Proses Penciptaan Dalam Kebatinan Jawa

Posted on Updated on

kebatinan jawaAnda mungkin sering melihat bahwa orang Jawa itu senang dengan kebatinan. Dalam kehidupan pribadi atau bermasyarakat, seolah-olah kebatinan ini tidak bisa dipisahkan dari mereka. Dan itu terjadi karena sesungguhnya bagi orang Jawa, kebatinan itu adalah laku atau usaha dengan melalui rasa dan hati yang bening, untuk bisa mengetahui urip sejati (kesejatian hidup). Laku batin tersebut dilandasi dengan perbuatan dan perilaku yang baik, budi pekerti yang luhur, hati yang suci bersih, dan dengan selalu manembah atau mendekatkan diri kepada Gusti; Tuhan.

Setiap pelaku kebatinan akan mengalami beberapa pengalaman, ada yang enak dan ada pula yang dirasa berat. Semua itu adalah bumbu-bumbu kehidupan dalam menapaki jalan Ilahi. Dan pengalaman puncak pelaku kebatinan/spiritualis adalah kenyataan bahwa dirinya sebagai kawulo (hamba) yang berada dalam hubungan yang serasi dengan Gusti (Tuhan). Istilah populernya adalah: Jumbuhing kawulo Gusti (hubungan serasi hamba dan Tuhan), Manunggaling kawulo Gusti (manunggalnya hamba dan Tuhan) dan Pamore kawulo Gusti (berpadunya hamba dan Tuhan). Yang intinya berarti seorang anak manusia itu telah berada di dalam kehidupan sejatinya dalam lindungan keagungan Tuhan.

Lalu bagaimana proses timbulnya kebatinan itu?

Timbulnya kebatinan sebenarnya adalah hal yang logis. Karena setelah manusia mendapat pengalaman saat menjalani kehidupan ini, ia lalu menemukan fakta bahwa hidup dan alam ini tidak hanya terdiri dari benda-benda dan zat-zat yang lahir saja. Selain yang lahir (yang kasat mata), ada juga hal-hal yang tidak terlihat oleh mata (goib) tetapi sebenarnya ada dan eksis. Jadi, selain ada yang kongkrit, maka ada pula yang abstrak dan diakui oleh siapapun, seperti pikiran, gagasan, batin, perasaan, dsb.

Ya. Sebelum sesuatu termanifestasi, maka ia berada dulu di dalam angan-angan atau pikiran, yaitu batin. Karenanya, kebatinan juga bisa diartikan sebagai usaha dalam menggali dan memahami asal mula dari segala sesuatu. Dan ketika seseorang bisa mengasah atau meningkatkan kemampuan batinnya, maka kesadarannya pada kebenaran akan lebih baik. Ia akan hidup pada tahapan yang lebih mulia.

Untuk itu saudaraku. Marilah kita mengasah kemampuan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita, yaitu kebatinan. Tentu untuk itu Anda harus sabar dan disiplin melatih diri, karena perangkat-perangkat itu sudah lama sekali tidak difungsikan. Dan kalau terbukanya terlalu cepat atau tiba-tiba, nanti Anda akan kaget dan bisa saja mengalami goncangan jiwa (sinting, gila). Karena pelaksanaan dan latihan tersebut hanya melibatkan dan berhubungan dengan diri Anda sendiri dan kalau beruntung akan diberkati oleh Tuhan.

Samadhi

Lalu, latihan mengolah batin ini bisa dilakukan sendiri atas dasar kemantapan hati yang pasrah total kepada Tuhan atau dengan petunjuk dan bimbingan seorang yang lebih senior dalam olah kebatinan, yang biasanya disebut Guru. Bimbingan Guru Laku tersebut untuk menghindari Anda dari beraneka macam gangguan dan hal-hal yang negatif, sehingga tidak keliru dalam tujuan sejatinya. Silahkan, Anda bebas menentukan pilihan. Yang penting Anda yakin bisa selalu berada dijalan yang hakiki (yang benar), yang menjadi hak Anda dan itu adalah jalan Ilahi.

Sebab, menjalani, mempelajari, melatih olah kebatinan atau spiritualitas itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan takhayul, klenik, makhluk-makhluk halus yang mendiami tempat-tempat angker, santet, syirik dan hal-hal semacam itu. Kebatinan adalah jalan yang mulia dan metode untuk menghayati kebenaran sejati, mengenali diri sejati, dan hidup sejati, sehingga hubungannya dengan Tuhan menjadi lebih serasi. Dalam bahasa Jawa ada pula yang menyebut keadaan seperti itu dengan istilah “Wis tinarbuko” yang berarti sudah pepadhang atau terbuka batinnya yang tinggi (sudah mendapat pencerahan).

1. Elmu dan ngelmu Jawa
Wahai saudaraku. Dalam tradisi kebatinan Jawa ada istilah elmu dan ngelmu. Sehingga untuk bisa lebih memahami tentang peradaban Jawa, maka siapapun harus terlebih dulu bisa memisahkan apa yang disebut dengan elmu dan ngelmu? Dan orang Jawa sejak dulu memang sudah memiliki pengertian yang lebih maju dari bangsa manapun di dunia ini, salah satunya tentang hal ini (elmu dan ngelmu).

Bagi orang Jawa, elmu (ilmu, science) itu adalah hasil pikiran manusia, yang semakin lama semakin maju dan produknya semakin canggih sebagai hasil pemikiran/penemuan para ahli pikir. Sementara ngelmu itu adalah satu pengetahuan yang berhubungan dengan Purbawasesa (Kuasa dari Tuhan), yang oleh kebanyakan orang disebut gaib. Ngelmu itu dari dulu sudah ada secara utuh dan sepenuhnya dalam kuasa Gusti (Tuhan). Dibukanya ngelmu pun sedikit demi sedikit, sesuai dengan kemajuan kesadaran dan kebutuhan manusia pada suatu saat.

Untuk itu, penjelasan dan penyebaran (babaran lan wedaran) antara elmu dan ngelmu menjadi sangat berbeda. Jika elmu disampaikan dan disebarkan secara terbuka di sekolah-sekolah, maka ngelmu lebih bersifat tersembunyi, bahkan rahasia. Ngelmu Jawa boleh diketahui oleh peminatnya sesuai dengan tingkat kesadaran spiritual masing-masing individu – kecuali yang masih menjadi sengkeraning bawono (rahasia jagat). Selain itu, ngelmu juga hanya atas kehendak dari Sang Gusti (Tuhan), melalui orang-orang yang ditunjuk-Nya, karena mereka itu sudah mumpuni dalam pengetahuan dan kesadaran spiritualnya. Sehingga, semakin lama ngelmu itu pun akan semakin terbuka (soyo binuko lan ngeblak).

# Tingkatan Ngelmu
Seorang manusia Jawa yang dibesarkan dan dididik secara tradisional di tanah Jawa, sejak kecil biasanya mengikuti pola jalan kehidupan yang ditanamkan oleh orang tua dan leluhurnya untuk selalu berpegang teguh pada budi pekerti luhur, tata krama, tata susila, dan di atas segalanya itu selalu mengagungkan Gusti Sing Gawe Urip lan Nguripi (Tuhan Yang Menciptakan Hidup dan Menghidupi).

