Kirasadatu: Asal Usul Kesatria Akhir Zaman

Posted on Updated on

knigh-battleWahai saudaraku. Semua yang lahir dan hidup di dunia ini tidak bisa lepas dari hukum sebab-akibat. Pikiran, ucapan dan tindakan kita merupakan benih tanaman yang akan dipanen jika sudah waktunya. Sehingga tak ada dharma (keutamaan) yang lebih besar selain kebenaran. Dan Dia Yang Maha Esa itu adalah kebenaran yang mutlak yang ada dimana-mana. Janganlah menghina Diri-Nya dalam dirimu dengan menyimpang dari kebenaran.

Ya. Perang antara kebaikan dan kejahatan selalu terjadi sejak dahulu kala. Demikian pula yang terjadi dengan peperangan antara kebaikan dan kejahatan di dalam diri manusia. Karena itu, menjaga keseimbangan hidup dan membuang ego harus terus di lakukan agar kesadaran tetap terjaga.

Untuk mempersingkat waktu, mari ikuti penelusuran kisah berikut ini:

1. Keseimbangan dan kekacauan zaman
Setelah banjir besar dan Bumi tenggelam dalam mahapralaya pada masa Nabi Nuh AS, semuanya berada dalam ketenangan yang sempurna. Semua unsur berada tenang dalam keseimbangan, tak ada gejolak. Ini berlangsung selama ribuan tahun dan membuat semua makhluk di Bumi hidup bahagia dan sejahtera. Tapi setelah 100.000 tahun, maka ada waktunya keseimbangan itu terganggu. Energi positif dan energi negatif saling bersaing untuk bisa menguasai yang lain. Hingga pada akhirnya yang negatiflah yang dominan ada dimana-mana.

Hari terus berlalu, kian lama banyak orang yang terlambat menyadari tentang mengapa sifat serakah, keangkuhan, dan kemarahan memenuhi dirinya, sehingga nurani ketuhanannya terkesampingkan. Padahal pikiran, ucapan dan tindakan adalah benih yang akan berkembang menjadi batang, cabang, ranting, daun, bunga dan buah pada waktunya nanti. Sesuatu yang telah terjadi tidak dapat ditarik kembali. Tapi manusia telah dibekali hati, sehingga tidak perlu bertindak reaktif menuruti nafsunya. Itulah yang membedakan antara manusia dengan makhluk yang lebih rendah tingkat kesadarannya (hewan dan tumbuhan).

“Mereka yang melanggar etika dan menuruti nasfsunya belum mencapai derajat kemanusiaan. Dia masih bersifat asura dan bisa lebih jahat dari asura itu”

Tapi di pertengahan periode zaman Purwa Naga-Ra (zaman kedua manusia) itu, orang-orang menjadi tidak adil karena keangkuhannya. Rasa angkuh membuat orang menjadi keras kepala, merasa benar sendiri. Sifat membangkang menjadi mayoritas dalam keseharian mereka. Dan pikirannya saat itu tetap tak dapat memutuskan yang terbaik, karena pikiran mereka selalu diliputi keraguan. Sebuah jawaban akan disangkal oleh yang lainnya.

2. Awal kisah
Kisah ini bermula ketika ada seorang raja dari kerajaan Humatangu (di sekitar wilayah Bombai, India Selatan sekarang) ingin moksa. Raja tersebut bernama Girmani. Ia berasal dari kaum yang bernama Megalits. Setelah merasa cukup dengan kehidupan duniawinya, Girmani lalu undur diri dari tugas negara sebagai raja untuk mengasingkan diri. Ia lalu melakukan perjalanan ke arah selatan untuk bisa menemukan lokasi yang tepat untuk bertapa brata. Setelah berjalan cukup lama, sampailah ia di Nusantara, tepatnya di sebuah gunung raksasa yang bernama Muji. Gunung ini letaknya sekarang di sekitar propinsi Jambi. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar ±11.676 Mdpl. Dan karena ketinggiannya itu, maka pada puncak gunung ini terhampar luas salju yang indah.

Di gunung Muji ini Girmani lalu bertapa brata selama ±250 tahun. Saat bertapa, ia di datangi oleh seorang malaikat yang bernama Wasnimun. Malaikat ini lalu memberikan sebilah pedang pusaka yang bernama Srugalawani. Selain bisa menambah kesaktian, maka pusaka ini berfungsi sebagai tanda jika ada orang yang mampu memegang dan mengangkatnya, maka ia akan menjadi raja yang hebat.

pedang-2

Setelah peristiwa itu, Girmani turun gunung dan berjalan menuju ke arah selatan. Disana ada sebuah kerajaan yang bernama Swarhumi. Sesampainya di kerajaan itu, Girmani berjumpa dengan seorang pemuda biasa, yatim piatu, dan sangat miskin. Pemuda itu sebenarnya bernama lengkap Hulagani Amarti, tapi karena ia sangat miskin, maka orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Kamin yang berarti si miskin. Singkat cerita, Girmani lalu mengajak sang pemuda untuk berguru kepadanya. Keduanya lalu menuju ke sebuah hutan yang sangat lebat di lereng gunung Muji untuk menyepi dan berlatih berbagai keahlian. Setibanya di dalam hutan yang dimaksud, Girmani lalu membangunkan sebuah rumah. Dan karena kesaktiannya, maka hanya dalam sekejap mata saja Grimani bisa membangun sebuah tempat tinggal bagi mereka. Di tempat ini Kamin lalu berlatih ilmu untuk terbang, menghilang, mengubah wujud dan mengendalikan elemen alam selama ±50 tahun.

Kisah pun berlanjut. Suatu ketika Girmani memerintahkan Kamin untuk berlatih khusus. Kali ini ada tiga macam latihan yang harus dilalui oleh sang pemuda. Di antaranya:

1. Selama tujuh bulan belajar kesabaran.
2. Selama 7 hari 7 malam berpuasa.
3. Bertapa di bawah air terjun selama 2 hari 2 malam.

Setelah berlatih ketiga hal di atas, Kamin bisa mendapatkan kesaktian. Dengan kesaktian itu, ia lalu di perintahkan oleh gurunya untuk memegang pusaka pedang Srugalawani. Tapi, meskipun sudah lama berlatih bermacam keahlian, di tambah dengan melakukan ketiga latihan yang terakhir, Kamin tetap belum mampu memegang pedang pusaka itu. Kamin lalu bertanya kepada gurunya mengapa ia masih belum mampu? Di jawab oleh sang guru dengan mengatakan bahwa ia masih kurang sabar, punya sifat angkuh, dan tetap saja mengejar kekuasaan dan materi. Untuk itu, ia masih harus melatih dirinya lagi dengan bertapa selama 7 hari 7 malam (tanpa makan dan tidur). Setelah itu, ia juga harus malakukan tapa bisu (tidak berbicara) selama 7 hari 7 malam.

