Ratu Shima: Penguasa Kalingga Yang Tersohor di Nusantara

a-ratuWahai saudaraku. Mari kita kembali mengulik sejarah masa lalu di Nusantara. Kali ini mengenai seorang Ratu yang pernah memimpin sebuah kerajaan yang ada di Jawa Tengah pada sekitar abad ke-7 Masehi. Kerajaan tersebut bernama Kalingga. Sebuah kerajaan yang letak pusat kerajaannya berada di suatu tempat antara kabupaten Pekalongan dan Jepara sekarang.

Kerajaan Kalingga ini telah ada sejak sekitar abad ke-6 Masehi dan tentang keberadaannya bisa diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Karena memang, catatan sejarah formal mengenai keberadaan kerajaan Kalingga ini didapatkan dari dua sumber utama, yaitu dari kronik sejarah Tiongkok, serta catatan sejarah manuskrip lokal, di tambah dengan tradisi lisan setempat yang menyebutkan kisah dari seorang ratu legendaris yang bernama Ratu Shima.

Di masa lalu, kerajaan ini pernah di pimpin oleh Ratu Shima yang dikenal memiliki peraturan: “Barang siapa yang mencuri atau berbuat kriminal akan dipotong tangannya”. Dalam menjalankan roda pemerintahannya, Ratu Shima selalu di kagumi oleh semua orang, baik di dalam negeri atau pun manca negara. Ia adalah sosok yang cerdas dan sangat kharismatik, yang mampu mensejahterakan rakyat dan kerajaannya. Dan dimasa pemerintahannya, kerajaan Kalingga bisa mencapai masa keemasannya.

Baiklah, untuk lebih jelasnya mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Asal usul Ratu Shima
Shima adalah seorang penguasa di kerajaan Kalingga yang lahir pada sekitar tahun 611 Masehi di wilayah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan sekarang. Ia adalah isteri dari raja Kalingga yang bernama Kartikeyasingha (berkuasa tahun 648-674 Masehi). Ketika suaminya Prabu Kartikeyasingha wafat, Shima binti Hyang Syailendra bin Santanu (dari Malaya?) ini lalu naik tahta dengan gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara.

Ayah dari Prabu Kartikeyasingha adalah raja Kalingga (berkuasa tahun 632-648 M). Sementara itu ibunda Prabu Kartikeyasingha berasal dari kerajaan Malayu Sribuja yang beribukota di Palembang. Raja Malayu Sribuja – yang dikalahkan oleh Sriwijaya tahun 683 Masehi – adalah kakak dari ibunda Prabu Kartikeyasingha. Ratu Shima sendiri adalah putri dari seorang pendeta di wilayah Malayu. Ia adalah istri pangeran Kartikeyasingha (sebelum menjadi raja) yang merupakan keponakan dari raja di kerajaan Malayu Sribuja. Ia kemudian tinggal di daerah yang dikenal sebagai wilayah Adi Hyang (leluhur agung), atau yang sekarang bernama Dieng (di sekitar kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah). Perkawinan Kartikeyasingha dengan Shima lalu melahirkan dua orang anak, yaitu Parwati dan Narayana (Iswara).

diengGambar 1. Foto: Kawasan Dataran Tinggi Dieng

Parwati lalu menikah dengan putera mahkota dari kerajaan Galuh yang bernama Sang Jalantara atau Rahyang Mandiminyak (raja ke-2 kerajaan Galuh dengan gelar Prabu Suraghana, tahun berkuasa sekitar 702-209 M) dan berputri Dewi Sannaha. Dewi Sannaha lalu diperistri oleh Bratasenawa atau Prabu Sena/Sanna yang menurunkan anak bernama Sanjaya alias Sang Rakai Mataram (pendiri kerajaan Medang, berkuasa tahun 723-732 M).

Kemudian pada sekitar tahun 703/704 M, Sanjaya menikahi Dewi Sekar Kancana (Teja Kancana Ayupurnawangi) putri dari Rakyan Sundasembawa bin Sri Maharaja Tarusbawa, cucu dari Sri Maharaja Tarusbawa dari kerajaan Sunda. Sehingga Maharaja Harisdarma atau Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya sempat menjadi raja di kerajaan Galuh (ia merebut kembali tahta Galuh ini di tahun 723 Masehi dari tangan Sang Purbasora yang sebelumnya telah merebut tahta Galuh itu dari ayahnya; Sena/Sanna) dan juga di kerajaan Sunda (ia menerima tahta kerajaan ini dari kakek mertuanya, yaitu Sri Maharaja Tarusbawa) pada sekitar tahun 723 Masehi, sehingga ia menjadi Maharaja Sunda dan Galuh sekaligus (tahun berkuasa 723-732 M).