Untuk itu, dalam sudut pandang kebatinan Jawa, maka peradaban Jawa itu juga mencakup aspek-aspek budaya dan filosofi seperti:

1. Tradisi dan ritual.
2. Tata krama dan tata susila.
3. Sikap dan perilaku kehidupan yang dipandu oleh budi pekerti.
4. Hal-hal yang dikategorikan sebagai supranatural.
5. Tataran tertinggi dalam kehidupan berupa Ngelmu Kasampurnan atau Ngelmu Sejati atau kebatinan atau spiritualitas.

Sehingga tujuan akhir kehidupan orang Jawa yang murni adalah menguasai Ngelmu Kasampurnan. Ilmu ini adalah puncak kebatinan atau dalam pengertian universal disebut spiritualitas – istilah lainnya: Ngelmu Sejati atau Kasunyatan. Orang yang mempelajari spiritualitas adalah orang dewasa yang telah matang jalan pikirannya. Orang yang masih senang menggeluti kenikmatan yang selalu bersifat keduniawian seperti masih menumpuk harta kekayaan, dan mencari posisi kekuasaan yang memberi kepuasan duniawi, tentu tidak atau belum tertarik kepada spiritualitas atau Ngelmu Kasampurnan.

Ya. Seseorang biasanya akan mulai tertarik kepada spiritualitas atau mulai memahaminya bila kehidupannya mulai tenang, sudah seimbang antara pemahaman hidup duniawi dan ruhani. Dan manusia itu sudah bisa dikatakan manusia saat ia menyadari bahwa hidup didunia ini selain berurusan dengan kehidupan duniawi yang benar dan baik, juga ada kehidupan spiritual yang harus difahami. Apalagi dia tahu benar bahwa hidup di dunia ini relatif tidak lama. Bahkan sebaiknya dia bersikap bijak dan mulai menapaki kehidupan spiritual yang akan mengantarkannya ke masa depan yang terjamin dibawah naungan Gusti, Tuhan Sang Pengatur Kehidupan Sejati.

Untuk itu, di dalam tradisi Jawa, maka untuk bisa mencapai kesempurnaan hidup, seseorang harus melalui tahapan dalam ngelmu sejati. Ada beberapa tingkat sebelum seseorang bisa mencapai puncaknya, atau yang disebut dengan Kasampurnan. Dan orang Jawa sejati pasti mengetahui, apalagi dimasa lalu, bahwa di masyarakat itu ada orang-orang tua (dituakan) yang disebut Wong Tuwo, Wong Pinter, Priyayi Sepuh atau Guru Kebatinan atau Guru Ngelmu, yang memberi tuntunan pelajaran kebatinan kepada murid-muridnya atau anggota paguyubannya. Selain mengajari spiritualitas kepada orang-orang yang berminat, seorang Priyayi Sepuh juga sering dimintai tolong oleh siapapun yang butuh bantuannya dalam berbagai bidang yang pelik dalam kehidupan ini. Pertolongan itu diberikan dengan ikhlas, tanpa menarik biaya. Inilah bedanya antara Guru Laku/Priyayi Waskita/Sepuh dengan paranormal atau psychic yang menarik bayaran untuk bantuan yang diberikannya.

Ya. Untuk orang Jawa sejati, sebelum ia belajar tentang ngelmu yang tertinggi yaitu Kasampurnan, maka ia harus belajar dan melalui beberapa tahap ilmu dengan tekun. Tingkatan ilmu itu berada dibawah tingkatan Ngelmu Kasampurnan. Adapun tingkatannya sebagai berikut:

1) Kanoman
Kanoman ini berasal dari kata dasar nom, anom, enom, yang artinya muda. Maka kanoman biasanya diartikan sebagai “ngelmu anom” atau ilmu untuk anak muda, sedangkan “ngelmu sepuh” adalah ilmu untuk orang dewasa.

Pada masa lalu (sekitar era tahun 1960 kebawah) ada beberapa remaja Jawa tradisional yang jalan kehidupannya sangat dipengaruhi oleh atau bahkan menyatu dengan lingkungan alam. Sikap dan kebiasaan hidup masyarakat disaat itu masih banyak yang tertarik untuk ikut menjalani olah/latihan kanoman. Mayoritas anak muda berpikiran dan berperilaku positif, sikap hidupnya dituntun oleh panduan budi pekerti dan sangat percaya kepada kekuasaan tertinggi dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Lingkungan kehidupan dan alam sekitarnya membuat mereka lebih peka terhadap adanya hal-hal yang tidak terlihat tetapi sebenarnya ada, dimana ada dimensi lain yang dikatakan gaib dalam kehidupan ini. Suara hati pun berkata supaya kehidupan di dunia ini berjalan baik-baik saja, dan tidak ada yang suka berbuat jahat kepada pihak lain. Namun kini kenyataannya tidak begitu. Watak dan perbuatan jahat memang sudah ada sejak dulu, tapi kini sudah semakin liar. Ada orang yang senang menonjolkan diri, memikirkan dirinya sendiri dan berbuat untuk kesenangan dan keuntungan dirinya saja. Akibatnya berbagai macam jenis dan tindak kecurangan, kelicikan, kejahatan yang terlihat dan tidak terlihat, kriminalitas kecil-kecilan sampai kelas kakap semakin mewarnai kehidupan di dunia ini. Bahkan hal ini terus saja berkembang parah hingga hari ini, tanpa ada perbaikan.

Ya. Pada dasarnya anak muda itu terpanggil untuk berbuat baik dan menegakkan kebenaran. Memang dari cerita wayang atau legenda kuno, dikatakan bahwa dari dulu selalu terjadi pertempuran antara yang baik melawan yang jahat dan pada akhirnya setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan, maka yang baiklah yang menang. Tapi untuk bisa mencapai kemenangan haruslah ada usaha yang tekun dan rajin, disertai sikap pantang menyerah untuk maju. Selain itu, juga harus ada misalnya berlatih dan belajar meningkatkan kemampuan diri dalam seni bela diri dan olah batin. Karena pada zaman kuno, anak-anak muda belajar dengan cara nyantrik di padhepokan, berguru kepada seorang guru yang mumpuni. Diperguruan itu ditanamkan pelajaran seperti budi pekerti, pengetahuan umum, kanuragan dan hal-hal yang mengarah pada kebatinan. Gurulah yang menentukan tingkat pelajaran bagi siswanya, berdasarkan pengamatan dan penilaiannya terhadap kemampuan setiap siswa. Dan pada prinsipnya guru hanya menerima siswa yang berwatak baik dan sungguh-sungguh punya niat untuk belajar.