Setelah melakukan tapa brata di atas, sekali lagi Kamin mencoba untuk memegang pedang pusaka milik gurunya itu. Kali ini ia bisa memegangnya, tapi hanya sebentar saja. Mengetahui itu, Kamin kembali bertanya kepada gurunya tentang mengapa ia hanya bisa memegang sebentar saja? Di jawab oleh sang guru bahwa ia masih kurang sabar. Mendapat jawaban seperti itu Kamin masih penasaran dan ia kembali bertanya kenapa bisa begitu? Di jawab oleh sang guru dengan berkata; “Itu demi kebaikanmu sendiri. Coba kau renungkan sendiri lebih dalam”

Singkat cerita, selama 3 hari Kamin merenungkan apa penyebab utama ia tak bisa memegang pedang pusaka itu. Di hari ketiga ia baru mendapatkan jawaban. Penyebabnya adalah bahwa ia memang masih kurang sabar, belum ikhlas dan berserah diri. Setelah itu ia mencoba memegang pedang pusaka itu. Ternyata kali ini berhasil, bahkan pedang pusaka itu menyatu dengan masuk ke dalam tubuhnya. Kemudian oleh gurunya si Kamin di perintahkan untuk kembali bermeditasi selama 5 hari untuk bisa memperdalam konsentrasinya.

3. Mendirikan kerajaan
Kisah berdirinya kerajaan ini dimulai ketika Hilagani Amarti alias Kamin berhasil melakukan meditasi selama 5 hari untuk melatih konsentrasinya. Ini atas perintah dari gurunya, Girmani. Ia juga telah menyelesaikan semua tahap pelajaran dari gurunya itu selama ±50 tahun. Dan karena telah selesai belajar, Kamin di perintahkan oleh gurunya itu untuk kembali ke kerajaan yang berada di sebelah selatan gunung Muji. Ya, Kamin harus kembali ke kampung halamannya dulu. Dimana saat itu dipimpin oleh raja yang bernama Sagmrumi.

Atas perintah gurunya, di kerajaan yang bernama Swarhumi itu Kamin harus mengabdikan dirinya sebagai prajurit. Ia harus mengabdi dengan semangat dan sepenuh hatinya. Kamin mengikuti pesan dari gurunya itu. Dan setelah beberapa tahun mengabdi tanpa cacat dan karena berbagai kemampuan yang ia miliki, Kamin bisa menjadi panglima kerajaan. Saat Kamin menjadi panglima, ada perang yang harus dihadapi. Karena satu dan lain hal, waktu itu kerajaannya harus berperang dengan kerajaan yang berasal dari arah timur laut kota kerajaannya (sekarang sekitar Filipina bagian barat). Kerajaan itu bernama Dirahatu. Alasan pertempuran pada saat itu adalah karena kerajaan Dirahatu ini ingin menunjukkan kekuatan dan kehebatannya. Mereka juga ingin menguasai (menjajah) setiap sumber daya alam yang ada di kerajaan Swarhumi. Kerajaan yang pongah ini dipimpin oleh seorang raja yang bernama Juwadagni.

Perang pun terjadi selama 5 hari. Setiap kerajaan mengerahkan kekuatan maksimalnya. Kerajaan Dirahatu mengerahkan pasukan sebanyak 10.500 orang, sementara kerajaan Swarhumi mengerahkan pasukan sebanyak 10.675 orang. Perang berlangsung sengit dari hari ke hari. Hingga pada akhirnya di hari kelima, raja dari kedua kerajaan pun harus saling berhadapan. Keduanya saling bertarung satu lawan satu, begitupun para senopati dan panglimanya. Semua kemampuan telah dikerahkan. Pusaka dan kesaktian pun sudah dikeluarkan. Dan sebelum hari berganti malam, raja dari kedua kerajaan bahkan sampai tewas. Keduanya saling bunuh. Satu terkena tusukan keris, sementara yang satunya lagi tertembus tombak lawan. Saat mengetahui raja mereka telah tewas, keadaan di medan perang menjadi kacau. Tapi karena panglima kerajaan Swarhumi, yaitu Kamin masih hidup sementara lawannya yaitu panglima dari kerajaan Dirahatu tewas dibunuh Kamin, maka hasil pertempuran dimenangkan oleh kerajaan Swarhumi. Semua orang harus mengakui hasil ini. Dan begitulah aturan perang yang berlaku di zaman itu.

war-battle-2

Selanjutnya, setelah perang berakhir, masalah di dalam negeri kerajaan Swarhumi belum selesai. Pada saat itu, oleh sebab raja mereka yang bernama Sagmrumi telah wafat, maka kerajaan menjadi kacau. Mereka tidak memiliki pemimpin yang bisa mengayomi kerajaan. Namun tak lama kemudian, karena rakyat sudah percaya kepada Kamin, ditambah lagi dengan jasa-jasanya kepada negara, mereka lalu meminta ia menikahi janda dari sang raja yang bernama Murna Waniamrumi. Sang permaisuri pun setuju dengan permintaan itu. Alasannya karena ia sudah mengetahui kebaikan, kekuatan dan kesaktian diri Kamin. Selain itu, keputusan ini juga demi menyelamatkan kerajaannya dari segala perpecahan dan bencana. Dan dikemudian hari, kedua sejoli ini bisa hidup rukun dan harmonis. Cinta keduanya sangat kuat dan selalu setia.

Singkat cerita, setelah menikahi permaisuri Murna Waniamrumi, Kamin lalu dilantik menjadi raja. Pada saat ia sudah menjadi raja, gurunya yaitu Girmani berpesan bahwa kerajaannya akan maju ketika semua rakyatnya mau bermeditasi. Meditasi disini artinya mau menjalankan hidup dengan baik dan sesuai ajaran agama yang saat itu mengikuti syariat Nabi Syish AS. Dalam bahasa mereka, meditasi ini disebut dengan Suga. Selain itu, nama kerajaan juga harus diganti dengan nama yang sesuai dengan tujuan baru kerajaan mereka. Setelah dipikirkan matang-matang, pada akhirnya nama kerajaan diambil dari beberapa kata, yaitu:

1. Suga, yang berarti meditasi, disini artinya menjalani hidup dengan baik sesuai aturan (agama) yang berlaku.
2. War, yang berarti menuju atau tujuan hidup.
3. Dani, yang berarti cahaya.

Jadi, bila digabungkan dari ketiga kata di atas, maka nama kerajaan mereka menjadi Sugawardani. Dari arti perkatanya, jika digabungkan akan bermakna berjalan menuju cahaya. Cahaya disini berarti untuk saling bersabar diri agar bisa hidup menyatu (bersatu) dalam cahaya Tuhan.

4. Penduduk dan kehidupan sosial
Penduduk di kerajaan Sugawardani ini rata-rata memiliki ciri-ciri fisik yang berkulit putih kekuningan, bentuk wajah lonjong, berhidung mancung, mata berwarna kuning kehijauan, rambut bergelombang dan berwarna hitam. Para lelaki mereka biasanya memelihara kumis dan berewok, sementara rambut mereka dibiarkan panjang. Mereka juga sering mengenakan jubah dan ada pula yang memakai sorban (mirip sorbannya orang Arab). Sedangkan kaum wanitanya berambut sangat panjang (sampai pinggang atau kaki), mengenakan gelang tangan dan kaki warna-warni dan berpakaian warna-warni – mirip pakaian wanita India (pakaian Sari) tapi tak terbuka pada bagian perutnya. Kaum wanita juga mengenakan berbagai macam perhiasan dari emas atau batu mulia. Selain itu, baik laki-laki maupun wanitanya sudah mengenakan alas kaki berupa sandal atau sepatu yang terbuat dari kayu atau kulit.

