Kepemimpinan Ideal Dalam Tradisi Melayu

Posted on Updated on

orang melayu kerinci 1Sudah lama saya tidak meng-upload artikel tentang bangsa Melayu. Dan sebagai orang yang terlahir dan dibesarkan di tanah Melayu, saya pun malu akan hal itu. Karenanya, pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi kepada Anda sekalian tentang seluk-beluk dari kehidupan orang Melayu, khususnya yang berkaitan dengan masalah kepemimpinannya. Semua itu pun terjadi mengingat kondisi kepemimpinan di negeri ini yag kian mengenaskan. Sedih rasanya bila dibandingkan dengan kehidupannya di masa lalu, di masa kejayaan para raja yang kharismatik dan bijaksana. Yang bisa membawa negeri ini menjadi rujukan dan pusat dari peradaban dunia. Dari timur dan barat, semua bangsa mengenalnya sebagai bangsa yang agung dan sangat disegani.

Untuk mempersingkat waktu, mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Pendahuluan
Bangsa Melayu termasuk di antara bangsa-bangsa yang tertua di dunia. Lebih dari 10.000 tahun silam, bangsa ini sudah ada dan membentuk suatu komunitas masyarakat, khususnya di wilayah pulau Sumatera hingga di Semenanjung Melayu. Lalu, khususnya di wilayah Jambi, maka sejak dahulu kala telah dihuni oleh beberapa etnis Melayu seperti Suku Kerinci, Suku Batin, Suku Bangsa Duabelas, Suku Penghulu, dan Suku Kubu atau Suku Anak Dalam. Pada masa lampau mereka ini telah melatarbelakangi perkembangan bahasa Melayu, budaya Melayu, maupun pasang surut kerajaan-kerajaan di daerah Jambi.

orang melayu kerinci

Sejarah telah membuktikan bahwa kepemimpinan raja-raja masyarakat Melayu pernah mengalami masa kejayaannya. Perdagangan yang dijalankan oleh masyarakat Melayu mampu merambah berbagai belahan dunia pada masanya. Bahkan pada era Sultan Iskandar Muda berkuasa di Aceh, kerajaan Aceh termasuk dalam lima kerajaan terbesar di dunia. Kerajaan Sriwijaya, Dharmasraya, Malayu-Jambi, Aceh dan Malaka tak dapat dipungkiri menjadi tonggak kebesaran rumpun Melayu. Semua itu tidak bisa terjadi kecuali kepemimpinan dalam tradisi Melayu saat itu sudah memiliki jati diri yang kuat, mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan, berdaya tahan tinggi dan berperan aktif dalam kesinambungan kehidupan bangsa.

Sejarah Melayu juga banyak mencatatkan kearifan kepemimpinan dalam perspektif budaya Melayu. Sehingga ditengah krisis kepemimpinan yang melanda negeri ini, sebenarnya tradisi budaya Melayu sejak dahulu telah menawarkan model kepemimpinan yang kiranya pas untuk Indonesia di tengah masalah yang kerap dihadapi saat ini. Dan jika melihat sifat pemimpin ideal yang ada dalam tradisi budaya Melayu, maka akan sangat relevan dengan model kepemimpinan transformasional pada masa kini. Kepemimpinan transformasional berkaitan dengan nilai-nilai yang relevan bagi proses pertukaran (perubahan), seperti kejujuran, keadilan dan tanggung jawab.

Ya. Model kepemimpinan tradisi Melayu, kini di sederhanakan dengan istilah model kepemimpinan transformasional di era kontemporer. Satu model kepemimpinan yang ideal di tengah situasi Indonesia saat ini. Pemimpin yang transformatif lebih memposisikan diri mereka sebagai mentor yang bersedia menampung aspirasi para bawahannya. Dalam pendapat lain, kepemimpinan transformatif didefinisikan sebagai kepemimpinan dimana para pemimpin menggunakan kharisma mereka untuk melakukan transformasi dan merevitalisasi organisasinya. Para pemimpin yang transformatif lebih mementingkan revitalisasi para pengikutnya secara menyeluruh ketimbang memberikan instruksi-intruksi yang bersifat top-down.

Jadi model kepemimpinan tradisi Melayu masih sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini, karena model kepemimpinan tradisinya adalah transformasional, yang diharapkan bisa membawa perubahan kearah yang lebih baik.

2. Kepemimpinan bangsa Melayu
Seorang pemimpin dalam tradisi Melayu adalah sosok manusia yang lebih daripada lainnya, sakti, kuat, gigih, dan tahu banyak hal. Para pemimpin juga merupakan manusia-manusia yag jumlahnya sedikit, namun perannya dalam suatu komunitas (suku, bangsa, negara) merupakan penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai. Karena itu, sebelum abad Masehi etnis Melayu, khususnya di Jambi telah mengembangkan suatu corak kebudayaan Melayu pra sejarah di wilayah pegunungan dan dataran tinggi. Masyarakat pendukung kebudayaan ini antara lain adalah Suku Kerinci. Orang Kerinci diperkirakan sudah menempati kaldera Danau Kerinci sekitar 10.000 SM. Mereka telah mengembangkan kebudayaan batu seperti yang ada pada kebudayaan Neolitikum. Pada zaman dahulu yang dimaksudkan dengan wilayah Kerinci adalah mencakup daerah yang disebut dengan Kerinci Tinggi/Atas dan Kerinci Rendah/Bawah. Sementara istilah Kerinci itu sendiri berawal dari kata Korintji yang berarti negeri di atas bukit.

