Haldir: Pusaka Sakti Penyebab Malapetaka

Posted on Updated on

black-crystalWahai saudaraku. Ada banyak kisah yang hilang dari catatan sejarah dan terlupakan dalam ingatan manusia. Meskipun itu sangat penting dalam kehidupan ini, bahkan untuk masa depan yang akan datang, tetap saja ia terkubur jauh dalam misteri. Butuh waktu ribuan tahun untuk kembali diketahui dan itu semua hanya atas izin dan kehendak-Nya.

Ya. Pada kesempatan kali ini akan ku ceritakan sebuah kisah masa lalu. Satu peristiwa yang terjadi ketika Nusantara masih dalam satu daratan dan gunung-gunung raksasa masih menjulang tinggi menembus awan. Saat itu masih di periode zaman ketiga manusia yang disebut Dirganta-Ra. Dan jauh sebelum itu, tidak kurang dari satu milyar tahun lamanya, ada satu kaum yang berhasil menciptakan pusaka sakti. Terdiri dari dua serangkai yang berbentuk bola kristal warna-warni (hitam dan putih). Atas petunjuk langit, kedua pusaka itu lalu disebut Haldir atau yang berarti kuat dan memandang jauh.

Bagaimana kisah selanjutnya? Mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Asal usul pusaka Haldir
Bangsa yang menciptakan pusaka Haldir itu bernama Dirhayati. Mereka dulu tinggal di sebuah lokasi yang kini disebut Laut Jawa dengan kerajaan yang bernama Gunawarti. Taraf hidup mereka sudah sampai pada tingkat kebijaksanaan. Karena itulah tidak ada dalam kehidupan mereka selain kedamaian dan kesejahteraan. Peradaban mereka tinggi dan selalu tertata rapi. Siapapun akan senang untuk tinggal atau sekedar berwisata ke negeri mereka.

Waktu terus beranjak sekian juta tahun lamanya, sementara kaum ini masih tetap perkasa dan sangat berpengaruh di dunia. Namun selama itu rasanya masih ada yang kurang. Kekurangan itu khususnya mengenai pusaka kerajaan mereka. Meskipun sudah ada dua, pusaka Haldir itu serasa kurang lengkap. Karena itulah, pemimpin tertinggi dari kaum Dirhayati ini lalu memutuskan untuk menyempurnakannya. Ia ingin mendapatkan petunjuk dan solusi agar kedua pusaka sakti itu semakin lengkap dan sempurna demi kemaslahatan kaumnya.

Singkat cerita, pemimpin kaum Dirhayati yang bernama Musdahiya lalu memutuskan untuk ber-tapa brata selama 10.000 tahun di puncak gunung Swanila (sekitar Semarang sekarang). Setelah 10.000 tahun, ia di datangi oleh seorang malaikat bernama Wisnamun yang saat itu memberikan sebuah pusaka dari langit. Pusaka itu bentuknya bola kristal dan sangat mirip dengan pusaka Haldir yang ada di kerajaannya. Hanya saja aura dan pancaran energinya jauh lebih besar dan tampilannya lebih menarik. Warnanya biru terang dan di bagian dalamnya ada semacam sinar yang berpijar-pijar yang berwarna gabungan antara putih, merah, keemasan.

Saat menerima pusaka kristal biru itu, Musdahiya segera merasa cukup dan senang dengan usahanya. Ia juga merasa bahwa tugasnya di dunia pun usai sudah. Ia sudah berhasil mendapatkan pusaka yang bisa mengamankan kedua pusaka Haldir jika di salah gunakan. Apapun yang akan terjadi nanti semuanya adalah atas izin dan pengaturan Tuhan. Dia sendiri hanyalah bagian dari “permainan” itu.

Perlu diketahui bahwa dua pusaka Haldir itu memiliki banyak kemampuan, di antaranya untuk mengendalikan cuaca, sebagai pertahanan kota, dan memancing kesuburan serta kemakmuran bagi suatu negeri. Selain itu, salah satu dari pusaka itu – yang berwarna putih – memiliki kelebihan untuk bisa melihat apa yang sudah, sedang dan akan terjadi. Sementara itu, yang berwarna hitam mampu membuat seseorang bisa berpindah ke dimensi lain atau untuk membuka pintu antar dimensi jika di inginkan. Kedua pusaka sakti itu saling terhubung seperti dua sisi koin. Tapi seperti sebilah pisau, maka keduanya juga bisa dipergunakan untuk tujuan baik atau jahat. Tergantung niat seseorang.

Dua sisi itulah yang membuat raja Musdahiya merasa gelisah. Ia takut jika suatu saat nanti kedua pusaka Haldir itu jatuh ke tangan orang yang tak bermoral. Karena itulah ia melakukan tapa brata yang keras untuk mendapatkan petunjuk dan solusi dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Dan karena ketulusan dan keteguhannya itu, Sang Pencipta memerintahkan seorang malaikat-Nya untuk menurunkan sebuah pusaka sakti yang bisa mengendalikan kekuatan jahat yang mungkin keluar dari dua pusaka Haldir. Pusaka itu juga disebut Haldir, tapi disini maksudnya adalah pemimpin dari para Haldir. Dan siapapun yang memegangnya akan memiliki kesaktian khusus dan bisa mengendalikan kedua pusaka Haldir (hitam dan putih) lainnya. Tapi disini hanya untuk tujuan yang positif saja, tidak bisa untuk yang negatif.