Sebagai tambahan, Sri Maharaja Linggawarman, atau sang penguasa terakhir di kerajaan Tarumanagara (tahun berkuasa 666-669 Masehi) mempunyai dua orang putri. Yang sulung bernama Dewi Manasih. Ia menjadi istri dari Sri Maharaja Tarusbawa yang menerima tahta kerajaan Tarumanagara dari mertuanya itu, lalu mendirikan kerajaan Sunda (669 M). Sementara puteri yang kedua yang bernama Dewi Sobakancana menjadi isteri dari Dapunta Hyang Sri Jayanasa, pendiri kerajaan Sriwijaya pada sekitar tahun 671 Masehi. Ia adalah sosok pangeran keturunan raja-raja kerajaan Malayapura dan Tarumanagara.

2. Pemerintahan Ratu Shima
Pada tahun 500-an Masehi pulau Sumatera dikuasai oleh dua kerajaan kuat, yaitu kerajaan Pali (di utara) dan kerajaan Malayu Sribuja (di timur, yang beribukota di Palembang). Sedangkan kerajaan Sriwijaya saat itu baru merupakan kerajaan kecil di sekitar Jambi. Sekitar tahun 676 Masehi, kerajaan Pali dan Mahasin (Singapura) ditaklukan oleh Sriwijaya. Lalu di tahun 683 Masehi, kerajaan Sriwijaya telah berhasil menaklukan kerajaan Malayu Sribuja. Ekspansi Sriwijaya terhadap kerajaan Malayu Sribuja yang sebenarnya masih memiliki kekerabatan dengan Kalingga tentu sangat mengganggu hubungannya dengan Kalingga. Maka, Sriwijaya mencoba mencairkan hubungan dengan kerajaan Sunda dan Kalingga.

Langkah diplomatik di lakukan antara kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Sunda yang sebenarnya sama-sama sebagai menantu dari Maharaja Linggawarman (raja terakhir Tarumanagara). Jalinan persaudaraan dan persahabatan kemudian dikenal dengan istilah Mitra Pasamayan. Dimana inti dari isi perjanjiannya adalah untuk tidak saling menyerang dan harus saling membantu.

Kerajaan Kalingga pun ditawari persahabatan, namun Kalingga menolak karena sakit hati atas penyerangan Sriwijaya terhadap Malayu, yang merupakan kerabat dekat Kalingga mengingat Ratu Shima dan ibunda Prabu Kartikeyasingha berasal dari wilayah kerajaan Malayu Sribuja yang beribukota di Palembang. Ketegangan antara Sriwijaya dan Kalingga meruncing, sehingga keduanya sudah mempersiapkan pasukan dalam jumlah besar untuk berperang. Namun akhirnya masih dapat dilerai oleh Sri Maharaja Tarusbawa dari kerajaan Sunda. Ia tampil sebagai sahabat dan kerabat, sehingga Dapunta Hyang Sri Jayanasa lalu mengurungkan niatnya untuk menyerang Kalingga, karena Kalingga itu adalah kerabat dari kerajaan Sunda. Keadaan ini berlangsung hingga Sri Jayanasa mangkat pada sekitar tahun 692 Masehi dan digantikan oleh Darmaputra (692-704 M).

candi-arjuna-dieng-1 Gambar 2. Foto: Komplek Candi Arjuna, Dieng-Wonosobo, Jateng

Sang Ratu Shima, dalam pemerintahannya membuat kerajaan Kalingga aman karena beraliansi dengan kerajaan Sunda dan Galuh. Terutama karena sikap tegas dan dia sangat dicintai oleh rakyatnya. Sang Ratu juga telah menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan, serta untuk mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur. Tradisi telah mengisahkan ada seorang raja asing yang meletakkan kantung berisi emas di tengah-tengah persimpangan jalan dekat alun-alun ibu kota kerajaan Kalingga. Raja asing tersebut melakukan hal itu karena ia mendengar kabar tentang kejujuran dari rakyat Kalingga dan berniat menguji kebenaran kabar itu. Tidak seorangpun berani menyentuh kantung yang bukan miliknya itu selama lebih dari tiga tahun, hingga pada suatu hari ada seorang putra Ratu Shima, sang putra mahkota, secara sengaja menyentuh kantung itu dengan kakinya – bukan untuk mencurinya, karena hanya sebatas menyentuh saja. Mulanya Sang Ratu Shima menjatuhkan hukuman mati untuk putranya, akan tetapi para pejabat dan menteri kerajaan memohon agar Sang Ratu mau mengurungkan niatnya itu dan mengampuni sang pangeran. Karena kaki sang pangeran yang menyentuh barang yang bukan miliknya itu, maka Ratu pun menjatuhkan hukuman memotong kaki sang pangeran. Demikianlah ketegasan sang ratu yang tanpa pandang bulu dalam menegakkan hukum negara.

