Candi Anggarawisma dan Astawina

Posted on Updated on

candi kunoWahai saudaraku. Tulisan kali ini masih tentang masa lalu di Nusantara. Apa yang dibahas kali ini juga tentang hal yang mungkin akan di anggap mitos, dongeng, khayalan bahkan konyol oleh sebagian orang. Itu terjadi karena apa saja yang disampaikan ini memang terkesan tidak masuk akal untuk ukuran orang zaman sekarang. Terlebih memang nama-nama yang disebutkan terasa asing dan tidak ada pula dalam catatan sejarah umum masa kini. Tapi tidak ada itu bukan berarti memang tidak ada loh. Terkadang ia belum terungkap atau memang sengaja disembunyikan sampai batas waktu tertentu.

Dan sebagaimana sebelumnya, disini saya juga tidak akan ambil pusing dengan anggapan itu. Silahkan Anda menilai apa saja mengenai tulisan ini, percaya atau tidak percaya tidak masalah, itu kembali pada diri Anda sendiri. Saya pun tidak akan berkecil hati atau berbangga diri dengan sikap Anda sekalian. Karena tugas saya disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan. Percaya syukur, gak percaya juga silahkan, itu hak Anda.

Nah, untuk mempersingkat waktu, mari ikuti penelusuran berikut ini:

Sungguh banyak candi yang pernah ada di Nusantara ini, khususnya di pulau Jawa. Ada yang masih diketahui dan ada pula yang sudah tidak lagi diketahui. Di antara yang tidak diketahui itu adalah candi-candi yang akan dijelaskan dalam tulisan ini. Dan memang candi-candi itu pun tidak lagi ada di muka Bumi ini, bahkan kisahnya pun tidak ada di dalam catatan sejarah masa kini. Karena itu, saya ingatkan dulu bahwa dibutuhkan pemahaman ilmu yang lebih luas dan menyeluruh. Anda harus bisa melepaskan keterikatan pada informasi umum selama ini, khususnya dari para penjajah (dalam hal ini orang Barat seperti Inggris, Belanda, Portugis). Dan tidak cukup bila hanya mengandalkan ilmu ilmiah, karena juga harus menggunakan sudut pandang ilmu batiniah sebagai pelengkapnya.

1. Candi Anggarawisma
Candi Anggarawisma ini merupakan sebuah bangunan yang sangat megah di zamannya. Ia di bangun di sebuah lokasi yang kini disebut kota Madiun, Jawa Timur, tepatnya pada masa kerajaan Kartamun, pada periode zaman Nusanta-Ra (antara 12.000-15.000 tahun lalu). Bangunan ini terdiri dari 5 tingkatan, dengan ukuran tiga kali lebih besar dari bangunan candi Borobudur sekarang.

candi kuno 1

Kisah tentang berdirinya candi ini berawal dari sebuah sayembara yang di adakan di kerajaan Kartamun. Sayembara itu bertujuan untuk memilih seorang suami bagi seorang putri cantik yang bernama Wismariyani. Undangan pun telah di sebarkan kepada seluruh kerajaan tetangga oleh raja Mayigosa (raja kerajaan Kartamun). Sehingga banyaklah para pangeran dan raja yang datang untuk mengikuti sayembara itu. Di antaranya dari kerajaan Niladaka (sekitar wilayah Jambi-Sumatera Barat), Murdali (sekitar Selat Sunda), Guhalti (sekitar Kamboja), Tamurtaka (sekitar Brunai Darussalam), dan Wartakna (sekitar Gorontalo).

Singkat cerita, sayembara pun dimulai dan setiap peserta harus mengikuti berbagai seleksi. Adapun pada saat itu setiap peserta harus mengikuti seleksi ilmu pengetahuan, adu ketangkasan dan kesaktiannya. Setelah lulus dari ujian tersebut, barulah seseorang akan bisa mengikuti syarat selanjutnya (ujian akhir sayembara). Yang tentunya tidak mudah.

