Menjaga Keseimbangan Hidup Demi Keselamatan Diri

Posted on Updated on

keseimbanganWahai saudaraku. Sebagai manusia kita harus banyak belajar, karena segala sesuatu yang ada dibawah Bintang dan Matahari bergantung pada keseimbangan. Udara, tanah, air, hewan, tumbuhan, manusia, serta kekuatan Bumi dan Matahari, semuanya itu bergerak dengan baik dan benar dalam hukum keseimbangan. Sehingga tiada alasan lain kecuali kita harus terus belajar untuk menjaga keseimbangan diri demi kebaikan hidup ini.

Tapi kini, ketika manusia sudah diberikan kesempatan untuk mengendalikan kekuatan untuk menguasai dunia, mereka justru menggunakan hak itu dengan semena-mena. Mereka lupa bersikap alamiah, seperti yang di lakukan oleh tumbuhan dan cacing tanah dalam hidupnya. Padahal segala sesuatu itu tentu mempunyai peran dan tugasnya sendiri. Sementara manusia kini, telah melupakannya dan semakin banyak berbuat sombong dan kerusakan.

Ya. Akal, pikiran dan kekuatan fisik adalah anugerah yang tak terkira bagi manusia. Menggunakan kekuatan itu dalam kebodohan, hanya akan merusak keseimbangan dan menghancurkan kehidupan. Sebaliknya, jika manusia mau tetap rendah hati, giat belajar dan sering mengintropeksi dirinya dalam segala hal, maka kehidupannya akan bahagia. Mereka pasti bisa membangun peradaban yang gemilang, yang selalu indah karena bisa menjaga kelestarian dan keseimbangan alam.

keseimbangan-semesta-2

Untuk itu, ditengah kehidupan yang terus berjalan ini, siang berganti malam, hari berganti minggu dan bulan pun berganti tahun, maka untuk bisa bahagia dalam hidup, setiap orang harus mengupayakan keseimbangan. Lalu untuk bisa mencapainya, maka harus ada panduan hidup yang baik dan benar. Dan hidup ini memang harus punya batasannya, tidak bisa terus mengikuti kehendak nafsu.

Misalnya saat melihat ke dalam kehidupan ini, maka perhatikanlah tentang bagaimana ia bergerak antara hal-hal yang kontras: siang dan malam, terang dan gelap, kebaikan dan kejahatan, mulia dan hina, hidup dan mati, bahagia dan sedih, keuntungan dan kehilangan. Semua itu adalah bagian dari proses keseimbangan yang harus senantiasa terjaga dengan baik. Dan saat kita melihat dunia disekitar kita, maka saat itu juga kita harus bisa melihat ke dalam diri kita sendiri, lalu mengerti dengan jelas makna dari semua itu. Dengan begitu, maka siapapun kita akan mempunyai harapan yang tinggi untuk bisa meraih kejayaan hidup.

Wahai saudaraku. Dalam menggapai kejayaan hidup atau demi meraih kesempurnaan diri dan keseimbangan hidup, maka seseorang itu setidaknya harus melakukan 6 hal berikut, yaitu:

1. Muhasabah (roso rumongso)
Muhasabah berasal dari kata hasibah yang artinya menghisab atau menghitung. Dalam penggunaan katanya, muhasabah lalu diidentikan dengan menilai diri sendiri atau mengevaluasi atau mengintrospeksi diri. Untuk itu, agar kehidupan menjadi sempurna, maka yang pertama harus dilakukan oleh seseorang adalah dengan menilai dirinya sendiri, apakah ia lebih banyak berbuat baik atau justru lebih banyak berbuat kesalahan dalam kehidupannya. Disini dia harus objektif saat melakukan penilaiannya, bukan berdasarkan keinginan diri sendiri.

Untuk itu, ketika seseorang sudah mampu untuk terus ber-muhasabah di setiap harinya, maka ia sudah memiliki roso rumongso atau perasaan dan pengertian hati yang sebenarnya. Dengan begitu, setiap akan berbuat sesuatu ia akan memilih jalan kebenaran hingga akhirnya bisa selamat dan bahagia.