Masa kepemimpinan dari Ratu Shima menjadi masa keemasan bagi kerajaan Kalingga, sehingga membuat raja-raja dari kerajaan lain merasa segan, hormat, kagum sekaligus penasaran. Masa-masa itu adalah zaman keemasan bagi perkembangan kebudayaan apapun. Agama Buddha juga berkembang secara harmonis dengan agama Hindu Siwa, sehingga wilayah di seputaran kerajaan Kalingga juga sering disebut dengan Di Hyang (tempat bersatunya dua kepercayaan; Hindu dan Buddha). Dalam hal bercocok tanam, Ratu Shima juga mengadopsi sistem pertanian dari kerajaan kakak mertuanya. Ia bahkan merancang sistem pengairan yang diberi nama Subak. Kebudayaan baru ini yang kemudian melahirkan istilah Tanibhala, atau masyarakat yang bermata pencaharian dengan cara bertani atau bercocok tanam.

Ya. Lebih dari seribu tahun yang lalu kerajaan Kalingga itu pernah bersinar penuh kejayaan. Memiliki seorang Maharani yang bernama Ratu Shima yang terkenal ayu, anggun, dan perwira, yang ketegasannya semerbak wangi di banyak negeri. Pamor Ratu Shima dalam memimpin kerajaannya luar biasa, amat dicintai rakyat jelata, wong cilik sampai lingkaran para elit kekuasaan. Bahkan konon tak ada satu warga anggota kerajaan pun yang berani berhadapan muka dengannya, apalagi menantang. Hal itu disebabkan oleh kharisma dari sang ratu sendiri yang luarbiasa, sehingga siapapun amat segan kepadanya. Tapi situasi ini sebenarnya justru membuat Ratu Shima amat resah dengan kepatuhan rakyatnya, kenapa wong cilik juga para pejabat mahapatih, senopati, adipati dan manteri, hulubalang, jagabaya, jagatirta, dan ulu-ulu, tak ada yang berani menentang sabda pandita ratunya. Sebab, jika ia melakukan kesalahan maka dikhawatirkan tak ada yang bisa mengingatkan atau meluruskan jalannya. Ini adalah suatu hal yang tidak baik bagi kehidupan negara.  Tapi begitulah keadaannya, rakyat Kalingga sangat kagum dan percaya kepada ratunya. Mereka selalu menuruti perintah dan ajakan dari sang ratu, karena itulah yang terbaik bagi semuanya.

3. Bukti sejarah
Prasasti Sojomerto merupakan peninggalan wangsa Syailendra yang ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno. Prasasti ini tidak menyebutkan angka tahun, tapi berdasarkan taksiran analisis paleografi, maka diperkirakan berasal dari kurun akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 Masehi.

prasasti-sojomertoGambar 3. Foto: Prasasti Sojomerto

Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isinya memuat tentang keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Syailendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Syailendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan wangsa Syailendra yang berkuasa di kerajaan Medang.

Bahan dari prasasti ini adalah batu andesit dengan panjang 43 cm, tebal 7 cm, dan tinggi 78 cm. Tulisannya terdiri dari 11 baris yang sebagian barisnya rusak terkikis usia. Berikut ini teks prasastinya:

… – ryayon çrî sata …
… _ â kotî
… namah ççîvaya
bhatâra parameçva
ra sarvva daiva ku samvah hiya
– mih inan –is-ânda dapû
nta selendra namah santanû
namânda bâpanda bhadravati
namanda ayanda sampûla
namanda vininda selendra namah
mamâgappâsar lempewângih

Terjemahan inskripsi yang terbaca:
…. Sembah kepada Siwa Bhatara Paramecwara dan semua dewa-dewa
… dari yang mulia Dapunta Selendra
Santanu adalah nama bapaknya, Bhadrawati adalah nama ibunya, Sampula adalah nama bininya dari yang mulia Selendra

