Candi Prambanan: Kisah Cinta Yang Terlupakan

Wahai saudaraku. Tanpa mengurangi rasa hormatku kepada para ahli sejarah dan arkeolog, sudah waktunya ku sampaikan kisah tentang berdirinya Candi Prambanan. Memang bangunan candi yang megah ini sudah tidak asing lagi bagi rakyat Nusantara, khususnya orang Jawa. Karena siapa yang tidak tahu tentang kisah pembangunan seribu candi hanya dalam semalam itu? Dan meskipun telah terkubur selama berabad-abad, akhirnya bisa ditemukan kembali pada sekitar tahun 1733 oleh CA. Lons, seorang yang berkebangsaan Belanda.

Namun demikian, disini kami berusaha untuk memberikan persepsi baru dan sedikit meluruskan kembali tentang kebenaran dari sejarah yang ada. Karena memang selama ini sudah terjadi banyak pergeseran fakta dan maknanya, sehingga kisah sejarah ini terkesan hanya sekedar legenda rakyat saja, bahkan sebagian orang justru menganggapnya sebatas mitos dan dongeng belaka. Dan kalau pun ada yang meyakini bahwa candi ini tetap dibangun oleh sebuah kerajaan dalam waktu yang relatif lama, maka itu juga belum sepenuhnya benar. Itu bukanlah kisah yang sebenarnya, karena yang mereka ketahui itu hanya sebatas satu kerajaan (tepatnya Medang/Mataram kuno) yang pernah merenovasinya saja, bukan yang mendirikannya. Bahkan sebenarnya zamannya pun berbeda, karena kerajaan Medang itu tidak se-zaman dengan masa awal pembangunan candi ini. Kerajaan Medang itu berdiri sekitar abad ke 8-9 Masehi, sementara Candi Prambanan sendiri telah dibangun pada masa kerajaan Artimanggala, tepatnya pada sekitar ±7.100 tahun silam.

Untuk mempersingkat waktu, mari ikuti penelusuran berikut ini:

Kisah tentang pembangunan Candi Prambanan ini kami dapatkan dari sebuah kitab kuno berbahasa Hanastarala. Kitab itu sendiri ditulis pada sekitar ±7.050 tahun silam dan diberi nama Wihatasi. Sementara itu, dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa pendirian dari Candi Prambahan itu terjadi pada sekitar ±7.100 tahun yang lalu, atau 50 tahun sebelum penulisan kitab Wihatasi ini selesai.

Pada saat itu terdapatlah sebuah kerajaan besar di sekitar antara kabupaten Sragen dan Salatiga, Jawa Tengah sekarang. Kerajaan besar itu bernama Artimanggala dengan Hartimala sebagai rajanya. Kerajaan ini sangat berpengaruh khususnya di tanah Jawa pada masa itu. Namun jika sekarang tidak ditemukan bukti peninggalannya, maka itu semua terjadi lantaran istana kerajaan ini telah hancur akibat dari bencana gempa bumi dan terkubur jauh di dalam tanah oleh letusan gunung Merapi dan Merbabu dimasa silam.

Gambar 1. Foto: Suasana Candi Prambanan dan pengunjungnya

Alkisah. Di kerajaan ini hiduplah seorang putri yang cantik jelita bernama Arnihala. Informasi tentang kecantikan putri yang satu ini sudah menyebar ke segala penjuru Nusantara, bahkan telah sampai pula di banyak kerajaan di luar Nusantara seperti yang ada di tanah India dan China. Informasi tentang kecantikan dari putri Arnihala ini pun telah sampai juga pada seorang pemuda yang tinggal di kerajaan Pasturingga. Ia bernama Sumariya. Tapi pada saat itu ia tak begitu peduli karena ia masih senang berpetualang.

Saat melihat kecantikan dari Putri Arnihala, tak seorang pun yang ingin berpaling. Kecantikannya memang tiada duanya, menjadi idaman dan cita-cita banyak pria. Tak terkecuali Sumariya, karena ia pun akhirnya sangat tertarik kepada sang putri dan berniat untuk meminangnya. Sumariya sendiri bukanlah orang sembarangan, karena dia adalah seorang pangeran yang berasal dari kerajaan Pasturingga. Kerajaannya itu dulu berada di sekitar Cirebon sekarang, tepatnya di kaki gunung Indrakila (gunung Ceremai).

Dan pada akhirnya, telah datang silih berganti para raja dan pangeran dari berbagai negeri yang ingin meminang sang putri, tapi tak satupun yang diterimanya. Selain belum ada yang cocok, memang sang putri sendiri belum ingin berumahtangga. Kalau pun harus menikah, ia ingin cintanya diserahkan hanya kepada orang yang benar-benar ia cintai, tak peduli apakah ia bangsawan atau pun rakyat jelata.

1. Parwa II: Bertemu pemuda idaman
Sebagaimana tradisi di kerajaannya, maka sejak kecil Putri Arnihala harus menempuh pendidikan di luar istana. Pada saat itu, semua kerabat raja harus belajar pada seorang guru yang tinggal jauh dari istana. Nah pada saat itu, sesuai dengan pilihan ayahnya, Putri Arnihala pun berguru kepada seorang Resi yang kharismatik bernama Jaminata. Kepada guru tersohor itu, Putri Arnihala belajar tentang banyak ilmu dan keahlian. Tidak kurang dari 15 tahun ia menjadi cantrik (murid) di asrama Resi itu. Dalam kurun waktu tertentu, atas perintah dari gurunya, Putri Arnihala harus melakukan pengembaraan untuk mengasah kemampuan dan wawasannya.

Demikianlah bagaimana Putri Arnihala menempuh pendidikan khusus demi kehidupannya nanti. Selama di asrama Resi Jaminata, ia telah menguasai ilmu hukum, agama, sastra, ketatanegaraan, ekonomi, astronomi, pertanian, peternakan dan tentunya ilmu kanuragan dan kadigdayan. Dengan berbagai ilmu itu, Putri Arnihala mampu memimpin kerajaan dengan baik. Dan memang, di suatu saat nanti ia harus mewarisi tahta kerajaan dari ayahnya.

Singkat cerita, seusai menempuh pendidikan di asrama Resi Jaminata, sebagai seorang putri raja Arlihala harus segera kembali ke istana. Disana, selama dua tahun lebih Putri Arnihala membantu tugas dan tanggungjawab sang ayah, Prabu Hartimala, dalam mengurus negara. Jika tak sibuk, sesekali ia berkunjung ke salah satu istana keputren yang ada di kadipaten Maliram. Lokasinya berada tepat di sebelah timur kota Jogja sekarang, dan orang-orang kini menyebutnya dengan nama komplek Candi Ratu Boko. Disana, untuk beberapa waktu sang putri akan menikmati liburan dan sekaligus mencari suasana yang baru.

Catatan: Komplek Candi Ratu Boko ini sempat beberapa kali dibangun dan dipugar oleh banyak kerajaan yang berkuasa di masa lalu. Apa yang ada dimasa Putri Arnihala tentu jauh berbeda dengan yang bisa kita lihat sekarang. Yang ada sekarang itu, sudah pernah terjadi perubahan besar-besaran.

Di keputren yang diberi nama Samruna itu Putri Arnihala merasa bahagia. Ia ditemani oleh banyak orang yang menyayanginya. Lalu sebagai seorang putri raja, tentulah ia sangat memperhatikan penampilannya. Ia sering mengenakan pakaian atau selendang yang berwarna biru dan ungu. Baik bangsawan atau rakyat jelata yang bertemu dengannya akan sangat mengaguminya. Ia cantik jelita dan juga sangat baik hati.

Suatu hari, karena pernah hidup seadanya di pedesaan, tanpa sepengetahuan para dayang dan pengawalnya, Putri Arnihala meninggalkan keputren. Malam itu ia ingin sekedar berjalan-jalan untuk melihat kondisi rakyatnya. Kebetulan pada malam itu sinar bulan purnama sedang begitu terangnya. Langit pun cerah tanpa awan, seolah-olah mendukung niat dan tindakan dari sang putri.

Singkat cerita, dengan menyamar sebagai rakyat biasa Putri Arnihala pun pergi meninggalkan keputren. Dengan kemampuan yang dimiliki, cukup mudah baginya untuk bisa melewati para dayang dan penjaga keputren yang sedang berjaga. Setelah cukup jauh dari istana keputren, tepatnya di sebuah lereng bukit, sang putri melihat ada perkampungan kecil. Setibanya disana, ia melihat para warga sedang dirundung ketakutan. Saat ditanya, mereka lalu menjawab bahwa di kampung mereka itu sedang terjadi wabah penyakit. Gejalanya mirip dengan penyakit cacar, dimana pada bagian tubuh tertentu muncul bintik-bintik berwarna putih kemerahan yang berair bila pecah. Baunya sangat amis dan mudah menular jika tersentuh.

Sang putri pun mencari tahu penyakit apakah itu dan ia ingin segera membantu. Bagaimana pun ia sempat belajar ilmu pengobatan kepada gurunya, Resi Jaminata. Dan meski di larang, sang putri tetap bersikeras. Akhirnya salah seorang warga mau mengantarkannya melihat kondisi mereka yang berada di pengasingan. Setiba di lokasi itu, betapa terkejutnya mereka karena semua orang justru sudah mulai sembuh. Saat ditanya bagaimana itu bisa terjadi, mereka menjawab bahwa ada seorang pria yang mengobati mereka. Entah dari mana, pria tersebut menemui mereka, memeriksa dan memberikan obat khusus. Ada yang harus diminum, ada pula yang harus dioleskan pada kulit. Sekarang pria itu sedang ke sungai untuk mengambil air.

Informasi itu sungguh melegakan sang putri dan lelaki yang saat itu sedang mengantarkannya. Tapi karena penasaran, Putri Arnihala pergi ke sungai untuk bertemu langsung dengan pria yang telah mengobati penduduk. Dalam bayangannya, pria itu pastilah seorang Resi atau Tabib yang sudah berumur. Namun, ternyata tebakannya itu salah. Pria yang dikiranya sudah tua itu justru seorang pemuda yang tampan. Meskipun ia berpakaian sederhana ala rakyat jelata, sang pemuda tetap memancarkan aura yang menawan. Tanpa sadar, sang putri jadi salah tingkat saat bertatapan mata dengan sang pemuda.