Untuk pakaian perang, maka semua prajuritnya sudah mengenakan baju zirah dari bahan besi baja yang umumnya berwarna hitam. Semuanya sudah lengkap mulai dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Sementara untuk para kesatrianya, mereka bahkan sudah mengenakan baju zirah dari baja yang dilapisi dengan emas. Sangat indah dan berwibawa. Lalu untuk peralatan perangnya terdiri dari pedang (bentuknya melengkung), tombak, panah, gada, dll. Selain Busal (sejenis kuda), kendaraan yang digunakan saat perang berupa kereta perang yang terbuat dari kayu atau emas.

Saat itu, umur rata-rata penduduknya sekitar ±500 tahun. Mereka juga bertubuh tegap dengan ukuran tubuh rata-rata setinggi 13 meter, cukup tinggi untuk standar di zamannya. Lalu pada masa akhir kerajaan ini, maka jumlah penduduk laki-lakinya sekitar ±1.550.000 orang, sementara yang wanitanya berkisar antara ±880.000 orang. Dari semua penduduk itu, maka yang menjadi tentara ada sekitar 800 ribu orang. Semuanya berasal dari kaum pria dan wanita yang lulus seleksi.

Bangsa mereka terkenal sangat hebat dan sakti. Sebagian dari mereka bahkan bisa menghadirkan apa saja yang mereka inginkan. Artinya, apa saja yang ia mau maka bisa langsung terwujud. Demikian pula saat ingin menciptakan sesuatu, misalnya sebuah patung, mereka cukup membaca mantra khusus dan terciptalah patung itu sekaligus. Semua itu bisa terjadi tentu setelah melalui tapa brata yang keras. Dan memang begitulah model kehidupan di masa itu, dimana orang-orangnya masih sakti mandraguna. Namun untuk bisa memiliki kemampuan seperti itu, maka setiap orang harus bisa meninggalkan kesenangan duniawi dan bertapa brata dengan tekun. Hal ini tidak mudah, karena itulah jika ia berhasil dalam tapa bratanya, maka ia akan mendapatkan kesaktian yang luar biasa.

5. Benih-benih permusuhan dan kekacauan
Apabila sang maharaja lemah, para penjahat akan berkembang biak, peran agama menurun dan terjadi kebingungan di masyarakat. Dan semua kejahatan yang akan terjadi nanti yang berasal dari ego dan keserakahan akan membunuh banyak orang. Begitu pun dengan kerajaan Sugawardani, setelah 350 tahun memimpin kerajaan, Hulagani Amarti alias Kamin turun tahta untuk bisa mencapai moksa. Tampuk kekuasaan lalu ia wariskan kepada anak tertuanya yang bernama Duranita Gahli. Tapi ia tak lama memimpin kerajaan karena ingin segera melepaskan duniawi dengan cara mengasingkan diri ke hutan. Tahta pun ia serahkan kepada anaknya yang bernama Sudahiya Lakta. Di tangan raja muda ini, kerajaan tetap aman dan makmur.

Namun takdir tak dapat dihindari, meskipun seorang raja sangat baik hati dalam memimpin negeri, ada saja pihak yang tidak senang. Salah satunya justru dari pihak dalam istana, yaitu pamannya sendiri, adik kandung ayahnya yang bernama Kulani Wagniha. Pamannya itu bermuka dua. Di depan keponakannya ia tampak baik dan setia, tapi dibelakangnya justru punya rencana untuk menggulingkan kekuasaan keponakannya itu.

Keadaan ini berlangsung selama bertahun-tahun tanpa disadari pihak kerajaan. Selama itu pula Kulani mengatur siasat dengan melakukan berbagai cara, termasuk bersekutu dengan setan. Dan setelah 35 tahun, ia meminta izin kepada raja untuk meninggalkan istana dan jabatannya dengan alasan ingin memperdalam ilmu dan pemahaman hidup. Raja pun mengizinkan dan Kulani segera “mengasingkan diri” jauh dari kota kerajaan. Di luar istana, ditempat yang sangat tersembunyi di pedalam hutan, Kulani bukannya memperdalam ilmu agama atau merenungkan makna kehidupan ini, tetapi ia justru semakin khusyuk dalam bersekutu dengan setan yang perkasa. Setan itu bernama Durwaka. Ia pun mengajarkan agar Kulani bisa menambah kekuatan dengan cara membukakan pintu dimensi yang menjadi pembatas dunia nyata dan alam goib. Dengan terbukanya pintu itu, maka Durwaka berjanji akan mengirimkan pasukan untuk membantunya dalam merebut tahta dari anak keponakannya itu. Suatu hari nanti ini benar-benar terjadi dan perang besar pun tak bisa dihindari.

pasukan-raja-kegelapan-1-jpg

Di tempat yang lain, ada seorang pemuda yang tengah mengasingkan dirinya di tengah hutan. Namanya Kirasadatu. Ia berasal dari sebuah negeri yang terletak di arah timur kerajaan Sugawardani. Kerajaan itu bernama Mustaliya dan bertetangga dengan negerinya bangsa peri. Sesekali ia bergaul dengan bangsa Peri yang saat itu memang masih hidup berdampingan dengan manusia. Tapi karena seringnya bersama para peri yang baik budi, Kirasadatu hampir lupa perannya sebagai seorang manusia. Bahkan ia pun lupa bahwa dirinya itu adalah seorang kesatria keturunan dari para raja terdahulu.

Suatu ketika, saat ia sedang duduk menyediri di pinggir sebuah sungai, datanglah seorang kakek di dekatnya. Kakek tersebut sedikit berbasa-basi dan bertanya kepada Kirasadatu. Katanya: “Apa yang kau cari hai anak muda?” Yang dijawab oleh Kirasadatu dengan berkata; “Yang ku cari adalah kebenaran yang sejati, yang tidak mudah ditemukan”.  “Bagaimana engkau bisa menemukannya?” Lanjut sang kakek. “Dengan menjauhkan diri dari duniawi dan banyak berdoa” jawab sang pemuda.

Mendengar jawaban itu, sang kakek tersenyum. Tak lama kemudian ia berkata; “Pada hakikatnya baik pria, wanita bahkan banci adalah milik Tuhan, Sang Pemilik tunggal alam semesta. Tapi kita tidak boleh lupa tujuan manusia hidup di dunia ini adalah untuk menemukan Tuhan, yang adalah asal dan tujuan semua makhluk. Sehingga mulai hari ini kamu harus mempersiapkan diri untuk membuat dirimu pantas dihadapan Tuhan”

Mendapati kata-kata itu, Kirasadatu sempat terdiam. Ia seperti terbangun dari tidur panjangnya. Tak lama kemudian ia bertanya kepada sang kakek; “Bagaimana saya bisa menjadi pantas dihadapan Tuhan?” Yang dijawab oleh sang kakek dengan berkata; “Pertama sekali jagalah kesehatanmu, sehat jasmani dan ruhani. Kedua berpuas-dirilah terhadap apapun yang dikaruniakan oleh Tuhan kepadamu dalam rasa syukur hanya kepada-Nya. Ketiga berdoalah kepada-Nya siang dan malam dengan penuh keyakinan, tapi lakukan juga semua tugas dan pekerjaanmu sebagai seorang kesatria di tengah-tengah manusia. Tetaplah seperti itu dalam menegakkan kebenaran. Lakukan semuanya hanya dengan penuh kasih dan ikhlas semata-mata merupakan persembahan bagi-Nya. Sebab, pengorbanan dan persembahan yang tulus adalah mahkota bagi para kesatria. Berkorban demi kebajikan adalah dharmamu, kewajibanmu, bahkan tugasmu!”

