Meditasi Jiwa Buwana

Posted on Updated on

meditation-universeWahai saudaraku. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kini begitu banyak manusia yang telah lupa diri, lupa akan kesejatian dirinya sendiri. Dan alasan mengapa banyak yang lupa, itu karena lebih banyak yang tertarik pada semua keindahan di sekeliling dunia materi ini. Meskipun semua itu hanyalah ilusi, tetapi mereka sangatlah mempesona dan begitu indah. Tapi apakah hal itu adalah segalanya? Apakah itu semua adalah puncaknya? Karena dapatkan kita bayangkan betapa lebih indah dan lebih mempesonanya dunia yang nyata.

Ya. Semua yang ada didepan mata, yang kita lihat dan rasakan di dunia ini adalah tiruan dan bersifat sementara (fana). Dunia ini hanyalah tiruan dan refleksi akan keberadaan dunia yang nyata. Seperti cermin, maka bayangan pada cermin itu adalah refleksi dari diri kita sendiri. Meskipun bukanlah yang sebenarnya, tetap saja ia tampak rupawan. Namun kita jangan pernah terjebak hanya pada keindahan cermin yang palsu itu. Karena itu hanya akan membuat hidup dalam kecelakaan.

Dan kita semua tahu bahwa dalam kehidupan ini ada dua sisinya, yaitu kebaikan dan kejahatan (positif dan negatif). Begitu pun hampir semua orang tahu bahwa di alam semesta ini terdapat dua dunia, yaitu Jagad Ageng dan Jagad Alit (makro dan mikrokosmos). Keduanya selalu ada di dalam dan diluar diri kita sendiri. Tapi sayang tidak banyak lagi yang menyadari dan meyakini tentang pentingnya memahami perbedaan dan kesamaan dari keduanya itu. Sebagian besar orang justru hanya sebatas mendengarnya saja dan tak punya waktu untuk berpikir dan merenungkannya. Padahal dengan tidak memahami arti pentingnya kedua dunia ini, maka jalan hidup seseorang tidak akan seimbang alias jadi kacau balau.

Sebab, sesungguhnya diri manusia itu sendiri merupakan perwujudan kecil dari dunia ini. Manusia itu adalah miniatur dari alam semesta, karena sesungguhnya dalam diri manusia itu terdapat pula apa yang ada di alam semesta. Jika alam semesta itu adalah Jagad Ageng, maka manusia adalah Jagad Alit-nya. Jagad Alit selalu berhubungan dengan Jagad Ageng, dan jika hubungannya rusak atau bahkan terputus, maka khususnya manusia akan “mati” walau terlihat hidup. Inilah yang terus menerus terjadi saat ini di seluruh negeri, di semua bangsa dan banyak komunitas. Karena itulah dimana-mana terus saja terjadi musibah dan bencana yang besar. Bahkan intensitasnya kian meningkat dari waktu ke waktu tanpa terkendali.

Sungguh, ada dua dunia di dalam kehidupan setiap manusia. Satu yang berada di luar dirinya atau yang disebut dengan Jagad Ageng (makrokosmos) dan yang satunya lagi berada di dalam dirinya atau yang disebut dengan Jagad Alit (mikrokosmos). Keduanya merupakan bagian dari kehidupan manusia itu sendiri, satu bersifat nyata dan satunya lagi merupakan refleksi dari yang nyata.

Untuk itu, sadar atau tidak sadar, tahu atau tidak tahu, maka setiap orang pasti menjalani refleksi dari yang nyata, yaitu dunia fisik (meteri) dimana kita (jasadiah) tinggal dan menjalani kehidupan. Jika terpaku hanya pada yang satu sisi ini saja, hal itu tidak akan menyempurnakan hidup kita. Sehingga tinggal bagaimana kita bisa menemukan satu dunia lagi, yang itu adalah kenyataan dan merupakan kebalikan dari dunia materi ini. Sebab, kita boleh saja menikmati bayangan dalam cermin, namun kita harus lebih tahu diri bahwa diri kita itu bukanlah bayangan di cermin. Diri kita yang sebenarnya berada diluar cermin itu, yang nyata, lebih rupawan, lebih hidup dan segala sesuatunya lebih berguna dari apa yang ada di dalam cermin.