Waktu pun berlalu tapi kedua teruna itu justru diam seribu bahasa. Bukan hanya Puteri Arnihala, ternyata sang pemuda juga salah tingkah saat dihadapannya kini ada seorang gadis cantik. Dalam hatinya ia sempat berkata; “Sungguh beruntungnya diri ini karena telah memandang satu keindahan Tuhan yang tiada banding. Darinya memancar kesejukan dan kedamaian hati. Ia pun senang menunduk dalam keanggunan. Itu jelas terlihat dari sikapnya yang santun” Dan sebagai seorang pria, tentunya sang pemudalah yang harus memulai pembicaraan. Sang putri pun membalasnya dan langsung bertanya tentang siapakah diri sang pemuda. Mengapa ia mau mengobati orang yang terkena wabah penyakit, sementara orang lain akan segera menjauh karena takut tertular.

Pertanyaan itu lalu dijawab oleh sang pemuda dengan berkata; “Namaku Sallu, asalku dari negeri Pasturingga. Kedatanganku di desa ini sebenarnya tanpa disengaja. Kebetulan tadi pagi sedang lewat di kampung ini. Dan karena melihat warganya terkena penyakit, dengan izin Tuhan aku bisa membantu mereka. Dan saat ini sebenarnya aku masih dalam misi pengembaraan dalam mencari ilmu dan pengalaman hidup. Beberapa negeri pernah ku singgahi, dan jika ada yang butuh pertolongan, maka dengan senang hati akan ku bantu semampuku”

Begitulah setidaknya yang dikatakan oleh sang pemuda yang ternyata bernama Sallu itu. Ia pun balik bertanya kepada sang putri tentang siapakah dirinya itu. Pertanyaan itu lalu dijawab oleh sang putri dengan berkata: “Namaku Wilani, dan sama sepertimu bahwa aku juga sedang dalam pengembaraan mencari ilmu dan pengalaman. Dan kebetulan malam ini sedang lewat di kampung ini untuk mencari tempat istirahat”

Entah kenapa, kedua teruna itu sengaja menyembunyikan jati diri mereka yang sebenarnya. Namun demikian itu tak jadi soal, karena bagi mereka apalah arti sebuah nama dan kedudukan. Dan mereka terus berbincang sambil berjalan pulang ke pondok tempat warga yang sakit. Tak sampai disitu saja, di pondok bambu itu sang putri turut membantu Sallu merawat warga. Dan ketika fajar telah mulai menyingsing, ia pun berpamitan dengan alasan harus melanjutkan perjalanan. Sallu dan warga yang ada mempersilahkan sang putri melanjutkan perjalanan. Sebelum pergi, mereka semua tak lupa mengucapkan terimakasih.

Setelah memberikan ramuan obat dan mengajari warga membuat obat sendiri, Sallu juga berniat melanjutkan pengembaraannya. Ia lalu berjalan ke arah barat dan berkunjung ke beberapa tempat sebelum akhirnya kembali ke negerinya. Sementara sang putri langsung kembali ke keputren. Disana ternyata ia sudah dicari-cari oleh para dayang karena memang sudah lama kehilangan dirinya.

Singkat cerita, waktu pun berlalu hingga beberapa purnama. Tapi entah mengapa pertemuan saat itu terus membekas dihati kedua insan teruna itu. Antara Wilani alias Putri Arnihala dan Sallu masih mengingat betul perkenalan mereka. Meskipun pertemuan itu singkat, keduanya telah hapal dengan segala gerak-gerik, tutur kata dan bentuk fisik masing-masing. Tanpa sadar keduanya pun larut dalam pelukan cinta.

2. Parwa III: Sayembara penyebab malapetaka
Suatu hari, Prabu Hartimala memikirkan nasib anaknya, Putri Arnihala. Di usianya yang ke 25 tahun itu, maka sudah waktunya untuk mencari pendamping. Lalu sebagai seorang raja, maka sudah menjadi tradisi mereka bahwa ia harus mengadakan sayembara untuk memilih seorang menantu. Jadi, bila sang anak perempuan belum menjatuhkan pilihannya, pelaksanaan sayembara harus segera di laksanakan. Kerajaan membutuhkan pewaris yang sah sebelum sang raja mangkat.

Karena melihat putrinya masih belum menjatuhkan pilihan tentang pasangan hidupnya, Prabu Hartimala ingin segera menyelenggarakan sayembara. Dalam sayembara itu diharapkan ada seorang pemuda yang pantas mendampingi putrinya itu. Sebenarnya sang anak sudah memiliki belahan hati, tapi ia masih sungkan untuk berterus terang kepada ayahnya. Ia takut cintanya itu akan kandas, sebab pemuda yang ia cintai bukan dari kalangan bangsawan. Ia hanya seorang pengembara biasa yang sedang mencari ilmu dan pengalaman hidup. Dialah Sallu.

Singkat cerita, karena tak ada komunikasi antara Prabu Hartimala dan Putri Arnihala tentang siapa yang sudah dipilih oleh sang putri, maka sayembara pun di laksanakan. Sang putri mengikuti keiginan dari ayahnya itu. Semua pangeran atau raja dari negeri tetangga di undang. Setelah satu bulan, acara besar itu pun di laksanakan tepat di halaman istana. Orang-orang dari berbagai negeri telah hadir menyemarakkan suasana. Dalam sayembara itu, tidak hanya ilmu kanuragan dan kadigdayan saja yang harus ditunjukan, tapi setiap pangeran dan raja yang ikut harus juga menunjukkan kecerdasan, ketangkasan dan keahlian mereka dalam berbagai ilmu pengetahuan. Siapa yang lulus pada setiap jenis tantangan yang ada, ia akan mengikuti tahap berikutnya. Hingga pada akhirnya hanya tersisa tiga orang saja yang bisa sampai ke tahap akhir sayembara.

Waktu itu, selama pelaksanaan sayembara tak sedikit pangeran yang gagal dalam usahanya. Ada yang mau menerimanya dengan lapang dada dan sikap kesatria, tapi ada pula yang tidak. Salah satu yang tidak mau menerimanya adalah Prabu Jatmikalta. Ia seorang raja dari negeri yang bernama Tartulika (sekarang di sekitar Kalimantan Barat). Karena tak biasa mengalami kekalahan, ia merasa malu saat harus kalah sebelum meminang sang putri. Dan keadaan itu semakin diperburuk oleh hasutan dari para menterinya yang memang sudah lama ingin menjajah kerajaan Artimanggala. Mereka ingin mengeruk kekayaan yang ada di negeri itu. Oleh sebab itu, dengan berbekal hasutan dari para bawahannya, Prabu Jatmikalta lalu membuat kekacauan di istana kerajaan Artimanggala. Setelah itu ia pergi meninggalkan sayembara, pulang ke negerinya.

Setelah sampai di negerinya, Prabu Jatmikalta terus dihasut oleh para mentrinya dengan segala tipu daya. Karena telah dikuasai oleh nafsu ingin memiliki Putri Arnihala dan menguasai kerajaannya, sang prabu akhirnya bertindak jahat. Ia lalu mengumpulkan pasukan besar untuk menyerang kerajaan Artimanggala tepat dipusat kotanya. Selang tiga minggu kemudian, bersama ±3.000 kapal perang besar dan kecil yang membawa ±100.000 pasukan siap tempur, sang raja bergerak ke tanah Jawa. Jumlah sebanyak itu ia dapatkan selain dari semua tentara kerajaannya sendiri, juga dari pasukan kerajaan sekutu. Karena itu, dengan penuh percaya diri ia pun sesumbar bahwa akan menaklukkan kota Artimanggala hanya dalam waktu dua hari saja.

Sesuai tradisi pada masa itu, setiap acara sayembara akan di laksanakan sampai berbulan-bulan. Selama itu, setiap tamu undangan dilayani dengan baik dan semua kebutuhannya dipenuhi. Mereka pun tinggal di istana raja atau istana lainnya tanpa harus berpikir tentang biayanya. Semuanya ditanggung oleh kerajaan yang menyelenggarakan sayembara. Nah, dalam hal ini sayembara mencari suami bagi Putri Arnihala saat itu dilaksakan selama tiga bulan. Selama itu, banyak acara dan kegiatan lain yang juga di laksanakan di sela-sela kegiatan sayembara. Rakyat dari dalam dan luar negeri pun hadir untuk ikut meramaikannya.

Pada waktu sayembara telah sampai pada tahap akhirnya, telik sandi (mata-mata) kerajaan Artimanggala memberi tahu bahwa akan ada serangan besar-besaran di kota kerajaan. Pelakunya adalah Prabu Jatmikalta, penguasa kerajaan Tartulika. Mendapatkan informasi itu, tanpa berpikir panjang lagi Prabu Hartimala segera menyiapkan bala tentaranya. Sayembara pun tetap di lanjutkan, dan ia telah memutuskan bahwa bagi siapa saja yang berhasil mengalahkan Prabu Jatmikalta dalam pertempuran, ia akan diangkat sebagai anak atau menantunya.

Mendengar keputusan itu, semua peserta lomba yang hanya tinggal tiga orang itu pun menerimanya. Mereka ikut maju digaris depan pertempuran bersama pasukan kerajaan Artimanggala. Dan ketika waktunya sudah tiba, maka terjadilah pertempuran yang dahsyat. Setiap orang bertaruh nyawa, termasuk ketiga peserta sayembara. Satu dari mereka itu tampak lebih unggul dalam ilmu perang dan kadigdayan. Ia adalah seorang pangeran dari kerajaan Pasturingga yang bernama Wardihaya. Pangeran itu ternyata adik kandung Pangeran Sumariya.

