Rumah Dengan 5 Pintu Keindahan

home-2Pada suatu ketika, ada seorang pemuda yang sedang ber-tahanuts (nyepi) di tengah hutan. Namanya adalah Ruhilas, dan bukan yang pertama kalinya ia menyendiri dari keramaian manusia. Selain ber-tahanuts, ia juga sering ber-uzlah (mengasingkan diri). Tujuannya saat itu adalah untuk menemukan pencerahan batin. Karena hanya dengan begitu, ia pun bisa merasakan arti hidup yang sebenarnya. Dan untuk yang kali ini, maka sudah terhitung 3 tahun lebih Ruhilas menyendiri. Kebiasaan itu ia lakukan di sela-sela urusan duniawinya. Pada setiap selang satu tahun sekali, Ruhilas akan kembali menyendiri, menjauh dari kesibukan duniawi.

Suatu ketika, Ruhilas pun sedang berjalan-jalan di hutan yang ada di lereng gunung Arhima. Setelah cukup lama berjalan, ia pun beristirahat dibawah sebuah pohon yang rindang yang ada di sebidang tanah yang cukup datar. Saat asyik beristirahat, secara tak sengaja Ruhilas melihat ada semacam pintu besar tepat di arah depannya. Makin lama pintu itu terlihat jelas, bahkan lengkap dengan bangunan rumah sederhana yang tak berpenghuni. Karena rasa penasaran, Ruhilas pun mendekati bangunan itu. Saat mendekat, tiba-tiba pintu kayu rumah itu pun terbuka. Tanpa menunggu lagi, sang pemuda pun memasukinya dengan terlebih dulu mengucapkan salam.

Baru saja masuk, pintu rumah itu tertutup dan didalamnya gelap gulita. Ruhilas tak bisa melihat apa-apa, seperti orang buta. Pikirannya pun diliputi perasaan cemas dan ingin segera keluar dari tempat itu. Tapi sebelum ia menjalankan niatnya, tiba-tiba terdengar suara yang bertanya kepadanya. Katanya: “Wahai pemuda, dalam penjelajahanmu di muka Bumi, apakah engkau sudah menemukan rahasia penciptaan? Apakah engkau mengerti tentang rahasia dibalik adanya alam ini? Dan dari segala ciptaan di dunia ini, manakah yang paling penting?”

Mendapati pertanyaan itu, Ruhilas tidak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak dan akhirnya sadar bahwa saat itu ia sedang diuji. Tak lama kemudian barulah Ruhilas pun berkata: “Wahai tuan, dari semua ciptaan, menurutku yang paling penting itu adalah manusia”

“Bagaimana mungkin manusia yang paling penting? Sementara mereka itu sendiri berasal dari tanah. Bukankah tanah jauh lebih besar” Tanya dari suara tanpa wujud itu.

Ruhilas pun menjawab: “Iya benar, tanah jauh lebih besar dari manusia”

Setelah mengatakan itu, tiba-tiba tempat Ruhilas berdiri saat itu diliputi cahaya terang. Ia pun bisa melihat seisi ruangan yang tampak indah. Tak kalah dengan ruang balairung istana para kaisar. Hanya saja, disana ada semacan telaga yang sangat jernih airnya. Lalu di arah depan Ruhilas kini tampak ada sebuah pintu berukir indah yang terbuat dari batu mengkilat berwarna hijau. Pintu itu pun terbuka tapi tak terlihat apapun di dalamnya karena memang gelap gulita. Suara tanpa wujud itu pun memerintahkan Ruhilas untuk memasukinya tanpa ragu. Tapi sebelumnya, suara tanpa wujud itu memerintahkan Ruhilas untuk membersihkan diri, mandi di telaga bening itu.

home-1

Ruhilas pun mengikuti perintah itu. Dengan tanpa ragu ia pun langsung memasuki telaga itu. Ia mandi dengan sepuasnya, namun sesuatu yang aneh terjadi. Saat keluar dari telaga itu, pakaian yang ia kenakan sebelumnya hilang dan berganti dengan pakaian yang baru. Pakaian itu serba putih bersih, seperti yang dikenakan oleh jamaah haji (pakaian Ihrom). Dengan pakaian itu, Ruhilas pun terus melangkah maju mendekati pintu yang ada disana dan memasukinya. Setibanya di dalam ruangan gelap itu, pintu masuknya pun tertutup. Tak lama kemudian suara tanpa wujud itu pun kembali berkata: “Tetapi anak muda, bukankah tanah itu hanyalah sebagian dari Bumi? Bumi-lah yang lebih besar karena menjadi wadah bagi tanah?”