Singkat cerita, setelah berbincang-bincang dengan sang kakek yang ternyata Nabi Syish AS, Kirasadatu lalu memutuskan untuk berguru pada sang Nabi. Ia sangat tekun dalam mengikuti anjuran dan bimbingan dari gurunya itu. Dan memang demikianlah takdir kehidupan terus bergulir.

Setelah 25 tahun lamanya ia mengikuti Nabi Syish AS berdakwah dan mengembara ke banyak negeri. Bersama gurunya itu, ia bisa menemukan kebahagiaan yang sejati. Ia hidup dalam ketenangan jiwa. Seluruh kesadarannya terpusat pada Sang Pencipta. Ia bahkan sudah tidak punya rasa keterikatan pada duniawi. Jasmani dan ruhaninya telah seimbang. Rasa “aku” dan “milikku” telah lenyap. Dia hanya melihat Tuhan dan mencapai kaki-Nya.

Tapi tibalah saatnya ia harus kembali ke negerinya setelah banyak belajar dengan sang Nabi. Menurut beliau, Kirasadatu akan menjalankan tugas yang besar disana sebagai seorang kesatria utama. Dan sebelum berpisah Nabi Syish AS sempat berpesan, katanya: “Roda waktu mempunyai 360 jeruji harinya. Kecepatan roda itu berputar begitu hebat, tak ada seorang pun yang dapat mengatasi kekuasaannya. Mereka yang mengejar kepuasan panca indera dan pikiran, akan lupa dengan Tuhan dan hidupnya berakhir sia-sia tanpa memperoleh apapun juga”

“Duhai muridku. Potonglah tali ikatan keluarga dan duniawi, mandi bersih dan duduk tafakur/meditasi lah. Persiapkan dirimu menghadapi kematian. Manusia suka menunda, itulah sifat utama pikiran bila merasa saat ini kematian belum akan menjemputnya. Kata mereka: “Lebih baik nanti saja melakukan persiapan untuk kematian”. Demikian di lakukan sampai ajal menjemput dan ia masih belum siap juga”

“Karena itu banyaklah engkau berdoa, tapi doa sendiri bukan solusi karena doa sebenarnya adalah semangat dibalik upaya manusia. Doa berarti kepasrahan. Doa juga berarti melepaskan pikiran dan bisa melampaui keakuan diri. Berdoa berarti berserah diri dan menyadari siapa diri. Doa bukanlah sekedar gerakan badan, tetapi gerakan hati dan jiwa. Sehingga berdoalah dengan berucap: “Ya Tuhan, obatilah hati dan jiwaku. Para bijak dapat melihat-Mu lewat hati dan jiwa mereka. Penyakit mereka telah dibakar oleh api kesadaran diri. Kebesaran-Mu tampak dan tersembunyi bagi makhluk bodoh sepertiku, sebab kesadaranku tertutup oleh awan perasaan “aku” dan “milikku”. Ya Tuhan. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya pada-Mu. Diriku ini adalah milik-Mu. Dan Engkau adalah satu-satunya tempat perlindunganku. Harapanku adalah Engkau sudi menerima diriku yang hina ini. Apapun yang akan terjadi denganku kini dan nanti, aku mohon Engkau dapat menerima diriku”

Mendengar pesan itu, Kirasadatu meneteskan airmata. Ia terus mengingat semua pesan gurunya itu dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun sangat sedih, selang satu hari setelah mendapat restu dari gurunya, Kirasadatu segera berangkat menuju ke negerinya. Di negerinya itu ia tetap menjadi orang biasa dan senang membantu sesama.

6. Perang besar antar dimensi
Dalam cengkeraman ambisi dan nafsunya, Kulani Wagniha terus saja bergaul dengan setan-setan dari berbagai dimensi. Kepada Durwaka, si raja setan, ia mengabdikan diri dan mengikuti apapun yang dikatakan oleh tuannya itu. Memang ia mendapatkan kesaktian yang luarbiasa, tapi selama itu pula hatinya kian menghitam. Yang ada didalam pikirannya hanya tahta dan bisa menjadi raja yang paling ditakuti oleh seluruh dunia.

Setelah waktunya di rasa cukup dan semua perlengkapan telah dipenuhi, Kulani dibantu beberapa setan lainnya segera melakukan ritual khusus untuk bisa membuka pintu antar dimensi. Tidak mudah memang, tapi akhirnya mereka bisa juga. Setelah pintu itu terbuka, maka berdatanganlah pasukan menyeramkan yang sangat banyak dari dimensi lain. Saat itu, meskipun jumlahnya puluhan ribu pasukan, itu baru gelombang pertama yang dikirim oleh Durwaka untuk membantu Kulani dalam memenuhi keinginannya, khususnya dalam merebut tahta dari tangan anak keponakannya, raja Sudahiya Lakta. Jika dibutuhkan, Durwaka akan mengirimkan lebih banyak lagi bala pasukan setannya.

Tiga hari kemudian, Kulani mulai melancarkan niatnya selama ini. Ia dan pasukan setannya itu bergerak menuju kerajaan Sugawardani dengan sikap yang bengis. Siapapun yang menghalangi mereka tak ada yang dibiarkan hidup. Semuanya dibantai tanpa melihat siapa orangnya. Dalam waktu singkat, tibalah Kulani dan bala pasukan setannya itu didepan benteng kota Sugawardani. Siapapun yang melihat pasukan sebesar dan se-menyeramkan itu, tentu akan lari ketakutan. Hanya kesatria pemberani saja yang masih ingin menetap, bahkan balik membalas serangan yang ditujukan pada kota kerajaan.

Singkat cerita, Kulani ternyata masih berbaik hati. Ia tidak ingin membantai habis semua penduduk, tapi memilih untuk bertarung sampai mati dengan anak keponakannya. Siapa yang menang akan mendapat hak atas tahta kerajaan Sugawardani. Sebagai seorang kesatria, raja Sudahiya Lakta tak bisa diam. Ia pun maju menghadapi tantangan dari pamannya itu. Ia sudah tahu bahwa pamannya itu bukan lagi seperti yang ia kenal. Adik bapaknya itu sudah tersesat dan bersekutu dengan setan terkutuk hanya demi memenuhi hasrat keinginan duniawi. Karena itu, dan sebagai seorang kesatria, Sudahiya Lakta langsung maju dengan gagah berani. Dan meskipun ia tahu kesaktian dari pamannya itu di atas normal, ia tak gentar sedikitpun. Ia tetap bertarung dengan segala kesaktian yang ada. Tapi karena sang paman sudah mendapatkan kesaktian dari raja setan bernama Durwaka, Sudahiya Lakta akhirnya gugur setelah terluka parah.

pertarungan-1

Setelah berhasil membunuh anak keponakannya, Kulani akhirnya menjadi raja di kerajaan Sugawardani. Dengan jabatan itu ia masih belum merasa puas. Ia ingin menguasai dunia seluruhnya. Semua negeri yang ada harus tunduk dibawah kakinya. Begitulah yang ada dibenaknya siang dan malam. Sampai pada akhirnya hanya dalam waktu 10 hari saja ia membawa pasukannya untuk menaklukkan negeri lain. Di awali dengan negara tetangga yang ada di kawasan Nusantara saat itu, hingga dibelahan bumi lainnya. Satu persatu kerajaan yang ada di bumi bersimpuh takluk dibawah kekuasaan dan kebengisan Kulani.

