Sistem Pendidikan Kaum Gamosah

Posted on Updated on

a1Wahai saudaraku. Apa yang ada dimasa kini sebenarnya sudah pernah ada di masa lalu, bahkan banyak hal yang ada dimasa lalu justru belum ada dimasa kini. Contohnya saja tentang alat teleportasi, maka di periode zaman ini (Rupanta-Ra) masih belum ada orang atau kelompok yang bisa menciptakannya. Jangankan untuk menciptakan alatnya, konsepnya saja masih sangat membingungkan para ilmuwan kelas dunia. Hingga pada akhirnya, sampai kini masih tetap dalam bentuk fiksi ilmiah.

Tapi, dulu pernah ada satu kaum yang berhasil menciptakan alat teleportasi ini. Mereka adalah kaum yang menjadi asal usul dari para Fir`aun di Mesir, yang bernama Gamosah. Kehidupan kaum Gamosah ini sangat makmur, peradabannya tinggi dan kesaktian mereka pun mumpuni. Dan terkait dengan alat telepostasi, kaum ini menamakannya dengan Madrokh. Bentuknya seperti pintu gerbang berbentuk bulat, yang diakifkan dengan menyalurkan energi petir atau listrik ke mesin teleportasinya. Setelah aktif, maka dengan alat ini mereka bisa memindahkan orang sejauh 20-25 kilometer per-detik. Dan jika diperlukan, maka alat teleportasi ini juga bisa memindahkan orang sampai keluar negeri – sesuai dengan lokasi yang diinginkan dan waktunya bisa lebih dipercepat. Biasanya ini hanya di lakukan oleh raja dan para menterinya untuk tugas kenegaraan. Namun jika mereka tidak menggunakan alat Madrokh ini, mereka akan memilih alat transportasi lain yang bernama Hirayakh. Alat ini berupa jet terbang tanpa suara yang dipasang di atas punggung penggunanya. Jet ini mampu melaju dengan kecepatan sekitar 160-350 kilometer per-jam. Dan jika Hirayakh itu juga tidak menjadi pilihannya, seseorang bisa memilih Turazakh (mobil terbang) untuk melakukan perjalanan jauh. Kendaraan ini semacam mobil tapi bisa terbang tanpa suara dengan kapasitas penumpang 4 orang. Tidak dirancang untuk bertempur, tapi tetap bisa melaju dengan kecepatan 2-3 kali kecepatan suara, bahkan bisa lebih cepat dari itu.

Ketiga contoh alat transportasi di atas itu sudah menjadi bagian dari keseharian kaum Gamosah. Ketiganya adalah contoh teknologi yang terwujud bukan karena tiba-tiba jatuh dari langit atau berasal dari alien. Semuanya mereka usahakan sendiri secara ilmiah dengan banyak melakukan penelitian yang serius. Ada banyak kegagalan itu pasti, tapi mereka tidak pernah berhenti. Dan karena kecerdasan mereka yang menakjubkan, maka dalam waktu yang relatif singkat mereka berhasil menciptakan berbagai alat yang canggih. Dan itu semua bisa terjadi karena adanya sistem pendidikan yang sangat baik di negerinya.

aa

Jadi, di negeri kaum Gamosah ini, setiap anaknya sudah mengikuti pendidikan yang sangat layak di Masdah (sekolah). Masdah ini adalah komplek pendidikan yang sangat maju, yang bahan bangunannya saja terbuat dari batu marmer putih dan sebagian lainnya berwarna hitam atau kehijauan. Semua kebutuhan dalam pendidikan ada disana, yang semuanya disediakan secara gratis oleh pemerintah. Suasana di komplek pendidikan ini pun sangat nyaman, tertata rapi dan indah. Banyak taman bunga dan buah, kolam ikan, air mancur dan pepohonan rindang yang membuat hati selalu tenang. Siapapun bahkan bisa merasa seperti tidak sedang di kawasan pendidikan, lantaran saking nyamannya berada disana.

Di dalam Masdah (komplek pendidikan) ini menampung 4 tingkat pendidikannya, yaitu:

1. Masduyah (tingkat dasar, sejak umur 10-15 tahun) -> setara SD dan SMP
2. Tisruyah (tingkat menengah, sejak umur 15-20 tahun) -> setara SMA dan S1. Di tingkat ini mereka sudah praktek di lapangan dan akhirnya membuat semacam skripsi.
3. Zarmuyah (tingkat tinggi, sejak umur 20-25 tahun) -> setara S2 dan S3. Di tingkat ini mereka sudah menciptakan sebuah karya ilmiah atau produk.
4. Asturiyah (tingkat akhir, umur 25 tahun ke atas) -> setara doktor dan professor. Di tingkat ini seseorang hanya lebih mengembangkan penelitian dan karya cipta sebelumnya.

