Kerajaan Medang Kamulan: Antara Mitos dan Fakta Sejarah

Posted on Updated on

kerajaan misteri 3.jpg.pngSecara umum Medang Kamulan adalah kerajaan setengah mitologis yang dianggap pernah berdiri di tanah Jawa dan mendahului kerajaan Medang (Mataram kuno). Kerajaan ini dikatakan setengah mitologis karena belum ditemukan bukti-bukti fisik tentang keberadaannya. Namun bagi orang yang hidup di tanah Jawa, khususnya mereka yang masih memegang budaya dan tradisi leluhurnya, nama Medang Kamulan tidaklah asing. Kerajaan ini pun diyakini pernah ada, karena itulah namanya ada di dalam salah satu pakem cerita dalam pagelaran Wayang Kulit.

Adapun sumber-sumber mengenai kerajaan ini hanya berasal dari cerita-cerita rakyat, misalnya dalam legenda Roro Jonggrang dan penyebutan oleh beberapa naskah kuno. Dalam cerita pewayangan versi Jawa menyebutkan bahwa kerajaan Medang Kamulan ini adalah tempat bertahtanya Bhatara Guru. Dalam legenda Aji Saka, Medang Kamulan disebutkan justru sebagai negeri tempat berkuasanya Prabu Dewata Cengkar yang terkenal zalim. Cerita rakyat lain, di antaranya termasuk Roro Jongrang dan berdirinya Madura, menyatakan bahwa Mudang Kamulan ini dikuasai oleh Prabu Gilingwesi. Dan yang terakhir adalah bahwa masyarakat Sunda juga diketahui telah mengenal legenda mengenai kerajaan Medang Kamulan ini sebagai kerajaan yang mendahului kerajaan Sunda Galuh.

Dari semua keterangan itu, maka ada banyak versi tentang kerajaan ini. Lantas bagaimana kisah sebenarnya? Apakah memang ada (fakta) atau hanya sebatas mitos belaka?

Wahai saudaraku. Dalam tulisan ini, jujur saya katakan bahwa saya pribadi termasuk orang yang mempercayai tentang keberadaan dari kerajaan Medang Kamulan. Saya benar-benar yakin bahwa kerajaan ini memang pernah ada di masa lalu. Hanya saja, dan seperti takdir dari beberapa kerajaan lainnya di tanah Jawa, maka kerajaan ini tak lagi meninggalkan jejak peradabannya. Alasannya bisa dua macam, pertama karena hancur akibat perang atau bencana alam, dan kedua karena dipindahkan ke dimensi lain.

Nah, untuk menjawab itu semua dan sebagai bahan tambahan referensi bagi Anda yang berminat, mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Lokasi kerajaan
Kerajaan Medang Kamulan adalah sebuah kerajaan besar yang pernah ada di tanah Jawa, tepatnya di sekitar wilayah yang kini berada di antara kabupaten Madiun dan Nganjuk, Jawa Timur. Menurut perkiraan kami, kerajaan ini berdiri di sekitar 10.000-15.000 tahun yang lalu, dengan lama waktunya yaitu ±553 tahun. Pendirinya bernama Surangga Jayakna, sedangkan raja terakhir yang memimpin kerajaan ini bernama Wiltagama. Setelah kerajaan ini hilang, maka di sekitar ±315 tahun kemudian berdirilah sebuah kerajaan baru dengan nama Kasiyarangga. Kerajaan ini berdiri di sekitar bekas lokasi kerajaan Medang Kamulan. Dan ternyata rajanya masih keturunan dari raja-raja di kerajaan Medang Kamulan.

kerajaan misteri

2. Negara tetangga
Perlu diketahui bahwa pada masa itu (10.000-15.000 tahun lalu), di tanah Jawa sudah ada beberapa kerajaan tetangga yang menjalin hubungan dengan kerajaan Medang Kamulan. Untuk di sebelah timur (sekitar Kediri-Blitar), maka ada satu kerajaan yang bernama Singgala. Di sebelah tenggara (sekitar Malang-Mojokerto) ada kerajaan Turianggala, sebelah selatan (sekitar Pacitan) ada kerajaan Medang Siwandha, sebelah barat (sekitar Karanganyar-Solo) ada kerajaan Nurasanggara, dan untuk yang di sebelah utara (sekitar Tuban) ada kerajaan yang bernama Gasopati. Selanjutnya, di sekitar Jogjakarta-Purworejo ada kerajaan Artimanggala, di sekitar Garut-Tasikmalaya ada kerajaan Gungtala, dan di sekitar Lampung ada kerajaan Mursiyara. Semua kerajaan ini adalah negara yang merdeka dan berdaulat.

Selain delapan kerajaan tetangga itu, ada pula kerajaan sahabat yang berasal dari tanah seberang. Kerajaan-kerajaan ini telah menjalin hubungan dan kerjasama yang erat dengan Medang Kamulan, seperti hubungan diplomatik dan perdagangan. Adapun di antara negara sahabat itu adalah kerajaan Pariambala yang berdomisili di sekitar Quwait sekarang. Kerajaan ini berasal dari suku Anggala dan bisa di bilang sebuah kerajaan yang sangat besar dan menjadi leluhur dari kekaisaran Persia pada masa berikutnya. Dengan kerajaan ini, kerajaan Medang Kamulan lalu melakukan perdagangan barang-barang perhiasan, peralatan rumah tangga dan rempah-rempah. Semua terjalin dengan sangat baik dan saling menguntungkan.