Hari terus berlalu dengan banyak pertempuran yang terjadi. Saat itu tujuan berperang bukan lagi tentang tahta, wilayah apalagi wanita, tapi hanya demi mempertahankan kemerdekaan dan keyakinan. Perang yang terjadi pun sangat mengerikan, karena bukan hanya manusia saja yang terlibat, tapi makhluk-makhluk aneh dari alam/dimensi lainnya. Pertempuran saat itu lebih dahsyat dari perang besar dalam Kisah Ramayana atau Mahabharata. Menghancurkan bukit, mengangkat bukit lalu melemparnya ke arah musuh, membelah lautan adalah sebagiannya saja. Banyak dari yang berperang saat itu memilih bertarung di udara dengan beterbangan seperti burung. Tidak sedikit dari mereka yang juga menggunakan berbagai jenis kesaktian dan pusaka yang luarbiasa kemampuannya, yang dampaknya mengguncang bumi. Tidak pernah lagi dilihat setelah zaman kedua ini.

perang-antar-dimensi

Nah, dalam kondisi dunia yang sedemikian carut marut itu, Kirasadatu akhirnya mulai turun gelanggang. Sesuai pesan dari gurunya yaitu Nabi Syish AS, ia tinggal di luar kota kerajaan Mustaliya. Dari sana ia terus memantau keadaan sembari memberi bantuan bagi mereka yang butuh pertolongannya. Sebagai anak didik seorang utusan Tuhan, Kirasadatu sangat menguasai dirinya. Ia tidak terpancing untuk mencampuri urusan perang bangsa-bangsa yang ada. Saat itu, ia tetap tenang dan karena belum mendapatkan petunjuk, ia hanya melakukan tugas sosial kemanusiaan saja. Dengan kesaktian yang dimiliki ia bahkan bisa kemana-mana dalam waktu singkat. Semua yang ia lakukan harus berdasarkan petunjuk Tuhan, entah melalui ilham ataupun dari perantara hamba-Nya.

Selang tiga bulan kemudian, barulah ia mendapatkan petunjuk untuk ikut terlibat memperbaiki keadaan. Kulani dan bala pasukan setannya itu harus diberantas. Untuk itu ia butuh bantuan dari pasukan yang tak kenal takut dan sakti mandraguna. Adapun pasukan itu adalah bangsa peri yang telah ia kenal lama. Pesan itu disampaikan oleh seorang utusan Tuhan lainnya, yang bernama Nabi Zayad AS.

Mendapatkan petunjuk itu, Kirasadatu segera menjalankannya. Ia langsung menuju negeri bangsa peri Hunamasya, yang ada di sebelah timur kerajaannya. Disana ia disambut dengan segala hormat. Bangsa peri itu sudah tahu maksud kedatangan dari Kirasadatu, karena mereka pun sudah mendapatkan petunjuk yang sama dari Nabi Zayad AS. Singkat cerita, Kirasadatu dan bangsa peri yang menjadi sahabatnya itu segera mempersiapkan diri dalam menghadapi perang yang sangat dahsyat. Sebagian besar kesatria dari bangsa peri itu sudah siap maju ke medan laga untuk melawan pasukan setan terkutuk itu. Bersama semua raja, ratu, kesatria dan gabungan tentara dari berbagai kerajaan yang menentang kejahatan Kulani, mereka semua maju ke medan perang.

Dalam waktu 10 hari, akhirnya pasukan rombongan Kirasadatu dan Kulani bertemu dalam satu pertempuran. Lokasi pertempuraan saat itu berada di sekitar Gurun Gobi sekarang. Hanya saja pada waktu itu disana belum ada gurun pasirnya; disana masih banyak hutan dan padang rumputnya. Jumlah pasukan Kulani jauh lebih banyak dari pasukan Kirasadatu. Dan pasukan yang sangat banyak itu bisa bertambah kapanpun jika diinginkan. Terlebih memang raja setan; Durwaka selalu mengawasi apa yang terjadi di dunia. Suatu saat nanti, jika diperlukan ia pun akan turun ke dunia dan ikut bertempur.

Singkat cerita, perang pun terjadi. Kengerian dalam pertempuran kian bertambah saat orang-orang mulai mengeluarkan ajian dan kesaktian dari berbagai pusaka mereka. Banyak pula kesatria tangguh yang bisa mengubah-ubah wujud dan menjadi raksasa untuk menambah kekuatan mereka. Selama pertempuran, tanpa di sangka-sangka pasukan Kirasadatu mendapatkan bantuan pasukan dari makhluk lain. Mereka berasal dari dimensi lain seperti bangsa Jin, Cinturia (wujudnya separuh manusia separuh burung) dan Karudasya (wujudnya separuh manusia separuh kuda). Dengan bantuan ketiga bangsa itu, Kirasadatu dan pasukannya kian bersemangat dan terus menguasai jalannya pertempuran.

Disisi lain, karena mulai terdesak, Kulani pun meminta bantuan dari tuannya; Durwaka untuk mengirimkan bantuan pasukan. Maka dikirimlah pasukan sebanyak 500.000 orang setan. Tapi ternyata pasukan sebesar itu tak berpengaruh banyak dihadapan bangsa peri, cinturia dan karudasya yang saat itu bersama Kirasadatu. Ketiga bangsa itu memang punya kemampuan di atas rata-rata manusia. Mereka memiliki berbagai keahlian yang langka bagi barisan manusia. Setiap bangsanya punya kesaktian dan pusaka yang luarbiasa. Hanya dalam satu kali sabetan pedang atau pukulan jarak jauh saja, puluhan setan bisa dihabisi.

pasukan-setan

Hal ini membuat Kulani kewalahan dan sebentar lagi ia akan kalah. Tapi justru pada saat seperti itulah tuannya, yaitu Durwaka turun gelanggang. Dia turun dari tahtanya di alam goib sana dan tiba-tiba sudah berdiri di atas medan pertempuran. Perang sempat terhenti saat Durwaka tiba-tiba muncul dalam sosok yang menakjubkan sekaligus menyeramkan. Tubuhnya tampak seperti layaknya manusia, hanya saya wajahnya ada empat (depan, samping dan belakang) dan tangannya ada enam. Ukuran tubuhnya saat itu sangat besar, lebih besar dari gunung. Semua bala pasukannya, termasuk Kulani langsung bersimpuh bahkan bersujud saat tuan mereka itu hadir.

Durwaka belum melakukan apa-apa, ia hanya menyaksikan semua orang yang terlibat dalam pertempuran saat itu. Selang beberapa menit kemudian ia baru tersenyum dan akhirnya tertawa. Suara tertawanya itu sangat keras dan langsung menggetarkan tanah, seperti ada gempa bumi. Dalam tertawaannya itu, tubuh si Durwaka juga berubah-ubah. Kadang terlihat sangat menyeramkan, tapi sebaliknya menjadi sangat tampan. Siapapun yang tak kuat imannya saat itu, akan segera lari dari medan pertempuran.