Ujian pun dilaksanakan dengan tertib oleh setiap peserta. Setiap orang mengikutinya dengan sungguh-sungguh. Dan pada akhirnya ada lima orang yang berhasil menyelesaikan setiap tantangan yang ada, dan ternyata mereka itu lima bersaudara dari kerajaan Tamurtaka (sebuah kerajaan yang dulu pernah ada di wilayah Brunai Darussalam sekarang). Dan karena ada lima orang pemenangnya, maka dari itu diberikanlah satu syarat tambahan yang di sampaikan langsung oleh sang putri sendiri.

Singkat cerita sang putri dihadirkan di hadapan para undangan. Dalam kesempatan itu putri Wismariyani lalu mengajukan syarat khusus kepada lima bersaudara itu bila memang ia ingin mempersunting dirinya. Ia mengatakan bahwa seseorang harus bisa membuatkan sebuah bangunan yang tidak termakan usia, berasal dari batu alam, tidak ada yang sama dengan bangunan itu dan dikerjakan hanya dalam waktu 10 hari saja. Sebelum mulai membangunnya, setiap orang diberikan waktu selama 3 hari untuk memutuskan apa yang akan ia bangun nanti.

Mendapatkan syarat itu, ke lima pangeran itu lalu melakukan tapa brata. Setiap orang berusaha mendapatkan ide untuk memenangkan sayembara. Dan setelah tiga hari berlalu, maka setiap orang sudah mendapatkan ide untuk membangun apa. Pertama, Nayatata (anak bungsu) dengan kesaktiannya ia bisa membangun sebuah candi setinggi ±10 meter dengan lebar ±300 meter persegi. Di atas candi ini berdiri pula 50 anak candi setinggi ±10 meter.

Lalu, melihat Nayatata sudah selesai mendirikan bangunan candi itu, Martayata (anak ke empat) membangun candi lainnya tepat di atas candi buatan Nayatata. Candi ini terdiri dari lima tingkatan yang di setiap tingkatannya terdapat 10 bangunan candi yang lebih kecil.

Selanjutnya, ketika melihat Martayata telah usai mendirikan bangunan candi. Sariyata dan Sarupata (anak ketiga dan kedua) membangun candi berikutnya tepat di atas candi buatan Martayata. Candi tersebut terdiri dari lima tingkat juga, yang pada tingkat pertama ada 10 anak candi, tingkat kedua ada 9 buah anak candi, tingkat ketiga ada 8 buah anak candi, tingkat ke empat ada 7 buah anak candi dan tingkat ke lima ada 6 buah anak candi.

Berikutnya, setelah melihat Sariyata dan Sarupata selesai membangun candinya, Sagiramata (anak sulung) lalu membangun candi tepat di atas bangunan candi buatan Sariyata dan Sarupata. Pada bagian ini ia hanya membangun 30 buah candi. Ada empat candi besar pada setiap arah mata angin dan untuk yang di bagian tengah merupakan candi utamanya.

Demikianlah awal berdirinya bangunan candi Anggarawisma ini. Melihat bangunan candi yang ada, putri Wismariyani sulit menentukan pilihan. Hal itu terjadi karena ia melihat ada kesamaan bentuk dan ukurannya, bahkan dibangun di tempat yang sama (satu bangunan). Sehingga antara putri Wismariyani dan kelima bersaudara itu pun berdiskusi untuk menentukan jalan keluarnya. Dan pada akhirnya mereka sepakat untuk memberikan waktu tambahan selama tiga hari agar kelima pangeran bisa memutuskan apa yang harus mereka lakukan sebagai pamungkas.

