Kumaria: Kaum Akhir Zaman Swarganta-Ra

Posted on Updated on

azab-3Wahai saudaraku. Janganlah pernah sesekali dirimu menyepelekan sesuatu yang pasti kebenarannya; hukum Tuhan. Jangan pernah mengkerdilkan Dzat Tuhan, karena  Dia adalah Yang Maha Besar dan Berkuasa. Janganlah mengabaikan satu saja dari perintah-Nya, sebab semuanya itu hanya untuk kebaikan dirimu sendiri. Dan teruslah menjadi hamba-Nya yang beriman dengan selalu taat mengikuti setiap perintah dan menjauhi semua larangan-Nya, niscaya kebaikan dan kebahagiaan akan terus menyertaimu. Sementara kemuliaan adalah karunia-Nya untukmu.

Janganlah bersikap seperti kaum Kumaria yang tak pandai bersyukur. Lantaran diberi anugerah hidup yang makmur dan kecerdasan yang tinggi, mereka lalu kufur atas segala nikmat yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Mereka telah menjadi pribadi yang senang menyimpang dalam urusan seksual seperti melakukan perbuatan zina, homo, lesbi dan incest. Selain itu, mereka juga senang melakukan perbuatan korupsi, curang dalam bisnis dan tidak lagi meyakini akan adanya pembalasan di akherat nanti. Bahkan tidak sedikit dari mereka itu yang sebenarnya telah mengabaikan Tuhan Yang Maha Esa, kalaupun ada itu hanya sebatas topeng. Sebenarnya mereka justru menuhankan banyak hal, termasuk harta dan teknologi yang telah mereka buat sendiri. Bahkan ada yang sudah tidak lagi bertuhan, alias ateis.

Perlu di ketahui bahwa kaum Kumaria ini hidup pada akhir periode zaman Swarganta-Ra (zaman ke empat manusia) atau sekitar 250 juta tahun silam. Tempat tinggal mereka itu kini disebut dengan Laut China Selatan, atau tepatnya di antara Kambodia, Kalimantan dan Malaysia. Mereka ini di antara kaum yang telah membangun peradaban yang sangat tinggi. Gedung-gedung di kota mereka besar dan bertingkat, yang dibangun dari berbagai bahan pilihan seperti batu marmer, pualam, kaca, kristal, besi, baja, tembaga, perak, dan emas. Teknologi mereka super canggih, karena telah berhasil menciptakan Murkaga (pesawat jet tempur bersenjatakan laser), Karsuga (pesawat luar angkasa seukuran kota Jogja yang berkecepatan cahaya). Dengan pesawat itu mereka bahkan telah berhasil menjelahi banyak planet dan galaksi.

Namun semua pencapaian itu bukannya menjadikan mereka semakin beriman, karena justru membuat mereka lupa diri dan lupa pada Tuhannya. Mereka semakin menuhankan teknologi meskipun itu buatan mereka sendiri. Atas sikap itulah, pada mulanya mereka diberi peringatan dengan adanya bencana alam seperti kemarau panjang, suhu dingin dan wabah penyakit menular. Gempa bumi, tanah longsor, banjir dan angin ribut kerap terjadi di wilayah mereka. Tapi dengan bentuk peringatan yang seperti itu, mereka tetap saja merasa bahwa itu semua hanya sebagai fenomena alam biasa. Bahkan saat semua teknologi mereka mulai mengalami kematian misterius alias tak bisa di aktifkan, mereka tetap saja menolak kebenaran. Dan ketika mereka mendapatkan ajakan dari Nabi Syish AS untuk segera bertobat, mereka justru memperolok sang Nabi dan siapapun yang beriman. Kalau pun seolah-olah mereka menerimanya, maka itu hanya sebatas formalitas. Itulah yang selalu mereka lakukan tanpa rasa bersalah.

