Keseimbangan Diri Manusia dan Pengaruhnya Terhadap Bencana Alam dan Perang Kosmik

Posted on Updated on

energi kosmik 3Wahai saudaraku. Keseimbangan hidup yang sejati adalah ketika seseorang telah menyeimbangkan kesatuan alam dan dirinya. Jika manusia telah berhasil menemukan yang tersembunyi di dalam dirinya, maka ia baru akan dikatakan sebagai pribadi yang waskita, yaitu sosok diri yang memahami kebenaran. Lalu melalui partisipasi spiritualitas aktifnya, seseorang bahkan mampu memancarkan cahaya yang menerangi dunia.

Karena itu, hubungan erat antara manusia dan alam akan menyebabkan keadaan batin manusia tercermin dalam tatanan eksternal. Dan hakekat diri manusia itu adalah mulut hidup dan nafasnya alam. Namun, bila tidak ada lagi pelaku kebajikan dan orang suci, alam akan kehilangan cahaya yang meneranginya dan udara yang menghidupinya. Ini menjelaskan mengapa ketika keadaan batin manusia telah berpaling pada kegelapan dan kekacauan, alam juga berpaling dari harmoni dan keindahan, selanjutnya jatuh dalam ketidakseimbangan dan kekacauan. Yang berujung pada kehancuran dan kebinasaan dalam sekala yang besar.

Ya. Manusia yang hidupnya hanya di permukaan keberadaan dirinya, akan mempelajari alam sebagai sesuatu yang perlu untuk di eksploitasi, di manipulasi dan di dominasi. Sikap semacam ini sangat keliru. Padahal, manusia hanya dapat menembus makna batin alam ini jika ia dapat menyelidiki dirinya secara batin dan tidak berada di pinggir keberadaannya. Ia harus bisa menemukan kesejatian dirinya sendiri dan apa tujuannya ia ada dan hidup di dunia ini?

Sungguh, ketika kita tumbuh secara spiritual, yang terjadi pada hakekatnya adalah kegelapan dari ke lima indera, pikiran dan intelek mulai berkurang. Oleh sebab itu Jiwa yang ada di dalam diri kita mulai menerangi. Dan semakin terang Jiwa menyala di dalam diri kita melalui praktik spiritual, maka semakin sedikit pengaruh buruk dunia ini bisa mendikte kepribadian, pilihan dan tindakan kita. Dan seseorang harus terus menaiki tangga pertumbuhan spiritual itu sampai di puncaknya. Yaitu ketika cahaya dari Jiwa hampir menerangi dirinya secara menyeluruh, ia menjalani hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan setiap komponen buruk menjadi ‘larut’ dan tidak lagi memberikan pengaruh pada kepribadiannya.

energi kosmik 2

Saudaraku yang budiman. Menurut ilmu sains moderen, Alam Semesta terbuat dari partikel-partikel fisika dasar yang terdiri dari elektron, proton, neutron, meson, gluon, dan kuark. Namun pada tataran spiritual, Alam Semesta terbuat dari sesuatu yang lebih mendasar lagi, yaitu unsur. Ketiga partikel dasar ini dikenal sebagai 3 komponen dasar non-fisik (triguna), yaitu Sattva, Raja, dan Tama.

Dari sudut pandang bahasa, maka istilah Triguna ini berasal dari kata “tri” yang berarti tiga, dan “guna” yang berarti komponen halus (non-fisik). Komponen-komponen dasar non-fisik (halus) berupa Sattva, Raja, dan Tama adalah ciptaan yang paling dasar. Ketiganya ada dalam semua benda hidup dan mati, berwujud dan tak berwujud, tanpa dikenali oleh ilmu sains moderen. Vibrasi-vibrasi yang dipancarkan oleh benda apapun tergantung pada komponen dasar non-fisik yang mendominasinya. Komponen-komponen tersebut juga mempengaruhi perilaku/sifat dari segala sesuatu. Proporsi dari komponen-komponen ini dalam manusia hanya dapat ditransformasi dengan cara praktik spiritual.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini diberikan sekilas keterangan tentang apa sebenarnya Triguna itu. Yaitu:

1. Sattva (kemurnian dan pengetahuan)
Disini contohnya seseorang telah hidup dengan melayani masyarakat tanpa adanya pengharapan akan penghargaan atau hadiah atau segala motif tersembunyi. Ia hanya mengharap ridho Ilahi. Karena itulah orang yang seperti ini lalu disebut dengan manusia Sattvik.