Persyaratan yang ditentukan saat itu adalah berwatak satria, artinya punya rasa tanggung jawab, berani karena benar, jujur, punya rasa welas asih (kasih sayang) kepada sesama, hormat kepada guru dan sanggup menjunjung nama baik perguruan. Kemudian sambil melakukan pekerjaan praktis setiap harinya untuk menunjang kehidupan di padhepokan seperti: bertani, berkebun, berternak, mengambil air, membersihkan rumah dan halaman; para siswa juga belajar elmu dan ngelmu sesuai dengan tingkatnya. Selain tetap diajarkan budi pekerti, tata krama, dan tata susila untuk pergaulan di masyarakat, maka diajarkan pula pengetahuan umum dan berbagai keterampilan khusus untuk bekal hidupnya nanti di masa depan – khususnya saat ia harus hidup di tengah-tengah masyarakat. Salah satu pelajaran dan pelatihan yang penting adalah olah supranatural yang sesuai dengan kelasnya, dan untuk para anak muda, maka dilatih ia dengan ilmu kanuragan.

b) Kanuragan dan kadigdayan
Pada tahapan ini, kanuragan yang di latih dan di tatar adalah raga. Sehingga orang yang mempelajari dan mempraktekkan kanuragan bisa menjadi kuat dan bahkan dibilang sakti karena dia menjadi bisa menerima pukulan, tidak mempan senjata tajam atau tembakan peluru dan sebagainya. Kanuragan biasanya diminati oleh golongan muda, dan setelah mereka melihat dan mengalami hasilnya yang menakjubkan, mereka menjadi lebih percaya kepada hal-hal yang bersifat supranatural.

Untuk orang-orang tertentu, kelebihan positif dari kanuragan bisa membuat mereka ingin mempelajari juga Kebatinan/Spiritualitas. Dan sepengetahuan penulis, maka sejak tahun 50an anak muda yang belajar ngelmu Kanoman dan Kanuragan tidak mempelajarinya lagi di padhepokan seperti zaman kuno, tetapi cukup belajar dan dilatih oleh seorang guru pada saat-saat tertentu seperti layaknya kursus.

kanuragan

Ya. Selain belajar seni bela diri terutama untuk mempertahankan diri bila diserang, ilmu kanuragan juga untuk berlaga atau menyerang lawan. Selain itu siswa juga mulai diberi pelajaran kadigdayan yang berupa mantra atau ajian untuk keselamatan, untuk melindungi diri dari segala macam gangguan fisik dan non-fisik. Dan ketika semakin dewasa umur seseorang juga cara berpikirnya, atau saat dia menjadi lebih sabar, lebih mampu mengendalikan diri, maka secara alami dia akan lebih memilih penggunaan mantra-mantra keselamatan atau karahayon (ngelmu kadigdayan) dari pada ajian elmu kanuragan.

Contoh ekstrim: Seorang petugas keamanan yang masih muda akan sangat bangga bila peluru yang ditembakkan kepadanya oleh perampok tidak mampu menembus badannya, dia kebal dan anti peluru. Dia senang dikagumi oleh rekan-rekannya dan ditakuti para penjahat. Sedangkan seorang petugas yang lebih tua dan lebih bijak, justru lebih senang bila senjata yang ditembakkan kepadanya, tidak bisa meletus, sehingga dia juga aman. Petugas lain yang lebih tua akan lebih senang bila musuh dan penjahat menyingkir darinya sebelum mulai menyerang. Contoh terakhir ini disebut dengan ngelmu kadigdayan tingkat mantra-mantra keselamatan.

c) Kadonyan
Tingkat selanjutnya adalah agar selamat, makmur, dan bahagia dalam menjalani kehidupan ini. Pada tingkatan ini biasanya orang telah berkeluarga. Dan sebagaimana layaknya orang yang sudah berumah tangga dan punya anak, seseorang akan berusaha untuk punya pekerjaan atau usaha yang bisa mencukupi kebutuhannya bersama keluarga. Untuk itu selain harus punya kemampuan dan ketrampilan, juga diperlukan laku prihatin dengan permohonan kepada Tuhan. Hal ini di lakukan dengan juga disertai amalan/mantra yang sifatnya Kadonyan – keduniawian untuk menaikkan derajat, pangkat dan semat (kedudukan), kekuasaan dan kekayaan. Semua periode ini bisa memakan waktu sekitar 10-30 tahun. Dan selama kurun waktu itu, belum tentu segalanya berjalan mulus, karena kadang-kadang ada gejolaknya.

Untuk itu, keterlibatan orang dalam Kadonyan (kehidupan duniawi) menyita banyak waktu, bahkan sebagian besar dari hidupnya dikerahkan hanya untuk ini. Dan ada pula orang yang terpaksa atau memang sengaja untuk tidak mau atau tidak mampu keluar dari urusan ini sampai akhir hidupnya di dunia fana ini. Padahal dalam tahapan hidup di dunia ini, orang harus berhati-hati dan selalu berpegang teguh kepada jalan yang benar yang diperkenankan Tuhan. Jangan sampai tergoda oleh bujukan nafsu yang selalu menyesatkan.

Ya. Tahapan ini adalah tahapan yang paling sulit bagi seseorang untuk bisa sampai pada tingkat tertinggi ngelmu Jowo; yaitu Kasampurnan. Dan biasanya, banyak orang hanya berhenti di tingkat ini saja. Ia tak mampu lagi memenangi pertempuran duniawi saat masih di tingkat kadonyan ini. Sehingga gagal total untuk bisa menuju akhir; yaitu kesempurnaan hidup.

d) Kasepuhan
Tingkat ke empat ini disebut kasepuhan karena memang biasanya disenangi oleh orang tua atau orang dewasa yang bijak. Ilmu pada tingkat ini tidak sembarangan dan harus dipelajari dengan sabar. Sangat jarang ilmu ini dipelajari oleh anak muda, karena ketika masih muda biasanya orang akan sulit menahan amarahnya, sementara di tingkat ini diperlukan kesabaran yang tinggi. Sebaliknya, saat menginjak usia yang lebih tua dan sepuh, biasanya emosi seseorang akan lebih mudah untuk dikendalikan. Sudah banyak pengalaman hidup yang ia dapatkan, baik yang manis ataupun yang susah untuk dilewati.

Untuk itu, pada tahap ini ilmu yang dipelajari dan dikuasai tidak lagi untuk menonjolkan diri (kadigdayan). Ia bersifat sosial, karena biasanya untuk menyembuhkan orang sakit (baik sakit fisik maupun mental), membantu orang yang berada dalam kesulitan, memberikan perlindungan bagi yang perlu keselamatan, atau untuk membantu kelancaran usaha dan pekerjaan seseorang, dsb. Artinya disini, seseorang sudah mulai meninggalkan keduniawian dan hanya berfokus pada kemanusiaan.

e) Kasampurnan (ngelmu sejati)
Inilah tingkatan ngelmu yang tertinggi dalam tradisi Jawa. Istilah lainnya adalah kebatinan, kasunyatan atau spiritualitas. Ngelmu ini menguak kasunyatan atau realias dari kehidupan sejati. Orang bijak yang telah mencapai ngelmu sejati akan melihat kenyataan hidup yang sejati, dimana semuanya telah terbuka sehingga tidak ada lagi rahasia dalam kehidupan ini. Dan semua itu, biasanya hanya bisa dicapai saat seseorang sudah melalui kesemua tahapan sebelumnya (kanoman, kanuragan, kadoyan, kasepuhan) dengan predikat sukses. Terkecuali oleh sosok yang memang telah dikehendaki Tuhan sebagai wali atau pemimpin besar umat manusia. Hal ini sifatnya khusus, dan yang bersangkutan pasti senang dengan olah batin sejak kecil walau tanpa diajari.