Sebenarnya peringatan itu sudah disampaikan oleh Nabi Syish AS dan orang-orang yang beriman sejak lama. Tapi tak banyak yang mau mendengarkan, bahkan mereka memperolok atau mencaci maki siapapun yang mengingatkan mereka tentang perihnya azab Tuhan. Hingga pada akhirnya, tiga hari menjelang azab itu di turunkan, Nabi Syish AS mengajak orang yang beriman untuk keluar dari kota kaum Kumaria. Saat mereka berjalan keluar kota, tak luputlah mereka itu menjadi bahan cacian dan tertawaan dari orang-orang yang kufur. Raja mereka yang bernama Kuratensi pun berkata; “Jangan pernah kembali lagi ke kota ini. Kota ini tidak akan hancur, karena kami akan terus berjuang untuk mempertahankan kota ini dengan kemampuan yang kami miliki. Tidak akan ada yang bisa menghancurkan kota kami ini, meskipun yang terkuat sekalipun”

Sungguh takaburnya raja dan kaum Kumaria ini. Mereka tetap saja dalam kekufurannya meskipun sudah diperingatkan oleh Nabi Syish AS bahwa akan datang azab yang perih. Bahkan alam pun sudah memberikan tanda-tanda yang jelas akan datangnya azab besar itu di depan mata mereka. Karena itulah, setelah fajar menyingsing di hari ketiga, terjadilah gempa bumi yang kuat. Semua orang terkejut. Lalu mereka berlari-lari menuju para petinggi negara, terutama kepada Kuratensi; sang maharaja. Mereka lalu berkata; “Bagaimana ini? Semua yang dikatakan oleh Nabi Syish AS benar. Alangkah beruntung orang yang mau mengikutinya” Tapi di jawab oleh Kuratensi dengan berkata; “Tenang saja, ini hanyalah gejala kecil”

Begitu sombongnya raja kufur itu. Namun baru saja ia selesai bicara, tiba-tiba guncangan gempa semakin kuat. Tak lama berselang datang pula awan gelap yang menutupi kota. Bersamaan awan hitam itu hadirlah petir yang menggelegar dan memekakkan telinga semua orang. Melihat kejadian itu, siapa pun langsung menyesal karena mengikuti Kuratensi. Mereka pun langsung mengutuk raja itu dengan berkata; “Sungguh celakalah wahai pengumbar fitnah dan dosa. Celakalah dirimu, secelaka-celakanya”

Setelah itu, suasana pun semakin mencekam. Dimana-mana tampak redup, matahari pun “menghilang” dari pandangan, hujan bertambah deras sementara petir terus saja menyambar-nyambar dengan sangat keras, seolah-olah langit pun ikut terbelah. Bahkan saking kerasnya, tidak sedikit dari mereka yang tewas hanya karena mendengar gelegar suaranya. Tanah yang mereka pijak juga mulai terbelah dan gunung pun ikut meletus dengan mengeluarkan lava dan abu vulkanik ke segala arah. Satu persatu bangunan yang kokoh runtuh, entah karena gempa atau terkena sambaran petir. Membuat suasana pada saat itu menjadi semakin pekat dalam gelap dan hanya sesekali tampak cahaya yang menyinari. Cahaya itu berasal dari sambaran halilintar yang terus saja menggelegar dan menggetarkan permukaan tanah.

Sungguh dahsyat bencana yang terjadi pada saat itu. Teknologi yang selalu mereka andalkan tak bisa menyelamatkan diri mereka. Semuanya mati, tak lagi berfungsi atas kehendak Tuhan. Kemudian, air tsunami pun datang dari arah timur kota. Dan disaat mereka hendak keluar dari kota itu – karena sudah porak-poranda akibat gempa dan hujan badai petir – ternyata mereka sudah dihadang oleh tsunami yang sangat tinggi. Mereka menyaksikan datangnya tsunami dahsyat itu, yang langsung saja menghantam tembok benteng kota mereka, memporak-porandakan apa saja yang ada. Sepertinya mereka ini memang tidak boleh kemana-mana dan harus menerima apa yang selama ini telah mereka abaikan.

azab-1

Selanjutnya, setelah semua bencana di atas terjadi, barulah untuk yang terakhir kalinya daratan dimana mereka berada – dari arah timur – tiba-tiba naik dan berlipat. Membuat apa saja yang berada di atasnya – seluruh peradaban kaum Kumaria – ikut terhimpit dan hancur. Musnah di telan Bumi. Dan sesaat menjelang itu semua terjadi, raja Kuratensi justru sempat menyaksikan semuanya dengan detil. Bahkan ia sempat berkata; “Sungguh dosa besar yang telah kami lakukan”. Dan lengkaplah penderitaan yang harus di alami oleh raja kufur itu. Karena sejak awal bencana, ia terus-terusan bisa melihat dan merasakannya – sepertinya itu memang harus ia alami sebagai balasan atas kesombonganya sendiri. Hingga pada akhirnya, ia pun mati mengenaskan karena terhimpit daratan yang luas.