2. Raja (aksi dan hasrat)
Disini artinya seseorang telah hidup hanya untuk peningkatan dan pencapaian pribadinya sendiri. Ia selalu terikat dengan keduniawian dan sangat sulit terlepas darinya. Orang yang masuk ke dalam jenis ini lalu disebut sebagai manusia Rajasik.

3. Tama (ketidaksadaran dan kelemahan (friksi))
Disini berarti seseorang merasa tak masalah untuk merugikan orang lain demi kemajuan diri sendiri atau mencelakakan masyarakat. Orang yang masuk ke dalam jenis ini disebut dengan manusia Tamasik, yaitu manusia yang paling buruk kualitasnya.

Wahai saudaraku. Dari uraian singkat di atas, kita lalu menyebut komponen-komponen tersebut sebagai non-fisik (halus), karena mereka tak berwujud, dan secara alamiah tidak berfisik serta tidak dapat dilihat dengan alat canggih seperti mikroskop elektron terbaru. Secara teknis, instrumentasi fisika yang lebih maju di masa mendatang juga tidak akan dapat mengukur ketiga komponen ini. Ketiganya hanya dapat dirasakan oleh organ indera halus (non-fisik) atau biasa disebut dengan indera ke enam kita.

Ya. Komponen Sattva adalah komponen yang paling halus (tak kasat mata) dari ketiga komponen dasar non-fisik. Komponen ini adalah komponen yang paling dekat dengan ke Ilahian. Kehadirannya dalam diri manusia ditandai dengan rasa bahagia, rasa bersyukur, kebajikan seperti sikap sabar, ketekunan, kemampuan untuk memaafkan, kerinduan spiritual, dan sebagainya. Karena itu, komponen ini menjadi hal yang sangat dibutuhkan dalam hidup manusia itu sendiri dan demi mendapatkan keselamatan dan kebahagiaannya. Sementara komponen Tama adalah yang paling mendasar dari ketiganya. Sifat ini berdampak buruk dalam kehidupan dan kehadirannya ditandai dengan rasa malas, ketamakan, kemelekatan akan hal-hal duniawi, dan seterusnya. Lalu yang terakhir adalah komponen Raja yang menyediakan bahan bakar bagi kedua komponen lainnya (Sattva, Tama), yaitu membuat keduanya menjadi suatu aksi. Sehingga tergantung dari apakah seseorang lebih dominan Sattvik atau Tamasik-nya, sedangkan komponen Raja akan membuat keduanya menjadi suatu tindakan/aksi yang berkaitan dengan komponen Sattva dan Tama tersebut.

1. Kaitannya antara kesejatian diri manusia dengan pergerakan alam semesta
Segala sesuatu di sekitar kita dapat dikategorikan sebagai Sattvik, Rajasik atau Tamasik, tergantung pada komponen non-fisik dominan yang membentuk mereka. Komponen non-fisik dominan dalam segala hal hanya bisa diukur melalui indera keenam.

Selanjutnya, ketiga komponen dasar ini juga membentuk kelima unsur Kosmik Absolut (Panchamahabhutas/Panchamahabhoota). Kelima unsur kosmik tersebut adalah Bumi Absolut, Air Absolut, Api Absolut, Udara Absolut, dan Eter (zat) Absolut. Unsur-unsur kosmik tersebut juga tak berwujud secara alamiah dan sekaligus merupakan aspek non-fisik atas unsur-unsur yang dapat kita lihat serta rasakan. Sebagai contoh: unsur kosmik Air Absolut adalah bentuk non-fisik dari air yang kemudian membentuk sungai, lautan, dll. Singkatnya, kelima unsur Kosmik Absolut ini adalah bahan pembangun utama dari Alam Semesta. Kelimanya juga dibentuk dari ketiga komponen dasar non-fisik.