Setelah tiga hari berlalu, diputuskanlah bahwa mereka akan membangun candi lagi tapi harus yang terindah dan tertinggi. Dengan kesepakatan yang baru itu, anak ketiga (Sariyata) lalu memutuskan untuk membangun sebuah candi di bagian tengah, anak pertama (Sagiramata) di sebelah utara, anak kedua (Sarupata) di sebelah barat, anak ke empat (Martayata) di sebelah selatan dan anak yang ke lima (Nayatata) di sebelah timur. Selanjutnya, setelah bertapa selama tiga hari mereka mulai membangun candi yang mereka maksudkan sebelumnya. Mereka pun membangun candinya di tempat mereka bertapa hanya dalam waktu yang singkat.

Lagi-lagi candi yang mereka bangun antara tinggi dan bentuknya sama persis. Entah mengapa itu semua bisa terjadi. Namun karena kesaktian anak ketiga (Sariyata) melebihi yang lainnya, maka ia lalu membuat bangunan yang di tengah (yang ia bangun) menjadi lebih tinggi dari yang lainnya. Sehingga atas dasar itulah, maka sayembara untuk mempersunting putri Wismariyani pun dimenangkan oleh pangeran ketiga, yang bernama Sariyata itu. Tapi selama peristiwa pembangunan candi, jelas sekali ada kekuatan adidaya yang tak terlihat, yang mengendalikan hati dan pikiran lima bersaudara itu dalam pembangunan candi ini. Tentunya ada simbol-makna yang mendalam dan tujuan khusus dengan itu semua. Silahkan direnungkan.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini detil bangunan candi Anggarawisma ini. Yaitu:

1. Di bangun oleh lima bersaudara pada masa kerajaan Kartamun (sekitar 12.000-15.000 tahun yang lalu).
2. Di bangun atas kesaktian manusia selama 10 + 1 hari.
3. Terbuat dari batu hitam (andesit) dan marmer putih dengan tinggi keseluruhannya ±100 meter dan lebarnya sekitar ±300 meter persegi.
4. Semuanya terdiri dari lima tingkatan. Tingkat pertama dan kedua masing-masing setinggi ±10 meter, tingkat ketiga dan keempat masing-masing ±15 meter, sedangkan tingkat ke lima setinggi ±50 meter.
5. Dinding tidak dipenuhi relief, hanya sebagiannya saja. Dan pada setiap anak candinya (di dalamnya) terdapat sebuah patung wanita yang sedang menari, yang terbuat dari batu pualam warna putih. Dan ternyata patung itu adalah patung dari putri Wismariyani sendiri.
6. Ada banyak anak candinya, sedangkan total semua bangunan anak candi yang ada di candi Anggarawisma ini adalah ±135 buah.

Demikianlah kisah pembangunan dari candi Anggarawisma ini. Sangat unik, bahkan terkesan aneh dan tidak masuk akal bagi orang-orang di zaman sekarang. Tetapi demikianlah fakta yang pernah terjadi pada masa lalu, karena pada masa itu orang-orang di Nusantara bisa melakukannya. Mereka memang sudah hidup dalam kesaktian yang luarbiasa. Semua itu tentunya tidak dengan jalan dan cara yang mudah, karena sebelumnya mereka harus menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan kesaktian yang orang sekarang tidak lagi memilikinya. Terlebih mereka pun senang melakukan tapa brata yang keras untuk menambah kekuatan diri dan kesaktian yang dimiliki, yang tidak lagi dilakukan oleh kebanyakan orang di masa kita sekarang. Karena itulah, di masa lalu para leluhur kita bisa terbebas dari hukum fisika yang sangat mengikat dan diagungkan dimasa kini. Mereka bisa melakukan yang tidak masuk akal dan mustahil bagi orang dimasa sekarang.

