Panca Karya: Cara Hidup Yang Damai

Posted on Updated on

damai-3Wahai kekasihku. Aku membayangkan bila manusia di muka Bumi ini bisa hidup seperti dulu lagi. Karena dengan segala karunia dan anugerah Tuhan pada hidupnya, manusia itu tentunya bisa hidup dalam keharmonisan universal (mikro dan makrokosmos). Keharmonisan itulah yang sangat dibutuhkan semua makhluk di alam jagat raya, terlebih di akhir zaman ini.

Ya. Untuk mewujudkan itu semua, maka tiada pilihan bagi setiap pribadi kecuali terlebih dulu membebaskan dirinya sendiri dari segala keterikatan. Ia harus mampu memerdekakan hati dan jiwanya sendiri dari segala kemunafikan. Karena itu, apa yang ia lakukan haruslah berdasarkan pada kesadaran diri, bukan atas dasar doktrin semata, apalagi hanya sebatas kata orang lain saja. Caranya dengan melakukan berbagai laku spiritual, seperti Panca Karya berikut ini:

1. Aksanaya (pikiran bersih)
2. Wartanaya (perkataan bersih)
3. Bhaktinaya (perbuatan bersih)
4. Dirhanaya (welas asih)
5. Sirtunaya (kebaikan budi)

Untuk itu, menjadi baik akan jauh lebih penting ketimbang menjadi benar. Kebaikan itu modal untuk bisa menuju pada kebenaran. Tanpa modal itu, maka kebenaran pun takkan bisa dicapai dengan benar. Terlebih kebenaran yang sejati tidak ada yang tahu kecuali Sang Maha Mengetahui; Tuhan. Kita sebagai makhluk hanya bertugas untuk berusaha menjadi benar – tanpa perlu menilai kebenaran itu sendiri – dengan syarat utamanya adalah berbuat yang baik dalam hidup ini. Karena cepat atau lambat, sadar atau tidak sadar, maka kebaikan inilah yang akan menuntun kita pada kebenaran yang sejati. Hanya kebaikan itu saja! karena kita tidak pernah tahu apa itu kebenaran yang sejati. Hanya Tuhan-lah yang paling tahu tentang hal itu, dan Dia pula yang memutuskannya nanti.

“Wahai manusia. Kau harus merawat kesejatian yang tersimpan di dalam dirimu. Itu akan melindungi hidupmu jika engkau mau belajar untuk peka terhadap kebenaran sejati. Biarkan hatimu memberi tahu apa itu kebingungan, kekacauan dan ketidakbenaran. Belajarlah dengan serius untuk mendengar dan melihat yang tak terlihat dan tak terdengar oleh semua orang. Berusahalah tetap berjalan ke arah cahaya-Nya. Karena waktumu sudah tidak lama lagi. Dan jangan lagi berbuat ingkar pada hukum Tuhan. Dengan begitu kau akan memimpin dirimu sendiri saat melewati masa transisi zaman nanti”

Sungguh, jika kau ingin tahu jalan rahasia dari spiritual adalah mengisi hidupmu dengan kebaikan yang murni. Penuhilah keseharianmu dengan kebaikan budi dan welas asih yang disertai dengan pikiran bersih, perkataan bersih, dan perbuatan yang selalu bersih dari kejahatan. Dengan sikap itu, perbaikan diri akan selalu tercipta. Kemanapun kau melangkah, hati dan jiwamu akan mudah bergetar secara spiritual sehingga mudah terhubung dengan ke-Mahasucian Diri-Nya. Inilah wujud nyata dari kemuliaan hidup.

damai

Tapi, ada banyak orang yang tak bisa tumbuh secara spiritual, karena itulah meskipun ia hapal ribuan ayat dari kitab suci atau sangat menguasai hukum agama, tetap saja terjerumus dalam banyak dosa. Begitu pun walau ia sudah menempuh berbagai tingkat pendidikan dan meraih banyak gelar akademik, tetap saja masuk dalam kebodohan. Itu semua terjadi karena akar batinnya tidak kuat. Ia masih gagal memurnikan segala tindakannya sendiri dan masih terlalu banyak dualitas dalam hidupnya yang bersumber pada sifat loba (keserakahan). Ia hanya mau yang baik dan tak mau yang buruk. Padahal dalam yang baik dan buruk itu ada Sang Maha Pengatur kehidupan. Kedua hal itu adalah keseimbangan, sehingga persepsi dualitas semacam ini harus diubah menjadi persepsi non-dualitas. Sebab di dalam yang suci maupun yang kotor, yang terang ataupun yang gelap, yang mulia dan hina itu ada Hyang Aruta (Tuhan YME). Begitu pun dalam bangun dan tidur, bergerak dan meditasi, beramal dan beribadah, hidup dan mati, semuanya ada Hyang Aruta (Tuhan YME) di dalamnya.

