Tata Kehidupan Leluhur: Cara Menuju Kejayaan Nusantara

Posted on Updated on

ajaran-leluhur-nusantaraWahai saudaraku. Dalam menjalani kehidupan ini, tentu harus ada aturan yang ditata sedemikian rupa, teratur dan dipatuhi dengan sepenuh hati. Tanpa hal itu, niscaya kehidupan di muka Bumi ini akan timpang dan kacau. Karena itulah para leluhur kita, khususnya yang tinggal di Jawa bagian barat, telah menata dan mengajarkan prinsip utama hidup sebagai tata perilaku manusia. Jika diikuti dan diterapkan oleh setiap pribadi, niscaya kemakmuran dan kesejahteraan hidup akan terwujud. Kehidupan di bumi Nusantara ini akan terasa di Syurga.

Untuk mencapai hal itu, maka ada tata kehidupan dunia yang sesuai dengan kebutuhan manusia. Ini adalah buah pikiran dari para leluhur kita yang bijak. Adapun di antaranya sebagai berikut:

1. Tata Wilayah
Mengidentifikasi tempat, lokasi dan ruang yang akan menghasilkan Tata Wayah. Dalam hal ini perlu segala pertimbangan yang matang disertai keilmuan yang cukup dalam menentukan lokasi yang paling tepat/sesuai/layak.

2. Tata Wayah
Dalam hal ini, maka pada zaman/waktu itu keadaan warga sudah harus berada pada tahap yang menetap (tenang). Karenanya ada hal yang perlu diperhatikan oleh setiap pribadi, yaitu:

1). Sri = cahaya, baik -> selalu berperilaku baik karena akan mendatangkan cahaya dalam kehidupan. Dengan cahaya itu, seseorang akan hidup dalam keamanan dan kebahagiaan.
2). Lungguh = wajar -> berperilaku secara wajar (tidak berlebihan) dan sesuai dengan tuntunan Tuhan.
3). Dunya = seimbang -> harus bisa menjalani kehidupan ini dengan cara seimbang lahir dan batinnya, mikro dan makrokosmosnya.
4). Lara = sakit -> harus selalu ingat rasa sakit yang di terima saat berbuat yang tidak baik (hukum sebab akibat). Ingat pula pada hukuman yang menanti di akherat nanti bagi siapa saja yang melanggar hukum Tuhan.
5). Pati (punah/mati) -> selalu sadar diri bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara. Tidak ada yang abadi di dunia ini, karena semuanya akan sirna, bahkan semu belaka. Kita hanyalah makhluk yang fana dan harus sering mengingat kematian lalu terus mempersiapkan bekal diri untuk kehidupan di alam keabadian nanti (akherat).

Kelima hal di atas harus selalu diingat dan dijadikan pedoman dalam kehidupan, karena siapapun akan terikat dengannya. Takkan ada yang bisa menjauh atau melarikan diri. Dan jika bersikap lalai atau bahkan melupakannya, hal itu hanya akan mendatangkan musibah dan bencana.

3. Tata Lampah
Setelah sadar pada kondisi yang sesungguhnya, barulah bisa menentukan bagaimana caranya menyikapi dan memperlakukan alam dan kehidupan ini dengan benar. Hasilnya akan selalu bersikap bijak dan menjaga setiap amanah yang telah diberikan Tuhan selama hidup di Bumi dengan sungguh-sungguh. Karena itu, peradaban yang dibangun akan terlihat rapi, indah dan megah.

4. Tata Praja
Hal ini bisa dicapai ketika seseorang sudah melalui Tata Lampah. Artinya kita harus sudah sadar diri dan mampu menentukan sikap dan metode yang terbaik dalam hidup ini, khususnya tentang hubungan kita dalam mikrokosmos dan makrokosmos. Disini, seseorang harus sudah terlepas dari ego dan keserakahan dirinya sendiri. Sehingga dalam kehidupannya ia baru akan menyatu dengan alamnya, dengan semua penghuninya, yang pada akhirnya akan menyatu pula dengan Tuhannya. Inilah tujuan sebenarnya dari kehidupan ini.

5. Tata Mustika
Tahap ini adalah tingkatan setelah Tata Praja bisa dipenuhi. Artinya seseorang atau komunitas itu sudah mampu menerapkan apa yang ia tata pada tahap Tata Praja sebelumnya dengan tekun/terus menerus – bahkan sudah terlepas dari rasa atau beban kewajiban, karena semuanya lahir dari kesadaran diri. Disini pun sudah menampakkan hasil yang memuaskan dan luarbiasa. Dan saat di tahap ini, maka peradaban yang dibangun sudah bisa sampai pada tahap yang makmur. Tak ada lagi penderitaan dan kesusahan, karena semua orang bisa hidup dengan layak dan bahagia.

6. Tata Mulya (mulia)
Hal ini bisa dicapai saat kelima tata sebelumnya bisa terpenuhi. Artinya pada saat ini orang akan menuai hasil dari jerih payahnya. Peradaban yang ada sudah sampai pada taraf sejahtera, lalu dengan kesejahteraan itu orang-orang akan hidup dalam bingkai kebersamaan, cinta, kasih sayang dan keshalihan terhadap sesama makhluk dan Tuhannya. Nah ketika itu bisa terwujud, barulah orang akan mencapai kemuliaan hidup, baik ketika masih di dunia ataupun di akheratnya nanti. Inilah tujuan hidup yang sejati. Yang telah dicontohkan oleh para leluhur kita dulu.

