Dinasti Arhilatara: Kebangkitan Kaum Mahusta

Posted on Updated on

animasiWahai Saudaraku. Pada masa pertengahan periode zaman ke-5 (Dwipanta-Ra) atau sekitar ±95.000.000 tahun yang lalu, hiduplah sebuah kaum yang bernama Mahusta. Dulu mereka tinggal di sebelah barat daya pulau Sumatera (kini berada di Samudera Hindia), tepat di sekitar pesisir lautan saat itu. Dulu wilayah itu masih berupa daratan yang sangat luas dan menyatu dengan pulau Jawa dan Sumatera sekarang. Bahkan semua wilayah Nusantara saat itu masih menyatu dengan daratan Asia, dan apa yang kita sebut sekarang dengan Laut China selatan masih belum ada, sebab disana masih terhampar luas hutan dan lembah. Di seputaran wilayah itu, hidup pula beberapa kaum atau kerajaan dengan saling berdampingan. Tetapi karena mendapat azab dari Tuhan, sebagian wilayah tersebut akhirnya tenggelam dan sekarang menjadi lautan yang luas.

Lalu, meskipun terkena azab, ada sebagian dari kaum Mahusta ini yang selamat dan mereka bermigrasi ke tempat lain. Disana, setelah beberapa waktu kemudian mereka mendirikan kerajaan barunya. Mereka menamakan kerajaan itu dengan Arhilatara, yang diambil dari nama salah satu dari kelima klan penerus kaum Mahusta. Semasa wangsa (dinasti) Arhilatara ini memimpin, kehidupan kaum Mahusta sampai pada masa kejayaannya.

1. Asal usul kaum
Secara geneologi, kaum ini tetap berasal dari Ayahanda Adam AS tapi dengan pola penyebarannya sendiri. Ceritanya sangat panjang, dan tidaklah mungkin bagi kami untuk harus menyebutkan satu-persatu dari semuanya. Silsilah kaum ini tetap sampai kepada Ayahanda Adam AS, karena semua manusia itu berasal darinya. Jadi kami hanya akan menjelaskan garis silsilah dari kaum ini hanya sampai sebanyak dua kali putaran saja. Bermula dari Jawa, lalu ke wilayah Asia Tenggara lainnya, selanjutnya ke Asia Timur, Asia Tengah, Asia Barat, Eropa Timur, Eropa Barat, hingga kembali lagi ke Asia Tenggara dan pulau Jawa. Berikut uraiannya:

Kaum Mahusta ini berasal dari kaum yang bernama Hartsa yang hidup selama ±2.750 tahun di wilayah sekitar Jawa Barat sekarang (pada waktu itu pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Benua Asia masih menyatu). Kaum Hartsa ini berasal dari kaum Haskula yang hidup selama ±3.800 tahun di wilayah Laut Taiwan sekarang. Kaum Haskula berasal dari kaum Camhoni yang hidup selama ±1.950 tahun di wilayah antara China dan pulau Taiwan sekarang. Kaum Camhoni berasal dari kaum Harturia yang hidup selama ±2.300 tahun di wilayah antara daratan Mongolia dan Russia sekarang. Kaum Harturia ini berasal dari kaum Kazlam yang hidup selama ±1.850 tahun di wilayah antara Pakistan dan India sekarang. Kaum Kazlam berasal dari kaum Sarkora yang hidup selama ±2.450 tahun di wilayah Jerman sekarang. Kaum Sarkora berasal dari kaum Yolmana yang hidup selama ±3.750 tahun di wilayah Turki sekarang. Kaum Yolmana berasal dari kaum Sakurasta yang hidup selama ±3.250 tahun di wilayah Iran sekarang. Kaum Sakurasta berasal dari kaum Tursika yang hidup selama ±3.000 tahun di wilayah India sekarang. Kaum Tursika berasal dari kaum Mundala yang hidup selama ±2.650 tahun di wilayah antara Pakistan dan Afganistan sekarang. Kaum Mundala berasal dari kaum Galza yang hidup selama ±8.000 tahun di wilayah antara Nepal dan India sekarang. Kaum Galza berasal dari kaum Yupira yang hidup selama ±4.375 tahun di wilayah antara China dan Mongolia sekarang. Kaum Yupira berasal dari kaum Salipo yang hidup selama ±3.252 tahun di wilayah antara Myanmar dan China sekarang. Kaum Salipo berasal dari kaum Pursiya yang hidup selama ±5.625 tahun di wilayah Korea Selatan sekarang. Kaum Pursiya berasal dari kaum Parlusimha yang hidup selama ±11.242 tahun di wilayah China bagian utara sekarang. Kaum Parlusimha berasal dari kaum Hatimurda yang hidup selama ±15.324 tahun di wilayah Jepang sekarang. Kaum Hatimurda berasal dari kaum Solas yang hidup selama ±21.000 tahun di sekitar wilayah Laos sekarang. Kaum Solas berasal dari kaum Halayu yang dulunya hidup selama ±25.000 tahun di wilayah Kambodia sekarang. Kaum Halayu berasal dari kaum Kulayu yang hidup selama ±33.000 tahun di wilayah Malaysia bagian barat sekarang. Kaum Kulayu berasal dari kaum Patsara yang hidup selama ±50.000 tahun di wilayah Jawa Tengah sekarang. Kaum Patsara berasal dari kaum Talmura yang hidup selama ±45.000 tahun di wilayah antara Brunai Darussalam dan Malaysia sekarang. Kaum Talmura berasal dari kaum Palgaos yang hidup selama ±65.000 tahun di wilayah Philifina sekarang. Kaum Palgaos berasal dari kaum Sartaru yang hidup selama ±45.000 tahun di wilayah antara Jepang dan Korea sekarang. Kaum Sartaru berasal dari kaum Parhija yang hidup selama ±33.000 tahun di wilayah China bagian tengah sekarang. Kaum Parhija berasal dari kaum Nazlab yang hidup selama ±70.000 tahun di wilayah Kazakhstan sekarang. Kaum Nazlab berasal dari kaum Balgula yang hidup selama ±32.456 tahun di wilayah antara Nepal dan China sekarang. Kaum Balgula berasal dari kaum Sahbarok yang hidup selama ±21.754 tahun di wilayah sekitar Myanmar sekarang. Kaum Sahbarok berasal dari kaum Pulsitra yang hidup selama ±43.728 tahun di wilayah India sekarang. Kaum Pulsitra berasal dari kaum Amprusa yang hidup selama ±55.252 tahun di wilayah antara Afganistan dan Pakistan sekarang. Kaum Amprusa berasal dari kaum Tartika yang dulu hidup selama ±34.567 tahun di wilayah Iran bagian utara sekarang. Kaum Tartika berasal dari kaum Hartanta yang dulu hidup selama ±42.358 tahun di wilayah Kazakhstan sekarang. Kaum Hartanta berasal dari kaum Sapula yang dulu hidup selama ±21.345 tahun di wilayah Mongolia sekarang. Kaum Sapula berasal dari kaum Turhican yang dulu hidup selama ±12.348 tahun di wilayah China sekarang. Kaum Turhican berasal dari kaum Aspali yang dulu hidup selama ±76.215 tahun di wilayah antara Nepal dan China sekarang. Kaum Aspali berasal dari kaum Hinggira yang hidup selama ±50.112 tahun di wilayah India sekarang. Kaum Hinggira berasal dari kaum Lamari yang hidup selama ±37.721 tahun di wilayah Myanmar sekarang. Kaum Lamari berasal dari kaum Subirta yang hidup selama ±41.424 tahun di wilayah Thailand sekarang. Kaum Subirta berasal dari kaum Aspurata yang dulu hidup selama ±82.312 tahun di wilayah antara Malaysia dan Sumatera sekarang. Kaum Aspurata berasal dari kaum Astapura yang hidup selama ±99.000 tahun di wilayah Jawa Timur sekarang. Dan begitulah seterusnya sampai berulang kali bolak-balik dari dan ke Nusantara, dan pada akhirnya sampai juga ke Ayahanda Adam AS yang hidup di masa periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra) di kota Bakkah/Makkah.

Lihatlah, bahwa jalur migrasi dari kaum Mahusta ini berasal dari pulau Jawa dan berulang kali kembali dari pulau Jawa meskipun pernah sampai di daratan Asia dan benua Eropa. Adapun migrasi tersebut terpaksa harus di lakukan lantaran kaum mereka sebelumnya telah hancur oleh sebab peperangan atau karena di timpa bencana besar (azab Tuhan). Dan maaf bila kami tidak bisa menyebutkan satu persatu dari semua kaum itu hingga pada awalnya yaitu dari kota Makkah (kaumnya Ayahanda Adam AS), karena akan sangat banyak kaumnya. Tidak cukup bila harus dituliskan disini, karena yang di atas saja sudah sebanyak ±39 kaum dan berlangsung selama ±1.113.160 tahun, lalu bagaimana bila milyaran tahun sejak periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra)? Tentu tidak bisa dituliskan di artikel ini. Untuk itulah, sebaiknya kita lanjutkan pada pembahasan berikutnya, yaitu mengenai ciri fisik (ras) dari kaum ini.

Kaum Mahusta ini termasuk ke dalam ras seperti orang Asia Tenggara saat ini (kita biasa menyebutnya ras Mongoloid) dengan umur rata-rata 350-700 tahun. Ada juga yang lebih panjang dari itu, bahkan sampai ribuan tahun karena rajin olah batin dan ber-tapa brata. Mereka berkulit sawo matang atau kuning langsat dengan rambut berwarna hitam dan sebagian lainnya hitam kecoklatan. Bentuk mata mereka sedang dengan warna hitam kecoklatan. Hidung cukup mancung dan bentuk wajah yang tidak lonjong atau bulat (cenderung oval). Postur tubuhnya standar untuk manusia yang hidup di zamannya, tidak terlalu tinggi dengan rata-ratanya sekitar 6 meter. Selain itu, ras-ras lain yang hidup di wilayah negara kaum Mahusta ini – karena mereka maju dan menjadi pusat peradaban dunia pada waktu itu – menjadi beraneka ragam, seperti; mereka yang bermata sipit dan berkulit putih kekuningan (seperti orang China), bermata biru dan berkulit putih kemerahan (seperti orang Eropa), bermata hitam dan berkulit hitam (seperti orang Negro), bermata agak lebar warna hitam dan berkulit putih agak gelap (seperti orang Arab, Persia dan India), dan yang bermata hitam dengan kulit berwarna coklat kemerahan (seperti orang Indian). Ras-ras ini telah bermigrasi dari tempat asal mereka, karena merasa bahwa di negara Astalipura (nama negara kaum Mahusta) bisa menunjang kehidupannya.

2. Kehidupan kaum Mahusta
Setelah negeri asal mereka (kaum Hartsa) yang berada di wilayah sekitar Jawa Barat sekarang terkena azab Tuhan, orang-orang yang selamat yang dipimpin oleh pria bernama Zartamu mencari lokasi hunian baru. Setelah sekian lama berjalan, akhirnya mereka menemukan sebuah lokasi yang layak untuk dijadikan tempat bermukim. Tempat itu berada di pesisir pantai Samudera yang luas dan kini berada di sekitar barat daya pulau Sumatera (sekarang berada di sekitar pesisir Samudera Hindia). Perlahan tapi pasti, sejak disana mereka mulai menata kembali kehidupan mereka. Mereka lalu mendirikan sebuah desa yang diberi nama Mahusta atau yang berarti bangkit dan berjaya. Desa ini lambat laun berkembang menjadi sebuah kota yang cukup ramai dikunjungi oleh para kafilah dagang dari berbagai kaum dan negara.

Kehidupan kaum ini awalnya biasa saja, penuh kebaikan dan keimanan kepada Hyang Aruta (Tuhan Yang Maha Esa). Mereka cenderung menggunakan peralatan yang sederhana, seperti gambaran kehidupan manusia di abad pertengahan Masehi. Mereka pun sangat mendalami ilmu kanuragan dan kesaktian, dan ini tetap mereka pertahankan sampai akhir kehidupan kaumnya. Bahkan masih tetap diteruskan sampai ke generasi penerus kaum ini, di kerajaan mereka yang baru.

Kesederhanaan hidup ini terjadi hingga di sekitar tahun ke ±250 dari sejak berdirinya kaum Mahusta. Setelah itu, di tahun ke ±251 sejak berdirinya kaum Mahusta, mereka kedatangan seorang ilmuwan dari kaum Lamhasa yang bernama Syekh Mazdar[1]. Kaum Lamhasa itu dulu tinggal di sebuah wilayah yang kini disebut dengan kepulauan Solomon yang ada di sekitar Pasifik. Saat itu, disana masih terbentang daratan yang luas, dan kepulauan Solomon kini hanyalah sisa-sisanya saja. Pada waktu itu kaum Lamhasa ini adalah sebuah kaum yang sangat hebat dan telah mencapai puncak peradaban manusia.

