Ilmu Sastra Cetha: Warisan Rahasia Nabi Adam AS

Posted on Updated on

ilmu-kunoWahai saudaraku. Ada banyak ilmu tingkat tinggi yang sayangnya sudah hampir tak diketahui oleh banyak orang sekarang. Dan di antara ilmu yang hampir punah itu adalah ilmu yang disebut dengan nama Sastra Cetha. Dari sudut pandang bahasa, kata “shastra/sastra” itu berarti pengetahuan, sementara kata “cetha” berarti jelas atau terang benderang. Sehingga Sastra Cetha bisa diartikan sebuah ilmu pengetahuan yang jelas atau terang benderang.

Namun bila dilihat dari sudut pandang sifatnya, maka ilmu Sastra Cetha ini merupakan ilmu tingkat tinggi yang tak tersurat (samar, goib) secara langsung. Sastra Cetha sendiri adalah sebuah informasi tak terbatas yang sudah atau belum digambarkan oleh alam semesta secara jelas, begitu samarnya sehingga sampai tidak dapat terlihat bila kita menggunakan daya penangkapan yang terlalu rendah. Oleh sebab itu, yang mendapatkan kejelasan disini sebenarya adalah orang yang telah menguasai ilmu purba ini dan setelah ia bisa mengetahui apa yang tersembunyi dibalik yang nyata.

Ya. Sebenarnya ilmu ini sudah ada sejak periode awal kehidupan manusia, terlebih pada masa kehidupan Nabi Nuh AS (zaman Purwa Naga-Ra/zaman kedua manusia). Hanya saja pada masa itu namanya bukanlah Sastra Cetha, tapi dengan nama yang lain yang sesuai dengan bahasa mereka pada waktu itu. Orang yang pertama kali mengajarkan ilmu ini adalah Ayahanda Nabi Adam AS sendiri. Saat itu beliau ajarkan langsung kepada 10 pasang anaknya, lalu di waktu yang lain kepada beberapa dari cucunya. Selanjutnya ilmu ini terus di wariskan pada orang-orang tertentu dari waktu ke waktu dan namanya berubah-ubah mengikuti bahasa di zamannya. Hal ini telah berlangsung selama milyaran tahun ini. Hingga pada akhirnya sampai juga di periode zaman kita (Rupanta-Ra/zaman ke tujuh manusia) dengan nama Sastra Cetha. Namun kini orang yang bisa menguasai atau bahkan hanya sekedar mengetahuinya saja hampir tidak ada.

Sungguh, ilmu Sastra Cetha ini termasuk dalam golongan ilmu tingkat tertinggi, karena di antara kelebihannya adalah bisa membuat seseorang mondar-mandir ke dimensi lain dan bisa pula mengetahui apa yang sudah, sedang dan yang akan terjadi. Tentunya apapun itu hanya atas izin dari Tuhan. Dan untuk bisa menguasainya, maka seseorang harus menempuh berbagai persyaratan atau perilaku khusus. Dalam hal ini berarti suksma, jiwa dan rahsa-nya juga harus bisa manunggal (menyatu) terlebih dulu. Adapun di antara caranya adalah sebagai berikut:

1. Ngrowot : Hanya makan sayuran tanpa garam atau gula dan cukup minum air putih.
2. Mutih : Hanya makan nasi putih tanpa lauk pauk yang berupa apapun juga, termasuk garam dan gula. Boleh minum air, itu pun harus terus dikurangi volumenya.
3. Sirik : Menjauhkan diri dari segala macam urusan keduniawian.
4. Ngebleng : Tidak makan atau minum apa-apa sama sekali (berpuasa) dan tidak tidur selama kurun waktu tertentu. Disini seseorang juga harus melakukan semedhi (meditasi).
5. Patigeni : Tidak makan atau minum apa-apa sama sekali (berpuasa), di tambah dengan tidak tidur dan tidak terkena cahaya (api, matahari) dalam kurun waktu tertentu. Lalu selama melakukan patigeni ini seseorang juga terus ber-semedhi (meditasi).
6. Tapa brata : Setelah ke lima laku tirakat di atas dijalani dengan tekun, selanjutnya seseorang baru akan siap melakukan tapa brata secara terus menerus tanpa makan, minum, dan bergerak di suatu tempat khusus – biasanya di alam bebas seperti goa, puncak gunung, hutan, dan air terjun. Pada saat semedhi itulah, jika ia berhasil maka seseorang akan mendapatkan ilham atau wisik goib. Petunjuk itu akan membimbingnya untuk melakukan sesuatu agar bisa berhasil menguasai ilmu Sastra Cetha ini.