2. Kesaktian yang luarbiasa
Demikianlah terjadi bahwa pusaka Haldir telah dilengkapi. Ketiganya menjadi pusaka yang luar biasa dan sangat dikagumi di seluruh dunia. Tapi karena segala sesuatunya itu sudah menjadi “permainan” dari Sang Maha Kuasa, maka pusaka Haldir justru menjadi pemicu masalah besar. Lima generasi setelah raja Musdahiya moksa, kerajaan Gunawarti harus mengalami kegaduhan. Salah satu dari ketiga pusaka Haldir yang berwarna hitam itu raib entah kemana. Dan ternyata ada seorang kerabat raja yang sengaja mencurinya untuk tujuan tertentu.

Asal mula dari peristiwa buruk itu adalah ketika saudara laki-laki raja Gurnawarni (raja yang sedang memimpin) berlatih ilmu kebatinan. Sosok pemuda belasan tahun itu bernama Waniharti, ia adalah adik bungsu dari sang raja. Saat belajar ilmu kebatinan, ia sangat berhasrat untuk menjadi seorang yang sangat sakti. Niat di hatinya hanyalah ingin mendapatkan kemampuan yang luarbiasa yang tak dimiliki oleh siapapun. Karena itulah ia berlatih keras kepada beberapa orang guru dan akhirnya memang bisa mendapatkan banyak kesaktian. Dua puluh lima tahun sudah berlalu, kesaktian pun sudah didapatkan, tapi Waniharti masih belum merasa puas. Ia merasa bahwa ilmu yang sudah ia miliki belum sesuai dengan cita-citanya. Karena itulah ia memutuskan untuk mencari ilmu yang lebih sakti lagi. Kepada siapapun akan ia mintai, dan dengan cara apapun akan ia turuti.

Sesuai dengan niatnya itu, Waniharti lalu melakukan pengembaraan untuk bisa mendapatkan ilmu yang paling sakti. Banyak negeri yang ia kunjungi dan banyak pula guru yang ia datangi. Tapi belum ada yang sesuai dengan keinginannya. Hingga pada akhirnya ia tak ingin lagi mencari kesaktian itu pada diri manusia. Ia lalu memutuskan untuk melakukan tapa brata saja demi mendapatkan petunjuk goib atau justru mendapatkan ilmu yang sangat sakti.

Waniharti melakukan tapa brata yang sangat keras dalam berbagai cara, seperti duduk bersila, berdiri, berdiri kaki satu, ngalong (kaki di atas kepala di bawah), menyelam di dalam air dan mengambang di atas air atau udara. Setiap jenis tapa brata itu di lakukan dalam waktu puluhan bahkan ratusan tahun. Lokasinya juga bermacam-macam, seperti di dalam gua, hutan, lembah, di puncak gunung, di dalam danau dan di atas lautan. Semua itu ia lakukan hanya demi mendapatkan kekuatan yang tiada tandingannya. Dan memang setiap kali ia berhasil menyelesaikan satu bentuk tapa bratanya, Waniharti menjadi sosok yang semakin sakti. Tapi lagi-lagi itu belum bisa membuatnya puas. Ia masih terus saja bertapa brata dan kondisi ini membuat cemas makhluk hidup yang berada di sekitar lokasi pertapaanya.

semedhi

Singkat cerita, sudah lebih dari 10.000 tahun Waniharti ber-tapa brata mencari kesaktian. Dan pada akhirnya turunlah seorang malaikat untuk memberi petunjuk kepada Waniharti. Malaikat itu adalah sosok yang pernah bertemu dengan Musdahiya (orang yang mendapatkan pusaka Haldir) yang bernama Wisnamun. Saat menemui Waniharti, sang malaikat berkata; “Keinginanmu itu akan terkabulkan hanya jika dirimu bisa menghilangkan keinginanmu. Apa tujuanmu adalah yang harus diluruskan lalu dikuatkan” Setelah mengatakan itu, malaikat Wisnamun lalu menghilang dan kembali ke langit.

Mendapati petunjuk itu, Waniharti sempat berpikir tentang maknanya. Ketika ia hampir menemukan jawaban, pada saat itulah muncul sosok yang tak disangka-sangka. Orang tersebut berpenampilan penuh wibawa dengan pakaian serba putih bersih. Dari tubuhnya memancar sinar terang yang bahkan menyilaukan mata. Itu membuat Waniharti langsung terkagum. Sosok tersebut tidak memperkenalkan diri dan langsung berkata; “Pertanyaanmu akan terjawab bila kau tetap berpegang teguh pada niatmu dari awal, yaitu mencari kemampuan yang tiada banding. Apa yang dikatakan oleh malaikat itu hanya untuk menguji kesungguhanmu. Bukankah hasil yang terbaik itu ditentukan dari kesungguhan kita?”