Kembali ke candi Anggarawisma. Candi ini diperuntukkan sebagai wujud cinta dan hadiah kepada putri Wismariyani. Tetapi sangat disayangkan sang putri hanya bisa menikmatinya selama 15 tahun saja. Setelah menikah dengan Sariyata, 15 tahun kemudian ia meninggal karena sebuah penyakit. Namun sebelum meninggal sang putri minta jika ia wafat nanti maka jasadnya harus dibakar dan abunya di oleskan pada semua patung di candi Anggarawisma. Sisanya harus di semayamkan di candi utamanya. Hal ini ia lakukan, karena menurut sang putri bila abunya di oleskan dan di semayamkan di dalam candi, maka ia bisa tinggal disana. Lalu karena rasa cinta dari sang suami (Sariyata) dan rakyatnya, maka lama kelamaan ada ritual khusus di candi ini. Nah, pada waktu-waktu tertentu, maka sesuai dengan apa yang pernah disampaikan oleh putri Wismariyani, bahwa ia akan menampakkan dirinya sebentar di candi Anggarawisma itu terbukti benar.

Selanjutnya, candi Anggarawisma ini pada awalnya masih berada di alam nyata, tepatnya di wilayah kota Madiun sekarang. Namun kemudian, candi ini pun raib dari muka Bumi. Itu terjadi karena memang sebelum pergi (moksa), pendirinya (Sariyata) berpesan kepada anak-anaknya. Ia berkata: “Candi Anggarawisma itu akan dinikmati hanya sampai pada keturunannya yang ke tujuh. Setelah itu, bangsa jin akan dipersilahkan membawanya ke tempat mereka tinggal (alam gaib)”. Sehingga oleh sebab itulah, setelah keturunan yang ke tujuh dari Sariyata, maka bangunan candi ini pun raib dari muka Bumi. Ia dipindahkan oleh bangsa jin ke tempat tinggal mereka di alam gaib sana. Dan mungkin saja nanti akan kembali muncul di alam nyata ini sebagai sebuah pertanda akan ada sesuatu hal “YANG BESAR”.

2. Candi Astawina
Kisah pembangunan candi Astawina ini bermula pada saat di adakannya sebuah sayembara untuk mempersunting seorang putri dari kerajaan Candrana (sebuah kerajaan yang dulu ada di sekitar Kediri sekarang). Putri ini sangat cantik dengan nama Suksari Purtani. Ia adalah seorang putri dari raja yang bernama Tamhuli, yang memerintah sebuah kerajaan yang bernama Candrana pada sekitar 7.000-8.000 tahun yang lalu.

candi kuno 2

Undangan sayembara disebarkan ke seluruh kerajaan tetangga, sepeti kerajaan Suladaya (sekitar Palembang), Galangpura (sekitar Jakarta-Banten-Jabar), Gasluwah (sekitar Jawa Tengah), Mulhana (sekitar Kutai) dan Ganehala (sekitar Makasar). Banyak para raja dan pangeran yang datang memenuhi undangan tersebut, karena memang putri Suksari Purtani ini sudah terkenal dengan kecantikannya. Di antara yang datang untuk mengikuti sayembara itu adalah seorang raja dari kerajaan Galangpura (sebuah kerajaan yang ada di tatar Sunda) yang bernama Wirakartaya. Ia sangat berambisi untuk mempersunting sang putri, bahkan meski harus dengan segala cara yang ada.

Di lain sisi, sebenarnya sang putri tidak menyetujui dengan keputusan ayahnya itu. Itu terjadi karena sebenarnya ia sudah mencintai seorang pemuda, tapi memang ia hanya dari kalangan rakyat biasa. Namun karena tidak ada yang bisa mengubah keputusan dari seorang raja, maka sang putri pun terpaksa menurutinya. Meskipun dengan hati yang kecewa.

Singkat cerita, sayembara pun dilaksanakan. Berbagai ujian telah dilalui oleh para peserta, mulai dari ujian kemampuan ilmu pengetahuan, wawasan, beladiri sampai pada kesaktian. Semua bisa dilalui oleh beberapa orang saja. Hingga pada akhirnya tibalah saatnya bagi sang putri untuk mengajukan syarat kepada siapa saja yang ingin mempersunting dirinya. Hal ini tidak disia-siakan oleh sang putri, dan ia langsung mengajukan syarat yang sangat berat kepada semua peserta sayembara. Katanya; “Aku akan menerima untuk dipersunting seorang laki-laki bila ia bisa mengabulkan syarat yang ku berikan. Yaitu ia harus bisa membuatkan sesuatu yang unik, indah, bertahan lama dan bisa dinikmati oleh siapapun hanya dalam waktu tiga hari”.

