Mahidara: Kesatria Penguasa Cincin Humaril

Posted on Updated on

kesatriaKisah ini terjadi pada masa pertengahan periode zaman ke-5 (Dwipanta-Ra), atau sekitar 150 juta tahun silam. Pada masa itu, seluruh wilayah Nusantara masih menyatu dalam satu daratan yang sangat luas. Belum ada lautan dan selat, yang ada saat itu hanya samudera luas yang kini disebut dengan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik saja. Wilayah Nusantara saat itu hanya di apit oleh kedua samudera itu saja.

Secara umum, hampir semua daratan di Bumi saat itu sudah dihuni oleh manusia. Mereka juga sudah membentuk wilayah kerajaannya masing-masing dengan ciri khas, ras dan budayanya sendiri. Meskipun tak sepadat penduduk dunia pada masa sekarang, jumlah manusia pada saat itu sudah sangat banyak dan beragam. Jika di total seluruhnya, maka tak kurang dari 2,5 milyar orang di seluruh dunia. Semuanya masih bisa hidup rukun dan damai, tapi terkadang memang harus ada perang untuk menyelesaikan sebuah permasalahan.

Nah, untuk mempersingkat waktu, mari ikuti kisah berikut ini:

1. Mahidara, pemuda yang sederhana
Pada masa lalu, hiduplah seorang pemuda desa yang bernama Mahidara. Tempat tinggalnya itu di sekitar Malang, tidak jauh dengan kawasan gunung Semeru sekarang – hanya saja saat itu tampilan gunung Semeru lebih tinggi dari sekarang. Bersama ayah dan ibunya, ia menggarap lahan pertanian untuk menyambung hidupnya dengan penuh kesederhanaan. Dan sebagaimana kebiasaan di desanya, maka sejak belia Mahidara sudah diperkenalkan dengan ilmu kanuragan dan kadigdayan oleh ayahnya. Selain kedua ilmu itu, ayahnya juga mengajarinya dengan ilmu sastra, perbintangan, hitungan, agama dan hukum. Mahidara pun sangat tertarik dengan itu semua, sehingga ia pun berlatih dengan tekun. Lalu, karena tradisi di keluarganya pula, maka di usia yang ke 17 tahun ia sudah harus mengembara untuk menambah keilmuannya. Selama mengembara itu, diharapkan Mahidara bisa bertemu dengan banyak hal yang bisa menambah kemampuan dan wawasannya.

Setelah dirasa cukup dan siap, Mahidara lalu berpamitan kepada kedua orang tuanya. Dari desanya, ia memulai perjalanannya ke arah Barat. Kemana sebenarnya, ia belum tahu pasti. Yang ada dalam pikirannya saat itu hanya berjalan mengikuti naluri. Ia yakin bahwa nalurinya itu akan membawanya pada suatu petualangan yang mengagumkan. Dan benar, bahwa setelah 11 bulan mengembara ia berjumpa dengan seorang yang mulia. Di tengah rimbunnya hutan, dipinggir sebuah sungai yang jernih dan berjeram, Mahidara bertemu dengan Nabi Zayad AS. Awalnya ia tak mengira bahwa sosok pria tua itu adalah seorang utusan Tuhan. Setelah beberapa waktu barulah ia menyadari bahwa orang yang berbincang-bincang dengannya itu adalah seorang Nabi, Zayad AS adalah namanya. Lokasi pertemuan mereka saat itu sekarang berada di sekitar pulau Andaman (saat itu pulau ini masih menyatu dengan Burma dan Thailand).

2. Berguru dan mengembara dengan Nabi Zayad AS
Singkat cerita, Mahidara lalu mengikuti kemana pun Nabi Zayad AS pergi. Selama 15 tahun, banyaklah negeri dan kaum yang sudah mereka datangi. Ada yang memang untuk berdakwah, tapi ada pula yang sekedar berwisata saja, melihat-lihat kondisi penduduk dan kotanya yang megah. Di sela-sela pengembaraan mereka itu, Nabi Zayad AS juga membekali Mahidara dengan berbagai ilmu. Karena diajari langsung oleh seorang utusan Tuhan, tentu hasilnya luarbiasa. Tapi dengan hasil yang seperti itu, tidak pernah membuat Mahidara lupa diri. Justru ia semakin rendah hati dan sering menangis terharu.

old-forest

Melihat itu, gurunya merasa sangat senang lalu meminta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa. Tiga hari berselang, turunlah wahyu agar Mahidara berlatih secara khusus, sebab ada tugas besar yang menantinya. Setelah menerima petunjuk seperti itu, Nabi Zayad AS langsung mengajak muridnya itu untuk menyepi di sebuah gunung raksasa yang dulu pernah ada di Jogjakarta. Gunung setinggi ±5.270 meter itu bernama Prabutalanasya. Disana Mahidara oleh Nabi Zayad AS diminta untuk lebih banyak bermeditasi untuk melatih konsentrasinya. Setelah dirasa cukup oleh gurunya itu, Mahidara barulah diminta untuk ber-tapa brata dalam kurun waktu tertentu.

3. Tapa brata mengelilingi dunia
Waktu terus berlalu selama lebih dari 5 tahun. Mahidara masih tetap dalam posisi duduk semedhi tanpa pernah beranjak sedikitpun. Ia larut dalam tapa brata-nya itu, hingga hanya sang guru saja yang bisa membangunkannya. Setelah terbangun, selang dua hari kemudian Nabi Zayad AS menyampaikan bahwa Mahidara akan mendapatkan ilmu dan pusaka sakti dengan catatan ia mau melakukan tapa brata lagi. Kali ini berbeda dengan yang sebelumnya, karena harus di lakukan dengan berbagai macam cara dan berpindah-pindah tempat. Tapa brata yang di lakukan ini juga sangat keras dan harus bertapa di darat, di air dan di udara. Sebagai seorang murid yang patuh dan sangat mempercayai gurunya, Mahidara langsung mengikuti petunjuk itu. Atas izin dan restu dari gurunya, selang satu hari kemudian Mahidara memulai tapa brata-nya. Sementara gurunya itu, Nabi Zayad AS langsung raib dari muka Bumi, tak lama setelah Mahidara memulai perjalanan tapa bratanya.

Begitulah Mahidara memulai pertapaannya mengelilingi dunia. Selama itu, banyak cara dan teknik ber-tapa yang ia lakukan. Setiap usai satu jenis pertapaan, Nabi Zayad AS akan datang untuk memberikan petunjuk jenis tapa brata lain yang harus di lakukan oleh Mahidara. Tanpa mengenal putus asa, Mahidara terus mengikuti petunjuk dari gurunya itu. Sudah lebih dari 7.000 tahun lamanya ia ber-tapa brata dengan berpindah-pindah tempat, sebanyak dua kali pula ia telah mengelilingi Bumi. Selama itu, tidak ada perubahan pada fisiknya. Akibat tapa brata-nya itu Mahidara tidak bertambah tua atau pun lemah. Ia tetap sama dengan waktu masih berguru dengan Nabi Zayad AS di gunung Prabutalanasya dulu. Sampai pada suatu ketika, saat tengah hari, ia berjalan di sebuah padang rumput yang luas. Di tempat itu ia melihat ada sebuah bangunan tua, yang dikenal sekarang dengan Ka’bah (saat itu keadaannya jauh berbeda dengan yang ada sekarang). Disanalah beliau mendapatkan petunjuk dengan perantara sebuah mimpi. Di dalam mimpi tersebut, Mahidara bertemu dengan sesosok pria yang kemudian diketahui sebagai Nabi Syish AS. Saat itu beliau membawa sebuah gulungan kertas dan menyerahkannya kepada Mahidara. Ternyata gulungan itu berisi tata cara untuk bisa menguasai berbagai ilmu.

Saat terbangun dari mimpinya, Mahidara langsung mengambil posisi duduk bersila. Ia lalu memejamkan mata dengan maksud untuk ber-semedhi. Selang beberapa waktu, dalam semedhi-nya itu ia bertemu lagi dengan Nabi Syish AS. Sang Nabi memintanya untuk berjalan ke arah timur. Tanpa pikir panjang, Mahidara langsung berjalan ke arah timur, melintasi hutan dan padang rumput. Selang dua hari, tibalah ia di sebuah padang rumput yang sangat luas. Disana ada sebuah bukit yang diatasnya ada sebatang pohon rindang. Mengikuti kata hatinya, Mahidara langsung menuju ke arah pohon itu. Semakin ia mendekat, tampak olehnya sesosok pria tua sedang duduk santai di bawah pohon itu. Ternyata pria itu adalah Nabi Syish AS sendiri.

Setibanya dihadapan Nabi Syish AS, Mahidara langsung duduk bersimpuh, memberi hormat sebagaimana adat di masa itu. Seperti kepada gurunya, sikapnya kepada Nabi Syish AS juga sangat sopan dan hormat. Sangat jarang ia menatap langsung ke arah mata sang nabi, sikapnya lebih banyak menunduk lantaran sangat menghormati utusan Tuhan itu. Dan itu sudah menjadi tabiatnya sejak dulu, sudah mendarah daging. Dan Nabi Syish AS terkadang tersenyum melihat sikap pemuda itu. Sang pemuda tampak sangat rendah hati dan sedikit pemalu.

Singkat cerita, Nabi Syish AS memberikan petunjuk kepada Mahidara bahwa ia masih harus bertapa lagi menuju ke arah tenggara. “Pergilah ke arah tenggara. Berjalanlah selama setengah hari, dan pada saat matahari tepat di atas kepala (tengah hari), berhentilah dan berdirilah kaki satu (tanpa bergerak) sampai matahari tenggelam (magrib). Lakukan hal itu dengan tekun, sampai engkau tiba di sebuah gunung yang bernama Muji (dulu ada disekitar Jambi, dengan ketinggian ±11.676 Mdpl). Di gunung itu, teruskan tapa bratamu dengan cara duduk bersila. Apapun yang terjadi ikuti saja dengan sabar dan tekun. Akan ada yang terbaik untukmu nanti” Begitulah pesan dari Nabi Syish AS kepada Mahidara. Meski lakon itu sangat berat, maka dengan sikap yang senang Mahidara pun menerimanya.

Setelah menyampaikan petunjuk itu, Nabi Syish AS menghilang dari pandangan. Mahidara lalu merenungkan apa yang disampaikan oleh sang Nabi. Dan karena ia adalah sosok yang selalu berserah diri kepada Tuhan, maka tak butuh waktu lama untuk memulai tapa brata-nya. Dengan niat yang mantap, bersama langkah kaki kanannya, Mahidara memulai perjalanan tapa brata-nya. Ke arah tenggara ia melangkahkan kaki, sementara itu jika waktu tengah hari tiba ia lalu berdiri kaki satu tanpa bergerak sampai matahari terbenam. Setelah itu, ia kembali meneruskan perjalanannya untuk sampai di gunung Muji. Ini terus di lakukan tanpa henti sehari pun. Karena begitulah aturan tapa brata-nya.

4. Mendapatkan pusaka sakti
Tidak ada waktu jeda untuk beristirahat dalam tapa brata-nya. Tanpa henti Mahidara terus melakukan tapa brata yang keras itu. Hingga pada akhirnya ia sampai juga di kaki gunung Muji. Dari sana ia lalu naik ke puncaknya. Di puncak gunung raksasa itu, Mahidara lalu mengambil posisi duduk bersila untuk melanjutkan tapa brata-nya lagi. Dengan sikap yang tenang dan berserah diri, Mahidara lalu memejamkan matanya. Tak lama kemudian ia sudah larut dalam tapa brata-nya.

