Akhir Zaman: Dalam Pandangan Prabu Jayabaya dan Kitab Suci

Posted on Updated on

aSiapa yang tidak kenal dengan Prabu Jayabaya, seorang raja besar dari Kerajaan Kadiri/Kediri (1135-1159 Masehi). Bahkan dalam tradisi Jawa, beliau ini dipandang sebagai sosok yang sangat dihormati karena kesaktian dan kewibawaannya. Saking populernya, beliau ini lalu menjadi tokoh yang sangat sulit dicari tandingannya dari zaman ke zaman, apalagi sekarang ini. Sosok yang memiliki gelar Abiseka sebagai Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa ini bahkan dianggap tidak pernah wafat seperti manusia pada umumnya. Oleh sebagian orang, beliau ini justru diyakini meninggalkan mayapada (dunia) ini dengan cara Moksa (berpindah dimensi setelah mencapai kesempurnaan hidup). Karena itulah, tidak pernah ada makam yang menjadi pusaranya.

Untuk mempersingkat waktu, mari kita ikuti penelusuran berikut ini:

1. Pembagian Zaman Menurut Pandangan Prabu Jayabaya
Sewaktu kehidupannya sebagai raja Kadiri, Prabu Jayabaya telah membagi zaman yang sudah, sedang dan akan terjadi nanti, khususnya di Nusantara. Lama waktunya yaitu sekitar 2.100 tahun matahari (1 tahun matahari = 10,3 tahun kita sekarang). Ramalannya itu lalu menjadi Tri Takali (tiga periode zaman), yaitu:

1. Zaman permulaan disebut KALI-SWARA
Satu periode zaman ini lamanya adalah 700 tahun matahari (721 tahun bulan). Pada waktu itu di Jawa (Nusantara) banyak terdengar suara alam, halintar, dan petir, serta banyak kejadian-kejadian yang ajaib dikarenakan banyak manusia menjadi dewa dan dewa pun turun ke Bumi menjadi manusia. Zaman ini bisa disebut dengan zaman puncak kesaktian manusia, yang hal itu tidak pernah terulang lagi hingga hari ini.

2. Zaman pertengahan disebut KALI-YOGA
Satu periode zaman ini lamanya adalah 700 tahun matahari. Pada waktu ini banyak perubahan pada Bumi. Daratan di Bumi ini lalu terbelah-belah, menyebabkan peta dunia menjadi berpulau-pulau. Pada saat ini banyak makhluk yang salah jalan, karena orang yang mati banyak menjelma (nitis) dengan segala kepentingannya.

3. Zaman akhir disebut KALI-SANGARA
Satu periode zaman ini lamanya adalah 700 tahun matahari. Pada waktu ini banyak hujan salah mongso (musim) dan banyak kali (sungai kecil) dan bengawan (sungai besar) bergeser, Bumi kurang manfaatnya, menghambat datangnya kebahagian, mengurangi rasa-terima, sebab manusia yang mati banyak yang tetap memegang ilmunya (tanpa sempat membaginya).

Ketiga zaman tersebut lalu dibagi lagi menjadi tujuh zaman (Saptama Kala). Artinya ada zaman kecil dan setiap zaman rata-rata berumur 100 tahun matahari (103 tahun bulan). Seperti penjelasan berikut ini:

I. ZAMAN KALI-SWARA dibagi menjadi:
1) Kala Kukila (th. 1-100): Hidupnya orang seperti burung, berebutan mana yang kuat dia yang menang, belum ada raja, jadi belum ada yang mengatur/memerintah.
2) Kala Buddha (th. 101-200): Permulaan orang Jawa masuk agama Buddha (Budi Dharma) menurut syariat Sang Hyang Jagadnata (Bhatara Guru).
3) Kala Brawa (th. 201 – 300): Orang-orang di Jawa mengatur ibadahnya kepada Dewa, sebab banyak Dewa yang turun ke Bumi menyiarkan ilmu.
4) Kala Tirta (th. 301-400): Banjir besar, air laut menggenang daratan, di sepanjang air itu Bumi menjadi belah dua. Yang sebelah barat disebut pulau Swarna, lalu banyak muncul sumber-sumber air, disebut umbul, sedang, telaga, dsb.
5) Kala Swabara (th. 401-500): Banyak keajaiban yang tampak atau menimpa diri manusia.
6) Kala Rebawa (th. 501-600): Orang Jawa mengadakan keramaian-kesenian dsb.
7) Kala Purwa (th. 601-700): Banyak tumbuh keturunan orang-orang besar yang sudah menjadi orang biasa mulai jadi orang besar lagi.

