Transisi Dimensi Kehidupan: Mempersiapkan Diri Menuju Zaman Yang Baru

Posted on Updated on

a transition universeWahai saudaraku. Dalam kehendak-Nya, Sang Maha Kuasa telah menciptakan alam semesta raya dengan segala keragamannya. Tuhan pun telah mengatur bentuk kehidupan yang ada di dalam jagat raya ini dengan segala macam jenisnya. Sehingga menjadi amat sombong – atau justru bodoh – bila manusia Bumi berpikir bahwa mereka adalah satu-satunya makhluk yang hidup di alam raya, terlebih merasa paling cerdas dan hebat. Karena sesungguhnya di berbagai planet dan sistem tata surya lainnya juga hidup ciptaan Tuhan yang beraneka ragam, berlainan bentuk, jenis dan golongannya. Mereka itu juga memiliki kecerdasan yang beragam, bahkan ada yang memiliki tingkat kepadatan tubuh yang sama dengan manusia namun ada pula yang densitas raganya lebih halus. Itu semua tergantung dari tingkat perkembangan spiritualnya. Karena tidak semua dari mereka itu memiliki tubuh jenis humanoid seperti manusia di Bumi. Di antara mereka itu ada yang bisa terlihat mata (kasat mata), namun banyak pula yang tak terlihat (halus). Semua itu terjadi karena mereka hidup di alam dimensi yang berbeda. Dan khusus bagi mereka – yang non fisik – yang berasal dari dimensi yang lebih tinggi, maka ia mampu memanifestasikan dirinya di Bumi secara kasar bila dikehendaki.

Ya. Tidak ada alasannya bagi manusia Bumi untuk bersikap sombong, karena sesungguhnya sikap itu hanya menunjukkan bahwa mereka masih saja bodoh dan primitif. Dan lihatlah betapa kini peradaban dan teknologi manusia memang masih saja dalam taraf kekanak-kanakkan. Manusia bahkan semakin “gila” dengan terus mengikuti nafsu kebinatangannya dan banyak melakukan perbuatan yang sungguh sia-sia. Karena itulah, dimana-mana sering terjadi pengerusakan alam dan perang. Padahal jika mereka memang sudah maju dan dewasa, maka teknologi dan peradaban yang dibangun itu hanya dipergunakan untuk kedamaian dan kesejahteraan hidup, bukan justru semakin mengantarkan kehidupan dunia ini pada kehancurannya.

“Wahai saudaraku. Saat ini manusia terus menganjurkan perdamaian, tetapi hatinya masih penuh dengan kebencian dan rasa dendam. Mereka menghendaki kemajuan (progress), tetapi mengabaikan budi pekerti luhur dan menjadi makhluk yang lebih ganas dari hewan. Kalau saja manusia Bumi ini berhenti bertikai, maka akan datang “mereka” yang bisa menunjukkan bagaimana caranya mengendalikan energi, apakah itu energi kristal, atom, matahari, magnetik, bahkan energi kosmik sekalipun. Bila manusia Bumi mau belajar untuk menjadi insan-insan yang mengenali dirinya yang sejati dengan meningkatkan kesadaran spiritualnya, cinta damai dan tunduk kepada aturan Tuhan, “mereka” itu akan menunjukkan tentang bagaimana caranya mengubah Bumi ini menjadi Taman Firdaus”

Untuk itulah, memang harus ada sikap yang lebih dewasa dalam kehidupan ini, salah satu contohnya dengan meningkatkan level spiritual atau pemahaman yang sejati tentang hakekat diri dan arti kehidupan ini. Manusia harus bisa menyadari siapakah dirinya yang sebenarnya di alam jagat raya ini dan apa pula tugasnya yang sesungguhnya? Dengan begitu, maka sumber ilmu dari Tuhan pun akan mengalir deras kepada hati manusia – secara langsung atau melalui perantara hamba-Nya yang terpilih – yang tentunya bisa menjadi modal utama dalam membangun kehidupan yang damai dan sejahtera. Silahkan baca artikel ini: Proses penciptaan dalam kebatinan Jawa, Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat: Puncak ilmu Jawa dan Cara menjadi pemenang: makna dibalik bunyi nang ning nung neng gung.

