Kerajaan Bakulapura: Bukti Persaudaraan Nusantara

ilustrasi-upacara-bauswarnakam-oleh-sri-mulawarmanWahai saudaraku. Mari sekali lagi kita mengulik sejarah dari leluhur bangsa ini. Khususnya kerajaan yang berdiri sejak awal-awal tarikh Masehi. Ini sangat penting agar kita tetap melek sejarah dan lebih tahu tentang siapa sejatinya bangsa kita. Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang sebuah kerajaan yang pernah ada di pulau Ratnadwipa atau Warunadwipa atau Borneo atau Kalimantan. Kerajaan itu bernama Bakulapura.

Kerajaan Bakulapura atau kemudian dikenal dengan Kutai Martadipura adalah kerajaan di Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua. Berdiri sejak sekitar tahun 350 Masehi dan terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam dekat kota Tenggarong. Bukti sejarah tentang kerajaan ini adalah ditemukannya tujuh buah prasasti yang berbentuk yupa (tiang batu bertulis untuk peringatan upacara kurban/sedekah) yang menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Nama Kutai diberikan oleh para ahli dengan mengambil nama dari tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi dari kerajaan tersebut.

1. Sejarah awal berdiri
Kisahnya berawal dari Sang Kudungga bin Sang Atwangga bin Sang Mitrongga yang berkuasa pada sekitar tahun 350-375 Masehi. Keluarga terpandang itu sudah beberapa generasi berada di Ratnadwipa (Kalimantan) dan menjadi penguasa. Beberapa ratus tahun sebelumnya, keluarga itu datang dari India lalu berbaur dengan warga pribumi, menikah dan beranak pinak di pulau Kalimantan. Garis silsilah mereka dimulai dari Sang Pusyamitra yang menurunkan wangsa Sungga di kerajaan Magadha. Ketika wangsa Sungga dikalahkan dan dikuasai oleh wangsa Kusan (Kucanawamsa), banyak di antara anggota keluarga ini, baik laki-laki dan perempuan yang mengungsi ke berbagai negara. Salah satu anggota wangsa Sungga bersama keluarga dan pengiringnya tiba di salah satu pulau di Nusantara, tepatnya pulau Kalimantan bagian timur. Mereka berbaur dengan warga pribumi, menikah, beranak pinak dan mendirikan sebuah desa yang diberi nama Kutai. Setelah berkembang menjadi kerajaan kecil lalu diubah namanya menjadi Bakulapura. Bakula yang berarti tanjung (muara), sedangkan Pura memiliki arti kota.

Beberapa generasi selanjutnya dari keluarga keturunan wangsa Sungga ini lahirlah Sang Kudungga bin Atwangga bin Mitrongga. Lalu puterinya yang bernama Dewi Gari yang bergelar Maharatu Sri Gari diperisteri oleh Sang Aswawarman, putera kedua dari Prabu Darmawirya alias Dewawarman VIII (raja ke-8 Salakanagara) dengan Spatikarnawa Warmandewi (putri Prabu Dewawarman VII). Sementara kakak perempuan dari Prabu Dewawarman VIII yang bernama Dewi Minawati alias Iswari Tunggal Pertiwi Warmandewi menjadi permaisuri dari Rajadirajaguru Jayasinghawarman, pendiri kerajaan Tarumanagara.

Secara khusus, sebelum pernikahan antara Aswawarman dengan Dewi Gari, maka hubungan antara kerajaan Salakanagara dan Bakulapura sangatlah erat. Itu terjadi karena Prabu Darmawirya alias Dewawarman VIII telah lama bersahabat dengan penguasa Bakulapura, sebab Sang Kudungga itu adalah saudara sepupunya dari pihak ibu. Artinya permaisuri Prabu Dewawarman VII memiliki kakak yang menikah dengan penguasa Bakulapura saat itu yang bernama Atwangga, ayah dari Sang Kudungga. Karena itulah Aswawarman diangkat anak sejak kecil oleh Sang Kudungga dan ia tinggal di Bakulapura.