Setelah peristiwa tanah yang dibalik itu terjadi, maka daratan tempat kaum ini dulu tinggal akhirnya tenggelam dan menjadi lautan. Kondisi alam pun kembali normal dan tenang di penghujung hari tersebut, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Awan menyingkir dan matahari pun muncul kembali dengan sinar yang cerah, terang benderang sebelum malam tiba. Seakan-akan ia bergembira, karena sebelumnya hukum Tuhan telah ditegakkan dengan adil, khususnya bagi kaum yang kufur itu. Sementara tak ada yang selamat dari kaum Kumaria ini, kecuali mereka yang beriman dan sudah berhijrah mengikuti Nabi Syish AS. Sungguh beruntunglah yang beriman dan sungguh celakalah bagi siapa pun yang kufur.

*****

Wahai saudaraku. Apa yang terjadi pada kaum Kumaria itu adalah pertanda bahwa periode zaman telah berganti dari Swarganta-Ra (zaman ke empat) ke Dwipanta-Ra (zaman ke lima). Dan setiap transisi zaman itu ada pergolakan dahsyat di muka Bumi ini. Bahkan peristiwa itu akan terulang kembali dalam bentuk yang lebih dahsyat. Sebab, sekarang ini kita sedang berada di penghujung periode zaman Rupanta-Ra (zaman ke tujuh). Tak lama lagi kehidupan di Bumi ini akan berganti lagi, dari periode zaman Rupanta-Ra (zaman ke tujuh) kini menuju ke periode zaman ke delapan (Hasmurata-Ra) nanti. Memang sudah waktunya, karena kehidupan manusia pun sudah semakin kacau balau dan tidak lagi seimbang. Manusia sudah semakin munafik, kufur dan melupakan Tuhannya. Sehingga persiapkanlah dirimu dan ambillah pelajaran dari kisah tragis kaum Kumaria itu. Resapi dengan sikap yang bijak dan janganlah mengabaikannya, karena itu demi kebaikanmu sendiri.

Sebab, proses transisi zaman ini (Rupanta-Ra ke Hasmurata-Ra) bahkan sudah di mulai – bisa dirasakan dengan begitu banyaknya bencana alam yang silih berganti. Pasukan “langit” pun telah datang ke Bumi dan melakukan pemetaan wilayah. Ada tiga kategori yang telah ditentukan, yaitu zona yang berwarna hijau, merah, dan hitam. Wilayah dalam kategori zona hijau akan di selamatkan, zona merah akan di habisi, sementara yang zona hitam akan di hancurkan. Saat ini, satu persatu wilayah sudah mulai di tetapkan, yang di mulai dari wilayah paling utara di Bumi. Dan ketika suatu wilayah sudah ditetapkan warna zonanya, maka tak bisa lagi diubah sampai keadilan Tuhan selesai ditegakkan di atas Bumi ini.

Dalam hal ini Nabi Syish AS juga pernah berpesan:
“Tetaplah dalam rasa syukur hanya kepada-Nya. Semua ilmu pengetahuan adalah milik-Nya. Kita tak pernah diberi oleh-Nya, tetapi hanya dipinjami sebentar. Jangan pernah sombong dan tinggi hati ketika mendapatkan anugerah dari-Nya. Itu bukan milikmu, tapi ujian tentang kesombongan, kepatuhan dan rasa syukur.

Untuk itu, jagalah selalu apa yang telah dipercayakan oleh-Nya dengan kebaikan. Jangan pernah merasa sombong, karena Dia Maha Kuasa dan bisa saja mengambil itu semua dengan cara yang tak terduga. Teruslah belajar untuk semakin bersyukur dan juga rendah hati. Dengan begitu engkau bisa menjaga rasa syukur dan iman kepada-Nya”

Demikianlah beberapa pesan dari Nabi Syish AS. Isinya bisa menjadi rujukan dalam hidup dan kehidupan kita di dunia ini. Dengan rasa syukur dan sikap yang rendah hati, semoga kita bisa selamat atau diselamatkan saat transisi zaman ini terjadi.