– Pikukuhing Ngelmu Sejati –

“Pangeran ingkang Moho Suci sarehne binasahaken sakalangkung Goib, tanpo rupo tanpo warno asipat dede jaler didi estri lan sanes wandu sarto mboten mawi jaman makane mboten anak mboten enggan, dinulu datan katingah, dinumuh datan keno puniko esbatipun amung Cipto Sasmito; dumunung wonten ingkang waskito, nilo dipun kias makaten sejatine ora ono opo-opo.

Sekabehe isine kang kasebut iku dudu sejatining dat kabeh. Tegese dudu pengejowantah Pangeran kang Moho Suci Sejati hiyo Kang Murbo Wiseso. Ing sadurunge ono opo-opo, kahanane alam kabir lan sabir saisine durung podo dumadi kabeh, kang ono dingin dewe amung Dat kang Moho Suci hiyo Moho Kuwoso Sejati. Sejatine Dat kang Moho Mulyo iku kang asipat Esa, kabasahaken Dat Mutlak Kang Kadim Ajali Abadi”  

Wahai saudaraku. Demikianlah uraian singkat mengenai tahapan ngelmu dalam tradisi Jawa. Setiap tahapannya sangat bermanfaat dan bisa mengantarkan seseorang pada arti kehidupan yang sebenarnya, tentang siapakah dirinya yang sesungguhnya. Karena itu, dimasa lalu kita bisa mengetahui banyak orang Jawa yang luarbiasa dan disegani dunia. Dimana mereka itu punya kemampuan lahir dan batin yang mengagumkan.

2. Proses penciptaan dalam budaya Jawa
Wahai saudaraku. Berdasarkan uraian di atas, maka orang Jawa memiliki dua keilmuan, yang disebut elmu dan ngelmu. Artinya, dalam memahami sesuatu, orang Jawa akan melakukan dua pendekatan. Satu dengan cara ilmiah, dan kedua harus dengan cara batiniah.

Untuk itu, sejak dahulu kala orang Jawa sudah memiliki satu pemahaman sendiri tentang penciptaan. Mereka bisa mendapatkan itu karena olah raga dan olah jiwa yang telah mereka lalui. Benar atau salah hanya Tuhan yang tahu. Dan menurut mereka, maka jagat raya ini mempunyai proses penciptaannya. Tuhanlah yang menciptakannya sesuai dengan kehendak-Nya.

Untuk lebih jelasnya, mari ikuti penelusuran berikut ini:

1) Asal mula ramai dari sepi (sebelum adanya jagat raya)
Wahai saudaraku. Kita akan mengungkap kelahiran dan perkembangan jagat raya ini dimulai dari Alam Sonya Ruri, sebelum jagat raya ini tergelar. Ini sesuai dengan pengungkapan dari sudut pandang Kebatinan Jawa, dari sudut pandang pengetahuan spiritual (spiritual knowledge), yang istilah lokalnya adalah ngelmu.

Perlu digaris bawahi bahwa budaya Jawa tidak anti kepada ilmu dan perkembangannya yang berguna bagi umat manusia. Tetapi untuk kehidupan yang lebih baik, komplit dan benar secara lahir batin, maka bagi orang Jawa yang sejati diperlukan elmu dan ngelmu. Karena itu, ketika para pakar dunia menjelaskan proses terjadinya alam raya dari sudut science (ilmu pengetahuan, secara ilmiah) seolah-olah lepas kendali (kebetulan), maka orang Jawa akan mengatakan bahwa kehidupan itu ada dan berkembang secara pasti. Segala sesuatunya pun ada yang menciptakan serta mengaturnya, Dia-lah Gustri Pangeran (Tuhan YME).

Wahai saudaraku. Pada mulanya di Bumi ini para Mudita (manusia awal) memilih tinggal di tempat-tempat yang aman dan tanahnya subur. Jumlah Mudita itu sudah beragam warna kulit, budaya dan bahasanya – dalam hal ini masih bahasa isyarat dan telepati. Mereka pun semakin bertambah, sehingga Bumi menjadi lebih ramai. Lalu terciptalah bahasa yang bisa mengungkapkan segala kejadian di masa lalu. Ini terus berkembang, hingga pada akhirnya timbullah ungkapan dalam bahasa Jawa: “Witing rame soko sepi, witing gumelar soko sonya” yang artinya asal ramai dari sepi, jagat tergelar asalnya dari kosong.

a) Alam Sonya Ruri
Dalam bahasa Jawa kata “sonya” diterjemahkan sebagai “suwung” yang artinya kosong atau sepi, sementara kata “ruri” diterjemahkan sebagai peteng ndhedhet yang berarti gelap gulita. Jadi disini, dalam masa yang tidak diketahui sebenarnya, ketika alam belum ada, Bumi belum ada, saat itu tidak ada apa-apa sama sekali, suasana gelap gulita, suara pun tidak ada. Inilah yang disebut dengan Alam Sonya Ruri. Dimana pada saat itu yang ada hanyalah Sang Gusti; Tuhan Sang Penguasa Alam.

Alam Sonya Ruri adalah tempat tanpa batas, yang keadaannya kosong tanpa suara dan gelap gulita. Gambarannya adalah alam merupakan wadah, sementara isinya kosong dan gelap gulita. Kemudian, tidak disebut kapan mulainya, Alam Sonya Ruri ini atas kehendak dari Gusti Pengeran (Tuhan) mulai bergerak, berputar dan berputar terus dengan cepat. Perputaran itu menimbulkan daya panas dan akhirnya mulai memunculkan lingkaran (dalam bahasa Jawa disebut kalangan), yang semakin lama semakin besar. Sesudah berputar terus menerus dan cukup lama (bahasa Jawa: mubeng seser) itu, terjadilah ledakan (bahasa Jawa: mbledhos), sehingga Alam Sonya Ruri itu menjadi terang. Alam semesta pun mulai terbentuk dan terlihat wujud benda-benda di dalamnya: langit dan planet-planet seperti matahari dan bintang-bintang pun mulai ada. Inilah tahap di mana alam semesta terbentuk dan terus mengembang.

proses awal penciptaan

b) Sang Penguasa Alam menitahkan terang
Tahap kedua ini dalam istilah Jawanya disebut dengan “Kang Murbeng Alam nitahake pepadhang : Sang Penguasa Alam menitahkan terang”. Karena pada saat itu atas perintah Tuhan cahaya terang benderang di alam raya muncul akibat perputaran benda-benda di “langit”. Cahaya datang dari benda-benda di “langit” yang jumlahnya sakirno (dalam istilah Jawa artinya sejuta juta juta), begitu banyak dan tak terhitung jumlahnya. Dan Matahari, sesuai dengan kekuasaan alam dan tentunya atas kehendak Tuhan lalu ditugaskan untuk menerangi jagat termasuk Bumi dan punya kewajiban untuk memberikan kehidupan kepada semua makhluk. Sementara rembulan dan semua bintang di langit, pada waktu malam hari menyinarkan cahaya yang lembut dan sejuk, yang juga berguna untuk setiap makhluk. Konstelasi matahari, rembulan, planet-planet dan bintang-bintang terhadap Bumi, lalu mempengaruhi iklim dan kehidupan manusia di Bumi.

c) Terbentuknya Bumi
Ketika planet-planet dan bintang-bintang angkasa sudah ada, Bumi masih belum ada. Baru sesudahnya, ketika planet-planet dan bintang-bintang saling berbenturan dan saling mempengaruhi cukup lama di angkasa raya, terbentuklah sebuah bintang berukuran menengah yang menjadi pusat alam semesta, yang disebut Pratala atau yang berarti dasarnya samudera.