[1] Gelar Syekh ini sebenarnya bukan berasal dari bahasa Arab, karena sesungguhnya sudah ada jauh sebelum bangsa dan bahasa Arab ada, tepatnya sejak di periode zaman ketiga (Dirganta-Ra). Gelar kehormatan ini diberikan kepada seorang yang telah diakui keilmuannya dan memiliki banyak keahlian khusus. Pada masa berikutnya, gelar Syekh ini setara dengan Baladewa atau Resi atau Maharesi.

Syekh Mazdar datang kepada kaum Mahusta dengan sebuah misi yang ia dapatkan dari seorang Nabi bernama Zamirat AS. Di negeri kaum itu, ia bertemu langsung dengan rajanya yang bernama Mulhaligh. Ia lalu memberikan sebuah buku tentang rahasia ilmu pengetahuan dan sumber energi (kristal biru) kepada sang raja untuk dipelajari oleh kaumnya. Syekh Mazdar pun bersedia mengajarkan kemampuan tersebut kepada kaum Mahusta hingga mereka bisa. Ini berlangsung selama kurang lebih 10 tahun. Dan karena kaum ini memang berbakat, maka tak butuh waktu lama bagi mereka untuk bisa menguasai berbagai keahlian yang terdapat di dalam kitab pemberian Syekh Mazdar, terlebih mereka diajarkan langsung oleh Syekh Mazdar sendiri. Selanjutnya mereka juga terus mengembangkan kemampuannya sesuai dengan keinginan dan ciri khas kaum mereka sendiri.

Lalu, sejak di tahun ke ±450 kehidupannya, kaum Mahusta ini terus mendekati kemampuan dari kaum Lamhasa, bahkan akhirnya hampir sama dengan kaum itu. Mereka juga telah berhasil menjelajahi angkasa, meski tak sejauh kaum Lamhasa yang telah berhasil menjelajah hingga ke luar galaksi. Ini terjadi lantaran mereka lebih cenderung ke perairan (laut) saja. Mereka pun mempunyai kemampuan yang luarbiasa dari dalam diri mereka sendiri (ngelmu/olah jiwa/kadigdayan), seperti bisa berjalan di atas air, menghilang, terbang, mempunyai tenaga dalam yang luar biasa, mampu ber-telepati, bisa berbicara dengan hewan, mengendalikan berbagai elemen alam (tanah, api, air, udara), dan lainnya. Walau tidak semua orang tapi cukup banyak dari mereka yang mampu menguasai berbagai keahlian tersebut.

Setelah 250 tahun berikutnya atau sejak di tahun ke ±700 setelah berdirinya, kaum ini pun bisa berada di puncak kejayaannya. Tetapi sayang, sejak saat itu pula mereka mulai kufur atas nikmat Tuhan. Kerusakan akhlak mulai menjangkiti kaum Mahusta ini, khususnya para pembesar mereka. Mereka semakin sering lupa diri dan bangga dengan pencapaiannya. Ilmu pengetahuan di pertuhankan dan kemaksiatan juga kian merajalela. Hal ini terus bertambah parah meski sudah ada seorang utusan Tuhan yaitu Nabi Salbi AS, yang mengingatkan mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Ajakan itu tak berdampak baik pada kaum ini dan mereka tetap saja kufur. Bahkan dari waktu ke waktu keadaan kaum ini justru semakin parah hingga tidak bisa lagi diperbaiki.

Puncak kerusakan akhlak ini terjadi sejak di tahun ke ±1.755 sejak berdirinya kaum Mahusta. Dan sebagaimana yang telah menjadi kodrat-Nya, kehancuran pun tidak bisa dihindari oleh kaum ini. Peradaban mereka yang mengagumkan itu pun harus musnah di telan Bumi, sebagai akibat dari kekufuran dan kedurhakaan mereka sendiri kepada Tuhan. Ini terjadi di tahun ke ±1.805 kehidupan kaum. Dimana tanah tempat mereka tinggal saat itu terbelah dan sebagian lainnya naik ke atas lalu terbalik dan akhirnya tenggelam menjadi lautan luas. Semua terjadi hanya dalam waktu ±7 jam saja. Dan pada saat itu, semua teknologi yang selalu mereka banggakan itu tidak bisa membantunya, bahkan tidak berfungsi sama sekali. Semuanya mati seperti sudah rusak beberapa tahun. Akibatnya, mereka semua harus merasakan azab yang begitu dahsyat dan tewas mengenaskan dalam kekufuran.

Ya. Peradaban besar dan mengagumkan dari kaum Mahusta itu harus hancur di telan bumi. Tapi sebelum semuanya terjadi, ada segelintir orang dari mereka yang mendapat bimbingan dari seorang utusan Tuhan bernama Nabi Salbi AS. Beberapa orang tersebut mematuhi apa yang disampaikan oleh sang Nabi, termasuk harus mengumpulkan semua ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dimiliki oleh kaum mereka. Setelah semuanya dikumpulkan, mereka berkewajiban untuk menyimpannya di sebuah tempat rahasia – lebih tepatnya menyembunyikan secara rahasia – semua pengetahuan dan teknologi itu. Setelah disembunyikan, mereka harus membuat semacam teka-teki yang bisa dipecahkan oleh yang berhak menemukan kembali harta karun itu. Bagi siapapun yang menemukannya, maka ia atau golongannya akan hidup maju dan berjaya.

3. Dinasti Arhilatara
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, maka ada segolongan orang yang selamat dari azab yang ditimpakan kepada kaum Mahusta. Segolongan orang itu terdiri dari 5 keluarga besar (klan), yang semuanya adalah pengikut dari Nabi Salbi AS. Lalu berdasarkan petunjuk dari sang Nabi, setiap keluarga besar itu harus berpencar dan mendirikan kerajaannya sendiri. Lalu terkait dengan rahasia dari harta karun kaum Mahusta, maka setiap pemimpin klan tersebut telah diberikan satu bagian dari lima pecahan cakram yang menjadi kunci utama untuk bisa membuka tempat penyimpanan harta karun kaum Mahusta. Artinya, untuk bisa membuka tempat rahasia tersebut, maka setiap klan harus menyatukan semua bagian cakram yang ada. Ini tidaklah mudah, karena telah dijelaskan bahwa hanya bisa terjadi saat ada seorang pemimpin klan yang sangat berpengaruh dan berkharisma. Di tambah lagi hanya akan terjadi saat ada ancaman besar bagi kehidupan mereka. Dan pemimpin besar itulah yang nantinya bisa menyatukan kembali kaum Mahusta dan membawa kaum ini kembali berjaya seperti sebelumnya.

padepokan resi 1

Waktu pun berlalu selama ratusan tahun. Setiap klan membangun kerajaannya masing-masing. Kepemimpinan klan pun diwariskan dari generasi ke generasi. Begitu pula dengan bagian cakram yang dipegang oleh setiap pemimpin klan juga diwariskan secara turun temurun. Dan sebagai kaum yang unggul, maka setiap pemegang bagian cakram itu – yang juga pemimpin klan – memiliki kemampuan yang istimewa. Dengan kemampuan itulah mereka memimpin klan dengan bijaksana dan bisa membawa kemakmuran.

Adapun kelima klan tersebut bernama Arhilatara, Samulatara, Kiralatara, Jamikatara dan Harsilatara. Dari semua klan itu, klan Arhilatara yang paling disegani karena dianggap yang paling kuat dan paling senior. Lokasi kediaman mereka itu kini berada di antara Jawa-Sumatera-Kalimantan sekarang. Meskipun mereka terpencar tapi lokasi negeri mereka justru membentuk lingkaran – sesuai filosofi dari cakram yang mereka bawa. Setiap klan mendiami di satu sisi arah mata angin (Utara: Samulatara, Timur: Kiralatara, Selatan: Jamikatara dan Barat: Arhilatara). Semetara klan Harsilatara memilih untuk berada di bagian tengahnya. Meskipun mereka sudah tidak dalam satu payung pemerintahan, hubungan di antara mereka tetap terjalin mesra. Mereka rukun satu sama lainnya dan saling membantu jika ada yang perlu bantuan. Karena sikap seperti itulah, kelima klan itu menjadi maju dan hidup dalam kesejahteraan.

Suatu ketika, setelah 1000 tahun berlalu sejak kelima klan ini berdiri, datanglah masalah yang besar bagi mereka. Pada saat itu, ada sebuah kekaisaran yang ingin menguasai wilayah mereka. Kaum itu bernama Hamirah, mereka tinggal di sekitar Afrika Selatan sekarang. Kaum ini terkenal kuat dan suka berpindah-pindah. Karena itulah mereka punya beberapa ibukota, sementara wilayah kerajaannya sangat luas. Gambaran fisik dari kaum ini mirip dengan bangsa Viking, dimana mereka bertubuh tinggi besar (6-7 meter), berkulit putih kemerahan, berambut pirang, bermata biru, hidung mancung dan wajahnya berbentuk lonjong khas orang bule (ras Nordik).

war-fantasy-2

Pada masa itu kaum Hamirah ini memang penduduk asli benua Afrika bagian selatan. Dan memang pada masa itu di benua yang kita sebut Afrika ini hanya dihuni oleh manusia dengan ciri fisik berkulit putih (ras Kaukasoid atau Nordik) saja. Sementara orang-orang dari ras negroid saat itu tidak tinggal disana. Mereka masih tinggal di benua Australia sampai ke wilayah New Zeland (Selandia Baru) sekarang. Setelah beberapa juta tahun kemudian barulah terjadi rotasi penduduk Bumi, dimana pada akhirnya orang-orang yang berkulit hitam (ras negroid) ini ada yang bermigrasi ke wilayah benua Afrika dan menetap disana. Sementara itu, orang-orang seperti kaum Hamirah bermigrasi – karena terdesak musuh yang menaklukkan wilayah mereka atau bencana alam dan azab Tuhan – ke wilayah benua Asia bagian tengah lalu Mongol sampai pada akhirnya menyebar ke benua Eropa melalui daerah Russia. Mereka pun menetap disana.

4. Perang antar kaum
Saat itu, kaum Hamirah dibawah pimpinan raja bernama Gusalah telah berlayar dari negerinya di wilayah Afrika Selatan sekarang dalam semangat yang membara. Dengan membawa 15.000 kapal perang yang di dalamnya memuat ±150.000 orang pasukan bersenjata dan alat perang, raja Gusalah berhasrat untuk menaklukkan kelima kerajaan bekas kaum Mahusta itu. Dan itu bukanlah hanya sekedar isapan jempol belaka, karena kaum ini memang sudah terkenal sebagai bangsa penakluk yang membawa teror dimana-mana. Sepanjang sejarahnya, belum pernah ada kaum atau kerajaan yang selamat dari serangan kaum ini. Tapi uniknya, meskipun terkenal bengis, kaum ini tetap bersikap sebagai kesatria sungguhan. Mereka tak pernah menyerang lawan tanpa memberi peringatan. Itu sudah tradisi yang mendarah daging di dalam kaum ini. Jika dilanggar, maka siapapun dari mereka tidak akan dianggap sebagai kesatria, alias hanya sebagai seorang pecundang.

Mengetahui akan diserang oleh kaum Hamirah, kelima klan langsung berkoordinasi di kerajaan klan Harsilatara. Disana mereka mengatur bagaimana caranya untuk bisa menghadapi kekuatan besar dari pasukan kaum Hamirah itu. Setiap pemimpin klan menjadi senopati perang dan punya tugasnya masing-masing. Lalu yang ditunjuk sebagai panglima tertinggi dari semua pasukan koalisi tersebut adalah pemimpin dari klan Arhilatara yang bernama Zumara. Ia terpilih sesuai kesepakatan bersama dengan alasan bahwa Zumara tentu lebih memahami seluk beluk wilayah barat, melebihi semua pemimpin klan lainnya. Dimana di wilayah barat itulah nanti akan terjadi serangan yang mematikan dari kaum Hamirah. Pengetahuan akan geografi dan topografi di wilayah barat sangat dibutuhkan untuk bisa menahan serangan besar, bahkan memenangkan pertempuran.