II. ZAMAN KALI-YOGA dibagi menjadi:
1) Kala Brata (th. 701-800): Orang mengalami hidup sebagai fakir.
2) Kala Drawa (th. 801-900): Banyak orang mendapat ilham dan orang pandai menerangkan hal-hal yang gaib.
3) Kala Dwawara (th. 901-1.000): Banyak kejadian yang mustahil.
4) Kala Praniti (th. 1.001- 1.101): Banyak orang mementingkan olah pikir (telepati).
5) Kala Teteka (th. 1.101 – 1.200): Banyak orang datang dari negeri-negeri lain.
6) Kala Wisesa (th. 1.201 – 1.300): Banyak orang yang terhukum.
7) Kala Wisaya (th. 1.301 – 1.400): Banyak orang memfitnah.

III. ZAMAN KALI-SANGARA dibagi menjadi:
1) Kala Jangga (th. 1.401 – 1.500): Banyak orang olah kehebatan.
2) Kala Sakti (th. 1.501 – 1.600): Banyak orang olah kesaktian.
3) Kala Jaya (th. 1.601 – 1.700): Banyak orang olah kekuatan untuk tulang punggung kehidupannya.
4) Kala Bendu (th. 1.701 – 1.800): Banyak orang senang berbantahan, akhirnya bentrokan => ini zaman kita sekarang.
5) Kala Suba (th. 1.801 – 1.900 ): Pulau Jawa mulai sejahtera, tanpa kesulitan, orang bersenang hati.
6) Kala Sumbaga (th. 1.901 – 2.000): Banyak orang tersohor pandai dan hebat.
7) Kala Surasa (th. 2.001 – 2.100): Pulau Jawa ramai sejahtera, serba teratur, tak ada kesulitan, banyak orang olah asmara.

Wahai saudaraku. Sesungguhnya ketiga zaman itu (Kali Swara, Kali Yoga, Kali Sangara) selalu berada di dalam lintasan Chakra Manggilingan. Artinya, apa yang terjadi di dalam setiap zamannya itu akan terus terulang hingga nanti berakhir dengan datangnya Hari Kiamat. Dari zaman Kali Swara hingga Kali Sangara, sebenarnya sudah pernah terjadi berulang kali. Kehidupan manusia itu jauh lebih lama dari anggapan sebagian besar orang saat ini. Apa yang disampaikan oleh Prabu Jayabaya itu hanyalah formula untuk lebih mudah memahami keadaan zaman dan model kehidupan umat manusia di atas Bumi ini, dari awal zaman sampai Hari Kiamat nanti. Karena menurut pengamatan dan penelitian kami, setidaknya manusia sudah melalui 10.000 kali putaran zaman di atas, yang angkanya lebih dari 2.163.000.000 tahun.

Jadi, dalam pandangan Prabu Jayabaya, maka akhir zaman itu bukan berarti Hari Kiamat. Tapi lebih kepada berakhirnya satu periode zaman; bisa yang berskala besar seperti Kali Swara, Kali Yoga atau Kali Sangara, dan bisa pula yang berskala kecil yang disebut dengan Saptama Kala (7 jenis zaman). Memang terjadi kehancuran yang besar pada setiap kali zaman berakhir, khususnya di muka Bumi ini, tetapi bukan berarti kehidupan pun ikutan berakhir. Karena akhir zaman disini berarti telah berakhirnya satu periode zaman yang memang pada setiap waktunya harus ada pergolakan besar dimana-mana, baik dalam bentuk perang besar atau pun bencana alam yang dahsyat. Itu bertujuan agar ibu pertiwi (Bumi) ini bisa “muda kembali” dan siap menjadi tempat anak manusia untuk menjalani kehidupannya lagi. Tentang contoh dan faktanya, Anda bisa mengulas kembali kisah banjir besar di masa Nabi Nuh AS atau perang besar dalam kisah Ramayana dan Mahabharata. Kedua hal itu adalah contoh nyata tentang adanya akhir zaman pada setiap periode yang disebutkan oleh Prabu Jayabaya di atas. Karena berakhirnya satu periode zaman itu bisa karena bencana alam (azab Tuhan) atau perang besar. Hingga pada akhirnya semua perputaran zaman (Chakra Manggilingan) itu benar-benar berakhir karena Hari Kiamat yang telah dijanjikan oleh Tuhan pun datang. Pada saat itu bukan hanya zaman manusia telah berakhir, tetapi kehidupan duniawi akan sirna dan manusia akan memasuki fase kehidupan selanjutnya, yaitu kehidupan abadi di alam akherat.