3. Suksesi pemerintahan
Sebelum mangkat, oleh Ratu Shima kerajaan Kalingga dibagi dua. Di bagian utara disebut Bhumi Mataram atau Kalingga Utara (yang dirajai oleh Parwati, 695-716 M) bersama suaminya Rahyang Mandiminyak atau Prabu Suraghana, selanjutnya Sang Sena atau Prabu Sanna. Di bagian selatan disebut Bhumi Sambara atau Kalingga Selatan (yang dirajai oleh Narayana, adik Parwati, yang bergelar Iswarakesawa Lingga Jagatnata Buwanatala, tahun 695 M-742 M). Sanjaya (cucu Parwati) putra Prabu Sanna dengan Dewi Sannaha, cicit dari Maharani Shima dan Dewi Sudiwara putri Dewasinga (cucu Narayana) menjadi suami isteri. Perkawinan mereka adalah perkawinan antara sesama cicit dari Ratu Shima sendiri. Anak hasil perkawinan mereka itu bernama Rakai Panangkaran yang lahir pada sekitar tahun 717 Masehi. Dialah yang di kemudian hari menurunkan raja-raja di wilayah Jawa Tengah dan Jogjakarta.

4. Daftar raja-raja
Mengenai para penguasa di kerajaan Kalingga, maka tidak bisa dilepaskan dari raja-raja di kerajaan lainnya, baik di Jawa maupun Sumatera. Beberapa raja nampak tumpang tindih dan berkuasa di kerajaan lainnya secara bersamaan. Tanda tanya (?) menunjukkan keraguan atau dugaan, karena data atau bukti sejarah yang sahih masih sedikit ditemukan dan belum jelas terungkap. Dan untuk bisa merekontruksi sejarah nama-nama rajanya, perlu dilihat dari silsilah para raja yang memimpin yang berasal dari wangsa Syailendra. Adapun di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Santanu (650-674 M?) -> Sebuah keluarga beragama Siwa berbahasa Melayu kuno mulai bermukim di pesisir utara Jawa Tengah, diduga berasal dari Sumatera (?) atau asli dari Jawa tetapi di bawah pengaruh Malayu (raja bawahan)?.
2. Dapunta Syailendra (674 M?) -> Memerintah di Batang (pantai utara Jawa Tengah). Dimulainya wangsa keluarga penguasa, pertama kalinya nama ‘Selendra’ (Syailendra) disebutkan.
3. Ratu Shima alias Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara (674-703 M) -> Memerintah di Kalingga (di antara Pekalongan dan Jepara) karena menggantikan suaminya yang meninggal muda. Suaminya itu adalah raja di Kalingga yang bernama Kartikeyasinga (648-674 Masehi).
4. Mandiminyak (703-710 M) -> putra dari Prabu Wretikandayun (pendiri kerajaan Galuh).
5. Sanna/Sena alias Bratasenawa (710-717 M) -> berkuasa di Jawa, tetapi setelah kematiannya kerajaan Mataram runtuh dan terpecah-belah akibat pemberontakan atau serangan dari luar.
6. Sanjaya alias Sri Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (717-760 M) -> berkuasa di Mataram, Jawa Tengah. Sekaligus pendiri kerajaan Medang. Ia putra dari Sanna dan Sannaha (cucu Ratu Shima). Ia berhasil memulihkan keamanan, mempersatukan kerajaan dan naik tahta. Sejarawan lama menafsirkannya sebagai berdirinya wangsa Sanjaya, sementara pihak lain menganggap ia sebagai kelanjutan dari wangsa Syailendra?.