Pada saat itu, dari semua peserta ada tiga orang yang paling menonjol. Ketiganya dari kerajaan yang berbeda. Pertama Anggarta Wihasa, seorang raja dari kerajaan Gasluwah yang berdomisili di sekitar Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah sekarang. Kedua Wirakartaya, seorang raja dari kerajaan Galangpura yang berdomisili di sekitar Jawa Barat-Banten-Jakarta sekarang. Dan yang ketiga adalah Ganehastapa, seorang raja dari kerajaan Ganehala, yang berdomisili di sekitar Makasar sekarang. Ketiganya adalah sosok yang paling unggul dari semua peserta sayembara. Dan pada akhirnya memang ketiga orang inilah yang harus bertanding untuk membuatkan sesuatu yang paling sesuai dengan kemauan sang putri.

Ketiga orang tersebut lalu mengeluarkan semua kemampuan yang mereka miliki, dan setiap orangnya punya kesaktiannya sendiri. Raja Anggarta Wihasa membuatkan sebuah puisi cinta yang ia tulis di atas batu besar yang berukir indah. Raja Ganehastapa membuatkan patung seorang wanita yang sedang menari dari batu besar, sangat indah. Sementara raja dari kerajaan Galangpura (Wirakartaya) membuatkan sebuah candi yang megah dengan memerintahkan bangsa jin untuk membangunnya.

Adapun detil dari candi Astawina ini adalah sebagai berikut:

1. Dibangun oleh bangsa jin selama 3 hari 3 malam atas perintah raja Wirakartaya pada masa kerajaan Cendrana (7.000-8.000 tahun lalu).
2. Terbuat dari batu marmer warna putih, tembaga dan perak.
3. Merupakan komplek percandian yang terdiri dari 101 buah candi, dengan luas keseluruhan areanya sekitar ±5 hektar.
4. Bangunan candi yang tertinggi memiliki ketinggian ±91 meter dan lebar ±41 meter.

Melihat Wirakartaya bisa membangun sebuah candi yang megah, maka sang putri semakin cemas bila ia harus menikah dengan raja tersebut. Terlebih memang ia pun tidak pernah cinta kepadanya, karena sebenarnya ia telah lebih dulu mencintai Taruna. Seorang pemuda biasa yang bisa membuatnya tersenyum dan bahagia. Tapi bagaimana bisa, janji harus dipenuhi bila Wirakartaya bisa memenuhi syarat yang ia ajukan.

Di lain waktu, Wirakartaya sudah tahu bila putri Suksari sebenarnya sudah jatuh hati kepada seorang pemuda biasa. Ia tidak bisa menerima hal ini, terlebih memang ia pun sudah tergila-gila dengan kecantikan sang putri. Dan pada akhirnya ia gelap mata lalu membunuh pemuda yang sangat dicintai oleh sang putri. Putri Suksari pun akhirnya mengetahui bahwa kekasihnya itu telah dibunuh oleh orang yang bakal memenangkan sayembara yang di laksanakan (Wirakartaya). Dan karena sang putri telah putus asa dalam cintanya, terlebih karena akan di persunting oleh orang yang telah membunuh kekasihnya itu, ia pun berupaya untuk mencari jalan keluar yang lainnya.

Singkat cerita, putri Suksari lalu ber-semedhi untuk mendapatkan petunjuk dalam memecahkan masalah pelik yang sedang ia hadapi itu. Dalam semedhi itu, sang putri pun mendapatkan wangsit agar ia melakukan sesuatu demi mewujudkan keinginannya. Tetapi memang syaratnya berat, karena setelah itu ia pun akan menghilang dari kehidupan dunia nyata, alias pindah ke dimensi lainnya.