“Wahai putra Pandu, aku sudah menjelaskan segalanya kepadamu. Aku sudah menjelaskan perputaran zaman baik di masa lalu maupun di masa depan sebagaimana yang dinyatakan oleh Dewa Vayu dalam Kitab Purana-nya (Kitab Vayu Purana) yang dipuji oleh para Resi. Aku sudah berkali-kali menyaksikan perputaran dunia ini. Aku kini telah memberitahumu apa yang telah kurasakan dan ku lihat” (Mahabharata, Vana Parva, Bab 191, Ayat 7-17)

Ya. Dari keterangan zaman di atas, maka khususnya zaman kita sekarang ini termasuk ke dalam zaman Kali Sangara, tepatnya di masa Kala Bendu. Kehidupan manusia saat ini benar-benar sudah berada di akhir zamannya. Dan jika dicermati dengan seksama, maka periode Kala Bendu saat ini sudah berada di puncaknya dan menunggu masa pemurnian total. Karena itu, sebagaimana tulisan saya sebelumnya, maka periode Kala Bendu saat ini akan segera berakhir dan berganti ke periode zaman Kala Suba. Yaitu zaman yang berkebalikan dengan Kala Bendu, karena Bendu disini berarti hukuman (untuk manusia) sebab terlalu banyak melanggar hukum Tuhan yang universal – ini terus saja terjadi sampai hari ini seperti keserakahan, pertikaian, kemunafikan, kebencian dan maksiat, sehingga bencana alam dan perang pun terjadi dimana-mana. Sementara Kala Suba itu sendiri bisa diartikan sebagai zaman kebangkitan, zaman dimana umat manusia akan hidup sesuai dengan aturan Tuhan, sehingga hidup mereka pun jadi makmur dan sejahtera.

2. Pergantian Zaman Dalam Pandangan Kitab Suci
Wahai saudaraku. Dalam setiap pergantian zaman akan ada seorang tokoh pemuda yang menjadi pancer (pusat harapan) dari kisah hidup manusia. Tak terkecuali di zaman kita sekarang. Dan sebagai bahan informasi, maka dalam kitab Mahabharata (Vana Parva, 190.93-97) telah memuat keterangan tentang ciri-ciri pemuda yang akan memimpin dunia untuk bisa melewati masa transisi zaman nanti (Kala Bendu ke Kala Suba). Sosok yang sakti itu juga akan memerangi kebatilan yang sudah sekian lama menyebar di Bumi ini. Dialah sosok agung yang dikenal dengan sebutan Kalki, yang hidup pada akhir periode Kala Bendu ini – masa kita sekarang. Berikut bunyi ayatnya:

“Karena waktunya telah tiba, seorang brahmana bernama Kalki Visnuyasa akan muncul. Dia memiliki tenaga, kecerdasan dan kekuatan yang sangat besar. Dia muncul di Desa Sambhala di sebuah keluarga “brahmana” yang terberkati. Dia bisa mengendalikan kendaraan, senjata, pasukan, dan tameng hanya dengan memikirkannya. Dia akan menyatukan dunia, senantiasa menang karena kekuatan-Nya. Dia akan mengembalikan varsrama-dharma dan kedamaian di dunia yang dibanjiri oleh ketimpangan hukum. Brahmana yang cemerlang dan cendekiawan itu akan menghancurkan segala sesuatu. Dia akan menjadi penghancur segalanya dan membuat zaman baru (Satya Yuga atau Kala Suba). Dia dikelilingi oleh para brahmana dan dia akan membinasakan semua golongan mleccha (golongan yang tidak mematuhi aturan Tuhan) yang hina dimanapun mereka bersembunyi”

Kemudian dalam kitab Agni Purana (16.7-9) juga dikatakan bahwa:

“Ketika orang-orang anarya (yang tidak beradab) menyamar menjadi raja-raja dan menyiksa orang-orang shaleh dan memakan daging manusia, Kalki sebagai putra Visnuyasa, dan Yajñavalkya sebagai pendeta dan gurunya, akan membinasakan para anarya ini dengan senjatanya. Dia akan mengembalikan empat susunan ideal dalam masyarakat (varsrama). Setelah itu, orang-orang akan kembali ke jalan kebenaran”

Selain itu, sosok pemuda yang dikenal sebagai Hyang Kalki itu akan melakukan beberapa tindakan besar. Berikut keterangan dari salah satu ayat di kitab Padma Purana (6.71.279-282):

“Sang Kalki akan mengakhiri zaman kekuasaan Kali dan membunuh semua golongan mleccha (orang kelas rendah yang tidak beradab) yang licik, sehingga dia akan mengembalikan keadaan dunia. Dia akan mengumpulkan semua brahmana terkemuka dan menetapkan Kebenaran Tertinggi. Dia mengetahui Kebenaran yang saat itu telah dihancurkan dan dia akan menghilangkan rasa lapar para brahmana dan orang-orang shaleh. Dia akan menjadi penguasa tunggal atas Bumi dan tidak bisa ditaklukkan. Dia akan menjadi lambang kemenangan dan dipuji seluruh dunia”

Lalu untuk mengklarifikasi ramalan ini, juga disebutkan dalam kitab Brahma Vaivarta Purana (Praketi Khanda, Bab 7.60, Ayat 58-59) tentang bagaimana kondisi menjelang akhir zaman Kala Suba dan apa saja kegiatan serta tujuan dari kedatangan Hyang Kalki ini. Yaitu:

“Pada saat itu akan ada kekacauan di Bumi. Di mana-mana ada pencuri dan perampok. Pada saat itu, di rumah brahmana bernama Visnuyasa, Hyang Sri Narayana akan muncul dalam salah satu ekspansi kekal-Nya dalam wujud Kalki yang agung sebagai putra brahmana itu. Dengan mengendarai seekor kuda yang gagah dan memegang pedang di tangannya, dia akan membinasakan semua mleccha (orang-orang licik, serakah, egois dan tidak beradab) di muka Bumi. Demikianlah Bumi akhirnya bebas dari para mleccha dan setelah itu Kalki akan menghilang kembali ke kediamannya (di alam Ruhani)”

Dari keterangan ayat-ayat di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa Kalki Avatar itu akan datang sebagai penegak hukum atau ksariya. Pada masa itu – tepatnya masa sekarang ini – Bumi telah dipenuhi oleh orang-orang yang tidak mengerti hakekat ilmu dan kitab suci. Mereka terlalu bodoh dan dungu, tidak bisa diajarkan pengetahuan rohani tentang tujuan sejati dari kehidupan. Mereka tidak dapat mengerti apa yang harus dilakukan dan bagaimana caranya bisa hidup yang benar. Karena itu, mereka pasti tidak bisa mengubah cara hidup mereka itu karena kebodohan yang sangat kasar. Karena itu, Hyang Kalki muncul tidak untuk mengajari manusia tentang prinsip-prinsip agama, namun hanya untuk menghukum, membinasakan dan membersihkan Bumi ini dari para penjahat. Atas alasan ini, kitab Suci Srimad Bhagavatam 10.40.22 menjelaskan bahwa Hyang Kalki adalah pemusnah para mleccha (manusia kelahiran rendah yang biadab) serta golongan rendah lainnya yang menyamar sebagai raja/pemimpin.

perang

Selanjutnya, selain sebagai pemusnah kebatilan, Hyang Kalki juga akan membangkitkan kejayaan hidup di Bumi ini. Dia akan mengantarkan orang-orang yang selamat saat transisi zaman terjadi nanti menuju pada puncak kehidupan yang sejati. Ini sebagaimana yang diterangkan dalam kitab Kalki Purana (32.2-5) berikut ini:

“Hyang Kalki selanjutnya tinggal di Desa Sambhala, bersama saudara-saudaranya (yang adalah ekspansi kekal-Nya), putra-putranya, keluarganya dan rekan-rekannya selama seribu tahun. Seluruh wilayah Desa Sambhala, yang keadaannya sebaik planet-planet surga, terlihat sangat indah dengan gedung balairung, pintu-pintu gerbang, panggung yang tinggi, dan bendera-bendera yang berkibar tertiup angin disana-sini. Siapa pun yang meninggal di Desa Suci Sambhala ini segera dibebaskan dari reaksi-reaksi dosa dan mencapai kaki-padma Tuhan Kalkideva. Demikianlah keadaan Desa Sambhala yang dihias menawan dengan bunga-bunga yang mekar, pohon-pohon yang membawa kemujuran, hutan-hutan dan taman-taman, menjadi tempat suci yang menawarkan jalan pembebasan dari penderitaan material”

Sehingga, pada saat itu pikiran umat manusia akan tercerahkan. Mereka kembali hidup sebagai manusia yang sejati dan mengagungkan Tuhannya saja. Tentang hal ini, kitab Mahabharata (Vana Parva, 190.89-92) juga menyatakan kondisi Bumi ketika zaman Satya Yuga (atau zaman Kala Suba-Kala Sumbaga-Kala Surasa) kembali seperti berikut ini:

“Makhluk hidup yang dulunya punah karena polusi dan ulah manusia akan kembali lagi, dimulai dengan para brahmana. Ketika Zaman Satya Yuga (atau zaman Kala Suba-Kala Sumbaga-Kala Surasa) kembali, makhluk hidup akan berkembang dan memenuhi Bumi lagi. Kehendak Tuhan akan ada di Bumi ini. Ketika matahari, bulan dan planet Jupiter (Brhaspati-graha) memasuki daerah Bintang Purya (Delta Cacnri) di Rasi Bintang Cancer, awan-awan akan kembali mencurahkan hujan setelah musim kemarau dan kelaparan selama beratus-ratus tahun. Pada saat itu, Kali Yuga (Kala Bendu) berakhir dan Satya Yuga kembali lagi. Posisi bintang dan planet-planet menjadi mujur. Makhluk hidup, kemakmuran, kesejahteraan dan kedamaian akan berada di seluruh muka Bumi”

Untuk itu, dalam ayat kitab Mahabharata tersebut dapat kita simak bahwa ketika Dharma ditegakkan kembali oleh Hyang Kalki, Planet Bumi memulai proses penyembuhan dan peremajaannya. Makhluk-makhluk yang punah karena polusi dan ketimpangan akibat ulah manusia akan muncul kembali. Planet Bumi memproduksi kebutuhan penghuninya lagi, dan sejak saat itu akan ada awan-awan yang menurunkan hujan lagi. Akan ada kedamaian dan keindahan dimana-mana, yang semua makhluk akan menikmatinya dengan percuma.