Hari yang telah diperkirakan pun tiba. Meskipun terjadi serangan yang cukup sengit oleh satu batalion pasukan penjaga pantai klan Arhilatara, itu tak dapat mencegah pasukan kaum Hamirah untuk mendarat di pantai itu. Setelah beberapa waktu, mereka sudah berhasil menguasai semua wilayah sepanjang pantai barat negeri klan Arhilatara. Pasukan yang tersisa dan selamat segera di tarik mundur ke dalam kota. Disana mereka menunggu perintah selanjutnya dari pemimpin pasukan koalisi kelima wangsa (klan/dinasti).

Singkat cerita, selang tiga hari berikutnya raja Gusalah mengirimkan surat tantangan kepada kelima klan yang ada. Isinya tiada lain perintah untuk tunduk atau ditaklukkan. Jika kelima klan tetap bersikeras untuk tidak mau tunduk, maka pertempuran besar pun akan terjadi. Dan ternyata pilihan peranglah yang dipilih oleh kelima klan. Itu karena memang tiada pilihan lain dan mereka tentu tak mau dijajah oleh bangsa lain.

war-fantasy-3

Di hari kelima setelah mendarat, 100.000 lebih pasukan kaum Hamirah mulai bergerak ke arah kota klan Arhilatara. Semua peralatan dan perlengkapan perang dibawa serta. Sisanya harus tetap berada di tenda tepi pantai untuk menyiapkan segala macam kebutuhan bagi para pasukan yang turun ke medan perang, termasuk kebutuhan makan dan minumannya. Sesampainya mereka di depan benteng kota klan Arhilatara itu, genderang perang pun ditabuh dengan kencang. Siapapun yang ada saat itu merasakan ngeri karena telah datang pasukan sangat besar yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Lain dengan pasukan kaum Hamirah, mungkin karena sudah terbiasa berperang dan menaklukkan, mereka justru berteriak-teriak, memaki dan memukul-mukul tameng mereka. Sikap itu jelas membuat sebagian pasukan musuh merasa cemas dan hilang keberanian.

Saat itu, sebagian besar pasukan koalisi dari lima dinasti sudah berbaris rapi di depan benteng istana kerajaan klan Arhilatara. Mereka telah siap dengan segala resiko yang akan terjadi dalam pertempuran itu. Dan sebelum semuanya dimulai, maka sesuai tradisi pada masa itu, setiap pemimpin kedua kubu akan bertemu di tengah-tengah kedua pasukan. Kedua belah pihak akan berunding tentang beberapa hal, termasuk tawar menawar mengenai perang atau tidak perang dan mengenai aturan selama dalam perang yang harus dipatuhi.

Ternyata, sesuai dengan dugaan semua orang, maka pertempuran besar antara kedua kubu tak bisa lagi dihindari. Antara kaum Hamirah dan kelima klan tetap pada pendirian mereka masing-masing. Keduanya memilih jalan perang untuk menyelesaikan perseteruan mereka. Kaum Hamirah tak mau mundur, sementara kelima klan juga tak mau dijajah. Dan terjadilah perang yang sengit, yang memakan ribuan nyawa.

Setelah para pemimpin pasukan kembali ke dalam barisannya, tak lama berselang terompet tanda dimulainya perang pun ditiupkan. Genderang perang tak ketinggalan untuk ditabuh dengan kencang. Membuat suasana siang itu menjadi gaduh dan menimbulkan rasa cemas yang mencekam. Lalu, sesuai aba-aba dari panglima pasukan, maka bergeraklah pasukan besar itu menuju lawan. Selang beberapa waktu, terjadilah pertempuran brutal dimana-mana. Denting pedang dan suara tameng terus mengalun kencang, begitu pula dengan suara deru anak panah yang beterbangan juga mewarnai jalannya pertempuran. Tidak butuh waktu lama bagi siapapun untuk mendengar jerit kesakitan dari prajurit yang tertusuk tombak atau tersabet pedang tajam. Sungguh, suasana pada saat itu langsung berubah mengerikan, sementara darah anak manusia mulai menganak sungai membasahi bumi.

Matahari kian beranjak tinggi, bahkan mulai turun ke arah barat. Tapi kedua pasukan tetap gigih dalam pertempurannya. Belum ada dari mereka itu yang ingin berhenti, belum juga ada yang terlihat kalah. Kedua pasukan itu masih seimbang dalam segala hal, sehingga keadaan itu tetap menjadi patokan utama bagi mereka untuk terus berperang. Namun selepas jam 3 sore, terlihat jelas bahwa pasukan kaum Hamirah mulai bisa menguasai pertempuran. Saat itu, pasukan dari kelima klan sudah mulai terpojok dan terlihat kehilangan arah. Banyak dari pasukannya tercerai berai setelah raja Gusalah mengubah strategi tempur pasukannya itu secara tiba-tiba. Hal ini cukup mengejutkan dan membuat bingung pasukan dari kelima klan. Keadaan terus berlanjut sampai akhirnya matahari hampir tenggelam. Dan sesuai kesepakatan bersama, maka disaat magrib tiba pertempuran harus dihentikan dan boleh dilanjutkan lagi esok hari.

Hari kedua pun tiba. Kedua kubu tetap dalam pendiriannya, tak ada yang mau menyerah. Di hari itu, baik dari kubu kaum Hamirah maupun kelima klan sudah mengatur strategi baru untuk menghadapi pertempuran. Dan setelah sangkakala perang dibunyikan, kedua pasukan perang itu langsung beradu kemampuan. Jerit kesakitan segera membahana, debu mengepul dan berputar-putar dibawa angin. Banyak pula burung pemakan bangkai yang beterbang di atas medan pertempuran, menunggu jatah makan siang yang sangat menggiurkan.

war-fantasy-junc-armageddon

Di hari kedua itu, para senopati dan panglima perang dari kedua kubu sudah bergerak maju digaris depan. Di antara mereka ada yang saling berhadapan langsung dalam mengadu ketangkasan dan kesaktian. Tak jarang dari mereka mengeluarkan ajian yang luarbiasa. Karena itulah, saat para senopati itu bertarung dengan sengit, maka suasana di medan pertempuran pun segera berubah. Suara dentuman demi dentuman kerap terdengar, begitu pula dengan elemen api, air, tanah dan udara berkali-kali muncul dan membentuk satu kekuatan besar untuk menyerang lawan. Bumi sering berguncang dan langit berkali-kali mengeluarkan sambaran petirnya. Dari semua kekuatan itu, siapapun yang hadir di medan perang akan terkagum-kagum saat melihat para senopati itu menunjukkan keahlian mereka. Mereka bergerak dengan sangat cepat, lalu terbang kesana-kemari, menghilang bahkan mengubah-ubah wujudnya hanya untuk bisa lebih cepat menaklukkan lawannya. Bermacam-macam pula jenis kesaktian yang mereka tampilkan, bahkan karena saking hebatnya pertarungan itu, banyak dari prajurit di kedua kubu yang sampai berhenti bertarung. Mereka hanya ingin melihat para senopati itu bertarung mengadu kesaktian mereka. Hal itu sudah menjadi lumrah di zaman itu. Karena sangat jarang orang-orang menyaksikan kekuatan dan kesaktian yang sehebat itu. Sayang untuk dilewatkan saja tanpa melihat langsung.

Singkat cerita, menjelang habis waktu Ashar, pertempuran mulai menampakkan hasilnya. Ternyata, meskipun kelima klan sudah menyatukan semua potensi dan kekuatan mereka, tetap saja kaum Hamirah lebih unggul. Dan menjelang magrib di hari kedua pertempuran itu, dalam kondisi terpaksa perwakilan dari kelima klan meminta berunding dengan raja Gasulah. Dan sebagai seorang kesatria, raja Gasulah berkenan untuk menerima tawaran itu. Dalam perundingan itu, akhirnya terjadilah kesepakatan, di antaranya yaitu:

1. Pertempuran harus dihentikan tanpa ada pembantaian dan pengerusakan.
2. Pasukan dari kelima klan harus mengakui keunggulan kaum Hamirah dan berjanji untuk membayar upeti tahunan yang nilainya sesuai dengan kesepakatan bersama.
3. Kelima klan harus mengakui kedaulatan kaum Hamirah dengan syarat mereka tetap mendapatkan otonomi khusus dan boleh menjalankan roda pemerintahannya sendiri.
4. Tidak wajib bagi kelima klan untuk mengirimkan pasukan atau rakyatnya ke dalam pertempuran yang diikuti kaum Hamirah. Atau mengirimkan orang-orang dari kelima klan sebagai pekerja paksa bagi kaum Hamirah. Mereka hanya boleh membantu semampunya dan harus sesuai dengan kesepakatan bersama saja, tanpa paksaan.
5. Kesepakatan ini berlaku sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Dengan kelima syarat itu, akhirnya pertempuran besar itu berakhir dan dimenangkan oleh kaum Hamirah. Kelima klan harus mengaku kalah dan tunduk pada otoritas kaum Hamirah. Dan ini terus berlangsung selama lebih dari 50 tahun kemudian. Sampai saat munculnya seorang pemimpin besar dari klan Arhilatara yang bernama Hadira, putra dari Zamura. Dibawah kepemimpinannya, kelima klan dapat disatukan dan mereka akhirnya bisa menemukan tempat rahasia yang menyimpan harta karun leluhurnya.

5. Kemunculan pemimpin besar
Waktu terus berlalu sementara keadaan masih belum berubah sama sekali. Kelima klan tetap dibawah otoritas kaum Hamirah yang kian hari semakin menyebalkan. Oleh sebab itu, muncul keinginan yang besar dari seorang pemuda keturunan pemimpin klan Arhilatara yang bernama Hadira untuk mengembara mencari ilmu dan kebijaksanaan. Atas restu dari kedua orangtuanya, Hadira pun memulai pengembaraannya. Saat itu ia berjalan ke arah barat laut kotanya. Entah kemana ia pun tidak tahu. Yang penting berjalan saja mengikuti takdir.

Banyak negeri yang telah ia kunjungi, banyak pula kemajuan dan keunikan yang ia lihat. Tapi entah mengapa, semua itu belum ada yang sesuai dengan keinginannya. Selama 5 tahun mengembara dari satu negeri ke negeri lainnya, tak ada satupun yang bisa memuaskan hatinya. Belum ada sesuatu yang selama ini ia cari. Karena itulah, akhirnya ia memilih untuk menyediri di sebuah hutan lebat. Di tengah-tengah hutan itu ada sebuah sungai yang mengalir jernih. Tepat ditepian sungai itulah, di atas batu datar yang ada di bawah sebatang pohon Luwi yang rindang, Hadira memutuskan untuk ber-semedhi mencari petunjuk. Selama lima hari ia duduk tanpa bergerak sedikitpun disana.

Selama ber-semedhi, Hadira larut dalam keheningannya. Sukmanya mengembara jauh kemana-mana, bahkan memasuki beberapa dimensi alam goib. Di salah satu dimensi itu, ia lalu bertemu dengan sesosok naga berwarna keemasan yang memberinya petunjuk. Menurut naga yang bernama Wakila itu, Hadira bisa menemukan apa yang ia cari setelah menempuh perjalanan ke arah timur. Jika sudah tiba waktunya nanti, ia akan bertemu dengan seorang yang mulia di sebuah lembah, dibawah dua batang pohon yang saling bersilangan. Orang itulah yang akan membimbingnya untuk menemukan apa yang dicari selama ini.

golden_dragon

Setelah bertemu dengan naga Wakila, tak lama kemudian sukma Hadira kembali ke tubuhnya. Ia pun tersadar dan segera merenung atas apa yang terjadi. Setelah cukup dengan renungannya, juga saat tubuhnya sudah kembali normal seperti semula, Hadira langsung meninggalkan tempat semedhi-nya itu. Ia segera berjalan ke arah timur sesuai dengan petunjuk dari sang naga.

Hari berganti hari, minggu pun berganti bulan, tapi Hadira belum bertemu dengan sosok yang dimaksudkan. Bahkan selama pengembaraannya itu, dua batang pohon yang dijelaskan oleh naga Wakila pun belum ia temukan. Selama 5 bulan lebih Hadira berpikir keras dan berusaha sungguh-sungguh menemukan dimana lokasi yang dimaksudkan itu. Sampai pada akhirnya ia merasa letih setelah berputar-putar mencari lokasi yang dimaksudkan. Saking letihnya sampai pada akhirnya ia pun memilih untuk beristirahat dan tertidur dibawah sebatang pohon yang ada di tengah lembah. Dalam tidurnya Hadira bermimpi. Sekali lagi ia mendapatkan petunjuk agar kembali ber-semedhi, mengheningkan cipta untuk bisa membuka cakrawala hatinya. Dengan begitu, ia akan bisa melihat sesuatu yang tak terlihat.