Berikutnya dari daratan China ada Dinasti Yang – yang berasal dari suku Han. Kerajaan ini dulu berlokasi di wilayah bagian selatan China, tepatnya di antara propinsi Guangzhou dan Hongkong sekarang. Dengan kerajaan ini, kerajaan Medang Kamulan menjalin perdagangan berupa macam-macam barang keramik dan peralatan rumah tangga lainnya. Dan yang terakhir adalah kerajaan Galatsa yang berasal dari daratan India. Kerajaan besar ini berasal dari suku Pali yang pernah tinggal di sekitar wilayah bagian selatan India, tepatnya di sekitar propinsi Cehennal (Madras) sekarang. Dengan kerajaan besar ini, kerajaan Medang Kamulan lalu menjalin hubungan dagang berupa benang, kain dan pakaian, yang umumnya berbahan dasar dari serat sutera.

3. Kisah persahabatan dengan kerajaan Pariambala
Salah satu kerajaan yang akrab dengan kerajaan Medang Kamulan adalah kerajaan Pariambala. Satu kerajaan yang dulu berada di sekitar Quwait sekarang. Suatu ketika, untuk lebih mempererat hubungan diplomasinya, kerajaan ini – saat itu dipimpin oleh raja yang bernama Karsiwa – memberikan seperangkat gong dari kuningan sebagai hadiah persahabatan kepada raja Gulsuwantara; orang yang memimpin kerajaan Medang Kamulan pada saat itu.

Ada kisah tentang gong ini. Pada waktu itu, sebelum menyerahkan hadiah, raja Karsiwa mengutus orang untuk mempelajari kesenian yang ada di kerajaan Medang Kamulan. Orang tersebut di tugaskan untuk mempelajari alat musik apa yang menjadi ciri khas dari masyarakat disana. Dan singkat cerita, maka diputuskanlah untuk meniru seperangkat gong (yang terdiri dari 4 jenis dan ukuran) untuk dijadikan sebagai hadiah persahabatan. Ini juga berfungsi sebagai wujud dari pengenalan dan pertukaran budaya mereka.

Atas perintah sang raja, hadiah tersebut lalu ditempa oleh pandai besi yang ada di kerajaan Pariambala. Kualitas dan detailnya sangat diperhatikan agar tidak mengecewakan. Dan karena kerajaan Pariambala ini sudah terkenal dengan teknologi penempaan logamnya, maka gong yang dihasilkan sangat indah. Bunyi yang dihasilkan pun sangat bagus, karena setiap gong itu di pukul sekali saja maka bisa menghasilkan gema suara (dengungan) sebanyak 10-15 kali. Setelah siap, bersama seorang dutabesar, maka di kirimkanlah hadiah seperangkat gong yang menyerupai gong di tanah Jawa itu kepada kerajaan Medang Kamulan. Pada waktu itu hadiah dari raja Karsiwa itu diserahkan langsung kepada raja Medang Kamulan yang bernama Gulsuwantara. Lalu karena ia merasa senang dengan hadiah itu, maka gong tersebut selalu dimainkan pada saat menjamu tamu negara atau pada saat acara-acara resmi kenegaraan lainnya.

4. Pusaka kerajaan Medang Kamulan
Sebagai negara yang besar dan karena tradisi pada waktu itu, kerajaan Mudang Kamulan tentu memiliki pusaka kerajaannya. Setiap pusaka memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa itu. Pusaka ini juga merupakan simbol kekuatan dan kejayaan dari kerajaan dan raja yang memimpinnya. Karena itu, wajiblah kiranya setiap kerajaan yang ada di tanah Nusantara untuk memiliki benda pusaka. Dan memang pada masa itu setiap kerajaan pasti memiliki pusaka utamanya. Itu pun sudah ada sejak pada masa awal berdirinya kerajaan, entah karena proses pencarian (tapa brata) dari sang pendiri kerajaan atau memang pemberian khusus dari seseorang, dalam hal ini bisa saja Nabi, Wali, Resi, Dewa-dewi ataupun Bhatara. Tergantung jodohnya.

Kembali ke kerajaan Medang Kamulan. Kerajaan ini memang memiliki beberapa jenis pusaka andalannya. Semua pusaka itu terbukti bisa memberikan dampak positif bagi kehidupan rakyat dan kerajaan. Bahkan dimasa lalu, tanpa adanya pusaka, kerajaan atau rajanya akan “komplang” alias tidak akan berjalan normal dan tertimpa banyak musibah. Seorang raja bisa dikatakan sah naik tahta jika ia memegang benda pusaka kerajaan. Nah, untuk kerajaan Medang Kamulan ini justru tidak hanya memiliki satu benda pusaka saja, tetapi ada beberapa. Semuanya punya arti dan kelebihannya sendiri. Adapun di antaranya yaitu:

1. Keris Swartidaya (Panca Raga)
Keris yang ber-luk lima ini adalah pemberian dari Maharesi Satiyanagara. Pada bagian pangkal kerisnya ada ukiran berbentuk ular naga. Kemampuan dari keris ini adalah bisa membuat pemakainya memperbanyak dirinya hingga 5 sosok, bila di hunuskan bisa mendatangkan petir dan angin topan, bila di tancapkan akan mendatangkan gempa bumi, dan bagi yang menginginkannya maka siapapun yang memegang keris ini bisa terbang dan menghilang.

2. Mustika Hulaksana (Delima Merah)
Mustika ini adalah pemberian dari Bhatara Sudra (seorang dewa yang bertugas dalam menjaga keseimbangan air dan tanah). Keutamaan dari mustika ini bagi pemiliknya adalah bisa membuatnya menghilang, bisa terbang dan kebal dari segala macam senjata – termasuklah api. Selain itu, mustika ini juga berkhasiat untuk membawa kedamaian dan kemakmuran.

