Kaum Jalawaya: Umat Terbaik Nabi Idris AS

city-fantasy-1Wahai saudaraku. Ku beri tahu tentang satu hal yang penting. Dimana fakta kehidupan yang tak diketahui lagi tentang Nabi Idris AS adalah bahwa kelahiran beliau itu terjadi setelah beberapa generasi dari Nabi Syis AS namun sebelum generasi Nabi Khidir AS. Tentang periode zamannya, ketiga Nabi tersebut hidup dalam periode yang sama, yaitu di zaman pertama umat manusia (Purwa Duksina-Ra). Nabi Idris AS sendiri adalah generasi keturunan yang ke-9 dari Ayahanda Adam AS. Garis silsilahnya tersambung sampai kepada Ayahanda Adam AS melalui diri Nabi Syis AS. Dan sebagaimana generasi sebelumnya, mulai dari generasi ketiga keturunan Ayahanda Adam AS dan Ibunda Hawa AS, maka di setiap generasi ganjil mereka itu (3,5,7,9,11) selalu ada lima bersaudara yang diangkat menjadi Nabi lalu diutus kepada satu kaum atau mendirikan kaum yang baru di tempat lain. Semuanya berangkat dari kota dimana Ayahanda Adam AS tinggal (Bakkah/Makkah), dan mereka menyebar ke segala penjuru Bumi untuk menyampaikan risalah Tuhan.

Ya. Begitulah fakta yang tak lagi diketahui banyak orang. Dan sebagaimana Nabi Syis AS dan Nabi Khidir AS, Nabi Idris AS juga dikaruniai umur yang sangat panjang dan berbagai kemampuan khusus (mukjizat). Setelah tugasnya kepada satu kaum selesai, maka beliau akan “diangkat ke langit” sampai batas waktu tertentu. Jika Hyang Aruta (Tuhan YME) menghendaki, maka Nabi Idris AS pun akan “turun” lagi ke Bumi untuk membimbing suatu kaum sampai selesai. Demikianlah hal itu berulang kali terjadi dari zaman ke zaman. Dan kisah tentang kehidupan Nabi Idris AS yang disampaikan di dalam kitab suci, khususnya Al-Qur`an itu adalah benar, tapi bukanlah satu-satunya. Itu hanyalah sebagiannya saja, karena memang tak mungkin semuanya diceritakan disana.

Lalu, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Nabi Idris AS pernah diutus ke beberapa kaum, maka kali ini akan ku ceritakan tentang kaum yang bernama Jalawaya. Kaum ini hidup pada awal periode zaman Swarganta-Ra (zaman ke-4 manusia) atau sekitar 250 milyar tahun lalu. Mereka dulu tinggal di wilayah yang sekarang ini dikenal dengan kawasan pegunungan Alpen yang ada di Eropa Barat (Italia, Prancis, Swiss, Austria, Jerman, Slovenia). Hanya saja pada masa itu, pegunungan Alpen itu masih belum ada. Disana hanya ada gunung-gunung yang semuanya termasuk gunung berapi. Kondisi alam disana diliputi oleh banyak hutan dan padang rumput, sumber ainya berlimpah, tanahnya sangat subur dan mengandung berbagai jenis barang tambang yang dibutuhkan manusia, khususnya untuk membangun peradaban yang tinggi.

Ciri fisik dari kaum ini adalah bertubuh besar dan tinggi (±13 meter), berkulit sawo matang dengan bentuk wajah lonjong, mata berwarna biru, rambut mereka lebat bergelombang dan berwarna pirang atau hitam, sedangkan bentuk hidungnya mancung seperti orang bule. Tentang usianya, kaum Jalawaya ini rata-rata berumur sampai dengan 550-an tahun, bahkan ada yang bisa lebih dari 1.000 tahun. Mereka ini adalah di antara kaum yang terbaik yang pernah ada dalam sejarah manusia. Mengapa begitu? Itu semua karena mereka memiliki karakter yang sangat baik, suka dengan perdamaian dan gotong royong, terus mengutamakan cinta dan beriman kepada Hyang Aruta (Tuhan Yang Esa) sampai batas akhir kehidupannya di muka Bumi ini.