Jadi, Aswawarman dengan istrinya (Dewi Gari) masih bersaudara satu-buyut. Karena itu, setelah Sang Kudungga wafat, maka Aswawarman yang menggantikannya sebagai penguasa di Bakulapura. Dalam masa pemerintahannya, Bakulapura menjadi kerajaan besar dan kuat sehingga dialah yang dianggap sebagai pendiri dinasti (wangsakerta).

Selama hidupnya Maharaja Aswawarman memiliki tiga orang putera. Yang sulung bernama Mulawarman dan kelak menggantikan dirinya menjadi penguasa Bakulapura. Di bawah pemerintahannya Bakulapura menjadi semakin kuat dan besar. Ia adalah raja yang sangat berwibawa dan membawahi kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya.

2. Maharaja Mulawarman dan kemahsyurannya
Raja paling tersohor di kerajaan ini adalah Mulawarman. Informasi ini diperoleh dari yupa (sebuah tiang batu yang digunakan untuk mengikat hewan yang akan dipersembahkan kepada Dewa-dewa. Dalam tiang batu tersebut terdapat rangkaian tulisan yang dipahatkan di permukaannya. Tulisan yang terdapat dalam prasasti yupa tersebut semuanya menggunakan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa) yang berasal dari abad ke-4 Masehi. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah kerajaan ini. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Bakulapura saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa tersebut karena kedermawanannya saat menyedekahkan 20.000 ekor lembu/sapi kepada kaum Brahmana.

isi-prasasti-yupa

Berikut ini salah satu bunyi kalimat yang terdapat dalam yupa peninggalan kerajaan Bakulapura-Kutai Martadipura, yaitu:

“……cri mantah cri narendraasya mahat manah putro cvabharmo vikhya tan vancakarta yathancuman tasya putro mahat manah trayas-trayas ivagnayah tssan trayanam pravarah tapa bola danavitah cri mala varmanah rajendro yastava bahusvan akam yajnasya jupoyam dwijen drais sampra kalpita……”

Diartikan :
“…… Sang Raja Kudungga yang mempunyai putra wangsakarta (Aswawarman), melahirkan tiga putra seperti api sinarnya dan menjadi raja-raja berkuasa diwilayahnya dan yang paling terkenal adalah Maharaja Sri Mulawarman Nala Dewa yang mengadakan kurban besar dan memberi sedekah emas kepada para Brahmana yang datang ke tempat itu, sehingga dia dinyatakan kuat dalam berkuasa…. “

Dalam kehidupan politik, maka dari informasi yupa tersebut diketahui bahwa raja paling tersohor di Bakulapura adalah Mulawarman. Kerajaan Bakulapura-Kutai Martadipura mengalami masa keemasan pada masa raja ini. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur sekarang. Rakyat Kutai pada masa itu telah hidup makmur dan sejahtera. Kerajaan ini mengalami perkembangan yang pesat karena letaknya yang strategis, yaitu sebagai persinggahan bagi kapal-kapal yang menempuh perjalanan melalui Selat Makassar.

Selain itu, isi dari prasasti yupa lainnya berbunyi sebagai berikut:

“Dengarkanlah oleh kamu sekalian Brahmana yang terkemuka dan sekalian orang baik lain-lainnya, tentang kebaikan budi sang Mulawarman, raja besar yang sangat mulia. Kebaikan budi ini ialah berwujud sedekah kehidupan atau semata-mata pohon kalpa (yang memberi segala keinginan), dengan sedekah tanah (yang dihadiahkan). Berhubung dengan semua kebaikan itulah tugu ini didirikan oleh para Brahmana (buat peringatan)”

“Sang Raja Sri Mulawarman raja yang mulia dan terkemuka telah memberikan sedekah berupa 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana, sedekah itu ditempatkan dalam varakecvare sebagai peringatan, atas kebaikan sang raja Sri Mulawarman dibuatlah tugu tiang pemujaan”

Tugu-tugu itu ditulis untuk peringatan dari dua hal yang telah disedekahkan oleh Maharaja Mulawarman, yakni “segunung” minyak (kental) dengan lampu serta malai bunga dan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana. Sang raja pun seperti api, yang (bertempat) di dalam tanah yang sangat suci (yang bernama Vaprakeswara). Dan prasasti ini juga dibuat sebagai peringatan akan kebaikan budi sang raja itu, yang dibuat oleh para Brahmana yang datang ke tempat itu.

