Rimzalata: Negeri di Atas Pohon

Posted on Updated on

elven_villageAda sebuah negeri yang diliputi pohon-pohon besar nan rindang. Disana ada pula kota yang pintu gerbangnya sangat besar namun tak berbunyi saat terbuka. Bila seseorang melewati gerbang itu, ia akan langsung menyadari bahwa dirinya berada di sebuah jalan di antara ujung-ujung dinding tebing yang tinggi. Di ujung jalan itu, di tengah lembah yang menghijau, terdapatlah kota yang sangat mengagumkan.

Siapapun tak diizinkan berkunjung kesana tanpa undangan. Dan ketika ia tiba di pelataran kotanya, maka tak telihat ada orang atau terdengar derap langkah kaki disana. Tapi ada banyak suara di sekitar ia berdiri, di arah atas kepala. Jika beruntung ia juga akan mendengarkan alunan suara yang merdu yang mengalun dari arah atas.

Ternyata suara-suara itu berasal dari kota yang dibangun di antara cabang dan ranting pohon gulmar raksasa. Untuk tiba disana, maka siapapun harus menaiki banyak anak tangga yang melingkari batang pohonnya. Pada bagian pagar tangga tersebut tergantunglah lampu-lampu perak yang berkilauan. Sangat indah jika dilihat pada malam hari, dari dekat ataupun dari jauh.

Wahai saudaraku, semoga kau diberi kesempatan untuk datang kesana. Sebab kau akan melewati banyak jalan dan mendaki banyak tangga, sampai akhirnya tiba di tempat yang tinggi. Di depanmu, di tengah halaman hijau yang luas itu, sebuah air mancur tampak berkilauan indah. Air mancur itu diterangi lampu-lampu perak yang menggantung pada dahan-dahan pepohonan. Airnya pun jatuh perlahan ke dalam mangkuk besar dari perak, lalu dari sana mengalir menjadi aliran putih bening ke dasar hutan. Disana juga banyak terdapat berbagai bentuk patung batu berwarna putih, sebagiannya terbuat dari emas. Ada patung peri, manusia, dan hewan. Ini jelas menambah keindahan suasana.

Lalu disisi barat air mancur, berdirilah pohon yang terbesar. Ia menjulang tinggi hingga cabang-cabangnya yang pertama berada di atas semua pohon yang ada, membuka tangan-tangan besarnya itu dengan rindang kepada mereka yang berada dibawahnya. Sungguh megah, sebab batangnya yang besar mulus juga bersinar seperti sutra kelabu. Disanalah tempat tinggal sang penguasa negeri Rimzalata beserta permaisuri dan keluarganya yang terkasih.

Jika memang kau bisa datang kesana, kau akan melihat bahwa di batang pohon gulmar raksasa itu berdiri sebuah tangga perak yang melingkar. Pada bagian pangkalnya kau akan bertemu dengan tiga orang penjaga yang mengenakan pakaian logam putih bercampur keemasan. Dari pundak mereka menjuntai jubah panjang berwarna putih bersih. Rambut mereka panjang sepinggang, wajah mereka tampan dan bertubuh tinggi. Sebenarnya mereka sangat ramah, hanya saja selalu bersikap tegas terutama bagi orang yang tidak di undang untuk masuk ke dalam istana sang penguasa.

Saat ada tamu undangan, satu orang penjaga akan meniupkan nada nyaring pada terompet gading kecilnya. Bila terompet itu dibunyikan, maka akan ada balasan sebanyak tiga kali dari arah atas. Itu pertanda bahwa si pengantar tamu undangan diizinkan naik dan memberikan laporan. Disana ia akan menghadap kepada sang raja sekaligus meminta izin membawa tamu undangan untuk bertemu dengannya. Untuk sampai di balairung istana sang raja, panjatan tanganya tinggi sekali untuk mereka yang tak terbiasa dengan tangga semacam itu. Tapi siapapun boleh beristirahat selama pendakian.