Mereka ini juga termasuk kaum yang telah mencapai puncak kejayaan peradaban manusia. Dimana mereka telah membangun sebuah peradaban yang tinggi dan menguasai teknologi canggih. Ciri khas bangunan yang ada di kota kerajaan mereka adalah terbuat dari batu-batu warna putih atau sedikit krem yang dihaluskan. Untuk atapnya, maka terbuat dari tanah liat atau logam mulia (tembaga, perak, emas) dengan bentuk yang runcing-runcing dan terkadang menyerupai kubah masjid yang bertingkat. Ada banyak pula menara yang menjulang tinggi di kota mereka ini, yang menambah keindahannya.

city-fantasy-2

Sedangkan contoh kecanggihan teknologinya adalah berhasil menciptakan beberapa kendaraan, di antaranya Kursala (mobil terbang) dan Marsyala (pesawat terbang super canggih – menggunakan energi dari udara dan kristal – yang bisa menjelajahi luar angkasa dengan kecepatan cahaya). Mereka juga terus mengembangkan teknologi itu dengan banyak melakukan riset dan percobaan. Hal ini juga berlaku di segala bidang kehidupan yang ada. Semua itu berkat pengajaran yang telah diberikan oleh Nabi Idris AS kepada mereka sejak awal peradabannya. Dan mereka ini (kaum Jalawaya) diberikan waktu hidup selama ±250.000 tahun, cukup singkat untuk standar kehidupan kaum-kaum di periode zaman itu.

Namun demikian, meskipun mereka hidup dalam peradaban yang tinggi, tetap saja mereka mempertahankan kebiasaan lama dari para leluhur. Mereka memang telah memproduksi berbagai kendaran bermesin, namun tetap saja mereka senang berjalan kaki dan sering menunggangi hewan peliharaan. Begitu pula meskipun mereka telah menguasai berbagai ilmu dan teknologi, tetap saja mereka terus melatih kemampuan ilmu kanuragan dan kadigdayan-nya. Khususnya kaum pria, kemampuan ilmu kanuragan dan kadigdayan yang berhasil ia kuasai merupakan suatu kebanggaan dan itu sangat dihargai oleh semua orang. Karena itulah, seorang Driwala (dokter) tidak akan dianggap dokter jika ia belum menguasai ilmu kadigdayan khusus pengobatan. Meskipun mereka telah menciptakan peralatan medis yang canggih, tetap saja seorang Driwala akan mengunakan teknik tradisional-supranatural untuk mendeteksi berbagai penyakit. Salah satu caranya dengan menyentuh tangan korban lalu merasakan denyut nadinya. Hanya sekali sentuh saja, Driwala akan segera tahu apa penyakit yang diderita oleh si pasien dan bagaimana cara mengobatinya. Bahkan ada pula yang cukup dengan melihat raut/ekspresi wajah pasiennya, maka sang Driwala sudah bisa tahu jenis penyakit yang diderita oleh si pasien dan bagaimana cara mengobatinya. Jadi, peralatan medis yang diciptakan oleh kaum ini biasanya hanya untuk penanganan pasca diperiksa oleh Driwala; pengobatan dan pemulihan diri si pasien saja. Karena bahkan dengan kemampuan khususnya, Driwala pun bisa langsung mengobati sang pasien tanpa proses terapi atau minum obat, dan biasanya memang bisa langsung sembuh.