Waktu terus berlalu. Hari berganti minggu dan bulan, bulan pun berganti tahun. Dalam cuaca terang, hujan atau badai sekalipun Mahidara tak bergeming dari tempatnya. Ia terus saja ber-tapa brata tanpa henti. Dan karena sebelumnya ia sudah melakukan tapa brata yang sangat keras selama ribuan tahun, maka aura yang memancar dari dalam tubuhnya mengundang kekaguman dari siapapun. Nyata atau goib, semua makhluk terpesona dengan sosok pemuda rendah hati yang sedang ber-tapa itu. Dan sang pemuda tetap khusyuk dalam tapa brata-nya, hingga pada suatu ketika, setelah 10 tahun berlalu, tiba-tiba ia hilang dari muka Bumi. Ternyata Mahidara sudah berpindah ke dimensi lain, tepatnya ke dimensi ke-7 (Ramatasyi). Disana, Mahidara sudah berada di tepi sebuah telaga yang sangat jernih airnya. Saking jernihnya, maka dasar telaganya pun terlihat jelas. Baik dari jauh maupun dekat, air telaga itu berwarna bening kebiruan. Pada dasarnya bertaburan batu-batu yang berkilauan dan berwarna warni, bentuknya semacam permata dan kristal. Sangat indah dan jelas sekali terlihat dari jauh.

Di seberang telaga itu, ada sebatang pohon yang rindang yang banyak pula buahnya. Pohon itu sangat rindang dan berbeda sekali dengan yang ada di bumi ini. Itu terjadi karena batang pohon itu saja terbuat dari semacam tembaga yang bercahaya, sementara daunnya terbuat dari bahan seperti kristal dan berulir warna keemasan. Dari balik ranting dan dedaunannya, muncul beragam bentuk buah dalam ukuran yang berbeda-beda. Pohon itu juga bercahaya, sehingga akan membuat siapapun langsung terpukau bila melihatnya.

Cukup lama Mahidara ber-tapa brata disana. Hingga pada akhirnya ada suara tanpa wujud yang memerintahkannya untuk menghentikan tapa brata-nya. Mendengar itu, Mahidara langsung mengikutinya. Perlahan ia membuka matanya dan langsung bisa melihat ada sebuah telaga bening di hadapannya. Suara tanpa wujud itu kembali bersuara, katanya; “Berjalanlah ke depan, ke arah telaga itu. Teruslah melangkah dan jangan berhenti”

Mahidara melakukan apa yang diperintahkan oleh suara tanpa wujud itu. Ia berjalan ke arah tepi telaga. Sempat ia berhenti karena di depannya hanya ada air, tapi karena sudah berserah diri sejak awal maka ia kembali melanjutkan perjalanannya. Sesuatu yang luarbiasa terjadi, Mahidara tetap bisa berjalan di atas air telaga itu. Ia tidak tenggelam, seolah-olah air telaga itu sudah mengkristal untuk dirinya. Semakin mendekati tepian danau yang ada disisi lain, Mahidara semakin jelas melihat sebatang pohon yang sangat indah. Semakin ia mendekat, pohon itu tampak menunduk. Terus ia mendekat, pohon itupun ikut menunduk semakin rendah, hingga jika ia berada di bawah pohon itu tangannya bisa langsung menjangkau daun dan buahnya.

Tapi, sebelum ia sampai di tepian telaga itu, sesuatu yang luarbiasa terjadi. Mahidara pun berhenti, rasanya ada sesuatu yang unik pada air yang ada dihadapannya. Kali ini tak seperti sebelumnya, karena airnya terlihat sangat cair. Dan benar adanya, saat ia melangkah di atas air itu Mahidara pun langsung tercebur ke dalamnya. Tapi ada pula yang aneh setelahnya. Karena meskipun sudah tercebur ke dalam air itu, Mahidara tidak merasa basah sama sekali. Seluruh tubuhnya tetap kering, bahkan ia tak tenggelam sama sekali. Mahidara kini justru sudah berada di sebuah tempat yang lain tapi sama persis dengan tempat yang ia lihat sebelum ia tercebur. Ternyata ia sudah berada di dimensi yang lainnya.

Jadi, air yang ada di ujung telaga itu adalah pintu khusus untuk menuju ke dimensi lainnya. Dan di alam dimensi sana, maka semua yang ada memang sama persis dengan tempat sebelumnya, hanya saja auranya terasa berbeda, lebih mengagumkan. Nah, setelah menembus portal dimensi itu, kini Mahidara baru bisa sampai ke tepi telaga dan meneruskan perjalannya. Ia terus mendekati pohon besar yang bercahaya itu. Semakin dekat, semakin merunduklah pohon itu, hingga tangannya mampu menjangkau daun dan buahnya. Tapi Mahadira adalah sosok yang tahu diri dan punya sopan santun. Ia tidak berani berbuat apapun sebelum mendapatkan perintah. Karena itulah Mahadira hanya berdiri melihat-lihat dengan kagum keindahan pohon itu. Hingga pada akhirnya, terdengar suara gemuruh dari arah langit. Tak lama kemudian turun pula cahaya putih bersinar lalu diam di depan Mahidara.

Dari cahaya itu, lalu muncullah sesosok yang sangat rupawan. Ia berpakaian serba putih dan dari kulitnya memancar pula sinar putih kebiruan. Belum pernah Mahidara melihat yang seperti itu. Dan ternyata sosok yang sangat mengagumkan itu adalah seorang malaikat yang bernama Wilusar’i. Malaikat itu sengaja turun untuk menyampaikan sesuatu kepada Mahidara. Katanya: “Salam sejahtera untukmu hai pemuda pilihan. Bersyukurlah hanya kepada Tuhanmu, karena hanya Dia-lah yang menurunkan kehendak. Dia-lah yang mengatur segalanya. Kedatanganku saat ini hanya untuk menyampaikan kabar bahwa semua tapa bratamu telah usai. Kau telah lulus dari setiap ujian berat, dan kini sudah saatnya untuk menerima balasannya”

“Diri ini tak mengharapkan apapun. Diri ini hanya melakukan apa yang menurutku benar dan sesuai dengan petunjuk-Nya” Balas Mahidara. Yang dijawab oleh sang malaikat dengan berkata; “Justru karena itulah kau menjadi yang terpilih. Dirimu adalah yang terbaik dari yang terbaik di zaman ini. Sebagai seorang pemuda, kau adalah kesatria utama yang rendah hati”

Mendengar itu, Mahidara hanya bisa terdiam dan meneteskan air matanya. Ia merasa terharu atas apa yang telah ia lakukan selama ribuan tahun ini dan sekarang mengalami hal yang luarbiasa dalam hidupnya. Di saat ia memikirkan itu, malaikat Wilusar’i hanya tersenyum lalu melanjutkan kata-katanya; “Wahai yang terpilih. Sudah saatnya engkau menerima apa yang menjadi hakmu. Kini petiklah satu buah yang kau inginkan dari pohon itu. Pohon ini bernama Mulani”

Singkat cerita, Mahidara memetik satu buah yang ada di pohon Mulani itu. Ada banyak bentuk, jenis dan warna buah yang ada disana, tapi Mahidara memilih yang warnanya putih bersih. Setelah berada di tangannya, malaikat Wilusar’i langsung membelah buah itu menjadi dua dan ternyata di dalamnya ada sebuah batu berlian warna putih bening. Batu berlian itu memancarkan sinar kebiruan ke segala arah. Terasa ada energi yang sangat besar dari dalam batu berlian itu. Dan ternyata sebuah mustika yang bernama Hullasya. Mustika ini memiliki banyak kegunaan dan bisa menyesuaikan dengan keinginan atau kebutuhan dari pemegangnya. Adapun di antaranya bisa membangun perisai pertahanan diri atau sebuah kota, menjaga kedamaian, dan mengendalikan cuaca.

Setelah mendapatkan mustika itu, malaikat Wilusar’i kembali meminta Mahidara untuk memetik satu buah lagi. Kali ini ia memilih yang berwarna emas. Saat di belah, maka di dalam buah itu terdapat sepasang cincin emas bermatakan berlian warna biru dan hijau. Dari tampilannya, cincin yang bernama Swaniya itu sangat indah, penuh dengan ukiran yang rumit dan memancarkan aura magis yang luar biasa. Cincin ini bisa dipergunakan untuk menambah kewibawaan, menghilang, terbang, kekebalan dan berpindah dimensi. Satu dari cincin ini juga bisa diberikan kepada istrinya nanti, karena memang sepasang cicin Swaniya ini diperuntukkan bagi sepasang kekasih.

Untuk yang ketiga kalinya, malaikat Wilusar’i meminta Mahidara untuk kembali memetik satu buah lagi. Yang ketiga ini Mahidara memilih satu buah yang berwarna hijau keemasan dengan ukuran yang besar dan lonjong. Saat dibelah, ternyata di dalam buah itu terdapat satu pedang putih mengkilat. Pedang itu bernama Nilbasya. Memiliki kemampuan untuk bisa memberikan kekuatan dan kesaktian, juga bisa bekerja sendiri dengan cukup diniatkan saja.

Waktu terus berlalu. Sesaat setelah menerima pusaka yang ketiga itu, tiba-tiba dari arah langit terdengar suara yang bergemuruh. Sekejab kemudian muncul cahaya putih yang turun ke arah Mahidara dan malaikat Wilusar’i. Ternyata yang datang itu adalah seorang malaikat yang bernama Rubiyar’i. Sosok itu tak kalah mengagumkan dari malaikat Wilusar’i, karena sama-sama tampan dan bercahaya. Kedatangannya adalah untuk memberikan sebuah busur panah dan kitab ilmu pengetahuan kepada Mahidara. Busur itu bernama Kiyani, sementara kitabnya bernama Waruhala. Dengan rasa berat dan sikap yang rendah hati, Mahidara menerima semua pemberian itu. Sebab, menurut malaikat Rubiyar’i ia akan menjalankan tugas besar di waktunya nanti. Karena itu ia membutuhkan busur dan kitab itu. Busur Kiyani itu berwarna biru bercampur  keemasan. Tak ada anak panahnya, karena ternyata busur itu memang tidak memerlukan anak panah dan bisa mengeluarkan ribuan anak panah dalam satu kali tarikan tali busurnya; sesuai dengan keinginan dari pemiliknya. Busur panah yang bernama Kiyani ini juga memiliki kemampuan yang luarbiasa lainnya seperti mengeluarkan ledakan api (seperti bom), mendatangkan air bah, membelah lautan, dan menghancurkan bukit. Pusaka ini memang untuk keperluan berperang. Sementara kitab Waruhala memuat berbagai ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia.

pusaka-busur-sakti

Setelah menerima pedang itu, ternyata masih belum selesai. Kembali dari arah langit terdengar suara yang bergemuruh. Ada cahaya yang turun dan mendekat ke arah mereka. Ternyata yang hadir saat itu adalah seorang pria yang pernah menjadi gurunya Mahidara. Beliau adalah Nabi Zayad AS, hanya saja penampilannya jauh berbeda dari yang Mahidara kenal sebelumnya. Sang guru tampak lebih muda dan gagah, lengkap dengan cahaya yang memancar dari dalam tubuhnya, tidak kalah dengan dua orang malaikat yang bersamanya. Nabi Zayad AS datang atas petunjuk yang beliau dapatkan, dan saat itu adalah untuk memberikan sebuah mahkota yang bernama Amilasya kepada Mahidara. Pesan beliau: “Suatu saat nanti mahkota ini akan bermanfaat bagimu, kerajaanmu, rakyatmu dan pewarismu. Mahkota ini juga merupakan simbol tugas dan tanggungjawabmu sebagai pemimpin yang harus mengantarkan rakyat menuju pada kebaikan dan kesejahteraan”