7. Rakai Panangkaran (760-775 M) -> berkuasa di Mataram, Jawa Tengah. Ia beralih keyakinan dari memuja Siwa (Hindu) menjadi penganut agama Buddha Mahayana. Pada masanya dimulailah eskavasi dan renovasi candi Borobudur.
8. Daranindra (775-800 M) -> berkuasa di Mataram, Jawa Tengah dan juga berkuasa di Sriwijaya (Sumatera), membangun Manjusrigrha, meneruskan renovasi Candi Borobudur (sekitar 770 M). Pada masanya Jawa menyerang dan menaklukan Ligor dan Kamboja Selatan (Chenla) pada sekitar tahun 790 Masehi.
9. Samaragrawira (800-812 M) -> berkuasa di Mataram, Jawa Tengah. Ia Juga berkuasa di Sriwijaya.
10. Samaratungga (812-833 M) -> berkuasa di Mataram, Jawa Tengah dan berkuasa di Sriwijaya, merampungkan renovasi candi Borobudur (825 M).
11. Pramodawardhani (833-856 M) -> berkuasa mendampingi suaminya Rakai Pikatan Mamrati, di Jawa Tengah. Mengalahkan dan mengusir Balaputradewa yang menyingkir ke Sumatera (Sriwijaya)? Merenovasi Candi Prambanan dan Candi Plaosan. Para raja Medang penerus Pikatan, mulai dari Dyah Lokapala (850-890 M) hingga Dyah Wawa (924-929 M) dapat dianggap sebagai penerus trah wangsa Syailendra, meskipun Dyah Balitung (898-910 M) dalam Prasasti Mantyasih (907 M) hanya merunut dari leluhurnya hingga Sanjaya, akibatnya menumbuhkan teori wangsa Sanjaya.
12. Balaputradewwa (833-850 M) -> berkuasa di Sriwijaya, Sumatera Selatan. Awalnya di Jawa tapi kemudian “dikalahkan” oleh Rakai Pikatan-Pramodhawardhani? dan terusir dari Jawa Tengah, lalu menyingkir ke Sumatra dan berkuasa di Sriwijaya. Ia mengaku sebagai pewaris sah wangsa Syailendra dari Jawa, lalu membangun Candi di Nalanda (India).
13. Çri Udayadityavarman (950-960 M) -> berkuasa di Sriwijaya, Sumatera Selatan. Pernah mengirim utusan dan persembahan untuk mendapat misi dagang dengan Tiongkok.
14. Haji alias….. (960-980 M)? -> berkuasa di Sriwijaya, Sumatera Selatan. Pernah mengirim utusan dan persembahan untuk mendapat misi dagang dengan Tiongkok.
15. Sri Culamanivarmadeva (sekitar 980-988 M)? -> berkuasa di Sriwijaya, Sumatera Selatan. Pernah mengirim utusan dan persembahan untuk mendapat misi dagang dengan Tiongkok. Ia membangun Candi untuk Kaisar Tiongkok, dan pemberian desa perdikan oleh Raja-raja I. Pada masanya raja Jawa bernama Dharmawangsa menyerang Sriwijaya.
16………………..?
17. Sri Maravijayottungga (sekitar 1008 M) -> berkuasa di Sriwijaya, Sumatera Selatan. Pernah mengirim utusan dan persembahan untuk mendapat misi dagang dengan Tiongkok (1008 M).
18. Sumatrabhumi (sekitar 1017 M) -> berkuasa di Sriwijaya, Sumatera Selatan. Pernah mengirim utusan dan persembahan untuk mendapat misi dagang dengan Tiongkok (1017 M).
19. Sangrama vijayottunggadewa (sekitar 1025 M) -> berkuasa di Sriwijaya, Sumatera Selatan. Pada masanya terjadi serbuan dari kerajaan Cholamandala dari India atas Sriwijaya, ibu kota akhirnya ditaklukan oleh Rajendra Chola.