Mendengar penjelasan itu, Ruhilas pun berkata: “Itu juga benar, aku setuju bahwa Bumi tentulah lebih besar dari tanah”

Setelah menjawab itu, ruangan tempat Ruhilas berada pun bercahaya. Seperti waktu sebelumnya, sang pemuda pun bisa melihat semua keindahan seisi ruangan itu. Lebih indah dari ruangan yang pertama. Tak lama berselang di arah depannya muncul satu pintu yang terbuat dari batu mengkilat yang berwarna putih. Ukirannya sangat indah lengkap dengan berbagai jenis permatanya. Pintu itu pun terbuka, dan suara tanpa wujud langsung memerintahkan sang pemuda untuk segera memasukinya.

Sama dengan sebelumnya, Ruhilas tak bisa melihat apapun karena ruangan itu gelap gulita. Baru saja ia masuk ke ruangan itu, pintunya pun langsung tertutup. Kini ia pun berdiri di tengah kegelapan yang pekat. Barulah ia tak merasa sendirian saat suara tak berwujud pun kembali berkata: “Tetapi anak muda, bukankah kau sudah tahu bahwa Bumi itu mengambang di luasnya angkasa? Bahkan angkasa pun juga berada di dalam kolongnya langit? Langitlah yang menyelimuti Bumi, bahkan Angkasa dan milyaran Galaksi. Artinya, tentulah langit yang paling besar bukan?”

Mendengar keterangan itu, sekali lagi Ruhilas hanya bisa mengangguk setuju. “Itu pun betul sekali, memang Langit jauh lebih besar dari Bumi, Galaksi dan Angkasa” Jawab Ruhilas.

Setelah mengatakan itu, sekali lagi ruangan tempat Ruhilas berada menjadi terang benderang. Lebih bercahaya dan seisi ruangannya pun tampak jauh lebih indah dari sebelumnya. Ruhilas sangat menikmati pemandangan itu. Dan saat ia sedang asyik menikmati keindahan yang ada, tiba-tiba muncul bola cahaya yang semakin membesar. Cahaya itu kian bersinar terang, lalu darinya muncul sesosok pria yang sangat rupawan. Belum pernah Ruhilas melihat sosok yang seperti itu. Energinya terasa sangat besar dan kharismanya tampak luarbiasa. Dan ternyata dialah yang selama ini berbicara kepadanya. Sosok agung di antara para Ainur. Kepadanya Ruhilas pun segera bersimpuh, menghormatinya.

Setelah mengucapkan salam, dengan tersenyum sosok bercahaya itu pun berkata kepada Ruhilas. “Pertanyaan ku belum selesai wahai anak muda. Bukankah kau juga sudah tahu bahwa pada mulanya Dia telah berfirman dengan kalimat “Kun: Jadi”, maka terciptalah alam semesta. Dan nanti, sesuai dengan kehendak-Nya pula, Dia pun akan mendatangkan waktu yang bisa menghancurkan segalanya (Hari Kiamat). Artinya segala sesuatu itu hanya berada di “ujung lidah-Nya” saja. Bila “lidah-Nya” saja lebih besar dari seluruh alam, bagaimana dengan Wujud-Nya yang tak terhingga? Bagaimana menurutmu?”

Mendapatkan penjelasan dan pertanyaan itu, Ruhilas pun akhirnya sampai pada satu kesimpulan. Dengan riang ia pun berkata; “Tuhanlah yang terbesar dan tiada bandingannya. Dia-lah Sang Maha Agung dan tak terhingga. Segala yang tercipta, segala makhluk itu hanyalah wujud dari kehendak-Nya saja. Tak ada yang lebih dari pada Dia”

“Hmm… Tetapi apakah engkau belum tahu bahwa sebenarnya Tuhan pun masih punya satu kelemahan? Lihatlah, bahwa Tuhan “tak berdaya” di hadapan hamba-Nya. Dia pun selalu mengabulkan setiap doa dari para hamba-Nya. Dan orang yang beriman itu telah “mengikat” Tuhan di dalam hatinya, sehingga Tuhan pun tak bisa kemana-mana lagi, karena selalu menetap di dalam sanubarinya. Lantas, jika begitu sekarang mana yang lebih besar antara Tuhan dan hamba-Nya itu?” Tanya sang Ainur lagi.