Selain itu, ada beberapa hal yang juga harus dilakukan apabila seseorang ingin berhasil menguasai ilmu ini. Semuanya harus dilakukan dengan kerendahan hati dan penuh kesadaran, alias tanpa ada paksaan atau karena ajakan seseorang. Adapun di antara yaitu:

1. Tapaning jasad
Sikap ini berarti mengendalikan/menghentikan daya gerak tubuh atau kegiatannya. Disini seseorang seharusnya jangan merasa iri, dengki, sakit hati atau menaruh dendam kepada siapapun. Segala sesuatu itu, baik ataupun buruk, harus bisa diterima dengan kesungguhan hati dan sikap yang ikhlas.

2. Tapaning hawa nafsu
Sikap ini berarti mengendalikan hawa nafsu atau sifat angkara murka yang ada di dalam diri pribadi. Pada tahap ini seseorang itu hendaknya selalu bersikap sabar, ikhlas, murah hati, berperasaan mendalam (tenggang rasa, welas asih), suka memberi maaf kepada siapa pun, juga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, ia juga sudah bisa memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh, dan berusaha sekuat tenaga kearah ketenangan (heneng), yang berarti tidak dapat diombang-ambingkan oleh siapa atau apapun juga, serta berada dalam kewaspadaan (hening).

3. Tapaning budi
Sikap ini berarti selalu mengingkari perbuatan yang hina, tercela dan segala hal yang bersifat tidak jujur (munafik). Pada tahap ini, seseorang itu harusnya sudah berbudi pekerti yang luhur, memiliki sopan santun, sikap rendah hati dan tidak sombong, tidak pamer dan pamrih, serta selalu berusaha untuk bisa berbuat baik kepada siapapun.

4. Tapaning suksma
Sikap ini berarti memenangkan jiwanya. Jadi pada tahapan ini hendaknya kedermawanan seseorang itu diperluas. Pemberian sesuatu kepada siapapun juga harus berdasarkan keikhlasan hati, seakan-akan sebagai persembahan khusus, sehingga tidak mengakibatkan kerugian bagi siapapun. Singkat kata, ia tidak lagi pernah menyinggung perasaan orang lain.

5. Tapaning cahyo
Sikap ini berarti seseorang itu selalu eling lan waspodho (ingat dan waspada). Jangan sampai lalai atau mabuk, karena keadaan cemerlanglah yang dapat mengakibatkan penglihatan yang serba samar (tidak jelas) dan saru (tidak baik, tidak sopan, tidak tepat, tercela) menjadi jelas. Lagi pula setiap kegiatannya harus selalu ditujukan untuk kebahagiaan dan keselamatan umum. Jauh dari urusan materi duniawi.

6. Tapaning gesang
Sikap ini berarti selalu berusaha sekuat tenaga dan hati-hati untuk bisa menuju pada kesempurnaan hidup. Hal ini bisa terjadi, ketika seseorang sudah melalui ke lima jenis tapa sebelumnya. Dan ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa disini adalah yang paling utama, mengingat hanya dari Tuhanlah kebenaran yang mutlak itu berasal.

Wahai saudaraku. Untuk berhasil, maka laku batin tersebut harus dilandasi dengan perbuatan dan perilaku yang baik, budi pekerti yang luhur, hati yang suci bersih, dan dengan selalu manembah atau mendekatkan diri kepada Gusti; Tuhan.

kota kuno

Dan perlu diketahui, bahwa setiap pelaku kebatinan akan mengalami beberapa pengalaman, ada yang enak dan ada pula yang dirasa berat. Semua itu adalah bumbu-bumbu kehidupan dalam menapaki jalan Ilahi. Dan pengalaman puncak pelaku kebatinan/spiritualis adalah kenyataan bahwa dirinya sebagai kawulo (hamba) yang berada dalam hubungan yang serasi dengan Gusti (Tuhan). Istilah populernya adalah: Jumbuhing kawulo Gusti (hubungan serasi hamba dan Tuhan), Manunggaling kawulo Gusti (manunggalnya hamba dan Tuhan) dan Pamore kawulo Gusti (berpadunya hamba dan Tuhan). Yang intinya berarti seorang anak manusia itu telah berada di dalam kehidupan sejatinya dalam lindungan keagungan Tuhan.