Kaum ini pun sangat mengutamakan kekeluargaan, gotong royong dan cinta kasih. Contohnya saja, saat itu syariat agama mereka memerintahkan untuk menunaikan Harrul (sembahyang) pada malam hari (tengah malam). Tentunya ini tidak mudah, namun mereka sangat taat dengan aturan itu. Buktinya pada setiap malamnya, setiap orangnya akan bangun di malam hari untuk menunaikan ibadah itu. Bahkan mereka akan selalu mengecek keadaan rumah tetangga mereka, apakah sudah bangun untuk menunaikan Harrul. Jika ada yang belum bangun, maka akan dibangunkan, dan itu menjadi kebiasaan yang menyenangkan bagi kaum ini. Setiap orang senang dibangunkan atau membangunkan tetangganya. Lalu setiap 7 hari sekali mereka akan menunaikan sembahyang secara berjamaah di sebuah tempat khusus yang memang sudah mereka sediakan (semacam rumah ibadah). Tata cara ibadah mereka pada waktu itu tentu sangat berbeda dengan kita sekarang. Tapi yang jelas intinya tetaplah sama, yaitu untuk bersyukur, mengingat, berserah diri dan mengagungkan Tuhan.

Selain itu, mereka juga diperintahkan untuk berpuasa wajib selama 5 hari pada setiap 3 bulan sekali dan mengeluarkan zakat sebesar 10% dari penghasilannya setiap 6 bulan sekali. Ada pula anjuran untuk senang berbagi dan memberikan sedekah kepada yang membutuhkannya. Karena itu, ada kebiasaan dari kaum ini dimana pada setiap tiga hari sekali mereka akan meletakkan apa saja yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain (seperti bahan makanan, peralatan, pakaian, dll) di sebuah pondok kecil yang dibangun di depan rumahnya. Siapapun boleh mengambilnya secara gratis, bahkan tanpa perlu meminta izin. Sungguh luarbiasa, dan semuanya itu mereka kerjakan dengan rasa senang hati dan tulus ikhlas. Karena itulah Hyang Aruta (Tuhan YME) terus melimpahkan rezeki dan berbagai kenikmatan kepada mereka. Membuat kehidupannya semakin makmur dan sejahtera selama ribuan tahun.

Lalu pada setiap 45 hari sekali, kaum ini akan mengadakan acara makan bersama di kampung-kampung yang ada. Acara itu biasa disebut dengan Waslaya. Secara bergiliran, setiap kampung akan menjamu warga tetangga kampungnya. Untuk setiap kali Waslaya, maka harus di laksanakan oleh 2-3 kampung saja. Dalam acara itu, tak ada yang namanya pesta pora, karena ini memang bukan sebuah pesta, tetapi untuk silaturahim antar warga. Mereka hanya menyuguhkan apa adanya saja, yang mereka ambil langsung dari kebun dan pekarangan rumah. Pelaksanaannya pun di halaman balai desa, dengan cara duduk lesehan beralas tikar anyaman, sementara tempat makanannya hanya dari daun-daun rugla (semacam pohon pisang) yang disusun berjejer rapi. Tidak ada kemewahan disini, karena yang terlihat hanyalah kesederhanaan dan kesyukuran. Mereka pun duduk berdampingan dan saling berhadapan. Jika sudah waktunya, semua orang akan bersama-sama menyantap makanan dan minuman yang ada. Dalam acara itu, suasananya tetap meriah karena diiringi canda tawa para penduduk. Mereka saling bertukar cerita dan guyonan (candaan). Membuat suasana pada saat itu menjadi semakin ceria. Setelah itu, ketika mereka akan pulang, warga kampung yang menjadi tamu akan diberikan oleh-oleh (biasanya buah-buahan atau panganan khas) dari warga kampung yang menjadi tuan rumah acara Waslaya. Ini jelas membuat rasa kebersamaan, cinta dan kekeluargaan di antara mereka semakin erat.