3. Selendang Mayang
Selendang sakti ini berasal dari Kahyangan karena pemberian dari seorang Dewi yang bernama Sukowati. Berwarna orange dan memiliki kekuatan untuk bisa terbang, menghilang dan kebal dari segala macam senjata.

4. Arca Mahesa Guru Wiyasa
Ini adalah sebuah arca (patung) dari seorang resi yang terbuat dari emas. Memang tidak memiliki kemampuan yang luarbiasa, karena hanya sebagai simbol dari kerajaan saja. Yang memang harus menyertai ketiga pusaka lainnya sebagai pelengkap dan indentitas. Dibawah patung ini ada cap negara yang berbentuk lambang kerajaan Medang Kamulan.

Jadi, ke empat benda pusaka inilah yang secara turun temurun selalu menjadi pusaka utama dari kerajaan Medang Kamulan. Ke empatnya tetap ada sepanjang hanyat kerajaan ini, bahkan hingga kini pun masih tetap ada. Semuanya masih berada di dalam petinya seperti sedia kala, hanya saja sudah tidak lagi berada di alam nyata ini karena sudah berpindah ke dimensi lain. Menunggu ada orang yang berhak mengambilnya. Seorang pemuda yang merupakan kesatria utama dan telah dinantikan selama ini. Dia pun haruslah keturunan dari para raja/ratu Medang Kamulan. Siapakah itu? Entahlah. Mungkin Anda justru lebih tahu.

Tapi, suatu ketika benda pusaka itu – khususnya mustika Hulaksana (Delima Merah) dan keris Swartidaya (Panca Raga) – akan muncul dalam bentuk cahaya putih yang sangat terang seperti bola lampu di atas bekas lokasi istana kerajaan Medang Kamulan ini. Dan penampakan ini pernah berulang kali di saksikan oleh orang yang kebetulan ada di lokasi tersebut. Hanya saja mereka tidak menyadari dan tidak tahu apakah gerangan itu. Namun sejak dulu telah dikatakan bahwa pusaka-pusaka itu hanya bisa diambil oleh sosok yang merupakan keturunan asli dari raja atau ratu Medang Kamulan saja. Ini tidak bisa ditawar oleh siapapun. Dan bila sudah waktunya nanti, maka hal itu pastilah akan terjadi. Sosok pemuda itu haruslah pribadi yang terpilih, tidak bisa selain dia. Dan kini, rasanya pun tidak akan lama lagi saat melihat kondisi negeri ini yang kian carut marut.

5. Pusaka Nabi Sulaiman AS
Pada saat Nabi Sulaiman AS masih hidup di muka Bumi ini, atau di sekitar 20.000-25.000 tahun yang lalu, beliau pernah mendapatkan petunjuk untuk mengambil lima benda pusaka yang ada di lima penjuru Bumi. Ke lima benda pusaka itu berupa keris, mahkota, gelang, sabuk dan ikat kepala yang bertahtakan permata biru. Beliau bisa menariknya dari alam goib dengan cara harus berdiri di salah satu lokasi terbaiknya, di tanah Jawa.

Pada waktu itu, atas petunjuk dari Tuhan beliau pun datang ke pulau Jawa, lebih tepatnya di wilayah Jogjakarta sekarang. Dari situlah beliau menarik kelima pusaka dari alam gaib untuk muncul ke alam nyata. Beliau lalu berdiri dengan sikap tangan yang seolah-olah sedang menarik sesuatu. Pertama kali beliau menurunkan tangannya menghadap ke depan-bawah. Saat itu yang di ambil adalah sebuah keris yang bernama Haknapasya. Keris ini di ambil dari arah tengah atau tepatnya dari wilayah Jogjakarta sendiri. Kedua adalah mahkota yang bernama Girlamsya. Mahkota ini diambil dari arah utara atau lebih tepatnya dari wilayah Russia sekarang. Ketiga adalah sepasang gelang yang bernama Pantusya. Gelang ini diambil dari arah timur atau lebih tepatnya dari sekitar kepulauan Hawai sekarang. Ke empat adalah sabuk yang bernama Darhusya. Sabuk ini diambil dari arah selatan atau lebih tepatnya dari wilayah Australia sekarang. Dan yang kelima adalah ikat kepala yang bertahtakan permata biru yang bernama Sirtupasya. Ikat kepala ini diambil dari arah barat atau lebih tepatnya dari wilayah Afrika Tengah sekarang. Kelima benda pusaka itu beliau ambil cukup hanya dengan berdiri dan menariknya dari Jogjakarta sekarang.

Setelah selesai dengan proses pengambilan kelima benda pusaka tersebut, maka atas izin dan petunjuk-Nya, beliau memerintahkan para malaikat untuk masuk (mendiami) ke dalam lima benda pusaka tersebut. Atau dalam artian, para malaikat ini bertugas untuk memunculkan kemampuan yang luarbiasa dari setiap benda pusaka itu saat dibutuhkan. Jadi, setiap benda pusaka ini bertambah hebat (sakti) lantaran adanya malaikat di dalamnya. Hal ini biasa disebut oleh orang Jawa sekarang dengan istilah khodam dari benda pusaka, hanya saja khodam-nya kali ini tidak biasa, yaitu para malaikat. Selanjutnya kelima benda pusaka ini lalu diletakkan di dalam sebuah peti yang terbuat dari kayu jati warna coklat yang dihiasi dengan ukiran dari emas.

Setiap benda pusaka itu akan memberikan kesaktian bagi si penggunanya. Namun secara khusus juga memiliki keutamaannya masing-masing. Adapun di antaranya sebagai berikut:

1. Keris Haknapasya -> simbol perjuangan. Siapapun yang bisa memegangnya akan memiliki banyak kesaktian dan kemampuan yang luarbiasa.