Sehingga dari keterangan yupa-yupa tersebut, disini jelas menunjukkan kemahsyuran dari sang raja. Dimasa itu 20.000 ekor sapi bukanlah hal yang murah. Mendapatkannya pun tidak mudah, karena harus ada kekuasaan yang besar dan kekayaan yang berlimpah. Jangankan di masa itu, dimasa sekarang pun angka sebesar itu merupakan sesuatu yang luarbiasa. Bahkan sepengetahuan penulis belum ada pemimpin yang pernah memberikan hewan kurban sebanyak itu. Sekaya dan sahebat apapun dia. Karena itu pula Maharaja Mulawarman dianggap sebagai raja yang paling tersohor di kerajaan Bakulapura-Kutai Martadipura.

***

Untuk lebih jelasnya, berikut ini kami berikan isi dari semua prasasti yupa yang ada, yaitu:

Yupa pertama :
“……cri mantah cri narendraasya mahat manah putro cvabharmo vikhya tan vancakarta yathancuman tasya putro mahat manah trayas-trayas ivagnayah tssan trayanam pravarah tapa bola danavitah cri mala varmanah rajendro yastava bahusvan akam yajnasya jupoyam dwijen drais sampra kapita….. “

Diartikan :
Sang Raja Kudungga yang mempunyai putra wamsakarta, melahirkan tiga putra seperti api sinarnya dan menjadi raja-raja berkuasa di wilayahnya dan yang paling terkenal adalah Maharaja Sri Mulawarman Nala Dewa yang mengadakan kurban besar dan memberi sedekah emas kepada para Brahmana yang datang ke tempat itu, sehingga dia dinyatakan kuat dalam berkuasa.

Yupa kedua :
“…… cri manto nrpa much yasa rajah cri mula varmanah danam puyatane ksetrei yadattam varakecevare dvi jatibhyo geni kalpebhyah vuncater gg osahestii kam tasya punyasya yupoyam kerto vidrair ihagataih……”

Diartikan :
Sang Raja Sri Mulawarman raja yang mulia dan terkemuka telah memberikan sedekah berupa 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana, sedekah itu ditempatkan dalam varakecvare sebagai peringatan atas kebaikan sang raja Sri Mulawarman dibuatlah tugu tiang pemujaan.

Yupa ketiga :
“Sang Raja Mulawarman menaklukan raja-raja di medan perang, mereka harus membayar upeti sebagaimana yang dilakukan oleh raja Yudhisthira di waprwkecwara, ia mendarmakan empat puluh ribu…… kemudian tigapuluh ribu. Mulawarman seorang raja saleh menyelengarakan Jiwandana yang berbeda-beda dan penerangan dikotanya…… oleh seorang yang alim. Yupa sudah didirikan oleh Brahmana-Brahmana yang datang kesini dari berbagai daerah”

Yupa ke empat :
“Menyambut raja yang kuat, Mulawarman seorang raja agung dan termasyhur telah mendarmakan, peristiwa ini telah dicatat ditempat yang suci. Mulawarman telah memberikan kepada Brahmana-brahmana hadiah air, minyak, sapi yang berwarna kekuning-kuningan dan biji wijen dan juga sebelas ekor sapi jantan”

Yupa kelima :
“Karena Bhageratha dilahirkan oleh Raja Segara……. Mulawarman……” (tulisan pada prasasti ini banyak yang rusak dan tidak terbaca).