Ya. Ketika kita bisa memejamkan mata dalam meditasi/semedhi/tafakur yang khusyuk, kita baru akan mengenali jiwa kita. Kita juga bisa melihat bahwa ada dua sisi yang berbeda namun tetap satu. Setelah itu, barulah kita akan tahu kemana harus melihat dan mencari yang sebenarnya. Kita juga bisa melihat atau mencari dunia lain secara serentak yang lebih nyata, bagus, indah, rapi, bahagia dan abadi. Dan dunia yang satu itu akan membuat kita menjadi sangat puas hingga tak peduli lagi dengan pengaruh apapun yang berasal dari dunia luar. Kita akan merasa tenang dan damai, karena kita sudah tahu sesuatu yang sejati.

samadhi

Sebab, dengan meditasi/semedhi/tafakur kita akan bertahap melepaskan dunia luar yang ruwet untuk meraih kedamaian batin yang mantap. Dan dalam semua jenis mistisisme dan tradisi spiritual, meditasi atau semedhi atau tafakur itu merupakan jalan untuk mempertajam kemampuan dan mengendalikan Dasendria kita. Dengan semakin tajam dan dikendalikannya 10 indera yang dimiliki itu, maka akan terbuka pula jalan menuju pikiran yang murni. Pikiran yang murni ini terlepas dari dunia luar, sehingga kebahagiaannya terasa sangatlah nikmat dan memuaskan.

O.. Kuasailah jiwamu dengan kembali pada kesadaran dimana kita sendiri mampu melihat dan mengendalikan diri kita sendiri, diri yang sejati. Temukanlah kesempurnaan itu dalam perilaku hidup yang tidak lagi terikat dengan duniawi (materi) ini. Kenalilah kesejatian diri sendiri dengan rutin mengolah rasa (meditasi/semedhi/tafakur) yang tersimpan di hati. Terangkan dunia batin dengan menghidupkan lentera jiwa. Caranya dengan menyadari dan bersiap diri dengan bekal terbaik (amal sholeh) bahwa kehidupan itu bukan hanya sekali. Setelah dunia yang fana ini, maka ada kehidupan abadi yang menanti untuk dijalani. Disana nanti setiap orang pun harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia ini, baik atau buruknya.

Dan ketika kita menunaikan perihal di atas dengan tekun, maka akan ada masa dimana batin kita bergejolak. Ada sesuatu yang bergetar dari segala penjuru yang merasuk ke dalam diri kita dan juga menggetarkan iman kita. Tiada terasa maka berlinanglah airmata membasahi pipi. Saat itu ada banyak keharuan, karena juga tergambarkan semua perbuatan yang pernah di lakukan. Ada banyak kejahatan, kekufuran dan kemunafikan yang telah dikerjakan. Hingga pada saatnya hati pun bertanya; “Mengapa tidak sejak dulu saja aku sadar diri dan mengetahui bahwa dunia yang nyata itu lebih indah? Dan mengapa pula aku tak menyadari bahwa kebaikan itu ada di dalam diriku sendiri untuk bisa mengikutinya?”

Maka, disaat semua yang sejati bisa terungkap dan apapun menjadi jelas kenyataannya, itulah yang dinamakan Nirwana. Suatu keadaan yang begitu tenang, damai, nyaman, indah, bahagia dan sejahtera. Yang setiap makhluk pun tentu sangat menginginkannya.

Jambi, 22 September 2016
Harunata-Ra

(Disarikan dari berbagai sumber dan diskusi)

4 thoughts on “Meditasi Jiwa Buwana

    Tufail (@TufailRidha) said:
    November 21, 2016 pukul 7:23 am

    Kang Harunata-Ra saya ingin sekali belajar dan mempelajari bagaimana caranya dan tata cara agar tidak menyimpang atau tersesat tentang Tafakur/Meditasi ini sendiri, tapi jangan yang sulit dan berat ya kang 🙂, sampai-sampai harus ke gunung atau ke hutan dengan waktu yang harus lama bahkan sampai ribuan tahun. besar sekali keinginan saya agar bisa mencapai suatu keadaan yang begitu tenang, damai, nyaman, indah, bahagia dan sejahtera, terlepas untuk selalu pasrah kepada Ilahi robbi Hyang Aruta ( Allah SWT ).
    Rahayu Salawasna _/\_