2. Mahkota Girlamsya -> simbol pemikiran. Siapapun yang bisa memakainya akan dianugerahi dengan kecerdasan, kewibawaan dan ahli dalam strategi.

3. Gelang Pantusya -> simbol persaudaraan. Siapapun yang bisa memakainya akan disenangi dan dicintai oleh orang banyak.

4. Sabuk Darhusya -> simbol nafkah (ekonomi). Siapapun yang bisa memakainya akan bisa menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

5. Ikat kepala Sirtupasya -> simbol keheningan. Siapapun yang bisa memakainya akan disegani, dituruti dan ditakuti oleh kawan maupun lawan.

Kisah selanjutnya. Selain di kenakan sendiri, pusaka ini pada akhirnya diberikan kepada orang lain yang pada saat itu memang layak menerimanya. Dan yang pertama kali memegangnya setelah Nabi Sulaiman AS adalah seorang raja yang bernama Garmula. Raja ini berasal dari kerajaan yang bernama Gamputa, yang saat ini wilayahnya berada di sekitar Nigeria (Afrika Tengah). Kerajaan ini lalu oleh Nabi Sulaiman AS bahkan diubah namanya menjadi Gamputasya lantaran menerima kelima benda pusaka dari beliau itu. Setelah menerima warisan dari Nabi Sulaiman AS itu, raja Garmula dan rakyat di seluruh kerajaannya bisa hidup lebih baik dan makmur. Tidak pernah terjadi perselisihan dan kesusahan, karena hidup mereka selalu damai dan sejahtera.

Setelah di pegang oleh raja Garmula, selanjutnya pusaka ini berpindah-pindah tangan, bahkan sudah ratusan orang yang pernah memegangnya. Dan yang paling sering memegang ke lima pusaka ini adalah seorang ratu atau putri kerajaan, yang kemudian dikenakan untuk dirinya sendiri atau diserahkan kepada suaminya untuk bekal memimpin kerajaan. Sedangkan yang terakhir kali memegang pusaka ini adalah seorang ratu dari kerajaan Medang Kamulan yang bernama Ardiya Nilawati. Ini terjadi di sekitar 10.000 tahun yang lalu. Beliau mendapatkannya setelah melakukan tapa brata yang keras untuk kebaikan rakyat dan negerinya. Setelahnya tidak ada lagi yang pernah memegangnya, karena pusaka ini tidak lagi berpindah tangan, namun disembunyikan di salah satu tempat terahasia di Bumi ini. Dan bila sudah waktunya nanti, akan ada orang yang bisa mengambilnya dan menggunakannya untuk membangun peradaban besar di Bumi. Dia adalah sosok kesatria utama yang telah dinantikan dari zaman ke zaman. Keturunan dari raja/ratu Medang Kamulan. Siapa? entahlah. Mungkin Anda lebih tahu dari saya.

6. Penutup
Wahai saudaraku. Demikianlah sekilas tentang kerajaan yang pernah berdiri pada sekitar 10.000-15.000 tahun lalu. Satu kerajaan yang makmur dan sangat disegani oleh banyak negara besar pada zamannya. Memang wilayahnya tak seluas Majapahit atau Sriwijaya, dan mereka pun tak suka berperang untuk sekedar ambisi kekuasaan atau demi memperluas wilayahnya agar bisa makmur. Namun demikian kehidupan mereka tetaplah sangat teratur, aman, damai, dan makmur dari hasil jerih payah sendiri (berdikari). Mereka tidak senang berperang, karena justru menjadi guru dan tempat rujukan bagi negara-negara lainnya dalam membangun peradabannya. Mereka sangat dihormati oleh semua negara. Karena itulah, tidak ada kerajaan yang berani mengusik atau menyerang mereka. Dan pada akhirnya mereka ini diperintahkan untuk berpindah ke dimensi lain. Disana mereka tetap menjalankan kehidupannya, sembari menanti ada orang – yang merupakan keturunan mereka, untuk berjuang dalam membangkitkan kejayaan Nusantara lagi. Tentunya mereka pun akan sudi membantu dan membimbingnya.

Tentang kerajaan Medang Kamulan ini, sebenarnya sudah sangat lama saya ingin share di blog ini. Hanya saja baru saat ini diizinkan. Tidak semua data dan informasi yang bisa disampaikan disini. Hanya sebagiannya saja, selebihnya masih harus tetap dirahasiakan dulu. Tugas kami disini, saat ini ya hanya menyampaikan yang seharusnya disampaikan. Setidaknya bisa memantik rasa penasaran dan keinginan Anda sekalian untuk lebih menyelami tentang siapa sebenarnya leluhur kita itu? Sehingga kita pun semakin tahu siapakah diri kita ini sebagai bangsa Nusantara? Ini demi masa depan yang lebih baik.

Adapun tujuan dari penulisan artikel ini adalah demi mengajak Anda sekalian untuk kembali pada jati diri sendiri. Kita ini bangsa Nusantara yang punya karakter dan tradisinya sendiri. Ikutilah apa yang pernah di lakukan oleh para leluhur kita dulu, khususnya dalam urusan berbangsa dan bernegaranya. Karena itulah yang terbaik bagi kita dan anak cucu kita nanti. Jika masih seperti sekarang ini, masih menerapkan tata aturan dan tata hukum yang diadopsi dari bangsa lain, maka bangsa ini akan tetap kerdil. Bahkan selalu jadi bahan “bancak’an” oleh negeri asing, diperbudak dan dihinakan terus menerus sampai mati. Tentunya kita tidak mau seperti itu. Kita ingin bangkit dan mengikuti jejak para leluhur yang berjaya dalam membangun peradabannya di Nusantara lama. Leluhur akan merestui, begitu juga alam akan merestui dan Tuhan pun akan memberikan anugerah-Nya, jika kita sadar diri dan kembali pada diri sendiri sebagai bangsa Nusantara yang sejati.