Catatan: Usia rata-rata mereka saat itu antara 150-250 tahun. Sebelum masuk sekolah atau dibawah umur 10 tahun, setiap anak akan belajar pada kedua orang tuanya tentang berbagai ilmu pengetahuan, terutama tentang dasar-dasar materi yang akan diajarkan di sekolah. Karena memang setiap orang tua di kaum ini sudah terdidik dan merasa wajib untuk mendidik anaknya secara lansung saat ia masih kecil sebagai bekal saat memasuki dunia pendidikan formal di Masdah. Hal ini terus berkelanjutan sampai akhir kehidupan kaum ini di muka Bumi.

Dalam dunia pendidikan mereka, seorang guru disebut dengan Mustah, sedangkan murid disebut dengan Simah. Selain itu, mereka juga mengenal apa yang kini disebut dengan kepala sekolah, yang dalam bahasa mereka disebut Akhiyah. Akhiyah ini berkedudukan langsung dibawah menteri pendidikan. Mereka juga sudah mengenal apa itu perpustakaan yang dalam bahasa mereka disebut dengan Buskariyah. Koleksi dari perpustakaan ini sebagian besarnya adalah hasil penelitian dan karya cipta dari para siswanya. Sementara itu, untuk bisa melakukan praktek dan penelitian sesuai pelajaran, maka dibangunlah sebuah laboratorium khusus yang dalam bahasa mereka disebut dengan Husturiyah. Di dalam laboratorium ini semua fasilitas untuk praktek dan penelitian sudah tersedia lengkap.

Di sekolah sudah terdapat tempat bermain dan ada waktunya untuk sarapan yang diberikan secara gratis oleh pihak sekolah. Proses belajar mengajar dilakukan sejak pukul 7 pagi untuk semua tingkatannya. Sedangkan waktu pulangnya adalah jam 13 untuk tingkat dasar, jam 15 untuk tingkat menengah, sementara menjadi bebas untuk tingkat tinggi dan akhir. Selama itu yang diajarkan lebih kepada teori dari setiap mata pelajaran – terutama bagi tingkat dasar (masduyah), selebihnya akan ditambahkan dengan banyak praktek secara indoor maupun outdoor. Ada waktu istirahat makan siang selama satu jam, setelah itu pelajaran dilanjutkan lagi hingga waktu kepulangan di setiap tingkatannya, kecuali untuk di tingkat dasar yang langsung pulang setelah makan siang. Para murid tidak dibebani dengan PR (pekerjaan rumah), tetapi lebih banyak melakukan praktek mandiri secara indoor dan outdoor. Di tingkat lainnya mereka didorong untuk lebih banyak melakukan penelitian hingga bisa menghasilkan sebuah karya cipta. Dan kunci kesuksesan bagi para murid di kaum ini adalah sikap mereka yang sangat menghormati para gurunya. Mereka juga sangat patuh dan tekun dalam mengikuti setiap petunjuk dari gurunya, dan memang semua guru yang ada bisa ditiru dan dijadikan teladan.

Sekolah berlangsung hanya selama lima hari berturut-turut, setelah itu ada libur selama dua hari. Demikianlah itu terus berulang sampai pada waktunya tuskah (ujian). Ada beberapa tuskah (ujian) disini, pertama untuk ujian setiap pokok materi yang dilaksanakan pada setiap 90 hari belajar. Kemudian ada juga ujian pada setiap 300 hari sekali yang disebut dengan milsah (ujian tengah). Dan yang terakhir pada setiap 600 hari sekali, ini disebut dengan lutsah atau ujian akhir kelulusan. Ujian ini dilaksanakan di setiap level pendidikan yang ada, kecuali untuk di tingkat tinggi (Zarmuyah) dan akhir (Asturiyah). Karena di kedua tingkatan itu setiap murid hanya memberikan laporan atas penelitiannya pada guru pembimbingnya.