Mendapatkan pertanyaan itu, sontak saja Ruhilas terkejut, awalnya ia heran ada pernyataan seperti itu. Tapi setelah lebih direnungkan, ia pun harus mengakui bahwa seorang hamba itu memang lebih besar dari Tuhannya. Katanya: “Ya. Seorang hamba memang lebih besar dan melebihi kekuasaan Tuhannya”

“Baiklah jika begitu jawabanmu. Itu benar. Karena jika ada satu kekuatan yang mampu mengikat kekuatan yang lainnya, maka harus diakui bahwa yang mengikat itu lebih kuat dari yang diikat. Betapa pun Dia mulia dan berkuasa, betapa pun Dia yang Menciptakan dan Menghancurkan, tapi seorang hamba yang bisa mengikat Tuhan dalam hatinya dengan rasa cinta dan pengabdian yang tulus adalah yang lebih kuat” Balas sang Ainur.

“Tapi” lanjut sang Ainur lagi. “Perlu diingat, bahwa seorang hamba itu seperti setetes air yang diambil dari lautan. Jika diletakkan pada telapak tangan, maka setetes air itu memang terlihat sangat kecil, sangat sedikit bila dibandingkan dengan samudera. Namun jika air tersebut dikembalikan kepada samudera, maka ia akan tetap menjadi bagian dari samudera yang luas. Bahkan sebenarnya dimana pun air itu berada, maka selamanya ia adalah bagian dari samudera. Tak berbeda, tak terpisahkan. Dan saat ia bisa kembali ke samudera pun ia tetap bukan sesuatu yang baru bagi samudera. Hanya saja memang tak semua air yang terambil atau meninggalkan samudera itu bisa kembali lagi ke samudera. Begitu pula tak semua makhluk itu bisa kembali kepada Tuhannya, karena mereka lupa diri, lupa dengan Tuhannya sendiri dan lupa pula dengan jalan untuk kembali kepada-Nya. Sehingga inilah yang perlu dipahami. Sebab, jika kekecilanmu sebagai manusia bisa selalu disatukan dengan kebesaran-Nya, dimanapun engkau berada, dirimu menjadi yang maha besar. Inilah saat dimana engkau telah manunggal dengan Diri-Nya dalam arti yang sesungguhnya. Dan ini pula yang seharusnya kau sadari di sepanjang hidupmu. Yaitu meninggalkan dualisme kepada yang sejatinya hanyalah Satu”

Mendapati penjelasan itu, tiada kata yang mampu diucapkan oleh Ruhilas selain tertunduk haru dan setuju. Ia pun meneteskan air matanya, dan terus memuji-muji Tuhannya dengan penuh penghayatan. Melihat itu, sang Ainur tak berkomentar. Ia terus melanjutkan kata-katanya; “Ketahuilah, bahwa engkau kini sudah berada di tempat lain yang tak lagi di Bumi. Rumah yang kau lihat, ruangan yang kau saksikan dan pintu-pintu yang telah kau lalui itu adalah yang menunjukkan keadaan hatimu. Dan pintu ketiga itu, hanya diperuntukkan bagi pribadi yang telah mencapai derajat Natiqoh. Tidak banyak yang mampu, karena Natiqoh itu adalah kekuatan diri yang bersifat tenang, suka menerima nasehat, suka menerima dan mencari ilmu, suka kebijaksanaan, bersikap adil, istiqomah, tawadhuk, wara`, qona`ah, tabah, sabar, tawakkal, bersyukur, rendah hati, tidak iri dan dengki, pemurah, penyayang, dan penuh rasa cinta kasih, yang semuanya terlepas dari hasrat keinginan diri. Dan Natiqoh ini telah kau jalankan seumur hidupmu tanpa adanya jeda. Yang membuatmu jadi berbeda dengan siapapun dari manusia Bumi, meskipun tak terlihat oleh mereka. Bahkan selama 10.000 tahun sebelum atau setelah kepergianmu nanti, belum tentu ada yang sepertimu lagi. Karena semua itu adalah kehendak dari Hyang Aruta (Tuhan Yang Maha Esa) sendiri. Yang jelas membuatmu tidak akan mengikuti siapa pun kecuali Dia. Tidak pula mengikuti ajaran apapun kecuali syariat-Nya saja”

