Pentingnya Rasa Syukur Demi Kebahagiaan Hidup

Posted on Updated on

bersyukurWahai saudaraku. Bersyukur atas segala nikmat dan karunia Tuhan adalah satu hal yang paling sering kita lupakan. Padahal lihatlah, banyak dari saudara kita yang hidupnya tak seberuntung kita. Kita masih diberi kondisi fisik yang lengkap, sementara ada saudara kita yang tak memiliki tangan atau kaki. Untuk hidup normal seperti makan, minum atau berjalan saja mereka kesulitan, apalagi harus mengejar cita-cita dan meraih kedudukan yang tinggi. Kita pun masih terus diberikan rezeki yang cukup – bahkan berlimpah – dalam hidup sehari-hari, sedangkan banyak saudara kita di belahan Bumi lainnya (Etiopia, Somalia, dll) yang kelaparan, tanpa rumah dan pakaian yang cukup. Kita pun hidup di negeri yang aman dan cenderung makmur, sementara banyak saudara kita yang kini hidup dalam rasa ketakutan akan perang dan pembantaian massal.

Saudaraku yang budiman. Dari gambaran di atas, maka banyak dari kita yang kini masih saja kurang bersyukur atas segala yang telah Tuhan berikan dalam hidup ini. Kita tidak cacat, tapi mengapa justru bermalas-malasan dalam bekerja atau menuntut ilmu? Kita juga diberi rezeki yang cukup, tapi justru membuat kita lupa diri, makin serakah dan kikir terhadap sesama. Padahal coba bayangkan bagaimana jadinya bila kita harus menjadi seperti mereka yang kurang beruntung itu (maaf, saudara kita yang peyandang disabilitas) atau hidup dalam wilayah bencana, negeri yang tidak subur dan banyak konflik. Masihkah kita tidak pandai bersyukur??

tuna daksa

bersyukurlah 1

Lihatlah video yang sangat mengharukan ini. Tentang bagaimana mana adik kecil ini berjuang hanya untuk bisa makan mie. Masihkah kita tidak pandai bersyukur???

.

Wahai saudaraku. Jika dirimu masih seorang manusia, maka saat melihat video di atas engkau akan meneteskan air mata (menangis) atau setidaknya merasakan sedih. Dadamu akan terasa sesak, karena melihat betapa adik kecil itu sangat kesusahan hanya untuk sekedar makan mie. Dan lihatlah, bahwa adik cantik itu harus berjuang keras hanya untuk bisa menikmati mie. Lalu pikirkan juga tentang betapa susahnya si adik kecil itu saat ia akan memakai baju, mandi, buang air besar atau kecil, dll. Bukankah ia akan sangat kesulitan dengan itu semua? Selain itu, coba pikirkan juga tentang bagaimana nasib si adik kecil itu saat ia dewasa nanti? Memang sekarang ia masih kecil dan masih bisa tersenyum manis tanpa merasa malu. Tapi nanti, ketika ia sudah beranjak remaja dan dewasa, bagaimana ia harus menahan diri dari segala ejekan, cemoohan atau hinaan orang-orang yang melihat bahwa kondisi tubuhnya tidak sempurna. Bagaimana ia bisa meneruskan hidupnya wahai saudaraku? Apakah ia akan mampu menghadapi cobaan yang sangat berat itu? Mungkinkah ia akan bertahan??

Sungguh, sangat disayangkan masih banyak dari kita yang tidak pandai bersyukur dengan keadaan diri sendiri? Kita ini masih terlalu banyak diberikan kenikmatan dan kemudahan dalam hidup ini oleh Tuhan. Sementara ada banyak saudara kita yang bahkan tak pernah melihat keindahan dunia ini – lantaran ia sudah tuna netra sejak lahir. Ada banyak pula saudara kita yang tuna wicara, tuna daksa, tuna rungu, dan tuna wisma, yang hidupnya selalu dalam kesusahan. Mereka tak seberuntung kita yang normal, yang dengan mudahnya bisa melakukan apa saja yang kita mau. Untuk itu, bersyukurlah! bersyukurlah wahai saudaraku! karena kita tidak berada dalam posisi mereka.