Lalu, dalam khazanah politik Melayu, pemimpin didefinisikan sebagai orang yang diberi kelebihan untuk mengurusi kepentingan orang banyak. Arti raja atau penguasa bagi orang Melayu dimaknai lewat pepatah lama berikut ini:

Yang didahulukan selangkah
Yang ditinggikan seranting
Yang dilebihkan serambut
Yang dimuliakan sekuku

Pepatah tersebut secara eksplisit menjelaskan bahwa seorang raja haruslah sosok manusia yang dapat dijangkau oleh rakyat biasa. Penguasa harus berada di tengah-tengah rakyatnya, mengerti kondisi warganya, dan tahu apa yang diinginkan oleh mereka. Raja bukanlah dewa yang tak tersentuh oleh manusia, melainkan sosok yang hanya diberi beberapa kelebihan seperti di atas.

Jadi, eksistensi suatu negara ditentukan oleh tiga hal penting yaitu pemimpin, rakyat dan wilayah. Pada masa lampau kerajaan-kerajaan juga mensyaratkan adanya pemimpin atau raja. Oleh sebab itu keberadaan raja adalah sebuah keniscayaan. “Raja itu umpama akar, dan rakyat adalah pohon. Jikalau tidak ada akar, maka pohon tidak dapat berdiri”. Sebuah ungkapan mengenai pentingnya seorang pemimpin. Dan pada masa kerajaan Melayu terdapat raja-raja yang berjaya dan mampu membawa kerajaannya pada masa keemasan.

Ya. Dalam tradisi orang Melayu, para pemimpin itu adalah manusia-manusia yang lebih daripada yang lain, kuat, gigih, dan tahu tentang banyak hal. Bahkan di masa lalu, seorang pemimpin bangsa Melayu juga haruslah sosok yang sakti mandraguna demi melindungi wilayah dan rakyatnya dari ganguan binatang buas, penjahat, penjajah dan makhluk halus (jin, siluman, setan, dll). Karena itulah, para pemimpin yang sejati juga merupakan manusia-manusia yang jumlahnya sedikit, namun perannya dalam suatu komunitas orang Melayu menjadi penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai bersama.

Untuk itu, salah satu sumbangan terbesar dari kebudayaan Melayu adalah turut mewujudkan dan membentuk jati diri dan identitas bangsa Indonesia. Dan tak berlebihan apabila akhirnya kebudayaan Melayu disebut sebagai akar dari jati diri bangsa ini. Pengaruh Melayu bagi bangsa Indonesia pada umumnya meliputi banyak hal, di antaranya adalah khazanah dalam budaya politiknya.

Kepemimpinan Melayu, baik Melayu Tua (pra-Hindu-Buddha-Islam) maupun Melayu Muda (era Hindu-Buddha-Islam) terdiri dari pemangku adat (sebagai pemimpin formal) disamping tokoh tradisi seperti dukun atau orang pintar sebagai pemimpin informal. Untuk Melayu Tua (Pra Hindu-Buddha-Islam), maka lebih jelasnya kami berikan contoh struktur kepemimpinan formal yang ada pada masyarakat Kerinci kuno, yaitu:

Sigindo
(pemimpin beberapa Luhak/Lurah/Depati)
|
Luhak
(pemimpin para Kelebu yang kini lazim disebut sebagai Lurah atau Depati)
|
Kelebu
(pemimpin para Tengganai yang kini lazim disebut sebagai Ninik Mamak)
|
Tengganai
(pemimpin Perut/keluarga seketurunan)
|
Perut
(kepala keluarga seketurunan)
|
Tumbi
(kepala rumah tangga)

Setiap masing-masing strata di atas mempunyai tugas dan kewajibannya sendiri-sendiri, yang pada intinya menuntun dan membimbing masyarakat untuk dapat mentaati norma dan ketentuan adat negeri demi kebaikan mereka sendiri. Melalui strata kemasyarakatan di atas, maka segala bentuk kebijakan pemerintahan negeri disampaikan secara beranting ke bawah. Tetapi setelah Melayu Muda (era agama) membentuk beberapa kerajaannya dengan dasar agama (Hindu, Buddha, Islam), maka muncullah pemegang kendali kerajaan yang disebut dengan Datu, Raja, Sultan atau Pertuah. Kehadiran agama itu juga telah menampilkan cendikiawan yang disebut dengan Buya atau Ulama. Dengan demikian kehidupan Melayu Muda ini dipandu oleh Raja, buya/ulama, pemangku adat dan tokoh tradisi.