Jadi, saat itu karena terus menerus diisi air dari hasil gerakan terus menerus benda-benda di alam raya, maka terbentuklah dulu laut, samudera sangat luas yang disebut Segoro. Sesudah terbentuk segoro, Bumi pun mulai terbentuk setelah melalui proses alami dan penyempurnaan bentuk, sehingga pada saat ini disebut dengan Bantala atau Bumi. Proses pembentukan Bumi secara pemahaman ilmiah dimulai beberapa milyar tahun yang lalu, dilukiskan dengan letusan-letusan gunung berapi yang memuntahkan lava merah menyala. Bumi yang terdiri dari lempengan-lempengan dan samudera-samudera besar, melalui proses milyaran tahun lalu terwujud bentuk yang seperti saat ini, yaitu bundar.

bumi

d) Elemen-elemen Bumi
Sejak awal terbentuknya jagat, melibatkan unsur-unsur angin, cahaya, api, debu dan air, yang dengan saling interaksi, gerakan dan benturan-benturan melahirkan planet-planet, bintang-bintang dan Bumi yang kelak dihuni oleh manusia. Seperti yang sudah diketahui, elemen-elemen pembentuk Bumi dan manusia juga terdiri dari angen, banyu, geni lan lebu (angin, air, api dan tanah). Sedangkan unsur cahaya, mengingatkan dari mana asalnya suksma/roh yang berupa cahaya.

Jadi, pada mulanya keadaan di Bumi belum mendukung adanya kehidupan, karena saat itu udaranya belum cocok. Baru sesudah udara dan keadaannya kondusif, manusia dan makhluk-makhluk lain bisa hidup di Bumi, yaitu dilapisan atmosfer yang berada di permukaan tanah sampai dengan ketinggian 17 kilometer.

e) Adanya makanan
Manusia dan makhluk-makhluk yang lain butuh makanan untuk bisa hidup di Bumi. Sejak mula terbentuknya Bumi, air mengucur ke Bumi yang pada saat itu belum berbentuk bundar alias masih datar dan belum padat. Air pada masa awal itu dinamakan Kamandanu. Lalu, sesudah air itu jatuh ke Bumi dan kebanyakan berkumpul menjadi segoro (samudera), ia disebut dengan Padmasari, yang artinya sari makanan. Oleh karena itu, sel-sel kehidupan yang teramat sederhana dimulai di laut, karena disana ada sari makanan. Sementara Jagat Raya itu adalah bersatunya unsur-unsur dari Pratala/Segoro, Padmasari/sari makanan dan Bantala/Bumi, yang terus berproses dan saling mempengaruhi dengan benda-benda di Alam Semesta. Sehingga saat datangnya manusia dan makhluk-makhluk lain serta berbagai tetumbuhan ke Bumi, mereka sudah bisa mendapatkan tempat yang nyaman. Semua itu juga bisa terjadi dikarenakan adanya makanan untuk mereka, yang pada awalnya karena ada air.

f) Kandungan Bumi
Ini yang disebut dengan kekayaan alam, benda-benda yang terpendam didalam perut Bumi (termasuk yang dibawah laut), dimana manusia tinggal menggali atau menambangnya untuk memfasilitasi kebutuhan hidupnya. Selain tanaman pangan, herbal untuk obat dan tanaman industri, berbagai bahan tambang juga didermakan oleh Bumi kepada manusia. Selain itu, di dalam Bumi masih terdapat berbagai batu, mineral, pasir, kapur dan lain-lain yang menunjang kesejahteraan manusia. Semua itu diperuntukan bagi manusia untuk dipergunakan secukupnya. Tidak boleh semena-mena apalagi serakah, karena hal itu akan mendatangkan malapetaka.

Betapa baiknya Ibu Pertiwi ini kepada manusia. Dan kalau mau jujur, manusia modern seharusnya merasa berhutang budi kepada makhluk-makhluk dan tetumbuhan dimasa purba, kepada alam dan tentunya kepada Tuhan. Tapi, hanya sedikit orang yang ingat kepada jasa binatang laut dan pohon-pohon raksasa yang hidup milyaran tahun lalu, yang “mengorbankan diri” mereka untuk dijadikan sumber energi berupa minyak Bumi, gas dan batubara bagi kita sekarang. Dan produk-produk ini lalu diburu, diperebutkan dan dimanfaatkan untuk mengabdi kepada manusia modern sesuka hati.

Ya. Jagat Raya seisinya termasuk manusia yang mendiami Bumi ini, tercipta atas kuasa Gusti, Tuhan Sang Pencipta Alam. Keberadaan manusia di Bumi berlangsung setelah iklim dan kondisinya kondusif, siap untuk dijadikan rumah tinggal yang nyaman, dan lengkap pula dengan segala faktor pendukungnya. Pada era Mudita, orang mulai memberikan nama-nama pada semua benda dan hal, sehingga lahirlah bahasa tutur di dunia. Dan karena itulah para Mudita dihormati oleh anak keturunannya.

Wahai saudaraku. Demikianlah uraian singkat tentang proses penciptaan menurut keilmuan Jawa. Karena itu, dalam budaya Jawa, Jagat Raya dinamakan sebagai Jagad Paramudita. Hal ini seperti yang sering diucapkan oleh para dalang wayang kulit. Istilah itu berarti jagat yang dihuni oleh para Mudita (generasi awal umat manusia), makhluk paling penting didunia ini.

2) Sejarah dan perkembangan kemampuan manusia
Pada zaman dahulu kala, manusia berkomunikasi antar sesama melalui perasaan dan pikiran, istilah asingnya: through their mind. Pada masa itu, perasaan dan pikiran para nenek moyang bangsa manusia sangatlah peka, tajam sekali. Dengan melalui rasa, pikiran dan saling melihat saja, mereka bisa saling mengerti. Memang, di zaman awal tersebut, kekuatan telepati manusia masih sangat mumpuni. Ini juga satu anugerah dari alam, yang tentunya berasal dari Tuhan untuk mereka. Sementara para Mudita ini berasal dari sepasang manusia sempurna, yaitu Adam dan Siti Hawa, yang sebelumnya tinggal di Swargaloka lalu diturunkan ke Bumi dalam rangka mengemban amanah agung dari Gusti Pangeran, Tuhan YME.