Setelah terbangun dari mimpinya, Hadira langsung mengambil posisi duduk semedhi dengan posisi tubuh ke arah barat. Ia mencoba membangkitkan rasa dan rahsa yang ada, juga meningkatkan kemampuan mata ketiganya demi menemukan jawaban. Selang beberapa lama, Hadira bisa mendengar suara yang memerintahkannya untuk melihat ke arah depan tepat di tengah-tengah lembah yang menghijau itu. Hadira pun langsung membuka mata lalu mengarahkan pandangannya kedepan, tepat ke tengah-tengah lembah. Di saat ia menatap ke tengah lembah itu dengan seksama, perlahan-lahan Hadira bisa melihat bayangan yang semakin lama semakin jelas. Selang beberapa menit, bayangan itu berubah menjadi dua batang pohon yang saling bersilangan. Pohon itu sangat besar dan rindang, dan tepat dibawahnya, Hadira pun bisa melihat ada sesosok pria yang sedang duduk bersila. Melihat itu, ia langsung bangkit dan segera mendekati pohon dan sosok pria itu.

Sesampainya di bawah pohon rindang itu, tiba-tiba buah yang menempel di rantingnya jatuh dan menimpa Hadira tepat di kepalanya. Ia sempat kaget dan merasakan sakit dikepalanya. Tapi karena telah sadar diri, Hadira tidak marah dan segera memungut buah tersebut. Ia merasa bahwa hal itu bukan tanpa alasan, tentu ada maksud dan hikmahnya. Ia harus mencari tahu tentang hal itu. Dan sepertinya dari sosok pria misterius itulah ia akan mendapatkannya.

Selang beberapa lama, Hadira pun ikutan duduk dihadapan pria misterius itu. Dengan sikap yang tenang, Hadira menanti orang tersebut membuka matanya. Sosok pria tersebut berpenampilan biasa dan berambut panjang sebahu. Ia memakai celana panjang dan berbaju lengan panjang warna abu-abu. Sekilas tak terlihat istimewa, tapi Hadira bisa menebak bahwa pria tersebut pasti bukan orang biasa. Dan ia juga sudah tahu bahwa terkadang orang yang hebat atau yang berilmu tinggi itu justru berpenampilan biasa saja dan tak bisa dirasakan kekuatannya.

Setelah dirasa cukup, akhirnya pria misterius itu membuka matanya. Dihadapannya saat itu sudah duduk Hadira yang menantikan jawaban. Sebelum Hadira sempat berkata, pria itu justru lebih dulu bertanya. Katanya: “Bagaimana rasanya tertimpa buah tadi? Hikmah apa yang bisa kau ambil dari kejadian itu?”

Mendapati pertanyaan itu, Hadira diam sejenak untuk berpikir. Diingat-ingatnya kembali kejadian itu dan mulai menerka-nerka apa hikmahnya. Sebenarnya ia sudah memiliki jawaban, tapi karena sadar saat itu ia harus mendapatkan ilmu dari si pria misterius itu, Hadira lebih memilih untuk tidak menjawab. Katanya: “Aku belum tahu apa maksud dan hikmahnya. Sudilah tuan memberikan penjelasan”

Melihat itu, pria misterius hanya tersenyum. Tak lama kemudian ia berkata: “Wahai anak muda. Setiap kejadian itu ada maksud dan tujuannya. Ada pula yang menetapkan atau mengizinkan semua itu bisa terjadi. Tidak ada yang namanya kebetulan itu, karena di dunia ini tak ada pula yang lepas kendali atau tanpa ada yang mengaturnya. Semuanya telah diatur dengan sangat teratur. Hanya saja memang ada dua buah pilihan bagi kita untuk mencintai kebaikan atau mengikuti kejahatan. Keduanya punya resiko dan dampaknya sendiri dikemudian hari”

Setelah mengatakan itu sang pria misterius diam sejenak. Ia melihat reaksi dari Hadira yang tampak berpikir mencermati. Selang beberapa waktu, ia pun kembali berkata: “Menurutmu, siapa yang mengatur dan menetapkan itu semua?”

Dijawab oleh Hadira dengan berkata: “Di seluruh alam semesta ini hanya ada satu kekuatan yang adidaya. Meskipun tak terlihat, Dia ada dimana-mana. Dia-lah Hyang Aruta (Tuhan YME)”

“Benar jawabanmu. Lalu apa yang kau cari selama ini? Apa yang kau inginkan sebenarnya?” tanya si pria misterius itu lagi.

Mendapatkan pertanyaan itu, Hadira merasa ditampar keras. Sekejap ia langsung tersadar dari kekeliruannya selama ini. Hadira baru menemukan jawaban tentang apa yang selama ini ia cari. Ternyata hatinya sedang mencari Tuhannya. Oleh sebab itu, tanpa sadar airmatanya pun mengalir deras membasahi pipinya. Dengan menangis tersedu ia merenungi kesalahannya selama ini. Mengapa ia masih saja mencari yang bukan Tuhannya sendiri. Mengapa ia mencari sesuatu yang tiada daya dan kekuatan daripadanya selain karena anugerah Tuhan Yang Kuasa.

Cukup lama Hadira menangis, hingga pada akhirnya ia pun berkata: “Wahai tuan yang bijak, sudilah kiranya tuan mengajarkan kepada hamba untuk bisa menemukan Tuhan. Sudilah tuan untuk mengangkat diri yang bodoh ini sebagai murid”

Di jawab oleh pria misterius itu dengan berkata: “Sudah menjadi suratan takdir bahwa aku memang harus membimbingmu. Semua ada maksud dan tujuannya di kemudian hari. Kau harus tekun dan sabar jika ingin belajar. Baiklah, aku akan menerimamu sebagai murid”

Demikianlah awal pertemuan kedua sosok tersebut. Tak lama kemudian, keduanya saling memperkenalkan diri. Ternyata tanpa disangka-sangka oleh Hadira, sosok pria misterius itu adalah seorang utusan Tuhan yang bernama Nabi Syis AS. Beliau memang ditugaskan untuk mengajarkan berbagai ilmu dan keahlian kepada Hadira. Tujuannya adalah untuk dipergunakan dalam membebaskan negerinya dari penjajahan kaum Hamirah. Dan setelah itu, untuk bisa membangun peradaban yang gemilang, yang kelak akan berkaitan dengan perang di akhir zaman ke tujuh (Rupanta-Ra).

Singkat cerita, waktu pun terus berlalu dan Hadira terus digembleng oleh Nabi Syis AS. Berbagai ilmu dan keahlian ia dapatkan dari guru yang sangat berkharisma itu. Tidak kurang dari 25 tahun telah ia jalani bersama sang guru. Selama itu kemampuan Hadira semakin bertambah, baik lahir maupun batin. Semakin lama ia pun semakin memahami tentang arti hidup ini dan siapa Tuhan yang sesungguhnya. Lalu ada satu hal lagi yang akan menyempurnakan pendidikannya saat itu. Selama 30 tahun lebih Hadira harus melakukan tapa brata di puncak sebuah gunung dalam tiga cara (duduk bersila, berdiri dua kaki, dan berdiri satu kaki). Begitulah penjelasan dari gurunya, Nabi Syis AS.

Setelah dirinya melakukan persiapan yang dibutuhkan, maka atas restu dari gurunya, Hadira mulai ber-tapa brata di puncak gunung Akila (5.266 mdpl) yang dulu pernah ada di antara Kalimantan Selatan dan Makassar, tepatnya di Selat Makassar sekarang. Di puncak gunung itu, ia memulai tapa brata-nya dengan duduk bersila selama 10 tahun, lalu berdiri dua kaki selama 10 tahun, dan akhirnya berdiri satu kaki selama 10 tahun. Tepat setelah 30 tahun ber-tapa, tubuh Hadira tiba-tiba menghilang. Ternyata ia sudah berpindah ke dimensi lain, tepatnya ke dimensi urutan ke 7 (Ramatasyi). Disana ia sudah berada di pinggir sebuah telaga bening yang airnya terasa manis seperti madu.

Setibanya di dimensi ke tujuh itu, Hadira bertemu dengan gurunya sendiri yaitu Nabi Syis AS dan seorang lagi yang ternyata pemimpin besar dimasa lalu. Pria tersebut bernama Mahidara, sosok raja yang berwibawa yang dulu pernah berperang melawan raja setan di sekitar 60 juta tahun sebelum masa Hadira. Dan setelah dijelaskan, ternyata Mahidara itu adalah salah satu dari leluhur Hadira sendiri, khususnya dari kerajaan Mulwapati yang dulu pernah ada di sekitar antara Pekalongan-Semarang-Rembang sekarang (saat ini sudah menjadi lautan). Pada masanya, kerajaan itu sangatlah besar dan disegani oleh semua negara di dunia. Hanya saja memang selama ini informasi tersebut tak diketahui oleh Hadira, bahkan ayah dan kakeknya juga tidak pernah tahu tentang hal itu. Kisah tentang kehidupan kerajaan itu bak hilang ditelan bumi. [Untuk lebih detil tentang kerajaan ini, silahkan baca artikel Mahidara: Kesatria penguasa cincin Humaril].

Setelah cukup berbincang-bincang, tibalah saatnya bagi Nabi Syis AS dan Mahidara untuk menyampaikan tugas mereka. Saat itu, terutama Mahidara bertugas untuk memberikan beberapa pusaka yang dulu pernah ia gunakan untuk menegakkan kebenaran. Di antara pusaka itu adalah batu mustika Hullasya, pedang Nilbasya, busur Kiyani, mahkota Amilasya, tongkat Tungkahisya, cincin Humaril dan kitab Waruhala. Lebih jelasnya tentang pusaka-pusaka ini, silahkan baca lagi artikel Mahidara: Kesatria penguasa cincin Humaril.

Dengan pusaka-pusaka tersebut diharapkan nanti Hadira bisa membebaskan negerinya dari cengkeraman penjajahan kaum Hamirah. Selanjutnya, tergantung Hadira sendiri, apakah dengan pusaka itu ia bisa membangkitkan kejayaan bangsanya atau justru menghancurkannya. Semua tergantung dari Hadira dan kaumnya nanti. Tapi yang jelas, ibarat seorang pedagang maka modal utamanya sudah dimiliki oleh Hadira. Tinggal bagaimana nanti ia dan kaumnya bisa memanfaatkan modal tersebut dengan baik.

Singkat cerita, setelah mendapatkan semua pusaka itu, Hadira kembali mendapatkan anugerah ilmu dari guru dan leluhurnya. Kedua sosok tersebut lalu menempelkan tangan mereka ke dada dan punggung Hadira. Tak lama kemudian, mengalirlah energi sangat besar dan bercahaya ke dalam tubuh Hadira. Membuat kemampuan dalam dirinya pun meningkat tajam. Bahkan tak lama kemudian, turun seorang malaikat bernama Wilusar’i yang juga memberikan kekuatan kepada Hadira. Dengan kekuatan itu, tentulah kini Hadira bertambah sakti mandraguna.

Selanjutnya, setelah semua urusan di dimensi ke-7 itu selesai, Hadira segera kembali ke bumi. Atas petunjuk dari Nabi Syis AS, ia diperintahkan untuk tidak kembali dulu ke negerinya.  Hadira harus segera ke negeri asal-usul umat manusia, yaitu kota Bakkah/Makkah. Disana ia diminta untuk lebih banyak ber-tafakur (semedhi) dan mengingat akan kebesaran dan kasih sayang Tuhan. Setelah semua itu di lakukan, barulah ia bisa kembai ke negerinya dan berusaha untuk memerdekakannya dari penjajahan kaum Hamirah.

6. Perang besar melawan kaum Hamirah dan raja setan
Setelah merenung dan bersyukur kepada Tuhan di kota Makkah[2], Hadira lalu kembali ke negeri klan Arhilatara. Disana ia tidak langsung ke istana kerajaan, melainkan singgah di rumah-rumah penduduk dan pasar. Saat itu, ia melihat kondisi negerinya sudah semakin lesu dan terpuruk. Semakin lama mereka dijajah oleh kaum Hamirah, semakin pula menderita kehidupannya. Ini jelas membangkitkan semangat dirinya untuk segera melakukan revolusi. Untuk itu, ia menggalang kekuatan secara diam-diam dari rakyatnya. Hal itu juga disebarkan kepada keempat klan lainnya, yang disambut baik oleh banyak kalangan. Bagi mereka, sudah saatnya negeri mereka itu dibebaskan dari penjajah. Mereka pun sudah teramat muak rasanya hidup dalam kekangan dan penindasan.