orang melayu

Untuk lebih memahami tentang konsep dan prinsip kepemimpinan dalam tradisi dan budaya Melayu, kita dapat membacanya dalam kitab mahakarya budaya-politik-peradaban Melayu yang berjudul Taj al-Salatin (Mahkota Raja-raja) karya Bukhari Al-Jauhari pada tahun 1630. Buku ini merupakan panduan untuk memerintah bagi raja-raja Melayu (khususnya di era Islam) seperti Kedah dan Johor. Kitab Taj al-Salatin memberi sumbangan penting bagi pembentukan tradisi dan kultur politik Melayu dengan memberi rincian tentang syarat-syarat menjadi seorang raja (mencakup syarat yang bersifat jasmaniyah dan rohaniah). Kitab ini bahkan juga digunakan oleh beberapa penguasa di pulau Jawa pada abad ke 17-18. Dan kitab Taj al-Salatin ini begitu berpengaruh hingga abad ke-19 ketika Munsyi Abdullah mencoba mengenal atau mengetahui watak Raffles dari air mukanya berdasarkan ilmu firasat di dalam buku tersebut. Dalam bukunya Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Kelantan, Abdullah telah menasihatkan raja-raja di negeri itu supaya membaca Taj al-Salatin untuk mengetahui tanggung jawab sebagai seorang raja.

Dalam kitabnya itu, Bukhari Al-Jauhari menggariskan ada 10 sifat raja atau pemerintah yang baik dan harus diterapkan, yaitu:

1. Tahu membedakan baik dengan yang buruk.
2. Berilmu (ilmiah dan batiniah).
3. Mampu memilih menteri dan pembantunya dengan benar.
4. Baik rupa dan budi pekertinya supaya dikasihi dan dihormati rakyatnya.
5. Pemurah (dermawan, ringan tangan).
6. Mengenang jasa orang atau tahu balas budi.
7. Berani; jika berani maka pengikutnya juga akan berani.
8. Cukup dalam makan tidur supaya tidak lalai.
9. Mengurangi atau tidak berfoya-foya atau tidak “bermain” dengan perempuan.
10. Laki-laki (raja perempuan boleh dilantik jika tidak memiliki ahli waris laki-laki untuk menghindari huru-hara).

Selain itu, tradisi politik Melayu juga mengenal pola hubungan raja dengan rakyat. Dalam beberapa hal pola ini bisa disebut sebagai satu “mekanisme kontrak” antara dua pihak yang berkepentingan. Kendati memang sangat simbolik, teks sejarah Melayu dalam beberapa bagian menekankan adanya kewajiban raja dan rakyat untuk tidak saling merusak posisi masing-masing. Teks tersebut memperkenalkan konsep musyawarah, yang memang sudah ada di negeri ini sejak ribuan tahun lalu, sebagai aturan dalam sistem perilaku politik raja dan penguasa Melayu.

3. Falsafah kepemimpinan bangsa Melayu
Wahai saudaraku. Para pemimpin itu harus menjadi penentu arah perjalanan sebuah bangsa. Walaupun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan, akan tetapi kenyataan membuktikan bila tanpa kehadiran pemimpin – disini artinya pemimpin sejati, bukan sekedar ketua – suatu bangsa akan bersifat statis dan cenderung berjalan tanpa arah alias kacau balau.

Melihat itu semua, maka tampak jelas bahwa bangsa ini semakin terpuruk tatkala para pemimpinnya berlomba-lomba memainkan peran buruk dalam dunia politik. Definisi politik sebagai pengambilan keputusan kolektif atau pembuat kebijakan masyarakat umum secara menyeluruh dan memihak rakyat, tampak sekali tak mendapat tempat di negeri ini. Para elite politik bahkan tak lagi berusaha memperjuangkan kehidupan rakyat atau membimbing rakyat kepada kebenaran dan kejayaan, melainkan berlomba-lomba menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Etika politik hanya menjadi barang langka yang sulit ditemukan dalam wajah para politikus Indonesia. Keadaan ini tentu sangat memprihatinkan.

Untuk itu, khazanah Melayu sangat kaya dengan kandungan pesan moral dan etika, termasuk etika politik. Sifat-sifat kepemimpinan yang ideal telah banyak dijabarkan dalam karya-karya sastra Melayu. Maka dari itu, sangatlah tepat apabila kita mencoba untuk menggali, mempelajari, dan berusaha mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sebab Indonesia kini membutuhkan sosok pemimpin yang berpihak pada kepentingan rakyat, bukan pada kepentingan partai politik, kelompok tertentu, investor dan pihak asing (negara lain).

Ya. Khazanah politik dan kepemimpinan Melayu banyak menawarkan konsep kepemimpinan yang ideal tersebut. Banyak pepatah lama dan karya-karya sastra yang berisi kebijaksanaan-kebijaksanaan dan pemaparan-pemaparan mengenai konsep kepemimpinan yang baik dan relevan. Prinsip bagi raja-raja Melayu pun banyak mencerminkan kriteria-kriteria yang baik, seperti dibawah ini:

1. Sebagai pemimpin banyak tahunya

Tahu duduk pada tempatnya
Tahu tegak pada layaknya
Tahu kata yang berpangkal
Tahu kata yang berpokok

Artinya: Seorang pemimpin yang baik haruslah mempunyai banyak pengetahuan. Penguasa harus mengetahui bagaimana ia harus bersikap, bagaimana ia harus berfikir, bagaimana kondisi rakyatnya, dan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penguasa dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang ada sekaligus mencegah munculnya permasalahan yang baru. Tanpa pengetahuan yang memadai, sang penguasa akan kesulitan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada.