Sekali lagi, dengan rasa berat dan sikap yang rendah hati Mahidara hanya bisa menerima pemberian itu. Dan tak berselang waktu, terdengar lagi suara gemuruh dari arah langit. Sekali lagi ada cahaya yang turun dan menghampiri mereka berempat. Sosok ke empat ini juga pernah bertemu dengan Mahidara, karena beliau adalah Nabi Syish AS. Hanya saja penampilan beliau kali ini jauh lebih muda, kharismatik, dan bercahaya. Tak jauh berbeda dengan ketiga sosok sebelumnya. Saat itu, Nabi Syish AS juga datang untuk menyampaikan petunjuk yang telah beliau terima, yaitu memberikan sebuah tongkat yang bertahtakan intan berlian warna warni. Tongkat itu bernama Tungkahisya. Pesan beliau pun sama dengan Nabi Zayad AS bahwa “Suatu saat nanti tongkat ini akan bermanfaat bagimu, kerajaanmu, rakyatmu dan pewarismu”

Setelah memberikan tongkat itu, kedua malaikat dan kedua nabi itu lalu berdiri mengelilingi Mahidara. Ke empatnya kemudian mengangkat tangan kanan mereka dan mengarahkannya ke tubuh Mahidara. Tak lama berselang, dari tangan keempatnya itu muncul cahaya berlainan warna dan segera masuk ke dalam tubuh Mahidara. Ke empat cahaya itu mewakili setiap ilmu dan kemampuan yang diberikan kepada sang pemuda. Semua itu di lakukan hanya berdasarkan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa. Dan memang sangat layak bagi seorang pemuda tekun dan rendah hati seperti Mahidara.

Pemberian ilmu khusus sudah selesai dilaksanakan. Kini keempat sosok mulia itu sempat terdiam. Disaat itulah, tanpa disangka-sangka turun satu lagi malaikat menghampiri mereka. Malaikat itu bernama Ruhayar’i. Atas perintah Tuhan, ia bertugas memberikan satu buah pusaka yang berbentuk cincin putih berkilau dan bertahtakan berlian biru. Cincin berukir indah itu bernama Humaril. Dengan memiliki cincin itu, Mahidara akan bertambah wibawa dan kemampuannya pun meningkat. Ia juga bisa menyimpang semua pusaka yang telah didapatkan sebelumnya ke dalam cincin itu. Bila dibutuhkan, cukup dengan niat saja, maka pusaka yang dibutuhkan akan muncul dalam waktu sekejab. Jadi ia cukup memakai satu cincin Humaril itu saja di jari manisnya, karena itu sama artinya dengan membawa semua pusaka yang telah didapatkan. Bahkan cincin Humaril itu pun bisa muncul dan menghilang sesuai keinginan Mahidara atau siapapun yang mewarisinya nanti. Tentunya disini hanya bagi yang berhak saja, tidak bisa dimiliki oleh yang tidak berhak.

Singkat cerita, setelah semua urusannya selesai di dimensi ke tujuh itu, Mahidara kembali ke dunia nyata, ke muka Bumi ini. Tapi sebelum itu, Nabi Syish AS berpesan kepadanya dengan berkata; “Pergilah menuju ke arah barat, tepatnya ke sebuah negeri yang bernama Yumanati. Bantulah mereka yang hidup disana. Jadilah sebagai abdi negara tanpa pamrih. Semoga Hyang Aruta (Tuhan YME) melindungimu” Mendapatkan petunjuk itu Mahidara pun segera melaksanakannya. Dengan kemampuan yang dimiliki, maka hanya dalam waktu singkat ia sudah tiba di negeri yang dimaksudkan oleh sang Nabi. Negeri yang bernama Yumanati itu kalau sekarang berada di sekitar propinsi Isfahan, Iran.

5. Membantu kerajaan Yumanati
Setibanya Mahidara di negeri Yumanati, ia tidak melihat kejayaan yang ada disana. Ia justru melihat rakyatnya menderita lantaran wabah penyakit dan kekeringan. Sudah tiga tahun itu terjadi dan selama itu pula belum ada yang mampu mengatasinya. Sebagai seorang murid utusan Tuhan, Mahidara mencoba untuk membantu masyarakat disana. Awalnya ia dianggap berniat jahat oleh warga, tapi setelah menunjukkan niat baiknya, akhirnya Mahidara diterima dengan baik. Sekuat tenaga ia membantu warga yang kesusahan, dan berkat pelajaran dari gurunya atau dari informasi yang ada di dalam kitab Waruhala, secara perlahan masalah yang ada bisa terselesaikan. Seiring itu pula tempat yang semula gersang karena kemarau panjang, mulai menghijau dengan cara mengembangkan teknik pembuatan sumur dan irigasi yang didapatkan dari kitab Waruhala. Dengan teknik khusus itulah, perlahan tapi pasti desa yang ia bantu mulai bangkit dari keterpurukannya. Bahkan mulai lebih sejahtera dari desa-desa yang lainnya.

Keadaan itu akhirnya tersebar ke desa-desa tetangga. Banyak perwakilan dari desa lainnya yang sengaja datang untuk belajar kepada Mahidara tentang berbagai teknik membangkitkan kemakmuran. Mahidara membagikannya dengan senang hati, karena memang itulah tugasnya sebagai sesama manusia. Semua ia lakukan dengan tanpa pamrih sedikit pun.

Singkat cerita, kabar tentang keberhasilan desa-desa yang ada di sebelah selatan negeri sampai juga ke istana kerajaan Yumanati. Mahidara diminta untuk mengabdikan dirinya di kerajaan. Sebagaimana pesan dari Nabi Syish AS, ia pun setuju dengan catatan hanya untuk kebaikan dan kemakmuran bersama. Dan di pusat kerajaan, saat itu Mahidara langsung diminta memangku jabatan sebagai penasihat raja yang saat itu dijabat oleh sosok bernama Aswaniyani. Raja itu terkenal baik dan mau belajar.

Dengan masuknya Mahidara dalam struktur penting di pemerintahan, maka dalam waktu singkat kemakmuran negeri Yumanati terlihat nyata. Negara yang dulunya tak begitu diperhitungkan, bahkan di dalam kawasan regional, kini sangat dihormati. Perlahan-lahan kerajaan Yumanati bahkan tampil sebagai negara yang paling sejahtera dan membuat decak kagum kerajaan lain. Raja Aswaniyani juga semakin dihormati oleh raja-raja lainnya dan diminati bantuannya. Tapi karena itu pula, ada satu raja yang iri hati dan berniat untuk menguasai kerajaan yang sedang tumbuh dan maju di segala bidang itu. Raja itu bernama Surakaya, ia berasal dari kerajaan Lusata yang ada di sekitar Gujarat-India sekarang.

Raja Surakaya ini tak main-main dengan niatnya, terlebih saat itu memang kerajaannya sedang memperluas wilayahnya. Ia dan pasukannya bahkan punya niatan untuk menaklukkan semua kerajaan yang ada di kawasan mereka, tak terkecuali kerajaan Yumanati. Karena itu, dengan kekuatan dan jumlah pasukan yang sangat besar, berangkatlah raja Surakaya untuk memulai invansinya. Satu persatu kerajaan mulai ditaklukkan dengan jalan perang. Kerajaan Halinata, Kasiwa, Linghana, Wadimira dan Jalinaka adalah di antara kerajaan terbesar yang berhasil dikalahkan. Bahkan dengan terpaksa sebagian pasukan kerajaan-kerajaan itu harus ikut berperang dibawah komando raja Surakaya. Mereka tak punya pilihan selain tunduk jika tak ingin negeri mereka di bumihanguskan sedangkan rakyatnya ikut dibantai.

Jadi, semakin banyak kerajaan yang berhasil ditaklukkan, maka semakin besar pula jumlah pasukan raja Surakaya itu. Tidak kurang dari 1 juta orang sudah berada di bawah komandonya, dan itu bisa terus bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah kerajaan yang berhasil ditaklukkan. Hingga pada akhirnya, setelah berhasil menaklukkan kerajaan Gunatuka (negeri yang paling dekat dengan kerajaan Yumanati), tibalah saatnya untuk menyerang kerajaan Yumanati. Tapi dalam hal ini raja Surakaya tak mau gegabah, karena ia sudah tahu kerajaan itu sangat kuat dan berperadaban tinggi.

Sampai pada saat akan terjadi perang besar di kerajaan Yumanati, Mahidara masih belum menunjukkan kemampuan yang ia miliki. Selain dalam bidang kesehatan dan arsitek, Mahidara tampil sebagai orang biasa. Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa sebenarnya Mahidara juga seorang kesatria yang sakti mandraguna. Orang-orang hanya tahu bahwa ia sebagai sosok cedikiawan saja. Karena itu, ketika perang akan terjadi, maka yang maju sebagai panglima perangnya adalah panglima di kerajaan itu sendiri, yang bernama Wasiyani. Selain panglima, Wasiyani ini adalah seorang putra mahkota.

Waktu yang tak diharapkan pun tiba. Dengan kekuatan penuh, raja Surakaya dan pasukannya telah sampai di batas kota kerajaan Yumanati. Siapapun yang ada saat itu tentu bergidik ngeri, karena akan terjadi perang yang sangat besar. Kedua belah pihak sudah tidak bisa lagi berunding karena keduanya memilih jalan yang berbeda. Satu tetap mempertahankan negerinya, sementara satunya ingin menguasai negeri itu. Karena itulah, kedua kerajaan ini pun terus menggalang kekuatan dan berkoalisi dengan kerajaan lain untuk menambah kekuatannya. Hingga pada akhirnya, setelah sangkakala ditiupkan, terjadilah perang yang sangat mengerikan. Orang-orang segera saling bantai tanpa ampun. Baik pasukan infantri dan kaveleri saling serang dengan segala cara. Perang brutal acap kali terjadi, baik dari kalangan prajurit ataupun para kesatria. Kedua belah pihak tak ada yang mau mengalah, akibatnya darah pun mulai menganak sungai.

Saat perang besar itu terjadi, orang-orang tidak hanya mengandalkan ilmu kanuragan dan beradu senjata. Mereka juga mulai mengeluarkan senjata pusaka sakti dan ajian yang mengerikan. Ledakan demi ledakan ikut mewarnai jalannya pertempuran, yang semua itu muncul akibat para kesatria sudah saling beradu kesaktian mereka. Semakin hari berjalan, semakin banyak pula korban yang berjatuh dari kedua belah pihak. Tapi meskipun demikian, tak ada yang mau berhenti sampai malam pun datang. Dan sesuai adat peperangan di masa itu, pertempuran harus dihentikan di saat magrib.