5. Turun tahta dan akhir kisah kerajaan
Setelah merasa cukup, Ratu Shima binti Hyang Syailendra bin Santanu akhirnya turun tahta dan digantikan oleh menantunya yang bernama Sang Mandiminyak (raja ke-2 Galuh). Pada sekitar tahun 695 Masehi, Ratu Shima pun “mangkat”, atau 3 tahun sesudah Dapunta Hyang Sri Jayanasa, raja kerajaan Sriwijaya “meninggal dunia” di tahun 692 Masehi. Sepeninggalan Ratu Shima, tahta kerajaan Kalingga dipegang oleh cucunya (anak Sang Mandiminyak) yang bernama Bratasenawa alias Sena/Sanna, ayah dari Sanjaya (pendiri kerajaan Medang). Sena/Sanna juga menjadi raja di kerajaan Galuh. Tapi dimasa Sena/Sanna ini, tahta kerajaan Galuh direbut oleh Sang Purbasora, menantu dari Rajaresi Padmahariwangsa (raja ke-12 kerajaan Indraprahasta). Prabu Sena/Sanna dan anaknya Sanjaya selamat dalam penyerbuan itu akhirnya menyingkir ke Jawa Tengah, ke kerajaan Kalingga.

Sang Wirata, raja Indraprahasta saat itu ikut menggempur kerajaan Galuh pada tahun 716 Masehi. Ia berperan sebagai salah seorang senopati dari Sang Purbasora. Tapi kemudian ia harus menerima pembalasan dari putera Prabu Sena/Sanna, yaitu Rakryan Sanjaya. Seluruh kerajaan Indraprahasta ditundukkan, termasuk keratonnya hancur berantakan, seakan-akan tidak pernah ada kerajaan di daerah Cirebon Girang itu.

Prabu Wirata, raja Indraprahasta ke-14, gugur dalam pertempuran dan seluruh anggota keluarganya binasa. Kerajaan warisan Sang Maharesi Sentanu yang didirikan tahun 285 Saka (363 Masehi) itu lenyap dari muka Bumi ini. Kedudukannya sebagai Dharmasima (negara yang dilindungi sebagai negara leluhur) telah berakhir. Bekas kawasan Indraprahasta oleh Sang Ratu Sanjaya lalu diserahkan kepada Adipati Kusala (raja Wanagiri, menantu dari Sang Padmahariwangsa, suami Ganggakirana). Kerajaan Wanagiri menjadi pengganti kerajaan Indraprahasta dan tetap di bawah kekuasaan kerajaan Galuh, sampai pada akhirnya harus berada dibawah kerajaan Medang. Sementara pada abad ke-15 Masehi, kerajaan Wanagiri menjadi kerajaan Cirebon Girang.

Setelah berhasil memadamkan pemberontakan dari Sang Purbasora, Sanjaya yang merupakan pewaris tahta kerajaan Galuh dan Kalingga menjadi penguasa. Dan ketika ia berhasil menguasai kembali sepenuhnya bekas wilayah kerajaan Mataram, Sanjaya akhirnya memutuskan untuk mendirikan wangsa-nya sendiri. Seiring itu pula ia mendirikan sebuah kerajaan baru yang bernama Medang di bekas kota kerajaan Mataram. Sejak saat itulah, bisa dikatakan kerajaan Kalingga ini telah berakhir. Karena Sanjaya sebagai pewaris tahtanya memutuskan untuk melebur kerajaan Kalingga (Sambara) dan Mataram menjadi satu dengan nama baru yaitu Medang. Sementara kerajaan Galuh – yang sebenarnya juga haknya – lalu diserahkan kepada orang lain yang merupakan kerabat dekat. Itu terjadi pada sekitar tahun 654 Saka (732 Masehi).

6. Penutup
Demikianlah gambaran singkat mengenai Ratu Shima dan juga kerajaan Kalingga yang pernah ia pimpin. Dari semua keterangan di atas, tak ada alasan untuk tidak merindukan seorang pemimpin bijak yang kharismatik. Karena hal itu sangat dibutuhkan, terlebih di Nusantara ini memang memiliki ciri khasnya sendiri. Dimana sejak zaman dahulu, agar negara bisa aman dan makmur, maka harus ada seorang pemimpin yang kharismatik. Dan tidak hanya sampai disitu saja, perlu juga pemimpin yang telah mendapatkan restu dari Langit dan Bumi. Buktinya ia harus sudah menerima Wahyu Keprabon, yang menjadi bekal suksesi dan kekuatan dalam memanggul jabatan pemimpin negara. Tanpa hal itu, kehidupan yang ada dibawahnya akan jadi kacau, sering gaduh, dan tidak stabil. Hukum tidak adil, akhlak di masyarakat merosot, perekonomian semakin seret, korupsi kian merajalela, para penjahat berkuasa, bahkan bencana alam dan perang akan sering terjadi. Itu semua adalah pertanda bahwa pemimpin tersebut tidak mendapatkan restu dari para leluhur, Bumi, Langit dan Penguasa Jagad Raya.

Semoga kedepannya kita cepat mendapatkan pemimpin yang benar-benar sesuai dengan tradisi leluhur. Sosok kesatria yang gagah perkasa, yang tak pandang bulu dalam menegakkan hukum, sangat menguasai agama dan makrifat, punya banyak kelebihan dan kesaktian, serta mampu mengembalikan kejayaan Nusantara ini seperti di zaman Dwipanta-Ra (periode zaman kelima manusia) dulu. Dengan begitu rakyat Nusantara akan benar-benar merasakan kedamaian, kemakmuran dan kesejahteraan sekali lagi.

Salam Rahayu _/|\_

Jambi, 16 Februari 2017
Harunata-Ra

(Disarikan dari berbagai sumber dan masih perlu disempurnakan)

Iklan

4 thoughts on “Ratu Shima: Penguasa Kalingga Yang Tersohor di Nusantara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s