[2] Saat itu kondisi kota Makkah sangat jauh berbeda dari sekarang. Disana masih terdapat hutan yang luas dan padang rumput yang menghijau. Banyak pula terdapat sungai dan telaga yang jernih airnya. Membuat suasana pada saat itu sangat indah dan permai. Sementara itu, bangunan Ka’bah sudah ada dan sempat berulang kali dipugar oleh kaum-kaum yang pernah tinggal disana. Dan sama seperti sekarang, maka fungsi dari bangunan Ka’bah waktu itu juga untuk tawaf dan sebagai kiblat sembahyang bagi orang yang beriman.

Untuk klan lainnya, secara khusus Hadira-lah yang menghubungi mereka. Agar pemimpin mereka percaya, maka Hadira pun harus menunjukkan kesaktiannya. Misalnya dengan tiba-tiba Hadira sudah muncul di istana sang pemimpin klan. Ia juga sesekali menunjukkan kemampuan dengan mengajak sang pemimpin klan dan beberapa pembesarnya untuk berpindah ke dimensi lain untuk sekedar jalan-jalan. Selain itu, dalam kondisi tertentu, Hadira menunjukkan beberapa pusaka sakti yang ia terima dari leluhurnya, Mahidara. Ia pun menceritakan tentang kisah pertempuran besar yang pernah terjadi sekitar 60 juta tahun silam sebelum zaman mereka. Hal itu jelas membangkitkan semangat bagi semua pemimpin klan dan pembesarnya untuk segera merebut kemerdekaan.

Perlahan tapi pasti, tanpa sepengetahuan pasukan Hamirah yang kadang berpatroli di negeri kelima klan, Hadira dan kaumnya terus menggalang kekuatan. Tidak kurang dari 1 tahun telah mereka persiapkan dengan segala pertimbangan. Dan ketika sudah dirasa cukup segala kebutuhannya, tak lama berselang waktu, kelima klan yang dipimpin oleh Hadira mulai melakukan revolusi. Satu persatu pos penjagaan kaum Hamirah mereka kuasai. Hanya ada beberapa yang tersisa dan mereka itu sempat mengirimkan utusan kembali ke negerinya untuk melaporkan pemberontakan itu. Mengetahui hal itu, raja Gasulah segera mengumpulkan pasukan. Bahkan setelah mendapat informasi tentang kesaktian Hadira, raja Gasulah memerintahkan semua pasukan negeri jajahannya untuk ikut berperang bersamanya. Dan karena takut kalah, sampai-sampai raja Gasulah pun meminta bantuan dari dimensi lain (setan).

Setelah dirasa cukup segala persiapannya, berangkatlah raja Gasulah bersama ±250.000 pasukan siap tempur ke negeri kelima klan. Dari negerinya yang berada di Afrika Selatan sekarang, kaum Hamirah dan pasukan dari negeri jajahannya menaiki kapal-kapal perang bersenjata lengkap. Semua kebutuhan dan perlengkapan selama pertempuran telah dipersiapkan dengan baik. Mereka hanya punya satu tujuan, yaitu menghancurkan pasukan kelima klan dan menguasai kembali negeri itu.

Selang beberapa waktu, tibalah pasukan besar itu di dekat pantai barat daya pulau Sumatera sekarang. Tapi sebelum mendarat, mereka telah dihadang oleh puluhan kapal perang klan Arhilatara. Cukup hebat pasukan klan Arhilatara ini melawan serangan dari kapal-kapal pasukan kaum Hamirah. Dan meskipun mereka kalah jumlah, namun tetap bisa memberikan perlawanan yang sengit di tengah lautan itu seharian penuh. Dan karena memang jumlahnya tak sebanding, akhirnya mereka harus mundur ke daratan dan kembali ke kota kerajaan Arhilatara. Sementara sebagian prajurit lainnya dan sangat disayangkan harus gugur sebagai pahlawan di lautan.

Waktu terus berlalu dan akhirnya kapal-kapal perang pasukan kaum Hamirah bisa berlabuh di pantai itu. Sebagian kapal ada yang tetap berada di atas lautan, sebagian lainnya ditarik masuk sampai ke tepian pantai berpasir. Kapal-kapal itu bahkan digunakan untuk tempat tinggal sebagian besar pembesar kaum dan perwira pasukannya. Namun sebelum itu, sekali lagi mereka harus bekerja keras untuk bisa merebut pantai itu. Meskipun kalah jumlah, tetap saja pasukan klan Arhilatara berusaha mempertahankan pantai itu. Mereka menyerang dengan gagah berani, berusaha mengusir pasukan sangat besar itu. Dan ketika kondisi sudah tidak lagi memungkinkan untuk bertahan, atas perintah atasan mereka di pusat kerajaan, pasukan ini mundur dan kembali ke kota untuk bergabung dengan pasukan lainnya.

Singkat cerita, dua hari setelah mendarat, raja Gasulah bersama pasukannya mulai bergerak menuju kota klan Arhilatara. Dengan semangat yang tak kalah tinggi dengan waktu sebelumnya, pasukan besar itu bergerak cepat. Selang beberapa jam, tibalah mereka di depan benteng kota klan Arhilatara. Disana ternyata sudah menanti pasukan besar gabungan dari kelima klan. Jika waktu sebelumnya mereka kalah jumlah, maka yang kali ini bisa dikatakan seimbang. Semua itu bisa terjadi karena Hadira mampu menyakinkan kerajaan lain untuk bergabung dengan pasukannya. Terlebih ancaman perang yang terjadi pada kelima klan tidak menuntup kemungkinan akan sampai pula ke negeri mereka.

Sebagaimana tradisi yang sangat mengikat di waktu itu, maka kedua pemimpin pasukan harus bertemu di tengah medan perang. Mereka harus berunding terlebih dulu tentang beberapa hal, termasuk tentang segala aturan dalam perang yang harus dipatuhi. Dan sebagaimana yang bisa ditebak, maka tiada kesepakatan damai dari mereka. Kedua kubu tetap dalam pendiriannya masing-masing. Berperang adalah jalan satu-satunya yang harus ditempuh saat itu.

Perundingan telah usai, setiap pemimpin pasukan telah kembali ke dalam barisannya. Selang beberapa menit, terompet tanda perang pun telah dibunyikan. Itu pertanda bahwa pertempuran paling berdarah akan segera terjadi. Dan saat panglima kedua kubu memberikan komandonya, maka saat itu juga semua pasukan bergerak dan berlarian menuju lawannya. Dalam waktu singkat, terdengarlah suara bising dari suara tameng yang dipukul dan pedang yang berdenting, panah yang berdesing, gada yang berdentam, dan teriakan memilukan dari para prajurit yang terluka parah. Suasana pada saat itu benar-benar mencekam. Debu beterbangan kian kemari dan dibawa oleh angin dan burung-burung pemakan bangkai sudah mendekat-menanti makanannya.

Ya. Tidak butuh waktu lama bagi kedua belah kubu untuk menyaksikan begitu banyak korban berjatuhan. Darah pun telah membanjiri dan menganak sungai di lapangan seluas itu. Suara teriakan memaki, rintihan kesaktian dan lengkingan hewan-hewan yang terluka ikut membahana. Tak terkecuali suara deru kereta perang yang dikendarai oleh para kesatria juga menambah kegaduhan suasana pada waktu itu. Sebagian orang tetap gagah berani, tapi sebagian lainnya mulai gentar dan ingin berhenti.

war-fantasy-wallpaper

Saat itu, hingga sore hari pertempuran terus berlangsung tanpa henti. Kedua belah pasukan terus menerus menggerakkan pasukannya dalam berbagai strategi perang. Bermacam-macam formasi telah dikerahkan tapi hasilnya belum memenuhi keinginan tertinggi mereka, yaitu menang. Sampai pada akhirnya matahari pun akan segera tenggelam di ufuk barat. Dan sesuai kesepakatan perang, kedua kubu yang saling bertarung itu harus menghentikan pertempuran. Esok harinya mereka pun sepakat untuk melanjutkan pertarungan.

Setelah istirahat yang kurang nyenyak semalam dan seusai fajar menyingsing di ufuk timur, kedua pasukan yang saling bermusuhan ini telah siap berbaris rapi di tengah medan pertempuran. Entah karena takut atau terpanggil jiwa kesatrianya, mereka tetap hadir dengan penuh semangat juang. Dan setelah terompet tanda perang dibunyikan, sejak saat itu juga pertempuran hari kedua segera dimulai.

Di hari kedua pertempuran, kedua kubu mulai mengerahkan semua kekuatannya. Setiap divisi pasukan lalu memanfaatkan semua potensi yang ada dan menggunakan kekuatan penuh mereka untuk bisa mengalahkan lawan. Dengan formasi dan strategi perang pilihan, kedua kubu saling serang dan mempertahankan diri. Pasukan kaum Hamirah menggunakan formasi burung elang, sementara pasukan kelima klan memakai formasi Trisula. Pada saat awal pertempuran, pasukan kelima klan oleh Hadira diperintahkan menyerang tetap dalam bentuk formasi Trisula. Tapi disaat komando perubahan telah diberikan oleh Hadira, dalam waktu singkat formasi Trisula itu segera berubah bentuk. Dengan komando dari setiap pemimpin divisi, setiap pasukan bergerak memencar sesuai dengan yang telah ditentukan oleh panglima pasukan (Hadira). Pada saat itu, pasukan bagian tengah depan segera membentuk barisan seperti ujung tombak. Diikuti oleh pasukan barisan tengah yang membentuk formasi setengah lingkaran dan yang barisan belakang membentuk formasi persegi panjang yang berlapis-lapis. Sementara itu, sayap kanan dan kiri pasukan segera membentuk formasi seperti cakram bergerigi, yang dalam tempo tertentu akan bergerak memutar sambil maju menyerang lawan.

Begitulah kiranya pasukan kelima klan bergerak maju melawan musuhnya. Dibawah komando Hadira, semua itu bisa berjalan sesuai dengan rencana. Ribuan pasukan kaum Hamirah tumbang dibuatnya. Tak ada yang mampu menghadang pergerakan setiap formasi tempur rancangan Hadira itu. Sehingga membuat raja Gasulah berang, dan memerintahkan panglimanya untuk segera melakukan serangan penuh. Sejak saat itulah, orang-orang terbaik dari kaum Hamirah mulai turun gelanggang. Dengan segala kemampuan dan kesaktian yang dimiliki, mereka mulai membantai pasukan kelima klan. Pada saat itu, telah begitu banyak dari pasukan kelima klan yang gugur berkat kesaktian dari para senopati kaum Hamirah. Dan memang seperti waktu sebelumnya, kesaktian para senopati kaum Hamirah itu luarbiasa, sulit untuk dicari tandingannya.

Tapi, ditengah-tengah barisan pasukan kelima klan itu ada seorang pemuda bernama Hadira. Selama pertempuran ia belum mengeluarkan kesaktian yang sebenarnya. Namun ketika melihat para senopati pasukan musuh sudah mulai turun tangan dan membantai banyak sekali pasukannya, Hadira tidak bisa tinggal diam. Ia segera mengeluarkan kemampuan khusus dengan menggunakan pedang pusaka yang bernama Nilbasya (pemberian leluhurnya, Mahidara). Dengan pedang pusaka itu, hanya dengan satu kali sabetan saja ia bisa menjatuhkan puluhan musuh. Dan ketika harus berhadapan dengan para senopati kaum Hamirah, dengan tidak begitu sulit ia pun bisa mengalahkannya.

USM(threshold = 3; radius = 1.0; amount = 50%) standard: Cromalin?CP2 Matte (v3.5) created by Cromalin?PP v3.5

Pertempuran terus berlanjut hingga tengah hari. Tidak ada waktu istirahat bagi kedua pasukan yang saling bermusuhan ini. Mereka terus bertarung bertaruh nyawa dengan gigih. Begitu pula Hadira dan para senopatinya juga berjuang dengan sangat tekun. Mereka terus berusaha menggempur musuh dan itu berhasil. Dengan cepat pasukan kaum Hamirah berkurang, entah karena gugur atau mundur sebab terluka parah. Keadaan ini membuat raja Gasulah semakin emosi dan harus berpikir keras. Banyak cara telah ia lakukan, tetapi kekuatan lawan seolah-olah tak terbendung. Hingga akhirnya ia menempuh cara yang tak lazim, bahkan dilarang dalam semua pertempuran.

Singkat cerita, raja Gasulah mundur ke tendanya. Ini bukan karena ia mengaku kalah, tetapi untuk ber-semedhi dan berkomunikasi dengan sekutunya di dimensi lain. Setelah semuanya cukup, ia pun kembali ke dalam barisan pasukannya dengan membawa satu peti dari kayu yang berlapis emas. Di dalam peti tersebut terdapat enam buah batu kristal berwarna hitam dan putih. Ternyata keenam pusaka itu adalah yang pernah digunakan oleh seorang raja di masa lalu (yang bernama Surakaya) untuk membuka portal dimensi. Raja Gasulah pun akan melakukan hal yang sama. Dengan mustika itu ia ingin mendapatkan bantuan dari pasukan kegelapan untuk memenangkan pertempuran.