Sehingga tatkala kita bisa memahami dalam semua hal itu selalu ada Hyang Aruta (Tuhan YME), kita mulai memiliki akar-akar spiritual yang bagus dan kuat. Sejak saat itu pula, apapun tindakan lahir dan batin kita akan merasa selalu diawasi oleh Tuhan. Jika begitu adanya, maka tidak mungkin kita melakukan yang tidak baik dalam hidup ini. Kita justru akan selalu memupuk kebenaran dan rasa cinta kasih kepada siapapun. Inilah langkah yang nyata dalam menghilangkan dualitas dalam hidup demi menuju level spiritual yang lebih tinggi. Yang mengantarkan pada kebahagiaan yang sejati.

“Hanya bagi jiwa yang bisa menghilangkan dualitas dalam diri lalu menyatu dengan kealamian, akan mengerti tentang iman dan kesempurnaan yang sejati”

Untuk itu kekasihku. Ketika banyak orang yang bisa menghilangkan dualitas di dalam dirinya dengan berusaha membuang ego pribadi – agar terus meningkatkan tataran spiritualnya, maka akan terwujudlah surga di Bumi. Seperti dimasa leluhur kita dulu, di periode zaman Dirganta-Ra misalnya, orang-orang telah meninggalkan yang tidak baik dan menumbuhkan kemulian dirinya. Ini suatu hal yang sangat menggembirakan, karena setiap orang sudah merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Peradabannya tidak lagi didasarkan pada meteri semu duniawi yang menjerat kehidupan, tetapi kebebasan yang paripurna (nirvana dan moksa). Mereka mampu hidup dalam bingkai persaudaraan yang sejati dan cinta yang murni. Tidak ada lagi sifat iri, dengki dan kebencian. Semua keburukan dan kejahatan diri pun menghilang, karena telah digantikan dengan sikap yang utama sebagai manusia (Panca Karya). Dimana-mana hanya ada kebahagiaan dan kesejahteraan. Akibatnya, peradaban yang bisa mereka bangun kala itu sangat tinggi dan melebihi apapun yang ada di zaman ini.

kota kuno

Ya. Apa tujuan hidup ini selain untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan? Lalu mengapa banyak orang yang beranggapan bahwa kebahagiaan itu saat bisa memiliki banyak harta dan kemewahan duniawi saja? Kenapa sebagiannya lagi merasa bahwa kebahagiaan dan keselamatan itu ketika dilengkapi dengan segala fasilitas yang nyaman dan bisa memanjakan diri? Mengapa tidak banyak yang menganggap bahwa kebahagiaan itu adalah hidup sederhana dan tak perlu memiliki banyak harta dan kemewahan? Bukankah harta dan kemewahan duniawi itu hanya sementara? Dan lihatlah bahwa tidak ada orang kaya yang membawa semua harta dan kemewahan duniawinya itu saat ia mati. Mengapa juga tidak banyak yang memilih bahwa kebahagiaan dan keselamatan itu adalah dengan hidup sederhana dan selalu tekun dalam melatih kemampuan yang tersimpan di dalam diri. Tetap bekerja mengolah tanah untuk keperluan hidup, namun selalu menjaga keseimbangannya. Terus belajar ilmu duniawi-ilmiah, tapi juga selalu melatih kemampuan batiniahnya. Memperkuat diri dengan mengasah ilmu kanuragan dan kadigdayan sampai pada taraf waskita. Dan telah menghilangkan perdebatan dalam hidup ini dengan membudayakan diskusi dan musyawarah saja. Inilah cikal bakal untuk meraih kedamaian yang sebenarnya dalam hidup ini.