6. Menjadi panglima perang
Hari kedua pertempuran dimulai sejak matahari naik setinggi busur. Mereka yang berhadapan saat itu sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk bisa mengalahkan lawan. Meski ribuan orang gugur pada hari pertama, di hari kedua itu mereka tetap bersemangat. Dan ketika sangkakala ditiupkan, maka saling seranglah mereka. Di hari kedua itu, antara pasukan pimpinan panglima Wasiyani dan raja Surakaya sudah mengubah strategi perangnya. Formasi tempurnya juga diganti dengan yang baru. Dan keduanya memilih untuk melakukan serangan besar kepada musuhnya. Kekuatan penuh seluruh pasukan perlahan-lahan mulai dikerahkan.

perang-2

Singkat cerita. Sudah sembilan hari pertempuran besar itu berlangsung, tapi kedua belah pihak belum ada yang mau mengalah. Keduanya terus mempertahankan prinsip mereka sampai mati. Mereka menginginkan kemenangan, apapun caranya. Karena itu di hari yang ke sepuluh, perang besar itu terus berlangsung dengan sengit, dan ketika hari sudah lewat tengah hari, peristiwa memilukan pun terjadi. Panglima Wasiyani terluka parah oleh serangan yang dilancarkan oleh panglima kerajaan Lusata yang bernama Mabutari. Selain panglima kerajaan Lusata, Mabutari juga seorang putra mahkota yang kelak akan mewarisi tahta ayahnya. Ya kedua kesatria itu sama-sama putra mahkota dan harus bertarung dengan berbagai cara dan kemampuan.

Awalnya beradu senjata, kemudian ilmu kanuragan dan akhirnya ajian kadigdayan. Bisa dikatakan keduanya hampir setara, baik dari segi ketangkasan dan kesaktiannya. Tapi tak dapat dipungkiri Mabutari lebih berpengalaman dalam urusan perang ketimbang Wasiyani. Karena itu ia sudah mengantisipasi setiap serangan dari Wasiyani dengan level ilmu yang setara. Dan sebelum Wasiyani siap untuk menyerang dengan ajian Gandarhika (semacam pukulan matahari), Mabutari sudah menyerangnya lebih dulu dengan ajian Jahturah. Ajian itu termasuk tingkat tertinggi, karena siapapun yang memilikinya bisa menjadi beberapa sosok dan semua sosok itu bisa sekaligus menyerang dengan pukulan jarak jauh. Pukulan jarak jauh itu sangatlah mematikan, karena berupa kekuatan dari elemen alam (api, air, tanah dan udara) yang dikontrol untuk menyerang lawan.

Menghadapi serangan yang begitu dahsyat, Wasiyani tak siap. Bahkan bisa dikatakan ilmu kesaktiannya itu tak lagi sebanding dengan Mabutari. Karena itulah, malang pun tak dapat ditolak. Sang putra mahkota akhirnya tumbang dengan tubuh yang terluka parah. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Mabutari untuk segera menghabisi sang pangeran. Ia langsung mengeluarkan ajian Jahturah sekali lagi kepada lawan tandingnya itu. Tapi saat akan mengenai tubuh pangeran Wasiyani, tanpa diduga serangan mematikan itu segera ditangkis oleh Mahidara. Baik Mabutari dan pasukan yang menyaksikan peristiwa itu langsung terkejut. Bagaimana bisa ajian yang sehebat itu bisa ditangkis dengan mudahnya. Sosok yang menangkisnya pun bukan orang yang terkenal, bahkan selama ini dianggap tak begitu paham dalam urusan perang dan kesaktian.

Tapi, Mahidara yang ada saat itu sudah bukan sosok yang biasanya terlihat. Pemuda itu tampil dalam balutan baju zirah yang belum pernah dilihat sebelumnya. Bentuknya sangat indah dan beragam warna. Campuran antara warna emas, putih, merah, biru dan hijau pada baju zirahnya itu sangatlah menawan, perpaduan yang indah. Jelas itu bukan buatan tangan manusia, bahkan memang bukan buatan manusia. Nah, dengan penampilan yang seperti itu semua orang langsung mengira bahwa itu bukanlah Mahidara. Mereka tahu bahwa itu adalah Mahidara, hanya saja mereka merasa tak percaya bahwa itu memang Mahidara. Sosok pemuda itu tampil menawan lengkap dengan aura magis yang luarbiasa. Musuhnya pun merasa gentar, dan mereka mengira pemuda itu adalah utusan dari langit.

Dalam kondisi seperti itu, Mabutari sempat terdiam. Tapi akhirnya ia mulai bertindak. Tanpa pikir panjang lagi, Mabutari langsung menyerang Mahidara dengan kekuatan penuh. Semua kekuatan dan kemampuan yang ia miliki terus dilancarkan. Mabutari punya berbagai macam ajian, yang membuat decak kagum pasukan yang ikut dalam pertempuran itu. Tapi musuhnya kali ini adalah Mahidara, sosok yang juga punya banyak kesaktian. Dan meskipun diserang habis-habisan oleh Mabutari, tak satu pun yang bisa melukai Mahidara. Semua ajian Mabutari seolah-olah luntur saat berhadapan dengan kesaktian Mahidara. Hingga pada akhirnya giliran Mahidara yang melakukan serangan balasan. Ia langsung mengeluarkan ajian Gurhiyata (semacam sambaran petir) untuk melumpuhkan Mabutari. Ia memang tak berniat untuk membunuh sang pangeran, karena lebih memilih untuk mengalahkannya saja.

Lalu, dengan ajian Gurhiyata itu Mabutari dapat dikalahkan. Dan karena ia juga seorang yang sakti mandraguna, maka tubuhnya tak mendapatkan luka yang begitu parah. Di tambah lagi memang Mahidara ingin lawan tandingnya itu ditawan saja, tidak perlu dibunuh.

Singkat cerita, atas keberhasilannya mengalahkan panglima musuh, kepemimpinan pasukan kerajaan Yumanati kini beralih ke tangan Mahidara. Dengan segala daya dan upaya, ia mencoba untuk membalikkan keadaan. Tapi saat mengetahui anaknya kalah dan ditawan musuh, raja Surakaya langsung berang. Ia segera memerintahkan panglima andalannya yang bernama Kusmataya untuk melakukan serangan balasan. Sementara itu, sang raja mulai menggunakan cara tidak lazim dalam bentuk sihir. Dengan ilmu itu, ia berkomunikasi dengan setan dari dimensi lain. Raja Surakaya meminta bantuan sekutunya itu untuk bisa mengalahkan pasukan kerajaan Yumanati. Kondisi ini jelas bisa menyulitkan Mahidara dan pasukannya.

Keadaan di medan pertempuran saat itu semakin menegangkan, bahkan mulai di luar nalar. Berbagai jenis kesaktian yang tak pernah diketahui orang banyak mulai bermunculan. Ada yang terbang, menghilang, mengubah-ubah wujud dan menjadi raksasa adalah di antaranya. Para panglima, pembesar dan kesatria dari kedua belah kubu saling menunjukkan kesaktian andalan mereka dan tidak sedikit yang mengeluarkan pusaka sakti mandraguna. Raja dari kedua belah pihak pun sudah lama turun langsung di kancah pertempuran. Keduanya ikut memimpin perang.

7. Setan purba dari masa lalu
Hari terus berlalu dan matahari sudah di ujung senja. Sesuai aturan, maka perang tetap dihentikan sebelum malam datang. Kedua belah kubu kemudian mulai beristirahat, sebagian pasukan mengumpulkan orang-orang yang gugur dalam pertempuran untuk dimakamkan dengan layak. Begitulah hari demi hari dilalui oleh semua orang, oleh kedua pasukan yang saling bermusuhan itu.

Keesokan harinya, setelah fajar menyingsing di hari ke 15 pertempuran, pasukan kedua belah kubu sudah mulai berbaris rapi di area pertempuran. Genderang perang ditabuh berulang kali, membuat suasana kian semarak. Tak lama berselang, saat matahari berada setinggi busur, suara terompet mulai terdengar, sebagai tanda penyerangan pun dimulai. Dalam waktu singkat, kedua belah pasukan sudah mulai bertarung dengan brutal. Tapi ada yang janggal kali ini. Raja Surakaya tak ada di medan pertempuran. Sosok bengis itu tak terlihat memimpin pasukannya.

Ternyata raja Surakaya sedang ber-semedhi di tendanya untuk bisa berkomunikasi dengan sekutunya dari golongan setan terkutuk. Setelah usai ber-semedhi, ia langsung menuju medan pertempuran. Di kedua tangannya kini ada sebuah peti dari kayu berlapis emas. Di dalam peti tersebut terdapat enam buah batu kristal warna hitam dan putih yang bernama Gulsar. Batu-batu kristal itu ternyata pusaka yang bisa membuka pintu antar dimensi. Raja Surakaya ingin pasukan setan dari dimensi lain masuk ke alam nyata dunia dan membatunya untuk mengalahkan pasukan kerajaan Yumanati.

Tak lama berselang, di tengah-tengah barisan pasukannya, raja Surakaya segera meletakkan ke enam batu kristal itu di atas tanah dalam posisi melingkar. Ia lalu duduk bersila didepannya dan mulai membacakan mantra untuk mengaktifkan ke enam batu kristal itu. Ketika mantra sudah dibaca, ke enam batu kristal itu langsung bereaksi dengan memancarkan sinar yang terang. Semakin lama semakin terang dan mulai menyilaukan mata. Sampai pada akhirnya sinar dari ke enam batu kristal itu saling bersatu dan membentuk dinding cahaya yang memancar ke atas langit. Suara gemuruh terdengar dan hembusan angin tiba-tiba kencang dan menerpa lokasi dimana batu kristal itu berada. Tak lama kemudian sesuatu yang belum pernah disaksikan tampak di depan mata semua orang. Setelah terdengar suara dentuman, pasukan yang berpenampilan aneh muncul dari balik portal dimensi yang dibuka oleh raja Surakaya. Mereka terdiri dari berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang rupawan dan ada pula yang sangat mengerikan. Ada yang seukuran manusia biasa, tapi ada pula yang berukuran raksasa. Membuat suasana pada saat itu semakin menegangkan.

war-2

Menyaksikan hal itu, hampir semua pasukan baik dari kubu kerajaan Yumanati atau pun Lusata terguncang. Mereka cemas dan ingin lari dari medan pertampuran. Tapi Mahidara segera mengantisipasi hal itu dengan menunjukkan bahwa ia punya kemampuan untuk melawan pasukan setan itu. Tiba-tiba di tangannya sudah ada busur panah yang bentuknya sangat indah. Ketika tali busurnya di rentangkan lalu dilepaskan, maka terdengar suara menggelegar ke segala penjuru disertai tanah yang bergetar. Suara semacam itu belum pernah didengar oleh siapapun. Tapi yang jelas bisa membangkitkan semangat pasukan kerajaan Yumanati. Melihat panglimanya punya pusaka busur yang sakti, setiap prajurit mulai percaya diri bahwa mereka bisa melawan musuh yang sangat menyeramkan itu, walaupun sulit.

Dan memang, di saat pasukan setan mulai menyerang, Mahidara melepaskan tembakan panahnya. Di tariknya tali busur Kiyani itu dan tampaklah anak panah yang tiba-tiba muncul dan bercahaya. Ketika dilepaskan, dari satu anak panah itu muncul pulahan anak panah lain yang langsung melesat dan menghujam serdadu setan. Puluhan anak panah itu tak ada yang meleset, tepat sasaran dan menumbangkan puluhan pasukan setan dalam satu kali serangan. Begitu pun selanjutnya, dari busur Kiyani itu muncul ribuan anak panah yang langsung menewaskan pasuka setan.

Melihat kejadian luar biasa seperti itu, semua pasukan pendukung Mahidara terpukau dan menjadi bersemangat. Lain dengan pasukan bawahan raja Surakaya yang justru patah semangat dan bingung. Sebagian besar mereka juga berpikir untuk apa lagi mereka membela raja yang telah menghancurkan negeri mereka. Terlebih kini sang raja itu pun sudah semakin tak karuan, dia menggunakan cara-cara yang terlarang dalam ajaran manapun; bersekutu dengan setan yang terkutuk. Dan rasa bimbang itu kian bertambah pula saat mereka melihat ada sosok kesatria utama yang membela kebenaran, yang kini berhadapan langsung dengan setan-setan itu. Sosok pemuda gagah itu bahkan mulai mereka kagumi.