Sesampainya raja Gasulah di tengah-tengah pasukannya, tampa dipahami oleh anak buahnya itu ia segera membuka peti kayu tersebut. Dari dalamnya raja Gasulah segera mengeluarkan keenam kristal sakti itu. Setiap batu kristal lalu diletakkan di tanah di keenam titik yang berbeda (melingkar). Setelah semuanya diletakkan pada posisinya, raja Gasulah duduk bersila di depan lingkaran batu itu sejauh beberapa puluh meter. Semua pasukan diperintahkan untuk mundur dan menjauhi lingkaran kristal itu. Setelah dalam posisi tenang, raja Gasulah lalu membacakan beberapa mantra khusus yang ternyata untuk mengaktifkan keeman kristal itu. Selama pembacaan mantra, satu persatu mustika itu mulai bereaksi. Semuanya lalu memancarkan sinar abu-abu yang saling menyatu. Sinar itu memancar terang dan naik ke atas menembus awan. Tak lama berselang, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan dentuman. Diiringi angin yang berhembus kencang dan petir yang menyambar-nyambar, tiba-tiba dari balik sinar yang membentuk portal itu muncul pasukan yang menyeramkan. Bentuk dan wujud mereka sangar, tidak seperti manusia karena memang bukan manusia. Mereka dari alam goib yang berada dibawah pimpinan si raja setan.

war-fantasy

Pada saat portal dimensi itu terbuka, suasana di medan pertempuran sempat terhenti. Banyak orang yang bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi. Dan ketika mereka melihat ada pasukan yang tiba-tiba muncul dari balik portal itu mulai menyerang, banyak dari mereka yang ketakutan. Bagaimana tidak, pasukan itu diluar kebiasaan. Tubuh mereka besar tinggi, mata merah, wajah mengerikan, bertanduk, bertaring dan berkulit sangat kasar. Hanya beberapa orang saja yang berpenampilan rapi, dan itu hanyalah bagi para senopatinya saja.

Melihat keadaan itu, Hadira segera berinisiatif dengan memerintahkan pasukannya merapatkan barisan. Yang lemah harus mundur dan mencari perlindungan. Sementara yang masih kuat dan sehat harus maju dan bertahan. Dan ketika jumlah pasukan dari alam goib itu kian bertambah tanpa henti, tiada lagi pilihan bagi Hadira untuk tidak menggunakan pusaka lainnya. Saat itu, ia mengeluarkan tongkat pusaka bernama Tungkahisya. Dengan tongkat itu, ia menciptakan semacam dinding perisai bagi pasukannya. Meskipun itu tembus pandang, tak ada seorang pun dari pasukan setan itu yang mampu menembusnya. Setiap kali mereka mencoba dengan memukul-mukul gada atau dengan menggunakan tangan dan tubuhnya, tetap saja itu tak berhasil. Dinding itu tetap kokoh berdiri, tak bergeming sedikitpun.

Hanya saja, kemampuan dari tongkat pusaka itu sebatas membuatkan dinding yang membentuk tembok setinggi beberapa meter saja, tidak sampai menutupi bagian atas dan belakang pasukan. Artinya, bagi musuh yang punya sayap atau bisa terbang tetap saja mereka bisa menyerang pasukan kelima klan. Untuk itulah, pada akhirnya Hadira mengeluarkan satu lagi pusakanya. Kali ini giliran mustika yang bernama Hullasya. Dengan mustika putih itu, ia bisa menciptakan dinding perisai yang membentuk kubah. Karena itulah semua pasukan yang berada di dalamnya aman dari serangan setan manapun.

Melihat itu, raja Gasulah segera meminta bantuan lain dari sekutunya. Raja setan pun mengirimkan tiga orang senopatinya untuk mengempur perisai bikinan Hadira itu. Ketiganya adalah sosok raksasa yang tingginya seperti gunung. Penampilan mereka seperti para kesatria dari kalangan manusia, hanya saja memang tubuh mereka sangat besar melebihi tingginya gunung. Ketiga senopati itu langsung maju dan mulai mengempur perisai pasukan Hadira. Setiap kali mereka menghantam perisai itu, terdengarlah suara gemuruh yang mengelegar diiringi tanah yang berguncang. Siapapun pada saat itu merasakan cemas, karena apa yang mereka lihat sudah diluar logika. Belum pernah mereka melihat atau bahkan mendengar hal yang seperti itu. Sungguh sangat luarbiasa.

Mendapatkan serangan seperti itu dan saat melihat pasukannya mulai ketakutan, Hadira langsung mengingat kisah bagaimana leluhurnya dulu, Mahidara, berperang. Ia pun segera menirukan gaya sang leluhur dengan segera mengeluarkan busur Kiyani. Setelah itu, Hadira segera menarik tali busurnya lalu melepaskannya. Sesaat kemudian terdengarlah suara menggelegar yang belum didengar sebelumnya. Suara itu sempat menarik perhatian semua orang, dan belum pernah mereka dengar yang seperti itu. Disatu sisi membangkitkan semangat, tapi disisi lain justru menciutkan semangat. Dan dengan hadirnya pusaka itu, lambat laun memberikan harapan kepada pasukan koalisi dari kelima klan, bahwasannya panglima mereka masih punya kemampuan khusus. Ini sangat membantu, karena sejak saat itu setiap diri pasukan gabungan kelima klan tetap tenang dan kembali bersemangat juang.

war-giant

Waktu pun berlanjut. Saat itu di tangan Hadira sudah ada busur yang sakti mandraguna. Dengan busur itu ia lalu menggunakannya untuk menjatuhkan lawan. Dan seperti leluhurnya dulu, Hadira segera menarik tali busur itu dengan niat mengeluarkan tiga buah panah yang bisa mengalahkan raksasa itu. Ketika tali busur Kiyani itu ditarik, pada saat itu pula langit berubah mendung dan angin berhembus kencang, berputar-putar di atas Hadira. Tak lama kemudian petir pun menyambar-nyambar dan anak panah pun segera dilepaskan. Selang beberapa saat, anah panah tersebut sudah menghujam tepat di dada ketiga raksasa tersebut. Mereka langsung mengeram kesakitan lalu oleng dan akhirnya tumbang ke tanah. Selang beberapa detik, tubuh mereka yang amat besar itu pun terbakar hebat lalu musnah dan menghilang dari pandangan.

Sungguh, peristiwa itu membuat siapapun yang ada di medan pertempuran tertegun. Bagaimana tidak, tiga sosok raksasa yang tampak sangat sakti itu bisa dikalahkan hanya dalam satu kali tarikan busur panah. Baik kubu pasukan kelima klan ataupun kubu kaum Hamirah terpesona dengan kejadian itu. Sebagian dari mereka, khususnya yang menjadi jajahan kaum Hamirah, mulai berpikir untuk bergabung dengan kelima klan. Menurut mereka ada harapan kemerdekaan ketika Hadira itu bisa mengalahkan raja Gasulah. Oleh sebab itu, tanpa disangka-sangka oleh raja Gasulah, satu persatu dari pasukannya mulai membelot dan bergabung dengan pasukan kelima klan.

Melihat keadaan yang sangat jauh dari harapan itu, Raja Gasulah sangat marah dan segera meminta bantuan dari sekutu yang juga tuannya, sang raja setan. Sosok tersebut ternyata pernah membuat gaduh dimuka bumi. Ia bernama Durwaka, sosok sakti mandraguna yang pernah bertarung dengan leluhur Hadira, yaitu Mahidara. Sekitar 60 juta tahun sebelum pertempuran itu, Durwaka juga pernah menjadi sekutu manusia. Saat itu Durwaka juga pernah membantu pasukan manusia lalu ia pun bertarung habis-habisan dengan Mahidara, tetapi kalah dan harus melarikan diri. Nah, kali ini apakah ia akan bernasib sama, waktulah yang akan menjawabnya.

Singkat cerita, Durwaka tiba-tiba muncul di tengah medan perang. Dalam posisi yang mengambang di udara, ia menyaksikan semua orang lalu tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya itu menggelegar dan menakutkan. Saat tertawa, tubuhnya berubah-ubah wujud, kadang gagah rupawan tapi sebaliknya sangat menyeramkan. Dengan nada sombongnya ia pun berkata; “Aku akan segera menghabisi kalian. Tanpa ampun, tanpa berunding”

Menyaksikan itu, sekali lagi Hadira mengingat kisah pertempuran dari leluhurnya dulu. Karena itu, ia pun segera melesat ke angkasa dan berhadapan langsung dengan Durwaka. Durwaka sudah menyaksikan semua pertempuran itu, karenanya ia sudah tahu siapa Hadira. Dengan pengetahuan itu, Durwaka langsung mengubah dirinya menjadi lima sosok. Setiap sosok punya kesaktian yang berbeda. Sementara itu, Hadira juga telah siap dengan segala resikonya. Ia pun segera membagi dirinya menjadi lima sosok. Setiap sosok juga punya kemampuan yang berbeda dan siap menghadapi sosok Durwaka lainnya satu lawan satu.

Akhirnya, pertarungan terbesar pun segera terjadi. Tanpa basa-basi, Hadira dan Durwaka segera mengadu kesaktian mereka. Berkali-kali mereka mengeluarkan ajian yang membuat bumi berguncang, awan mendung disertai badai dan petir. Membuat siapa saja yang melihat pertarungan itu jadi cemas sekaligus terpesona. Belum ada seorang pun dari mereka yang menyaksikan hal yang seperti itu. Pertarungan itu sangat luarbiasa, bahkan di luar logika mereka semua.

Setiap bagian diri kedua kesatria itu saling bertarung tanpa jeda. Pergerakan mereka sangat cepat, bahkan secepat kilat. Bermacam kesaktian yang mereka keluarkan, dengan tujuan untuk membunuh lawannya. Sampai pada akhirnya, Hadira dan Durwaka mengeluarkan senjata pusaka andalan mereka. Saat itu, Durwaka mengeluarkan lima buah senjata pusaka (tombak, pedang, busur, cakram dan gada), sementara Hadira menyatukan antara pedang Nilbasya dan busur Kiyani. Setelah pedang Nilbasya bersatu ke dalam busur Kiyani, kekuatan pusaka itu berkali lipat. Itu jelas terlihat dari pancaran cahaya dan aura magisnya. Semua orang bisa merasakan hal itu.

pusaka-busur-sakti

Selanjutnya, setelah persiapan usai dilaksanakan, kedua petarung itu lalu melepaskan pusaka mereka. Setiap pusaka beradu dengan satu pusaka lawannya. Dan setelah beradu, sebagian besar dimenangkan oleh panah dari busur Kiyani milik Hadira, sebagian lainnya seri. Melihat itu, tanpa diperintah kedua kesatria itu lalu sepakat untuk mengadu kesaktian diri. Dalam waktu singkat mereka pun mulai mempersiapkan diri untuk mengeluarkan ajian kesaktian. Selang beberapa waktu kemudian keduanya sudah mulai beradu kesaktian.

Di antara kesaktian mereka saat itu adalah mengubah dirinya menjadi raksasa. Baik Hadira dan Durwaka mampu menjadikan diri mereka setinggi gunung, bahkan lebih besar dari ketiga raksasa sebelumnya. Penampilan mereka tetap gagah rupawan, hanya saja pada saat itu rambut dan mata mereka berubah bentuk. Rambut dan mata Hadira bercahaya keputihan, sementara rambut dan mata Durwaka berubah menjadi api yang menyala. Melihat itu, jelas semua orang yang ada di medan pertempuran menjadi semakin cemas sekaligus kian terpesona.

Cukup lama pertarungan antara Durwaka dan Hadira saat itu. Hari pun berganti hari, tapi belum ada yang keluar sebagai pemenangnya. Dimana-mana saja mereka sudah bertarung. Di tanah, lembah, hutan, lautan, bahkan di angkasa sudah mereka lakukan. Terbang kesana kemari dan mengubah wujud sangat sering di lakukan. Hanya saja, selama itu pula masih belum ada juga yang berhasil menang. Mereka masih tetap seimbang. Hingga saat akhirnya kedua sosok kesatria itu ingin mengadu puncak kesaktian mereka. Hadira dan Durwaka segera duduk bersila saling berhadapan di angkasa. Diri mereka yang lain kini kembali menjadi satu. Ukuran tubuh yang awalnya setinggi gunung pun kembali normal seperti semula. Mereka benar-benar ingin mengeluarkan kesaktian pemungkasnya.