Ya. Apa yang akan terjadi di masa depan nanti, sebagiannya telah diketahui oleh para leluhur kita. Itu merupakan suatu kelebihan yang Tuhan berikan kepada mereka – tentunya dengan jalan hidup yang tidak mudah. Karena itulah, atas prakarsa sendiri dan atau karena petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME), mereka lalu mempersiapkan bekal terbaik untuk masa depan. Bekal bagi anak keturunannya yang terpilih untuk bisa membantunya berjuang dalam membangkitkan kejayaan Nusantara lagi. Salah satunya mengumpulkan dan menyimpan benda-benda pusaka yang sakti. Ini bertujuan untuk membantunya meraih kemenangan dalam pertempuran dan kejayaan dalam peradaban. Dan memang nanti akan ada perang besar dan bencana dahsyat di dunia ini. Karena itulah, benda-benda pusaka ini sangat diperlukan dalam perjuangan dan bertahan hidup nanti.

Bahkan terkait dengan kejayaan Nusantara itu, apa yang pernah di lakukan oleh Nabi Sulaiman AS dulu pun sangat berhubungan. Atas bimbingan (wahyu) Ilahi, beliau telah mempersiapkan bekal utama – dalam hal ini 5 benda pusaka – untuk seorang kesatria utama; yang merupakan keturunan dari raja/ratu Medang Kamulan. Kelima benda pusaka itu bisa dipergunakan sebagai perantara dan alat bantu untuk membangkitkan kejayaan Nusantara lagi. Semua benda pusaka itu juga untuk berjuang dan berusaha membangun peradaban yang gemilang. Kita tunggu saja, siapakah pemuda yang ketika ia muncul nanti, maka sosoknya itu sudah memegang benda-benda pusaka milik kerajaan Medang Kamulan ini. Dialah pemimpin besar yang selama ini dinantikan, yang akan membangun kembali Nusantara Jaya.

Akhirnya, sebagaimana tulisan sebelumnya, tugas saya disini hanya sebatas menyampaikan apa yang bisa dan harus disampaikan saja. Silahkan Anda menilainya sendiri. Percaya atau tidak percaya pun itu hak Anda, saya tidak akan mengusiknya. Silahkan saja meyakini atau justru menganggap informasi ini hanyalah mitos, dongeng atau bahkan kekonyolan belaka. Itu urusan Anda, karena saya tidak akan kecewa atau berbangga diri terhadap apapun sikap Anda itu. Tugas saya disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja. Percaya syukur, gak percaya ya silahkan. No problemoo.. Karena waktulah yang akan membuktikan kebenarannya.

Semoga kita bisa menyaksikan kejayaan paling gemilang di Nusantara nanti. Peradaban agung yang telah lama dinantikan, yang akan dibawa oleh seorang pemuda kesatria.

Harunata-Ra
[Mulai digali dan dituliskan di Jogjakarta sejak Januari 2013, selesai dituliskan tanggal 12 Nopember 2013]

8 thoughts on “Kerajaan Medang Kamulan: Antara Mitos dan Fakta Sejarah

    Tufail (@TufailRidha) said:
    November 10, 2016 pukul 7:04 am

    “Pada saat Nabi Sulaiman AS masih hidup di muka Bumi ini, atau di sekitar 20.000-25.000 tahun yang lalu”
    Kang Harunata-Ra ada yang menarik dari artikel sejarah ini tentang sejarah para nabi-nabi terdahulu apabila dikisahkan pada saat diturunkannya penciptaan nabi Adam As menurut wikipedia Ādam hidup selama 930 tahun setelah penciptaan (sekitar 3760-2830 SM) yang menjadi pertanyaan duluan mana kisah daripada para nabi-nabi tsb, apabila dari banyak kisah sejarah para nabi, Nabi Sulaiman hidupnya dikisahkan setelah nabi Adam As..
    Rahayu _/\_