2. Tadabbur (nglanglang jagad)
Tadabbur adalah proses memahami sesuatu dengan melakukan usaha dan pengamatan yang cermat. Karena itu, dalam ber-tadabbur seseorang harus banyak menggali informasi dan bersentuhan langsung dengan sesuatu yang menjadi konsentrasinya. Contohnya disini adalah tentang alam semesta yang bisa mengantarkannya pada pemahaman yang lebih mendalam tentang kebesaran Tuhan, atau ayat-ayat di dalam kitab suci yang mampu membawanya pada pemahaman yang lebih luas tentang berbagai ilmu pengetahuan dan arti dari kehidupan ini. Karena itu, sebaiknya dalam ber-tadabbur seseorang itu tidak berada di satu tempat, artinya ia juga harus berpetualang dalam mencari ilmu.

Orang yang melakukan tadabbur ini adalah sosok kesatria yang sejati. Itu terjadi karena ia sudah Ngelanglang jagad atau berpetualang untuk menempuh jalan ilmu yang sejati.

3. Tafakur (semedhi)
Tafakur berarti merenungkan, menghayati dan memikirkan. Untuk itu, metode yang terbaik dalam ber-tafakur adalah dengan melakukan kombinasi antara penggunaan akal dan hati dalam menghayati, memikirkan dan memahami makna di balik segala sesuatu yang dilihat, didengar, dicium, disentuh, dan dirasakan. Saat ber-tafakur, disini seseorang harus dalam kondisi menenangkan diri di satu tempat khusus dengan berdiam diri, atau dalam bahasa lainnya seperti orang yang ber-semedhi. Dalam kondisi “semedhi” itulah, seseorang merenungkan, menghayati dan memikirkan hakekat Tuhan dan segala ciptaan-Nya secara mendalam.

Ketika seseorang sudah mampu ber-tafakur dengan benar, itu artinya ia juga sudah mampu ber-semedhi dengan tepat atau bisa menyatukan energi dirinya (mikrokosmos) dengan energi alam (makrokosmos), yang kemudian akan mampu menyatu pula dengan energi Yang Maha Kuasa dan mendapatkan petunjuk.

4. Khalwat (tirakat)
Khalwat secara bahasa berarti menyendiri. Tapi yang dimaksudkan disini adalah menyendiri karena sedang berdua-duaan dengan Tuhan Yang Maha Suci. Inilah keadaan batin orang yang sudah mengenal dirinya dan siapakah Tuhannya. Ia telah mampu menanggalkan ego pribadinya dan hanya akan merasa telah bermesraan dengan sesungguhnya ketika sedang berdua-duaan dengan Kekasih Sejatinya saja, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Orang yang sudah mampu ber-khalwat meski di dalam keramaian, maka ia baru akan dikatakan sebagai orang yang sudah mampu ber-tirakat atau menahan diri dengan benar demi menggapai cinta kasih dari Tuhannya. Sungguh beruntunglah pribadi yang bisa ber-khalwat ini.

5. Uzlah (nyepi)
Uzlah berarti mengasingkan diri. Disini artinya seseorang sudah tidak lagi larut dalam urusan duniawi, terlebih dengan orang-orang yang bisa mendatangkan keburukan bagi hatinya. Ia tidak lagi sering bercampur dengan orang banyak atau urusan duniawi ini, bahkan memang sudah menyendiri di suatu tempat khusus seperti gunung, hutan, dan lainnya demi mendekatkan diri kepada Tuhan. Sesekali saja ia berinteraksi dengan manusia, itu pun jika keadaannya sangat penting. Karena sesungguhnya ia hanya fokus pada urusan yang mengantarkannya pada Tuhan.