tree palace 6

Perhatikanlah, saat kau mulai memanjat lebih tinggi anak tangga itu, perlahan kau akan melihat banyak sekali bangunan flat yang dilewati: beberapa disatu sisi dan beberapa disisi lainnya, dan beberapa mengurung batang pohon sehingga tangga itu harus melewati tengahnya. Teruslah mendaki, hingga di suatu ketinggian kau akan melihat sebuah jalan datar yang luas, seperti geladak kapal besar. Di atasnya kau akan melihat sebuah rumah besar, sangat besar sampai hampir bisa dipakai sebagai stadion sepak bola. Atapnya menjulang tinggi dan membentuk kubah masjid berwarna emas. Pilar-pilarnya sangat besar dan terbuat dari kayu warna coklat muda yang diukir beragam motif. Untuk sampai ke pintu aula itu, ada sekitar 15 anak tangga yang menjadi jalan untuk tiba di teras aula. Atap teras ini juga berbentuk kubah masjid warna emas bertingkat dua. Sungguh megah bangunan ini.

Tapi bukan itu tujuan utama dari setiap tamu undangan. Ada satu bangunan paling indah disana. Untuk sampai kesana, maka dirimu harus kembali menaiki anak tangga yang berada tepat di samping kanan aula besar tadi. Tangga itu melengkung miring melingkari aula sebanyak dua kali putaran. Kau harus mendaki perlahan sampai tiba di ujung anak tangganya. Disana kau baru akan melihat jelas sebuah bangunan megah yang memancarkan cahaya lembut. Dinding-dindingnya hijau dan perak, sementara atapnya berwarna emas mengkilat. Dari semua bangunan yang ada di setiap sudut kota, bangunan inilah yang paling indah. Banyak peri duduk disana, di atas kursi, dibawah rindangnya daun pohon gulmar dan duduk saling berdampingan dalam canda tawa. Mereka selalu ceria dan sering tersenyum bahagia. Sikap mereka anggun dan tak pernah terlihat kesedihan di wajah rupawan mereka itu.

Untuk sampai di pintu gerbang balairung istana itu, kau harus menaiki 10 anak tangga. Di atasnya, kau akan sampai pada teras yang berdiri di atas enam buah pilar yang berukir melilit. Setelah melewati teras itu, kau akan langsung berhadapan dengan sebuah pintu besar yang berukir sangat indah. Ciri khas dari pintu itu adalah ukiran pohon rindang, sejenis burung campuran phoenix dan cendrawasih, dan semacam sinar mentari yang berjumlah lima. Di berbagai sudut di pintu itu bertaburanlah batu permata dan berlian warna-warni. Walau terbuat dari kayu, tapi pintu ini seolah-olah tak terbuat dari kayu karena saking halus dan indahnya. Dan saat berada disana kau tidak akan pernah mendengar suara deritan pintu atau lantai kayunya, tidak ada, karena sekilas semua bahan bangunan justru tampak seperti terbuat dari bahan batu marmer atau pualam yang mengkilat.

Sesampaikan di dalam balairung istana itu, bersiaplah untuk terkesima. Kau akan melihat sesuatu yang belum pernah kau lihat di negerimu. Bangunan dan interior ruangannya sangatlah indah. Lantai dan dindingnya saja sangat halus dan mengkilat, seperti bukan dari bahan kayu. Ada pula air mancur yang bertingkat-tingkat, bunga-bunga yang warna-warni dan beraroma macam-macam, juga lentera yang bertaburan di beberapa sudut ruangan. Ada pula beberapa lampu kristal yang mengantung di beberapa sudut plafon ruangan, bahkan plafonnya bertumpuk-tumpuk membentuk pola tertentu, indah sekali. Tepat di tengah ruangan ada satu lampu terbesar dari bahan kristal dan berlian warna-warni, yang bisa memantulkan cahaya ke segala sudut ruangan. Membuat ruangan balairung istana itu menjadi semakin indah, sungguh indah.

tree palace 3

Di istana itulah pemimpin tertinggi bangsa peri ini tinggal. Jika beruntung kau diizinkan masuk dan bertemu langsung dengannya. Jangan heran ketika kau melihat sosoknya sangat tampan, berwibawa dan kharismatik. Begitu pula dengan permaisurinya. Ia adalah sosok yang sangat anggun dan cantik. Kalau dirimu tak tahu bila ia bangsa peri, tentunya kau akan mengira bahwa ia adalah seorang bidadari surga.