Kemudian, unsur kosmik Bumi Absolut memiliki kadar komponen Tama yang tertinggi sekaligus yang terberat. Komponen Tama ini membatasi keberadaan/eksistensi, sedangkan komponen Sattva membuatnya semakin luas. Hal ini menjelaskan mengapa unsur Bumi Absolut adalah yang paling rendah kualitasnya (inferior) di antara unsur lainnya. Ini juga menjelaskan bahwa unsur Eter (zat) Absolut adalah yang paling halus dan Sattvik sekaligus juga yang paling kuat. Penurunan kadar Tama di antara kelima unsur ini membuat unsur-unsur tersebut semakin tidak berwujud. Sebagai contoh, Api lebih bersifat non-fisik atau lebih tidak berwujud dari pada Bumi.

Sementara itu, manusia terbentuk dari komposisi yang lebih dominan unsur-unsur Bumi dan Air Absolut-nya. Dan seiring dengan perkembangan spiritualnya, seseorang akan lebih berfungsi secara progresif di tingkatan yang lebih tinggi, seperti unsur Api Absolut, dst. Hal ini ditandai dengan pancaran cahaya dari dalam diri orang tersebut. Di saat hal ini terjadi, kebutuhan fisik, seperti makan dan tidur semakin berkurang. Sebaliknya, kemampuan dan kapasitasnya untuk melakukan berbagai aktifitas justru meningkat secara kuantitatif dan kualitatif.

Untuk itu, kita semua memancarkan frekuensi-frekuensi Sattva, Raja atau Tama, tergantung pada komponen non-fisik mana yang lebih dominan. Semakin banyak komponen Sattva di dalam diri kita, semakin baik kepribadian kita, semakin tinggi keberhasilan yang berkesinambungan dan kepuasan dalam karir, hubungan serta kehidupan kita. Komponen Sattva dapat ditingkatkan melalui praktik spiritual bersamaan dengan memisahkan diri kita dari pengaruh-pengaruh Raja dan Tama sebanyak mungkin. Hanya dengan begitu, maka siapapun kita baru akan seimbang lahir dan batinnya. Yang pada akhirnya akan membahagiakan kehidupan kita sendiri.

energi kosmik 1

Tapi, saat ini peningkatan kadar komponen Raja dan Tama di muka bumi ini kian memprihatinkan. Akibatnya dunia lalu mengarah pada semakin maraknya keserakahan, peperangan, aksi teror, perzinahan, korupsi, perusakan alam dan bencana alam. Peningkatan Raja dan Tama di dunia juga menyebabkan ketidakstabilan dari kelima unsur kosmik yang berujung pada bencana alam yang dahsyat. Selain itu, perubahan yang buruk ini menyebabkan makhluk kegelapan (setan, demit, ilo-ilo, banaspati, prewangan, hantu gentayangan) mengambil keuntungan dari lingkungan dan orang yang dominan Tama-nya untuk menjalankan aktivitas mereka dalam merugikan masyarakat dan mengurangi Kebajikan di atas dunia ini. Kebijaksanaan kian sirna, dan keadaan ini semakin diperparah dengan semakin banyaknya orang yang tidak lagi peduli. Karena sekarang ini hal-hal yang magis justru dipandang sudah kuno, kampungan, sesat, dan syirik. Padahal ke-magisan adalah hal yang utama dalam kehidupan ini.