tuna netra 1

tuna daksa 1

Ya. Bersyukur adalah tolak ukur utama dalam keimanan dan kemuliaan seseorang. Tanpa hal ini, bisa dipastikan bahwa keimanan dan kemuliaan diri seseorang ibarat pepatah lama yang mengatakan; “Jauh panggang dari pada api”. Tidak ada isinya sama sekali, dan berujung pada kesia-siaan di hadapan Tuhan. Orang yang pandai bersyukur adalah sebenarnya manusia. Itu terjadi karena ia sudah tahu batasan dirinya dan siapa Tuhannya. Kepada Tuhan ia selalu tunduk, berserah diri dan banyak berterimakasih, sementara kepada sesamanya ia akan selalu mencintai dengan penuh kasih sayang dan sikap yang rendah hati. Sebaliknya, orang yang tak pandai bersyukur adalah setan yang berbadan manusia. Tidak ada kebaikan dan kemuliaan pada dirinya. Itu terjadi lantaran ia sudah lupa siapa dirinya dan lupa pula siapa Tuhannya. Sebab, seandainya ia masih ingat tentang siapa dirinya dan siapa Tuhannya, bisa dipastikan ia akan lebih banyak bersyukur. Bersyukur disini artinya ia telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, tunduk kepada setiap ketetapan-Nya dan tidak pernah berlaku sombong dalam kehidupan. Hanya orang yang pandai bersyukurlah yang bisa membawa kebaikan dan kebahagiaan di dunia ini. Sebaliknya, mereka yang tak mau bersyukur hanya akan memenuhi dunia ini dengan kebencian, kerusakan, kecelakaan dan bencana.

Untuk itu, Allah SWT telah mengingatkan kita semua dengan berfirman:

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 152)

“Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit dari kamu yang bersyukur” (QS. Al-Mulk [67] ayat 23)

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (QS. Adh-Dhuna [93] ayat 11)

O.. Beruntunglah bagi siapa saja yang senang bersyukur dalam hidupnya. Sekecil apapun kenikmatan yang ia dapatkan, asalkan ia mau bersyukur dengan setulus hatinya, maka anugerah Tuhan akan selalu menyertainya dan ia pasti akan bahagia. Tuhan hanya meridhai hamba-Nya yang pandai bersyukur. Dan ketika Tuhan sudah meridhainya, maka sangat dekatlah posisi seorang hamba itu dengan Tuhannya. Lalu ketika ia sudah sangat dekat dengan Pencipta-Nya, maka siapa pun orangnya akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akherat. Inilah keberuntungan yang sesungguhnya.

Bersyukur 2

Untuk itulah saudaraku. Siapakah di antara kita yang tidak mau mendapatkan keselamatan dunia dan akherat? Tentu jawabannya tidak ada yang mau menghindari tawaran manis ini. Hanya saja, tampak dengan nyata bahwa banyak sekali dari kita yang sesungguhnya tidak lagi peduli dengan hal ini. Itu sangat jelas terlihat ketika seseorang masih saja menggerutu atau protes kepada Tuhan lantaran ia tak sekaya tetangganya atau orang lain di luar sana. Ia bahkan marah ketika nasibnya tak sebaik para bangsawan atau masyarakat kelas atas. Padahal cobalah berkaca diri kepada saudara kita yang kurang beruntung (tuna netra, tuna wicara, tuna daksa, tuna rungu, dan tuna wisma) di luar sana. Tanyakan pada diri kita sendiri, bukankah kita ini masih sangat beruntung dan begitu banyak diberikan kenikmatan hidup? Lantas mengapa masih saja banyak dari kita yang kurang bersyukur? Dan mengapa pula kita sering mengeluh? padahal kita lebih beruntung dari mereka.

Dalam hal ini Allah SWT kembali mengingatkan dengan berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka Bumi dan Kami adakan bagimu di muka Bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur” (QS. Al-A`raf [7] ayat 10)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim [14] Ayat 7)

Wahai saudaraku yang budiman. Di dunia ini, siapapun akan mendapatkan ujian yang berat atau ringan. Tidak ada yang luput dari ujian kehidupan. Karena ujian itu adalah tahapan penting sebelum seseorang bisa naik tingkat. Seperti di sekolah, maka siswa yang ingin naik kelas harus lulus ujian dulu. Sehingga untuk mencapai derajat manusia yang mulia (insan kamil), maka seseorang harus lulus ujian kemuliaannya dulu. Contoh ujian disini seperti, kemiskinan dan kekayaan, kesabaran dan kemarahan, kasih sayang dan kebencian, kejujuran dan kemunafikkan. Dan tentunya yang paling utama dalam hal ini adalah rasa syukur. Karena rasa syukur sendiri adalah tiang atau dasar utama agar seseorang bisa bersikap sabar, punya rasa kasih sayang, cinta, dan selalu jujur dalam hidupnya. Tanpa rasa syukur, siapapun akan cenderung berbuat ingkar dan tenggelam dalam kejahatan.