Ya. Kehidupan di Bumi ini sudah menjelang pergantian zaman. Tidak lama lagi akan ada masa peningkatan dari dimensi ketiga menuju ke dimensi keempat bahkan kelima. Karena itu, Bumi pun sedang menghadapi bahaya “katalis matik”, sebab telah terjadi kerusakan-kerusakan pada medan magnetik yang mengitari Bumi. Hal ini disebabkan oleh getaran-getaran (aura) negatif yang dipancarkan oleh diri manusia selama berabad-abad. Karena itulah nanti, saat transisi dimensi terjadi, maka hanya bagi pribadi yang siap – yaitu pribadi dengan tingkat pemahaman spiritual yang tinggi – saja yang akan selamat atau di selamatkan. Mereka itu adalah orang-orang yang murni hatinya, yang akan menjadi cikal bakal generasi manusia di masa depan. Selebihnya akan merasakan penyesalan, kepedihan dan akhirnya musnah akibat kebodohannya sendiri. Untuk lebih jelasnya baca artikel ini: Keseimbangan diri manusia dan pengaruhnya terhadap bencana alam dan perang kosmik.

Untuk itu, manusia Bumi saat ini harus menyadari bahwa kekalutan di dunia ini dan bahaya yang mengancam Bumi adalah akibat dari perilaku mereka sendiri. Dan manusia juga harus selalu eling lan waspodo (ingat dan waspada), segera mawas diri, mau mengubah diri kearah yang lebih mulia atau secepatnya kembali ke jati dirinya yang sebenarnya, dan harus pula berupaya untuk bisa hidup dengan sikap welas asih (kasih sayang) dan cinta kepada sesama. Hidupnya juga harus damai secara lahir batin dengan kemakmuran yang selalu diusahakan secara bersama-sama dan untuk kepentingan bersama, bukan hanya untuk dirinya sendiri.

1

Sungguh, nasib kehidupan di Bumi ini tergantung dari sikap manusia sendiri. Jika tidak segera berubah, maka akan ada pemurnian (pembersihan secara besar-besaran). Manusia harus bisa naik tingkat kehidupan dari level dimensi ketiga (sekarang ini) ke dimensi level berikutnya; level dimensi keempat dan kelima. Karena selama ini sudah menunggu dengan sabar “mereka” yang kelak akan menuntun manusia untuk mencapai kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh para Nabi dan orang suci terdahulu.

“Mereka” itu sebenarnya telah lama menunggu di sekitar planet Bumi ini, tetapi tidak mau ikut campur dalam urusan manusia di Bumi ini. Mereka tidak akan mengingkari free will (hak pilih) manusia, karena itu merupakan hukum alam semesta yang telah di tetapkan oleh Tuhan Sang Penguasa Jagat. Karena itu, selama ini “mereka” hanya stand by atau bersiap-siap di sekitar planet Bumi untuk berjaga-jaga dan memantau keadaan di Bumi. Dengan armadanya yang megah, “mereka” selalu mengawasi keadaan di Bumi ini dengan berkamuflase dalam bentuk awan pada siang hari dan cahaya bintang pada malam hari. Teknologi manusia Bumi tak mampu menjangkau mereka, padahal kadang mereka mendekat dan turun ke Bumi untuk melakukan penelitian dan mengerjakan “sesuatu”. Semua itu mereka lakukan jikalau nanti harus mengevakuasi sebagian manusia Bumi yang terpilih untuk diselamatkan saat terjadi transisi dari periode zaman ke tujuh (Rupantara) menuju ke periode zaman ke delapan (Hasmuratara).

Ya. Hingga kini “mereka” itu tetap memperhatikan dan menunggu, bahkan terkadang menampakkan diri untuk bisa merangsang pikiran manusia Bumi. Itu di lakukan karena manusia di Bumi ini belum memahami hukum kosmik dan fakta-fakta sebenarnya dari alam semesta. Manusia Bumi masih saja terus berkutat dalam kebodohannya sendiri tapi merasa sudah paling hebat, sehingga kehidupan mereka pun menjadi terancam. Manusia di Bumi pun semakin lupa dengan ilmu suci yang berasal dari bimbingan Tuhan, bahkan dengan Tuhannya sendiri mereka juga semakin lupa. Hati dan pikiran mereka masih saja terbelenggu oleh hal-hal yang bersifat materi belaka. Masih jauh dari kata merdeka, karena bahkan ibadah kepada Tuhannya saja masih pamrih dan bersifat transaksional. Tidak banyak yang mau bersyukur dan rendah hati, karena itulah Tuhan tidak sudi menurunkan rahmat dan karunia-Nya bagi kehidupan di Bumi kini. Akibatnya keadaan manusia pun semakin kacau balau dan penuh dengan masalah. Tidak pernah ada kedamaian dan kesejahteraan yang semestinya.