Pengetahuan mutlak diperlukan seorang pemimpin untuk menunjang pelaksanaan tugas-tugasnya. Pemerintahan hampir dapat dipastikan berjalan lancar apabila seorang raja mengetahui apa yang baik untuk rakyatnya dan apa yang harus dihindari karena tidak baik untuk rakyatnya. Penguasa akan mudah dalam memimpin apabila ia tahu apa yang harus dikerjakan dan apa yang tak boleh dilakukan. Tanpa pengetahuan, seorang pemimpin tak akan memiliki visi yang besar. Kalaupun ia memiliki visi besar, pastilah ia akan kesulitan merealisasikannya.

2. Sebagai pemimpin banyak arifnya

Di dalam tinggi ia rendah
Di dalam rendah ia tinggi
Pada jauh ianya dekat
Pada yang dekat ianya jauh

Artinya: Dalam tradisi Melayu terdapat pengertian yang berbeda antara arif dan bijaksana. Arif lebih merujuk kepada kemampuan pembawaan diri dalam proses sosialisasi, sedangkan bijaksana lebih mengarah kepada pengolahan pengetahuan dengan sebaik-baiknya. Karena itu, dalam tradisi Melayu seorang raja atau pemimpin baru akan lebih dihormati apabila ia memiki kearifan dalam bertindak. Kearifan yang dimiliki pemimpin akan menambah rasa kepercayaan rakyat bahwa ia memang benar-benar figur yang cocok untuk memimpin.

3. Sebagai pemimpin banyak bijaknya

Bijak menyukat sama papat
Bijak mengukur sama panjang
Bijak menimbang sama berat
Bijak memberi kata putus

Artinya: Kebijaksanaan adalah sifat yang mutlak harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Oleh karena itu, tradisi Melayu selalu memposisikan sifat bijak sebagai salah satu sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang raja atau penguasa. Kebijaksanaan sangat erat kaitannya dengan ketepatan dalam mengambil keputusan. Dengan demikian, akhirnya kebijaksanaan tersebut akan bermuara pada baik atau buruknya pemerintahan yang sedang berlangsung. Tanpa kebijaksanaan, pemimpin akan mudah sekali terjerumus dalam tindakan dan keputusan yang sewenang-wenang.

4. Sebagai pemimpin banyak cerdiknya

Cerdiknya mengurung dengan lidah
Cerdik mengikat dengan adat
Cerdik menyimak dengan syarak
Cerdik berunding sama sebanding
Cerdik mufakat sama setingkat
Cerdik mengalah tidak kalah
Cerdik berlapang dalam sempit
Cerdik berlayar dalam perahu bocor
Cerdik duduk tidak suntuk
Cerdik tegak tidak bersundak

Artinya: Selain memiliki pengetahuan yang cukup, seorang pemimpin harus mencerminkan diri sebagai orang yang cerdik. Kecerdikan disini dapat diartikan sebagai proses pengolahan pengetahuan yang dimiliki untuk mencapai keputusan yang paling tepat dalam menangani masalah. Sebagai seorang pemimpin, ia pasti berkutat dengan permasalahan-permasalahan yang kompleks. Maka dari itu, dibutuhkan sebuah kecerdikan untuk menghasilkan solusi yang tepat. Tanpa kecerdikan, seorang pemimpin akan rentan menghasilkan kebijakan yang tidak efekif. Kebijakan yang salah atau tidak efektif tentu akan berpengaruh pada berhasil atau tidaknya suatu pemerintahan. Inilah yang menjadi alasan mengapa kecerdikan diperlukan dalam proses memimpin.

5. Sebagai pemimpin banyak pandainya

Pandai membaca tanda alamat
Pandai mengunut mengikuti jejak
Pandai menyimpan tidak berbau
Pandai mengunci dengan budi

Artinya: Pengetahuan dan kecerdikan tidaklah lengkap apabila tidak dilengkapi dengan sifat pandai. Kepandaian dalam konteks ini dapat dimaknai sebagai kemampuan analisis yang baik terhadap masalah-masalah yang ada. Dengan ditunjang adanya pengetahuan yang cukup, ditambah dengan kepandaian dalam analisis, maka pemimpin harus cerdik dalam mengambil setiap keputusan. Analisis adalah bagian terpenting dalam usaha penyelesaian masalah. Oleh karena itu, kemampuan analisis yang baik sangat dibutuhkan untuk menjadi pemimpin yang baik. Pepatah lama mengatakan: “Bagi yang pandai, mana yang kusut akan selesai; orang yang pandai pantang memandai-mandai”. Tampak sekali bahwa kepandaian sangat berperan besar dalam mengurai “benang kusut”. Tanpa kepandaian, benang kusut tersebut takkan pernah selesai untuk diurai, kalaupun dapat di lakukan pastinya akan memakan waktu yang lama.