Yupa ke enam :
“Dengarkanlah oleh kamu sekalian, Brahmana yang terkemuka dan sekalian orang baik lain-lainnya, tentang kebaikan budi sang Mulawarman, raja besar yang sangat mulia. Kebaikan budi ini ialah berwujud sedekah kehidupan atau semata-mata pohon kalpa (yang memberi segala keinginan), dengan sedekah tanah (yang dihadiahkan). Berhubung dengan semua kebaikan itulah tugu ini didirikan oleh para Brahmana (buat peringatan)”

Yupa ke tujuh :
“Tugu ini ditulis buat (peringatan) dua perkara yang telah disedekahkan oleh sang raja Mulawarman, yakni gunung minyak (kental) dengan lampu serta malai bunga”

Sehingga, dengan merenung serta didasari dari pengkajian filosofi terhadap tulisan di dalam yupa, maka jelas menguraikan beberapa hal tentang kurban-kurban yang terkait dengan agama yang dianut oleh Maharaja Mulawarman.

Adapun upacara kenegaraaan di kerajaan Bakulapura-Kutai Martadipura saat itu seperti:
1. Kurban Agatsya (upacara pendirian dinasti), menjelaskan tentang keturunan).
2. Kurban Bahuswarnakam (upacara pemberian hadiah harta berupa emas).
3. Kurban Jivandana (upacara hadiah jiwa berupa hewan sapi).
4. Kurban Waprakeswaea (upacara pembangunan tempat pemujaan berupa bangunan kuil atau candi).
5. Kurban Kalpa/Kalpataru (upacara penyerahan watas tanah serta penanaman pohon kehidupan). Dimana dikatakan pada waktu itu sang raja pernah menganugerahkan minyak yang berasal dari pohon tengkawang dan biji wijen serta bunga. Ini melambangkan kerajaan yang diperintahnya saat itu memiliki kekayaan berlimpah serta memiliki wilayah-wilayah yang dipimpin oleh para kepala negeri.
6. Kurban Bhagrtha (upacara kemakmuran) dimana telah dinyalakannya lampu sebagai sulu penerang kehidupan rakyat dalam lindungan raja yang arib bijaksana telah melimpahkan harta bagi kepentingan rakyat yang diperintahnya, karena raja memiliki wilayah taklukan dan kekuasaan besar, kurban tersebut dilaksanakan dan dihadiri oleh para Brahmana dari berbagai negeri seperti dari kerajaan Amarapati, Kalingga, Magadha-Gupta, Sri Langka, Amartadipura, dan Campa.

3. Kehidupan kerajaan
Informasi tentang kehidupan sosial di kerajaan Bakulapura-Kutai Martadipura bisa didapatkan dari terjemahan prasasti-prasasti yupa yang ditemukan oleh para ahli. Di antara kesimpulan yang bisa diambil adalah sebagai berikut:

1) Masyarakat di kerajaan ini tertata, tertib dan teratur.
2) Masyarakat di kerajaan ini memiliki kemampuan beradaptasi dengan budaya luar (India), mengikuti pola perubahan zaman dengan tetap memelihara dan melestarikan budayanya sendiri.

Sementara itu, kehidupan ekonomi di kerajaan ini dapat diketahui dari dua hal berikut ini:

1) Letak geografis kerajaan yang berada pada jalur perdagangan antara China dan India. Sehingga kerajaan ini menjadi tempat yang menarik untuk disinggahi para pedagang. Hal tersebut juga memperlihatkan bahwa kegiatan perdagangan telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Kutai pada masa itu, disamping pertanian dan peternakan.
2) Keterangan tertulis pada prasasti yupa yang mengatakan bahwa Maharaja Mulawarman pernah memberikan hartanya berupa “segunung” minyak dan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana. Ini jelas menunjukkan tingginya tingkat kesejahteraan hidup mereka pada waktu itu.

Lalu tentang kehidupan budaya masyarakat Kutai pada masa itu adalah sebagai berikut:

1) Masyarakat Kutai saat itu adalah masyarakat yang menjaga akar tradisi budaya nenek moyangnya.
2) Masyarakat Kutai saat itu sangat tanggap terhadap perubahan dan kemajuan kebudayaan.
3) Masyarakat Kutai saat itu sangat menjunjung tinggi semangat keagamaan dalam kehidupan kebudayaannya.