Kedua sosok itu memang lain dari yang lainnya. Mereka tampak khidmat dan indah. Pakaian mereka serba putih bercahaya, begitu pula dengan kulit mereka yang bersinar terang. Meski sudah berusia ribuan bahkan jutaan tahun, tak terlihat ketuaan pada diri mereka. Sorot mata mereka tajam bagai lembing dibawah sinar rembulan sekaligus terlihat sangat dalam bagaikan sumur bandung. Mereka sangat rupawan, bahkan wajah mereka selalu tersenyum saat menyambut tamu undangan. Dan sesuai adat mereka, maka semua orang akan berdiri menyambut tamu yang datang ke tempat mereka. Tak terkecuali raja dan permaisuri, karena mereka akan turun dari singgasananya sebagai wujud penghormatan – walau mereka sendiri sebenarnya pemimpin sebuah bangsa yang lebih patut untuk dihormati. Sangat sopanlah sikap dan perilaku mereka ini.

Bangsa peri adalah makhluk yang rupawan. Sikap mereka santun, bicara mereka pelan dan teratur merdu, bahkan setiap gerak-gerik mereka terlihat anggun. Mereka sangat menyukai seni dan keindahan. Dan saat ada tamu undangan kerajaan, mereka akan menyiapkan sebuah tempat khusus untuk jamuan makan. Lokasinya tidak lagi di atas pohon, tetapi di pinggir tebing tinggi yang ada air terjunnya. Disana ada bangunan dari marmer dan pualam warna putih yang berukir indah dengan kubah yang membentuk atap setengah lingkaran. Bangunan ini terbuka dengan puluhan pilar sebagai penyanggahnya. Tidak ada dinding disini, hanya ada kursi dan meja yang semuanya terbuat dari batu atau kayu berukir yang dihaluskan.

The White Council Chamber in a scene from the fantasy adventure “THE HOBBIT: AN UNEXPECTED JOURNEY,” a production of New Line Cinema and Metro-Goldwyn-Mayer Pictures (MGM), released by Warner Bros. Pictures and MGM.

Dari sana, akan tampak langit barat menjadi orange saat matahari mulai terbenam kala senja. Pemandangan yang sangat indah, karena siapapun akan bisa langsung melihat sunset (matahari terbenam) dengan sangat jelas dari sana. Dan di tempat itulah setiap tamu undangan akan dijamu sepuasnya menjelang senja dengan berbagai makanan dan minuman yang enak-enak. Selama jamuan makan malam berlangsung, mereka juga akan ditemani dengan musik instrumental yang dimainkan oleh para peri seniman. Alunan musik itu sangat indah, mengagumkan dan tak pernah didengar di negeri manusia. Dan walaupun sedang menikmati makanan dan minuman, siapapun akan tetap bisa menikmati alunan nada yang menggugah hati itu. Suaranya mengema, sungguh indah dan menenangkan jiwa.

Selain itu, ada pula peri yang membacakan syair, katanya:

Ya Alwasi.
Syahiban anhuri ya`muza qulbihali wadina.
Yabunayyali khurazah tallu wallinaya ahbita.
Maja sarrula wa Jawi nihalakah sahbu sawil.
Zelluna huragtu sa Nusanta-Ra kastuya durrati.
Rubnahi zaitura vradnawi Bhumi jamrulan darwani.
Meja Laknahi yamhusyi gayalwa nakhi qurbati.

Dalam bahasa yang berbeda bangsa peri lainnya pun berkata:

Ya ulmani.
Hisaima ganze nawari tokuradi,
Hastaril urg hamka biya arunja.
Nelahi tahrul savanya kuradutse zindahu walguru.
Sumta liyakya ciba samruri Jawi yaknude gayaze Nusanta-Ra.
Emhuma lanyilu wundahi Bhumi urtaro yamidiya.