Demikianlah sosok tersebut memberikan nasehat yang terlihat baik tapi menyesatkan. Secara tidak langsung ia meminta Waniharti untuk terus berpegang teguh pada niatnya dari awal walau pun itu tidak bagus. Waniharti pun terpengaruh dan ternyata itu pula yang menjadi prinsipnya kemudian. Ia lalu melanjutkan tapa bratanya dengan niat tetap mencari kesaktian, bukannya untuk mencari Sang Pemberi kesaktian itu sendiri; Tuhan Yang Maha Esa, sesuai makna petunjuk dari malaikat Wisnamun. Oleh sebab itulah, pada akhirnya setelah bertapa selama 1000 tahun, ia didatangi oleh sosok yang mengaku sebagai malaikat utusan Tuhan. Sosok yang sebenarnya adalah raja kegelapan itu bahkan memberikan kesaktian yang belum pernah diketahui oleh Waniharti sebelumnya. Hal ini jelas menipu Waniharti, sebab ia telah terbuai dengan pemberian yang sesuai pula dengan niatnya sejak awal. Ia telah benar-benar lupa bahwa hakikat dari semedhi atau ber-tapa brata itu sesungguhnya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memang boleh saja seseorang berniat untuk mencari kesaktian, tapi itu bukanlah tujuan yang utama. Tujuan utama dari ber-tapa brata haruslah untuk mencari dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Masalah hasil kesaktian yang di dapatkan itu sifatnya hanya bonus. “Carilah Tuhan, maka dirimu akan mendapatkan dua hal, yaitu kesempurnaan dan kesaktian”, begitulah pesan para bijak di masa lalu.

3. Kekacauan di kerajaan Gunawarti
Setelah mendapatkan kesaktian dari raja kegelapan yang mengaku sebagai malaikat utusan Tuhan, Waniharti menjadi sosok yang sakti mandraguna. Dengan kesaktian itu, ia bahkan bisa mendirikan sebuah istana yang megah hanya dengan niat. Dalam waktu singkat, istana yang ia inginkan bisa terwujud di depan matanya tanpa cacat alias sangat indah. Segala yang dibutuhkan di istana itu juga ia ciptakan dengan hanya menggunakan kesaktian yang dimiliki. Istana itu lalu ia beri nama Wanidarti. Ia pun tinggal di istana itu dalam perasaan senang dan bangga.

Tapi, kesenangan di istana itu tetap belum membuatnya puas. Itu terjadi karena banyak kesaktian yang belum pernah ia pergunakan. Dan kesaktian itu akan teruji jika ada orang lain yang bisa di ajak bertarung sampai mati, begitulah pikirnya. Nah, di saat Waniharti duduk memikirkan tentang kesaktiannya itu, datanglah sosok yang dulu memberinya kesaktian. Sosok tersebut berkata; “Tidak ada salahnya menguji kemampuan. Bukankah kemampuan itu di dapatkan memang untuk digunakan?”

Mendapati nasihat itu, Waniharti yang memang sudah mengidolakan sosok yang memberinya kesaktian segera percaya. Nafsu angkara dalam dirinya lalu memegang kendali pikiran. Dalam waktu 3 hari saja, Waniharti sudah bergerak menuju kerajaan terdekat untuk mencari lawan tandingnya. Kerajaan itu bernama Luhasta. Sesampainya di kerajaan itu, ia lalu menantang siapapun untuk bertarung sampai mati. Awalnya tidak ada yang menyambut tantangan itu. Tapi lantaran Waniharti sudah mulai menghancurkan bangunan istana hanya dengan ajiannya, maka majulah panglima kerajaan Luhasta. Sang panglima tak lama bertahan karena kesaktiannya masih jauh dibawah Waniharti. Mengetahui panglimanya kalah telak seperti itu, kini giliran rajanya yang maju. Raja yang bernama Miladari itu sempat bertahan cukup lama menghadapi gempuran Waniharti, tapi lantaran musuhnya memang sangat sakti, sang raja pun akhirnya kalah dengan kondisi terluka parah. Karena rajanya sudah kalah, mau tidak mau semua punggawa kerajaan akhirnya harus tunduk dengan penguasa baru mereka. Waniharti lalu mengangkat dirinya sebagai raja di kerajaan Luhasta, sementara raja Miladari ditawan di penjara bawah tanah setelah lukanya sembuh.

Demikianlah satu persatu kerajaan yang ada di kawasan Nusantara tempo dulu jatuh dalam kekuasaan Waniharti. Tinggal beberapa kerajaan saja yang belum ditaklukkan, terutama kerajaan leluhurnya yang bernama Gunawarti. Karena itu, Waniharti segera menyusun rencana untuk melakukan penyerangan ke kerajaan itu. Dan saat ia sudah benar-benar siap, maka datang lagi raja kegelapan untuk memberikan saran. Sosok licik itu lalu berkata; “Jangan terburu-buru sebelum benar-benar siap. Ingatlah! bahwa ada benda pusaka yang melindungi dan menjadi kekuatan yang luar biasa di istana Gunawarti. Kau pun tahu akan hal itu. Ambillah ketiganya atau dua atau satu saja dari pusaka itu. Dan terutama yang hitam, kau harus bisa mengambilnya, karena dengan itu aku akan lebih banyak membantumu”