***

Dari Umar ibn Khaththab RA telah mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda; “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah, ada orang yang bukan Nabi dan bukan syuhada`; namun banyak Nabi dan syuhada` pada Hari Kiamat yang ingin seperti mereka, karena derajat mereka di sisi Allah SWT.”…..” (HR. Abu Dawud)

***

Lalu, tak berselang waktu setelah uraian itu disampaikan, terbukalah pintu-pintu rahasia dan hijab-hijab misteri Ilahi khusus hanya untuknya seorang, tidak untuk selainnya. Hatinya diizinkan menerawang jauh kemana-mana. Dan di waktu semua pintu dan hijab itu dibukakan untuk dirinya (dengan cara bertahap), maka yang ada di dalam sana jelas begitu memukau dan tidak ada yang serupa dengan itu. Dengannya, ketika setiap lima lapis di tambahkan, maka tubuh zahirnya pun akan merasakan demam dan mengigil. Bahkan bila seandainya antara jasad dan ruhaninya terpisah, maka niscaya tubuhnya akan hancur luluh. Dan ini adalah satu efek nyata akan betapa luarbiasanya karunia yang ia terima. Sehingga semua pengetahuan itu hanyalah untuk dirinya sendiri dan tidak bisa di kabarkan kepada siapapun kecuai sedikit (karena tak ada kata-kata yang bisa menjelaskannya). Dan ini akan terus ia lakukan hingga waktunya harus meninggalkan dunia fana.

Mendapati penjelasan seperti itu, Ruhilas terus menangis sesegukan. Tak ada kata yang mampu ia ucapkan, selain memuji kebesaran Tuhannya. Betapa saat itu ia telah diberikan begitu banyak nikmat dan kesempatan yang luarbiasa. Sebenarnya ia tak pernah mengharapkan hal itu, karena apa yang ia kerjakan selama hidupnya hanyalah untuk mengabdi kepada Tuhannya saja. Semua ia lakukan hanya karena menurutnya itulah kebenaran sejati.

Waktu pun berlalu, sang Ainur pun kembali berkata; “Lihatlah, akan muncul sebuah pintu yang belum pernah kau melihatnya. Pintu itu harus kau lalui karena dibalik sana ada pertanyaan dan jawaban yang menunggumu”

Mendengar itu, Ruhilas pun membalas; “Apakah pantas diri ini melewatinya. Bukankah yang telah ku dapatkan ini sudah cukup bagiku?”

“Lakukanlah apa yang sudah menjadi kehendak-Nya. Kau tak perlu bertanya, ikuti saja dengan berserah diri. Niscaya ada hikmah dan pelajaran bagimu” Jawab sosok bercahaya yang ternyata salah satu di antara para Ainur itu. Lalu setelah mengatakan itu, sang Ainur pun raib dari pandangan.

Ruhilas pun mengikuti apa yang dikatakan sang Ainur. Tapi baru satu langkah ia berjalan ke depan tiba-tiba ada banyak sosok-sosok bercahaya yang bermunculan. Ternyata mereka itu adalah para leluhurnya dulu. Awalnya mereka mengenakan pakaian kebesaran mereka sewaktu masih tinggal di Bumi (kesatria, raja, ratu, dan rohaniawan), tapi setelahnya mereka mengenakan pakaian serba putih seperti orang yang sedang naik haji (pakaian Ihrom). Semua sosok leluhur tersebut tersenyum kepadanya lalu menyapa dengan mengucapkan salam. Hanya ada dua sosok saja yang mewakili untuk langsung berbicara kepada Ruhilas.

Singkat cerita, para leluhur tersebut ternyata bertugas untuk mengantarkan Ruhilas dalam memasuki pintu yang ada di hadapannya. Selain itu, ternyata mereka sudah menunggu sangat lama kesempatan itu. Sudah milyaran tahun mereka menanti ada seorang pemimpin yang bisa membukakan pintu dimensi yang tidak bisa mereka lakukan selama ini. Alasannya adalah, bahwa kunci pintu itu hanya berada di tangan sosok yang terpilih, dan hanya dia pula yang bisa membukanya.