Bentuk ujiannya tertulis dan praktek. Seorang murid akan dinyatakan lulus dengan nilai minimal 60 (ini standar mereka, sama dengan nilai 90 jika di zaman kita sekarang). Selanjutnya, ada pula murdayakh (ijazah) yang diberikan pada setiap murid di setiap mereka lulus ujian lutsah (ujian akhir kelulusan) pada setiap mata pelajarannya. Ijazah ini terbuat dari bahan kulit hewan atau kertas atau logam (emas, perak). Khusus untuk di tingkat tinggi (Zarmuyah), ijazah ini terbuat dari logam emas dan diberikan ketika seseorang mampu menyelesaikan dengan baik satu penemuan atau karya cipta. Saat itu ia akan dinyatakan lulus tingkat pendidikan tinggi (Zarmuyah). Sedangkan di tingkat Asturiyah (akhir), ijazah diberikan setiap ia berhasil menciptakan atau mengembangkan sebuah karya.

Catatan: Sebenarnya ujian kelulusan bagi kaum ini tidak begitu penting. Itu hanya sebatas seremonial saja, karena mereka pasti lulus sebab cara belajar dan mengajarnya sangat bagus. Yang terpenting bagi mereka itu adalah hasil karya yang bisa diciptakan. Dibidang apa saja dan dalam bentuk apapun itu, yang jelas harus dari usaha dan kerja keras pribadi masing-masing. Dan mereka ini memang satu kaum yang memegang teguh kejujuran.

Adapun di antara mata pelajaran pada kaum ini yaitu:

1. Sajarakh (hitungan/matematika) -> termasuklah tentang ilmu ekonomi
2. Kuwarakh (mekanik, listrik, dan komputer)
3. Biturakh (sejarah dan astronomi)
4. Falqurakh (fisika dan kimia)
5. Hustarakh (geografi, topografi dan geologi)
6. Dirtarakh (arsitektur dan bangunan)
7. Gariyah (agama dan etika)
8. Turiyakh (bahasa, sastra dan seni menulis indah/kaligrafi)
9. Naritakh (seni budaya)
10. Muzarakh (tentang manusia) -> sejak di tingkat menengah (Tisruyah) ditambah dengan mempelajari ilmu kedokteran
11. Kazirakh (tentang hewan) -> termasuklah ilmu peternakan dan perikanan
12. Tugurakh (tentang tumbuhan) -> termasuklah ilmu pertanian dan perkebunan
13. Kauzarakh (olah raga) -> termasuklah beladiri dan kanuragan

Semua mata pelajaran di atas akan dipelajari oleh setiap siswanya, khususnya di tingkat dasar (Masduyah) sebagai pengenalan. Tapi semenjak di tingkat menengah (Tisruyah), setiap orang boleh memilih beberapa pelajaran yang paling ia sukai saja. Dari situ akan menjadi konsentrasi mereka, sampai pada penelitian dan menghasilkan sebuah karya. Sedangkan khusus untuk pendidikan di tingkat tinggi (Zarmuyah) dan akhir (Asturiyah), setiap orang hanya melakukan banyak penelitian dan pengembangan dari apa yang telah mereka pelajari atau ciptakan di tingkat sebelumnya.

Selain belajar di Masdah (sekolah formal), setiap murid akan mengisi waktu libur dua hari mereka dengan belajar lebih banyak tentang agama untuk keseimbangan hidupnya dan ilmu kebatinan untuk membela dirinya. Kebatinan disini artinya belajar tentang ilmu kanuragan dan kadigdayan kepada seorang yang bijak. Orang bijak ini biasa mereka sebut dengan istilah Guru atau Rsi Guru. Jika mereka benar-benar serius dalam belajar, maka akan banyak kemampuan supranatural yang bisa mereka kuasai. Seperti terbang, menghilang dan mengendalikan elemen alam (tanah, air, api dan udara). Tapi semua kemampuan itu sangat dilarang untuk menyakiti siapapun, termasuk hewan dan tumbuhan. Hanya boleh digunakan untuk kebaikan dan kebenaran saja. Dan mereka memang selalu mematuhi aturan itu karena demi kebaikan mereka sendiri.

Selanjutnya, mengenai semangat pendidikan dan ilmu pengetahuan, maka ada sebuah perpustakaan pusat di negeri mereka ini. Lokasinya tepat di samping istana raja dan biasa disebut dengan Husarabakh. Gedung ini merupakan simbol kecintaan mereka pada ilmu pengetahuan. Bentuknya sangat megah dengan ukuran sekitar 1.780 x 2.200 meter. Lantai dan dindingnya terbuat dari semacam batu granit berwana kehitaman dan batu marmer warna putih. Di dalam perpustakaan ini terdapat banyak rak buku yang tingginya sampai ±25 meter dengan panjang ±50 meter. Di rak-rak tersebut lalu tersimpan berbagai jenis koleksi dalam berbagai disiplin ilmu, seperti tentang tumbuhan, hewan, biota laut, astronomi, seni, sastra, sains dan teknologi, dll. Semuanya tertulis dalam bentuk gulungan atau buku. Dan mungkin suatu saat nanti, di masa kita ini, akan ada orang yang bisa mengambil ilmu pengetahuan dari perpustakaan ini lalu menerapkannya. Semoga saja.