6. Sebagai pemimpin mulia budinya

Berkuasa tidak memaksa
Berpengetahuan tidak membodohkan
Berpangkat tidak menghambat

Artinya: Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak menyalahgunakan kekuasaannya untuk melakukan perbuatan yang licik dan sewenang-wenang. Pemimpin adalah seseorang yang ditunjuk untuk melayani kepentingan masyarakat, bukan seseorang yang minta dilayani atau hanya diberi kekuasaan untuk memuaskan ambisi pribadinya. Oleh karena itu, bagi orang Melayu, sifat sewenang-wenang dalam memerintah pantang untuk dilakukan.

7. Sebagai pemimpin banyak relanya

Rela berkorban membela kawan
Rela dipapak membela yang hak
Rela mati membalas budi
Rela melangas karena tugas
Rela berbagi untung rugi
Rela beralah dalam menang
Rela berpenat menegakkan adat
Rela terkebat membela adat
Rela binasa membela bangsa

Artinya: Pemimpin adalah seorang yang harus membela kepentingan rakyatnya. Ia harus rela dalam banyak hal demi terpenuhinya kepentingan warganya. Pepatan di atas menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus rela sengsara demi membela hak, ia harus rela membela kawan meski harus berkorban. Ia juga harus rela dalam kesulitan ketika rakyatnya kesulitan, mengusahakan kebahagiaan untuk rakyatnya saat ia bahagia. Jiwa patriotisme juga ditanamkan di sini, karena bela negara memang sangat dianjurkan alias wajib. Bahkan, seorang pemimpin harus rela mati demi membela bangsanya, serta rela berpenat dan terkebat dalam membela adatnya. Bagaimanapun seorang pemimpin memang difungsikan sebagai orang yang bersedia berkorban demi orang banyak.

8. Sebagai pemimpin banyak ikhlasnya

Ikhlas menolong tak harap sanjung
Ikhlas berbudi tak harap puji
Ikhlas berkorban tak harap imbalan
Ikhlas bekerja tak harap upah
Ikhlas memberi tak harap ganti
Ikhlas mengajar tak harap ganjar
Ikhlas memerintah tak harap sembah

Artinya: Terminologi rela memiliki pengertian yang berbeda dengan ikhlas. Bila rela adalah sebuah bentuk siap untuk berkorban, maka ikhlas lebih mengarah kepada pengelolaan niat. Hal ini sangat jelas disuarakan dalam pepatah lama: “Kalau pemimpin tidak ikhlas, banyaklah niat yang akan terkandas”. Artinya, keikhlasan seorang pemimpin dalam bertindak akan sangat mempengaruhi output dari proses pelaksanaan niat tersebut. Apabila seorang pemimpin tidak ikhlas, maka niat-niat baik yang ada tentunya akan hilang. Ini bahkan bisa menimbulkan musibah dan bencana bagi rakyat yang sedang ia pimpin.

9. Sebagai pemimpin banyak tahannya

Tahan berhujan mau berpanas
Tahan bersusah berpenat lelah
Tahan berlenjin tak kering kain
Tahan berteruk sepepak teluk

Artinya: Penggalan syair di atas menunjukkan bahwa seorang pemimpin haruslah memiliki mental “bertahan” yang baik. Ketabahan dan kesabaran menjadi salah satu sifat dari pemimpin ideal untuk menjamin tetap terjaganya komitmen dari sang pemimpin. Selain itu, sikap tawakkal (berserah diri) juga dianjurkan di sini. Tawakkal berarti pasrah, namun bukan berarti menyerah pada masalah. Kepasrahan tersebut dilakukan setelah melakukan usaha yang maksimal. Dengan kata lain, orang Melayu memaknai terminologi tawakkal sebagai penyerahan hasil kepada Tuhan dari usaha yang dilakukan manusia.

Kritik-kritik tajam dan keluhan-keluhan akan banyak ditemui oleh seorang pemimpin. Terlebih apabila kekuasaannya memiliki oposan yang cukup kuat. Kritik tajam akan sangat tidak tepat apabila direspon dengan sikap arogan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah ketahanan untuk menerima semua itu dan memikirkannya secara mendalam. Pemimpin yang buruk biasanya akan marah apabila dikritik. Ia akan mencari seribu dalih untuk mengelak dari kritik tersebut. Bahkan, terkadang kritik-kritik tersebut ditanggapi dengan emosi. Lebih buruk lagi apabila kritik itu justru dianggap sebagai fitnah untuk menjatuhkannya. Pemimpin yang baik tidak melakukan semua itu. Ia akan menerima kritik dengan lapang dada dan menghargainya sebagai sebuah nasihat dan bahan intropeksi diri.