Pasukan setan yang didatangkan dari dimensi lain saat itu jumlahnya sangat besar, bahkan sepertinya tak pernah berhenti. Karena itu pula, Mahidara mengeluarkan ribuan anah panah pada setiap kali tarikan busurnya. Tapi pasukan setan itu seperti tak pernah berkurang, terus saja muncul dari balik portal dimensi bikinan raja Surakaya. Ini jelas memaksa Mahidara untuk mengeluarkan pusaka lain yang ia miliki. Dan pusaka kedua yang ia keluarkan saat itu adalah pedang Nilbasya. Pedang ini tidak perlu ia pegang, karena bisa bergerak sendiri dan langsung menyerang musuh yang ada. Dengan pedang pusaka ini, banyaklah musuh yang tewas, tak terkecuali para setan.

Dengan pedang Nilbasya dan busur Kiyani yang berada ditangannya itu, Mahidara terus menggempur musuh tanpa henti. Perlahan tapi pasti, pasukan musuh pimpinan raja Surakaya itu mulai terpojok. Bahkan kini mulai ada dari mereka yang memilih bergabung dengan pasukan pimpinan Mahidara. Itu mereka pilih karena sudah tak tahan lagi dengan sikap raja Surakaya sendiri yang bersekutu dengan setan. Sebagai seorang kesatria, mereka lebih memilih mati dalam membela kebenaran bersama Mahidara dari pada tunduk dengan raja yang bersekutu dengan setan. Hal ini jelas membuat raja Surakaya marah. Ia meminta bantuan pasukan khusus dari sekutunya (setan) untuk memburu siapapun yang menurutnya telah berkhianat. Tapi hal itu segera diketahui oleh Mahidara, karena itu ia langsung memerintahkan siapapun yang mendukungnya untuk mundur. Bukan untuk mengalah atau menyerah, tapi untuk merapatkan barisan. Setelah semuanya berkumpul, Mahidara mengeluarkan satu lagi pusaka sakti. Kali ini ia mengeluakan mustika putih bernama Hullasya. Dengan mustika itu, terbentuklah sebuah perisai tembus pandang yang menutupi semua pasukan kerajaan Yumanati. Sekuat apapun benturan atau upaya untuk menembus perisai itu takkan berhasil.

Sungguh, suasana perang pada saat itu sudah diluar logika. Mereka yang hidup saat itu belum pernah melihat yang semacam itu, bahkan tak pernah pula mendengarnya. Bahkan itu bertambah aneh, saat dari balik portal goib itu muncul 3 sosok raksasa yang tingginya melebihi gunung. Ketiganya pun langsung menyerang dengan mencoba menembus perisai pertahanan pasukan Mahidara. Dengan gada yang sangat besar, mereka berulang kali menghantam perisai itu dengan sangat keras. Setiap kali hantaman, terdengarlah suara yang menggelegar disertai gempa bumi. Membuat siapapun yang hadir merasa cemas dan menggigil ketakutan. Tak sedikit yang sudah mulai putus asa dan berpikiran bahwa perisai buatan Mahidara itu akan segera hancur karena tak kuat menahan benturan gada dari ketiga setan raksasa. Dan setelah itu, mereka akan dibantai.

war-giant

Melihat itu, Mahidara tak gentar sedikitpun. Ia tetap berdiri kokoh bagai batu karang, menatap tajam ke arah setan raksasa itu seperti seekor elang pada buruannya. Lalu tanpa berbicara, Mahidara kembali menarik tali busurnya dan langsung melepaskannya. Suara dari busur itu pun terdengar menggelegar lebih keras dari sebelumnya. Itu pun ia ulangi sebanyak tiga kali. Setelah itu, ditarikkan yang ke empat, Mahidara berniat untuk melepaskan anak panah yang bisa membunuh ketiga setan raksasa itu. Dan benar, sesaat kemudian muncul dari busur Kiyani itu tiga anak panah yang matanya berbeda-beda. Ketika tali busur itu mulai ditarik, ada suara bergemuruh disertai pusaran angin di sekitar Mahidara. Sosok kesatria itu juga tampak sangat mengagumkan, bahkan baju zirah yang ia kenakan pun ikut bersinar. Ini jelas menambah kewibawaannya.

Semakin siap untuk dilepaskan anah panahnya, suasana menjadi sedikit redup dan dari balik awan petir ikut menyambar-nyambar. Kekuatan yang muncul dari busur panah Kiyani itu sangat besar dan berpengaruh langsung pada alam. Dan setelah dilepaskan, ada semacam tekanan energi sangat besar ke segala arah dan langsung menerpa semua orang. Suara gemuruh terus menderu dan menjadi ledakan sangat keras saat menghantam ketiga setan raksasa itu. Tak lama kemudian, ketiganya menggerang kesakitan. Tubuh mereka tertembus anah panah sakti itu, terbakar dan perlahan-lahan tumbang lalu menjadi abu.

Menyaksikan itu, semua orang yang ada di medan pertempuran sempat terdiam. Mereka terpukau dengan apa yang barusan mereka lihat. Setan sebesar dan sesakti itu bisa ditumbangkan hanya dalam satu kali tarikan busur panah. Baik kawan atau pun lawan, mereka kagum dengan sosok pemuda yang bernama Mahidara itu. Belum pernah mereka melihat atau bahkan tahu sosok yang punya kemampuan dan pusaka sehebat itu.

Singkat cerita, dengan tumbangnya ketiga setan raksasa itu, sebenarnya raja Surakaya sudah kehabisan cara. Ia sadar jika berhadapan dengan Mahidara maka ia bisa dipastikan kalah telak. Di tengah kebimbangan itu, sekutunya yang merupakan raja kegelapan justru menenangkan hatinya. Sosok yang bernama Durwaka itu berjanji akan membantunya secara langsung. Karena itulah, tak lama kemudian ia sudah muncul di medan pertempuran. Tujuannya untuk bisa mengalahkan Mahidara dan menaklukkan kerajaan Yumanati, bahkan seluruh dunia.

Saat itu, Durwaka sudah berdiri mengambang di udara tepat di atas pasukannya. Dengan suara tertawa yang keras, ia mencoba menjatuhkan mental lawan tandingnya itu, bahkan semua pasukan yang ada. Dari dalam tubuhnya memancar sinar terang yang menyilaukan. Seiring itu pula, wujudnya berubah-ubah, kadang menyeramkan tapi sebaliknya sangat menawan. Melihat itu, setiap pasukan jelas merasa cemas. Mereka juga bisa langsung menebak bahwa yang datang kali ini adalah yang jauh lebih sakti dari ketiga setan sebelumnya. Itu jelas terasa dari auranya dan terlihat dari sosoknya yang tiba-tiba muncul dan sudah berubah-ubah wujud dari tadi.

Sosok yang bernama Durwaka itu tak menunjukkan penampilan seorang raja kegelapan sama sekali. Ia juga tak menyeramkan seperti bayangan orang-orang selama ini tentang si raja setan. Penampilannya justru seperti seorang raja yang rupawan, lengkap dengan kewibawaan yang tinggi. Tapi jika diperhatikan dengan seksama menggunakan mata batin, sosok Durwaka itu jelas pribadi yang licik dan sangat jahat. Sebagus apapun penampilannya, maka bagi yang waskita akan tetap terlihat buruk. Dan memang benar adanya, bahwa sosok Durwaka itu adalah sosok raja kegelapan yang di periode zaman sebelumnya pernah membuat gaduh seluruh dunia. Ia dan pasukannya pernah mencoba untuk menguasai Bumi dan segala isinya. [Baca: Haldir: Pusaka sakti penyebab malapetaka].

Kini, raja setan Durwaka dan Mahidara sudah saling berhadapan di udara, di atas semua pasukan yang terlibat pertempuran. Langkah awal yang mereka lakukan adalah mengadu kesaktian tingkat kadigdayan. Keduanya mulai mengeluarkan ajian untuk mengendalikan unsur alam dan melepaskannya kepada lawan. Kekuatan yang ditimbulkan saat itu sangat besar, membuat bumi berguncang, angin bergemuruh, dan petir menyambar-nyambar. Ini sudah di level yang tidak umum dimiliki manusia, terlihat jelas dari aura energi yang dilepaskan. Tapi dengan ajian sehebat itu, keduanya tetap tak bergeming. Mereka masih kokoh berdiri, seolah-olah tak ada apa-apa sebelumnya.

Waktu terus berlalu, Durwaka lalu membagi dirinya menjadi lima sosok yang berbeda-beda baik dari segi bentuk, ukuran dan warnanya. Kelimanya itu punya kesaktian yang setara tapi dengan ciri khasnya sendiri. Melihat itu, Mahidara pun membagi dirinya menjadi dua sosok lengkap dengan baju zirah dan senjata lengkap. Baginya dua sosok saja sudah cukup untuk menghadapi kelima sosok Durwaka itu. Satu sosok Mahidara yang asli akan melawan sosok Durwaka yang asli, sementara sosok dirinya yang lain akan berhadapan dengan ke empat sosok lain dari Durwaka.

Dan terjadilah pertarungan yang luarbiasa antara Mahidara dan Durwaka. Sosok lain dari Mahidara langsung berhadapan dengan ke empat sosok Durwaka. Mereka saling beradu kesaktian dan senjata pusaka. Selama pertempuran itu, kedua belah pihak terlihat seimbang. Meskipun sendirian, Mahidara bisa mengimbangi ke empat sosok Durwaka yang sakti itu. Tak perlu diceritakan lagi betapa suasana yang ada saat itu menjadi sangat memukau sekaligus menyeramkan. Apa yang dikeluarkan oleh kedua belah pihak sudah di atas level semua orang, bahkan terasa asing dan diluar nalar. Bertubi-tubi Mahidara di serang oleh ke empat sosok Durwaka, tapi dengan gesit dan lincah Mahidara bisa mengatasinya. Gerakan pemuda itu kadang bahkan seperti kilat, memutar, muncul dan hilang di hadapan kembaran Durwaka itu. Hingga pada akhirnya, ia mengeluarkan kekuatan yang luarbiasa besarnya. Sekali lagi Mahidara menarik tali busur panah Kiyani untuk menjatuhkan lawannya. Saat tali busur di tarik, Bumi segera berguncang, angin mulai ribut dan petir menyambar-nyambar. Siapapun yang menyaksikan peristiwa saat itu langsung merasa sangat cemas, apalagi yang akan terjadi. Kali ini auranya lebih besar sekaligus menyeramkan dari sebelumnya.

Mahidara masih menarik tali busur Kiyani dan berniat untuk menjatuhkan ke empat lawannya itu. Karena itulah, tiba-tiba muncul empat buah anak panah dari busur itu. Ke empat anak panah itu berbeda dalam warna dan bentuk mata panahnya. Ke empatnya pun memancarkan sinar yang terang, begitu pula tubuh Mahidara, membuat siapapun terkagum-kagum. Dan tak lama kemudian ke empat anak panah itu sudah dilepaskan oleh Mahidara menuju sasaran. Mengetahui hal itu, ke empat sosok Durwaka langsung berpencar ke berbagai tempat. Ada yang ke danau, ke laut, ke hutan dan ke gunung. Tapi anak panah dari busur Kiyani bukanlah sembarangan. Kemanapun sasarannya bergerak akan diikuti. Anak panah itu akan berhenti hanya jika sudah mengenai sasarannya saja.