Singkat cerita, dalam pertempuran itu ternyata apa yang diharapkan oleh Prabu Jatmikalta meleset. Di hari pertama pertempuran saja pasukannya sudah kocar-kacir saat mendapat gempuran balasan dari pasukan kerajaan Artimanggala. Selain sebagai raja yang bijak dalam mengurus kemakmuran rakyat, Prabu Hartimala pun sangat mumpuni dalam ilmu perang. Sudah banyak pula pertempuran yang pernah ia hadapi, baik sebagai raja pelindung kerajaan Artimanggala maupun saat ia harus membantu kerajaan sahabat dari serangan musuhnya. Karena itu, dengan sikap yang tenang Prabu Hartimala mampu memimpin jalannya pertempuran.

Hari pertama pertempuran pun berakhir. Kedua belah pihak masih dalam sikapnya masing-masing. Satunya tetap ingin menaklukkan, sementara yang lainnya tentu ingin mempertahakan negerinya dari penjajah. Lalu setelah beristirahat semalam, sejak matahari setinggi busur, pasukan kedua belah pihak telah berbaris di lapangan depan kota kerajaan Artimanggala. Setelah terompet perang dibunyikan, saat itu juga pertempuran besar dan brutal pun terjadi. Setiap prajurit dan kesatria segera saling serang dan berusaha mati-matian mengalahkan lawan. Tak ada yang mau mengalah atau berhenti sampai semua musuh habis terbunuh atau menyerah.

Selanjutnya, pada waktu matahari mulai tergelincir ke arah barat, Pangeran Wardihaya maju ke arah depan dan langsung berhadapan dengan para pengawal Prabu Jatmikalta. Dalam waktu singkat ia mampu mengalahkan para pengawal raja itu dan akhirnya bisa langsung berhadapan dengan orang yang menjadi sumber pertempuran itu. Dan sebagaimana tradisi para kesatria, keduanya segera mengadu kemampuan yang ada. Baik Pangeran Wardihaya maupun Prabu Jatmikalta adalah sosok kesatria yang sakti mandraguna. Karena itu banyak kemampuan yang mereka keluarkan, baik ilmu kanuragan atau pun kadigdayan. Keduanya bertarung dengan gagah berani, tak takut kalah ataupun tewas.

Singkat cerita, dalam pertarungan yang sengit akhirnya Pangeran Wardihaya berhasil mengalahkan Prabu Jatmikalta. Sosok pemuda itu memang sakti mandraguna, sehingga dengan perjuangan yang gigih ia berhasil mengalahkan raja yang juga terkenal sakti itu. Dengan kalahnya Prabu Jatmikalta di tangan Pangeran Wardihaya, maka secara otomatis pasukan kerajaan Tartulika pun kalah. Semua pasukan yang ada harus mengaku takluk kepada kerajaan Artimanggala dengan menjatuhkan senjata. Tapi memang tak semuanya menuruti, karena sebagian dari mereka itu justru memilih untuk kabur dari medan pertempuran, pulang ke negerinya.

Dengan hasil pertempuran saat itu, maka yang keluar sebagai pemenangnya adalah kerajaan Artimanggala. Prabu Jatmikalta sebagai orang yang menjadi penyebabnya lalu dikenai hukuman mati. Ia dieksekusi di tempat yang dirahasiakan. Sementara putra mahkota kerajaan Tartulika yang juga ikut dalam pertempuran saat itu diizinkan kembali ke negerinya untuk menggantikan posisi dari sang ayah. Tapi sejak saat itu, sesuai hasil pertempuran maka kerajaan Tartulika harus tunduk dibawah kekuasaan kerajaan Artimanggala. Begitulah hukum yang berlaku di seluruh dunia.

4. Parwa IV: Kutukan, perang dan kebencian
Pertempuran telah usai sementara pemenangnya adalah kerajaan Artimanggala. Dan sesuai dengan sabda dari Prabu Hartimala sendiri, maka siapapun yang mampu mengalahkan Prabu Jatmikalta, ia akan dijadikan anak angkat atau menantunya. Dengan begitu, karena Pangeran Wardihaya telah berhasil mengalahkan Prabu Jatmikalta, maka ia pun menjadi pemenang sayembara itu dan berhak atas hadiah utamanya.

Saat itu, Pangeran Wardihaya berharap bahwa ia akan menjadi menantu dari Prabu Hartimala. Sebab, selain itu adalah suatu kehormatan besar bagi seorang pangeran, maka menjadi suami dari Putri Arnihala merupakan cita-citanya. Tapi harapan itu hanyalah tinggal harapan. Sang prabu tak langsung menjadikannya sebagai menantu. Ia pun menyerahkan semua keputusannya kepada Putri Arnihala, apakah ia memilih Pangeran Wardihaya sebagai suami atau hanya saudara saja. Dan karena sang putri telah jatuh hati kepada seorang pemuda lainnya (Sallu), ia memutuskan bahwa Pangeran Wardihaya hanya akan dijadikan sebagai saudaranya saja, bukan suami.

Keputusan itu sangat mengecewakan Pangeran Wardihaya. Memang ia tak menunjukkan secara langsung ketidaksukaannya itu, tapi di hati kecilnya tetap merasa kecewa dan marah. Atas perasaan itu, selang dua hari berikutnya ia dan pengikutnya pulang ke kerajaan Pasturingga. Namun kemalangan pun semakin bertambah. Di tengah perjalanan, sang pangeran terkena racun dari minuman dan makanan yang ia santap. Setelah diselidiki, ternyata ada seorang penyusup di dalam rombongannya itu. Setelah dipaksa, ia mengaku telah disuruh oleh Putri Arnihala untuk meracuni sang pangeran. Tujuannya agar suatu saat nanti ia tak pernah menuntut hak untuk memperistri sang putri.

Butuh waktu beberapa hari untuk sampai ke negeri Pasturingga. Kondisi Pangeran Wardihaya bertambah buruk dan terus muntah darah. Tak ada obat yang mampu menyembuhkan, karena racun yang diberikan memang tak ada penawarnya. Sampai akhirnya ia harus tewas ketika baru tiba di depan istananya. Saat akan meninggal, sang pangeran sempat mengucapkan kutukan bagi Putri Arnihala bahwa ia takkan pernah mendapatkan suami, tapi kisah hidupnya akan menjadi legenda. Dan ketika melihat dihadapannya saat itu sudah ada orang tua dan saudaranya, ia pun berpesan kepada mereka untuk membalaskan dendamnya dengan menaklukkan kerajaan Artimanggala sebelum lewat 3 bulan.

Selang 7 hari selepas wafatnya Pangeran Wardihaya, sebagai kakak tertua Pangeran Sumariya segera mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar. Ia ingin segera mengabulkan permohonan terakhir adiknya itu. Lebih dari satu bulan ia pun terus mempersiapkan segala kebutuhan. Pasukan kerajaan juga terus dilatih dengan berbagai keahlian. Sampai pada akhirnya segala persiapan telah usai. Tinggal menunggu waktu yang tepat, ia dan pasukannya akan bergerak menuju kerajaan Artimanggala.

Selang lima hari, atas restu dari raja dan rakyatnya, Pangeran Sumariya dan ±50.000 pasukannya bergerak ke negeri Artimanggala. Karena sudah dilatih secara khusus, pasukan sebesar itu mampu bergerak cepat. Informasi tentang pergerakan pasukan Pangeran Sumariya pun sudah diketahui oleh Prabu Hartimala. Sepertinya tak ada lagi jalan untuk berdamai, karena ini tentang harga diri dan bela pati. Dengan berat hati, sang prabu juga mempersiapkan pasukannya. Ia lalu menunggu pasukan Pangeran Sumariya di batas negerinya.

Singkat cerita, tibalah Pangeran Sumariya dan pasukannya di batas negeri Artimanggala. Disana mereka sudah dihadang oleh pasukan Prabu Hartimala dalam jumlah yang seimbang. Awalnya ada niatan dari keduanya untuk berunding, tapi lantaran begitu banyak yang menghasut keduanya, maka pertempuran pun tak dapat dihindari. Setelah terompet perang dibunyikan, seketika itu juga pertarungan dimulai. Kedua belah pasukan saling serang dan saling bantai dengan bengis. Tak ada yang berniat untuk mundur atau berhenti.

Di tengah pertempuran itu, antara Pangeran Sumariya dan Prabu Hartimura bersikap separuh hati. Melihat musuhnya tak sepenuhnya bertempur, entah mengapa mereka jadi tak menginginkan pertempuran itu. Rasanya ada yang tidak beres dengan pertempuran itu. Dalam hati Pangeran Sumariya sendiri masih bertanya-tanya apakah benar Putri Arnihala yang terkenal cantik dan baik hati itu membunuh adiknya. Atau sebenarnya ada orang yang sengaja mengadu domba kedua kerajaan mereka. Terlebih saat sebelumnya pernah terjadi pertempuran besar antara Prabu Jatmikalta dan Prabu Hartimala yang dimenangkan oleh Prabu Hartimala. Meskipun kalah, bisa jadi ada beberapa orang yang tetap ingin menghancurkan kerajaan Artimanggala. Fitnah dan adu domba pun bisa dilancarkan oleh para pengikut Prabu Jatmikalta atau oleh orang-orang yang tak senang jika kedua kerajaan mereka hidup rukun dan bersatu. Pertanyaan seperti itu terus saja menghantui pikiran Pangeran Sumariya.