Mendapati petunjuk itu, Waniharti langsung pergi menuju istana kerajaan Gunawarti. Agar tak diketahui, ia pergi sendirian dan menyamar sebagai seorang pangeran yang sebelumnya sudah ia bunuh ketika sang pangeran sedang berburu di hutan. Dengan menyamar sebagai pangeran di kerajaan Gunawarti, ia bisa dengan mudah memasuki istana. Dan karena ia juga berasal dari istana itu, maka dengan mudah pula ia bisa menemukan tempat persembunyian pusaka Hildar. Tapi karena tempat itu sangat sakral bahkan bagi kalangan istana, maka hanya dengan sembunyi-sembunyilah Waniharti baru bisa masuk ke tempat pusaka itu. Dengan kesaktian yang dimiliki, akhirnya Waniharti bisa mendekati ruangan paling penting dalam istana Gunawarti. Di dalam ruangan khusus itu, yang berada tepat di belakang ruangan balairung istana, Waniharti melihat ketiga pusaka Hildar. Ketiganya sangat indah dan terus memancarkan cahaya yang terang benderang ke semua sudut ruangan. Darinya terpancar pula aura mistik dan energi yang sangat besar.

black-crystal

Sesuai niatnya sejak awal, Waniharti ingin segera mencuri ketiga pusaka Hildar itu. Tapi sesuatu yang aneh pun terjadi. Ketika ia ingin mengambil pusaka Hildar yang berwarna biru, ia mendapat semacam serangan dalam bentuk benturan energi yang sangat kuat ke tubuhnya. Berulang kali ia berusaha untuk melawan hingga akhirnya sampai terpental. Dengan kejadian itu ia langsung menyadari bahwa ia takkan bisa mengambil pusaka kristal biru itu. Ia pun beralih ke pusaka yang berwarna putih. Sama dengan yang berwarna biru, meski tak sekuat energi kristal yang biru tetap saja Waniharti tak bisa mengambil pusaka kristal putih itu. Hingga kini tinggal yang berwarna hitam. Awalnya ia juga mendapatkan serangan energi ke tubuhnya, tapi akhirnya ia bisa memegangnya. Tak lama kemudian ia bahkan bisa mengambilnya dan memasukkannya ke dalam kantung dari kain berwarna hitam yang sudah ia persiapkan.

Setelah berhasil mencuri pusaka Hildar yang berwarna hitam, Waniharti segera kembali ke kerajaannya. Meski tak mendapatkan ketiganya, satu pusaka Hildar itu sudah bisa menambah keyakinannya untuk bisa menaklukkan kerajaan Gunawarti. Dan karena tak mau lama-lama menunggu, maka dalam tempo dua hari kemudian ia dan ratusan ribu pasukannya sudah bergerak menuju kerajaan Gunawarti. Mengetahui niat penyerangan itu, kerajaan Gunawarti segera menyiapkan diri. Mereka langsung mengerahkan kekuatan penuh untuk melawan serangan itu. Dan hal ini tak bisa ditawar-tawar lagi, karena satu pusaka kerajaan mereka telah dicuri. Ini adalah pertanda buruk dan sumber malapetaka. Terlebih mereka pun sudah tahu siapa yang mencuri pusaka Hildar, dialah sosok kerabatnya sendiri yang kini menjadi raja yang sangat kejam.

Singkat cerita, sampailah Waniharti dan pasukannya di depan benteng kota kerajaan Gunawarti. Di sana ia sudah disambut oleh ratusan ribu pasukan kerajaan Gunawarti yang gagah berani, yang saat itu sedang dipimpin oleh raja Suminarwi. Ia adalah anak dari raja Gurnawarni, kakak dari Waniharti, yang artinya anak keponakannya sendiri. Dalam balutan baju zirah berwarna emas, pasukan kerajaan Gunawarni siap menghadapi serangan dari pasukan zirah merah bawahan Waniharti.

4. Perang besar
Kota kerajaan Gunawarti itu bernama Sidharista, yang berarti sembilan lapisan keindahan. Dan memang untuk bisa sampai ke istana raja yang menjadi pusatnya kota, maka ada sembilan pintu gerbang yang harus dilalui. Setiap pintu gerbang itu juga mewakili sembilan lapisan kota yang ada. Setiap lapisan akan ada perbedaan bentuk dan arsitektur bangunannya, mulai dari yang sederhana sampai ke taraf yang spektakuler. Ada banyak hal yang menakjubkan di kota itu. Dan yang jelas apapun jenis dan bentuknya, maka semua yang ada disana jelas menunjukkan nilai seni yang sangat indah.

Nah, kota yang indah itu di lindungi oleh benteng yang terbuat dari susunan balok batu besar warna putih yang sangat keras. Bentuknya rapi dan melingkari seluruh kota – sejauh puluhan kilometer – dengan tinggi sekitar 60 meter. Di depan benteng kokoh itulah pasukan Waniharti tegap berdiri dan menunggu komando untuk segera menyerang.