Waktu terus beranjak, akhirnya Wirakartaya berhasil membangun sebuah candi yang megah yang terbuat dari batu marmer warna putih. Dengan bantuan bangsa jin ia berhasil membangun candi itu selama tiga hari saja. Begitu pun kedua peserta sayembara lainnya, mereka juga telah menyelesaikan apa yang mereka tujukan untuk sang putri dalam waktu tiga hari. Melihat ketiga ciptaan peserta sayembara, mau tidak mau memang Wirakartaya-lah yang sangat sesuai dengan syarat yang diajukan oleh putri Suksari sebelumnya.

Putri Suksari Purtani pun “terlihat menerima” bangunan candi tersebut. Melihat sikap itu, Wirakartaya pun senang, begitu pula dengan ayah sang putri, raja Tamhuli. Putri Suksari pun mendekat ke arah bangunan candi, bahkan memasuki area candi yang terdiri dari puluhan candi-candi itu. Melihat itu, semua orang pun ikut merasa senang, tetapi tanpa disadari oleh semua yang hadir, tiba-tiba putri Suksari duduk bersila layaknya orang yang sedang bertapa brata. Ia duduk bersila tepat di tengah-tengah semua bangunan candi yang ada di komplek tersebut. Sangat khusyuk ia ber-semedhi, hingga tak lama kemudian, tiba-tiba muncullah sebuah candi yang terbuat dari perak. Candi itu pun menutupi tubuh sang putri atau dalam artian putri Suksari akhirnya berada di dalam bangunan candi perak itu.

Kejadian itu sontak membuat semua yang hadir terkejut dan heran bukan kepalang. Terlebih tak lama kemudian semua bangunan candi yang ada beserta putri Suksari Purtani pun menghilang dengan cara masuk ke dalam Bumi. Semua yang ada sebelumnya tiba-tiba raib dari muka Bumi dan tak tahu kemana. Hilang tak tau rimbanya, begitulah kata orang-orang yang hadir saat itu. Hanya putri Suksari sajalah yang tahu kemana ia membawa candi yang megah itu. Dan sejak saat itu pula putri yang terkenal dengan kecantikannya itu pun moksa, berpindah ke dimensi lain.

Singkat cerita, setelah kejadian itu memang tak pernah candi itu muncul ke permukaan tanah. Pernah muncul satu kali setelah 2.000 tahun kemudian, itu pun cuma sebentar dan kemudian hilang kembali hingga sekarang. Karena memang sejak saat itu pula sang putri pun berkeinginan agar candi itu tidak bisa dilihat oleh orang-orang yang berhati kotor dan serakah. Sesekali ia bisa dilihat oleh orang yang berhati suci (kesatria utama). Dan suatu saat nanti, jika sudah waktunya, bangunan candi ini akan muncul kembali ke permukaan Bumi. Itu terjadi untuk membuktikan bahwa di masa lalu pernah ada sebuah kerajaan besar dan kejadian yang luar biasa, yang dilakukan oleh orang-orang Nusantara. Tidak akan lama lagi.

*****

Demikianlah kisah pendirian candi yang bahkan lebih besar dan indah dari candi Borobudur dan Prambanan. Masih ada candi yang lainnya, tapi tidak bisa kami sampaikan semuanya disini. Cukup dua itu saja dulu sebagai pemantik rasa penasaran dan keinginan Anda sekalian untuk lebih mengenali siapa sebenarnya bangsa Nusantara itu. Siapa kita?