Tapi memang perlu diingat disini bahwa perlu hati-hati saat merasakan kedamaian itu. Karena kedamaian duniawi ini bukanlah akhir dari perjalanan. Resikonya adalah kita akan terikat dengan rasa damai itu lalu melupakan tujuan yang sebenarnya. Orang yang terikat dengan buah dari perbuatan baik di dunia ini akan merasa cukup lalu berhenti. Itu adalah kemunduran, bahkan suatu kematian dalam spiritual. Karena itu, hendaknya setiap awal dan akhir dalam setiap perbuatan itu hanya ditujukan kepada Yang Maha Damai. Dia itu tak terbatas sifatnya, sehingga ketika seseorang menuju kepada-Nya saja, maka ia akan merasa lebih baik. Dia itu Maha Cahaya dan tahapannya tak terhitung jumlahnya, sehingga saat seseorang terus berusaha mendekati-Nya saja, ia sendiri akan semakin bersinar. Inilah yang sebenarnya dari kedamaian itu.

Sungguh, dua sisi dalam kehidupan ini ada bukan untuk dilawan-lawankan tapi keduanya memang satu kesatuan yang saling menghidupkan. Jika saling dilawankan, maka riuhlah kehidupan ini. Kehidupan pun semakin masuk dalam kehancurannya sendiri. Padahal kehidupan ini laksana taman yang indah. Ada orang baik tapi ada pula orang jahat, ada orang disiplin namun ada juga yang malas, ada yang menyenangkan tapi ada pula yang menyebalkan. Semua ada sebagai bentuk keragaman yang indah, dan bisa mengindahkan kehidupan dunia ini. Ini merupakan hukum alam yang universal dari-Nya. Karena orang-orang jahat dan orang-orang tidak baik itu adalah cara dia bertumbuh. Belum tentu dia tidak akan berubah suatu hari nanti. Kegelapan dan kekotoran bathinnya juga bisa menjadi jalan pembuka untuk menuju gerbang pembebasan baginya nanti. Tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti, bila kegelapan dan kekotoran bathin itu bisa membuatnya sangat menyesal, lalu kekurangan-kekurangannya itu dia gunakan sebagai janji untuk melaksanakan dharma (kebenaran) dengan upaya lebih keras, tentunya dia bisa hidup mulia, bahkan lebih mulia dari siapapun. Sekali lagi tugas kita disini bukanlah menghakimi, tapi sama-sama berusaha menuju pada kebenaran yang sejati. Caranya dengan saling mengingatkan, membantu dan mengajak pada kebenaran Tuhan dengan penuh rasa cinta.

damai-4

Karena itu, dualitas dalam kehidupan ini ada bukan sebagai lawan-lawan yang berperang, tapi sebagai satu kesatuan yang saling menyeimbangkan. Siapapun yang melupakan ini dalam kehidupan sehari-hari akan berlaku sombong. Dengan sikap itu ia akan menutup jalan kebaikan dalam dirinya sendiri dan bagi orang lain. Hal yang buruk dalam meraih kebahagiaan dan keselamatan yang sejati. Padahal untuk bisa menuju pada kebahagiaan sejati itu adalah dengan melihat semuanya ada di tempatnya masing-masing dan memilihnya sesuai dengan ajaran Tuhan. Sampai disini seseorang bisa masuk pada tataran hidup yang murni lalu menuju pada keheningan yang sejati. Level hidup orang-orang yang selamat; para bijak bertari.

Untuk itu kekasihku. Kesempatan membangun peradaban yang paling gemilang layaknya di Surga itu tetap ada. Asalkan orang-orang masih tetap berusaha menjadi diri sejatinya. Manusia yang merdeka dengan jalan mampu menghilangkan kebodohan dalam dirinya. Pribadi yang telah menghilangkan dualitas dalam hidupnya. Yang tidak lagi menjadikan keyakinan (agama) yang ada itu sebagai penghalang untuk tetap mencintai orang lain. Tidak lagi menjadikan jenis dan golongan sebagai pembatas dalam berbuat kebaikan yang tulus. Dan tentunya sudah bisa menghilangkan rasa benar sendiri, atau merasa ilmu dan pemahamannya adalah yang paling sempurna. Sekali lagi hanya Hyang Aruta (Tuhan YME) saja yang benar dan tahu pula tentang kebenaran yang sejati – karena Dia-lah yang menciptakan kebenaran itu. Kita hanya makhluk yang bodoh dan tentunya banyak salah dalam hidup ini. Tidak pantas menjadi hakim, karena tugas kita sebenarnya bukanlah untuk memutuskan, tetapi selalu berusaha agar bisa sama-sama menuju pada Kebenaran itu.

Jambi, 22 Agustus 2016
Harunata-Ra

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s