Setelah menunjukkan kesaktiannya itu, tak lama kemudian Durwaka menciptakan sebuah singgasana yang bentuknya mirip bunga teratai yang kelopak bunganya bertumpuk di udara. Disana ia lalu duduk bersila sambil terus mengawasi jalannya pertempuran dengan tersenyum licik. Posisi singgasana itu tepat di atas medan pertempuran, mengambang di udara dalam ukuran yang sangat besar. Ketika dibutuhkan, maka dari salah satu mulut Durwaka akan keluar ribuan pasukan setan dibawah perintahnya. Sementara mulut yang lainnya akan mengeluarkan berbagai kesaktian dan pusaka yang sakti madraguna untuk pasukannya itu. Ini sangat mempersulit pasukan Kirasadatu, karena musuhnya itu tak ada habis-habisnya dan kesaktian mereka terus meningkat. Bahkan jika mereka mati, tak lama kemudian akan hidup kembali berkat kesaktian si Durwaka itu.

Singkat cerita, keadaan justru berbalik. Karena disaat Kirasadatu dan pasukannya mulai terpojok, turunlah pasukan dari langit. Mereka itu berpakaian zirah serba putih berkilau. Ternyata mereka itu adalah pasukan malaikat yang diutus untuk membantu manusia dan peri mengalahkan pasukan setan. Dengan kedatangan pasukan malaikat itu, pertempuran kini menjadi seimbang. Bila pasukan setan mengubah-ubah wujud mereka, pasukan malaikat pun bisa. Begitu pula saat pasukan setan mampu berubah menjadi raksasa yang buas, pasukan malaikat juga mengubah tubuh mereka dalam ukuran raksasa, bahkan lebih besar lagi. Dan beradulah terus menerus dua kekuatan yang saling bertentangan ini.

Waktu terus beranjak. Durwaka mulai gelisah dan akhirnya harus turun tangan setelah singgasananya terkena satu serangan dari para malaikat. Tapi si Durwaka bukan sosok yang sembarangan, bahkan kesaktiannya masih di atas level para malaikat itu. Karena itulah ia bisa melawan pasukan malaikat dengan berjuang sendirian. Tapi karena kesendirian akan kalah bila menghadapi keroyokan, si Durwaka akhirnya mulai terpojok. Sampai pada akhirnya ia menciptakan berbagai benda dan bentuk yang aneh yang punya kemampuan membinasakan. Ciptaannya itu berbentuk kumparan energi berwarna warni yang sangat sakti dan punya kekuatan yang menyeramkan, membuat suasana pertempuran saat itu menjadi diluar imajinasi banyak orang. Bahkan alam pun ikut bergejolak dan semua orang hanya terdiam dan menunggu apa yang akan terjadi dalam sikap pasrah. Mereka tahu kesaktian yang dikeluarkan oleh Durwaka saat itu sudah di luar batas logika dan kemampuan yang mereka miliki. Rasanya kekuatan semacam itu mustahil adanya.

war-battle

Semua orang, khususnya dari golongan manusia menjadi sangat cemas. Tidak sedikit pula dari bangsa peri, cinturia dan karudasya merasakan hal yang sama, karena mereka belum pernah melihat kesaktian seperti yang ditunjukkan oleh Durwaka saat itu. Tapi tidak dengan pasukan malaikat, mereka tak menunjukkan kecemasan sama sekali. Mereka hanya tersenyum, meskipun mereka tahu bahwa kekuatan Durwaka saat itu sudah berada di atas level mereka. Begitulah sikap malaikat yang memang berbeda dengan manusia dan peri. Mereka selalu patuh dan berserah diri kepada Tuhan.

Durwaka telah siap untuk melepaskan kesaktiannya itu. Ia tetap berada di udara diikuti oleh pasukan malaikat. Kedua kubu ini saling berhadapan tanpa mengenal takut. Alam bergejolak semakin keras, tanah bergetar, laut berguncang, angin berhembus kencang dan petir menyambar-nyambar. Suasana menjadi sangat mencekam. Hingga pada akhirnya terdengar suara menggelagar yang sangat keras setelah Durwaka melepaskan energi ciptaannya itu ke arah pasukan malaikat. Saking kerasnya, maka suara dan tekanan energi yang dihasilkan saat itu membuat banyak pasukan yang ada di medan perang jadi terpental. Banyak pula dari mereka, baik pasukan Kirasadatu dan setan yang sampai terluka. Tapi ternyata tidak dengan pasukan malaikat yang justru menjadi sasaran utama dari serangan itu. Para malaikat bahkan tidak bergeming dari tempatnya. Mereka ternyata dilindungi oleh semacam perisai energi yang berwarna putih kebiruan. Dengan perisai itu para malaikat tak tersentuh sedikitpun oleh serangan yang mematikan dari Durwaka.

Selang beberapa saat, setelah kepulan asap akibat serangan dahsyat dari Durwaka hilang, tampaklah sosok putih bersayap yang memakai baju zirah keemasan. Sosok tersebut sangat tampan dan sedang berdiri di atas perisai yang ia buat untuk melindungi para malaikat. Ia tidak tersenyum, tapi menatap tajam ke arah Durwaka seperti elang yang menatap mangsanya. Sosok tersebut juga seorang malaikat yang diutus untuk membantu pasukan malaikat yang diutus sebelumnya. Namanya adalah Tarasyar`i.

Melihat sosok yang luarbiasa tersebut, Durwaka langsung menyadari bahwa kesaktiannya berada dibawah level malaikat itu. Ia takkan mampu melawan sosok malaikat yang satu ini. Karena itulah, ia pun segera meminta bantuan dari tuannya pula. Ternyata raja setan ini juga punya tuan. Sosok tersebut jauh lebih sakti darinya. Dan tak butuh waktu lama, tuannya si Durwaka pun muncul. Penampilannya tak menunjukkan sosok seorang setan, lantaran justru sangat rupawan dan bercahaya. Jika tidak tahu kalau dia itu sebenarnya raja setan, siapapun akan mengira bahwa dia itu adalah malaikat. Nama raja si raja setan itu adalah Sunartaka. Ia memiliki kesaktian yang lebih tinggi dari semua gabungan kekuatan setan, termasuk Durwaka.

Sungguh, suasana pada saat itu diluar kebiasaan. Semua orang bahkan tak pernah mengira akan ada kejadian seperti itu. Kekuatan-kekuatan luarbiasa dan makhluk purba dari dimensi lain bahkan berdatangan ke Bumi untuk saling beradu kesaktian. Ini adalah kenyataan, bukan dongeng atau mitos belaka. Hanya saja memang kisahnya sudah dilupakan lebih dari 10.000 tahun ini.

Setibanya di alam nyata dunia, maharaja setan bernama Sunartaka itu langsung tersenyum. Ia tak terlihat garang atau pun jahat. Wajahnya tampan dan tatapannya ramah, tapi dibalik itu semua ada aura kelicikan yang luarbiasa. Dan dalam waktu sekejab ia sudah menutupi dirinya dan malaikat Tarasyar`i dengan sebuah perisai khusus berwarna-warni. Ternyata hal itu bertujuan agar apa yang mereka lakukan nanti, dalam hal ini adu kesaktian, tidak berdampak langsung pada semua makhluk yang ada di medan pertempuran. Dan memang apa yang terjadi selanjutnya sudah diluar batas imajinasi. Mereka tidak lagi beradu ajian kesaktian seperti layaknya manusia, tapi sudah ditaraf menciptakan benda-benda dan apapun yang mereka inginkan dalam level yang tak terkira sebelumnya. Jika seseorang menciptakan sesuatu, maka musuhnya akan berusaha menghancurkannya. Begitupun saat seseorang menghancurkan sesuatu, maka lawannya akan menciptakan ulang. Selain itu, saat seseorang membagi dirinya menjadi beberapa sosok lengkap dengan berbagai kesaktiannya, maka yang lain akan melakukan hal yang sama. Setiap bagian diri mereka itu punya kemampuan yang bermacam-macam, yang tak pernah diketahui sebelumnya. Dengan kemampuan itu mereka terus bertarung dalam bentuk yang berbeda-beda. Begitulah selanjutnya terus berulang, sampai salah satu dari mereka mulai kehabisan kekuatan.