Kemudian, seiring berjalannya waktu, maka mulai muncullah bahasa isyarat, dan secara bertahap suara yang keluar dari mulut semakin teratur dan lama kelamaan bisa dikendalikan sehingga sinkron dengan kehendak yang dikendalikan otak. Menurut tradisi Kejawen, manusia pada masa itu disebut Lece, dimana komunikasi mereka masih dengan bahasa isyarat dan lengkingan-lengkingan suara yang belum teratur.

Mudita adalah sebutan untuk orang ketika ia sudah bisa menyebutkan nama barang-barang yang ada didunia ini dan selanjutnya muncul kata-kata sifat. Jadi sejak ada Mudita, bahasa mulai berkembang. Rupanya para Mudita ini telah diberi kuasa oleh Sang Pencipta untuk memberi nama semua hal yang ada di alam ini. Orang-orang tua kita pernah berkata, kalau tidak ada Mudita, maka tak ada kata-kata dan bahasa: Kabeh ora kocap (segala hal tak terucapkan).

Selanjutnya, pada perkembangan lebih lanjut, para Mudita ini disebut manusia, yaitu makhluk yang punya malu. Istilah manusia itu berasal dari kata manuswa. “Manu” artinya malu dan “swa” artinya hewan. Jadi, seseorang yang tidak punya rasa malu dikatakan berwatak seperti hewan. Sementara manusia itu, dalam kepercayaan Jawa, adalah orang yang sudah punya rasa malu – kebalikan dari hewan. Karena itu, disaat manusia masih punya rasa malu, maka peradaban mulai meningkat dan maju. Sebaliknya, ketika rasa malu itu hilang, kehancuran pun akan datang.

Kemudian ketika orang sudah disebut manusia, budaya dan peradabannya berkembang lebih cepat. Ada orang-orang tua bijak yang tajam dan bening rasa hatinya. Melalui mereka, manusia menerima pembelajaran kembali tentang esensi kehidupan. Manusia, semua makhluk, tetumbuhan, benda-benda di Bumi ini tidak bisa dipisahkan keberadaannya dari alam, karena merupakan bagian dari alam. Untuk itu, sejak dulu manusia sejati sudah sadar untuk harus melestarikan, menjaga, dan merawat alam ini sebaik-baiknya. Karena tanpa alam, maka tidak ada eksistensi manusia di Bumi ini. Kalau Bumi dan alam rusak, hidup dan eksistensi manusia pun terancam. Ini sebenarnya adalah sebuah pemahaman yang klasik!

Jadi, alam raya beserta segala isinya termasuk manusia yang berada dalam keadaan seperti kita sekarang ini, bisa ada setelah melalui proses yang teramat panjang. Keberadaan alam beserta isinya termasuk umat manusia hanya karena dikehendaki dan diciptakan oleh Sang Pencipta Alam, yang dalam perkembangannya dipuja dengan asma: Gusti, Pangeran, Tuhan Yang Maha Kuasa dan Welas Asih, Sang Hyang Widhi, dll. Sedangkan menurut pemahaman Jawa kuno, manusia itu sebelum terlahir di dunia ini dengan perantaraan ibu dan bapaknya (Adam dan Siti Hawa), adalah suksma/ruh, yaitu spirit yang berada di alam asal muasal dan dibawah kuasa langsung dari Gusti, Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi, manusia itu adalah suksma, spirit yang memakai pakaian raga fisik dan raga halus untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Dewa-dewi adalah juga makhluk ciptaan Tuhan yang berwujud spirit, yang esensinya adalah cahaya, sama dengan esensi suksma. Oleh karena itu, pinisepuh Jawa menyebut orang dengan istilah “Wahong“, artinya anak keturunan atau berasal dari dewa. Disini bukan langsung berarti setiap manusia itu adalah anak keturunan dewa-dewi, tapi dengan tujuan agar setiap orang, khususnya Jawa, selalu ingat tentang esensi dirinya yang berupa suksma atau cahaya. Kemudian dalam perkembangan bahasa, kata wahong berubah menjadi wong yang artinya orang. Dari sinilah kita lalu sering pula mendengar ungkapan yang menyebutkan wong Jowo, wong Sundo, wong Indonesia, wong Asia, wong Arab, wong Chino, dsb.

Lalu pertanyaannya, kenapa suksma berada di dunia ini?

Ini pertanyaan yang menggelitik, yang sejak dulu tidak henti-hentinya dilontarkan. Padahal suksma itu telah mendapat kesempatan dari Tuhan untuk berkiprah di dunia dan menjalankan suatu misi, yaitu tugas yang mesti dilaksanakan sebaik-baiknya sampai tuntas. Ungkapan yang lebih lugas menyatakan: Suksma harus sekolah di dunia ini. Tapi sayangnya, sang suksma ketika sudah sampai di Bumi dan berwujud manusia, menemui banyak hambatan dan godaan dalam menjalankan misinya. Hubungan antara sang suksma dengan kendaraan yang dipakainya (tubuh) dan manusia dengan egonya, tidak selalu sinkron. Ini disebabkan si manusia terlalu didominasi oleh elemen-elemen duniawi, maunya hanya memenuhi keinginan materi dan duniawi yang penuh nafsu, sehingga meninggalkan esensi spiritualnya.

Untuk itu, dalam menyiasati hal ini, pinisepuh Jawa tidak bosan-bosannya mengingatkan: Eling lan waspodho (sadar dan waspadalah), kenali siapa dirimu yang sebenarnya dan apa tugas sejatimu di dunia ini. Caranya bisa bermacam-macam seperti tirakat dan semedhi. Lebih jelasnya seperti sering ber-muhasabah (intropeksi diri), ber-tadabbur (berpikir, mengkaji) dan ber-tafakur (meditasi, semedhi, merenung) sesering mungkin.

Ya. Perjalanan suksma itu berasal dari mula-mula atau alam kelanggengan (alam keabadian) kemudian dapat tugas dari Tuhan untuk tinggal di Bumi, lalu kembali lagi ke alam mula-mula – alamnya suksma, dimana itu merupakan perjalanan yang benar. Tapi ada banyak suksma, sesudah orangnya meninggal, tidak mulus kembali ke alam mula-mula (alam keabadian). Dia nyasar pulangnya, karena telah membuat kesalahan fatal ketika masih berada di dunia. Dia telah berbuat atau pernah membiarkan terjadinya perbuatan yang tidak baik dan melakukan dosa besar baik kepada Tuhan atau pun kepada sesamanya.