Salah seorang leluhur pun berkata: “Masuklah dengan mengucapkan salam, dan melangkahlah dengan mengagungkan nama Tuhanmu”. Ruhilas pun mengikutinya, dan kini ia hendak memasuki pintu itu. Pintu tersebut terbuat dari bahan seperti berlian namun tak pula seperti yang ada di Bumi ini. Warnanya berubah-ubah, begitu pula dengan ukirannya yang sesekali berubah bentuk, seperti sedang menceritakan sesuatu. Melihat itu tentulah Ruhilas terkagum-kagum, terlebih saat ia bisa memasuki ruangannya, ia pun lebih terkagum-kagum lagi. Belum pernah ia melihat kondisi yang seperti itu.

Tapi tak sama dengan yang sebelumnya, pintu itu tak mau terbuka dengan sendirinya. Meskipun Ruhilas sudah berada satu langkah didepannya, tetap saja pintu itu belum terbuka. Awalnya Ruhilas sedikit bingung, namun tiba-tiba di dalam saku bajunya terasa ada yang baru saja dimasukan, semacam kunci. Kemudian ia rogoh kantung baju tersebut dan ternyata memang ada sebuah kunci pintu yang terbuat dari emas murni yang bersinar terang. Mendapatkan itu ia langsung bermaksud untuk membukakan pintu tersebut. Tapi, ketika ia hendak membuka pintu itu dengan kunci yang dipegangnya, maka tiba-tiba pintu itu berubah bentuk menjadi sangat indah dan bercahaya terang. Tanpa memasukkan kuncinya, tiba-tiba pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya.

Awalnya Ruhilas dan para leluhurnya pun terheran-heran. Tapi dalam waktu sekejab mereka pun sadar bahwa tak ada yang tak mungkin bagi Tuhan. Lalu setelah Ruhilas memasuki ruangan itu, kali ini kondisinya tak terlihat gelap gulita. Dimana-mana penuh cahaya terang dan memperlihatkan keindahan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Dan ternyata ruangan itu jauh lebih luas dari ruangan sebelumnya, bahkan seperti tak berbatas. Sangat luas, dan siapapun yang berada di dalamnya seperti seseorang yang melihat betapa luasnya kolong langit. Ia akan merasa seperti sedang berada di sebuah alam semesta yang lain.

universe

Selanjutnya, ia dan para kesatria serta pemimpin kaum (leluhur)-nya itu lalu masuk ke dalam ruang dimensi yang sangat luas dan indah itu. Sungguh luas sekali, hingga tak berujung. Di dalam sana terdapat bermacam-macam bentuk keindahan yang memancarkan sinar yang tak bisa dijelaskan. Aroma yang ada pun sangat harum dan menyegarkan, sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Dan semua dari mereka tidak lagi berdiri di sebuah lantai/alas, melainkan sudah mengambang di tengah-tengah dimensi itu. Mereka bisa memandang ke segala arah; atas, bawah, depan, belakang, kanan, kiri dan tengah.

Di dalam ruang dimensi ke empat itu, tiba-tiba pula muncul sebuah singgasana yang sangat indah, yang terbuat dari semacam berlian warna-warni. Mendapati hal itu, para leluhur Ruhilas langsung bersikap tak seperti biasanya. Mereka lalu duduk bersila membentuk setengah lingkaran tepat di depan singgasana itu. Salah satu dari mereka pun berkata: “Wahai tuan, silahkan Anda duduk di atas singgasana ini, karena itu memanglah hak tuan. Selanjutnya tolong jelaskan kepada kami tentang tauhid yang sejati”

Awalnya Ruhilas merasa enggan untuk duduk di atas singgasana itu. Namun karena ia sadar akan kewajibannya untuk mengikuti, Ruhilas pun akhirnya berbicara. Dari atas singgasana itu ia lalu menjabarkan tentang tauhid yang tak biasa. Banyak yang di uraikannya dan semua itu hanya atas izin dan petunjuk Dari-Nya. Semua yang mendengarkan merasa terharu, menangis, bahkan jatuh pingsan tak sadarkan diri. Hingga pada akhirnya tinggal lima orang saja yang masih duduk namun dengan sikap yang menundukkan kepala dan bersimbah airmata. Ia pun terus mendengarkan uraian tentang tauhid dari sosok pemuda pilihan itu. Hingga pada akhirnya, dari arah samping kanan singgasana itu muncullah sebuah pintu yang terbuat dari cahaya.