Untuk itu saudaraku. Kita sekarang sudah berada di penghujung periode zaman ke tujuh (Rupantara). Mari menuju hidup yang sempurna dengan mengenali diri sendiri. Sebab, orang yang mengenal jati dirinya akan menyadari bahwa di dalam dirinya terdapat potensi untuk mengatur realitas hidupnya sendiri. Ia pun akan lebih mudah melakukan hubungan langsung dengan Sang Pencipta, sehingga akan selalu digerakkan untuk berada di tempat yang tepat, di saat yang tepat dan bisa bertindak dengan tepat demi keselamatan dirinya. Karena itu, hendaknya kita semua mau berusaha meningkatkan kesadaran spiritual kita dan mengenal jati diri kita sendiri, agar bisa melampaui masa transisi nanti dengan selamat dan selanjutnya dapat menikmati kehidupan yang bahagia di zaman yang baru nanti.

Jambi, 09 April 2016
Mashudi Antoro (Oedi`)

18 thoughts on “Transisi Dimensi Kehidupan: Mempersiapkan Diri Menuju Zaman Yang Baru

    beny said:
    April 9, 2016 pukul 12:27 pm

    Tinggal menunggu…luar biasa penjelasan ny mas…terimakasih mas..infonya

      oedi responded:
      April 12, 2016 pukul 1:12 am

      Sama”lah Ben.. terimakasih juga karena masih mau berkunjung, semoga tetap bermanfaat..🙂
      Iya, sekarang ini kita sedang menunggu dan menghitung waktu pergantian zaman itu terjadi, semoga kita selamat atau diselamatkan..🙂

    kuropriest97 said:
    April 10, 2016 pukul 7:47 am

    Apakah Anda percaya jika keajaiban dapat diciptakan oleh kekuatan pikiran?

      oedi responded:
      April 12, 2016 pukul 1:20 am

      Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, terlebih jika Tuhan Sang Pemilik Kehendak Absolut sudah mengizinkannya, maka keajaiban itu mudah sekali tercipta dengan kekuatan pikiran.. Saya pribadi sangat yakin tentang hal itu, karena bukti nyatanya ada dan tidak perlu mengatakan bahwa itu hanya bisa terjadi di masa lalu (zaman kenabian, atau zaman kadewan) karena alasan bla bla bla… Sebab di zaman kita sekarang pun masih terjadi kok di Nusantara, walau sangat jarang, langka dan cenderung tersembunyi..🙂
      Okey, terimakasih karena masih mau berkunjung, semoga tetap bermanfaat..🙂

    […] Untuk itu, para Nurrataya ini layaknya seniman yang mumpuni. Mereka akan menorehkan karya-karya mereka, dari visi mereka, ke dalam dunia ini dengan warna-warni yang cantik. Pun, layaknya composer yang merangkai nada-nada yang indah, maka para Nurrataya ini bertugas untuk membantu kembalinya irama kehidupan di Bumi ini menjadi harmonis lagi, seperti awalnya dulu. Para Nurrataya inilah yang akan membimbing manusia untuk bisa menjalankan tugas dan tujuan sebenarnya mereka diciptakan. Tapi manusia yang dimaksudkan disini adalah bagi manusia yang terpilih, yaitu pribadi yang sejak sekarang sudah mempersiapkan diri dengan mengenal hakekat dirinya yang sejati. Baca juga tulisan di link berikut: Transisi dimensi kehidupan: Mempersiapkan diri menuju zaman yang baru. […]

    Andy.wong Probolinggo said:
    April 17, 2016 pukul 11:48 am

    wah.. maap.. anda ternyata msh blm bisa mengenaL diri.. & jika Anda “maz Oedi” tlah mengaku MENGENAL JATI DIRI,,, tidak mungkin nuliz kyk diatas yg cEnderung ‘menakut-nakuti’ pembaca dgn kehidupan masa depan (istilah umumnya Hari Kiamat)
    Salam damai… maz…

