda lagi hingga sampai jumlah 4 milyar orang lebih.

Nah, angka 4 milyar itu terjadi di tahun 70-an. Dan sejak tahun 70-an itu, pertumbuhan jumlah manusia semakin pesat. Jika saat itu jumlahnya baru sekitar 4 milyar orang, kini sudah berada di angka hampir 8 milyar. Sudah meningkat dua kali lipatnya hanya dalam waktu 4 dekade terakhir. Dengan jumlah yang sebanyak itu, lahan penghidupan manusia kian sempit, sementara ukuran Bumi tak pernah bertambah. Akibatnya Bumi tak lagi seimbang karena sudah kelebihan kapasitasnya. Populasi manusia sudah terlalu banyak, dan semakin rentan untuk saling bertikai. Kerusakan pun kian bertambah parah oleh sebab polusi dan pemanasan global. Belum lagi jika ditambah dengan eksploitasi dan keserakahan manusia. Karena itu hampir 50% species hewan telah hilang hanya dalam beberapa dekade ini.

Coba bayangkan saat 40 tahun nanti, saat jumlah manusia bisa mencapai 32 milyar orang. Dengan jumlah yang sebanyak itu, nanti manusia akan saling bertarung dan membunuh hanya untuk bertahan hidup. Sehingga menjadi wajar, jika sejak sekarang alam sudah mulai menyesuaikan diri. Ia akan mengurangi jumlah manusia dalam berbagai cara; azab dan bencana. Akan datang pula pemurnian secara total, yang akan mengurangi populasi manusia secara drastis. Tujuannya untuk mengembalikan keseimbangan dan keharmonisan hidup di Bumi ini.

Jadi, semua musibah, wabah dan tragedi yang terjadi saat ini oleh sebab kelebihan populasi manusia. Pengendalian angka kelahiran takkan berhasil. Saat ini jumlah penduduk Bumi sudah terlalu banyak, berlebihan. Bahkan kita sendiri telah merusak satu-satunya sarana yang olehnya kehidupan bisa ditopang. Kita pun masih saja menyerang satu-satunya sumber daya kehidupan kita. Itulah lingkungan hidup kita sendiri.

Ya. Tak perlu malapetaka untuk menyadari kesalahan kita sendiri. Karena malapetaka itu hanya untuk menarik perhatian kita. Agar kita sadar dan mau segera berubah. Agar kita tergugah dan segera mempersiapkan diri. Sebab tak ada yang mampu mengubah perilaku selain kemauan. Dan jika kita tak juga sadar diri, mungkin azab yang perih baru bisa menyadarkannya. Sebab, sifat buruk manusia itu adalah virus ganas yang bersarang di dalam dirinya sendiri. Bisa hilang hanya dengan keinginan yang kuat dan usaha yang sungguh-sungguh untuk sembuh.

Untuk itu, segeralah sadar dan bergegaslah untuk mempersiapkan diri. Jangan pernah mengabaikan kesempatan yang masih ada sekarang. Sebab kehidupan dunia ini akan berganti, dan transisi zaman itu sudah menjelang terjadi – pemanasannya sudah dimulai. Permurnian total itu takkan pandang bulu. Hanya yang telah siap dan tunduk patuh kepada aturan dari Hyang Aruta (Tuhan YME) saja yang akan selamat atau diselamatkan. Mereka itulah yang akan memulai kehidupan yang baru dalam kebahagiaan. Sedangkan bagi yang tidak bersiap, maka akan merasakan penyesalan dan penderitaan saja.

Salam Rahayu _/|\_

Jambi, 24 Maret 2017
Harunata-Ra

Catatan penting:
1) Sesuai protap, maka ada beberapa bagian yang tak bisa kami jelaskan secara detil. Maafkanlah kami atas kekurangan itu. Karena tulisan ini memang hanya sebatas pengantar saja, untuk memberi wacana dan wawasan yang baru bagi para pembaca sekalian. Jadi, yang kami sampaikan disini hanya sebatas yang diizinkan saja.
2) Apa yang disampaikan dalam tulisan ini tidak akan terlepas dari takdir Tuhan. Artinya, semua uraian di atas bisa saja benar tapi juga bisa salah. Terlebih Dia pun bisa saja mengubah-ubah takdir sesuai kehendak-Nya, tak ada yang bisa mencegahnya. Hanya Dia-lah yang Berkuasa dan Sempurna.
3) Mungkin ada yang menganggap bahwa tulisan ini hanya sebatas imajinasi yang mengada-ada. Silahkan Anda berpikiran seperti itu, kami takkan kecewa atau marah. Tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja. Percaya syukur, tapi kalau tidak ya silahkan. Itu hak dan pilihan Anda. Tapi yang jelas kebenaran itu akan tiba pada waktunya.