Setelah cukup lama di ruang dimensi ini, dan ketika pintu cahaya itu pun telah muncul, seperti mendapatkan wahyu, Ruhilas pun langsung berjalan mendekatinya. Ia hendak membuka pintu itu dengan kunci yang dipegangnya. Adapun kondisi pintu ini sungguh lebih indah dari sebelumnya. Memukau lantaran cahaya yang dipancarkannya begitu benderang. Lalu ia pun terbuka dengan sendirinya. Dan ketika menyaksikan kejadian itu, maka seorang leluhur yang masih duduk itu pun berkata dengan suara yang berat: “Wahai tuan, sudah waktunya Anda untuk masuk ke dalam sana. Kami tidak bisa lagi bersamamu, karena hak kami cuma sampai disini (ruang dimensi ke empat). Cukupkanlah keperluan tuan di dalam sana dan segeralah kembali kesini, karena kami akan menunggumu disini, untuk mendapatkan hadiahnya”. Setelah mengatakan itu, sosok leluhur itu pun ikut jatuh pingsan dan tak sadarkan diri, seperti orang mati.

Melihat itu, Ruhilas pun berdiri lalu melangkah ke arah pintu kelima itu. Jika pintu ruang dimensi sebelumnya tidak tertutup saat dimasuki, kali ini pintunya pun tertutup dengan sendirinya. Di dalam sana, ia lalu tidak lagi menyaksikan apa-apa. Bahkan waktu serasa berhenti atau justru memang tak ada. Tak juga ada lagi arah, karena yang ada hanyalah kesendirian, lalu kesepian, lalu kesunyian, lalu ketenangan, dan akhirnya keheningan. Disana Ruhilas hanya duduk bersila dan bersimpuh di kehadirat-Nya. Ia pun hanya sendiri tapi tak merasa sendirian. Ia pun terus saja larut dengan percintaan dan kenikmatan ber-khalwat dengan Sang Kekasih sejatinya. Begitu damai dan ia menikmati waktu-waktu itu dalam masa yang tak diketahui.

Setelah cukup dalam keheningannya itu, maka muncullah dari arah depannya sebuah pintu yang terbuat hanya dari cahaya benderang. Tidak bisa dilihat apa saja yang ada di balik pintu itu, karena cahayanya begitu mentereng dan menyilaukan mata. Pintu ini berada tepat di atas posisi kepalanya yang pada bagian depannya terdapat lima buah anak tangganya. Lalu dari balik pintu itu terdengar seruan yang lembut dan memerintahkannya untuk segera masuk ke dalam dimensi selanjutnya.

Seruan itu pun menggetarkan hatinya. Demi mendapatkannya, segeralah Ruhilas memasuki ruang dimensi lain itu melalui pintu cahayanya. Ruang dimensi ini sangatlah indah dan jauh lebih indah dari apa pun yang telah ia ketahui. Bahkan tidak pula bisa dilukiskan dengan kata-kata dan cukup dipendam di dalam hatinya. Karena ini hanyalah anugerah Tuhan untuknya, yang sunguh luarbiasa.

Di dalam sana Ruhilas langsung bertemu dengan kekasih yang selalu dirindukannya. Yang segera menyambutnya dengan senyuman terindah dan ramah disertai pelukan mesra. Bahkan ternyata di dalam dimensi itu juga hadir sosok-sosok agung lainnya – termasuk kelima Ainur – yang juga menanti kedatangannya dan turut pula memeluknya. Mereka adalah para hamba Tuhan yang mulia dan terkasih, yang berasal dari waktu dan di luar waktu. Yang diketahui dan tidak diketahui oleh manusia.

Di dalam dimensi itu, sekali lagi Ruhilas mendapatkan bahwa hijab-hijab rahasia Ilahi terbuka untuknya. Dengan sangat jelas ia bisa melihat, mendengar dan merasakan semuanya. Cukup lama ia diberi kesempatan itu, sehinggga airmatanya menetes tak terbendung. Apa yang dirasakan oleh hatinya saat itu hanya dia dan Tuhanlah yang tahu. Semua yang ada disana pun ikut terharu sekaligus berbahagia melihatnya.