Singkat cerita, kedua bala pasukan besar itu sudah tak bisa lagi di ajak berunding. Memang kerajaan Gunawarti lebih memilih perdamaian ketimbang perang besar yang bisa menyebabkan jatuhnya korban tak bersalah. Tapi lantaran Waniharti tetap dengan kemauannya, mereka tak bisa berbuat apa-apa kecuali tetap melawan sekuat tenaga dalam pertempuran. Waniharti benar-benar telah disesatkan oleh raja kegelapan, dan ia tetap dengan niatnya sejak awal untuk menjadi penguasa dunia. Bahkan ia merasa jika bisa menaklukkan kerajaan paling berpengaruh itu, maka sempurnalah ke maharajaannya.

Tak butuh waktu lama, akhirnya perang besar itu pun terjadi. Pasukan pelindung kota kerajaan Gunawarti bergerak lebih dulu untuk menjauhi dinding tembok kota. Itu di lakukan agar bisa menjauhkan dampak kerusakan yang akan timbul dari serangan pasukan Waniharti. Dan perang pun terjadi. Setiap kubu saling bertarung dengan brutal. Pasukan infantri dan kaveleri dari kedua kubu saling beradu kekuatan dan keahlian dengan gagah berani. Para kesatria pun saling mengadu ketangkasan dan kesaktian mereka satu lawan satu. Ini membuat suasana pertempuran saat itu menjadi sangat menegangkan. Semakin lama maka semakin mengerikan, sebab orang-orang mulai mengeluarkan ajian kesaktian dan pusaka-pusaka sakti andalannya.

Pertempuran terus terjadi dan meskipun sudah lewat tengah hari maka belum ada yang berkeinginan mundur. Apa yang diharapkan oleh Waniharti saat itu tak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Pasukan kerajaan Gunawarti bukanlah pasukan sembarangan. Sehingga wajar bila dikatakan bahwa kerajaan ini paling disegani di seluruh dunia. Waniharti pun sudah tahu akan hal itu, karena ia sendiri juga bagian dari kerajaan itu.

Waktu terus beranjak dan pertempuran semakin sengit. Para kesatria mulai mengeluarkan kesaktian yang tidak umum. Ada yang terbang di udara, ada yang mengubah-ubah wujudnya dan ada pula yang menjadi raksasa setinggi bukit. Tidak jarang dari mereka yang melepaskan ajian berupa api yang menghancurkan seperti bom, dan pusaka yang kekuatannya bisa menguncang daratan. Pertempuran pun tidak lagi di satu tempat, karena banyak dari para kesatria yang memilih bertarung di tempat lain – itu karena mereka bisa terbang. Semua kemampuan itu mereka keluarkan hanya demi mengalahkan musuhnya lebih cepat.

Mendapati lawan yang sedemikian tangguhnya, Waniharti pun mulai mengeluarkan kesaktian yang selama ini ia simpan. Dengan kesaktiannya itu, Waniharti sengaja berdiri di tengah-tengah medan pertempuran. Ia lalu tertawa keras dan segera mengubah dirinya menjadi raksasa setinggi bukit dengan rambut yang berpijar seperti api. Tak lama kemudian ia mengangkat tangannya lalu dengan kesaktiannya itu ia bisa menarik benda angkasa (meteor) untuk dijatuhkan ke arah pasukan kerajaan Gunawarti. Dengan kemampuan itu, Waniharta banyak menumbangkan lawannya. Ada yang tewas dan tak sedikit pula yang terluka parah.

war-knight

Dengan kesaktian seperti itu, keadaan segera berubah. Waniharti dan pasukannya sudah berada di atas angin. Tapi ketika raja Suminarwi menggunakan pusaka Hildar dalam pertempuran itu, kesaktian Waniharti perlahan-lahan terasa hambar. Hal itu juga disadari oleh Waniharti sendiri. Entah kenapa kekuatan dan kesaktian yang ia miliki seperti dihisap oleh pusaka Hildar itu. Dan akhirnya keadaan itu membuat Waniharti kian terdesak dan akan segera kalah. Nah, disaat itulah ia teringat dengan pesan dari junjungannya; si raja kegelapan, bahwa tuannya itu akan memberikan bantuan jika dirinya mau menggunakan pusaka Hildar yang berwarna hitam.

Singkat cerita, Waniharti segera menggunakan pusaka Hildar yang telah ia curi dari ruang pusaka kerajaan Gunawarti. Atas petunjuk dan mantra dari raja kegelapan, ia lalu mengaktifkan pusaka sakti itu. Niatnya adalah untuk bisa membuka pintu antar dimensi agar pasukan dari kegelapan hadir membantunya. Bahkan jika perlu tuannya itu juga hadir membantunya. Dan memang tak lama kemudian terdengar suara menggelagar dari tengah barisan pasukan Waniharti. Ada kilatan cahaya yang jatuh dari langit dan membentuk kumparan energi bulat berwarna putih kehitaman di atas tanah. Tak lama kemudian, terbukalah sebuah pintu (portal) antar dimensi, khususnya dimensi tempat tinggal serdadu setan bawahan raja kegelapan.