Wahai saudaraku. Selain yang disebutkan di atas, maka ada pula hal yang penting dan harus di lakukan oleh pribadi jika ia ingin menguasai ilmu Sastra Cetha. Ia harus mampu mempersatukan lima sifat utama yang luhur ke dalam dirinya sendiri. Di antaranya yaitu:

1. Ngesti Aji (mencari ilmu pengetahuan suci)
Artinya, seseorang harus bijaksana dan mahir dalam segala ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan suci (agama).

2. Ngesti Giri (mencari kekuatan seperti gunung)
Artinya, seseorang harus kuat iman, teguh pendirian, tangguh dalam menegakkan kebenaran, serta tabah dan tegar dalam menghadapi segala kendala ataupun penderitaan.

3. Ngesti Jaya (mencari kemenangan)
Artinya, seseorang dapat menundukkan musuh-musuhnya dan segala sifat-sifat buruk yang ada di dalam dirinya, serta sempurna lahir dan batin. Disinilah pula seseorang harus memperhatikan kemampuan olah raga (ilmu kanuragan) dan olah batin (ilmu kesaktian) nya demi kebenaran dan keadilan.

4. Ngesti Nangga (mencari ketangguhan dalam rasa dan perasaan)
Artinya, seseorang harus tangguh dan tanggap dalam segala keadaan serta tahu membawa diri, sehingga tidak mudah terjerumus dalam kehancuran dan kehinaan atau hal-hal yang merugikan.

5. Ngesti Priyambada (senang berbagi kebaikan)
Artinya, seseorang selalu memberikan rasa bahagia, ketenteraman dan kedamaian lahir dan batin kepada orang-orang yang ada disekitarnya atau masyarakat.

*****

Wahai saudaraku. Setelah seseorang mampu melakukan semua laku yang disebutkan di atas, barulah ia akan memiliki kebijaksanaan. Ini adalah hal yang mendasar bagi siapapun yang ingin menguasai ilmu Sastra Cetha. Sebab kebijaksanaan adalah pengalaman langsung yang mewujud setelah hambatan-hambatan bagi perwujudannya disingkirkan. Upaya orang yang mencari kebijaksanaan harus diarahkan untuk menyingkirkan hambatan-hambatan, untuk menghilangkan kecenderungan avidya atau kedunguan yang membutakan. Kebijaksanaan ini selalu ada, karena kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang harus diraih dari luar diri kita. Apa yang harus kita lakukan adalah membuka diri pada penyingkapan ruhani dan spiritual. Langkah-langkah di atas adalah caranya. Karena pemahaman sehari-hari yang didasari oleh keinginan-keinginan dan prasangka, tak akan bisa menyingkapkan realitas yang sebenarnya. Ketenangan pikiran dan kemurnian kehendak serta pengingkaran ego akan membawa kita pada pencerahan, kebijaksanaan dan cahaya terang yang akan membawa kita pada kesejatian hidup. Inilah keabadian hidup, kepenuhan purna kemampuan kita untuk mencinta dan mengalami kebijaksanaan.

Nah, setelah melakukan dengan tekun semua laku yang diuraikan di atas, barulah seseorang siap untuk menguasai ilmu Sastra Cetha. Selanjutnya tinggal mengetahui mantra khusus dari ilmu ini dan satu langkah terakhir yang harus di lakukan. Dengan begitu seseorang tentu akan bisa menguasai ilmu Sastra Cetha ini. Tapi meskipun yang terakhir, itu bukan berarti mudah. Justru yang terakhir ini juga sangat sulit dan penuh misteri. Tahap ini adalah kunci untuk bisa menguasainya. Dan kunci itu selalu menjadi rahasia yang tak bisa disampaikan secara sembarangan. Hanya bagi kalangan tertentu yang memang berhak dan mampu menguasainya.

“Belajarlah dari tanah sendiri. Belajar banyaklah dari alam semesta ini. Lalu memohonlah kepada Tuhan dengan belajar dari para leluhur Nusantara yang waskita. Karena dimana Bumi di pijak, di situlah langit di junjung”

Semoga ada di antara kita yang mendapatkan kesempatan untuk bisa memahami dan menguasai ilmu ini sepenuhnya.

Jambi, 02 Oktober 2016
Harunata-Ra

(Disarikan dari berbagai sumber dan diskusi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s