Jambi, 14 Oktober 2016
Harunata-Ra

Catatan: Seperti tulisan sebelumnya, disini kami tidak memaksa siapapun untuk mempercayai tulisan ini. Semua kembali pada diri masing-masing. Tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja. Percaya syukur, tapi kalau tidak percaya ya tidak apa-apa. Itu hak Anda untuk memilih, bahkan bukan urusan kami. Tidak ada juga niatan untuk menakut-nakuti atau menyebarkan kebohongan. Namun kebenaran itu pasti akan terungkap, cepat atau lambat.

4 thoughts on “Kumaria: Kaum Akhir Zaman Swarganta-Ra

    Tufail (@TufailRidha) said:
    Oktober 28, 2016 pukul 3:14 am

    Kang Harunata-Ra pada awal zaman apa nama Ra – nya, Sebab proses transisi zaman ini (Rupanta-Ra ke Hasmurata-Ra) bahkan sudah di mulai _/\_ Rahayu

      oedi responded:
      Oktober 30, 2016 pukul 8:16 am

      Penggunaan kata “Ra” itu sudah ada sejak periode awal kehidupan manusia di muka Bumi ini. Setiap zaman berganti, kata “Ra” itu tetap disematkan pada bagian akhir namanya. Untuk lebih jelasnya, berikut ini saya kasih urutannya:
      1. Purwa Duksina-Ra
      2. Purwa Naga-Ra
      3. Dirganta-Ra
      4. Swarganta-Ra
      5. Dwipanta-Ra
      6. Nusanta-Ra
      7. Rupanta-Ra -> zaman kita sekarang
      8. Hasmurata-Ra -> zaman yang akan datang

      Benar, bahwa proses transisi periode zaman Rupanta-Ra ke Hasmurata-Ra itu sudah dimulai. Karenanya mari kita sama-sama mempersiapkan diri. Karena pada puncaknya nanti akan ada peristiwa yang diluar nalar dan imajinasi semua orang. Kehidupan di Bumi ini akan dimurnikan secara total. Hanya sedikit yang selamat, atau lebih tepatnya di selamatkan..🙂

        Tufail (@TufailRidha) said:
        November 10, 2016 pukul 7:22 am

        setelah banyak mambaca artikel-artikel sejarah dari blog kang Harunata-Ra saya pribadi sudah mulai pasrah kepada Hyang Aruta ( Tuhan YME ) Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un/Mulih ka jati mulang ka asal. kalau Hyang Aruta ( Tuhan YME ) menghendaki besar rasanya keinginan saya pribadi bisa ber-Silaturahmi dengan kang Harunata-Ra bersua/berjumpa, banyak hal yang tidak saya ketahui selama ini tentang sejarah Leluhur Bangsa Nusanta-Ra dengan adanya Blog ini saya Kagum/Terkesima. Berkat Blog Kang Harunata-Ra ini banyak gejolak/pertanyaan yang terjadi dalam diri saya dengan terus membaca/mempelajari Semoga Hyang Aruta ( Allah Swt ) selalu memberkahi dan memberi karunia-Nya kepada kang Harunata-Ra. Rahayu Salawasna _/\_

        oedi responded:
        November 14, 2016 pukul 2:07 am

        Terimakasih kang Tufail, karena masih mau berkunjung.. semoga tetap bermanfaat..🙂
        Inti dan tujuan dalam hidup ini adalah berserah diri kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Karena hanya Dia-lah yang Maha Kuasa dan tempat kita untuk kembali. Semua yang terjadi di dunia ini hanyalah atas izin dan pengaturan-Nya. Kita hanyalah wayang yang hanya bisa mengikuti setiap takdir dari-Nya pula. Karena itu, kita lihat saja nanti, jika Allah mengizinkan, kita pasti akan ketemu dan ngobrol tentang banyak hal. Mungkin justru saya yang banyak belajar dari sampeyan.🙂
        Ilmu dan pengetahuan itu datangnya hanya dari Allah SWT, mengenai caranya ya bisa dalam berbagai bentuk. Saya disini hanya sebatas perantara, karena saya bukanlah siapa-siapa. Saya cuma orang bodoh yang hina.
        Saya doakan juga kang Tufail dalam kesehatan dan keselamatan dunia akherat. Rahayu bagio _/\_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s