future age 6.jpg

3. Penutup
Ya. Apa yang telah diuraikan pada point ke 2 (Pergantian Zaman Dalam Pandangan Kitab Suci) di atas adalah sekilas dari apa yang akan terjadi pada saat transisi zaman terjadi, khususnya zaman kita sekarang ini (Kala Bendu ke Kala Suba). Dan bagi saya pribadi, saya sangat menyakini hal itu, sebab tanda-tandanya sudah semakin jelas terlihat, bahkan aura yang dipancarkan sebelum peristiwa itu terjadi sudah semakin terasa baik secara lahir maupun batin. Tinggal menunggu waktunya saja, kapan peristiwa dahsyat itu terjadi di depan mata semua orang di Bumi. Siapapun tidak akan bisa menghindar. Dan saat itu terjadi, maka zaman memang sedang berganti. Lalu saat prosesnya berakhir, maka siapapun yang selamat akan hidup di zaman yang baru, yang lebih baik dari masa sebelumnya.

Tapi, sesuai dengan keterangan ayat-ayat kitab suci di atas pula, maka sebelum semua kebangkitan dan kesejahteraan itu terwujud, maka akan ada masa transisi di antara kedua zaman (Kala Bendu dan Kala Suba) tersebut. Prosesnya pun sudah dimulai sejak beberapa tahun belakangan, tinggal menunggu puncaknya saja. Dan nanti, akan ada perang yang sangat dahsyat (perang kosmik) yang melibatkan semua makhluk yang ada di jagat raya ini – bahkan tidak hanya di alam nyata tapi juga dari alam goib (dimensi lain). Selanjutnya ada berbagai jenis bencana alam yang sangat dahsyat, yang menerpa di sepenjuru Bumi ini – bahkan belum pernah dilihat selama ini. Kedua proses itu adalah bentuk dari pemurnian total yang melibatkan semua makhluk. Dan setelah proses transisi itu selesai, maka bagi mereka yang selamat nanti, mereka akan memulai kehidupan yang baru, di zaman yang baru (Kala Suba), dan dalam peradaban yang baru pula. Sungguh beruntunglah mereka itu, karena bisa hidup di zaman keemasan dunia. [Silahkan baca: Transisi dimensi kehidupan: Mempersiapkan diri menuju zaman yang baru atau Nurrataya: Para penjaga Bumi dalam masa transisi zaman]

Akhirnya, semoga hal ini bisa menjadi perenungan untuk kita semua. Bukan untuk mendahului takdir Tuhan, tetapi agar kita semua bisa terus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Jika seandainya nanti zaman berganti, yang dimulai dengan perang besar dan bencana dahsyat, maka kita sudah siap. Tetapi jika tidak terjadi, tentunya tidak menjadi masalah, karena justru kita sudah berusaha menjadi orang yang baik dan mengikuti perintah Tuhan. Sehingga kehidupan pun akan menjadi lebih baik.

Jambi, 25 Mei 2016
Mashudi Antoro (Oedi`)

6 thoughts on “Akhir Zaman: Dalam Pandangan Prabu Jayabaya dan Kitab Suci

    kuropriest97 said:
    Mei 25, 2016 pukul 2:20 pm

    Bukannya dalam ajaran Hindu itu zaman akhir namanya kali yuga ya? Saya melihat-lihat artikel di Internet seperti itu. Zaman yg menuju ke nama dewi kali, sebagai dewi kematian yg menguasai dunia dengan kebatilan dan kejahatan.