Saat pertarungan antara malaikat Tarasyar`i dan Sunartaka terjadi, pertempuran besar saat itu bahkan berhenti. Semua orang hanya terfokus pada pertarungan itu. Setiap kubu juga berharap bahwa pihak merekalah – yang diwaliki oleh Tarasyar`i atau pun Sunartaka – yang memenangkan pertarungan dahsyat itu. Karena siapapun yang menang saat itu akan menentukan hasil perang besar yang terjadi. Jika malaikat Tarasyar’i yang menang, maka terbebaslah penderitaan manusia dan Bumi akan kembali normal. Tapi jika Sunartaka yang menang, maka semua makhluk yang tinggal di Bumi akan menderita dan menjadi budak kegelapan.

Waktu terus bergulir, bahkan hari telah berganti hari. Selama itu, semua orang yang ada di medan pertempuran hanya bisa mendengar suara-suara yang tak pernah mereka dengar karena sangat mengerikan, menggemparkan dan menggucang Bumi. Dengan kekuatan batin, sebagian dari mereka juga mampu menyaksikan jalannya pertempuran terdahsyat itu secara detil meskipun berada dibalik perisai khusus. Hingga pada hari ke tiga, pertarungan kedua sosok luarbiasa itu mulai menampakkan hasilnya. Sunartaka, si maharaja setan itu mulai terpojok. Semakin lama ia bertarung menghadapi kesaktian malaikat Tarasyar’i itu, maka semakin lemahlah dia. Segala kemampuan sudah ia kerahkan, tapi sang malaikat selalu bisa mengimbanginya, bahkan mampu mengunggulinya. Dan sampai pada akhirnya, malaikat Tarasyar`i mendapatkan petunjuk dari langit. Ia lalu berdiam diri dalam hening dan tak lama kemudian berdoa dengan mengangkat kedua tangannya. Setelah berdoa, ia lalu mengarahkan tangan kanannya ke depan, tepat dihadapan Sunartaka. Tak berselang waktu, tiba-tiba memancar cahaya yang sangat terang dari tubuh sang malaikat. Cahaya itu semakin terang dan menyilaukan. Lalu tanpa di sangka-sangka dan atas izin Tuhan, semua kesaktian dari Sunartaka bisa diambil oleh malaikat Tarasyar`i. Dengan peristiwa itu, Sunartaka tak punya kesaktian lagi. Ia memang tidak bisa mati, tetapi akhirnya hanya lemah dan tak berdaya. Bahkan untuk berbicara atau menggerakkan tubuhnya pun sudah sulit ia lakukan. Tapi lagi-lagi karena dia bukanlah sosok sembarangan, Sunartaka mampu berdiri dan akhirnya kabur melarikan diri. Sebelum melarikan diri ia sempat berkata: “Saat ini ku terima kekalahanku. Tapi ini belum berakhir. Aku akan datang lagi dan membuat perhitungan dengan kalian. Secara tersembunyi atau pun terbuka, secara nyata atau goib, aku dan bala pasukanku akan merusak tatanan dunia dan akhirnya akan menguasai dunia. Saat itu perang besar akan terjadi dan akhirnya kepuasanku bisa terpenuhi”

Demikianlah setelah melalui pertarungan yang dahsyat dan belum pernah dilihat sebelumnya, akhirnya pasukan kegelapan dapat dikalahkan. Sunartaka yang menjadi kebanggaan dan harapan terakhir pasukan setan sudah terkalahkan, dan kini dalam kondisi yang lemah dan tak berdaya ia melarikan diri. Kemenangan pun berpihak pada manusia. Tapi kemenangan saat itu tak bisa selamanya. Karena Durwaka dan Sunartaka tak bisa mati, maka keduanya sangat dendam pada manusia. Kesombongan sudah menguasai dirinya sejak lama. Oleh sebab itu, suatu saat nanti ia akan kembali membuat perhitungan di muka Bumi. Sebelum itu terjadi, keduanya akan menghilang dan bersembunyi sembari mengumpulkan kekuatan dan kesaktian sebanyak-banyaknya. Dan jika semuanya sudah dirasa cukup, maka kedua raja setan itu akan kembali ke Bumi dan membuat kegaduhan.

Singkat cerita, setelah kalah Sunartaka dan Durwaka pergi meninggalkan medan pertempuran. Semua pasukan setan pun kocar-kacir tak tentu arah. Tapi disaat itulah, turun seorang utusan Tuhan ke Bumi. Beliau seorang Rosul yang bernama Yaksa AS. Atas izin Tuhan, beliau langsung “menyedot” semua pasukan setan yang tersisa untuk dikumpulkan dalam satu barisan. Setelah itu, beliau membuka satu portal dimensi dan memasukkan semua pasukan setan ke dalamnya. Setelah itu beliau bersabda; “Cukup lama kalian akan berada di alam (dimensi) ini. Cukup lama sampai beberapa generasi raja dan kerajaan manusia silih berganti. Tapi nanti, dan karena semuanya adalah takdir Tuhan, maka kalian akan dibebaskan pada suatu akhir zaman. Akan ada sosok yang membebaskan kalian, dan dia itu adalah sama dengan kalian walau bukan dari bangsa kalian sendiri”

Semua orang yang hadir saat itu terkagum-kagum dengan sosok utusan Tuhan itu. Bahkan para malaikat pun menaruh hormat kepadanya. Mereka juga berkata; “Siapapun orangnya, jika ia adalah seorang utusan Tuhan di Bumi adalah yang terbaik. Sosok mereka itu adalah yang mulia dan kami para malaikat sangat mencintai juga menghormatinya. Kami selalu rindu untuk berkumpul dengannya. Dan semoga saja itu sebentar lagi terjadi”

Mendengar kalimat itu diucapkan oleh para malaikat, Nabi Yaksa AS pun membalasnya; “Terlebihlah kami para utusan-Nya juga sangat mencintai dan menghormati para malaikat yang mulia. Kami selalu ingin bersama dengan mereka untuk berbagi dan berdiskusi. Dan atas petunjuk-Nya, waktu itu akan terjadi sebentar lagi, setelah urusan disini selesai”. Mendengar itu, para malaikat pun berucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka tersenyum dan pancaran kebahagiaan dari wajahnya terlihat jelas.