Suasana pertempuran mendadak terhenti dengan kejadian itu. Semua orang bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi. Dan semuanya semakin terkejut pada saat terbukanya portal dimensi itu. Karena dari balik portal itu muncullah ribuan pasukan dengan tampang menyeramkan. Pasukan itu dalam bentuk dan ukuran yang beragam. Ada yang berpakaian zirah lengkap layaknya kesatria manusia yang gagah rupawan, tapi ada pula yang hanya mengenakan cawet (semacam celana dalam) tanpa alas kaki (nyeker) dengan wajah yang sangat menyeramkan. Semua pasukan yang baru muncul itu langsung melakukan penyerangan yang sangat brutal. Dan pada waktu tertentu mereka bahkan tak mempedulikan apakah yang ada di hadapannya itu musuh atau justru kawannya sendiri (anak buah Waniharti). Semuanya mereka habisi dengan serangan yang mematikan.

Sungguh, keadaan di medan pertempuran semakin aneh, menyeramkan dan di luar kebiasaan. Banyak kesaktian yang asing yang dikeluarkan saat itu. Dan karena mendapat bantuan dari raja kegelapan, pihak Waniharti gantian memimpin kendali pertempuran. Pasukan raja Suminarwi kian terpojok, bahkan perisai pertahanan kota yang tercipta dari kesaktian pusaka Hildar pun berhasil ditembus. Dan segera saja kota kerajaan itu di serang habis-habisan dan dirusak oleh pasukan raja kegelapan. Banyak penduduk yang dibantai, dan keadaan saat itu jadi sedemikian rumit. Bahkan masalah pun semakin bertambah, karena ternyata pasukan setan itu mampu mengubah-ubah wujudnya menjadi pasukan kerajaan Gunawarti. Ini sangat mempersulit pasukan raja Suminarwi, karena tidak semua pasukannya punya kemampuan mata ketiga untuk mendeteksi musuh yang menyamar.

Melihat keadaan sudah semakin parah seperti itu, raja Suminarwi lalu kembali menggunakan pusaka Hildar untuk melakukan perlawanan. Tapi karena begitu besar kekuatan musuh yang harus dihadapi, tak banyak yang bisa di lakukan. Saat itu ia hanya bisa menarik kembali pusaka Hildar yang berwarna hitam yang saat itu di pegang oleh Waniharti. Sementara pintu antar dimensi yang sudah terbuka tak bisa ia tutup meskipun pusaka Hildar yang berwarna hitam sudah ia pegang. Ternyata saat itu musuh pun sudah tahu apa yang harus mereka lakukan saat menghadapi kesaktian pusaka Hildar yang berwarna biru itu. Dan saat akan digunakan sekali lagi oleh raja Suminarwi, raja kegelapan yang ternyata bernama Durwaka itu akhirnya turun gelanggang. Dia adalah sosok yang milyaran tahun sebelumnya pernah membuat masalah besar di seluruh dunia [silahkan baca: Kirasadatu: Asal usul kesatria akhir zaman]. Dengan kesaktiannya, ia mampu mencegah Suminarwi menggunakan kesaktian dari pusaka Hildar warna biru itu dengan langsung menyerangnya dari jarak jauh. Sehingga Suminarwi tak sempat membacakan mantra untuk mengaktifkan pusaka itu.

Dengan munculnya raja kegelapan bernama Durwaka itu, hasil pertempuran langsung berubah. Kesaktiannya jelas berada di atas semua peserta perang saat itu. Tidak ada seorang pun yang mampu menandingi kesaktian Durwaka. Hingga pada akhirnya kemerdekaan manusia yang hidup pada saat itu sudah berada di ujung tanduk. Orang-orang yang merdeka akan segera tewas atau dijadikan budaknya raja kegelapan. Terlebih entah mengapa dua pusaka Hildar yang tersisa justru tiba-tiba menghilang entah kemana. Raja Suminarwi pun tak bisa berkata apa-apa lagi, sebab ia pun bingung dengan kejadian itu. Apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa dalam kondisi yang sangat genting seperti saat itu justru pusaka andalannya menghilang entah kemana? Berkali-kali ia mencoba memanggil atau mendeteksi keberadaannya, tetap saja tak diketahui. Ini jelas bisa membuat putus asa semua orang.

Di tengah-tengah kebingungan itu, tiba-tiba muncullah sosok yang tak dikenal tapi memancarkan aura positif yang sangat kuat. Kehadirannya serasa memberikan harapan besar bagi pasukan kerajaan Gunawarti. Dan ternyata sosok tersebut adalah seorang utusan Tuhan yang bernama Nabi Khidir AS. Beliau lalu memberi nasehat dengan berkata; “Wahai manusia yang beriman, tetaplah bersabar dan berserah dirilah hanya kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Semua yang terjadi saat ini hanya atas izin dan kehendak-Nya. Saat ini kalian sedang di uji tentang keimanan dan sikap berserah diri kepada-Nya. Jangan ragu akan kekuasaan dan kasih sayang-Nya. Teruslah berjuang dan tetaplah berdoa. Niscaya Dia akan sudi membantu kalian”

Setelah mengatakan itu, sang Nabi pun menghilang. Lalu sebagai raja yang bijak, Suminarwi langsung memahami bahwa mereka harus segera berdoa kepada Tuhan untuk memohon perlindungan-Nya. Secara bergantian, ia dan pemimpin pasukannya duduk semedhi untuk mengheningkan cipta dan berserah diri. Memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk membantu mereka dalam menghadapi musuh yang jahat itu. Dan akhirnya Tuhan Sang Penguasa Jagat pun memerintahkan seorang utusan-Nya untuk turun ke Bumi. Utusan tersebut adalah malaikat yang bernama Tarasyar`i. Dan ternyata, kenapa ketiga pusaka Hildar itu tiba-tiba menghilang saat dibutuhkan, itu karena sudah diambil oleh malaikat Tarasyar`i ini. Hal itu merupakan bagian dari ujian untuk raja Suminarwi dan pasukannya, tentang apakah mereka hanya mengandalkan benda pusaka itu atau Tuhan pemilik setiap pusaka? Karena bagaimanapun juga, segala sesuatu itu adalah milik-Nya, dan sikap berserah diri kepada Tuhan adalah hal yang utama dalam hidup ini.