Lewat tengah hari, pertempuran belum juga selesai. Dengan kesaktian yang dimiliki, Prabu Hartimala mampu mengimbangi serangan Pangeran Sumariya. Karena sama-sama sakti, keduanya lalu bertarung kesana kemari. Mereka bisa terbang dan segera meninggalkan medang pertempuran. Di tempat lain, keduanya terus mengadu kesaktian bahkan selama beberapa hari. Jika Pangeran Sumariya bisa membagi dirinya menjadi beberapa sosok, maka Prabu Hartimala pun sama. Bahkan dengan kesaktiannya, sang prabu bisa menciptakan malam dengan menutup sinar matahari dengan mantra saktinya. Dengan begitu keadaan di medan pertempuran pun jadi gelap gulita dan Pangeran Sumariya tak bisa melihat musuh atau pasukannya dengan jelas. Memang ini sangat menguntungkan bagi Prabu Hartimala, tapi karena itu pula peristiwa nahas pun terjadi. Tiba-tiba ada sosok yang menyamar sebagai Pangeran Sumariya dan menyerang Prabu Hartimala dengan serangan yang mematikan dari arah belakang. Dengan keris pusaka ditangannya, sosok tersebut lalu menusuk Prabu Hartimala tepat di punggung yang menembus jantungnya. Memang sang prabu terkenal sakti, tapi keris pusaka itu juga sangat sakti dan beracun. Akibatnya nyawa sang prabu tak bisa diselamatkan. Ia pun harus gugur tak lama setelah ditikam, sementara sosok yang menyamar sebagai Pangeran Sumariya itu langsung lenyap dari pandangan. Siapakah dia, tak ada yang tahu.

Pada saat akan terjadi penusukan, Pangeran Sumariya sudah mengetahui ada yang bermain curang. Tapi karena memang sudah menjadi takdir Tuhan Yang Kuasa, meskipun ia berusaha untuk menghentikannya tetap saja tak berhasil. Pembunuhan itu pun harus terjadi. Dan ketika ia baru saja tiba didekat tubuh Prabu Hartimala yang terbaring lemah, sayangnya para senopati dan pasukan yang melihat kejadian itu terlanjur berpendapat lain. Mereka langsung beranggapan bahwa sang pangeranlah yang membunuh Prabu Hartimala.

Singkat cerita, pertempuran pun berakhir dengan gugurnya Prabu Hartimala. Meskipun secara hukum Pangeran Sumariya memenangkan pertempuran itu, ia tak merasa bahagia. Hatinya gundah dan merasa bersalah dengan kematian Prabu Hartimala. Terlebih saat itu ada yang sedang bermain curang, maka sang pangeran pun merasa sedih dan berdosa kepada Prabu Hartimala maupun Putri Arnihala. Untuk mencari ketenangan, Pangeran Sumariya lalu pergi jauh ke arah selatan. Di tepi sebuah pantai yang ada di Laut Selatan, ia lalu merenung dengan jalan semedhi. Sementara itu semua pasukannya diperintahkan untuk segera kembali ke negerinya, di kerajaan Pasturingga. Tak ada yang boleh menyerang kerajaan Artimanggala.

Waktu terus berlalu, kabar gugurnya Prabu Hartimala pun telah sampai ke Putri Arnihala. Tentu sebagai anak, sang putri pun sangat bersedih dan marah kepada Pangeran Sumariya. Mengapa pangeran itu rela mengobarkan perang kepada negerinya? Apa yang menjadi alasannya? Apakah karena fitnah yang terlanjur dikatakan oleh orang yang meracuni adiknya itu. Padahal ia tak pernah memerintahkan pembunuhan itu. Jangankan membunuh, terbesit dalam pikirannya saja tak pernah.

Tapi takdir kehidupan memang harus tetap terjadi. Awalnya Putri Arnihala tak menyimpan dendam kepada Pangeran Sumariya. Ia masih punya pikiran bahwa bisa jadi sang pangeran dan kerajaannya itu juga terkena fitnah dan adu domba. Tapi karena kabar yang beredar, yang berasal dari mereka yang terlibat dalam pertempuran itu mengatakan bahwa pembunuh ayahnya adalah Pangeran Sumariya, bahkan dengan cara membopong dari belakang, ini mempengaruhi pikiran sang putri. Terlebih hampir setiap hari ia pun terus dihasut oleh para pembesar kerajaan dan orang-orang terdekatnya – yang punya tujuan tertentu – untuk membalas dendam, maka sang putri pun akhirnya sangat membenci sang pangeran. Hampir tak ada lagi tempat maaf baginya.

5. Parwa V: Cinta dan kesedihan
Waktu terus bergulir selama 3 bulan lebih, sementara karena rajanya telah wafat, maka Putri Arnihala yang menggantikannya. Dibawah kepemimpinannya, kerajaan bisa kembali normal meskipun selalu ada kekhawatiran akan dijajah oleh kerajaan Pasturingga. Betapa tidak, dalam pertempuran sebelumnya Prabu Hartimala gugur di tangan musuhnya. Secara hukum, maka kerajaan Artimanggala harus tunduk kepada kerajaan Pasturingga.

Tapi kejadiannya tak seperti itu. Meskipun kerajaan Pasturingga telah mememangkan pertempuran, mereka belum berniat untuk menguasai seluruh kota kerajaan Artimanggala. Ayah dari Pangeran Sumariya sendiri, yaitu Prabu Wanikaya adalah sosok yang bijaksana. Karena itu ia masih menunggu anak kesayangannya itu kembali ke istana. Tiga bulan telah berlalu sejak pertempuran itu, tapi sang anak belum juga kembali. Ia masih tetap dalam pengasingannya dan ketika memasuki pertengahan bulan keempat barulah ia kembali ke istana.

Sesampainya di istana, Pangeran Sumariya menyampaikan keinginannya kepada ayahnya, Prabu Wanikaya, bahwa ia ingin berkunjung ke istana kerajaan Artimanggala. Disana ia ingin bertemu langsung dengan Putri Arnihala dan meminta maaf kepadanya. Selama menyendiri, sang pangeran mendapatkan pencerahan dari seorang Begawan bahwa apa yang telah terjadi itu – pembunuhan sang adik dan pertempuran dua kerajaan – disebabkan fitnah dan adu domba. Ada pihak yang sengaja melakukannya, bahkan bukan dari dunia nyata ini. Sebagai seorang kesatria, Pangeran Sumariya harus mau meminta maaf dengan tulus. Apapun yang menjadi halangannya harus dilalui, seberat apapun itu. Karena hanya dengan begitu ia akan meraih ketenangan.

Singkat cerita, apa yang menjadi keinginan dari sang pangeran direstui oleh Prabu Wanikaya. Selang tiga hari, bersama puluhan prajuritnya, Pangeran Sumariya pun berangkat menuju istana kerajaan Artimanggala. Sesampainya di istana kerajaan, mereka disambut sesuai protokoler kerajaan dalam menyambut tamu kenegaraan. Semua berjalan sesuai dengan aturan yang ada, hingga pada suatu kesempatan Putri Arnihala dan Pangeran Sumariya akhirnya bisa bertemu langsung di balairung istana.

Saat keduanya bertemu, sang pangeran sangat terkejut. Betapa tidak, ternyata orang yang berdiri dihadapannya saat itu, yang bernama Arnihala itu, adalah gadis yang pernah dikenalnya dulu. Dia adalah wanita cantik yang sempat sama-sama membantu warga desa yang terserang wabah penyakit. Dialah Wilani. Tapi saat itu sang gadis mengaku sebagai seorang pengembara, bukan seorang putri raja. Keadaan yang sama pun terjadi pada diri Putri Arnihala. Ia pun sangat terkejut bahwa ternyata orang yang dikenal sebagai Pangeran Sumariya itu adalah pemuda gagah yang pernah ia kenal dulu. Bahkan sang pemuda itu telah menancapkan rasa cinta yang mendalam di hatinya.

Cukup lama keduanya saling diam dan tak mengatakan apapun. Keduanya saling terpaku, sedikit malu namun ada rasa puas dihatinya. Betapa tidak, setelah sekian lama akhirnya mereka dipertemukan kembali. Hanya saja pertemuan saat itu sungguh pelik. Di satu sisi Putri Arnihala merasa marah kepada sang pangeran karena “telah membunuh” ayahnya, sementara disisi lainnya justru Pangeran Sumariya merasa sangat berdosa kepada sang putri karena menjadi penyebab terbunuhnya Prabu Hartimala. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya telah terjadi dan Pangeran Sumariya ingin menjernihkan persoalan.

Pada awalnya Putri Arnihala bisa memahami keadaan Sallu alias Pangeran Sumariya. Tentu saja ia akan menuntut balas bila adik tercintanya dibunuh dengan cara licik. Tapi yang ia sayangkan adalah bahwa sang pangeran bersikap terburu-buru tanpa mencari kebenaran informasinya dulu. Terlebih sang putri dan ayahnya merasa tak bersalah dalam hal ini. Mereka tak pernah menaruh dendam atau berniat untuk membunuh adik Pangeran Sumariya itu. Jelas disini ada orang yang menyebar fitnah dan adu domba. Karena itulah, sebelum ia memutuskan apakah bisa memaafkan atau tidak kepada Pangeran Sumariya, sang putri meminta waktu untuk berpikir. Ia masih sangat bimbang dalam mengambil keputusan, terlebih apa yang ia putuskan nanti menyangkut harga diri dari kerajaannya.

Di hadapan sang pangeran, Putri Arnihala lalu meminta waktu selama 3 bulan untuk bisa memberi jawaban atas permintaan maaf sang pangeran. Selama itu, Pangeran Sumariya dipersilahkan untuk tinggal di kerajaan Artimanggala atau pulang ke negerinya. Jika sang putri sudah memutuskan apa yang akan ia lakukan terhadap sang pangeran, utusan resmi dari sang putri akan menemuinya. Mendapatkan keputusan itu, Pangeran Sumariya bisa menerimanya, terlebih ia pun sudah diingatkan oleh sang Begawan untuk menghadapi setiap tantangan untuk mendapatkan maaf dari sang putri. Karena itu, tidak butuh waktu lama sang pangeran segera meninggalkan istana kerajaan Artimanggala. Ia pun memutuskan untuk tidak tinggal di kerajaan Artimanggala tetapi kembali ke negerinya di kerajaan Pasturingga. Namun di perjalanan, ia mendapatkan wisik goib untuk berhenti, tidak melanjutkan sampai ke negerinya.