Sungguh indahlah suasana pada saat itu. Semuanya terasa berkesan, indah dan membuat haru yang mendengarnya. Dan khusus untuk musik dan syair ini, maka pada malam harinya juga akan di berikan bagi setiap tamu undangan. Ada banyak irama yang indah menggema, akan banyak syair dan puisi yang menggugah hati. Sungguh berkesan.

Lalu, sejak keesokan paginya tamu undangan yang terpilih akan diajak melihat-lihat seluk beluk kehidupan bangsa peri disana. Ternyata mereka tidak jauh berbeda dengan kita manusia. Mereka juga menggarap lahan pertanian dan perkebunan untuk mendapatkan bahan makanan pokok, sayuran dan buah-buahan. Selain itu, mereka juga beternak hewan untuk mendapatkan susu, telur dan dagingnya. Ada juga pasar disana, tempat bagi setiap peri bertransaksi. Pasar ini tidak hanya bagi sesama peri di kerajaan mereka, melainkan juga dengan bangsa peri dari kerajaan dan ras yang lainnya. Pada waktu-waktu tertentu pasar ini juga menjadi sangat ramai, karena mereka tidak membuka pasar pada setiap hari. Hanya tiga kali saja dalam sepuluh hari.

Pun, jika kau adalah tamu yang terpilih, kau juga akan diizinkan melihat beberapa rahasia mereka. Dirimu akan di ajak untuk melihat berbagai teknik mereka dalam membangun gedung dan istana yang megah. Selain itu, kau juga akan diajak melihat berbagai teknologi dan kehidupan militer mereka. Bagaimana mereka bisa menempa logam menjadi lebih ringan tetapi sangat keras melebihi titanium. Atau mengamati tentang bagaimana mereka berlatih ilmu kanuragan dan kadigdayan dalam kehidupan militernya. Semuanya terasa sangat mengagumkan. Dan tak pernah terlihat di negeri-negeri manusia, khususnya di periode zaman ini.

elf city

Ya. Kau akan sangat menikmati kehidupan disana, di negeri bangsa peri itu; Rimzalata. Dan disana waktu menjadi sangat relatif. Satu hari di dunia manusia akan sama dengan beberapa tahun disana. Bahkan pada level dimensi yang lebih tinggi, satu hari di dunia manusia akan sama dengan 100 tahun di alam bangsa peri. Tapi uniknya lagi, umur manusia yang diundang kesana seolah-olah tidak bertambah. Kalau pun bertambah, itu akan sama dengan waktu hidupnya di negerinya sendiri. Artinya, jika seseorang di undang oleh bangsa peri selama 1-3 hari dalam ukuran waktu di dunia manusia, maka hanya selama itu pula umurnya bertambah, tidak lebih tidak kurang. Seorang manusia hanya akan mengikuti waktu kehidupan di dunianya saja meskipun ia telah hidup ratusan tahun di dunia bangsa peri.

O.. Siapapun tentu ingin bisa menjadi tamu undangan disana, di negeri Rimzalata. Tak terkecuali diriku. Sudah lima tahun atau bahkan sepuluh tahun sejak terakhir kali aku datang ke negeri itu. Dan tahun-tahun yang berlalu ini terus membebaniku dengan berat. Membuatku ingin segera kembali ke negeri yang penuh kedamaian itu. Dan kini sudah dekat waktunya, aku ingin segera mendengar kata “Selamat datang kembali wahai saudaraku di negeri kami. Selamat datang hai sahabat terkasih di negeri penuh kedamaian ini. Salam sejahtera duhai Harunata-Ra”.

Dan memang, aku pun sudah muak dengan kehidupan di negeri manusia ini. Entah di timur maupun barat, utara maupun selatan, bahkan di tengah-tengahnya sama saja. Semuanya hanya terasa sesak dan miris belaka.

Jambi, 07 Agustus 2016
Mashudi Antoro (Oedi’)

5 thoughts on “Rimzalata: Negeri di Atas Pohon

    ichsan said:
    Agustus 8, 2016 pukul 5:33 am

    pengalaman yang tersendiri buat mas oedi, dahsyat mas…oh iya kalau diperkenankan terjemahan syair nya mas ?!!!