Ya. Ketika malaikat Tarasyar`i muncul di tengah-tengah pertempuran, seluruh pasukan dibawah komando Waniharti dan raja kegelapan Durwaka pun langsung terdiam. Mereka merasakan aura dan energi yang sangat besar dan itu jelas di atas kemampuan mereka. Bahkan Durwaka sendiri langsung tahu bahwa sosok malaikat itu bukanlah tandingannya. Ia pun tak mau babak belur seperti dimasa lalu, saat berhadapan dengan malaikat itu dalam pertempuran besar di zaman kedua manusia (Purwa Naga-Ra) – di sekitar Gurun Gobi sekarang. Karena itulah, sebelum celaka ia langsung raib melarikan diri.

Kini keadaan berbalik ke pihak kerajaan Gunawarti. Dengan kehadiran malaikat Tarasyar`i itu, semua kekuatan Waniharti dan pasukannya segera di lucuti. Mereka yang berasal dari dimensi lain pun diperintahkan untuk kembali ke dimensi mereka sendiri. Pintu dimensi yang berhasil dibuka oleh Waniharti pun – dengan menggunakan kekuatan dari pusaka Hildar – segera di tutup. Keadaan menjadi tenang kembali, dan sebelum pergi, malaikat Tarasyar`i pun sempat berpesan. Katanya: “Sesungguhnya apa yang terjadi saat ini bukanlah yang terakhir. Akan ada berulang kali yang seperti ini, di setiap periode zaman manusia. Di masa yang akan datang, akan ada orang yang berhasil mendapatkan pusaka Hildar, khususnya yang berwarna hitam. Tujuannya bukan untuk kebaikan, tetapi justru untuk kejahatan dengan membuka pintu dimensi dan mengundang pasukan setan. Dengan kekuatan itu, ia bisa menimbulkan keributan dan bencana besar di tengah-tengah kehidupan manusia. Sehingga waspadalah dan teruslah mempersiapkan diri kalian”

Semua yang mendengarkan hal itu tak bisa berkata apa-apa. Mereka tahu bahwa mungkin mereka tidak akan mengalaminya, tapi anak keturunan mereka pasti menghadapinya. Nah di tengah-tengah pertanyaan dan kecemasan itu, malaikat Tarasyar`i pun kembali berkata; “Tapi ketahuilah! bahwa di saat masalah yang sama dengan sekarang ini muncul, maka akan ada seorang kesatria yang memimpin kemenangan. Ia akan memohon kepada Tuhan untuk diturunkan bantuan dalam menghadapi kegelapan. Dan nanti, di suatu akhir zaman, akan hadir sosok kesatria utama yang sangat dirindukan. Ia tak dikenali di Bumi tapi sangat dipuja di langit. Semua orang akan tunduk kepadanya. Dialah sosok yang akan memimpin pasukan besar dalam perang yang menggucangkan alam semesta”

Mendengar penjelasan malaikat itu, semua orang langsung tersenyum. Mereka seperti mendapatkan sesuatu yang membahagiakan, yang juga merupakan harapan besar di masa depan. Bahwa asalkan anak keturunan mereka tetap berpegang teguh kepada keagungan Tuhan, mereka akan mendapatkan bantuan.

5. Penutup
Setelah mengatakan pesan terakhir itu, malaikat Tarasyar`i langsung raib dari muka Bumi. Tinggallah raja Suminarwi dan pasukannya untuk menyelesaikan masalah yang timbul karena keserakahan Waniharti. Siapa pun yang menyerahkan diri diberi ampunan, asalkan mereka bersedia membangun kembali apa yang sudah mereka hancurkan. Terkecuali Waniharti, ia harus menghadapi hukuman mati atas perbuatannya. Setelah di eksekusi, jasadnya ditanam di suatu tempat yang jauh dan sangat dirahasiakan.

Waktu terus berlalu dan keadaan bisa kembali normal seperti sedia kala. Kerajaan Gunawarti bisa kembali dalam keadaan harmonis dan sejahtera. Begitu pula kerajaan lain yang sebelumnya menjadi jajahan Waniharti. Bahkan banyak pula dari kerajaan itu yang memutuskan untuk bergabung dengan kerajaan Gunawarti sebagai satu kesatuan wilayah. Raja Suminarwi pun mengabulkan permintaan itu, dan setiap kerajaan yang bergabung diberikan otonomi daerah serta bebas mengatur urusannya sendiri asalkan tetap menginduk kepada kerajaan Gunawarti.