Mendapat petunjuk itu, Pangeran Sumariya lalu memutuskan untuk menyendiri dan kembali ber-semedhi untuk memperjelas petunjuk yang ia dapatkan itu. Selang beberapa waktu ia pun mendapatkan informasi yang jelas, bahwa ia harus melakukan tapa brata di puncak gunung Ceda atau gunung Sumbing sekarang. Sosok yang memberinya petunjuk saat itu adalah Begawan yang sama ketika memberikan petunjuk tentang sebab timbulnya perang dua kerajaan mereka. Begawan tersebut bernama Resi Kutirai.

Setelah mendapatkan petunjuk dari Resi Kutirai, Pangeran Sumariya memutuskan untuk pergi ke puncak gunung Ceda. Prajurit yang menemaninya saat itu diperintahkan untuk kembali ke kerajaan Pasturingga dan mengabarkan bahwa sang pangeran sedang ber-tapa brata di puncak gunung Ceda. Berdasarkan petunjuk dari Resi Kutirai, maka ada hal yang penting yang harus ia lakukan disana. Para prajurit pun mematuhi, sementara itu Pangeran Sumariya segera melesat ke gunung Ceda.

Sesampainya di puncak gunung Ceda, Pangeran Sumariya lalu ber-tapa brata dengan cara berdiri. Selama 30 hari ia melakukan itu, dan di hari-hari berikutnya ia bahkan ber-tapa brata dengan cara berdiri kaki satu. Selama 40 hari ia melakukan tapa brata semacam itu. Dan ketika akan selesai, Pangeran Sumariya sempat berpindah dimensi. Di alam goib itu, ia bertemu dengan para leluhurnya dan mendapatkan bekal ilmu yang baru. Setelah cukup, tak lama kemudian ia pun kembali lagi ke alam nyata dunia ini.

Setibanya kembali ke alam nyata dunia ini, ketika akan kembali ke kerajaannya, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang menggelegar. Suara itu tanpa wujud. Mengetahui itu, Pangeran Sumariya langsung mendeteksi keberadaan sosok yang tertawa itu. Ternyata ia bukanlah manusia, melainkan seorang raja jin penguasa gunung Ceda. Singkat cerita, terjadilah pertarungan di antara keduanya. Selama dua hari dua malam keduanya saling mengadu kesaktian, sampai pada akhirnya raja jin itu mengaku kalah. Sosok jin sakti mandraguna itu bernama Bandawira. Ia adalah raja jin yang menguasai gunung Ceda selama lebih dari 1 juta tahun belakangan.

Sebenarnya, Bandawira tak benar-benar ingin bertarung dengan Pangeran Sumariya. Ia tahu bahwa kesatria itu adalah orang yang baik. Pertarungan yang ia lakukan hanya untuk menguji tentang sebatas mana kemampuan dari sang pemuda. Apakah benar ia layak menjadi tuan bagi dirinya, sesuai dengan petunjuk yang pernah ia dapatkan. Karena itulah, setelah bisa dikalahkan oleh sang pangeran, Bandawira pun bersedia untuk tunduk dan mengabdi kepadanya. Ia pun berkata: “Wahai tuanku, karena engkau telah mengalahkanku, maka aku akan mengabdi kepadamu. Jika dirimu membutuhkan bantuan, aku dan rakyatku akan segera melaksanakannya” Mendapati itu, Pangeran Sumariya hanya bisa mengucapkan terimakasih. Ia berjanji bila memang diperlukan, suatu saat nanti dirinya akan meminta bantuan kepada Bandawira dan rakyatnya itu.

Singkat cerita, Pangeran Sumariya pun kembali ke istananya di kerajaan Pasturingga. Disana, sesuai permintaan dari Putri Arnihala, selama beberapa waktu sang pangeran harus menunggu kabar. Dan ketika sudah waktunya, kabar itu pun datang. Seorang utusan Putri Arnihala datang membawa surat undangan agar sang pangeran segera datang ke istananya. Untuk saat itu, pertemuan tidak dilaksanakan di istana kerajaan Artimanggala, melainkan di istana keputren Samruna yang ada di sebelah selatan gunung Merapi. Mendapatkan itu, tanpa menunggu waktu lagi sang pangeran pun melesat ke istana keputren Samruna itu dengan cara terbang.

Kembali ke istana Putri Arnihala. Pada awalnya di hati sang putri ada keinginan untuk memaafkan sang pangeran. Rasa cintalah yang membuatnya begitu. Tapi setelah tiga bulan terus-terusan di hasut oleh para pembesar dan orang dekatnya, akhirnya sang putri berubah pikiran. Ia memutuskan sesuatu yang lain. Di hadapan Pangeran Sumariya ia pun mengajukan syarat yang teramat sulit agar bisa dimaafkan. Sang putri meminta sang pangeran untuk melakukan satu hal, yaitu harus bisa mendapatkan secawan air yang bisa diminum tapi tidak berasal dari bumi maupun langit. Persyaratan itu harus bisa dipenuhi selama kurang dari 3 hari. Jika gagal, maka permintaan maaf pun tak akan bisa dikabulkan.

Mendapatkan persyaratan itu Pangeran Sumariya diam sejenak untuk berpikir. Setelah ditanya oleh sang putri apakah ia sanggup, barulah sang pangeran menjawab bahwa permintaan itu akan ia kabulkan kurang dari tiga hari. Tak lama kemudian, sang pangeran pergi meninggalkan istana sang putri. Ia langsung melesat ke angkasa dan segera tak terlihat dari pandangan.

Satu hari telah berlalu tanpa ada kabar dari sang pangeran. Dua hari pun berlalu tetap saja tak ada kabar darinya. Barulah di hari ketiga, tepat setelah tengah hari Pangeran Sumariya datang dengan membawa secawan air. Sesuai permintaan, sang pangeran mampu mengabulkan persyaratan dari Putri Arnihala. Saat itu ia telah membawakan secawan air yang tidak berasal dari bumi maupun langit. Ia lalu berkata; “Wahai putri, inilah air yang tidak berasal dari bumi atau pun langit. Ku ambil air ini dari dimensi lain dengan cara memerah keringat seekor Lumari.  Hewan itu menghasilkan keringat yang segar dan banyak manfaatnya. Rasanya pun wangi seperti buah mangga dan manis seperti madu. Siapapun yang meminumnya akan hidup sehat dan tanpa penyakit”

Begitulah yang disampaikan oleh sang pangeran. Dan benar, sebelumnya ia telah pergi ke dimensi lain dan mencari air yang diinginkan oleh sang putri. Disana (di dimensi lain) ia pun berpikir bagaimana caranya. Lalu pada akhirnya mendapatkan ide yang cemerlang. Saat itu, ia memohon kepada sang Lumari (sejenis kuda) yang mampu berbicara seperti manusia untuk berlari kencang dan jauh. Setelah itu, keringat yang mengalir ditubuhnya itu ia tampung dalam sebuah cawan. Dan entah mengapa saat itu keringat yang keluar dari kulit sang Lumari pun mengalir deras dan mampu memenuhi cawan yang ada.

Mendapati penjelasan itu, tanpa bisa berkata-kata lagi Putri Arhinala harus mengakui bahwa Sallu alias Pangeran Sumariya telah berhasil mengabulkan permintaannya. Dan setelah air tersebut diminum, ternyata apa yang dirasakan oleh sang putri sesuai dengan keinginannya. Air tersebut terasa sangat segar, wangi dan manis. Belum pernah ia merasakan air yang semacam itu. Dan tak lama kemudian, tubuhnya pun merasa lebih sehat dan kuat.

Setelah meminum air itu, Putri Arnihala ingin mengatakan bahwa permintaan maaf dari sang pangeran ia terima. Tapi baru saja ingin berbicara, neneknya yang bernama Gislatani angkat bicara. Katanya: “Sungguh luarbiasa yang telah tuan lakukan, belum pernah kami melihat yang seperti itu. Anda memang patut dihormati layaknya pahlawan besar. Nah karena itulah, tentunya tak begitu sulit bagimu untuk bisa mengabulkan satu syarat lagi bukan? Jika tuan mampu mengabulkannya, maka lengkap sudahlah kebesaranmu”

Semua yang hadir saat itu hanya bisa terdiam. Mereka tak mampu menyela perkataan sang nenek. Baik Putri Arnihala dan para pembesar kerajaan hanya bisa setuju. Begitu pula dengan Pangeran Sumariya. Ia tak bisa menolak atau pun marah, karena sudah bertekad untuk mendapatkan permintaan maaf dari sang putri apapun resikonya. Dan singkat cerita, Putri Arnihala meminta sekali lagi kesabaran dari sang pangeran. Ia baru akan memberikan syarat yang baru setelah fajar menyingsing esok hari. Pangeran Sumariya pun menyetujuinya.