3). Tiyang atau Ti Hyang
Dalam bahasa Jawa kromo inggil (bahasa halus Jawa), orang atau wong itu disebut tiyang. Kata ini berasal dari kata Ti Hyang, yang berarti berasal dari dewa atau spirit atau ruh. Ini berarti bahwa manusia itu asal mulanya adalah cahaya, sebagaimana perwujudan dari dewa-dewi, yang kemudian dikenal sebagai suksma. Namun dalam kehidupan ini, sangat sedikit orang yang menyadari bahwa dia itu sebenarnya adalah suksma/ruh yang berpakaian badan kasar (tubuh) dan badan halus (jiwa). Padahal ini adalah pemahaman kunci bagi seseorang untuk bisa menemukan jati dirinya dan bisa kembali ke alam kelanggengan (keabadian) untuk bisa menghadap kepada Tuhan dengan selamat. Tanpa itu, maka ia nanti akan kembali pada sisi “kegelapan”, yang sekarang ini lebih dikenal dengan sebutan Neraka.

3. Penutup
Demikianlah orang Jawa yang sejati memandang segala sesuatu itu dari dua sudut pandang, yaitu lahir dan batin (nyata dan goib). Keduanya harus di lakukan bersamaan, karena ini adalah bagian dari keseimbangan hidup. Tanpa adanya satu dari keduanya, maka tidak akan ada kesempurnaan. Yang pada akhirnya hanya akan menjerumuskan kehidupan ini dalam jurang malapetaka.

Tapi kini, dikarenakan pengaruh kuat dari keperluan materi dan duniawi dalam kehidupan, banyak orang Jawa yang lupa dengan kehidupan sejatinya. Ia pun sudah tidak tahu lagi asal muasal dirinya dan esensi dari hidupnya. Padahal yang sebenarnya hidup itu adalah suksma/ruh yang berada di badan seseorang. Jika suksma/ruh kembali ke asal muasalnya karena berbagai alasan, maka orang itu akan mati. Dan ini pasti akan terjadi bagi setiap orang, cepat atau lambat.

Ya. Suksma akan tetap hidup dan kembali pulang ke tempat asal muasalnya di alam kelanggengan (alam keabadian) – ada yang memberi istilah dengan “kembali keharibaan Tuhan”. Tapi pertanyaannya, selama hidup di dunia ini, apakah seseorang itu sudah bisa mengenali dan memahami suksma-nya sendiri? Apakah ia pernah mengasah batinnya dengan salah satunya mengikuti tradisi kebatinan Jawa? Hal ini harus di lakukan agar nanti, ketika wafat, ia bisa kembali dengan selamat dan tidak nyasar ke tempat lain yang dikuasai oleh kegelapan.

Untuk itu saudaraku, yang bisa berkomunikasi dengan cara terhalus dengan Gusti Pangeran; Sang Suksma Agung yaitu Tuhan, adalah suksma yang berada di dalam raga manusia. Dimana itu hanya bisa terjadi bila seseorang sudah menjalankan laku tirakat (spiritual) yang tinggi. Dan seorang manusia seharusnya mengenali diri sejatinya atau pribadi sejatinya, yang adalah suksma itu sejak dini. Sebab, dengan begitu ia akan bisa mengenali siapa Tuhannya yang sejati. Dan ketika ia sudah bisa akrab dengan sang suksma atau pribadi sejati, maka ia baru akan sadar tentang misi hidupnya dari Tuhan, Sang Suksma Agung. Dampaknya adalah bahwa ia pun akan hidup dengan melakukan berbagai misi yang bermanfaat bagi dirinya dan kehidupan umat manusia, bahkan jagat raya ini. Dan inilah hal yang terbaik dan sempurna bagi siapapun, khususnya orang Jawa yang sejati.

Jambi, 13 Maret 2016
Mashudi Antoro (Oedi`)

Referensi:
* http://jagadkejawen.com/

18 thoughts on “Proses Penciptaan Dalam Kebatinan Jawa

    kuropriest97 said:
    Maret 13, 2016 pukul 12:44 pm

    Menarik dan cara penulisan yang terstruktur dan jelas, memberi pengetahuan yang luas bagi kita semua terutama bagi mereka belum sadar akan diri sesungguhnya siapa mereka yang adalah roh (sukma). Kalau boleh Saya mau tanya apakah olah kebatinan itu ada hubungannya dengan pengajaran teosofi? Terima kasih.

      oedi responded:
      Maret 14, 2016 pukul 5:42 am

      Okey, syukurlah kalau suka dengan tulisan ini, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Hmm.. menurut saya, antara olah kebatinan dan pengajaran teosofi itu tidaklah bertentangan, karena intinya sama-sama agar manusia bisa mencapai kesempurnaan. Hanya saja bagi saya pribadi, kebatinan itu lebih mendasar dan lebih luas dari pada teosofi, bahkan merupakan akar dari teosofi itu sendiri. Kalau ibarat senjata tajam, kebatinan itu seperti pedang Samurai Katana atau pedang Damaskus, yang paling tajam.
      Selain itu, kebatinan sebagaimana yang sudah di jelaskan pada tulisan ini, sudah ada sebelum agama-agama besar atau istilah teosofi itu dicetuskan oleh manusia, khususnya di Barat; Yunani. Dan kebatinan sendiri pada hakekatnya tidak seperti teosofi yang terikat pada satu doktrin dan filsafat tertentu. Kebatinan itu terlepas dari doktrin filsafat, karena lebih kepada pencarian sendiri, oleh seseorang, tentang sebuah hakekat. Karena itu, di dalam olah kebatinan tidak jarang ada orang yang mendapakan hasil yang berbeda-beda meskipun mereka satu Guru dan melakukan hal yang sama. Semua tergantung pada niat, proses perjalanan dan usahanya masing-masing. Guru hanya sebatas memberikan petunjuk dan bimbingan seperlunya saja, dan ia tidak pernah mendoktrin.

        kuropriest97 said:
        Maret 14, 2016 pukul 6:06 am

        Jadi kalau kebatinan itu seseorang dapat mendapatkan pencerahan yg berbeda-beda ya mas? Tapi apakah setiap pencerahan itu adalah kebenaran itu sendiri atau gimana mas? Terima kasih.

        oedi responded:
        Maret 14, 2016 pukul 6:30 am

        Hmm.. ya itulah dasar sebenarnya dari kebatinan, yaitu bebas dan tidak terikat dengan apapun kecuali takdir Tuhan dan Tuhan Sang Maha Kuasa.
        Karena itulah, pelaku kebatinan yang sejati akan mendapatkan pencerahan sesuai dengan apa yang diinginkan Tuhan, bukan keinginan dirinya sendiri.
        Tentang hasil dari olah kebatinan, setau saya, yang berbeda itu bukan berarti ada yang salah dan ada pula yang benar, tapi lebih kepada hasil yang sesuai dengan tingkat kesadaran dan kesiapan dari diri yang bersangkutan. Dan tingkat pengetahuan atau pencerahan yang didapatkan oleh pelaku kebatinan itu adalah hak preoregatifnya Tuhan, karena Dia-lah yang tahu kemampuan dan kebutuhan dari setiap hamba-Nya. Apa yang didapatkan oleh seseorang dalam olah kebatinan, menurut saya pribadi adalah kebenaran itu sendiri, apapun bentuknya. Hanya saja memang akan berbeda-beda pada setiap orangnya. Dan itu merupakan bagian dari kearifan dan kebijaksanaan Tuhan.
        Dalam kebatinan yang sejati, kebenaran itu banyak rupanya dan hakekatnya bertingkat-tingkat. Setiap orang akan mendapatkan salah satu atau beberapa dari rupa dan tingkatan itu. Sangat jarang atau bahkan tidak ada yang pernah mendapatkan semuanya, dalam hal ini kebenaran sejati. Siapapun hanya akan mendapatkan sebagiannya saja, karena yang bisa dan bahkan memiliki semua kebenaran itu hanyalah Tuhan. Dia-lah Kebenaran Yang Mutlak.