library-1

Semua koleksi yang terdapat dalam perpustakaan Husarabakh itu berjumlah sekitar ±2.560.000 buah. Yang semuanya telah dikumpulkan sejak masa Nabi Jaksa AS masih tinggal bersama kaum ini (masa awal peradaban mereka). Bahkan beliau pula yang telah mengajarkan kepada kaum ini untuk menuliskan/mendokumentasikan semua data dan informasi penting yang didapatkan ke dalam selembar kulit atau kertas. Pada masa awal itu, semua catatan masih dikumpulkan di salah satu rumah yang dijadikan gudang persenjataan. Gedung khusus perpustakaan dibangun pertama kali sejak masa akhir raja ke-1, yaitu Malgayarkah (ia memimpin kaum ini selama ±215 tahun). Bangunan ini lalu dikembangkan terus menerus dengan tujuan agar anak keturunan mereka bisa mengetahui dan mempelajari semua ilmu pengetahuan nenek moyang mereka. Dan selain sebagai tempat dari berbagai catatan (gulungan dan buku) ilmu pengetahuan, di gedung ini juga terdapat ruangan khusus untuk musium. Semua dikelola dengan sangat baik dan teratur.

Demikianlah sekilas tentang dunia pendidikan dan taraf keilmuan dari kaum Gamosah ini. Meskipun mereka hidup di akhir periode zaman Dwipanta-Ra (sekitar 1,5 juta tahun yang lalu), mereka bisa mencapai puncak peradaban manusia. Dan dari penjelasan di atas, kita bisa melihat bahwa mereka ini memanglah bangsa yang cerdas dengan peradaban yang sangat tinggi. Tidak kalah dengan kita sekarang, bahkan lebih baik. Sehingga tidak salah lagi, jika ingin maju dan berjaya, maka setiap bangsa itu harus memiliki sistem pendidikan yang bagus dan sesuai dengan karakter bangsanya sendiri. Ciptakan sebuah sistem pendidikan yang berkualitas sekaligus menyenangkan, barulah bangsa ini akan maju dan berjaya. Dan harus seimbang antara ilmu ilmiah dan batiniahnya. Karena hanya dengan itulah setiap orang akan seimbang kehidupannya. Jika sudah seimbang hidupnya, maka ia akan bisa menghasilkan karya cipta yang mengagumkan.

“Ya ulni. Bagh na tah ur sam ula kin dairu makal. Uz Ra ul su`um nah riya ballu wagni tar dukul jam fira. At gim tera vadi tes kamu sahi la caya re te nis. Sye para haldu kom sara ul bar Jawi manakh, gu ul ura jas kati. Um manna wa jaya Nusanta-Ra heq nuhi ul tame rake. Iste maku usa we vaye zayi nal ballu ne Bhumi hayyu nak sahi. Zak naki mush he renu ten tena his retu waki alis. Neh lektu sare 10.555 luh yak bagi gif ur urukh”

Semoga bangsa ini bisa bangkit dan mengikuti secara tulus jejak para leluhurnya dulu. Jika itu terjadi, maka bangsa ini pun akan memimpin dunia sekali lagi. Tidak dengan mengekor pada peradaban bangsa lain, tapi mengukir prestasinya sendiri dan dengan caranya sendiri.

Jambi, 18 September 2016
Harunata-Ra

[Catatan: Banyak hal yang tidak dijelaskan tentang kaum Gamosah ini. Itu semua karena memang di dalam artikel ini kami hanya fokus tentang sistem pendidikannya saja. Selebihnya masih harus dirahasiakan dulu, dan belum diizinkan untuk disebarkan. Maaf jika ini membuat Anda tidak nyaman]

3 thoughts on “Sistem Pendidikan Kaum Gamosah

    […] menjelaskan tentang satu kaum yang pernah mencapai puncak peradaban manusia. Seperti halnya kaum Gamosah, kaum ini juga memiliki teknologi yang sangat canggih, bahkan lebih maju dari kita sekarang. Apa […]

    Cak Shon said:
    November 8, 2016 pukul 5:26 pm

    wondering: sumber tulisan ini dari mana mas?

      oedi responded:
      November 14, 2016 pukul 2:12 am

      Hmmm silahkan dibaca lagi artikelnya, khususnya yang dibagian akhirnya…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s