Suasana yang luar biasa pun segera terjadi. Pada saat anak panah itu dilepaskan, terdengar suara gemuruh dan Bumi pun bergetar kencang. Ke empatnya langsung melaju ke arah sasaran yang berada di arah yang berbeda. Ketika menyerang sosok Durwaka yang berada di danau, serangan itu tepat pada sasarannya lalu terjadilah ledakan yang sangat dahsyat. Air danau itu pun muncrat kemana-mana, bahkan sampai kering. Lalu pada saat menyerang sosok Durwaka yang berada di atas lautan, maka sebelum mengenai sasaran, lesatan anak panah itu menyebabkan air laut terbelah. Dan ketika mengenai sasarannya, terjadilah ledakan yang sangat dahsyat, yang menyebabkan tsunami. Selanjutnya pada saat menyerang sosok Durwaka yang berada di hutan, maka saat mengenai sasarannya, terjadilah ledakan seperti bom atom, yang menyebabkan hutan itu habis terbakar. Sedangkan pada saat mengenai sasaran yang berada di atas gunung, baik sosok Durwaka dan puncak gunung itu jadi hancur berantakan. Begitu dahsyatnya serangan yang mampu dikeluarkan oleh busur Kiyani. Siapapun yang hidup di zaman itu sangat terkesima karena belum pernah menyaksikannya.

Setelah ke empat sosok Durwaka itu tewas, sosok kembaran Mahidara itu langsung menyatu dengan dirinya yang asli. Kini tinggal dua sosok kesatria yang saling berhadapan. Kali ini keduanya sudah tak perlu bermain-main lagi. Mereka langsung mengeluarkan ilmu andalannya. Keduanya pun segera menggunakan berbagai senjata pusaka dan saling beradu kemampuannya. Suara gemuruh yang menggelegar berulang kali terjadi, membuat siapa pun semakin kagum sekaligus cemas. Untunglah semuanya terjadi di angkasa, sehingga tak berdampak buruk bagi kehidupan di Bumi. Tapi ternyata hal itu justru membuat pertarungan menjadi berlarut-larut dan tak menyelesaikan masalah. Hingga pada akhirnya Durwaka dan Mahidara mulai menggunakan kesaktian diri yang menjadi pamungkas. Semua benda pusaka yang ada mereka tinggalkan, karena mereka hanya menggunakan kesaktian diri sendiri. Dan ternyata ini lebih hebat dari semua pusaka yang ada.

Saat itu, Durwaka langsung mengubah dirinya menjadi sosok raksasa yang tingginya melebihi gunung. Begitu pula Mahidara, ia segera mengubah wujudnya menjadi raksasa yang sebanding dengan Durwaka. Dan akhirnya kedua sosok raksasa itu pun bertarung dengan mengadu kesaktian berupa ajian yang levelnya di atas pertarungan sebelumnya. Baik tubuh Durwaka maupun Mahidara kini memancarkan cahaya yang menyilaukan mata. Saat cahaya itu memancar keluar dari tubuh kedua kesatria itu, maka ada tekanan energi ke segala arah. Hempasannya bahkan menyebabkan pohon-pohon yang ada di hutan tumbang, sementara air laut langsung berguncang tinggi. Begitu dahsyat peristiwa saat itu. Dan untuk mengamankan semua pasukannya, Mahidara langsung membuatkan perisai bagi mereka berdua. Jadi apapun yang terjadi nanti takkan berdampak langsung bagi alam dan orang-orang yang berada di medan pertempuran, atau siapapun yang ada di sekitar tempat pertarungan mereka. Ada perisai tembus pandang yang membungkus mereka berdua.

Singkat cerita, adu kesaktian dari kedua kesatria itu terus berlangsung. Siapapun yang melihatnya hanya bisa tertegun, bahkan merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sulit bagi mereka untuk menentukan apakah saat itu mereka masih di alam nyata atau sebenarnya sedang berada di alam mimpi. Karena apapun yang mereka lihat saat itu begitu dahsyat dan mengagumkan. Hingga semua itu berakhir saat Mahidara berhasil mengalahkan Durwaka dalam satu serangan besar. Mahidara menciptakan sebuah kumparan energi warna-warni yang sangat kuat. Durwaka pun menciptakan hal yang sama. Tapi apa yang diciptakan Mahidara lebih kuat dari milik Durwaka. Karena itulah, pada saat dilepaskan dan beradu dengan kumparan energi milik Mahidara, energi milik Durwaka justru terserap masuk ke dalam kumparan energi ciptaan Mahidara. Selanjutnya, kumparan energi itu langsung mengenai tubuh Durwaka. Akibatnya sang raja kegelapan itu langsung tumbang. Tapi karena dirinya tak bisa mati, ia bisa bertahan meskipun dengan kondisi yang terluka parah.

Ya. Tubuh raja kegelapan Durwaka itu kini sempoyongan, sesaat ia bahkan lumpuh. Tapi setelah ia berhasil duduk bersila dan merapalkan mantra, akhirnya ia bisa bangkit meski dengan kondisi lemah. Ia pun sempat berkata sebelum kabur. Katanya: “Baiklah, ku akui bahwa kau lebih kuat dariku. Aku menerima kekalahanku ini. Tapi selamanya kami tetap akan berusaha menaklukkan duniamu. Itu sumpah kami. Saat ini aku dan pasukanku akan pergi, tapi nanti kami akan datang lagi untuk menuntut balas. Saat itu, aku tidak lagi sendirian. Saat itu tuanku yang mulia, yang lebih perkasa dari siapapun akan datang. Ia akan membantu kami untuk menaklukkan dunia ini” Setelah mengatakan itu, Durwaka langsung tertawa sangat keras dan tubuhnya tiba-tiba menghilang. Ia kabur melarikan diri, balik ke dimensinya di alam goib. Sebagian pasukannya pun ikut menghilang.

Selanjutnya, dengan kalahnya Durwaka maka semua pasukan di kubu setan menghentikan serangannya. Termasuk juga raja Surakaya dan pasukannya yang dengan sadar diri langsung menyerah kalah. Namun sebelum semuanya berakhir, ke enam batu kristal Gulsar milik raja Surakaya – yang bisa membuka portal dimensi – tiba-tiba menghilang. Raja Surakaya pun tak tahu kemana pusaka Gulsar itu pergi. Hanya saja ia sempat berkata bahwa; “Suatu saat nanti akan ada orang yang seperti diriku yang menjadi jalan untuk terbukanya portal dimensi. Saat itu terjadi, Durwaka dan pasukannya akan datang untuk membalas dendam. Tuannya pun akan datang untuk menaklukkan dunia. Sejak sekarang, berhati-hatilah dan teruslah mempersiapkan diri kalian”

Kini, pertempuran telah berakhir. Hanya saja masih banyak pasukan setan di alam nyata ini, di medang pertempuran itu. Mereka tak bisa kembali ke dimensinya lantaran ke enam mustika Gulsar telah raib dan otomatis menutup portal yang ada. Melihat itu, atas petunjuk dari Nabi Syish AS yang ikut hadir di medan pertempuran, Mahidara mengeluarkan tongkat Tungkahisya pemberian sang nabi. Dengan tongkat itu, Mahidara lalu membuka portal dimensi. Setelah terbuka, segera saja ia memerintahkan semua pasukan setan untuk yang tersisa untuk segera kembali ke dimensi mereka. Ia pun berpesan; “Jangan pernah kembali lagi ke dunia ini, sampai kapanpun jangan! Kecuali takdir Hyang Aruta (Tuhan YME) memang menghendaki kalian ataupun tuan kalian untuk membuat kerusakan di atas Bumi”

Setelah kejadian itu, pertempuran selama 15 hari akhirnya usai dengan hasil kemenangan dipihak kerajaan Yumanati dan sekutunya. Dan karena sebagian besar pasukan bawahan raja Surakaya adalah orang-orang taklukkan, mereka lalu dibebaskan. Lalu untuk pasukan yang memang dari kerajaan Lusata yang sejak awal sebagai pengikut setia raja Surakaya, diberi pilihan untuk bertobat dan memperbaiki diri. Mereka juga disarankan untuk kembali ke jalan yang benar dan berusaha menata dunia dengan baik secara gotong royong. Sedangkan untuk raja Surakaya, maka sesuai dengan hukum yang berlaku dan atas dosa-dosa yang telah di lakukan, ia harus mendapatkan hukuman mati. Sang raja pun menerimanya dengan ikhlas, hanya saja ia meminta waktu untuk bertobat dan memperbaiki diri. Kesempatan itu pun diberikan selama 6 bulan. Setelahnya ia harus menjalani hukuman mati dihadapan semua orang dengan cara di pancung.

7. Kisah cinta dan mendirikan kerajaan
Setelah berhasil membawa kemenangan bagi kerajaan Yumanati, tak terhitung lagi jumlah pujian dan sanjungan yang di alamatkan pada Mahidara. Tapi semua itu ia tanggapi dengan sikap biasa-biasa saja, karena memang bukan itu tujuannya. Semua perjuangan yang telah dilalui oleh Mahidara di lakukan hanya atas nama kebenaran dan keadilan Tuhan. Ia tak mengharapkan pamrih sedikitpun, karena memang begitulah sifatnya sejak awal.

Waktu terus berlalu, dan sebagai seorang pembesar kerajaan Yumanati, suatu ketika Mahidara diutus oleh raja Aswaniyani untuk berkunjung ke kerajaan Shartula. Kerajaan ini berada di wilayah Turki sekarang. Disana Mahidara bertugas mewakili rajanya untuk bertemu langsung dengan raja Husarati untuk melakukan perundingan di berbagai bidang, termasuk urusan perdagangan dan teknologi. Saat berada di istana kerajaan Shartula, ketika ia berjalan di taman istana, Mahidara bertemu dengan seorang putri raja. Gadis cantik itu bernama Milayani. Sosok anggun dan berbudi luhur itu adalah anak bungsu dari sang raja sendiri. Tutur katanya sangat lembut dan mendalam, sementara sikapnya sangat halus dan santun. Bersama kedua orang pelayannya, saat itu Milayani tengah asik duduk di pinggir kolam yang ada di tengah taman istana.

Sejak pertama kali bertemu, tali cinta sudah langsung mengikat hati keduanya. Waktu yang dilalui berdua pun serasa mimpi indah. Hampir setiap harinya, mereka saling menyampaikan puisi yang indah, baik langsung ataupun melalui perantara. Mereka berdua memang suka dengan puisi, bahkan berbicara saja lewat puisi. Semua itu dilakukan hanya untuk sekedar mengutarakan isi hati. Sungguh perpaduan yang sempurna dan akan menghasilkan keturunan yang luarbiasa di kemudian hari. Terlebih keduanya sangat menjaga kehormatan diri dan imannya.

Singkat cerita, setelah dua tahun berlalu sejak pertama kali bertemu, akhirnya Mahidara dan Milayani memutuskan untuk menikah. Atas persetujuan dari raja Husarati, keduanya melangsungkan akad nikah di istana kerajaan Shartula. Semua prosesi pernikahan berjalan lancar, semua orang pun merasa senang. “Akhirnya pemuda yang telah menjadi pahlawan itu menikahi seorang putri yang terkenal cantik dan memiliki keluhuran budi. Pasangan yang sangat ideal” Begitulah kata semua orang-orang yang hadir.