        kuropriest97 said:
        Maret 14, 2016 pukul 6:35 am

        Terimakasih atas semua jawabannya mas, ini bisa dijadikan wawasan🙂

        kuropriest97 said:
        Maret 14, 2016 pukul 6:40 am

        Oh ya satu lagi pertanyaan boleh kan mas? Kalau meditasi yg dianjurkan olah kebatinan itu apa saja mas? Terima kasih.

        oedi responded:
        Maret 14, 2016 pukul 7:00 am

        Boleh aja, kalau saya tau akan saya coba untuk menjawabnya, kalau gak tau ya maklumi aja, karena saya ini juga masih belajar…🙂
        Setau saya sih tidak ada keharusan, dan memang tidak bolah ada keharusan bagi seseorang untuk melakukan ini dan itu secara saklak. Karena memang setiap orang itu tidak sama dan memiliki kemampuan juga bakat yang berbeda-beda. Sebab itulah tadi saya jelaskan bahwa seharusnya seorang Guru yang sejati itu tidak pernah mendoktrin muridnya. Ia hanya memberikan beberapa pilihan kepada muridnya untuk mau mengerjakan yang mana. Yang penting ia sreg dan merasa nyaman dengan pilihannya itu. Masalah hasil itu hanya kuasa Tuhan.
        Kalau tentang jenis meditasi atau dalam bahasa kebatinan Jawa disebut Semedhi, maka bentuknya bermacam-macam. Ada yang duduk bersila, posisi tidur, berdiri, berdiri kaki satu, ngalong (kaki di atas sementara kepala di bawah), pendhem (dikubur hidup-hidup di dalam tanah), dll. Lalu mengenai tempatnya juga bisa bermacam-macam, bisa di dalam kamar, di alam bebas seperti hutan, lembah, gunung, air terjun, di dalam goa, dsb. Semua itu adalah pilihan bagi si pelaku kebatinan, dan harus ia lakukan sendirian (nyepi). Kalau beramai-ramai tidak akan bisa membuahkan hasil. Kecuali seseorang itu memang telah sampai di tingkat puncak kebatinan, maka ia bisa bermeditasi dimanapun ia mau, bahkan di tengah-tengah keramaian.
        Dan kalau saya pribadi sih lebih menganjurkan kepada siapapun – terutama yang pemula – untuk selalu “eling lan waspodho” saja. Untuk bisa melakukannya, maka seseorang harus rajin tirakat, seperti puasa senin kamis, ngerowot (hanya makan sayuran), mutih (hanya makan nasi) dan mengurangi tidur. Sebab menurut saya, sikap itu juga merupakan jenis dari meditasi tingkat tinggi. Selanjutnya, kalau mau ya silahkan dengan menambahkan sering ber-semedhi di tempat khusus – dalam kamar misalnya – layaknya orang yang bertapa brata dalam kurun waktu tertentu, misalnya tiga hari. Laku kebatinan yang seperti ini oleh orang Jawa disebut Ngeblem, karena seseorang bermeditasi tanpa makan, minum dan bergerak selama tiga hari penuh. Tapi ingat! Kalau belum terbiasa, maka laku yang seperti ini harus dibawah bimbingan langsung seorang Guru Laku. Tanpa hal itu bisa berbahaya.

        oedi responded:
        Maret 14, 2016 pukul 10:03 am

        Iya sama” lah.. semoga bisa bermanfaat… maaf kalo kurang memuaskan.. maklumlah saya ini masih awam..🙂

        kuropriest97 said:
        Maret 14, 2016 pukul 10:36 am

        Gpp mas, a
        Sdh cukup memuaskan🙂

        oedi responded:
        Maret 15, 2016 pukul 10:39 am

        Syukurlah kalau begitu… terimakasih🙂

    infosiana.net said:
    Maret 14, 2016 pukul 5:49 am

    keren nih, ane yang orang jawa aja gak ngerti yang kayak gini, itu dri buku induk jawa?

      oedi responded:
      Maret 14, 2016 pukul 6:08 am

      Syukurlah kalau suka dengan tulisan ini, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Hmm.. gak juga, karena setau saya gak pernah ada tuh buku induk Jawa.. Memang ada serat atau kitab Jawa yg membahas kebatinan. Tapi tulisan ini disarikan hanya dari pengalaman, diskusi dan tutur kata para leluhur..

    wordwidewrite said:
    Maret 14, 2016 pukul 12:52 pm

    Anda sungguh orang yang bisa mencerna berbagai ilmu, jika dilihat dari sumbernya dari kejawen, bolehlah saya berasumsi, memang ilmu itu warisan nenek moyang, tentang budi pekerti dan mempunyai watak yang baik, saya ikut nyimak dengan batasan aqidah saya sebagai muslim, jadi yang saya serap adalah kebaikan, bukan untuk mencampur adukan berbagai macam keyakinan. Terimakasih

      oedi responded:
      Maret 15, 2016 pukul 10:40 am

      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    […] saudaraku. Melanjutkan tulisan sebelumnya yang membahas tentang kebatinan Jawa, maka kali ini kita akan membahas puncak dari keilmuan Jawa tersebut. Nama dari ilmu itu adalah […]

      wordwidewrite said:
      Maret 17, 2016 pukul 1:13 am

      Ilmu adalah karunia Tuhan untuk manusia memerankan kehidupan didunia, Ilmu Alloh yang saya ketahui, jika lautan ditumpahkan sebagai tintanya tidak akan cukup, karena diatas langit masih ada langit, Puncak Ilmu itu ada di Arsy, alam adalah penjabarannya, simbol piramida yang diserap oleh kaum bani Israil, menunjukan pencapaiannya, dan itu memang menjadi suatu kenyataan, petualangan hidup belum berakhir, lanjutkan merupakan awal kebangkitan

        oedi responded:
        Maret 21, 2016 pukul 5:17 am

        Terimakasih karena masih mau berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat..🙂
        Menurut saya, carilah ilmu ilmiah sebanyak mungkin, tapi jangan hanya sampai disitu saja. Carilah lagi Ilmu Tuhan untuk menyempurnakan setiap ilmu ilmiah yang sudah didapatkan. Dengan begitu, niscaya kita akan semakin pintar dan bijaksana.

    […] menjadi modal utama dalam membangun kehidupan yang damai dan sejahtera. Silahkan baca artikel ini: Proses penciptaan dalam kebatinan Jawa, Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat: Puncak ilmu Jawa dan Cara menjadi pemenang: makna dibalik bunyi […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s