Lalu, pada saat ingin turun tahta, raja Suminarwi kedatangan seorang tamu agung. Beliau adalah Nabi Khidir AS. Saat itu beliau menyampaikan kabar bahwa mereka diperintahkan untuk pindah ke dimensi lain. Tapi sebelum itu, harus ada dari kerabat kerajaan, tepatnya anak keturunnya yang mendirikan kerajaan baru di sebelah barat. Dan diputuskanlah anak tertua yang bernama Sasiharwi lah yang menjalan tugas itu. Ia bisa menyusul – untuk pindah dimensi – setelah usai menjalankan tugas sebagai raja di kerajaan baru itu. Dan satu syarat lainnya jika ia ingin berpindah dimensi, maka ia pun harus sudah menurunkan anak yang akan meneruskan garis silsilah raja-raja dari kerajaan Gunawarti. Kerajaan baru itu lalu diberi nama Vandiraya, yang berarti kejayaan yang terus bersinar.

Singkat cerita, semua yang diajarkan oleh Nabi Khidir AS untuk bisa pindah dimensi telah dilaksanakan. Bagi yang berkenan mereka langsung melakukannya dengan tekun. Mereka saling membantu jika ada yang merasa kesulitan. Dan ketika matahari akan terbenam (magrib) di hari yang sudah ditentukan, raja Suminarwi dan semua yang mengikutinya berpindah dimensi, tepatnya ke dimensi ke 20 (Wiltar). Tapi menjelang kepindahan itu, maka berdasarkan petunjuk dari Nabi Khidir AS, raja Suminarwi segera mewariskan tiga pusaka Haldir kepada anak tertuanya yang bernama Sasiharwi. Dengan pusaka Haldir yang sudah berada di tangannya dan atas izin Tuhan, maka kerajaannya nanti bisa hidup makmur dan sejahtera. Tapi jika sampai salah satu dari ketiga pusaka itu hilang atau dicuri, maka akan datanglah malapetaka.

Dan waktu pun berlalu selama jutaan tahun. Hingga pada akhirnya satu persatu dari ketiga pusaka Haldir itu menghilang. Ada yang memang menghilang, tapi ada pula yang sengaja dihilangkan alias dicuri. Nah yang dicuri itu adalah pusaka Haldir yang berwarna hitam, yang memiliki kemampuan untuk membuka pintu antar dimensi. Hingga saat ini, sempat beberapa kali muncul masalah yang serupa dengan yang terjadi di kerajaan Gunawarti dulu. Semuanya bersumber dari pusaka Haldir yang berwarna hitam yang selalu di salahgunakan. Itu pun sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh malaikat Tarasya`i dulu. Pusaka Haldir berwarna hitam itu akan sering menjadi sumber bencana bila di salahgunakan. Dan kini pusaka Haldir itu kembali hilang entah kemana. Suatu saat nanti pasti akan digunakan, yang tentunya untuk tujuan yang tidak baik. Karena memang begitulah sebelumnya, hanya untuk mengundang pasukan kegelapan dan menyebabkan malapetaka di seluruh dunia.

Akhirnya, apa yang disampaikan di artikel ini hanya untuk mengingatkan bagi para pembaca sekalian. Percaya atau tidak percaya itu menjadi hak dan keputusan Anda sendiri. Semua kembali pada diri masing-masing. Kami tidak akan mencampuri atau memaksanya, karena tugas kami disini hanyalah menyampaikan dan mengingatkan saja. Percaya syukur, gak percaya ya juga tidak apa-apa. Dan khusus bagi yang percaya, maka kita semua harus lebih mawas diri dengan sikap yang selalu eling lan waspodo. Tingkatkan pula kemampuan diri sejati kita, yang sesungguhnya telah Tuhan berikan sejak lahir. Karena sepertinya peristiwa yang sudah diperingatkan oleh malaikat Tarasyar`i – mengenai perang kosmik itu – akan terjadi di akhir zaman ini. Tanda-tandanya sudah semakin jelas dan mulai terasa nyata.

Semoga kita selalu yakin dan berlindung hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya dengan begitulah, kebaikan dan keselamatan akan menjadi kenyataan.

Jambi, 07 Oktober 2016
Harunata-Ra

One thought on “Haldir: Pusaka Sakti Penyebab Malapetaka

    […] Sosok yang bernama Durwaka itu tak menunjukkan penampilan seorang raja kegelapan sama sekali. Ia juga tak menyeramkan seperti bayangan orang-orang selama ini tentang si raja setan. Penampilannya justru seperti seorang raja yang rupawan, lengkap dengan kewibawaan yang tinggi. Tapi jika diperhatikan dengan seksama menggunakan mata batin, sosok Durwaka itu jelas pribadi yang licik dan sangat jahat. Sebagus apapun penampilannya, maka bagi yang waskita akan tetap terlihat buruk. Dan memang benar adanya, bahwa sosok Durwaka itu adalah sosok raja kegelapan yang di periode zaman sebelumnya pernah membuat gaduh seluruh dunia. Ia dan pasukannya pernah mencoba untuk menguasai Bumi dan segala isinya. [Baca: Haldir: Pusaka sakti penyeban malapetaka]. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s