Sementara itu, setelah semuanya selesai dan setan-setan berhasil di tawan di salah satu dimensi khusus, Nabi Yaksa AS berbicara kepada semua manusia, jin, peri, cinturia dan karudasya yang ada di medan pertempuran. Sang Nabi pun bersabda; “Setelah ribuan, jutaan bahkan hingga milyaran tahun mendatang, akan kalian temukan banyak manusia yang diam saja saat melihat ketidakadilan dan kebatilan. Mereka akan diam saja walau diberi kesempatan untuk melakukan kebajikan. Bahkan sekedar bersuara tentang kebenaran saja diurungkannya. Mereka mempunyai otak yang cerdas tapi diam seperti batu. Mereka sangat bergembira di tengah kesenangan duniawi yang menipu dan melupakan fakta bahwa setiap hari batas usianya semakin pendek. Mereka juga melupakan akan adanya hal yang tak terduga yang bisa langsung mengancam kehidupan mereka. Terkecuali kesatria utama, maka semuanya telah mengabaikan bahaya yang tersembunyi dibalik dimensi nyata ini. Ya. Akan ada masanya nanti, di suatu akhir zaman, kekuatan kegelapan hadir kembali ke Bumi ini. Saat itu semua kekuatan dan kesaktian serasa tak berarti. Hanya persatuan dan keimanan yang tulus yang mampu mengalahkannya. Dan dibawah komando seorang pemuda yang terpilih, yang berasal dari keturunan Kirasadatu-lah hal itu akan terwujud”

Sambil mengatakan pesan itu, Nabi Yaksa AS juga memandang tajam ke arah Kirasadatu, khususnya pada kalimat tentang keturunannya nanti. Dan berdasarkan sabda Nabi Yaksa AS itu, maka dari keturunannya nanti akan terpilih menjadi pemimpin besar dalam pertempuran dahsyat. Karena itu disaat ia diserahi jabatan sebagai raja di kerajaan Sugawardani ia tak mau menerimanya. Ia lebih memilih mendirikan kerajaannya sendiri di timur dan dari keturunannya itu nanti akan dilahirkan sosok kesatria yang menjadi pemimpin dunia yang disegani.

knigh-battle

Lalu setelah mengucapkan sabdanya itu, Nabi Yaksa AS segera mendekati para malaikat. Tak lama kemudian, mereka semua raib dari muka Bumi dalam bentuk cahaya putih yang memancar terang lalu melesat ke arah langit. Sementara di medan perang, Kulani sudah menjadi pesakitannya. Ia tak berdaya, bahkan semua ilmu yang ia banggakan selama ini pun sirna. Itu terjadi lantaran tuannya, yaitu Durwaka dan Sunartaka telah dikalahkan. Kini sosok yang terkenal bengis dan tak manusiawi itu kunyuh seperti kuncing tersiram air. Dan atas hukum yang berlaku saat itu, Kulani harus menghadapi hukuman mati atas semua kesalahan dan kekejamannya. Di medan perang itu juga, Kulani dihukum pancung dan jasadnya ditanam di tanah dekat lokasi pertempuran. Hal itu untuk mengingatkan semua orang bahwa kejahatan itu selamanya akan kalah dengan kebajikan, cepat atau lambat.

7. Penutup
Demikianlah kisah kehidupan orang-orang terdahulu yang pernah berjuang mati-matian dalam menghadapi gempuran pasukan setan. Mereka adalah para kesatria hebat yang menyerahkan hidupnya hanya untuk menegakkan kebenaran. Dan atas sikap itulah, akhirnya mereka bisa menang setelah mendapatkan bantuan yang tak terduga dari para malaikat. Semua itu adalah bentuk nyata dari kasih sayang Tuhan pada hamba-Nya yang mau berlindung kepada-Nya.

Lalu, akhir kisah dari kerajaan Sugawardani ini adalah pada masa rajanya yang ke 155, yang bernama Misaliha Kuayami. Raja ini memiliki empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan. Ke empat anaknya itu lalu diperintahkan untuk mendirikan kerajaannya sendiri di ke empat arah mata angin. Setelah ke empat anaknya itu berhasil mendirikan kerajaan mereka, tibalah saatnya raja Misaliha Kuayami, beserta rakyat dan kota kerajaan Sugawardani berpindah ke dimensi lain. Saat itu yang datang membantu mereka berpindah dimensi adalah Kirasadatu, orang yang pernah memimpin perjuangan melawan pasukan setan pimpinan Durwaka dan Sunartaka. Atas petunjuk dari Kirasadatu, semua orang yang berminat diajarkan tentang cara mempersiapkan diri untuk bisa berpindah dimensi. Dan satu hari menjelang berpindah dimensi, hadir pula guru dari Kirasadatu, yaitu Nabi Syish AS. Atas izin Tuhan dan petunjuk dari sang Nabi, akhirnya semua orang yang tinggal di kota kerajaan Sugawardani berpindah ke dimensi lain, tepatnya ke dimensi yang ke 15 (Wurujad). Disana mereka melanjutkan kehidupan yang lebih baik, sambil menunggu “tugas besar” di akhir zaman ini.

Ya. Begitulah akhir kisah yang bisa dijelaskan dalam tulisan ini. Silahkan Anda percaya atau tidak. Itu urusan Anda dan kami tidak akan ikut campur disini, karena tugas kami hanyalah menyampaikan dan mengingatkan saja. Dan ada satu hal yang sangat menarik disini, dimana raja setan dan pasukannya itu tidak pernah sirna. Mereka masih hidup dan terus membekali dirinya dengan kesaktian yang baru. Semua itu hanya demi membalas dendam atas kekalahannya di masa silam.

Lalu, karena kesombongan dan rasa dedamnya itu, mereka tetap berhasrat untuk bisa menaklukkan dunia sekali lagi, terutama umat manusia. Dan setelah milyaran tahun berlalu, masa itu sudah kian menjelang di akhir zaman kita ini. Itu sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh Nabi Yaksa AS, dan jika memperhatikan apa yang sudah terjadi sekarang ini, di seluruh dunia, baik itu fenomena alam atau tidak, di sengaja atau tidak, waktu serangan dari pasukan kegelapan itu bisa terjadi kapanpun. Tanda-tandanya sudah semakin jelas, manusia pun sudah semakin lupa diri dan lupa mempersiapkan diri. Hal ini semakin menambah energi dan kekuatan negatif bagi para setan untuk bangkit kembali dan melakukan pembalasan. Manusia turut andil dalam memperkuat energi negatif bagi para setan dan terus saja menambahkannya. Sehingga perang maha dahsyat akan terjadi di akhir zaman ini dalam kedahsyatan yang bahkan lebih dahsyat. Ini adalah bagian dari masa transisi zaman ini. Karena periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra) akan berakhir dan berganti dengan periode zaman ke delapan. Pertempuran kosmik nanti adalah salah satu bentuk transisinya. Dan tentunya sangat dahsyat dan mengguncang dunia. Bersiapah mulai kini!

Semoga kita selalu mempersiapkan diri demi keselamatan dan kehidupan yang lebih baik. Akan ada perang dan  kehancuran yang dahsyat, tapi setelah itu akan ada pula kebangkitan dan kejayaan yang gemilang. Hanya mereka yang tetap eling lan waspodo serta berserah diri kepada Tuhan YME sajalah yang akan menikmatinya.

Jambi, 29-30 September 2016
Harunata-Ra

One thought on “Kirasadatu: Asal Usul Kesatria Akhir Zaman

    […] sosok yang milyaran tahun sebelumnya pernah membuat masalah besar di seluruh dunia [silahkan baca: Kirasadatu: Asal usul kesatria akhir zaman]. Dengan kesaktiannya, ia mampu mencegah Suminarwi menggunakan kesaktian dari pusaka Hildar warna […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s