      oedi responded:
      November 21, 2016 pukul 8:07 am

      Hmm apa ya? Saya ini bukan guru yg bisa memberi pelajaran atau bimbingan kang, wong saya aja masih belajar kok, tingkat dasar malah..
      Tapi yang saya tau dan sepengalaman saya sih,khusus bagi yg Muslim maka ia harus disiplin dalam menunaikan kewajibannya. Misalnya ttg shalat lima waktu yg gak boleh ditinggalkan, dan harus pula dikerjakan di awal waktu – kecuali ada urusan sgt penting sehingga ga bisa tepat waktu. Selain itu, ia hrs memperbanyak ibadah Sunnah seperti puasa sunnah, shalat tahajjud, zikir malam dan byk bersedekah, mencintai dan membantu sesama tanpa memandang siapa orangnya, bahkan apakah dia manusia atau hewan, tumbuhan dan alam sekitar.. tidak boleh pilih kasih disini, harus adil.
      Setelah melakukan bbrp hal di atas dg tekun dan disiplin tanpa pamrih, selanjutnya hrs juga rutin ber-muhasabah (intropeksi diri) ttg apa saja yg telah, sedang dan akan di lakukan, minimal satu kali dalam sehari. Jika hal ini sudah menjadi rutinitas yg tulus, barulah mencoba utk ber-tadabbur (mencermati, mengkaji, menelaah) apa saja dlm hidup ini. Tentu disini hrs dlm koridor yg benar. Nah setelah kedua hal itu (muhasabah dan tadabbur) disiplin di lakukan, barulah mencoba utk ber-tafakur. Dan tafakur tidak hrs di gunung, karena bisa juga di kamar atau masjid, tinggal pilih. Insya Allah setelah semua tahapan diatas dikerjakan, akan lebih mudah kok utk bisa fokus dan mencapai tujuannya itu (tenang, hening dan damai)..
      Mungkin itu dulu kang, selebihnya saya kurang tau, maklum masih dalam tahap belajar juga..🙂

    Tufail (@TufailRidha) said:
    November 21, 2016 pukul 2:17 pm

    Saya ini orang yang hina dan kotor kang kewajibannya saja keseringannya bolong-bolong dalam menjalankan ibadah bisa dikatakan teramat sangat malas, tapi setelah banyak membaca artikel-artikel kang harun Insya Allah saya masih berkelakuan seperti filosofi JAWA ( Cageur,Bener,Bageur ) sejauh apa yang saya perbuat tidak merugikan diri sendiri dan orang lain baru sebatas itu, jadi sedih dan prihatin sama kelakuan saya ini kang, aduh jadi curhat 😆 bisa dikata saya ini orang yang brengsek tapi, minimal masih istighfar kang 😁, Mudah-mudahan setelah mendapat pencerahan dari kang harun bisa menjadikan semangat buat saya untuk bisa dan harus dalam menjalankan semua kewajiban dan perintah-Nya. Oia kang kata Hyang Aruta (Tuhan YME) sendiri sudah dan dipergunakan pada jaman keberapa kalau boleh tahu di kaum dan bangsa apa? Serta siapa yang mengenalkannya. Seperti kata Tuhan yang saya baca dari artikel kang harun dari agama kapitayan. Rahayu. 🙏

      oedi responded:
      November 21, 2016 pukul 10:58 pm

      Sebagai makhluk kita tak luput dari kesalahan dan khilaf, karena itu kang, selagi masih diberi kesempatan ayo sama” kita perbaiki diri dan mempersiapkan diri, ya minimalkan bisa utk bekal di akherat nanti..
      Ttg Hyang Aruta, kalo sampeyan bertanya sejak kapan istilah itu digunakan ya sejak periode zaman kedua, dan orang yg memperkenalkannya adalah Nabi Syish AS. Beliau di antara para Nabi yang dianugerahi mukjizat berumur sgt panjang. Banyak kaum yg pernah beliau bimbing, dan kata Hyang Aruta itu sebenarnya hanya utk bbrp kaumnya saja, ada kaum lain yg juga beliau bimbing tapi istilah utk Tuhan nya beda, alias bukan Hyang Aruta. Itu terjadi karena memang bahasanya beda, dan zamannya pun sudah beda. Tapi disini hanya istilahnya saja yg beda, arti dan intinya ttp sama, ya Tuhan YME.
      Sebenarnya konsep atau ajaran itu sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS, itu hanya istilah utk menyebutkan Tuhan, bahkan salah satu istilah pada masa itu, karena di periode zaman pertama dan kedua juga sudah byk kaum yg hidup di muka Bumi ini, dimana mrk punya bahasa yg beragam, lain bahasa lain pula istilah utk menyebutkan Tuhan. Ya samalah dg di zaman kita skr yg byk istilah utk menyebutkan Tuhan seperti, Tuhan, Ilah, Robb, God, Sang Hyang Widhi, Bapa, dll.
      Dulu sudah byk sekali kaum yg hidup di muka Bumi ini, mrk punya byk istilah utk menyebutkan Tuhan. Hyang Aruta hanya salah satunya saja, dan saya memilih istilah ini karena lebih sreg dan sesuai dg konsep yg saya pahami, tulisan yg saya sampaikan dan terlebih itu berasal dr seorang Nabi utusan Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s