Ya. Ke enam ajaran di atas itu lalu bersifat acuan dasar dan dorongan utama agar setiap pribadi bisa hidup dalam kebaikan, kebagusan dan kebenaran yang sejati. Ini adalah intisari atau puncak dari perilaku hidup yang sejati yang bisa dicapai oleh setiap pribadi yang berakal. Sehingga dalam pandangan Sundayana (prinsip bangsa Galuh kuno), jika seseorang tidak mampu melakoni ajaran ini, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai ti hyang jawi atau orang Jawa (orang yang benar, waras). Dan jika ia sampai tidak memiliki rasa welas-asih, maka ia sudah tidak layak lagi untuk disebut sebagai manusia, lebih tepatnya sering disebut sebagai duruwiksa (buto/raksasa) atau makhluk biadab. Karena di dalam ajaran Sundayana sendiri ada tiga prinsip utama yang terbagi dalam tiga bidang ajaran. Ketiganya itu tetap dalam satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisahkan (kemanunggalan). Adapun di antaranya yaitu:

1. Tata Salira (Kemanunggalan Diri)
Berisi tentang pembentukan kualitas manusia yaitu meleburkan diri dalam “ketunggalan” agar menjadi “diri sendiri” (si-Swa) yang beradab, merdeka dan berdaulat, atau menjadi seseorang yang tidak tergantung kepada apapun dan siapapun selain kepada dirinya sendiri (mandiri).

2. Tata Naga-Ra (Kemanunggalan Negeri)
Yaitu memanunggalkan masyarakat/bangsa (negara) dalam berkehidupan di Bumi secara beradab, merdeka dan berdaulat. Ini adalah ajaran untuk membangun negara yang mandiri dan berdasarkan kekuatan bangsa sendiri, tidak menjajah dan tidak bisa dijajah.

3. Tata Buwana (Kemanunggalan Bumi)
Yaitu kebijakan universal (kesemestaan) untuk memanunggalkan Bumi dengan segala isinya dalam semesta kehidupan agar tercipta kedamaian hidup di seluruh Buwana (bumi/dunia).

Selain itu, dalam pandangan Sundayana, maka yang dimaksud dengan “peradaban sebuah bangsa (negara)” itu tidak diukur berdasarkan nilai-nilai material yang semu dan dibuat-buat oleh manusia seperti bangunan megah, harta berupa emas serta batu permata yang berlimpah dan lain sebagainya, melainkan terciptanya keselarasan hidup bersama alam (keabadian). Peradaban itu harus tercipta dengan adab yang beradab, bukan sekedar materi duniawi.

2

Prinsip tersebut tentu saja sangat bertolak-belakang dengan negara-negara lain yang kualitas pribadi dan budayanya tidak sebaik milik bangsa beriklim tropis seperti di Nusantara ini. Oleh sebab itu, di Jawa bagian barat khususnya, terdapatlah ajaran yang sangat agung yang menjadi Tji/Ci (cahaya) kehidupan. Ajaran itu disebut dengan Mandala Bhakti, yang di dalamnya terdapat beberapa tingkat pencapaian hidup bagi setiap pribadi. Adapun di antaranya yaitu:

1. Mandala Hyang
Ini adalah tahapan yang tertinggi namun hanya bisa dicapai jika seseorang telah dan hanya memikirkan tentang kesemestaan.

2. Mandala Agung
Hanya bisa dicapai jika seseorang telah memikirkan tentang kehidupan berbangsa dan bernegara dengan benar.

3. Mandala Wangi
Hanya bisa dicapai jika seseorang telah memikirkan tentang kebenaran.

4. Mandala Wening
Hanya bisa dicapai jika seseorang telah memikirkan tentang cinta dan kasih sayang.

5. Mandala Raja
Hanya bisa dicapai jika seseorang telah memikirkan tentang kebijakan dan kebajikan.

6. Mandala Seba
Ini adalah sifat dan sikap seseorang yang tidak baik karena hanya memikirkan tentang dirinya sendiri (egois, oportunis, sombong, serakah, kikir, dll).

7. Mandala Kasungka
Ini adalah kualitas pribadi yang paling rendah, karena sifat dan sikap seseorang disini masih selalu memikirkan tentang sex, gaya hidup, jabatan, kekuasaan, harta benda, serta segala yang bersifat kebinatangan saja. Sehingga ia pun menjadi lebih hina dari binatang yang terhina.

Demikianlah bagaimana ajaran leluhur kita dulu sudah disarikan dengan rapi dan telah menjadi hal yang utama dalam membangun peradaban manusia. Bagaimana keadaan diri seseorang bisa berkaca langsung pada tiap-tiap point ajaran tersebut. Sehingga, jika bangsa ini ingin kembali bangkit dan berjaya lagi, maka ikutilah ajaran itu. Jadikanlah ajaran leluhur itu sebagai prinsip utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara lagi. Niscaya kemakmuran dan kesejahteraan akan terwujud dalam arti yang sesungguhnya.

Semoga kejayaan itu hadir lagi, semoga kesejahteraan itu datang lagi di Nusantara ini. Rahayu.

Jambi, 02 Desember 2016
Harunata-Ra

(Disarikan dari beberapa sumber dan diskusi)

2 thoughts on “Tata Kehidupan Leluhur: Cara Menuju Kejayaan Nusantara

    Tufail (@TufailRidha) said:
    Desember 2, 2016 pukul 2:56 pm

    Rahayu… Rahayu… Rahayu Salawasna

      oedi responded:
      Desember 3, 2016 pukul 12:34 am

      Nuhun kang Tufail karena masih mau berkunjung, semoga tetap bermanfaat..🙂
      Rahayu Bagio..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s