Singkat cerita, Ada banyak hal yang bisa Ruhilas dapatkan disana, ada pula yang telah ia perbicangkan dengan mereka yang ada disana. Disana tak ada lagi waktu yang bergerak. Semuanya sungguh berbeda dengan di dunia ini dan tak terlukiskan dengan kata-kata. Dan setelah cukup dengan urusannya di tempat itu, meskipun dengan rasa berat hati ia pun harus kembali ke dimensi sebelumnya, ke tempat para leluhurnya yang sedang menunggu. Dan saat ia sudah kembali ke dimensi itu (dimensi ke empat), disana ia sudah di tunggu oleh semua orang. Mereka adalah para kesatria dan pemimpin kaum yang sudah kembali sadar dari pingsannya.

Ruhilas pun disambut dengan suka cita dan penghormatan. Sejenak mereka menikmati suasana haru dan ceria itu. Sesuai permintaan, Ruhilas pun menceritakan apa yang telah terjadi. Di akhir kata-katanya, Ruhilas sempat berpesan: “Dari semua yang terjadi sebelumnya. Ada satu kesimpulan yang bisa diambil. Bahwa untuk bisa mencapai tujuan yang sejati, seseorang harus melalui lima pintu keindahan dalam hidupnya. Itulah keselamatan yang sesungguhnya, itulah kebeneran yang sejati”

Setelah menyampaikan itu, barulah Ruhilas melanjutkan perjalanan untuk kembali, keluar dari dimensi-dimensi itu – sementara para leluhurnya kembali ke tempat mereka semula. Dan memang pada akhirnya Ruhilas pun telah kembali ke dimensi dimana ia tinggal (di muka Bumi ini). Di Bumi ia pun kembali duduk di bawah pohon yang rindang itu. Merenungi apa saja yang barusan ia alami, lalu memikirkan apa saja yang harus ia kerjakan nanti. Sang pemuda pun menjalani kehidupannya kembali di tengah-tengah masyarakat dan kaumnya. Ia tetap mengabdi kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) dengan terus menegakkan kebenaran dan cinta. Sampai pada akhirnya, berdasarkan petunjuk yang ia dapatkan, Ruhilas pun harus meninggalkan dunia fana ini dengan jalan moksa.

*****

Wahai saudaraku. Dari uraian di atas, sangat disayangkan bila saat ini banyak orang yang tidak mau tahu tentang hakekat Tuhan. Kalau pun ada, mereka kenal Tuhan pun hanya sebatas katanya kitab, ulama, orang pinter, dll. Mereka tidak mencarinya sendiri dengan terus menempuh jalan kebenaran sejati. Dan mereka lebih percaya bukannya kepada Tuhan, melainkan kepada kemampuan mereka yang terbatas dan hanya mengagumi keberhasilan manusia saja. Mereka pun rela menunduk-nundukkan kepala, merasa kagum dan hormat, memujanya, bahkan taat kepada para pejabat, orang kaya, atau orang-orang hebat dan populer saja. Dan sebaliknya, mereka tak mau lagi menunjukkan rasa hormat dan patuh kepada Pribadi Yang Maha Kuasa. Tuhan yang menciptakan dan menguasai segala penjuru alam ini. Tuhan yang menjadi asal muasal dan sebab musabab dari segala yang ada di dunia ini, bahkan akherat nanti. Kepada Tuhan Yang Esa mereka justru memperlakukan-Nya dengan tidak semestinya. Mereka terus mengkerdilkan hakekat Diri-Nya dengan terus memuja yang selain Dia. Mereka pun sudah tidak mau lagi menempuh perjalanan ruhani yang memang tak mudah. Maunya yang instan melulu, padahal tak ada jalan kemuliaan yang ditempuh dengan cara yang instan. Dan keadaan yang menyedihkan ini terjadi terus menerus, karena tak banyak lagi orang yang dapat menggunakan mata hatinya. Karenanya mereka pun tak lagi memahami kebenaran mendasar yang ada dibalik setiap penciptaan.