      oedi responded:
      Mei 30, 2016 pukul 4:18 am

      Ya emang benar, kalau dalam ajaran Hindu sudah disebutkan istilah Catur Yuga atau empat zaman kehidupan yaitu; Satya Yuga/Krta Yuga, Trta Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga. Setiap zaman memang memiliki ciri khasnya sendiri, dan semakin kesini maka kemampuan dan sifat diri manusia semakin rendah. Menurut ajaran Hindu, keempat zaman tersebut membentuk suatu siklus, sama seperti siklus empat musim. Siklus tersebut diawali dengan Satya Yuga menuju Kali Yuga. Setelah Kali Yuga berakhir, dimulailah Satya Yuga yang baru. Satu kali periode (siklus) dari Catur Yuga ini lalu disebut dengan 1 Maha Yuga.
      Lalu perubahan zaman dari Satya Yuga (zaman keemasan) menuju Kali Yuga (zaman kegelapan) merupakan kenyataan bahwa ajaran kebenaran dan kesadaran sebagai umat beragama lambat laun akan berkurang, seiring bertambahnya umat manusia dan perubahan zaman. Dan pada akhirnya manusia akan merasa bahwa ia telah hidup di suatu masa yang sudah tua, ketika bumi semakin renta, ketika kerusakan moral dan pergeseran budaya sudah bertambah parah, maka sudah saatnya untuk kiamat. Kiamat ini bertujuan untuk kembali memurnikan kehidupan. Dan ketika masa kegelapan berakhir, maka zaman baru akan muncul, dimana manusia-manusia yang memiliki sifat jahat sudah dibinasakan sebelumnya untuk memulai kehidupan baru yang lebih damai.
      Itulah siklus zaman dari Satya Yuga/Krta Yuga menuju Kali Yuga, dan Kali Yuga akan kembali kepada Satya Yuga. Satu kali periode dari Satya Yuga menuju Kali Yuga disebut dengan 1 Maha Yuga. Setelah Maha Yuga berlangsung selama 71 kali, maka tercapailah suatu periode yang disebut Manwantara. Setelah 14 Manwantara berlangsung, maka dicapailah suatu periode yang disebut Kalpa. Dan menurut ajaran Hindu, pada saat periode Kalpa tersebut dicapai, maka alam semesta dihancurkan.
      Demikianlah sekilas tentang zaman menurut ajaran Hindu. Tapi Maaf, disini kan tidak sedang fokus membahas pembagian zaman atau pun akhir zaman menurut agama Hindu. Yang sedang dibahas di tulisan ini adalah tentang pembagian zaman dan akhir zaman menurut Prabu Jayabaya. Adapun ayat-ayat dari kitab suci Hindu yang kami tampilkan di atas adalah untuk lebih menguatkan kebenaran pendapat yang telah disampaikan oleh Prabu Jayabaya, khususnya mengenai transisi dan pergantian zaman ini nanti. Terlebih menurut saya pun sang Prabu Jayabaya disini juga sudah menjelaskan tentang keadaan di zaman Kali Yuga (zaman keempat menurut ajaran Hindu) secara lebih detil. Karena itulah beliau lalu membagi zaman Kali Yuga itu menjadi tiga macam yang kemudian disebut dengan Tri Takali (Kali Swara, Kali Yoga/Yuga, Kali Sangara). Sehingga tak ada yang bertentangan dengan prinsip ajaran Hindu.
      Silahkan Anda baca lagi dengan lebih tenang dan detil, Semoga bermanfaat.. Terima kasih🙂

      M.NURHADI said:
      Juli 30, 2016 pukul 8:13 pm

      Salam Kehidupan
      Kiamat itu 2 jenis: Kiamat Sugra dan Kubro, Bencana, atau azab yang telah terjadi contoh Kiamat Sugra (kecil).

      Kiamat Kubro adalah berakhirnya seruruh kehidupan dunia, dihancurkan. Lalu Allah menciptakan kembali seperti penciptaan awal alam ini.

      Lalu sekarang lihatlah ke kuburan dimana jiwa-jiwa mereka?

      Siapa yang ingkar kepada Hari Akhir, maka tunggulah, apakah umurmu cukup untuk menyaksikannya? Atau Ajal lebih dahulu menjemput?

      Apa yang diinginkan dari kehidupan ini?
      Siapa yang menciptakan kehidupan?
      Jika benar kiamat itu tidak akan terjadi Siapa yang menghidupkan Pangeran Jaya Baya. Atau siapa yang menghidupkan anda sendirikah?

      Wassalam !

    wordwidewrite said:
    Juli 25, 2016 pukul 10:58 pm

    Salam Sejahtera !
    Kehidupan beragama, saat ini kebanyakan terlalu fanatik dalam kelompok dan golongannya, kebenaran dari peradaban masa lalu, banyak didustakan untuk membenarkan diri, sehingga tidak bisa membedakan kebenaran sejati dengan suatu anggapan dengan dugaan. Tapi begitulah kenyataan hidup, dan itulah ujiaannya untuk bisa kembali ke jalan Sang Penciptanya.
    Semoga terberkati !

    wordwidewrite said:
    Juli 27, 2016 pukul 2:49 am

    Saya teringat suatu kisah epic, namun lupa nama tokohnya, yaitu 2 saudara yang sedang berperang menaklukan raja yang berlaku tidak adil, seorang diantaranya berhasil membunuhnya dan banyak korban dan pertumpahan darah, namun Ibu permaisuri tidak menganugrahkan gelar raja kepadanya, Perkataaannya adalah sesuai Wahyu Tuhan dalam beberapa Kitab, “membunuh satu orang sama dengan membunuh seluruh manusia di muka bumi”

    Kekuasaan itu diberikan kepada saudaranya yang lain bersuci menyembah Hyang yang melakukan kebajikan, menyantuni orang miskin, karena itulah tujuan manusia untuk hidup. Dua saudara itu saling menerima dan menyadari kesalahan dan kekurangan masing-masing.

    Segala amal perbuatan dimuka bumi ini akan ada pahala (balasan) baik masih didunia ataupun kelak di AKHIRAT.

    Peradaban hidup memang berlulang, tapi ada Akhirnya dan itu telah dijanjijan. Allah pasti menepati janjinya, Namun waktu Kiamat itu datang manusia tidak ada yang diberitahu kapan terjadinya.