Tapi, ada peristiwa yang mengejutkan. Tak berapa lama setelah resmi sebagai suami istri, Mahidara maju ke arah depan dan berbicara dihadapan orang banyak. Katanya: “Atas persetujuan dari kekasihku Milayani, kami berdua akan meninggalkan istana ini. Kami akan menanggalkan semua kemewahan diri (sebagai seorang bangsawan) untuk melakukan perjalanan jauh. Atas kesepakatan berdua, kami akan menuju ke arah tenggara, ke Nusantara tempat tumpah darahku. Atas izin Hyang Aruta (Tuhan YME), disana kami akan mendirikan kerajaan baru dan melanjutkan keturunan”

Semua yang hadir terkejut dengan keputusan itu. Tapi karena sudah menjadi kehendak dari keduanya, maka tak ada yang bisa mencegahnya. Terlebih mereka sudah tahu siapa sosok Mahidara. Tentunya semua tindakannya sudah dengan perhitungan, bahkan pasti berdasarkan petunjuk dari Tuhan. Sehingga meski dengan berat hati, semua orang akhirnya melepas kepergian mereka. Selang satu bulan, keduanya meninggalkan istana dan berjalan ke arah tenggara. Ada beberapa orang yang ikut dalam perjalanan itu, seperti pelayan setianya putri Milayani. Termasuk juga 30 orang pasukan khusus didikan Mahidara. Ke 30 orang itu tak mau berpisah dengan guru dan panglimanya. Atas didikan Mahidara, mereka punya berbagai keahlian; ilmiah dan batiniah. Karena itu, di kemudian hari ke 30 orang itu juga membantu Mahidara dalam membangun kerajaannya di Nusantara. Mereka juga sering diutus untuk membantu kerajaan lain yang sedang kesulitan, termasuk jika mereka diserang. Selama tugas yang diberikan, ke 30 orang itu selalu menang dalam pertempuran.

Waktu terus berlalu, sampai pada akhirnya rombongan Mahidara tiba juga di Nusantara, tepatnya di antara Pekalongan-Semarang-Jepara sekarang (saat ini sudah menjadi lautan). Disana, setelah melakukan semedhi selama tiga hari, Mahidara mendapatkan petunjuk untuk mendirikan kerajaannya sendiri. Dalam petunjuk itu, ia kembali bertemu dengan gurunya yaitu Nabi Zayad AS. Sang guru lalu menunjukkan dimana lokasi yang paling tepat untuk mendirikan istana. Dan karena sudah dibekali dengan berbagai ilmu dan pusaka yang sakti, khususnya mahkota Amilasya dan tongkat Tungkahisya, maka hanya dalam waktu singkat muncullah istana yang megah. Istana itu lalu diberi nama Muhayasa, yang berarti indah dan kokoh. Sementara kerajaannya diberi nama Mulwapati, yang berarti makmur dan sejahtera.

Tentang keindahannya, maka tak perlu dipertanyakan lagi karena istana tersebut dikelilingi oleh benteng dua lapis dari batu putih yang kokoh. Untuk masuk ke dalam arena istana, maka terdapat dua pintu gerbang yang berada di sebelah timur dan barat. Di dalam komplek istana Muhayasa ada banyak bangunan megah yang terbuat dari emas, perak, titanium, marmer, pualam, giok dan kristal. Dan untuk memperindah bangunan itu, maka bertaburanlah berbagai jenis permata (zamrut, safir, merah delima) dan berlian warna-warni. Semua itu bertujuan bukan untuk pamer, tetapi untuk menunjukkan wibawa dan menimbulkan kekaguman kepada Tuhan. Artinya, dengan hanya mengikuti aturan dan petunjuk Tuhan, maka siapapun akan meraih kejayaan.

kota-indah

Singkat cerita, tahun-tahun berlalu dengan keseimbangan dan keharmonisan. Awalnya belum banyak yang tahu keberadaan dari kerajaan Mulwapati ini, tapi seiring berjalannya waktu, informasi tentang kemegahan dan kemakmuran kerajaan ini tersebar luas. Lambat laun, berdatanganlah orang-orang dari segala penjuru untuk sekedar melihat-lihat atau bahkan menetap. Dan khusus yang ingin menetap, maka mereka harus lulus seleksi dulu. Tidak bisa sembarangan orang tinggal disana. Ada aturan dan kriteria khusus yang harus dilalui. Siapapun tidak bisa memaksa untuk tinggal di dalam kota kerajaan, karena ada benteng yang kokoh, yang selalu dijaga ketat, bahkan ada pula semacam perisai tak terlihat yang melindungi kota ini dari kejahatan manusia. Perisai itu muncul secara otomatis karena kesaktian dari mustika Hullasya dan tongkat Tungkahisya yang ada di istana raja. Siapapun yang berniat jahat atau berhati buruk tidak akan bisa melawati batas perisai itu. Hanya bagi yang tulus bersih hatinya dan niatan yang baik yang bisa melewatinya.

Demikianlah kerajaan Mulwapati mewarnai sejarah dunia pada masa itu. Kerajaan ini lalu menjadi sangat terkenal di seantero dunia dan sering menjadi rujukan banyak negara dalam berbagai bidang kehidupan. Mahidara dan permaisurinya Milayani juga dikenal sebagai orang yang sangat bijak dan dermawan. Begitu pun dengan para punggawa dan rakyatnya. Mereka selalu hidup dalam cinta dan kasih sayang, tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga pada hewan, tumbuhan dan alam.

Lalu, setelah merasa cukup dengan urusan duniawinya, Mahidara dan istrinya (Milayani) memutuskan untuk moksa. Setelah 150 tahun memimpin, tahta kerajaan Mulwapati lalu diwariskan kepada putra tertuanya yang bernama Hisawarni. Kepadanya, selain cincin Humaril dan Swaniya, maka semua pusaka kerajaan (mahkota Amilasya, mustika Hullasya, pedang Nilbasya, busur Kiyani, tongkat Tungkahisya, dan kitab Waruhala) diwariskan kepada anaknya itu. Selanjutnya, pusaka-pusaka itu terus diturunkan kepada pewaris tahta berikutnya. Dan melalui Hisawarni ini, estafet kepemimpinan di kerajaan Mulwapati terus berlangsung dengan damai sampai pada keturunan yang ke 25. Selama itu, tidak ada yang berani mengusik ketenangan kerajaan ini. Semua orang tahu bahwa kerajaan peninggalan Mahidara itu mendapatkan anugerah khusus dari Tuhan. Orang-orang yang tinggal disana pun menjalani hidup yang disiplin dalam olah raga dan olah batin. Terlebih di kerajaan itu pun ada benda-benda pusaka yang luarbiasa saktinya, yang sulit dicari tandingannya di muka Bumi ini. Sehingga siapapun tentu lebih memilih bersahabat dan menjadi mitra bisnis ketimbang menjadi musuh.

Sebelum mengasingkan diri, Mahidara sempat berpesan. Katanya: “Waktuku di Bumi ini sudah berakhir. Kini tiba saatnya untuk melepaskan keduniawian, karena tugasku memang telah usai. Izinkan aku berpesan pada kalian semua, bahwa nanti akan ada masa dimana orang-orang saling berebut kemuliaan dunia tapi melupakan kemuliaan di akheratnya. Banyak yang lupa diri dan lebih banyak lagi yang melupakan Tuhannya. Hidup seperti mati, karena tanpa cahaya Ilahi dalam mengarungi kehidupan. Senang dengan kegelapan yang dibawa oleh setan dari golongan jin dan manusia, dan ikut pula menyebarkannya. Dan mereka itu banyak yang bersekutu dengan setan-setan itu secara nyata atau pun sembunyi-sembunyi hanya demi kesenangan duniawi. Pada saat itu, kesempurnaan syariat agama sudah paripurna, tapi justru banyak orang yang melupakan ajaran agama. Kalau pun ada, maka tidak sedikit yang berpura-pura (munafik) karena tergoda dengan kenikmatan duniawi yang menipu. Mereka juga sering bertikai sesama mereka tanpa alasan yang penting (karena fanatik sempit dan keserakahan diri). Nafsu syahwat terus diikuti, membuat kehidupan menjadi tidak harmonis. Karena itulah, alam pun menunjukkan kekuatannya dengan mendatangkan banyak bencana dan musibah yang memilukan. Banyak orang tewas, tapi itu tidak lantas membuat manusia yang hidup di zaman itu segera bertobat. Mereka justru semakin larut dengan sifat kebinatangannya sendiri. Membuat kehidupan di atas dunia ini menjadi semakin kacau dan berantakan.

Hingga pada suatu waktu, di saat yang telah ditentukan-Nya, akan datang kehancuran seperti yang telah dikabarkan sejak dahulu. Saat itu, kekuatan raja kegelapan akan hadir lagi di Bumi ini. Kekuatannya lebih dahsyat dari yang pernah ku hadapi, bahkan melebihi apa yang pernah dihadapi oleh para leluhurku dulu. Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan mereka. Sampai pada saat diutusnya seorang pemuda, yang kepadanya berbagai berkah dan anugerah Tuhan telah diberikan. Ia adalah sosok yang murah tersenyum, sangat manis dan dirindukan oleh penduduk langit dan bumi (yang berhati suci). Di dalam dirinya terdapat berbagai ilmu dan pusaka. Ciri-cirinya, ia memakai cincin Humaril yang selama ini ku pakai. Dialah pemilik yang sebenarnya, sementara diriku hanyalah perantara. Selain itu, ia juga memiliki beberapa pusaka khusus warisan dari leluhurnya. Yang dulu juga pernah membantu manusia dalam menghadapi pertempuran dahsyat. Dia adalah sosok kesatria utama yang sangat penyayang tetapi sekaligus menakutkan bagi musuh. Atas petunjuk Hyang Aruta (Tuhan YME), ia akan memimpin siapapun yang beriman menuju pada kemenangan yang sejati. Sungguh, beruntungnya bisa bertemu dengannya. Tak terkecuali diriku yang sangat ingin menemuinya dan akan ikut berjuang bersamanya. Bersama para leluhurku, kami akan hadir kembali di Bumi ini. Saat itulah keadilan Tuhan akan ditegakkan”

cincin-4

Demikianlah pesan terakhir yang disampaikan oleh Mahidara sebelum ia meninggalkan dunia fana ini. Apa yang disampaikannya terus dijadikan pengingat bagi semua keturunan dan rakyatnya. Lalu, pada masa raja ke 25 yang bernama Waniharti memimpin, keadaan kerajaan dan rakyat Mulwapati tetap aman dan harmonis. Setiap orangnya menjalani hidup dengan penuh cinta dan kasih sayang. Mereka sangat patuh kepada Tuhan dengan terus menjalankan syariat yang dibawa oleh para Nabi terkasih (Nabi Zayad AS dan Nabi Syish AS). Mahidara lah orang yang pertama kali mengajarkan prinsip itu, karenanya mereka bisa hidup layaknya di Syurga. Penuh keseimbangan antara lahir dan batinnya, yang semuanya itu dilakukan atas nama Tuhan. Lalu, karena sudah menjadi hukum dan kehendak-Nya, maka di masa raja Waniharti itulah kerajaan Mulwapati ini harus berpindah ke dimensi lain. Itu merupakan bonus dan anugerah bagi mereka yang sangat mengagungkan Tuhan dan mematuhi setiap aturan-Nya dalam kehidupan.