Saat itu, untuk menghindari dampak buruk dari pertarungan mereka, Hadira sudah membuatkan semacam perisai tembus pandang yang mengelilingi diri mereka. Durwaka dan Hadira berada tepat di tengah-tengah bola perisai itu. Posisinya di angkasa, cukup jauh dari peserta perang tapi masih bisa di lihat dengan cukup jelas. Keadaan itu akan aman bagi para penonton pertarungan kala itu.

Waktu pun berlalu, segala persiapan pun mulai di lakukan oleh kedua kesatria itu. Pada saat mulai memejamkan matanya, tiba-tiba dari arah langit turun cahaya putih kebiruan ke tubuh Hadira. Cahaya itu kian lama kian terang menyilaukan, dan tampaklah sosok Hadira yang semakin berkharisma. Bahkan tiba-tiba ia sudah mengenakan baju zirah warna keemasan bercampur putih, biru, hijau dan merah. Ini sungguh luarbiasa, dan siapapun yang melihatnya makin terkagum-kagum dengan sosok pemuda itu.

Disisi lain, Durwaka tampak sudah menciptakan semacam kumparan energi yang auranya sangat besar sekaligus mengerikan. Meskipun sudah berada di dalam bola perisai, tetap saja alam bereaksi dengan kekuatan itu. Bumi bergetar hebat, lautan berguncang, cuaca menjadi mendung, angin berhembus kencang dan petir pun menyambar-nyambar. Suasana segera riuh dan gaduh dimana-mana. Banyak orang yang berdoa mohon agar dijauhkan dari bencana dan kehancuran.

Singkat cerita, kini tibalah kedua sosok kesatria itu mengadu kesaktian mereka. Hadira dan Durwaka segera melepaskan kekuatan mereka sebanyak tiga kali. Di saat yang ketiga kalinya, Durwaka terhuyun lemas dan akhirnya jatuh. Ia sempat lumpuh, tapi karena kesaktiannya yang di atas rata-rata, sang raja setan itu pun mampu bergerak dan segera duduk bersila. Sementara itu, Hadira tak mengalami luka atau pun kehabisan tenaga. Ia tetap sehat, seolah-olah kejadian sebelumnya itu tak pernah terjadi. Semua hanya atas berkat karunia Tuhan.

Sebagai seorang kesatria yang berhati suci, Hadira tak mengambil kesempatan saat lawannya itu dalam kondisi lemah. Ia sempat diam dan menyaksikan tubuh musuhnya itu yang terluka parah. Namun demikian, bukannya berterimakasih karena tidak dihabisi, Durwaka justru sesumbar. Dengan nada yang tetap sombong, ia lalu berkata; “Kekalahan ini tak berarti apa-apa. Ku akui kehebatanmu luarbiasa, tapi takkan pernah ku mengaku tunduk kepadamu. Kau memang hebat, seperti leluhurmu dulu. Tapi nanti aku akan kembali lagi dan menuntut balas pada kalian, hai manusia busuk”

Setelah mengatakan itu, Durwaka segera menghilang dari pandangan. Ia kabur entah kemana tanpa diikuti oleh bawahannya. Dan entah mengapa, tiba-tiba portal goib yang dibuka untuk pasukan setan pun tertutup. Begitu pula dengan keenam mustika yang menjadi sumber kekuatannya juga raib dari muka bumi. Dengan kejadian itu, sesungguhnya kemenangan sudah berada di pihak pasukan Hadira. Hanya saja, masih ada yang perlu dikalahkan lagi, yaitu raja Gasulah dan para antek setianya. Sang raja kejam itu tetap ingin berperang. Ia masih belum mengaku kalah, dan karena kesombongannya itulah akhirnya sang raja harus tewas di tangan Hadira.

Pertempuran pun terus berlanjut. Tidak butuh waktu lama bagi pasukan koalisi dari kelima klan untuk mengalahkan pasukan kaum Hamirah. Dan ketika harus berhadapan dengan sisa-sisa pasukan setan, tiba-tiba dari arah langit terdengar suara yang menggelegar. Sesaat kemudian muncul sosok berwibawa yang ternyata adalah leluhur dari Hadira sendiri, yaitu Mahidara. Saat itu, ia memberikan petunjuk untuk bisa mengusir setan-setan yang tersisa. Dengan petunjuk itu, Hadira dan pasukannya berhasil menghabisi pasukan setan. Sisanya mereka usir kembali ke alam dimensinya. Dengan tongkat Tungkahisya semua itu bisa terjadi. Setelah itu, Mahidara menyampaikan beberapa kalimat sebagai pesan kepada seluruh pasukan yang ada. Dan kepada mereka yang sebelumnya tunduk kepada raja Gasulah tapi ingin merdeka, disarahkan kepada pasukan kelima klan untuk tidak menghukum mereka. Kelima klan harus mau memaafkan mereka dan membantunya untuk membangun kembali negeri mereka.

Ya. Setelah bertempur selama 7 hari, akhirnya kelima klan dan kerajaan yang membantunya itu bisa meraih kemenangan penuh. Tidak semua pasukan Hamirah yang terbunuh, sisanya tetap boleh hidup dengan syarat mau kembali ke jalan yang benar. Dan sejak saat itu, sesuai aturan perang yang berlaku, maka semua wilayah kaum Hamirah menjadi milik dari kelima klan. Semua harus mengakui itu, terlebih memang saat itu mereka sudah menyaksikan betapa pertempuran besar itu sangat mengagumkan. Termasuk saat itu mereka pun telah melihat bagaimana sakti dan cerdasnya Hadira sebagai pemimpin. Maka tak ada alasan bagi mereka untuk tidak bergabung dengan kelima klan tersebut.

7. Menemukan harta karun kaum Mahusta
Waktu pun berlalu selama 10 hari sejak pertempuran besar itu. Kini sudah waktunya bagi mereka untuk mulai menata kembali kehidupan di negerinya. Di saat mereka sedang berunding, tiba-tiba hadirlah leluhur mereka yang bernama Mahidara. Dalam balutan pakaian layaknya orang berhaji, Mahidara tampak sangat berwibawa. Saat itu ia berkenan untuk menyampaikan beberapa hal, yang tentunya berguna bagi kelima klan yang ada. Katanya: “Perlu kalian ketahui, bahwa memang kalian sudah menang. Tapi bukan berarti harus kehilangan kewaspadaan. Sosok raja setan Durwaka itu memang sudah berhasil dikalahkan, tetapi ingat yang kalian tundukkan itu hanya bagian dirinya saja, bukan diri yang sebenarnya. Durwaka yang sebenarnya masih sehat bugar, dan ia masih bertapa brata mengumpulkan kesaktian. Jika sudah waktunya nanti, semua kesaktian itu akan ia pergunakan untuk membuat perhitungan dan menciptakan kegaduhan di seluruh dunia. Oleh sebab itu, teruslah persiapkan dirimu. Ingatkan anak dan keturunanmu tentang hal ini. Agar nanti mereka pun sudah siap saat Durwaka kembali”

Setelah mengatakan itu, Mahidara berhenti sejenak. Ia melihat ke arah wajah keturunanya, dan tampaklah bahwa mereka sedikit terkejut. Lalu ia pun kembali berkata: “Tenangkanlah hatimu hai cucu-cucuku. Tidak perlu cemas selama kalian masih berpegang teguh kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Berserah dirilah, karena semuanya itu sudah menjadi kehendak-Nya saja. Semua sudah diatur oleh-Nya dengan sangat teratur dan bijaksana”

“Sekarang ini adalah waktunya bagi kalian untuk kembali menata peradaban yang besar. Dan sebaiknya bersatulah dan tetaplah bermusyawarah. Jadilah satu kesatuan dalam kerajaan yang dipimpin oleh seorang Khalifah [3]. Lalu untuk memulai pembangunan, maka sudah saatnya kelima bagian dari cakram yang terpisah itu untuk disatukan. Satu orang pemimpin yang sudah kalian ketahui yang bisa mengunakan kunci utama itu. Dialah yang bisa membuka pintu ruang rahasia kaum Mahusta”

[3] Gelar Khalifah ini juga bukan berasal dari bahasa Arab, karena kata “Khalifah” dalam bahasa Arab sendiri menyerap dari bahasa kaum lain yang ada sebelumnya. Istilah ini bahkan sudah ada sejak bangsa Arab belum ada, tepatnya sejak di periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra). Sosok yang mengajarkan istilah ini adalah Ayahanda Adam AS sendiri, dan pertama kalinya digunakan untuk kaumnya sendiri.

Setelah menyampaikan itu, tak lama kemudian Mahidara raib dari pandangan. Apapun yang ia sampaikan diamini oleh semua yang hadir. Setiap pemimpin klan sangat menyadari bahwa sudah saatnya mereka bersatu kembali seperti awalnya dulu. Kini, mereka harus bersatu dan menjadi sebuah kaum yang utuh, yang pada akhirnya diberi nama Arhilatara. Ini diambil dari nama salah satu klan/dinasti kaum mereka sendiri. Klan yang sebelumnya dipandang senior dan paling disegani, yang didalamnya pula terdapat seorang pemimpin besar sesuai nubuwat leluhur mereka.

Tentang kepemimpinan tertinggi kaumnya, maka setelah Hadira turun tahta,  jabatan itu akan dipegang secara bergantian oleh pemimpin klan lainnya. Ini sudah menjadi kesepakatan bersama yang dijamin oleh konstitusi negara. Sementara pejabat dibawah Khalifah akan disesuaikan dengan kebutuhan negara. Jabatan Khalifah akan berlaku seumur hidup atau sampai yang bersangkutan meninggal dunia atau mengundurkan diri.

Singkat cerita, kaum Arhilatara mulai membangun peradabannya kembali. Kali ini dengan mengusung cita-cita untuk bisa menjadi yang lebih maju dari sebelumnya. Semua bekal yang dimiliki (termasuk kitab pemberian leluhurnya yang bernama kitab Waruhala) dan potensi kaum terus dibangkitkan. Pendidikan akhlak dan kebatinan menjadi hal yang utama bagi setiap murid di sekolah. Selebihnya mereka akan diajarkan tentang berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Dan untuk lebih meningkatkan itu semua, maka sudah saatnya kelima klan yang ada menyatukan bagian cakram yang sebelumnya terpisah. Saat disatukan, tiba-tiba dari bagian tengah cakram tersebut muncul semacam sinar hologram yang menunjukkan sebuah peta. Peta itu pun bisa digerakkan ke segala arah sesuai keinginan, dan secara otomatis akan menunjukkan dimana lokasi ruang rahasia kaum Mahusta. Ternyata, untuk bisa menemukan lokasi dimana harta karun itu disimpan, maka kelima pemimpin klan harus berjalan menelusuri titik-titik koordinat yang mengarahkan ke tujuan. Titik koordinat itu berjumlah lima, dan pada titik yang kelima-lah tempat dari harta karun itu berada.

Sesuai dengan kesepakatan, tibalah hari untuk mulai mencari harta karun leluhur mereka. Sesuai cerita turun temurun yang mereka dapatkan, maka disana ada banyak ilmu pengetahuan dan teknologi yang disembunyikan. Dengan menemukan itu, mereka bisa membangun kembali kejayaan bangsa mereka lagi. Karena itulah, setiap pemimpin klan dan rombongannya bergegas menuju titik-titik koordinat di dalam peta hologram dari cakram itu.

Satu persatu titik koordinat yang ada telah didatangi. Setiap lokasi titik koordinat selalu memberikan teka-teki dan arahan untuk bisa sampai di titik koordinat selanjutnya. Dan ketika mereka sampai di titik koordinat yang keempat, maka disanalah mereka baru benar-benar mengerti tentang dimana sebenarnya tempat penyimpanan harta karun dari leluhur nya itu. Ternyata lokasi itu berada di………….. (maaf kami tak bisa menjelaskannya disini). Di tempat itu mereka bisa menyaksikan banyak hal yang belum pernah mereka lihat. Betapa leluhur mereka dulu sangat luarbiasa dan mampu menciptakan mahakarya yang sangat tinggi. Segala macam kebutuhan dalam membangun peradaban maju ada disana, bahkan sangat canggih. Ada banyak koleksi, seperti mobil terbang, motor terbang, pesawat terbang, pesawat antariksa, berbagai jenis peralatan, persenjataan dan kendaraan tambang, yang semuanya itu terjaga keutuhannya dengan memberikan semacam bahan pengawet khusus. Bahkan sebenarnya ruangan bangker itu juga telah diatur suhunya sedemikian rupa. Ada banyak kristal yang berfungsi mengatur kelembaban suhu di dalam bangker itu, sehingga apapun yang ada didalamnya secara otomatis akan terjaga keutuhannya, alias tidak akan rusak.