Sungguh, kehidupan kaum ini penuh dengan kedamaian dan rasa cinta kasih. Tidak hanya di antara sesama mereka saja, tetapi juga kepada kaum atau bangsa-bangsa lainnya. Bahkan mereka telah menjadi pusat peradaban yang menjadikannya sebagai rujukan dan juru damai di dalam kawasan regional mereka. Kaum Jalawaya ini sangat di segani oleh kaum-kaum lainnya, karena mereka terkenal sangat maju, kuat secara ekonomi, militer dan politik, cinta perdamaian dan mampu menyelesaikan permasalahan yang ada di dalam wilayah mereka dalam ketertiban. Bahkan mereka pun tidak segan-segan untuk membagikan ilmu dan pengetahuan yang telah mereka kuasai kepada bangsa-bangsa tetangganya, dengan tujuan agar mereka pun bisa hidup dalam kesejahteraan. Sungguh mulia apa yang pernah mereka lakukan, yang semua itu berkat bimbingan dari Nabi Idris AS. Sang Nabi selalu berpesan untuk terus berbagi, bergotong royong dan mengutamakan rasa cinta kasih. Karena itulah kehidupan manusia pada masa itu, khususnya di kawasan sekitar tempat tinggal kaum Jalawaya ini menjadi lebih maju dan makmur.

Dan ada satu lagi yang mengagumkan dari kaum ini, dimana meskipun mereka sangat maju dalam peradabannya, mereka tetap tidak pernah lupa diri – seperti kebanyakan kaum lainnya, termasuk di masa sekarang ini. Kaum Jalawaya tetap mengikuti aturan Hyang Aruta (Tuhan Yang Maha Esa) di setiap lini kehidupannya, dengan penuh ketundukkan dan kesadaran diri. Mereka sangat taat di dalam menjalankan setiap kewajibannya sebagai seorang hamba Tuhan, sebagaimana yang sejak awal telah di ajarkan oleh Nabi Idris AS. Semua itu mereka lakukan bukan karena takut dosa atau menginginkan pahala, tetapi karena kesadaran diri yang tinggi. Dan karena sikap patuhnya kepada Tuhan inilah – yang tidak pernah berubah, pada akhirnya mereka di perintahkan untuk berpindah ke dimensi lainnya. Hidup kekal disana dalam kebahagiaan dan rasa syukur sampai Hari Kiamat tiba nanti. Dan sebagaimana kita semua, mereka pun akan menjalani kehidupan akherat dengan harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan mereka di dunia. Tapi dengan melihat segala tindak tanduk mereka dulu, kaum Jalawaya ini tentunya akan mendapatkan kemudahan. Entahlah dengan kita sekarang ini, karena justru banyak yang bertolak belakang dengan sikap baik yang telah Tuhan perintahkan. Tidak seperti yang pernah dicontohkan oleh kaum Jalawaya ini.

*****

Wahai saudaraku. Demikianlah sekedar pengantar tentang kehidupan Nabi Idris AS dan salah satu kaum yang pernah beliau bimbing; Jalawaya. Ada banyak hal yang bisa dijelaskan tentang kehidupan Nabi Idris AS dan kaum Jalawaya ini, tetapi belum bisa kami sampaikan disini, belum diizinkan. Karena itu kami pun meminta maaf atas kekurangan ini. Kami hanya menyampaikan apa yang bisa dan boleh disampaikan sekarang. Suatu saat nanti kebenaran ini akan lengkap disampaikan, dan orang-orang akan lebih mengetahui tentang kisah menakjubkan dari Nabi Idris AS dan kaum-kaum yang pernah beliau bimbing dimasa lalu. Hal itu jika tidak di akhir periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra), tentunya di zaman yang baru nanti (Hasmurata-Ra).

Terakhir, sebagaimana tulisan yang lainnya, disini kami pun hanya bisa menyampaikan sebatas yang diperintahkan saja. Jika ada di antara para pembaca sekalian yang percaya dengan kisah ini, kami tentu senang dengan hal itu dan berharap kebaikanlah untukmu. Sebaliknya jika ada yang tak percaya, itu adalah hak Anda sendiri. Kami takkan memaksa atau pun merasa kecewa dengan sikap itu. Silahkan memilih untuk tidak percaya lalu abaikan saja informasi ini. Semoga kebaikan untuk kita semua. Rahayu.