Fajar pun telah menyingsing, dan sesuai kesepakatan sebelumnya, maka Putri Arnihala akan memberitahukan satu permintaan kepada sang pangeran. Semua orang telah berkumpul di balairung istana, begitu pula Pangeran Sumariya telah hadir di hadapan sang putri. Tak lama berselang, Putri Arnihala pun menyampaikan permintaan yang harus dikabulkan oleh sang pangeran. Katanya; “Wahai Pangeran Sumariya. Dengarkanlah permintaan terakhirku yang disaksikan oleh langit dan bumi. Kata-kataku ini adalah sabda pandita ratu yang tak bisa diubah. Ini adalah hukum yang mengikat dan terkutuklah diriku bila melanggarnya. Ketahuilah bahwa aku akan memberikan maaf kepadamu hanya bila kau mampu membangunkan seribu candi yang megah hanya dalam waktu satu malam. Itu harus terjadi malam ini, tepatnya sejak senja hari ini sampai fajar menyingsing esok hari”

Mendengar permintaan itu, bagaikan disambar petir, maka semua yang hadir saat itu terkejut bukan kepalang. Mereka tak menyangka bahwa sang putri telah menyampaikan suatu permintaan yang tak mungkin dipenuhi. Bagaimana bisa seorang pemuda harus membangunkan seribu candi hanya dalam waktu semalam saja. Ini merupakan hal yang tak wajar sekaligus mustahil. Tapi, dengan sikap yang tenang Pangeran Sumariya justru memberikan jawaban yang diluar dugaan. Ia menyanggupi permintaan mustahil dari sang putri. Katanya: “Wahai Putri Arnihala. Atas permintaanmu itu aku akan berusaha mengabulkannya. Tak mudah memang, tapi lihatlah bahwa apa yang telah ku lakukan nanti akan menjadi legenda yang paling mahsyur”

Singkat cerita, setelah mengatakan itu Pangeran Sumariya pun undur diri. Ia langsung mempersiapkan diri untuk bisa mengabulkan permintaan dari sang putri. Langkah awal yang ia lakukan adalah mencari lokasi yang paling tepat untuk mendirikan candi dalam jumlah yang banyak. Ia lalu terbang ke angkasa, dan dari atas sana ia pun bisa melihat satu tempat yang paling cocok untuk lokasi yang dimaksud. Setelah itu ia pun turun ke tanah dan tak lama kemudian duduk semedhi sampai menjelang senja. Ketika matahari telah sirna di ufuk barat, tak lama kemudian Pangeran Sumariya mencoba berkomunikasi jarak jauh (telepati) dengan Bandawira, raja jin penguasa gunung Ceda (gunung Sumbing sekarang). Setelah itu ia meminta raja jin itu untuk datang menemuinya. Dalam waktu singkat Bandawira sudah ada di hadapan sang pangeran. Pangeran Sumariya pun berkata: “Wahai saudaraku. Dulu kau pernah berkata bahwa saat aku membutuhkan pertolongan maka dirimu dan rakyatmu akan bersedia membantu. Maka sekaranglah waktunya, bahwa aku meminta bantuan kalian untuk mendirikan seribu candi hanya dalam semalam. Apakah kau bersedia?”

Di jawab oleh Bandawira dengan berkata: “Pantang bagi seorang raja untuk menjilat kata-katanya sendiri. Atas permintaanmu tuan, sejak saat ini aku dan rakyatku akan membantumu. Dimanakah kami harus membangun candi-candi itu?” tanya Bandawira.

“Disinilah kalian harus membangunnya. Dirikanlah candi-candi yang indah, yang tak ada di zaman ini dan tak termakan oleh waktu” Jawab sang pangeran.

“Baiklah kalau begitu. Kami akan melaksanakan perintahmu. Yang paling bagus dan paling indah” Kata Bandawira. Dan sejak saat itu, ia dan rakyatnya segera memulai pembangunan candi yang megah. Hingga kini masih bisa di lihat dipinggiran kota Jogjakarta.

Hanya dalam waktu yang singkat satu persatu bangunan komplek percandian itu telah dibangun. Semua bahannya dari batu yang diambil di beberapa tempat di sekitar lokasi perbangunan. Beberapa bahan lainnya diambil dari tempat lain, yang cukup jauh dari lokasi pembangunan. Semua pengerjaan di lakukan dengan rapi dan halus. Sebuah mahakarya yang sangat indah dan mengagumkan. Dan memang bangsa jin ini sangat mahir dalam membangun sesuatu yang megah. Pekerjaan mereka sangat rapi, halus dan penuh ketelitian, sehingga akan sangat sulit untuk ditiru oleh bangsa manusia. Belum lagi waktu yang dibutuhkan jadi sangat singkat bila dibandingkan dengan saat manusia harus membangun sebuah rumah saja.

Gambar 2. Foto: Candi Prambanan tampak dari depan

Gambar 3. Foto: Candi Prambanan tampak dari atas

Gambar 4. Foto: Candi Prambanan tampak dari dekat

Selanjutnya, karena melihat begitu seriusnya Pangeran Sumariya dalam memenuhi janjinya, maka nenek dari Putri Arnihala menjadi khawatir. Ia masih tidak bisa memaafkan sang pangeran karena telah membunuh anaknya, Prabu Hartimala. Dengan dendam dan kebencian itu, sang nenek lalu berusaha menggagalkan usaha dari Pangeran Sumariya dengan cara menghasut cucunya itu, Putri Arnihala sekali lagi. Sang nenek punya ilmu yang mampu menghipnotis orang lain. Nah ilmu itu segera ia keluarkan kepada sang cucu. Karena rasa hormat dan cintanya, Putri Arnihala tak pernah merasa curiga kepada sang nenek. Karena itulah, ketika ia diberi mantra pengubah pikiran, sang putri tak bisa mencegahnya, bahkan tak tahu. Ia larut dalam pengaruh sang nenek. Apa yang nenek katakan akan segera ia laksanakan tanpa bertanya.

Di tempat lain, pembangunan seribu candi terus dikerjakan. Satu persatu bangunan candi yang megah itu pun selesai. Begitu pula dengan taman bunga dan kolam ikan yang indah. Semuanya terus dibangun dengan sangat detil dan indah. Mengetahui itu, Gislatani alias nenek dari Putri Arnihala semakin gusar dan dikuasai kebencian. Ia sangat ingin mengagalkan usaha dari sang pangeran. Karena itu, ia pun menghasut cucunya untuk bertindak curang. Dan karena tahu bahwa sang putri punya ilmu untuk menguasai hewan, terutama ayam, Gislatani pun meminta cucunya itu untuk membangunkan ayam jantan sebelum fajar menyingsing.

Singkat cerita, memanglah Putri Arnihala memiliki kemampuan (ilmu kesaktian) untuk bisa mengendalikan ayam agar menuruti keinginannya. Ia bisa memerintahkan ayam jantan untuk berkokok sebelum waktunya, atau kapanpun ia inginkan. Dan jika ini sampai terjadi dimana ayam berkokok sebelum fajar menyingsing sementara pembangunan seribu candi belum selesai, maka Pangeran Sumariya bisa dikatakan gagal. Kegagalan itu menurut Gislatani akan membuatnya puas dan merasa menang. Sungguh pikiran yang picik.

Ya. Semua yang terjadi memang sudah menjadi kehendak dari Sang Maha Pencipta. Begitulah yang terjadi di antara Putri Arnihala dan Pangeran Sumariya. Karena takdir, mereka yang awalnya saling mencintai harus menelan kepedihan. Bahkan mereka pun harus saling bermusuhan, tidak karena keinginan mereka sendiri tetapi oleh sebab keadaan, dendam dan kebencian orang lain. Dan peristiwa nahas pun terjadi. Saat itu, atas kendali pikiran neneknya, Putri Arnihala menggunakan ilmunya untuk membangunkan ayam jantan agar berkokok sebelum fajar. Di tempat lain, atas hasutan anak buah nenek sang putri, disebarkanlah fitnah bahwa jika sampai seribu candi itu berhasil dibangun oleh Pangeran Sumariya, maka putri mereka akan dijadikan tawanan, sementara mereka sendiri akan dijajah. Meski tampak mengada-ngada, hasutan itu berhasil dan diterima secara luas orang penduduk. Karena itu mereka mengikuti saran dari para pelayan setia nenek sang putri. Dimana untuk menggagalkan usaha dari sang pangeran, mereka harus menciptakan suasana seperti layaknya sudah pagi. Semua warga desa yang tinggal di sebelah timur lokasi pembangunan candi harus membakar jerami dan memukul-mukul lesung. Seolah-olah mereka sudah sibuk menjalankan aktifitas sehari-hari mereka.

Sehingga karena ayam telah berkokok, sementara di ufuk timur telah tampak warna kemerahan dan sudah terdengar pula orang-orang menumbuk lesung, maka seketika itu juga bangsa jin yang sedang membangun candi menghentikan pekerjaan mereka. Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan lokasi yang belum selesai dibangun itu. Dan begitulah aturannya, bahwa bangsa jin pimpinan Bandawira itu hanya bisa bekerja pada malam hari saja. Jika matahari sudah terbit, maka saat itu juga mereka harus berhenti dan kembali ke alam mereka.

Mengetahui hal itu, Pangeran Sumariya sempat heran tentang bagaimana itu bisa terjadi. Ia sadar betul bahwa saat itu belum waktunya matahari terbit di ufuk timur. Terlebih setelah mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, barulah ia sadar bahwa saat itu dirinya telah dicurangi. Ia pun marah kepada Putri Arnihala karena merasa bahwa dialah orang yang menggagalkan usahanya itu. Apapun alasannya sang pangeran tidak bisa terima, karena itu sudah menyalahi perjanjian yang telah mereka sepakati.

Tapi nasi sudah menjadi bubur, apa yang terjadi tak bisa diubah. Secara nyata memang Putri Arnihala bersalah, karena ia telah menggunakan ilmunya untuk membangunkan ayam jantan dan menghasut rakyatnya untuk membakar jerami dan memukul lesung. Tak ada yang tahu bahwa sebenarnya dalang dari semua peristiwa itu adalah Gislatani, nenek dari sang putri sendiri. Dialah yang sangat membenci sang pangeran dan punya banyak kepentingan untuk bisa menggagalkan usaha pangeran dalam mendirikan seribu candi.

Singkat cerita, awalnya sang pangeran masih bisa menahan diri. Tapi karena terbawa oleh suasana dan sikap buruk dari nenek sang putri beserta para pembantunya, Pangeran Sumariya mulai emosi. Ia merasa sangat dilecehkan dan sebagai seorang kesatria, maka pantang baginya untuk diam saja. Dan tak lama kemudian terjadilah kegaduhan di istana keputren Samruna itu. Hingga pada puncaknya, Pangeran Sumariya pun mengutuk Putri Arnihala menjadi patung untuk melengkapi candi yang telah ia bangun. Saat kutukan itu diucapkan, mantra hipnotis sang nenek terlepas. Sang putri pun tersadar.

Sebelum menjadi patung batu, Putri Arnihala sempat berkata: “Wahai Sallu, aku tak pernah melakukan apa yang kau tuduhkan. Semua yang terjadi ini adalah buah dari fitnah dan adu domba. Ada orang-orang yang tak ingin kita hidup secara damai dan bersatu. Ketahuilah, sejak pertama kali melihatmu aku sudah jatuh hati kepadamu. Aku mengagumimu karena sikapmu yang rendah hati dan suka menolong. Untuk itu, sejak berkenalan denganmu, tak ada seorangpun yang pernah singgah dihatiku. Tak ada yang mampu mengusirmu dari pikiranku. Hingga kini dan juga selamanya aku akan terus mencintaimu” Setelah mengatakan itu, perlahan-lahan tubuh Putri Arnihala menjadi batu dan tegak berdiri dihadapan sang pangeran.