    Nabi Isa dijanjikan bangkit kembali dan dijanjikan pula kemenangannya atas orang kafir sebagai nabi Terakhir. Apakah manusia tidak menyadarinya?

    Bukti kemenangan itu adalah direbutnya kembali Mekkah dari orang kafir, dan Kiblat Masjidil Aqsa Palestina dipindahkan kembali ke Masjidil Harram Mekah yang dijamin Aman dilindungi Allah dengan pasukan Malaikat yang tidak terlihat.

    Tidakkah manusia mengerti Pondasi Ka’bah itu dibangun oleh nabi Ibrahim. Yahudi dan Nasrani serta Muslim pun mengaku Ajaran Tauhid itu Adalah Syariat dan Sunnah Allah yang terdahulu yang tidak berubah, Kebanyakan manusia tidak memahami bahasa Arab, Kitab apapun isinya telah dimudahkan dalam bahasa lokal yang dimengerti oleh tiap manusia diberbagai negri.

    Bani Israil adalah keturunan nabi Yakub anak dari nabi Ibrahim, Satu Kaum Yang yang minta Perjanjian Hidup selama 1000 Tahun, Firman Allah , “kebanyakan mereka selalu mengingkarinya” contoh keingkaran mereka meminta dipertemukan dengan Allah, lalu mereka disambar petir dan mati, ARTINYA MEREKA KEMBALI KEPADA SANG PENCIPTA. Lalu mereka dihidupkan kembali, tapi tidak mau BERSYUKUR (MEMUJI ALLAH).

    Dicontohkan pula pemuda yang mati selama 100 Tahun dan dihidupkan, dengan bukti keledainya yang menjadi tulang belulang. Serta Ashabul Kahfi, (Seven Seas). Dan entahlah para penjelajah dunia itu memperebutkan kembali Kiblat Palestina dengan pertumpahan darah. Atau mereka menganggap kehidupannya akan dibangkitkan kembali di akhir jaman ini.

    Contoh kebangkitan dan berbagai macam dihidupkan kembali ditunjukan pula pada masa nabi Isa. Dan umur panjang bagi orang ingkar berbeda dengan umur panjang kepada orang beriman dan bertaqwa pada hari akhir.

    Riwayat Kitab jika menjelaskan akan hidup ini dianggap sihir dan penyampainya adalah orang gila. Beberapa Nabi pun diperlakukan seperti itu oleh umatnya.

    Adakah yang aku ada-adakan dari komentar ini? Umat Muslim dianjurkan mengikuti Sunnah Rosul, maka apakah mentalnya akan kuat jika dikatakan orang gila? Bagaimana dan apa yang harus dibuktikannya?

    Berulang-ulang manusia diperintah untuk Bersyukur ,memuji Allah, bertasbih, menyucikan nama Allah. Tapi manusia kebanyakan disibukan untuk hanya menyenangi kehidupan dunia. Ingkar menyantuni orang miskin, anak yatim.

    Hidup dan Bersyukurlah !
    Alhamdulillahi Robbil’ Alamin.
    SEGALA PUJI BAGI ALLAH TUHAN SEMESTA ALAM.