bersyukurlah

bersyukur-16-728

Untuk itu, bila seseorang diperlihatkan betapa dosanya sudah bertumpuk lantaran tidak pandai bersyukur, atau ditunjukkan bentuk azab Neraka atas setiap dosa karena tidak bersyukur, maka ia akan segera berhenti bekerja lalu menyibukkan diri hanya dengan bertobat, berzikir dan menangis. Karena memang tak terhitung dosa yang sudah kita tumpuk atas kelupaan diri kita dalam bersyukur. Bahkan jika seandainya bisa dihitung, maka jumlahnya akan melebihi semua butiran pasir di gurun Sahara. Begitupun jika seseorang berusaha menghitung jumlah nikmat Tuhan yang telah ia dapatkan selama ini, maka ia tidak akan sanggup. Sebagaimana keterangan dari ayat berikut ini:

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (QS. Ibrahim [14] ayat 34)

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An-Nahl [16] ayat 18)

Namun demikian, tetap saja begitu banyak nikmat dan karunia Tuhan yang didapatkan oleh setiap orang, dan Tuhan tidak pernah murka. Yang Maha Pengasih terus saja melimpahkan rezeki dan kemudahan tanpa peduli apakah makhluk ciptaan-Nya itu mau bersyukur atau justru kufur. Nah, disini dan karena hal ini, apakah kita juga tetap tidak mau untuk pandai bersyukur? Bayangkan jika seandainya karena sekali saja kita tak bersyukur setelah menerima kenikmatan dunia, maka Tuhan langsung menuntut atau memberi kita hukuman. Apa jadinya kita sekarang? Apakah kita sanggup menerima hukuman pada setiap kali kita lupa dalam bersyukur? Anda-lah yang bisa menjawabnya.

Untuk itu, di dalam Al-Qur`an Allah SWT sudah mengingatkan dengan tegas dan berulang kali tentang hal ini. Sebagaimana bunyi ayat berikut ini:

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahmaan [58] ayat 13)

Sungguh, orang yang tidak pandai bersyukur akan mendapatkan bahwa hidupnya tidak pernah bahagia. Meskipun ia memiliki fisik yang rupawan, berlimpah harta atau mendapat kedudukan yang tinggi, maka tanpa rasa syukur yang tulus akan membuatnya resah dan menderita. Sebaliknya, dengan rasa syukur yang selalu diterapkan meskipun seseorang hanya mendapatkan rezeki yang sedikit, maka ia akan merasakan bahagia. Ia juga akan merasa paling kaya di dunia ini, terlebih dengan rezeki yang pas-pasan itu ia mau berbagi dengan sesamanya, maka kebahagiaan yang ia dapatkan bisa berlipat ganda. Tidak hanya di dunia ini saja, karena jika ia ikhlas dalam niat dan perilakunya itu, Tuhan sudah menyiapkan balasan yang luarbiasa baginya di akherat nanti. Bahkan kebahagiaan itu akan menular kepada siapapun yang pernah ia tolong atau kasihi. Inilah keindahan yang sejati.

bersyukur 3

Ya. Apakah ada artinya fisik yang sempurna tapi tidak ada rasa syukur di dalam hidup seseorang? Tidak ada. Karena bagi mereka yang tidak pandai bersyukur padahal memiliki tubuh yang cantik atau gagah akan menggunakan kelebihannya itu dalam banyak kekufuran. Bahkan saat ini tidak sedikit orang yang justru “memperdagangkan/mengobral” tubuhnya itu hanya demi sejumlah uang. Ia tidak pandai bersyukur dengan sikap yang sering mempertontonkan auratnya – padahal seharusnya dijaga dan disembunyikan kecuali bagi muhrimnya. Sangat disayangkan, padahal itu akan membawa azab yang perih baginya nanti di akherat. Begitu pun apakah ada artinya harta yang berlimpah tanpa adanya rasa syukur didalamnya? Jawabannya tetap saja tidak ada. Sebab, bagi mereka yang tidak pandai bersyukur atas semua nikmat rezeki yang berlimpah justru akan serakah. Dengan keserakahan itu, ia bahkan tidak lagi mengindahkan perasaan kasih dan sayang. Itu terjadi lantaran orang yang serakah cenderung akan bersikap semena-mena dan kemanusiaannya menjadi hilang. Akibatnya, hanya demi menumpuk hartanya itu, ia rela berbuat zalim, membunuh atau merusak lingkungan. Dan yang terakhir, apakah ada artinya jabatan yang tinggi tanpa adanya rasa syukur di dalam hati? Jawabannya masih tetap tidak ada. Karena orang yang tidak pandai bersyukur setelah mendapatkan jabatan atau kedudukan yang tinggi akan bersikap sombong, arogan, berbuat licik, munafik dan keji. Dan meskipun di depannya ia terlihat baik hati bahkan sangat alim, tapi sebenarnya di belakang layar ia adalah mafia yang biadab. Ia bahkan sudah menjadi iblis yang berbadan manusia, yang siap menghisap keringat dan darah orang lain. Dan itu semua terjadi hanya untuk memenuhi hasratnya akan kekuasaan, jabatan dan kedudukan sosial. Baginya, dengan jabatan atau kedudukan yang tinggi tersebut ia baru bisa merasa mulia. Padahal kemuliaan seseorang itu tidak diukur dari paras, harta atau kedudukannya, tetapi lebih kepada kepribadian yang utama (iman dan taqwa).