10. Sebagai pemimpin banyak taatnya

Taat dan takwa kepada Allah
Taat kepada janji dan sumpah
Taat memegang petua amanah
Taat memegang suruh dan teguh
Taat kepada putusan musyawarah
Taat memelihara tuah dan meruah
Taat membela negeri dan rakyatnya

Artinya: Ketaatan bukan hanya sebagai kewajiban yang dimiliki oleh rakyat terhadap pemimpinnya, melainkan juga dimiliki oleh seorang pemimpin itu sendiri. Budaya politik Melayu menekankan pentingnya hubungan timbal balik yang baik antara pemimpin dan yang dipimpin. Rakyat wajib menaati pemimpin, begitu pula sebaliknya. Raja harus menaati suara rakyat. Ia tak boleh mengabaikan aspirasi warganya, terlebih apabila suara itu adalah keputusan musyawarah. Ia harus taat pada kewajibannya untuk membela negara dan rakyatnya. Selain itu, yang paling penting juga adalah bahwa ia harus taat pada Tuhan, karena bagaimanapun ia adalah hamba Tuhan di muka bumi.

11. Sebagai pemimpin mulia duduknya

Duduk mufakat menjunjung adat
Duduk bersama berlapang dada
Duduk berkawan tak tenggang rasa

Artinya: Sikap dan sifat yang baik harus menjadi identitas seorang pemimpin. Kelakuan sehari-hari sang pemimpin mampu mencerminkan kepribadian yang baik. Inilah yang dimaksud dengan syair di atas, bahwa seorang raja harus memiliki tingkah laku yang baik sehingga tidak kehilangan kewibawaannya. Ia harus bersama-sama rakyat untuk menjunjung adat tanpa adanya perbedaan kewajiban. Kedudukannya sebagai pemimpin tak mengurangi sedikit pun untuk selalu menjunjung adatnya. Ia juga harus sering duduk bersama rakyatnya, dengan segala kebesaran hatinya mau menghilangkan kesombongan dan bersedia mendengarkan keluh kesah dari rakyatnya, sehingga akhirnya mampu bertenggang rasa. Kewibawaan akhirnya menjadi penilaian apakah ia seorang pemimpin yang baik atau buruk.

12. Sebagai pemimpin banyak sadarnya

Memimpin sedar yang ia pimpin
Mengajar sedar yang ia ajar
Memerintah sedar yang ia perintah
Menyuruh sedar yang ia suruh

Artinya: Berdasarkan fenomena di banyak negara dan kerajaan, seorang pemimpin kerap menggunakan kekuasaannya dengan sewenang-wenang. Kesewenang-wenangan disini tak hanya merujuk pada perbuatan yang menjurus pada pelampiasan ambisi pribadi, melainkan kesalahan dalam mengambil keputusan yang akhirnya menyusahkan rakyatnya. Banyak pemimpin yang tak mampu membaca situasi dan tak mengerti keadaan yang pasti, akhirnya terjerumus dalam persoalan yang lebih parah. Maka dari itu, seorang pemimpin harus benar-benar sadar apa yang ia lakukan, sadar tentang alasan dalam melakukannya, dan yang paling penting adalah sadar akan akibatnya.

Mungkin metode Socrates perlu diterapkan dalam hal ini. Ia pernah mengemukakan tiga kriteria untuk menguji perlu tidaknya sebuah tindakan. Pertanyaan pertama: apakah sebuah tindakan adalah benar dan dapat dibenarkan? Kalau tindakan itu terbukti benar, maka menyusul pertanyaan kedua: apakah tindakan yang benar tersebut perlu dilakukan atau tidak perlu dilakukan? Kalau tindakan itu ternyata benar dan perlu, maka pertanyaan ketiga adalah: apakah hal tersebut baik atau tidak untuk dilaksanakan? Metode tersebut sangatlah cocok untuk digunakan dalam melatih kesadaran seorang pemimpin dalam bertindak.

13. Sebagai pemimpin banyak tidaknya

Merendah tidak membuang meruah
Meninggi tidak membuang budi
Sayang tidak akan membinasakan
Kasih tidak merusakkan
Baik tidak mencelakakan
Elok tidak membutakan
Buruk tidak memuakkan
Jauh tidak melupakan
Dekat tidak bersinggungan
Petua tidak menyesatkan
Amanah tidak mengelirukan

Artinya: Berbagai pantangan harus dihindari demi sempurnanya pelaksanaan suatu kewajiban. Seorang pemimpin haruslah selalu memegang teguh kebaikan dan menghindari keburukan yang dapat merugikan rakyatnya. Pepatah lama mengatakan: “Sifat elok sama dipegang, sifat buruk sama dipantang. Elok dipegang, buruk dibuang.” Itu artinya seorang pemimpin haruslah hanya berpegang pada sifat-sifat yang baik dan benar saja dan harus membuang jauh-jauh sifat-sifat yang buruk. Raja sebagai “bayang-bayang” Tuhan di muka bumi ini haruslah mencerminkan sifat-sifat ketuhanan itu sendiri. Dalam konteks Melayu Muda, maka yang kental dengan nuansa Islam, Asmaul Husna harus menjadi pegangan dalam bertindak.