    Tufail (@TufailRidha) said:
    November 15, 2016 pukul 7:06 am

    Kang Harunata-ra sampaikan salam saya kepada sang penguasa negeri Rimzalata, kayak mimpi dalam dunia fantasi setelah membaca artikel ini, apabila melihat usaha dan jerih payahnya kang harunata-ra sulit buat saya untuk bisa sampai kesana melihat sarat dan ketentuan yang berlaku untuk itu, kalau boleh tahu arti dari syair-syair indah itu apabila memang rahasia untuk dituliskan kang harunata-ra bisa meng-emailkannya “Toofailridha@yahoo.com” kepada saya… Heu
    Rahayu Salawasna _/\_

      oedi responded:
      November 17, 2016 pukul 4:46 am

      Insya Allah mas, kalau nanti masih diberi kesempatan… Dan mas pun tau bahwa untuk bisa kesana tidaklah mudah, ada syarat ketat dan undangan khusus pula..
      Hmm sebelumnya saya minta maaf mas, ada protap yang tidak bisa saya langgar.. salah satunya tentang memberi terjemahan dari syair-syair itu.. Saya masih belum diizinkan untuk itu.. Saat ini hanya boleh memberikan kalimat dalam bahasa aslinya saja.. Ya untuk memantik rasa ingin tahu pada pembaca sekalian..🙂

    Tufail (@TufailRidha) said:
    November 21, 2016 pukul 7:32 am

    Apakah mereka-mereka yang hidup di dimensi alam yang lain itu sama seperti kita kang, ada yang meninggal dunia juga? atau sama banyak kaum atau suku/ras seperti kita di alam dunia? lalu iklim yang terjadi disana ada yang empat musim juga?
    Rahayu Salawasna. _/\_

      oedi responded:
      November 21, 2016 pukul 8:56 am

      Hmm sebatas yg saya ketahui, maka disana tidak jauh berbeda dg di dunia kita. Sebab umumnya mrk juga hidup seperti kita yg beranak pinak: lahir, tumbuh dewasa, tua dan meninggal. Tapi ada pula yg kekal, ya contohnya setan yg gak mati sampai kiamat karena umurnya di tangguhkan sampai hari kiamat itu. Mrk juga harus mencari nafkah dg bertani, beternak dan berdagang seperti kita. Atau usaha yg lain yg tujuannya utk memenuhi setiap kebutuhan hidupnya.
      Mrk disana juga terdiri dari berbagai bangsa dan ras, bahkan jenis dan golongannya.. hanya saja memang lebih beragam dari yg hidup di alam nyata ini. Mereka pun membangun peradaban dg mendirikan berbagai kerajaan.
      Mereka juga punya teknologi canggih dan juga sering berperang, entah karena ingin merebut kekayaan alam atau sekedar memperluasnya wilayah dan mempertaruhkan ego dan keserakahan diri. Gak jauh beda dg sikap manusia. Dan kalo mrk berperang, kondisinya lebih heboh dan menyeramkan dari kita manusia. Sebab mrk tidak hanya pake teknologi, tapi juga kesaktian yg mengagumkan.
      Tentang iklim, maka ada yg seperti kita di bumi ini; yg dua musim (tropis) atau empat musim (subtropis), tapi ada pula yg lain, karena disana gak ada mataharinya meski ttp terang.. tergantung level atau lapisan dimensinya..
      Perbedaan wkt disana dg di alam kita juga berbeda sekali, contohnya ada satu dimensi yg satu hari di dunia kita ini sama dg bbrp hari disana, bahkan ada yg sampai berbanding dg setahun atau bahkan puluhan tahun bila disana.. Karena memang sifat waktu itu sendiri relatif. Lain disini, maka lain pula disana.
      Dan setiap dimensi itu punya perbedaan yg bahkan susah dijelaskan karena gak ada perbandingannya di alam dimensi kita ini. Baru ngeh kalo sudah liat sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s