      oedi responded:
      November 14, 2016 pukul 1:51 am

      Terimakasih kang Tufail atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Hmmm.. sekarang sih saya sudah tidak begitu percaya dengan Wikipedia, apalagi tentang sejarah manusia. Saya lebih percaya dengan hasil kajian dan penelusuran sendiri atau bersama temen-temen yang sekian tahun ini kami lakukan.
      Jika mengikuti sejarah yang umum diketahui, jujur kami bingung dan merasa banyak sekali yg aneh dan gak logis.. karena itulah kami mencari data dan informasi sendiri dengan cara ilmiah dan batiniah untuk menemukan jawaban. Alhamdulillah diizinkan oleh Tuhan untuk itu.
      Tentang kisah para Nabi, maka tidak ada yang salah dengan urutannya, semua sesuai dengan apa yang telah dikabarkan selama ini, baik menurut Al-Qur`an maupun Hadits. Nabi Adam AS itu adalah manusia yang pertama dan hidup jauuuuuuh sebelum Nabi Sulaiman AS. Bukan hanya jauh, tapi berbeda periode zamannya. Jika Nabi Adam AS hidup di periode zaman pertama umat manusia, yang disebut Purwa Duksina-Ra, maka Nabi Sulaiman AS itu hidup di periode zaman keenam yang disebut Nusanta-Ra, sementara kita ini hidup di periode zaman ke tujuh yang disebut Rupanta-Ra. Kedua periode zaman itu (Purwa Duksina-Ra dan Nusanta-Ra) terpaut jarak waktu selama milyaran tahun. Dan perlu diketahui bahwa setiap periode zaman itu berlangsung selama ribuan, jutaan bahkan sampai milyaran tahun. Dan ini bukanlah hal yang aneh atau mustahil, karena memang kehidupan di masa lalu tidak sama dg sekarang. Kita pun tak bisa menyamaratakan standar/model kehidupan di masa lalu dengan standar/model kehidupan di masa sekarang, karena itulah yang justru menjadi faktor kesalahan terbesar dalam memahami sejarah dunia. Lain dulu lain pula sekarang.
      Nabi Adam AS itu adalah makhluk yang luarbiasa, manusia yang paling sempurna penciptaannya, Al-Qur`an sendiri menjelaskannya. Karena itu beliau dianugerahi hidup yang sangat panjang, umurnya bukan hanya ribuan tahun, tapi sampai jutaan tahun. Ingat! jangan menyamaratakan model kehidupan di masa lalu dengan di masa kita sekarang, karena memang sangat berbeda. Dulu memang umur setiap orangnya sangat panjang, ribuan tahun itu mah biasa, apalagi jika seseorang rajin bertapa brata, maka umurnya akan jauh lebih panjang lagi… Begitu pula dengan waktu hidup sebuah kaum atau kerajaan, maka tidak sedikit yang diberi kesempatan untuk hidup selama jutaan tahun.. Tapi karena satu dan lain hal, maka kaum atau kerajaan itu akhirnya harus hilang, bisa jadi karena azab Tuhan, atau karena berpindah ke dimensi lain. Ini yang kemudian menjadi penyebab kenapa kita tidak bisa melihat bukti arkeologi tentang mereka. Karena itu kami harus menggunakan cara batiniah (metafisika) untuk bisa mengetahuinya.
      Kesimpulannya, sesuai Hadits riwayat Ahmad maka ada sebanyak 124.000 Nabi yang pernah hidup di muka Bumi ini. Dari 124.000 orang itu, maka sekitar 315 orangnya terpilih juga sebagai Rosul. Dari 315 orang Rosul itu, maka terpilih lagi 25 orang yang utama (ini yang wajib diketahui). Bahkan dari ke 25 orang Nabi dan Rosul itu, maka terpilih lagi sebanyak 5 orang yang disebut Ulul Azmi. Nah mereka semua itu (124.000 orang) tentu ada yang hidup sezaman, tapi tidak sedikit pula yang hidup dibeda zaman. Jika menggunakan ukuran waktu sesuai Wikipedia misalnya (dimulai sejak 3.760 SM), apakah logis semua Nabi itu bisa hidup dalam kurun waktu sesingkat itu?? Apakah cukup waktu yang cuma segitu untuk menampung kehidupan semua Nabi yg jumlahnya 124.000 orang?? Silahkan saja di bagi waktunya menurut usia rata-rata manusia. Apakah cukup dan logis cuma 5-6 ribu tahun? Ini belum lagi bila harus dihitung menurut ukuran waktu sebuah kaum, karena para Nabi dan Rosul terdahulu diutus untuk kaummnya sendiri. Artinya, tentu ada ribuan kaum yang pernah hidup di masa lalu. Dan tentunya kaum-kaum itu hidup minimal ribuan tahun lamanya. Sehingga, kali kan saja ribuan kaum itu dengan waktu ribuan tahun. Ini jelas sudah menggugurkan anggapan wikipedia dan sejarah umum dunia tentang waktu kehidupan manusia sejak Nabi Adam AS.
      Artinya, dibutuhkan waktu yang sangaaaaat lamaaaa agar 124.000 Nabi itu bisa hidup dan menjalankan tugasnya di Bumi. Karena itulah, logisnya waktu yang sudah dilalui umat manusia sejak zaman Nabi Adam AS sampai Rasulullah Muhammad SAW (atau sampai kita sekarang) haruslah milyaran tahun. Jika cuma ribuan tahun, itu jelas salah dan konyol. Dan secara tidak sadar kita akan menentang penciptaan itu sendiri, atau menentang apa yang telah disampaikan dalam Al-Qur`an dan Hadits. Perlu hati-hati dalam mempercayai sejarah, apalagi yang ditulis oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Al-Qur`an dan Hadits.
      Itu saja yang bisa saya jelaskan kang, semoga menjawab pertanyaannya..🙂

    Tufail (@TufailRidha) said:
    November 15, 2016 pukul 6:55 am

    Subhanallah… sempit sekali cara berpikir saya selama ini, semenjak sekarang saya tidak akan mudah mempercayai lagi sejarah sejarah buatan asing. Selama ini saya sendiri menyangsikan kalau kita, kami, saya ini keturunan ( apa betul ) Nabi Adams As apabila melihat rujukan wikipedia karena bagaimana mungkin nabi akhir jamannya saja adalah Rasulullah Muhammad SAW dan sampai sekarang masih ada keturunannya beliau nabi Muhammad SAW yang memang tercatat berdasarkan silsilah kenabiannya, lha wong saya ini ditanya kakek buyutnya saja gag tahu sampe sekarang, Indo(am)ne-sia kita selama ini di buat lupa dan dilupakan akan Leluhur bangsa Nusanta-Ra.
    Rahayu _/\_

      oedi responded:
      November 17, 2016 pukul 4:41 am

      Syukurlah kalau gitu mas.. mari kita sama2 lebih membuka diri dan cakrawala berpikir kita.. ayo lebih banyak menggali dan kroscek lagi tentang semua data dan informasi yang telah ada, karena tidak menutup kemungkinan terjadi kesalahan..
      Rahyu bagio mas Tufail..🙂