Mendapatkan penjelasan seperti itu, kini Pangeran Sumariya yang sangat bersedih. Ia tak kuasa menahan tangisannya, bahwa selama ini ia telah berprasangka buruk kepada sang putri. Jujur di dalam hatinya masih tersimpan rasa cinta kepada gadis cantik itu. Tapi apa mau dikata, semuanya telah terjadi dan kemalangan pun memang harus di alami. Ia tak bisa mencabut kutukan yang telah diberikan. Sang putri harus menjadi patung batu karena amarahnya sendiri. Ini sangat menyedihkan hatinya. Dan saking sedihnya, sang pangeran sampai jatuh terduduk lalu diam merenungi nasibnya.

Waktu terus berlalu, sang pangeran berusaha menenangkan diri dengan jalan semedhi. Tidak ada yang bisa mendekatinya, karena kesaktiannya telah memberi pagar tak terlihat di sekeliling tempat dimana ia dan patung sang putri berada. Siapapun yang mendekat akan terpental. Selang beberapa waktu, Pangeran Sumariya pergi dengan membawa patung Putri Arnihala itu. Dalam waktu singkat ia pun sudah tiba kembali ke lokasi percandian yang dibangun. Disana ia lalu meletakkan patung sang putri dan dengan tulus ia lalu memohon kepada Tuhan untuk mengabulkan keinginannya. Sang pangeran ingin membangunkan sebuah candi bagi patung Putri Arnihala itu. Dan atas izin dari-Nya, maka tak lama kemudian muncul dari dalam tanah sebuah bangunan candi tepat dihadapannya. Setelah mengetahui ada satu candi baru, maka oleh Pangeran Sumariya patung dari Putri Arnihala pun diletakkan disana. Sementara itu, komplek candi yang dibangun hanya dalam semalam itu lalu oleh sang pangeran diberi nama Paranata atau yang berarti Mengenang dan Memulai yang baru. Dan kini, entah mengapa candi itu justru disebut dengan nama Prambanan.

Setelah kejadian itu, datanglah seorang Begawan yang sebenarnya “tinggal” di sekitar gunung Papandayan, Jawa Barat. Ia bukanlah seorang Resi biasa, karena sudah hidup sejak ±110.000 tahun sebelum berdirinya kerajaan Artimanggala. Resi itu bernama Martapirula. Ia datang ke lokasi komplek candi Paranata yang baru dibangun itu untuk sekedar menyampaikan petunjuk yang baru saja ia dapatkan. Di salah satu kubah bangunan candi itu, ia pun menuliskan beberapa bait kalimat yang teramat penting, khususnya bagi kehidupan di Nusantara nanti. Kalimat itu adalah kunci untuk kebangkitan Nusantara, tapi hanya bisa digunakan oleh pemuda yang terpilih. Siapakah dia? entahlah, mungkin Anda lebih tahu.

Bahasa yang digunakan pada kalimat itu adalah bahasa sehari-hari di kerajaan Artimanggala. Satu bahasa yang tidak hanya digunakan di wilayah kerajaan Artimanggala saja, tetapi juga di kerajaan lain pada masa itu, khususnya di pulau Jawa. Bahasa itu diberi nama Hanastarala dan merupakan bahasa turunan dari bahasa Sansyakarta. Bahasa Syansyakarta sendiri merupakan bahasa yang pernah digunakan oleh kaum Sansya yang hidup di periode zaman Swarganta-Ra (zaman ke-4 manusia) atau sekitar ±500 juta tahun silam. Kaum yang pertama kali menggunakannya bernama Sansya, yang dulunya tinggal di antara propinsi Jawa Tengah dan Kalimantan Selatan (Laut Jawa sekarang). Sedangkan yang menciptakan bahasa itu adalah seorang Resi yang bernama Karta. Sehingga dari nama kaum Sansya dan nama Resi Karta itulah maka bahasa ini pun diberi nama Sansyakarta. Bahasa ini berbeda dengan bangsa Sanskerta yang masih diketahui sekarang, karena berasal dari zaman dan kaum yang berbeda pula.

Selanjutnya, bahasa Sansyakarta itu menjadi bahasa induk dari bahasa Hanastarala. Tapi selain menjadi induk dari bahasa Hanastarala, bahasa Syansyakarta ini kemudian juga menjadi akar dari bahasa Sanskerta. Lalu di kemudian hari sepeninggalan kerajaan Artimanggala, maka oleh satu dan lain hal bahasa Hanastarala ini menghilang, tak ada lagi yang menggunakannya. Namun demikian bahasa Sanskerta tetap eksis dan digunakan pula oleh bangsa Arya yang tinggal di sekitar wilayah Asia Tengah sekarang. Dari bangsa Arya inilah, maka bahasa Sanskerta tetap ada bahkan terus menyebar kemana-mana sejak mereka itu mulai bermigrasi dan menaklukkan kerajaan-kerajaan di wilayah lain, khususnya di India. Dari India, kemudian bahasa Sanskerta pun terus menyebar ke berbagai belahan Bumi, bahkan sampai ke daratan Eropa – khususnya pada masa ratusan tahun sebelum tarikh Masehi – dan kembali lagi ke Nusantara setelah tarikh Masehi melalui orang-orang dari tanah India. Dari para Resi atau bangsawan yang harus bermigrasi ke tanah Nusantara – akibat huru-hara di negerinya, bahasa Sanskerta itu lalu digunakan kembali di Nusantara, khususnya di pulau Jawa. Dan sejak masa kerajaan Salakanagara yang ada di ujung barat pulau Jawa (sekitar abad ke-2 Masehi), bahasa itu kembali menjadi bahasa resmi sebuah negara. Tapi sayang, bahasa itu tak lagi umum digunakan kecuali dalam kitab-kitab agama.

Lalu, sebelum pergi Resi Martapirula pun sempat berpesan kepada Pangeran Sumariya dan mereka yang sedang ada disana. Dalam bahasa yang lain ia pun berkata:

“Ya ulmi. Agneranti hardikayali sa wijumanik ratwaratti hamurda. Sumragrata gisalma ditrahayu ulbibana Jawi nahitraka sudramantu. Buyanikal lihastaruna manjujaruli sa Artimanggala huwartisa. Nemnyala huramtarung singbalani hikjayim Bhumi ratwariyaki modambaring hingkatur. Swandiyali urtafaru mantatalli qurhiyanu tattruwi Nusanta-Ra, lah vrillahusya nah Sri Maharaja Dwipa Eka Mandala Sri Hyang Arya Wangsa Bhuwana Pasya. Ma`anuli yal heratoriya saluhingka zayyuti munangkari syahilasya” 

Demikianlah pesan singkat dari sang Resi. Ini sangatlah penting dan bermakna, hanya saja maaf karena kami belum bisa memberikan terjemahannya. Belum waktunya sekarang. Mungkin suatu saat nanti baru akan segera kami sampaikan. Itu pun kalau diizinkan dan masih ada kesempatannya, karena dunia ini sudah tiba di titik nadir peradaban. Kita sudah hidup di penghujung zamannya, tepatnya di akhir periode zaman Rupanta-Ra (zaman ketujuh manusia).

6. Penemuan kembali
Setelah dibangunnya candi untuk patung Putri Arnihala, Pangeran Sumariya lalu memutuskan untuk tidak kembali ke kerajaan Pasturingga. Ia berpesan agar tahta kerajaan diwariskan kepada adiknya yang lain yang bernama Huramasiya. Setelah itu, sang pangeran sendiri tak pergi kemana-mana. Ia tetap berada tak jauh dari lokasi candi Paranata, merenungi dan menemani patung Putri Arnihala. Di salah satu tempat, tepatnya di sebelah barat komplek candi, ia lalu memutuskan untuk ber-tapa brata. Entah apa yang ia inginkan tak ada yang tahu dan tak ada pula yang berani mendekat. Tahun demi tahun pun berlalu tapi sang pangeran tetap dalam posisi duduk bersila tanpa bergerak sedikitpun. Ia sangat khusyuk dalam tapa brata-nya itu. Sampai pada suatu hari, setelah 5 tahun ber-tapa disana, sang pangeran pun tiba-tiba menghilang. Ia telah berpindah ke dimensi lain.

Sepeninggalan Pangeran Sumariya, komplek candi Paranata terus dimanfaatkan sebagai taman wisata bagi semua orang. Pada awalnya bangunan candi itu bukan untuk tempat ibadah atau pemujaan. Dan memang sejak awalnya hanya diniatkan untuk tempat wisata bagi Putri Arnihala dan para pelayannya. Lalu, sebelum ber-tapa, Pangeran Sumariya sempat berpesan bahwa tempat itu boleh dikunjungi oleh siapapun, tak peduli apakah ia bangsawan atau pun rakyat jelata. Asalkan dengan niat yang baik, maka siapapun boleh menikmati indahnya komplek percandian itu.

Waktu pun berlalu sampai ribuan tahun dan bangunan candi yang ada di komplek Candi Paranata itu tetap berdiri. Awalnya patung Putri Arnihala tetap berada di dalam candinya. Tapi suatu ketika, tiba-tiba patung itu pun ikutan raib dari pandangan. Setelah dicari-cari kemana-mana, tetap saja tak ada yang tahu keberadaannya. Patung itu benar-benar hilang entah kemana. Sampai pada suatu ketika, ada bencana besar dari letusan gunung Merapi yang melanda daerah itu. Akibat dari letusan dahsyat tersebut,  semua bangunan yang ada di komplek Candi Paranata itu pun terkubur. Sejak saat itu, bukan saja patung Putri Arnihala saja yang hilang, tapi bahkan keberadaan komplek Candi Paranata itu pun ikutan lenyap, tak diketahui lagi. Semuanya telah hilang tertimbun abu vulkanik selama ribuan tahun.