Wahai saudaraku. Uraian di atas adalah kriteria seseorang untuk bisa dikatakan sebagai pemimpin ideal dalam tradisi dan budaya Melayu. Dan raja-raja Melayu di masa lalu banyak mencerminkan sifat-sifat tersebut. Namun, apabila melihat kondisi kekinian, para pemimpin negeri ini justru memperlihatkan sifat-sifat yang sebaliknya. Pantas saja bila akhirnya bangsa ini makin terpuruk. Kondisi Indonesia kini sungguh tak mencerminkan kebesarannya dimasa lalu sebagai sebuah bangsa yang besar dan sangat disegani oleh bangsa-bangsa di seluruh dunia.

Selain beberapa hal di atas, maka ada pula pantangan bagi seorang yang sedang memimpin. Semua itu juga tertuang dalam petatah petitih Melayu, yang bisa menyebabkan dia diturunkan atau digantikan dengan yang lain. Adapun di antaranya sebagai berikut:

1. Tólicak bonang arang, itam tapak (terpijak di benang arang, hitam tapak atau terpijak di parit arang hitam tapak). Artinya, kedapatan mencuri di rumah (kantor), di tanah (dalam bisnis dan usaha), atau dengan cara sembunyi-sembunyi (korupsi).
2. Tójuak di galah panjang, nampak tóugah-ugahnyo. Artinya, mengunjungi perempuan lain yang bukan istrinya untuk berbuat maksiat, dengan istri orang, gadis, janda, atau janda talak tiganya.
3. Tólosang di lansek masak, olun sampai tóambiek buah olah bóguguran. Artinya, karena memperturutkan hawa nafsu sehingga kambuh selera mudanya, sehingga kenampakan mengikuti trend dan budaya populer kontemporer yang tidak jelas asal usul dan ujung pangkalnya, sebab sudah meluap-luap sehingga kerja yang tidak sononoh mulai dilakukan. Akibatnya nama jadi rusak dan malulah orang yang dipimpinnya (arang habis besi binasa).
4. Tómandi di póncuran gadiang, nampak kosan di aluo jalan, tódonga di tólingu kócibuk ayie. Artinya, karena terlalu mengharapkan nama dan sanjungan maka dilakukanlah segala cara untuk mendapatkannya. Sehingga terkena oleh ungkapan lama; indó aluo nón dituruik (bukan aturan yang diikuti), tóturuik jalan pinteh (terikut jalan pintas/pragmatis), pótamu sosek (pertama sekali tersesat), nón kan kóduó indó duduk di bokehnyo (kedua dia tidak duduk di tempat yang layak baginya).
5. Tócoreng arang di koniang, nampak tótempap itam. Artinya, aib diri dibongkar orang setelah mendapat nama dan jabatan, sehingga malu bertemu dengan orang banyak.
6. Mómpótókuluk sórewa. Artinya, punya anak gampang (anak diluar nikah).
7. Tópanjik sigai larangan. Artinya, ini masalah hubungan intim sedarah (incest).
8. Tókurong di biliek dalam, mómaja utang kósalahan kó rumah tutupan, dapek malu dalam tórungku. Artinya, kedapatan berbuat salah sehinga menjadi malu dan dihukum.

Selain ke 8 hal di atas, pemimpin orang Melayu itu dapat saja diganti karena disebabkan:
1. Idok mónahun, sakik nón indó mungkin kan sihat lai, disobuik urang juó idok bókatanaan. Artinya, sakit menahun sehingga tidak dapat beraktifitas.
2. Hilang indó tontu rimbónyo (hilang yang tak tahu rimbanya), indó bócakap sópatah (pergi tak menyebut arah tujuannya), pindah nón indó bósobutan (pindah tak memberi kabar), koba tidó bóritó tidó (kabar berita tak terdengar lagi), surekpun tidó (sepucuk suratpun tak ada), bak batu jatuh kó lubuk dalam (bagaikan batu jatuh ke lubuk yang dalam alias hilang).
3. Ukuo sudah, janjian sampai. Artinya, selesai jabatan alias meninggal dunia.

4. Penutup
Wahai saudaraku. Budi pekerti dan moralitas harus dijunjung tinggi oleh penguasa yang sedang memimpin. Banyaknya kebobrokan politik dan ekonomi di dunia khususnya Indonesia disebabkan karena rendahnya moralitas yang dimiliki oleh para pemimpinnya. Bahkan dalam kancah perpolitikannya, etika dan kejujuran dalam berperilaku sehari-hari sudah tidak penting, bahkan tidak ada. Alhasil, banyak kerugian yang dialami oleh berbagai pihak; sedangkan keuntungan yang sifatnya sementara hanya dialami oleh sebagian kecilnya saja. Banyak pemimpin yang berkuasa tetapi sesungguhnya tidak memimpin. Sebab, memimpin berarti memberikan arah politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan keamanan yang jelas secara mandiri.

orang melayu 3

Sehingga, tidak berlebihan jika apa yang sudah ada di dalam tradisi Melayu, khususnya tentang kepemimpinan menjadi layak untuk diikuti lagi. Itu adalah bukti kejayaan peradaban leluhur kita, sudah terbukti ribuan tahun dan seharusnya tetap kita pegang dan jadikan pedoman hidup. Karena apa yang sudah ada itu takkan lekang oleh waktu dan sangat sesuai dengan karakter bangsa kita. Dan ketika memang bangsa ini mau kembali menerapkannya secara sadar dan keteguhan hati, maka bangsa ini akan segera bangkit, keluar dari keterpurukannya dan bisa memimpin dunia sekali lagi.