    Tufail (@TufailRidha) said:
    November 18, 2016 pukul 4:17 am

    Sebelumnya saya meyakini artikel artikel sejarah jaman baheula itu lebih dulu dari Nabi Adam AS karena kalau tidak salah mohon koreksi : pada saat penciptaan Nadi Adam “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” [AlBaqarah30]
    menurut pandangan saya sudah ada Manusia yang Hyang Aruta ( Allah SWT ) ciptakan sebelum Nabi Adam AS ditambah kalau tidak salah pada saat Nabi Muhammad Rasulullah SAW ke Sidratul Muntaha melihat pintu Neraka sudah ada manusia yang di siksa karena apabila manusia Jaman Nabi Adam belum kiamat. Menarik sekali artikel artikel sejarah dari kang Harunata-Ra yang harus terus saya pelajari di gali dan di kaji terus menerus karena menambah cakrawala berfikir saya dan juga untuk tidak bosan-bosannya saya tanya-tanya terus ke kang Harunata-Ra untuk mau berdiskusi.
    Rahayu Salawasna _/\_

      oedi responded:
      November 21, 2016 pukul 4:33 am

      Hmm tentang ayat itu, mari kita coba gali lebih luas dan dari sudut pandang yang berbeda. Saya fokuskan saja pada kalimat “… Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di Bumi itu orang yang membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah….”
      Dari keterangan ayat itu, bisa ada beberapa makna. Pertama, tidak ada penjelasan secara eksplisit tentang adanya manusia di atas Bumi sebelum Nabi Adam AS. Begitu pun makhluk lainnya – yang seperti manusia – juga tak dijelaskan di ayat itu. Terlebih disana ada kata “hendak” yang artinya akan atau belum terjadi, alias baru akan dilaksanakan atau baru akan terjadi setelah Tuhan mengizinkannya. Jadi, bagi saya pribadi ayat ini jelas menerangkan Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang tinggal di Bumi. Tidak ada yang lain selain beliau dan istrinya; Hawa AS. Jika pun ada, kemungkinan adalah bangsa/golongan makhluk lain seperti Jin, Peri, Cinturia dan Karudasya. Sekali lagi bukan manusia atau yang seperti manusia.
      Kedua, jika dicermati lebih seksama, rasanya kalimat itu hanya sebatas sangkaan/perkiraan para malaikat bahwa jika ada makhluk seperti manusia (yang dibekali akal, pikiran dan nafsu) tinggal di Bumi, tentunya akan ada perubahan bagi Bumi itu sendiri, seterusnya Bumi akan jadi rusak parah karena ulah tangan manusia yang tak bertanggungjawab (akibat telah dikuasai oleh nafsunya). Ini muncul dari hati para malaikat yang bersih, karena selama ini mereka hanya melihat Bumi dan segala isinya (hewan dan tumbuhan) selalu dalam kondisi alami dan harmonis. Mereka tak mau kondisi Bumi berubah dari yang alami menjadi cacat oleh perilaku umat manusia nantinya. Sebagaimana manusia, para Malaikat telah dibekali kemampuan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi nanti.
      Jadi, pada saat itu para malaikat merasa cemas dan khawatir dengan kondisi Bumi yang menurut mereka pasti akan rusak oleh tindakan manusia; sebab manusia dibekali akal dan nafsu syahwat. Keduanya itu sudah jelas sangat cukup untuk merusak Bumi (ini pun terbukti sampai sekarang). Terlebih saat itu para malaikat juga punya pengetahuan bahwa Bumi itu juga sebagaimana makhluk Tuhan yang lainnya yang beriman siang malam dengan terus bertasbih kepada Allah, sehingga sebagai sesama hamba yang beriman tentu ada rasa cinta dan kasih sayang. Para malaikat akhirnya tak ingin ada satu makhluk-Nya yang beriman (Bumi) “tersakiti” oleh perbuatan manusia. Malaikat disini juga hanya sebatas makhluk yang punya kelemahan dan rasa iba alias tak sempurna, buktinya mereka menunjukkan rasa cemas dan iba terhadap nasib Bumi di kemudian hari jika ada makhluk yang bernama manusia itu tinggal di muka Bumi. Ini kodrat para malaikat yang memang sangat lembut hati dan jiwanya. Tapi Allah SWT menenangkan mereka dengan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Artinya, jika ada kerusakan dan kehancuran di Bumi yang disebabkan oleh manusia, maka Allah SWT akan memperbaikinya dengan berbagai cara, seperti mengutus para Nabi dan Rosul untuk menuntun manusia untuk bisa kembali ke jalan yang benar agar kehidupan di Bumi kembali normal dan harmonis. Atau pada kasus yang khusus, sampai harus menurunkan azab untuk meremajakan kondisi Bumi seperti sedia kala. Inilah yang sering saya sampaikan dengan transisi zaman. Dan hal ini sudah terjadi berulang kali. Kita sekarang ini hidup di akhir periode zaman ke tujuh (Rupanta-Ra) menuju periode zaman ke delapan (Hasmurata-Ra). Perbaikan alam sudah terjadi berulang kali sejak masa transisi zaman pertama dan kedua. Kita sekarang sedang menunggu hari “H” saja, dan tanda-tandanya sudah semakin jelas dengan banyaknya musibah dan bencana alam di sekitar kita.
      Itu saja mas menurut saya, kalau benar itu hanya atas izin Allah SWT, kalau salah tentu karena kekurangan diri saya sendiri, maklum saya ini cuma orang awam yang bodoh..
      Lalu tentang penglihatan Rasulullah SAW saat Mi`raj, itu bukan hal yang aneh menurut saya. Karena sangat mudah bagi Allah SWT untuk menciptakan sesuatu yang luarbiasa, dalam hal ini orang yang disiksa di dalam Neraka. Bukankah Allah itu adalah Yang Maha Pencipta, jangankan manusia dan Neraka, seluruh alam semesta, Langit, Baitul Makmur, Syurga, dan Sidratul Muntaha saja bisa Dia ciptakan dengan sangat mudahnya, apalagi cuma orang-orang yang disiksa di Neraka. Artinya, pada saat itu, Rasulullah SAW hanya sedang melihat semacam “simulasi” tentang bagaimana keadaan orang-orang yang kelak disiksa di dalam Neraka akibat kedurhakaan mereka kepada Allah SWT – manusia saja bisa menciptakan berbagai bentuk simulasi, masa Tuhan gak bisa; jangan mengkerdilkan-Nya loh. Dan karena Allah SWT yang menciptakan “simulasi” itu, tentu kualitasnya sangat jauh berbeda dengan buatan manusia. Meskipun cuma “simulai”, tapi rasanya seperti asli, sangat nyata baik yang dilihat, didengar dan dirasakan oleh beliau. Secara Tuhan loh yang menciptakannya.
      Jadi, saat itu bukan berarti sudah benar-benar ada manusia yang disiksa disana. Itu hanya sebatas “simulasi” saja, dan benar bahwa saat itu terlihat sangat nyata dan berlansung live di Neraka. Saat itu Rasulullah SAW pun melihat langsung di Neraka, benar-benar terjadi di Neraka, bukan di tempat lain, sebagai bukti ke istimewaan diri beliau. Tapi sebagaimana pun itu, tetap aja sebatas “simulasi”, bukan sebenarnya. Karena kita jangan pernah lupa bahwa seseorang itu akan diputuskan masuk ke dalam Syurga atau Neraka tentu setelah dihisab (pengadilan) terlebih dulu di padang Mahsyar nanti. Pandang Mahsyar itu baru ada nanti setelah kehidupan dunia ini berakhir dengan datangnya Hari Kiamat. Nah sekarang kan belum datang Hari Kiamatnya? Kehidupan dunia pun masih berlangsung. Jadi belum ada dong orang yang pernah hidup di muka Bumi ini yang masuk ke dalam Neraka. Semua manusia yang wafat selama ini tinggal di alam Barzah (alam kubur) dan disana mereka terus menunggu datangnya Hari Kiamat; ada yang tenang keadaannya, ada pula yang terus tersiksa karena begitu banyak dosanya. Siksa Neraka yang sebenarnya akan terjadi nanti setelah pengadilan Mahsyar di akherat terjadi.
      Sungguh, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah jika Dia sudah menginginkannya. Apa yang terjadi pada saat Mi`raj itu sangatlah mudah bagi-Nya, sangat mudah, karena Dia Maha Pencipta dan menguasai segalanya. Masuk akal atau tidak masuk akal bagi manusia itu hal yang biasa saja bagi-Nya, sangat mudah. Dan hakekat perjalanan Mi`raj itu tak cukup hanya dipahami secara harfiah, harus digali lebih luas agar kita bisa menemukan maknanya yang sesungguhnya.
      Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan mas, lebih kurangnya saya minta maaf. Masih banyak hal yang bisa diambil maknanya dari kasus di atas, tapi saya ini sangat banyak keterbatasannya, maklum cuma orang awam dan bodoh..
      Rahayu bagio _/\_🙂