Ya. Pada suatu ketika di hari Asida (Jumat), sejak subuh hari semua orang yang hidup di kota Muhayasa diperintahkan untuk duduk semedhi (meditasi) sambil berdoa dan mengucapkan kalimat pujian (zikir) kepada Tuhan. Di tempat ibadah, istana atau pun di rumah-rumah, semua orang mengikuti perintah itu dengan tulus. Menjelang tengah hari, datanglah Nabi Zayad AS, Nabi Syish AS dan Mahidara untuk membimbing mereka agar bisa berpindah dimensi. Semua orang kemudian diperintahkan untuk berkumpul di istana dan sekitarnya. Lalu tepat menjelang magrib, atas izin dari Hyang Aruta (Tuhan YME), kota kerajaan, seluruh bangunan dan penduduknya berpindah ke dimensi lain, tepatnya ke dimensi ke-5 (Nilbati). Disana mereka terus menjalani kehidupan sebagaimana biasanya. Hanya saja sudah berbeda jauh dengan model kehidupan di atas Bumi ini, di alam nyata ini. Dan sebagaimana yang telah disampaikan oleh Mahidara, beberapa dari mereka (khususnya 30 orang murid Mahidara) akan muncul kembali ke alam nyata dunia ini, di muka Bumi ini. Tujuannya hanya untuk bergabung dalam pasukan yang dipimpin oleh sang pemuda pilihan. Benarkah ini? kita lihat saja nanti, mungkin tidak akan lama lagi.

8. Penutup
Wahai saudaraku. Sebagaimana artikel sebelumnya, tujuan penulisan kisah ini tetap untuk memberikan kabar dan peringatan kepadamu. Tidak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya disini, karena semuanya dikembalikan pada dirimu sendiri. Tidak ada niatan untuk membuat bingung atau menyebarkan kebohongan. Untuk itu gunakanlah hati yang jernih saat membaca dan menghayati tulisan ini. Jangan terburu-buru! Semoga engkau mendapatkan manfaat dan kebaikan.

Ya. Periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra) akan segera berakhir dan berganti dengan periode zaman ke delapan (Hasmurata-Ra). Dan sebagaimana yang telah disampaikan di atas, maka di akhir periode zaman ini akan datang perang yang sangat besar. Perang itu tidak hanya melibatkan manusia, tetapi juga mereka yang berasal dari alam goib. Pasukan setan dan tuan-tuannya akan hadir sekali lagi dan berusaha untuk menaklukkan dunia. Bahkan sebenarnya mereka sudah hadir di dekat dimensi kita, karena hanya tinggal satu portal saja yang belum bisa mereka tembus. Sepertinya masih harus menunggu seseorang di muka Bumi ini yang bisa mengaktifkan ke enam mustika Gulsar. Seperti yang pernah dilakukan oleh raja Surakaya dulu.

Dan ketahuliah bahwa saat perang dahsyat itu terjadi, maka tak ada yang mampu mencegahnya – kecuali bagi mereka yang sudah mempersiapkan diri. Siapapun tidak akan bisa menghindar, karena semuanya akan terlibat atau terdampak langsung oleh perang maha dahsyat itu. Yang menjadi pertanyaannya adalah dimana posisimu saat perang itu terjadi. Apakah engkau akan bergabung dalam barisan sang pemuda pilihan, atau justru ada dalam pasukan raja kegelapan? Atau justru tidak di keduanya, karena hanya sebagai korban dalam kebingungan. Dan apakah dirimu termasuk orang-orang yang berjuang dengan gigih saat melawan kebatilan itu, atau justru sebagai orang yang mati konyol lantaran tak punya persiapan? Pilihlah dari sekarang dan persiapakanlah dirimu sebaik-baiknya! Carilah olehmu sosok pemuda yang memakai cincin Humaril di jari manisnya. Bergabunglah dengannya. Karena dialah orang yang akan memimpin manusia pada kemenangan.

Semoga kita termasuk dalam golongan orang yang tetap berjuang di jalan Tuhan dalam keikhlasan hati. Semoga kita adalah di antara orang-orang yang bisa selamat atau diselamatkan saat transisi zaman ini terjadi. Rahayu.

Jambi, 05-11 Nopember 2016
Harunata-Ra

16 thoughts on “Mahidara: Kesatria Penguasa Cincin Humaril

    kuropriest97 said:
    November 14, 2016 pukul 1:17 am

    Maaf saya mau tanya, apa mas tahu mengenal mas javanese2000 ?

      oedi responded:
      November 14, 2016 pukul 2:16 am

      Hmmm sepertinya saya gak kenal dg javanese2000 tuh mas/mbak kuropriest97… emang kenapa?

        kuropriest97 said:
        November 14, 2016 pukul 5:14 am

        Gpp mas saya cuma nanya doang, kalau boleh tahu dan nanya kepercayaan mas Oedi apa ya mas kok ada campuran unsur kebatinan segala kyk kejawen ?

        oedi responded:
        November 14, 2016 pukul 6:16 am

        Oh gitu…
        Hmmm.. Sepertinya Anda pernah beberapa kali berkunjung di blog ini, terimakasih untuk itu. Jika mau mencermati setiap tulisannya dengan benar, tentu sudah bisa tau dong apa keyakinan saya. Tidak perlu saya jawab, karena itu urusan pribadi saya dengan Tuhan.
        Dan boleh tanya, emang kebatinan dan kejawen itu apa mas/mbak?

        kuropriest97 said:
        November 14, 2016 pukul 6:31 am

        Lho kok masnya balik tanya haha… masnya pasti udah tahu sendiri dong dan memang mas tidak perlu menjawab cuma ingin mengkonfirmasi sja sayanya. Mks mas udah jawab.

        oedi responded:
        November 14, 2016 pukul 8:45 am

        Ya karena sampeyan nanya duluan sih makanya saya juga ikut nanya hehehe..🙂
        Makasih juga atas pengertiannya,
        Saya bertanya itu juga utk konfirmasi apakah pemahaman sampeyan ttg apa itu kebatinan dan kejawen sama dg saya, takutnya kita gak satu frekwensi, kan makin kemana-mana tar jadinya..
        Jadi mohon maaf sebelumnya, janganlah karena saya menuliskan ttg semedhi, tapa brata dll lantas dinilai sebagai aliran kebatinan bahkan kejawen.. diperjelas dulu faham dan konotasinya..
        Khusus ttg kebatinan, bukannya semua agama juga mengajarkannya? Hindu, Buddha, Katolik, Konghuchu, Zoroaster, Taoisme, Kunfusianisme, bahkan Sinto juga mengajarkannya, salah satu bentuknya adalah meditasi alias semedhi ato tapa brata.. Nah di Islam juga lebih lengkap karena ada muhasabah, tadabbur, tafakur, khalwat, uzhlah dan tahannuts.. Semua itu adalah bentuk kebatinan, versi dan bahasanya aja yg beda kok.. Dan Islam sendiri sangat luas maknanya, karena Universal sifatnya, perlu byk membuka cakrawala pikiran utk memahaminya.. Agama tanpa kebatinan itu bagai rumah tanpa tiang..

        kuropriest97 said:
        November 14, 2016 pukul 9:43 am

        Saya setuju mas. Saya kira pemahaman kita kurang lebih sama mas tentang kebatinan dan kejawen. Tapi sayangnya kebanyakan doktrin agama sekarang sudah diubah-ubah yg harusnya begini jadi kurang lebih begitu. Brarti mas Oedi menganut kebatinan Islam kan mas ? Terus kalau menurut mas kepercayaan apa yg kurang mas setujui untuk dianut bagi kita ? semua karena udah banyak pengajaran” sesat di muka bumi udah menjadi Zaman Edan. Apakah ada pula ajaran kebatinan yg menurut anda salah begitu ?
        Mks.

        oedi responded:
        November 14, 2016 pukul 1:32 pm

        Wah saya gak bisa dan gak mau menilai mana kepercayaan yang salah mana yg benar, mana ajaran yg bagus mana yg buruk.. saya bukan Tuhan yg bisa menilai dan yg paling tahu ttg yg sejati..
        Saya hanya mengikuti mana yg menurutku benar dan sreg di hati aja.. Tuhan itu harus ditemukan sendiri, agama itu juga harus dicari sendiri.. gak cukup hanya sekedar baca kitab, ikutin kata orang, apalagi larut dlm doktrin… hrs dg jalan laku spiritual sendiri.. caranya ya silahkan pilih sendiri..

        kuropriest97 said:
        November 14, 2016 pukul 3:35 pm

        Mks mas udah jawab. Udah berapa lama menekuni laku KeTuhanan mas ?

        oedi responded:
        November 17, 2016 pukul 4:38 am

        Belum berapa lama kok..

        kuropriest97 said:
        November 17, 2016 pukul 5:24 am

        Apakah mas bisa tersambung dengan Tuhan sepenuhnya dengan jalan keTuhanan yang mas anut skrg ini ?

        oedi responded:
        November 17, 2016 pukul 12:27 pm

        Hmm kenapa Anda bertanya seperti itu? lantas Anda sendiri bagaimana??

    Tufail (@TufailRidha) said:
    November 15, 2016 pukul 7:40 am

    jangan-jangan kang Harunata-ra udah berjumpa/sua dengan pemuda yang memakai cincin Humaril di jari manisnya sampaikan salam saya kepadanya kang, karena saya akan ikut beliau. Melihat fenomena alam sekarang ini menurut mereka-mereka hal yang biasa hukum alam, tapi menurut saya Hukum Hyang Aruta ( Allah SWT ) yang sedang terjadi. karena terus terang kang setiap saya cerita kepada keluarga kerabat dan teman tentang hal ini apalagi tentang artikel-artikel dari kang harun tentang sejarah-sejarah jaman baheula yang milyaran tahun yang lalu banyak yang anggap saya ini gila kang bahkan mengira saya ikut suatu kelompok atau aliran/ajaran/sekte tertentu tapi ya terserah sajalah saya ngga ambil pusing ” sabodo teuing”. Semoga kita adalah di antara orang-orang yang bisa selamat atau diselamatkan saat transisi zaman ini terjadi. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Amin Ya Allah.
    Rahayu Salawasna _/\_

      oedi responded:
      November 17, 2016 pukul 4:56 am

      Wah belum mas, beliau masih tersembunyi dan menyembunyikan dirinya… Pengennya sih bisa ketemu, tapi siapalah diri ini? sungguh tak layak karena masih terlalu kotor..😦
      Benar mas, sekarang ini hanya hukum Hyang Aruta (Allah SWT) yang berlaku, nah karena yang punya hukum adalah Tuhan Pencipta Alam, maka banyak yang tidak menyadarinya.. itulah hebatnya.
      Hmmm saya pun sering dibilang gila, sesat dan kafir mas.. udah sering banget sampai akhirnya kebal… Tapi dari yg miring itu, ada juga yang justru mendukung dan mau mengikuti pesan” yang disampaikan, mereka sudah mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi transisi zaman ini.
      Jadi tetap sabar dan semangat ajalah mas.. emang begitulah keadaannya.. Jangankan kita yang hina ini, para nabi yang mulia saya sering diejek, disakiti, diusir bahkan dibunuh oleh kaumnya sendiri.. Padahal mereka hanya menyampaikan wahyu Tuhan.. Untuk kembali menyamangati diri, maka selalu ingatlah hadits Rasulullah SAW yang mengatakan “Islam muncul dalam keadaan terasing, dan akan kembali dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orang yang asing” (HR. Muslim). Nah yang dimaksudkan orang yang terasing itu bisa jadi kita mas, orang yang sangat sedikit di akhir zaman ini karena mengingatkan tentang kebenaran tapi tak dipedulikan.. Rahayu bagio _/\_🙂

    velasco said:
    November 19, 2016 pukul 2:39 pm

    terimakasih sudah berbagi kisah ini…

      oedi responded:
      November 21, 2016 pukul 4:51 am

      Oke sama2lah.. terimakasih juga atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s