    ANDwhYasK said:
    Juli 29, 2016 pukul 4:32 am

    Salam Sejahtera
    Hidup bersosial jaman sekarang, bertambah satu dunia, yaitu dunia maya. Informasi dapat dicari dan didapat dengan mudah, bertukar pikiran dan pendapatpun semakin mudah, ruang dan waktupun lebih efisien.
    Anggaplah kita saling membuka diri, dari ungkapan riwayat diatas pemahaman moksa dijaman ini masi masih adakah yang mengalaminya lagi? Atau siapa yang punya kesaksian pernah mengetahuinya ?
    Menurut pandangan yang saya fahami, Jaman dahulu kala (bukan dongeng) malaika turun ke muka bumi ada yang diutus dengan wujud fisik manusia, contoh bukti cerita nyata dari diutus menemui nabi Ibrahim karena kaum dari keturunannya ingkar akan peringatanny, yaitu kaum Ad Samud dan Luth, nabi2 itu anak Nabi Ibrahim, Semua malaikat itu datang dengan membawa azab yg diperintahkan Sang Pencipta.
    Adapun ciri2 Malaikat yg datang dengan wujud fisik manusia yaitu tidak makan dan minum hal itu diceritakan ketika disajikan makanan oleh istri nabi Ibrahim, Sosok Malaikat Jibril yang diberi kesaksian oleh nabi Muhammad (siang hari) setelah bintang terbenam.
    Suatu seruan Sang Pencipta datang pada setiap negri, namun lebih banyak yang mengingkarinya, sehingga azab datang berulang pada generasi yang menggantinya, kebinasaan itu membawa jiwa manusia kembali pada Sang Pencipta, adapun perjanjian saat pertemuan itu, untuk tunduk dan taat pada perintahnya, kebangkitan adalah kesempatan manusia memperbaiki diri dari kehidupan sebelumnya, ada yang ingat dan ada pula yang mendustakan.
    Bukti manusia dihidupkan kembali, beberapa diantaranya disebutkan dalam beberapa kitab dari umat terdahulu, satu kaum yang ingin pembuktian, mereka dipertemukan dengan-Nya, yaitu dengan disambat petir, dan jelas kematian adalah pertemuan dan ditunjukan karena kesombongannya, setelah itu mereka membawa perjanjian, dan dihidupkan kembali, tapi mereka tetap ingkar, dan kebinasaan datang kembali sampai ada yang dikutuk menjadi kera yang hina. Itulah Nasib Kaum Bani Israil, keturunan nabi Yakub anak nabi Ibrahim. Perjanjian akan hidup yang serakah sampai meminta umur 1000tahun, tapi kehidupan itu tidak disyukuri dan mereka tidak mau taat atas ujian hidup yang diberikan oleh nabi Penerusnya, kehinaan ditimpakan menjadi budak atas kekuasaan Fir’aun, mereka diselamatkan oleh nabi Musa, namun keingkaran selalu dilakukan, penyembahan berhala terjadi ketika ditinggal beberapa saat oleh nabi Musa, disaksikan nabi Harun saudaranya. Sampai dilahirkannya nabi Isa keingkaran terus berlanjut, dan umat yang mengikuti ajaran Ibrahim adalah Muslim, Selain itu Kaum Yahudi dan Nasrani, sampai kebangkitan Nabi Terakhir mereka tetap ingkar dan semakin banyak Kelompok dan Golongannya,
    Kategori Umat Muslim saat itu sebelum turun AlQur’an beriman pada Kitab Taurat Zabur dan Injil. AlQur’an membenarkan semua kitab ajaran yang masih utuh (Sunnah) tidak berubah, Hal2 dalam kitab sebelumnya yang isinya dirubah manusia diluruskan kembali, semua revisi ada dalam AlQur’an dalam bahasa Arab. Itulah Sunnah Allah, ketetapan terdahulu, semua dimudahkan agar dimengerti dalam bahasa masing-masing (banyak terjemahan).
    Lalu kenapa umat Muslim sekarang? Karena membaca kitab tanpa mengetahui artinya, sedikit sekali yg faham bahasa Arab, tapi bukankah ada bahasa lainnya? Begitulah suatu petunjuk datang kepada manusia yang dikehendaki Allah, Kita melihat kenyataan hidup sebagian besar manusia hidup dengan Riba, sesuatu yang tidak dikehendaki Allah sejak Bani Israil ada, itu hanya sebagian contoh saja.
    Disetiap masa dan negri selalu ada utusan untuk memberi keselamatan, itulah beberapa kisah bumi bagian barat, dan bumi bagian timurpun ada, yaitu kekuasaan nabi Sulaiman, dan Masa penaklukan Zulkarnain, Azab yang turun serupa adalah Udara panas, Tsunami dan Gempa, Serta Meletusnya Gunung, namun kita lihat sendiri manusia yang selamat banyak yang mengatakan itu hanya kejadian alam biasa, namun bukankah alam ini milik Sang Pencipta? Adakah penciptaannya melibatkan manusia, tehnologi diberikan pada akal manusia, Anugrah Ilmu pun banyak yang menjadikan kesombongan.
    Kesimpulan dari wacana hidup ini adalah Sudah sekitar 1500 tahun wafat dari Nabi Terakhir yang dijanjikan, tidak akan ada lagi nabi (juru selamat) selain itu untuk diimani dan dijalankan ajarannya, dan Kebangkitan itu dibatasi oleh Akhir Jaman, yaitu masa terakhir dan pengulangnnya adalah dengan Kiamat dihancurkannya seluruh bumi dan langit.
    Ingat Kisah terdahulu keingkaran kepada Sang Pencipta selalu diberikan Azab, Akhir Zaman ini adalah akan datang Azab yang paling besar. Atau kita perhatikan manusia yang telah meninggal, mereka dikuburkan, kemana jiwa mereka? Akhir Jaman ini Adalah Penuntasan kebangkitan Manusia yang dihidupkan dimuka bumi. Ditegaskan kelahiran terakhir seluruh umat manusia agar usia manusia diberi secara adil oleh sang Pencipta, maka hiduplah dengan melakukan kebajikan.sebelum ajal menjemput atau Kiamat terjadi.
    Dan sungguh kelak manusia diminta pertanggung jawaban hidup didunia ini. Setelah itu Keabadian hidup diberikan, Menempati Surga atau Neraka. Orang Yang ingkar dijelaskan dalam kitab akan dibiarkan hidup sementara dimuka bumi ini, menikmati apa yang diinginkan dan diusahakannya, sehingga kelak penghuni neraka mutlak akan keingkaran yang dilakukannya. Itulah janji Allah, Janji yang pasti ditepatinya.
    Wassalam!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s