4. Nama-nama raja Bakulapura-Kutai Martadipura
Selama berdiri, ada sekitar 29 orang raja/ratu yang pernah memimpin kerajaan ini. Semuanya punya sifat dan karakternya sendiri. Sebagian membangkitkan kejayaan, sebagian lainnya biasa saja. Bahkan dimasa pemerintahannya kerajaan ini harus mengalami keruntuhannya.

Disadur dari kumpulan catatan A. Iansyahrechza. F dalam buku Memburu Sejarah Kutai tahun 1996, maka raja-raja Bakulapura-Kutai Martadipura adalah sebagai berikut:

1. Maharaja Sri Kudungga bin Atwangga bin Mitrongga alias Sri Gedongga (350-375 M)
2. Maharaja Sri Aswawarman alias Wangsakerta (375-400 M)
3. Maharaja Sri Mulawarman Naladewa alias Wamseragen (400-446 M)
4. Maharaja Sri Wangsa Warman (446-495 M)
5. Maharaja Maha Wijaya Warman (495-543 M)
6. Maharaja Gaja Yana Warman (543-590 M)
7. Maharaja Wijaya Tungga Warman (590-637 M)
8. Maharaja Jaya Tungga Nagawarman (637-686 M)
9. Maharaja Nala Singhawarman (686-736 M)
10. Maharaja Nala Perana Tungga Warman (736-783 M)
11. Maharaja Gadingga Warman (783-832 M)
12. Maharaja Indra Warmandewa (832-879 M)
13. Maharaja Singa Wirama Warmandewa (879-926 M)
14. Maharaja Singha Wargala Warmandewa (926-972 M)
15. Maharaja Cendera Warman (972-1020 M)
16. Maharaja Prabu Mula Tunggaldewa (1020-1069 M)
17. Maharaja Nala Indradewa (1069-1117 M)
18. Maharatu Mayang Mulawarni alias Putri Aji Pidara Putih (1117-1166 M)
19. Maharaja Indra Mulia Tungga Warmandewa (1166-1214 M)
20. Maharaja Sri Langkadewa (1214-1265 M)
21. Maharaja Guna Perana Tungga (1265-1325 M)
22. Maharaja Nala Duta (Dewan Raja Perwalian) (1325-1337 M)
23. Maharaja Puan Reniq Gelar Wijaya Warman (1337-1373 M)
24. Maharaja Indra Mulia (1373-1407 M)
25. Maharaja Sri Ajidewa (1407-1425 M)
26. Maharaja Mulia Putra (1425-1453 M)
27. Maharaja Nala Praditha (1453-1509 M)
28. Maharaja Indrawarman (1509-1534 M)
29. Maharaja Dharma Setiya (1534-1605 M)

5. Keruntuhan kerajaan
Kerajaan Bakulapura-Kutai Martadipura seakan-akan tak terlihat lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, hingga sangat sedikit yang mendengar namanya. Mungkin itu sebabnya keberadaan kerajaan ini kurang diperhatikan oleh para penulis tambo di daratan China atau pun India.

Berita tertua China yang bertalian dengan salah satu daerah di Kalimantan berasal dari zaman dinasti Tang (618-906 M). Padahal berita-berita China yang berhubungan dengan Jawa sudah ada sejak abad ke-5 dan dengan Sumatera pada abad ke-6. Kurangnya perhatian dari pihak China mungkin disebabkan Kalimantan tidak terletak pada jalur niaga China yang utama. Begitu pula pada masa sesudahnya, sehingga informasi tentang Kalimantan saat itu sangatlah sedikit.

Setelah berdiri pada sekitar tahun 350 Masehi, kerajaan Bakulapura-Kutai Martadipura akhirnya harus runtuh di tahun 1605 Masehi. Itu terjadi pada saat raja ke-29 yang bernama Maharaja Dharma Setiya (1534-1605 M) gugur dalam peperangan di tangan raja Kutai Kartanegara ke-13 yang bernama Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan kerajaan Kutai Kertanegara yang saat itu beribukota di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kertanegara inilah yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama pada tahun 1365 Masehi.