Selain beberapa contoh koleksi di atas, ada banyak pula koleksi kertas gulungan dan buku-buku yang berisi tentang berbagai ilmu pengetahuan. Semuanya adalah hasil karya dari kaum Mahusta, yang tentunya akan sangat berguna bagi kebangkitan kaum Arhilatara nanti. Setelah menyaksikan apa yang terdapat di dalam bangker rahasia itu, hanya beberapa koleksi saja yang mereka bawa kembali ke negerinya. Selebihnya tetap berada di dalam bangker, dan ketika mereka membutuhkannya, maka mereka harus meminta izin dari pemimpin kaum untuk bisa masuk ke dalam bangker tersebut. Apalagi memang, hanya dengan menggunakan kunci cakram yang dipegang oleh sang Khalifah saja siapapun baru bisa memasuki bangker rahasia itu.

Singkat cerita, kaum Arhilatara mulai membangun peradaban baru mereka dan akhirnya sukses. Adapun tahapan dalam pembangunan itu adalah sebagai berikut:

1) Pencarian lahan untuk membangun pusat kota yang baru dan mulai menemukan kristal biru selama ±20 tahun. Lokasi itu kini berada di antara Sumatera, Jawa dan Kalimantan (Laut Jawa dan Selat Karimata).
2) Penelitian ilmiah awal, pembuatan pembangkit energi, mesin-mesin, senjata, dan pesawat selama ±25 tahun.
3) Terus menerus mengembangkan teknologi dan peradaban. Sampai akhirnya mereka bisa berteleportasi dan menjelajah angkasa, bahkan sampai keluar galaksi. Mereka menamakan galaksi kita ini dengan sebutan Aeromia, sedangkan dua galaksi lain yang berhasil mereka jelajahi lalu mereka namakan dengan Lesomia dan Nimia. Ini terjadi – berbarengan dengan masa kemakmurannya – selama ±3.000 tahun.
4) Tahun ke ±4.529 sejak berdirinya kaum, mereka mulai menyalahi kodrat dengan meneliti tentang cara untuk merekayasa makhluk hidup dan mengendalikan waktu. Mereka pun telah bersikap sombong kepada Tuhan dengan melupakan-Nya dalam segala hal. Hanya sedikit orang yang tetap percaya dan mengikuti ajaran Tuhan.
5) Tahun ke ±4.599 sejak berdirinya kaum, mereka diizinkan oleh Tuhan untuk bisa menciptakan mesin waktu, namun hanya untuk bisa mengetahui masa depan saja. Dan yang bisa menciptakan mesin waktu itu justru hanya dari kalangan orang-orang yang beriman. Mereka mendapat bimbingan dari seorang malaikat yang menyaru sebagai manusia. Hal itu untuk membuktikan kebesaran Tuhan dan membantah anggapan miring dari mereka yang tidak percaya Tuhan (ateis) bahwa dengan mengikuti ajaran agama maka hidup akan terkekang. Karena buktinya, justru dengan mengikuti ajaran Tuhan-lah mereka bisa menciptakan teknologi yang luarbiasa hebatnya.
Setelah mesin waktu selesai dibangun, beberapa orang beriman ada yang menjelajahi masa depan. Hal ini terjadi selama 5 tahun, dan setelahnya mesin waktu itu tiba-tiba menghilang atau lebih tepatnya sengaja dihilangkan dengan satu alasan khusus.
5) Bagi mereka yang berhasil menjelajahi masa depan dan bisa kembali, maka mereka pun segera mempersiapkan diri, karena akan ada bencana besar yang melanda negeri mereka. Mereka pun mengingatkan kepada yang lainnya, tetapi tidak banyak yang percaya. Justru kaum mereka itu semakin larut dalam kekufuran dan kemaksiatannya. Sehingga inilah yang menjadi sumber utama dari kehancuran peradaban mereka.

Demikianlah bagaimana kaum Arhilatara menjalani kehidupannya. Dimulai dari kesederhanaan, lalu berakhir dalam kemajuan yang tinggi. Hanya saja, memang pada awalnya mereka sangat beriman kepada Tuhan, tapi sayang pada akhirnya justru menentang Tuhan. Semua itu lantaran mereka tak mampu bertarung melawan hasrat keinginan duniawi, yang sebenarnya terus menipu. Hanya sebagian orang saja yang tetap beriman dan mau mengikuti ajaran Tuhan yang dibawa oleh seorang Nabi bernama Salbi AS. Selebihnya tetap larut dalam kekufuran dan kemaksiatannya.

8. Akhir kisah
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, maka akhir kehidupan dari kaum ini sungguh tidak baik. Mereka larut dalam kesombongan dan kekufuran diri. Dengan segala nikmat yang didapatkan, hanya segelintir orang saja yang tetap beriman kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Selebihnya justru tak percaya Tuhan, atau berpura-pura beriman kepada Tuhan padahal sebenarnya hanya dusta. Di dalam hatinya yang ia sembah hanyalah harta, kedudukan dan teknologi. Kemaksiatan kian merajalela dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sehingga inilah yang menjadi penyebab utama kenapa mereka harus menerima azab perih dari Tuhan.

Tapi sebelum semua itu terjadi, sebagian mereka yang beriman telah mempersiapkan diri. Dengan segala kemampuan yang dimiliki, mereka terus bersiap-siap dalam segala hal, termasuk membangun pesawat luar angkasa yang sangat besar. Di dalam pesawat itu juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan kebutuhan yang bisa menjamin kehidupan mereka selama bertahun-tahun. Bahkan, ada beberapa bagian di dalam pesawat itu yang terdiri dari lahan pertanian, perkebunan, peternakan dan air bersih. Ada pula semacam apartemen dan bangunan rumah ibadah. Semuanya telah dipersiapkan dengan sangat detil dan canggih. Dan pesawat yang mereka bangun ini ukurannya sangatlah besar. Bisa dikatakan hampir seluas kota Jogjakarta. Karena itu, rasanya tidak aneh bila didalamnya bisa memuat semua kebutuhan hidup manusia.

Akhirnya, di tahun ke ±4.625 dari sejak berdirinya, kaum ini harus menerima azab atas kekufuran mereka. Tidak jauh berbeda dengan leluhur mereka yaitu kaum Mahusta, maka negeri tempat tinggalnya juga tenggelam. Saat itu, ketika matahari baru setinggi busur, daratan tempat tinggal mereka tiba-tiba berguncang hebat. Tak lama kemudian datang pula awan gelap yang disertai angin kencang dan petir yang menyambar-nyambar. Selain bersuara keras, petir-petir itu juga menghantam apa saja yang ada di kota itu, termasuk orang dan gedung-gedungnya. Apapun tidak ada yang selamat dari sambaran petir itu, termasuk gedung besar pun runtuh terkena hantamannya.

Tak lama kemudian, entah dari mana tiba-tiba datanglah air tsunami yang menerjang kota mereka. Tapi karena benteng kota mereka itu sangatlah kokoh, tsunami sebesar itu kurang berdampak buruk bagi mereka. Mereka masih tetap selamat saat itu. Hanya saja, selang satu jam kemudian terdengarlah suara gemuruh yang menggelegar dari arah langit. Suara itu sangat keras dan tiba-tiba disertai sinar kemerahan (seperti bola api) menghantam permukaan tanah negeri mereka. Akibat dari benturan itu, daratan yang ada langsung berguncang hebat lalu terbelah dan naik ke atas. Setelah tegak lurus secara vertikal, daratan yang sangat luas itu lalu terbalik dan mengubur semua yang ada di negeri kaum Arhilatara. Daratan itu terus tenggelam, terisi air dan akhirnya menjadi lautan yang luas. Dan siapapun tak ada yang selamat dalam peristiwa itu, kecuali mereka yang beriman atau telah mengungsi jauh keluar kota.

Sungguh dahsyat bencana pada saat itu dan tak ada yang bisa selamat. Semuanya terjadi hanya sekitar 5 jam saja. Dan anehnya, semua teknologi yang kaum ini bangga-banggakan justru tak bisa membantu mereka. Semua peralatan canggih itu entah kenapa tiba-tiba tak berfungsi. Semuanya ngadat, seolah-olah sudah rusak belasan tahun. Dan inilah bukti bahwa siapapun yang kufur dan mengingkari kebesaran Tuhan akan menerima balasan yang setimpal, cepat atau lambat. Tidak pula ada batas waktunya, karena di zaman apapun kutukan Tuhan itu akan tetap ada. Semua berlaku menyakitkan bagi siapa saja yang durhaka kepada Tuhan.

Lalu, setelah beberapa puluh tahun sejak azab itu datang, sebagian dari mereka yang selamat diperintahkan untuk kembali ke Bumi. Di Bumi mereka diperintahkan mendirikan peradaban baru dan masih di sekitar Nusantara  ini. Dan seperti pendahulunya dulu, mereka juga meletakkan beberapa hasil karya cipta mereka yang terbaik di bangker rahasia kaum Mahusta. Cakram yang menjadi kunci rahasia dari tempat itu lalu di turunkan dari generasi ke generasi. Menunggu waktu yang tepat bagi seorang pemimpin besar untuk menggunakannya kembali. Demikianlah itu terjadi berulang kali sampai di periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra) yang masih belum digunakan. Keberadaan kunci cakram dan sosok pemimpin besar itu masih misteri.

9. Penutup
Wahai semuanya. Sebagaimana artikel sebelumnya, maka disini kami hanya bisa menyampaikan bahwa kisah di atas adalah benar-benar pernah terjadi. Jika tak pernah terdengar kisahnya atau ditemukan penjelasannya, maka itu bukan berarti tak ada. Dan karena rentang waktu yang terlalu jauh, maka kisah itu pun hilang dari ingatan manusia. Perlu cara khusus untuk bisa mengetahuinya dan menceritakannya kembali. Karena itulah disini kami takkan memaksa Anda sekalian untuk percaya atau tidak percaya. Semua kembali kepada diri pribadi masing-masing, dan kami tidak akan memaksanya. Tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan, sebagai bentuk peringatan dan informasi. Tidak ada tendensi apapun disini, kecuali untuk kebaikan kita bersama.

Dan sesuai dengan uraian di atas, sekali lagi kami mengajak para pembaca sekalian untuk terus eling lan waspodo. Teruslah bermawas diri dan persiapkan diri sebaik mungkin dalam menghadapi transisi zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra menuju Hasmurata-Ra). Hanya yang telah siap dan terus melatih diri (lahir dan batin) sajalah yang akan bertahan dan meraih keselamatan. Semoga itulah kita.

Salam Rahayu _/|\_

Jambi, 28 Januari 2017
Harunatara

Iklan

2 thoughts on “Dinasti Arhilatara: Kebangkitan Kaum Mahusta

    Tufail (@TufailRidha) said:
    Januari 31, 2017 pukul 5:27 am

    Epos yang sangat bermanfaat menarik lagilagi bukan hanya cakrawala berfikir dan wawasan yang bertambah tapi menambah kedalaman cakrawala dalam hati kita untuk terus bermuhasabah, selalu berfikir positiv dan berniat baik. semoga kang Harunata-Ra dan kita manusia yang Hyang Aruta (Tuhan YME) berikan berkah dan karunianya juga selalu dalam lindunganNya. Aku titipkan pada-Mu Ya Allah segala sesuatu yang aku cintai, Aku titipkan pada-Mu Keluargaku, Kebahagianku, Rezekiku dan Masa Depanku. Juga Harapan-harapanku karena sesungguhnya segala sesuatu yang di titipkan pada-Mu tak kan sia-sia. Amin

    Rahayu.. Rahayu.. Rahayu Bagio… _/|\_

      oedi responded:
      Februari 10, 2017 pukul 3:20 am

      Terimakasih kang Tufail atas kunjungan dan doanya, semoga kita semua mendapatkan kebaikan, keselamatan dan kemuliaan dunia akherat.. 🙂
      Dan mari kita terus berusaha membuka cakrawala hati dan pikiran kita, salah satunya dengan merenungi kisah-kisah dari kaum terdahulu, baik dan burunya sikap mereka itu.. Karena dengan begitu kita akan belajar untuk bersikap bijak, rendah hati dan selalu menempuh jalan kebenaran yang sejati. Dengan begitu hidup kita pun akan memiliki arti dan bermanfaat.. 🙂
      Rahayu bagio.. _/|\_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s