“Ya Robbi. Hamba ini masih sangat kurang beryukur kepada-Mu. Ampunilah hamba-Mu yang lemah ini, dan berikanlah kesempatan untuk bertobat dan selalu bersyukur.
Ya Allah. Kami bertobat kepada-Mu dan kami bersyukur kepada-Mu sebanyak nikmat yang disyukuri oleh orang-orang yang bersyukur dalam setiap lisan dan waktunya”

O.. Lihatlah kini, di hampir seluruh wilayah dunia, telah terjadi banyak krisis kemanusiaan dan bencana alam. Itu terjadi lantaran begitu banyaknya manusia yang sudah tidak mau lagi bersyukur dalam hidupnya. Mereka terus saja larut dalam keserakahan dan pembangkangan terhadap hukum Tuhan, rasa cinta dan kasih sayang. Jika seandainya mereka mau bersyukur, maka otomatis ia akan menyadari siapa dirinya dan siapa pula Tuhannya yang sebenarnya. Dengan sikap yang seperti itu, berikutnya ia akan dengan senang hati mau mengikuti apa saja yang diperintahkan oleh Tuhan baginya. Contoh mudahnya adalah bahwa ia akan selalu merasa cukup dengan setiap rezeki yang didapatkan, sehingga ia tidak akan pernah serakah. Dengan sikap yang tidak pernah serakah itu, maka pastinya ia tidak akan mau menyakiti atau merendahkan orang lain, karena justru akan sering berbagi dan membatu sesamanya. Dengan membantu sesama, maka berkuranglah penderitaan di dunia ini. Sebaliknya, mengapa sekarang begitu banyak terjadi pertikaian, peperangan, pembunuhan, perusakan alam semakin parah dan kemiskinan kian rata dimana-mana? Itu semua terjadi karena begitu banyak orang yang larut dalam keserakahan diri dan melupakan rasa bersyukur dalam hidupnya. Akibatnya tidak perlu heran, dimana-mana terus saja terjadi ketidakadilan, kesemena-menaan, kezaliman, pertikaian dan kerusakan. Bahkan dampaknya semakin terasa dengan seringnya terjadi bencana alam dalam sekala besar.

serakah 2

Untuk itu saudaraku. Jangan menyepelekan rasa syukur ini. Karena sifat ini adalah dasar utama menuju kebahagiaan dan kemuliaan. Dan sebagai seorang hamba yang fana, maka sudah seharusnya kita untuk terus dan rajin bersyukur. Kepada Allah SWT saja niat itu harus ditujukan, sebagai wujud kerendahan hati dan terimakasih kita kepada-Nya. Selamanya kita adalah makhluk yang lemah dan tak berdaya. Kita pun hanya bisa berlindung kepada-Nya dari segala musibah dan azab yang perih. Dengan bersyukur kepada Allah SWT, itu artinya kita sudah berjalan di arah lurus jalan-Nya. Dimana hanya jalan itulah yang akan mengantarkan kita pada kebahagiaan yang sejati dan bisa kembali kepada-Nya dengan selamat. Tanpa rasa syukur, baik secara lisan maupun di hati, maka hidup ini akan terasa hampa, selalu kurang dan tidak akan pernah tenang apalagi bahagia. Akibatnya, hidup yang dijalani pun terasa gersang, penuh derita dan siksaan, terutama di dalam batin.

Semoga kita selalu pandai bersyukur, karena hanya dengan begitulah hidup ini akan terasa indah dan membahagiakan.

Jambi, 12 Februari 2016
Mashudi Antoro (Oedi`)

One thought on “Pentingnya Rasa Syukur Demi Kebahagiaan Hidup

    […] Filed under: Info Terbaru, Puisi_ku, Tulisan_ku Source link […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s