Semoga banyak yang sadar dan mau kembali ke jati dirinya sendiri sebagai bangsa Nusantara. Terutama para pemimpinnya, di pusat dan daerah, harus mau bercermin diri pada kesejatian bangsa ini, salah satunya dengan mengikuti tradisi kepemimpinan orang Melayu. Jika tidak, maka tunggulah masa kehancuran itu pasti akan datang dengan segala bencana dan musibah yang besar. Siapapun yang tidak menghargai dan mengikuti warisan para leluhur akan tersapu bersih, binasa saat pergantian zaman ini terjadi nanti.

Jambi, 23 Juli 2016
Mashudi Antoro (Oedi`)

Referensi:
* Braginsky. 1998. Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19. Jakarta : INIS.
* Effendi, Tenas. 2002. Pemimpin Ungkapan Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
* Mutalib, Hussin. 1996. Islam dan Etnisitas: Perspektif Politik Melayu. Jakarta
* Rab, Tabrani. 1990. Fenomena Melayu. Lembaga Studi Sosial Budaya Riau.Pekanbaru.
* http://www.rajaalihaji.com/id/article.php?a=ZURIL3c%3D=
* https://muhiswarramadhan.wordpress.com/2015/05/12/konsep-kepemimpinan-dalam-sejarah-tradisi-melayu/

2 thoughts on “Kepemimpinan Ideal Dalam Tradisi Melayu

    wordwidewrite said:
    Juli 27, 2016 pukul 1:44 am

    Sejak penciptaan manusia dijanjikan sebagai Khalifah, peradaban terbagi beberapa wilayah.
    Wilayah Asia mencapai penaklukan dan dipersatukan dalan masa Kerajaan nabi Sulaiman, (wilayah kekuasaannya lebih luas dari kerajaan nabi Daud ayahnya, dijelajahi dengan kendaraan angin, jangkauan pagi sampai siang adalah sebulan perjalanan darat, dan siang sampai sore sama sebulan pula) penafsiran pesawat tanpa mesin seperti gantole atau balon udara.

    Kepeminpinan yang serupa dijalani juga oleh Iskandar Zulkarnain, (Great Alexander) Qalkarnain dan nama yang serupa dikenal oleh bagian bumi barat dan timur.

    Kerajaan Bumi awalnya dibangun Tuhan, dan yang berhak mewarisi semuanya kembali kepada Tuhan, Dia yang menguasai Kerajaan Langit dan Bumi.

    Mahluk yang nampak dimuka bumi semua wujudnya tercipta dari unsur bumi, tapi manusia diantaranya berlaku sombong kepada sang Pencipta. Tidakkah mereka berpikir tanah dan air dari tiap bagian tubuhnya bisa tersusun, dan penopang kehidupan (makanan) tercipta pula dari unsur bumi? Tanaman yang tumbuh ditanah yang subur di beri air hujan yang turun dari langit, serta hewan ternak.

    Penciptaan Nyamuk adalah perumpamaan hidup selanjutnya dari jentik diatas air dan kemudian terbang, metamorfosa hidup seperti kupu-kupu dari telur ulat dan kepompong lalu hiduplah dengan indah kupu-kupu itu. Itulah keajaiban hidup dan kelangsungan yang dijanjikan, bukan terjebak dalam kepompong, atau ulat yang rakus memakan daun. Atau nyamuk yang menghisap darah dan semua membuat gatal.

    Inilah akhir jaman yang dijanjikan, bukan untuk berharap hidup bangkit kembali, seandainya masih ada manusia yang dibangkitkan, entah mereka ingat atau tidak, keadaan ini diakhiri dengan Khalifah terakhir, nabi Muhammad yang sekarang sudah diberitakan wafat. Manusia yang beriman diwarisi kitab, seperti nabi Sulaiman mewarisi Taurat dan Jabur dalam Tabut perjanjian. Dan umat terakhir diwarisi Al-Quran yang membenarkan (meluruskan kembali) Taurat, Zabur, dan Injil yang telah didustakan.

    Umat sekarang banyak yang tidak mengerti, contoh umat terdahulu, bila tidak patuh dan melakukan kerusakan (maksiat, kemusyrikan, dll) Tuhan Raja Manusia memberi hukuman azab, dan Yang dihidupkan kembali agar mereka bersyukur, Dan Akhir Jaman ini Azabnya adalah Kiamat, tidak akan ada lagi Khalifah meminpin dunia, dan tidak lagi ada Revisi Wahyu Tuhan, dunia akan dihancurkan seperti awal penciptaan, dan kebangkitan selanjutnya yaitu Surga untuk yang beriman dan Neraka yang mengingkari akan END OF THE DAY.

    […] ON JULI 24, 2016 UPDATED ON JULI 24, […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s