Jambi, 20 Februari 2017
Harunata-Ra

Iklan

10 thoughts on “Kaum Jalawaya: Umat Terbaik Nabi Idris AS

  1. Subhanallah, sungguh luarbiasa kisah kasih suatu kaum yang selalu terus menerus belajar untuk bersyukur, mengingat, berserah diri dan mengagungkan Hyang Aruta (Tuhan YME). semoga tidak berlamalama tentunya di zaman yang baru nanti (Hasmurata-Ra). kita termasuk dalam golongan yang Selamat dan di selamatkan pd hari H nya nanti

    Rahayu Bagio.. _/|\_

    1. Aamiin ya Robb, semoga cepat terlaksana apa yang dirindukan oleh orang-orang yang eling lan waspodo… Semoga kita termasuk yang beruntung itu… Rahayu bagio.. _/|\_

  2. Mas oedi coba bahas kaum bidadari yg diperistri manusia bumi…cth nawangwulan,tunjungwulan, dsb…kupas dung biar melek sejarah nusantara yg luarbiasa…kebanyakan keturunan mereka menjadi raja di nusantara…bahas juga mahkota ternate yg keluar rambut katanya itu peninggalan bidadari juga…kalo tidak salah

    1. Hmm.. ya lihat nanti mas, saya belum punya referensi yg cukup ttg hal itu.. 🙂
      Trus kalo tentang bidadari yang diperistri oleh manusia Bumi, disini saya kurang sependapat. Karena menurut keyakinan saya, bidadari itu tinggalnya di Syurga, mereka hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman yang masuk Syurga di akherat nanti. Bukan ketika kehidupan duniawi masih berlangsung. Jadi disini sepertinya yang dimaksud dengan yang menikahi manusia bumi itu bukanlah bidadari dalam arti penduduk Syurga, tetapi bisa saja itu seorang peri atau dewi-dewi kahyangan saja.. Mereka sih memang terkenal cantik luarbiasa, sangat berbeda dengan manusia.. Kalau seorang pria telah menikah dengan bidadari dalam arti yang sesungguhnya, menurut saya belum bisa, wong belum waktunya kok.. Itu nanti di akherat, itupun kalo bisa masuk Syurga saja.
      Tentang mahkota ternate, saya belum punya data dan infonya, bahkan belum pernah baca tentang hal itu, Maaf 🙂

      1. Iya mas oedi mereka bukan dr surga tp tinggalnya di kahyangan, tolong di ceritakan dung mas bila tau asal muasal mereka…..

  3. Salam sejahtera.

    Tidak sengaja melintas di blog ini. Belum banyak membaca baru beberapa kilas saja. Mohon ijin untuk menyimak dan mengkaji ilmu yang disajikan disini. Terasa sangat menarik, menyenangkan dan sangat luar biasa apa yang sempat saya baca.
    Penuh kelembutan. kasih sayang dan banyak misteri yang ingin diungkap.
    Salam kenal, semoga kesejahteraan, rahmat dan kasih sayang Allah. Tuhan semesta alam berlimpah kepada mas Oedi.

    Mohon ijin untuk berselancar dan memetik hikmah dan mengambil mutiara yang banyak tersebar disini.

    Salam kenal

    1. Salam kenal juga mas/mbak Kidung Panembrama, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂
      Wah gak perlu minta izin kalau untuk membacanya, dipersilahkan banget kok.. Dan maaf kalo masih kurang santun bahasanya, maklumlah masih belajar nulis.. Tapi semoga ada banyak hikmah yang didapatkan dari tulisann ini atau tulisan lainnya, karena ada banyak simbol dan makna tersirat yang disampaikan di dalamnya…:)
      Aamiin ya Robb, semoga begitu juga untuk sampeyan, dan semoga selalu dalam lindungan serta kebaikan dari-Nya; Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s