Sampailah pada akhirnya, dimasa kerajaan Medang yang berdiri sekitar abad ke 8-9 Masehi, komplek percandian itu ditemukan kembali. Waktunya tak berjauhan dengan saat penemuan Candi Borobudur yang ada di Magelang – yang juga ditemukan oleh kerajaan Medang ini. Terhadap Candi Paranata ini pun sama-sama di lakukan eskavasi dan renovasi oleh perintah raja yang berkuasa saat itu. Raja tersebut bernama Rakai Pikatan. Bertahun-tahun candi itu di renovasi sampai pada masa raja Lokapala dan Balitung Maha Sambu. Selama itu banyak perubahan yang di lakukan, ini pun sesuai pula dengan keyakinan mereka. Dan sejak saat itu, keberadaan candi megah ini kembali dikenal oleh dunia, khususnya masyarakat di pulau Jawa.

Namun peristiwa tragis pun kembali terjadi. Sekali lagi komplek candi ini terkena dampak letusan gunung Merapi. Akibatnya candi yang megah itu harus terkubur lagi dan mulai hilang dari ingatan. Memang sebagian warga yang tinggal di sekitar Mataram (kota Jogja) saat itu mengetahui tentang keberadaan candi yang melegenda itu. Hanya saja mereka tak tahu dimana lokasinya dan bagaimana latar belakang kisahnya. Mereka hanya tahu sedikit, itupun sebatas dongeng yang diceritakan secara turun temurun. Dongeng tersebut menjadi legenda yang dikenal dengan kisah Roro Jongrang.

Sampailah pada suatu ketika, tepatnya sekitar tahun 1733, candi ini ditemukan kembali oleh CA. Lons yang berkebangsaan Belanda. Candi ini pun menyita perhatian dunia, khususnya Britania Raya (Inggris) pada masa pendudukannya di tanah Jawa. Ketika itu Colin Mackenzie, seorang surveyor bawahan Gubernur Jendral Sir Thomas Stanford Raffles, menemukan kembali candi ini. Meskipun Raffles memerintahkan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut, tapi bangunan ini tetap terbengkalai selama puluhan tahun. Penggalian tak serius pernah di lakukan pada tahun 1880-an yang sayangnya malah menyuburkan praktik penjarahan relief dan batu candi. Barulah beberapa tahun kemudian Isaac Groneman melakukan pembongkaran besar-besaran dan batu-batu candi tersebut ditumpuk secara sembarangan di sepanjang Kali Opak. Arca-arca dan relief candi diambil oleh warga Belanda dan dijadikan hiasan taman, sementara warga pribumi menggunakan batu candi untuk bahan bangunan dan pondasi rumah. Sangat disayangkan.

Gambar 5. Foto: Ilustrasi bentuk Candi Prambanan di masa kolonial

Gambar 6. Foto: Proses eskavasi dan renovasi Candi Prambanan di masa kolonial

Gambar 7. Foto: Candi Prambanan sebelum di renovasi

Catatan: Bentuk candi yang ada sekarang sudah jauh berbeda dengan aslinya dulu. Yang awalnya dulu lebih rumit dan lebih indah. Bahan bangunannya pun tidak hanya dari batu andesit saja, tapi juga dari batu marmer dan pualam, khususnya untuk bagian kubah atau puncak candi. Coba saja perhatikan ilustrasi di atas, terlihat banyak perubahan bentuk bila dibandingkan dengan yang ada sekarang. Nah, dulu di masa kerajaan Medang telah di lakukan banyak perubahan bentuk. Tapi sayang itulah yang dijadikan pedoman utama arsitekturnya hingga kini.

Pemugaran secara resmi oleh pemerintah Belanda di lakukan pada tahun 1918, akan tetapi upaya serius yang sesungguhnya dimulai pada tahun 1930-an. Pada tahun 1902-1903, Teodoor Van Erp memelihara bagian yang rawan runtuh. Pada tahun 1918-1926, dilanjutkan oleh Oudheidkundige Dienst (Jawatan Purbakala) dibawah pimpinan P.J. Perquin dengan cara yang lebih sistematis sesuai kaidah arkeologi. Pada tahun 1926 dilanjutkan oleh De Haan sampai akhir hayatnya pada tahun 1930. Selanjutnya pada tahun 1931 digantikan oleh Ir. V.R. Van Romondt hingga tahun 1942 dan kemudian diserahkan kepada putra Indonesia dan itu berlanjut sampai tahun 1993. Dan hingga kini proses renovasi masih terus di lakukan. Situs ini pun sejak tahun 1991 telah menjadi Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO.

7. Penutup
Wahai saudaraku. Demikianlah kisah tentang Candi Paranata atau yang kini disebut dengan Prambanan itu. Ada pelajaran yang patut diambil untuk kita semua, terutama mengenai fitnah, hasutan dan adu domba. Perlu hati-hati sebelum memutuskan, tentang apapun itu. Perlu juga mencari kebenaran dulu sebelum melakukan sebuah tindakan. Karena resikonya tidak main-main. Dan lihatlah apa yang terjadi pada diri Putri Arnihala dan Pangeran Sumariya itu. Meskipun keduanya tetap punya rasa cinta, tapi karena keadaan dan kurangnya dalam mencari kebenaran, akhirnya mereka harus bermusuhan. Keduanya larut dalam kejahatan yang tak sengaja mereka lakukan. Begitu pun dengan kita. Kita juga harus sangat berhati-hati dalam bertindak, terlebih kepada orang-orang di sekitar kita. Tetaplah bersikap waspada, karena tidak menutup kemungkinan mereka itu akan mengambil keuntungan pribadi di atas penderitaan kita.

Ya. Dari zaman ke zaman fitnah, hasutan dan adu domba selalu mewarnai kehidupan manusia. Tak terkecuali di negeri ini, karena bahkan sekarang sedang begitu banyak terjadi, baik di kota maupun di desa. Hampir semua orang telah termakan oleh fitnah, hasutan dan adu domba dari segelitir orang yang telah dikuasai oleh kejahatan atau yang selalu mencari keuntungan materi duniawi. Akibatnya, kondisi negeri ini pun kian terpuruk dan menunggu perang saudara atau bahkan azab dari Tuhan. Tak ada yang bisa mencegah hal itu, selama bangsa ini tak kembali ke jalan yang benar dan diridhi oleh Hyang Aruta (Tuhan YME).

Akhirnya, disini kami sadar bahwa apa yang telah diceritakan di atas terasa asing bagi banyak orang. Adapun yang kami tuliskan disini adalah sebatas ringkasan dan sekaligus beberapa pengembangan dari isi kitab Wihatasi. Sengaja kami lakukan agar para pembaca sekalian bisa lebih mudah memahami inti dari ceritanya. Selain itu, kami pun sangat menyadari, bahwa mungkin ada yang langsung mengatakan bahwa yang disampaikan ini hanyalah cerita bohong yang mengada-ada. Silahkan Anda berpendapat begitu, kami takkan marah atau pun kecewa. Tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan kembali. Percaya syukur, tapi kalau tidak percaya ya silahkan, itu pilihan Anda sendiri dan kami tak bisa memaksa. Hanya satu doaku, semoga kita semua hidup dalam damai dan kesejahteraan.

Salam Rahayu _/|\_

Jambi, 16 Maret 2017
Harunata-Ra

Iklan

8 thoughts on “Candi Prambanan: Kisah Cinta Yang Terlupakan

    1. Terimakasih juga mbak Widya atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. Tentang bahasanya sudah saya jelaskan di tulisan mbak, tapi kalo ttg kitabnya masih harus di rahasiakan dulu.. Ada waktunya nanti ditunjukkan pada dunia..

  1. terima kasi bang, saat membaca untuk pertama dan kedua kalinya terasa seperti ada simpul-simpul benang dalam benak saya yang mulai terurai.. hehehe

    1. Okey mas Arwin, makasih juga udah mau berkunjung.. 🙂
      Wah gitu ya mas, semoga tulisan ini bisa memberikan byk manfaat.. Rahayu 🙂

  2. Setiap kejadian itu memang ada maksud dan tujuannya. Ada pula yang menetapkan atau mengizinkan semua itu bisa terjadi. karena di dunia ini tak ada yang lepas kendali atau tanpa ada yang mengaturnya. Semuanya telah diatur dengan sangat teratur. Selalu saya nanti orat oret kang Harunata-Ra tentang kisah klasik leluhur bangsa Nusantara ato yang lainnya Karena dengan begitu kita akan belajar untuk bersikap bijak, rendah hati dan selalu menempuh jalan kebenaran yang sejati. semoga kebaikan dan kebahagiaan akan terus menyertai kang harun.
    Salam
    Rahayu Salawasna _/|\_

    1. Setuju kang Tufail, semuanya memang sudah di atur dan ada waktunya sendiri.. Sikap tawakal adalah yang seharusnya di lakukan oleh kita sebagai makhluk-Nya jika ingin selamat dan bahagia.
      Terimakasih kang, karena masih mau berkunjung dan membaca coretan saya ini, maaf kalo kurang layak.. maklumlah bukan penulis sih.. 🙂
      Jika ada kesempatan dan diizinkan, saya akan terus menyampaikan apa yang sudah saya ketahui selama ini, dengan harapan sebagai informasi dan peringatan bagi semua orang.. Tapi disini seperti yang saya sampaikan diatas, bahwa semuanya ada waktunya sendiri.. Saya disini hanya menyampaikan yang sudah waktunya saja.. Masalah percaya atau tidak, itu urusan pembaca sekalian. Tugas saya hanya sebatas menyampaikan saja.
      Aamiin ya Robb, saya doakan semoga kita terus disertai kebaikan dan kebahagiaan dunia akherat.. Semoga kita selamat ketika masa transisi zaman ini terjadi dan tentunya di akherat nanti… 🙂
      Rahayu Bagio _/|\_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s