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah agar bangsa ini bisa kembali mengetahui kehidupan masa lalunya. Bahwa jauh sebelum kerajaan Salakanagara dan Kutai berdiri, atau sejak ribuan tahun lalu, di tanah Nusantara ini sudah banyak berdiri kerajaan yang memiliki peradaban yang tinggi. Hanya saja kadang keberadaan mereka itu sulit untuk dibuktikan lantaran sisa-sisa bangunannya tak terlihat eksis di muka bumi ini. Terlebih di negeri ini sering kali terjadi gempa bumi dan gunung meletus dahsyat, yang secara otomatis bisa menghilangkan bangunan istana, candi atau kota kerajaan di masa lalu. Ingat! Dulu candi Borobudur ditemukan sudah hampir tertimbun semuanya akibat letusan gunung Merapi, hanya bagian puncak stupanya saja yang masih terlihat. Dan satu hal lainnya, bahwa tidak sedikit kerajaan di masa lalu, di Nusantara ini yang pada akhirnya berpindah ke dimensi lain. Alasannya bermacam-macam, misalnya karena sengaja di pindahkan oleh rajanya, atau telah dipindahkan oleh makhluk halus seperti bangsa jin dan siluman ke dimensi mereka. Disini tentunya bangsa jin dan siluman itu punya tujuan tertentu, yang khusus bagi umat manusia di masa kini.

Ya. Nenek moyang kita dulu sudah sangat akrab dengan bangunan yang megah. Bayangkan saja, untuk syarat sebuah sayembara mereka mampu membangun candi yang spektakuler, lalu apalagi untuk sebuah kota, istana dan candi di kota mereka sendiri? Tentu bisa lebih indah dan spektakuler. Mereka pun bisa membangunnya dalam waktu yang singkat. Bahkan lantaran kesaktian yang dimiliki, mereka bisa membangun tidak hanya dengan tenaga manusia, melainkan dibantu oleh bangsa jin yang memang terkenal sangat ahli dalam seni pertukangan, membuat patung dan bangunan megah dalam waktu singkat. Dengan kemampuan yang istimewa itu, leluhur kita bisa dengan mudah membangun gedung-gedung yang megah dalam waktu singkat dengan tangannya sendiri, atau memerintahkan bangsa jin untuk melakukannya.

Singkatnya, disini kami hanya mengingatkan para pembaca sekalian, bahwasannya kita masih keturunan mereka itu, para leluhur yang hebat dan perkasa di masa lalu. Kita tentu mewarisi bakat dan kemampuan yang sama dengan mereka, asalkan mau sadar diri dan kembali ke jati diri kita sendiri sebagai bangsa Nusantara. Kita bisa seperti mereka, asalkan mau mengasah diri dengan mengikuti metode yang telah mereka lakukan. Dan bangunlah negeri ini dengan cara yang ada sejak dahulu kala, yang dikembangkan oleh leluhur kita demi kesejahteraan bersama. Di antaranya dengan menerapkan kembali konsep Tri Tangtu/Tanggu Sunda Buwana (Rama + Resi + Ratu) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Wahai saudaraku. Mari bersama-sama kita kembalikan kejayaan Nusantara, yang tentunya sesuai dengan cara leluhur kita yang sebenarnya. Tidak perlu harus mengekor pada budaya, tradisi dan sistem dari bangsa lain. Karena sesungguhnya apa saja yang dibutuhkan oleh manusia, telah ada di Nusantara ini, bahkan sejak ribuan tahun silam. Tinggal sebatas mana kita yakin dan mau berpegang teguh dengan warisan adi luhung itu, lalu diterapkan dengan tanpa ragu-ragu dalam kehidupan sehari-hari. Percayalah! Dengan kembali pada tradisi, budaya dan sistem yang pernah ada di masa lalu, warisan leluhur kita, maka kehidupan peradaban di Nusantara ini akan berjaya. Paling gemilang di seantero dunia.

Semoga kita termasuk orang-orang yang berusaha membangkitkan apa yang pernah ada di Nusantara ini. Itulah jalan yang terbaik bagi kita semua.

– Harunata-Ra –

[Mulai digali dan dituliskan sejak bulan Februari 2013, selesai dituliskan tanggal 25 Agustus 2014]

One thought on “Candi Anggarawisma dan Astawina

    Distributor Pompa Grundfos said:
    Agustus 18, 2016 pukul 5:47 pm

    keren admin teks nya dan gambar nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s