Iklan

9 thoughts on “Revolusi dan Perubahan Dunia

  1. Segala puji bagi Allah yang nilai-Nya tak dapat diuraikan oleh para pembicara, yang nikmat-nikmat-Nya tak terhitung oleh para penghitung, yang hak-hak-Nya (atas ketaatan) tak dapat dipenuhi oleh orang-orang yang berusaha menaati-Nya; orang yang tinggi kemampuan akalnya tak dapat menilai, dan penyelam pengertian tak dapat mencapai-Nya; la yang untuk menggambarkan-Nya tak ada batas telah diletakkan, tak ada pujian yang maujud, tak ada waktu ditetapkan, dan tak ada jangka waktu ditentukan. la mengadakan ciptaan dengan kodrat-Nya, menebarkan angin dengan rahmat-Nya, dan mengukuhkan bumi yang goyah dengan batu. sebelumnya saya penasaran akan arti dari periodesasi zaman ke 1 dst, ternyata terjawab… 🙂 sebenernya masih banyak pertanyaan terutama beliau ini sang calon pemimpin (zaman puncak keindahan dunia) Sri Maharaja Dwipa Eka Mandala Sri Hyang Arya Wangsa Bhuwana Pasya, tapi ada Protap dari dan yang harus dijaga Kang Harunatara, semoga kita diberikan petunjuk pada hari H-nya nanti agar terhindar, selamat atau diselamatkan pada saat pergantian zaman terjadi. saya doakan semoga kita terus disertai kebaikan dan kebahagiaan dunia akherat.
    Salam.
    Rahayu Salawasna _/|\_

    1. Waaww.. kata-kata yang indah dan menyejukkan hati kang Tufail, Saluuut saya.. bolehlah diri ini belajar untuk bisa nulis seperti sampeyan… 🙂
      Syukurlah kalau skr pertanyaan itu sudah terjawab.. Dan maaf kang kalau gak semuanya bisa di jelaskan, selain masih harus dirahasiakan, tentu gak mungkin semuanya saya jelaskan di blog ini.. butuh satu buku khusus kok untuk menjelaskannya.. dan walau sudah memuat ribuan halaman, itupun belum semuanya, baru sebagiannya aja.. Khusus tentang sosok itu, bukan hak saya untuk menjelaskannya sekarang.. biarlah waktu yang menunjukkan nanti.. Saya tetap dengan tugas untuk menyampaikan sebatas yang diizinkan saja, protap harus tetap dipatuhi..
      Aamiin.. semoga kita bisa selamat atau diselamatkan nanti.. Semoga kita bisa bertemu di periode zaman yang baru nanti dalam kebahagiaan.. dan terlebih lagi di akherat nanti dalam kemuliaan… 🙂 Rahayu Bagio.. _/|\_

  2. Aduhhh… saya jadi malu… 🙂 tulisan ini saya copas dari Imam Ali As Menggambarkan Penciptaan Bumi dan Langit Serta Kelahiran Nabi Adam As. : https://dialogsunnisyiah.com/2017/02/26/imam-ali-menggambarkan-penciptaan-bumi-dan-langit-serta-kelahiran-nabi-adam/. benar sekali sangat menyejukkan hati dan jiwa, saya masih awam dan bodoh yang tak kunjung pintar, sama Kang Harunatara-lah justru saya ingin berguru, banyak sekali manfaat yang saya dapat dari catatan akang. semoga tidak patah semangat untuk terus memberikan pencerahan dan selalu ditunggu tulisantulisan selanjutnya.
    Aminnn Ya Robb. Mudahmudahan Hyang Aruta (Tuhan YME) kasih kita dan keluarga petunjuk agar terhindar, selamat dan diselamatkan dari Marabahaya, Bencana, Musibah dan Malapetaka yang ada di dunia ini. Insya Allah besar sekali keinginan ini untuk bisa bersilaturahim, kalau mau dibandingkan besarnya keinginan ini dengan besarnya Gunung Tangkuban Parahu masih besar gunung tsb… 🙂
    Salam.
    Rahayu Salawasna _/|\_

    1. Ow gitu yah.. pantesan hikmahnya dalam banget.. beliau itu pintunya ilmu.. 🙂
      Syukurlah kalo ada manfaatnya kang, dan nuhun karena masih mau berkunjung di blog ini.. 🙂
      Tapi jangan begitulah kang, saya ini juga baru belajar kok.. gak pantes banget jadi guru, tar malah memalukan.. Kita sama-sama belajar aja deh, biar sama-sama pinternya.. Dan mungkin justru sayalah yang harus banyak belajar dari sampeyan.. 🙂
      Siaap kang, akan saya usahakan… Dan hari ini saya ada rencana mau upload tulisan tentang Diri Manusia. Sedikit berbagi untuk yang berminat, siapa tau bermanfaat.. Silahkan kalau sampeyan mau baca.. tapi ya maaf kalo nanti kurang memuaskan, maklumlah saya ini masih awam.. 🙂
      Aamiin ya Robb, semoga kita selamat dunia dan akherat. Rahayu Bagio.. _/|\_

    1. Hmm.. pasukan langit yang mana nih mas/mbak Nadnad? Kalo Pasukan Langit yang saya maksudkan di blog ini tidak tinggal atau berada di Bumi. Mereka semua berada di luar atmosfer Bumi.. Lalu tentang apakah saya pernah bertemu? maka saya tidak bisa menjawabnya, tapi mas/mbak Nadnad tentu bisa menyimpulkan sendiri dengan memperhatikan beberapa tulisan saya.. 🙂

      1. Panggil saja mbak. Terima kasih untuk balasannya. Semoga di lain waktu bisa membahas lagi tentang Pasukan Langit tersebut.

      2. Hmm sebenarnya saya udah menebak, cuma dari pada salah makanya panggil mas/mbak hehe… 🙂
        Seeplah.. saya panggil mbak Nadnad deh skr.. 🙂
        Sama2lah mbak, semoga kita masih diberi kesempatan nanti… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s