      oedi responded:
      April 20, 2016 pukul 3:03 am

      Salam damai juga mas Andy. Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya, maaf kalau tidak memuaskan Anda🙂
      Hmmmm.. benar sekali mas kalau saya emang belum mengenal jati diri sejati, karena hal itu sulit dan hakekatnya berlapis-lapis. Saya pun tidak pernah mengaku sudah mengenal diri, wong siapalah diri saya ini, saya ini masih bodoh mas, masih dalam tahap belajar dan harus terus belajar untuk bisa…
      Jujur ya mas, di tulisan ini saya tidak bermaksud untuk menakuti-nakuti siapapun, tapi sekedar mengingatkan – khususnya bagi yang mau, yang tidak mau ya silahkan, wong itu sudah menjadi hak siapapun kok, mana mungkin saya paksa.. Kebenaran itu memang terkadang pahit dan menakutkan. Karena itulah kita wajib untuk selalu eling lan waspodo (ingat dan waspada) agar selamat. Dan yang jelas kebenaran yang sejati itu akan terungkap, cepat atau lambat. Saya disini bisa saja benar atau tentunya bisa juga salah, hanya Tuhan yang punya kebenaran mutlak. Tapi beruntunglah bagi siapapun yang selalu belajar, intropeksi diri dan terus bersiap diri dalam menghadapi kemungkinan yang terburuk dalam hidup ini. Karena itu memang sudah jadi bimbingan dari Tuhan YME bagi kita semua. Tugas kita ya hanya mengikuti dan berusaha untuk istiqomah, karena itu pasti menyelamatkan.
      Salam Rahayu.

    dier78 said:
    April 24, 2016 pukul 4:12 pm

    super..dan mencerakan. tks

    Abi said:
    April 26, 2016 pukul 3:29 am

    “Ya. Tidak ada alasannya bagi manusia Bumi untuk bersikap sombong, karena sesungguhnya sikap itu hanya menunjukkan bahwa mereka masih saja bodoh dan primitif.”

    Ya, sepakat sekali, manusia memang tidak layak untuk sombong, karena dari kesombongan itulah manusia menggali ‘lubang kubur’nya sendiri.

    Nice posting Mas.🙂

    Alvian said:
    April 26, 2016 pukul 4:24 pm

    Jika kita mengenal diri sendiri maka kita akan menemukan Tuhan, mungkin simplenya begitu.Thanks mas atas transferan ilmunya.

    Umam said:
    Mei 5, 2016 pukul 11:55 pm

    Saya baru berkunjung ke blog ini itupun karna ada temen share link di FB
    Artikelnya saya yakin bagus bagus menambah wawasan dan insya alloh bermanfaat
    Terus berbagi mas
    Semoga selalu dalan limpham rahmat alloh subhanahu wa ta’aala
    Aamiin..

      oedi responded:
      Mei 6, 2016 pukul 7:23 am

      Ow gitu ya mas, wah saya gak nyangka kalo bisa cepat tersebar di FB.. terimakasih atas kunjungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Hmm.. semoga saja setiap artikel yang disuguhkan di dalam blog ini bisa berguna bagi siapapun dan untuk kalangan apapun.. karena memang hanya itu niat dan harapan saya pribadi..🙂
      Amiiiin… terimakasih juga atas doa dan dukungannya mas, semoga sampeyan juga dikaruniai kesehatan, rezeki, perlindungan dan rahmat dari Allah SWT. Dan semoga kita juga bisa bertemu dan berkumpul di zaman yang baru nanti..🙂

        Umam said:
        Mei 6, 2016 pukul 12:56 pm

        Aamiin..
        Matur suwun

    Umam said:
    Mei 6, 2016 pukul 1:00 pm

    Aamiin
    Matur suwun mas..

      oedi responded:
      Mei 9, 2016 pukul 8:53 am

      Nggih sami2 mas Umam, Nuwun juga atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    Adam Al-Bidara said:
    Mei 10, 2016 pukul 1:43 pm

    Mantap banget artikelnya, jadi punya pandangan dan gambaran masa depan nih, hahaha

      oedi responded:
      Mei 11, 2016 pukul 7:57 am

      Syukurlah kalau masnya suka dengan tulisan ini, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Mari bersama-sama kita menyambut hari depan itu dengan usaha yang baik sejak sekarang… karena apa yang akan kita rasakan di masa depan di tentukan dengan apa yang sudah dan sedang kita lakukan pada masa kini.. Semangat!

    […] pula. Sungguh beruntunglah mereka itu, karena bisa hidup di zaman keemasan dunia. [Silahkan baca: Transisi dimensi kehidupan: Mempersiapkan diri menuju zaman yang baru atau Nurrataya: Para penjaga Bumi dalam masa transisi […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s