Kutai Kertanegara selanjutnya menguasai semua wilayah bekas kerajaan Bakulapura-Kutai Martadipura. Lalu beberapa waktu kemudian kerajaan ini menjadi kerajaan Islam. Sejak tahun 1735 Masehi, rajanya yang bergelar Pangeran juga berubah menjadi bergelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris misalnya) dan hingga sekarang disebut Kesultanan Kutai Kertanegara.

6. Penutup
Demikianlah sekilas gambaran tentang kerajaan Bakulapura atau yang lebih dikenal sekarang dengan nama Kutai Martadipura. Dari semua penjelasan yang ada di atas, kita bisa mengetahui bahwa di masa lalu nenek moyang kita sudah hidup dalam keadaan damai, tertib dan sejahtera. Dan kita juga bisa mengetahui bahwa leluhur kita dulu adalah sosok yang hebat dan sangat berkharisma. Semua itu adalah anugerah yang sangat besar namun kini telah semakin hilang dari negeri ini.

Selain itu, dari semua keterangan di atas, maka semakin jelas bahwa kerajaan ini ternyata berhubungan erat dengan kerajaan-kerajaan di tanah Jawa dan Sumatera, khususnya Salakanagara, Tarumanagara, Indraprahasta, Kendan-Galuh, Sriwijaya, dan Medang. Itu jelas terlihat dari posisi Maharaja Aswawarman yang merupakan anak dari Prabu Dewawarman VIII (raja terakhir Salakanagara). Ia juga anak angkat dan menantu dari Sang Kudungga serta ayah dari Maharaja Mulawarman. Selain itu, Aswawarman adalah adik kandung dari Dewi Minawati alias Iswari Tunggal Pertiwi Warmandewi, yang menjadi permaisuri dari Rajadirajaguru Jayasinghawarman, pendiri kerajaan Tarumanagara. Sedangkan adiknya yang bernama Dewi Indari diperistri oleh Maharesi Santanu (pendiri kerajaan Indraprahasta). Demikian pula selanjutnya, raja-raja di kerajaan Kendan-Galuh, Sriwijaya dan Medang bertalian darah dengan kerajaan Salakanagara dan Bakulapura-Kutai Martadipura melalui trah dari para raja di kerajaan Tarumanagara.

Catatan tambahan: Mengenai hubungannya dengan kerajaan Sriwijaya, maka pendiri kerajaan Sriwijaya yang bernama Dapunta Hyang Sri Jayanasa adalah menantu dari Prabu Linggawarman (raja ke-12 Tarumanagara). Sang prabu memiliki dua orang putri, yang sulung bernama Dewi Manasih dan yang bungsu bernama Sobakancana. Dewi Manasih menikah dengan Prabu Tarusbawa (raja di kerajaan Sunda), sementara Sobakancana menikah dengan seorang pangeran bernama Dapunta Hyang Sri Jayanasa (pendiri kerajaan Sriwijaya). Sementara itu, Dapunta Hyang Sri Jayanasa masih keturunan dari raja Malayu dan juga Tarumanagara. Karena salah satu putri dari Prabu Purnawarman (raja ke-3 Tarumanagara) menikah dengan putra dari raja di kerajaan Swarnabhumi (Malayu). Dari pernikahan itu kelak dikemudian hari lahirlah Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Artinya, kerajaan Sriwijaya berhubungan kerabat dengan kerajaan Bakulapura-Kutai Martadipura karena masih bertalian darah dengan trah raja-raja di kerajaan Tarumanagara lalu Salakanagara.