Orang yang mampu ber-uzlah adalah pribadi yang sudah bisa memisahkan antara yang haq (benar) dan yang bathil (salah). Itu terjadi karena ia sudah bisa nyepi atau mengasingkan diri dari segala materi demi mencapai keheningan bersama Tuhannya. Ini adalah kenikmatan yang tiada taranya bagi seorang makhluk jika ia mampu dengan tekun dalam ber-uzlah.

6. Tahannuts (topo broto)
Secara etimologi, tahannuts berarti menyendiri, me-nyepi ke suatu tempat yang sunyi, ber-tapa brata, atau menjauhkan diri dari keramaian untuk mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Tahannuts ini hampir sama dengan uzlah, hanya saja dalam ber-tahannuts seseorang akan mengasingkan diri di tempat khusus dan dalam kurun waktu yang cukup lama tanpa berurusan dengan siapapun kecuali dengan Tuhannya saja. Ini adalah kecenderungan pribadi yang sedang mendekati pencerahan dalam hidupnya. Dan tidak semua orang mampu melakukannya, karena hanya bagi mereka yang berjiwa kesatria saja mampu menjalaninya.

Untuk itu, orang yang sudah selesai ber-tahannuts ini adalah pribadi yang paripurna lantaran sudah mendapatkan pencerahan hidup. Dengan anugerah itu, ia lalu menyapa manusia dengan lemah lembut dan rasa cinta. Ia akan selalu mengajak siapapun untuk kembali pada kebenaran Tuhan tanpa memandang suku, ras dan golongan. Dan seandainya tidak ada yang mau mendengarkannya, maka ia tidak akan peduli, karena kepeduliannya hanya pada perintah Tuhannya saja. Ia pun tidak merasakan kerugian, karena ia sadar bahwa hidupnya itu telah ia serahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Sungguh pribadi yang sempurna.

cosmos

Wahai saudaraku. Apa yang telah dijabarkan dalam enam langkah di atas adalah cara untuk menyeimbangkan kehidupan ini. Jika seseorang mau melakukannya dengan tekun dan bertahap, maka ia punya harapan untuk bisa hidup sempurna. Karena apa yang disebutkan di atas memanglah hal yang semestinya di lakukan oleh setiap pribadi jika ia menginginkan kemuliaan hidup. Dengannya seseorang bahkan bisa belajar tanpa perlu guru, ia pun bisa mengerti tanpa perlu diajari. Dan Tuhan-lah yang memberikan karunia itu. Karena Dia pun tentu bisa memberikan kemampuan yang luar biasa kepada seorang, asalkan ia mau berusaha dan selalu tekun dalam kebajikan.

Akhirnya, dengan berusaha untuk terus menyeimbangkan diri dalam hidup ini, maka kita sudah berusaha untuk menyelamatkan keseimbangan di alam raya. Menyelamatkan keseimbangan alam artinya juga sekaligus menyelamatkan kehidupan semua makhluk di Bumi ini. Tanpa hal itu, jangan pernah heran dan protes bila kehidupan kini terus porak poranda dan akan berakhir dalam kehancuran yang dahsyat. Semua tergantung diri kita, yaitu manusia, untuk memilih dan melakukan tindakan. Hasilnya tentu mengikuti apa saja pilihan dan tindakan kita itu.

Semoga semakin banyak orang yang mau melakukan setidaknya tiga point (muhasabah, tadabbur, tafakur) dari ke enam laku hidup utama di atas. Dengan begitu, maka kehidupan dunia ini masih punya harapan untuk kembali normal dalam keseimbangan yang indah. Sebaliknya, jika semakin berkurang, maka bersiaplah untuk menerima azab dan kehancuran dunia ini.

Jambi, 16 April 2016
Mashudi Antoro (Oedi`)

One thought on “Menjaga Keseimbangan Hidup Demi Keselamatan Diri

    […] mengaku-ngaku saja. Dan itu tidak lebih baik dari pada berdusta. Silahkan baca tulisan berikut: Menjaga keseimbangan hidup demi keselamatan diri atau Cara menjadi pemenang makna dibalik bunyi nang ning nung neng gung atau Keseimbangan diri […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s