Ya. Pikiran yang sempit berawal dari hati yang sempit. Dari kesempitan itu, ditambah dengan tak mau lagi secara gigih mencari kebenaran sejati, maka terbentanglah jalan hidup yang teramat picik. Padahal andaikan engkau mengerti bahwa segala sesuatu itu adalah bagian dari Tuhan dan kau pun sadar untuk harus menyatukannya kembali, kau pun takkan pernah mengikuti jalan yang keliru. Kau hanya akan patuh kepada-Nya, memuja-Nya dan hanya mengikuti jalan-Nya saja.

Sebab, mengapa harus mencari ke dalam hutan saat di pekaranganmu sudah ada satu pohon yang mampu menyediakan segala kebutuhan. Dan mengapa pula harus ke pasar, jika di dalam rumahmu telah tersedia segala hal yang kau perlukan. Dia-lah Tuhanmu Yang Maha Esa.

Jambi, 22 Februari 2017
Harunata-Ra

Iklan

8 thoughts on “Rumah Dengan 5 Pintu Keindahan

  1. sayangnya RUH IL HAS masih belum kuat menerima wahyu kun fa ya kun..
    tapi semua itu proses bagi sang pemuda itu..
    cepat lambat dia pasti akan mampu menerimanya lagi
    dan gelombang besar sebagai pertanda si pemuda menerima wahyu kunfayakun nya sang hyang maha nur..

    1. Ada banyak simbol dan makna tersirat dari tulisan ini. Karena itu setiap orang akan memiliki pandangan dan persepsi yang berbeda-beda mengenai isi dari artikel ini. Semuanya akan berangkat dari apa yang telah dipahami dan dijalani oleh seseorang dalam hidupnya. Tentu tingkatannya akan berbeda-beda pada setiap orangnya.
      Terima kasih mas/mbak Masakoe karena masih mau berkunjung.. semoga tetap bermanfaat.. 🙂

  2. Salam sejahtera.

    Segala puji bagi Allah. Rabbul alamin. Sebuah tulisan yang luar biasa. Sebuah uraian yang menakjubkan. Sebuah pesan dari alam yang begitu indah. Senandungnya begitu lembut menyentuh bagian terdalam jiwa. Energy dalam kata-katanya menjadi magnet yang menarik dan memikat hati.
    Sebuah keindahana yang terlantun bagai kidung alam bagi yang mau membacanya. Salam sejahtera untukmu wahai sang penulis kalam.

    Begitu indah yang kau sampaikan, begitu dalamnya makna yang tengah kau sajikan. Andai saja aku mampu menghirup setetes keindahannya. Andai saja akan mampu membawa setitik hikmahnya.

    Andai saja ada cahaya yang tersisa di dada sesudah membaca ini. Anda saja ada ilmu yang diterima. Anda ada kefahaman. Andai ada keteguhan. Andai ada keindahan hikmah dan kebijaksanaan yang kubawa dan kusimpan. Se sedikit apapun.
    Terima kasih dan syukur yang dalam atas rangkaian pesan alam yang luar biasa.

    Salam sejahtera untukmu

    1. Salam sejahtera..
      Begitu indah kalimat komentar yang telah kau sampaikan. Semoga itu berbalik kepadamu. Dalam alunan doa, semoga Yang Kuasa memberikan yang terbaik bagimu, dunia dan akherat nanti.
      Sekali lagi, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga setiap simbol dan makna dari bait-bait kalimat yang ada di tulisan ini tetap bermanfaat dan bisa dipetik lalu dijadikan “sesuatu” dalam hidupmu.. 🙂
      Rahayu bagio _/|\_

  3. Masya Allah, saya mendoakan kang Harunata-Ra untuk menjadi seorang “Ruhilas” selanjutnya dikemudian hari, sesuai dgn Hadist Nabi SAW semoga Hyang Aruta ( Tuhan YME ) mengangkat derajat kang harun di sisi Allah SWT.
    Salam.
    Rahayu Sapapanjangna _/|\_

    1. Waah.. jangan berlebihan gitu kang, saya tak sebaik yang sampeyan kira.. Apalagi untuk seperti Ruhilas, maka diri ini sangat jauh dari pantas karena masih terlalu awam dan bodoh.. Sungguh tak layak diri ini karena masih terlalu banyak bergelimang dosa dan kesombongan diri.. 😦
      Jadi, mari kita sama-sama mendoakan aja kang, agar derajat kita bisa sama-sama diangkat oleh-Nya. 🙂
      Rahayu bagio.. _/|\_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s