Sehingga, dengan demikian antara kerajaan Salakanagara, Bakulapura-Kutai Martadipura, Tarumanagara, Indraprahasta, Kendan-Galuh, Sriwijaya dan Medang masih terbilang bersaudara. Dan itu terjadi karena semua raja di kerajaan itu bertalian darah dengan kerajaan Salakanagara. Begitu pula dengan kerajaan penerus mereka seperti Jenggala-Kahuripan, Daha-Kadiri, Singhasari, Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram juga masih bersaudara. Karena semua kerajaan itu berasal dari trah raja-raja di kerajaan Tarumanagara lalu Salakanagara. Hal ini jelas sebagai bukti bahwa semua kerajaan tersebut di atas juga berhubungan kerabat dengan kerajaan Bakulapura-Kutai Martadipura melalui sosok Maharaja Aswawarman (anak Prabu Dewawarman VIII sekaligus menantu Sang Kudungga dan raja kedua di Bakulapura). Ini sangat membanggakan dan harus jadi renungan bagi bangsa ini. Dan sebagai generasi penerus, kita harus tetap menggalang persatuan yang erat. Jangan lagi mau diadu domba atau dipecah belah, karena kita memang masih bersaudara. Semua itu demi kebangkitan dan kejayaan negeri tercinta ini sekali lagi.

Semoga bermanfaat. Salam Rahayu _/|\_

Jambi, 23 Januari 2017
Harunata-Ra

(Disarikan dari berbagai sumber dan masih perlu di sempurnakan)

Iklan

8 thoughts on “Kerajaan Bakulapura: Bukti Persaudaraan Nusantara

  1. Selalu menarik apalagi diperbanyak dengan tulisan lainnya, mudah-mudahan yang masih rahasia sudah bisa di torehkan di blog kang Harunata-Ra ini mengenang para leluhur kita bangsa Nusanta-Ra banyak sekali pelajaran dan manfaat yang bisa kita ambil terlebih untuk menambah wawasan dan cakrawala berfikir kita. Salam _/|\_
    Rahayu.. Rahayu Bagyo

    1. Nuhun kang Tufail, karena masih mau berkunjung, semoga tetap bermanfaat.. 🙂
      Ya semoga dengan pengetahuan yg sedikit ini saya masih bisa menguraikan sejarah leluhur kita, karena hal itu sangatlah penting bagi kesadaran, kebangkitan dan kejayaan bangsa ini.. Seperti kata pepatah “Bangsa yang besar adalah yang tidak melupakan sejarahnya”, begitulah dg bangsa ini, kita tidak akan gemilang kalau tidak menghargai dan memahami sejarah leluhur sendiri.. Leluhur kita adalah orang hebat, dan saat kita mau mengikuti warisan mereka, bangsa ini pasti akan maju..
      Rahayu bagio.. _/|\_ 🙂

  2. saya semakin terbius di blog ini 🙂 semakin menarik saja untuk dibaca dan nongkrong disini, semoga ada banyak waktu untuk bisa berkunjung menimba ilmu disini 🙂 sukses selalu mas!

    1. Oh ya?? wah terimakasih mbak Ericka karena masih mau berkunjung.. semoga tetap bermanfaat.. 🙂
      Aamiiin.. sukses juga untuk mbaknya.. 🙂
      Dan semoga mbak Ericka diberi banyak waktu dan semangat membaca, dan semoga masih ada ilmu yang berguna untuk diambil sebagai pelajaran dan bekal hidup… Semangat!

    1. Hmm maaf, sepertinya apa yg mas Denny tanyakan itu sudah dijelaskan dalam tulisan ini, silahkan dibaca lagi lebih tenang dan detil.. 🙂

    1. Ya kalo bagi saya pribadi lebih yakin asal usul beliau itu sesuai dengan apa yg diuraikan dalam tulisan ini, lebih jelas dan terurut sampai ke kerajaan Magadha di India sana.. Kalaupun ada kisah lain, ya itu bisa terjadi dalam ranah keilmuan sejarah karena berasal dari sumber cerita dan kajian yg berbeda.. Dan merupakan hal yg biasa pula bila terdapat bbrp versi tentang kisah/cerita sejarah masa lalu.. Itu bagian dari kesempurnaan sejarahnya kok.. Tinggal nanti dirangkum dan disimpulkan agar kian kaya dan lengkap data dan informasinya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s