    Tufail (@TufailRidha) said:
    November 21, 2016 pukul 7:00 am

    Maha Suci dan Benar Allah Swt dengan Segala Firman-Nya. baru ini menurut saya penjelasan yang sangat luas lagi jelas dengan segala penjabarannya yang bisa dan mengena di akal dan pikiran saya kang Hatur Nuhun sekali. menjadikan saya akan selalu rindu Ilahi, bagi saya kang Harunata-Ra manusia Supranatural terbesit pun tidak untuk mau membandingkan dengan diri saya yang sangat Kurang akan segala hal karena saya selalu memakai Peribahasa Sunda. ” Bodo Alewoh” sanajan bodo tapi kudu daek tatanya tapi tidak “Bodo Katotoloyo” = bodo jeung teu daek tatanya. biar bodoh asal mau banyak bertanya. Sekali lagi jangan bosan-bosan dan jengkel saya tanya-tanya terus ya kang, kalau kang Harun awam dan bodoh apalagi saya kang 🙂. semoga Hyang Aruta ( Allah SWT ) selalu memberikan Kesehatan dan limpahan Berkah serta segala KaruniaNya kepada kang Harunata-Ra. Amin ya Allah.
    Rahayu Salawasna _/\_

      oedi responded:
      November 21, 2016 pukul 7:45 am

      Syukurlah kalo gitu kang, semoga bermanfaat..🙂
      Waduh.. Semua itu hanya atas izin Allah saja, disini saya mah gak ngapa-ngapain kang, saya cuma orang awam.. Dan ttg hakekat dari ayat itu tentu masih byk lagi, dan lebih luas.. Apa yg saya sampaikan itu mungkin baru kulit luarnya saja tuh, masih ada kulit dalam, batok kelapanya, trus daging buah dan airnya kang (seperti buah kelapa yg berlapis).. tugas kita utk terus berpikir dan meminta petunjuk Allah SWT.
      Saya tidak lebih baik atau lebih tau dari sampeyan, jadi kita sama” belajar aja deh kang.. atau justru mungkin sampeyan mau ngajarin saya yg awam ini.. ya tentang hal apa saja..
      Terimakasih utk doanya kang, begitu juga utk sampeyan, semoga selamat dan sejahtera dunia akherat..🙂
      Rahayu _/\_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s