Ya. Ilmu pengetahuan spiritual bergantung pada hukum spiritual yang universal dan abadi untuk menjelaskan perubahan-perubahan siklus yang merupakan penyebab dari pemanasan global dan perubahan iklim. Kemudian hukum alam menyatakan bahwa apapun yang telah diciptakan akan dipelihara dan dihancurkan/dileburkan pada akhirnya. Ini merupakan hukum dari Penciptaan, Pemeliharaan dan Peleburan. Misalnya, pegunungan Himalaya telah diciptakan, kemudian akan dipelihara dan akan dihancurkan pada akhirnya. Oleh sebab itu, setiap kali ada sesuatu yang diciptakan, maka setelah periode dipelihara, dapat dipastikan bahwa pada suatu saat nanti akan dihancurkan. Hanya Sang Pencipta, yaitu Tuhan Yang Maha Esa yang tetap tenang dan tidak pernah berubah.

Sungguh, kehancuran datang dalam berbagai bentuk, bencana alam adalah salah satu bentuknya. Manusia juga memfasilitasi proses dari siklus penghancuran ini melalui perilakunya yang kadang-kadang berujung pada perang dan kehancuran, yang mana bagian ini mengambil porsi 70% dari sisanya.

Untuk itu, rentang waktu alam semesta dibagi ke dalam empat era (Catur Yuga), yaitu Satya Yuga atau Kerta Yuga, Treta Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga. Di Era pertama, yaitu era Satya Yuga, dimana komponen dasar halus Sattva merupakan yang dominan. Ketika saat itu masih terdapat dominasi Sattva yang lebih tinggi dalam lingkungan, perubahan siklusnya menjadi lebih lembut/ringan. Namun kemudian, sejalan berlanjutnya era berikutnya, dimana terdapat pengurangan dalam komponen Sattva, maka mengakibatkan perubahan-perubahan siklus dengan amplitude yang lebih tinggi. Di era Kali Yuga (masa sekarang), dimana komponen dasar non-fisik yang dominan adalah Raja dan Tama, perubahan-perubahan dalam penciptaan, pemeliharaan dan penghancuran menjadi cukup dramatis. Kehancuran umumnya disebabkan oleh peningkatan bencana alam, penyakit dan peperangan. Dan sekarang ini, kita sudah berada di tengah fase terendah dari penghancuran di salah satu siklus dalam era Kali Yuga. Fase terendah dari suatu siklus dapat memburuk jika umat manusia menambah komponen Raja dan Tama di dunia ini.

Selain itu, keempat era/zaman (Catur Yuga) tersebut membentuk suatu siklus, sama seperti siklus empat musim. Setiap siklus mini umumnya berlangsung selama 1.000 tahun. Siklus tersebut diawali dengan Satya Yuga menuju Kali Yuga. Setelah Kaliyuga berakhir, dimulailah Satya Yuga yang baru. Perubahan zaman dari Satya Yuga (zaman keemasan) menuju Kali Yuga (zaman kegelapan) merupakan kenyataan bahwa ajaran kebenaran dan kesadaran sebagai umat beragama lambat laun akan berkurang, seiring bertambahnya umat manusia dan perubahan zaman. Dimana pada akhirnya manusia akan merasa bahwa di suatu masa yang sudah tua, ketika bumi renta, ketika kerusakan moral dan pergeseran budaya sudah bertambah parah, maka sudah saatnya untuk “kiamat”.

Ya. Siklus ini akan selalu berputar yang dimulai dari zaman keemasan (Satya Yuga), dan diakhiri oleh zaman kegelapan (Kali Yuga). Setelah zaman kegelapan berakhir, dimulailah zaman keemasan yang baru, sama halnya seperti perubahan musim dingin ke musim semi, dan siklus tersebut berlangsung selama ribuan tahun. Ketika masa kegelapan berakhir, maka zaman baru akan muncul, dimana manusia-manusia yang memiliki sifat jahat sudah dibinasakan sebelumnya dan yang tertinggal hanyalah manusia yang utama saja. Mereka itu lalu memulai kehidupan baru yang lebih murni, beradab dan damai. Itulah siklus masa dari Satya Yuga menuju Kali Yuga, dan Kali Yuga akan kembali kepada Satya Yuga. Periode dari Satya Yuga sampai ke masa Kali Yuga disebut 1 Maha Yuga. Setelah Maha Yuga berlangsung selama 71 kali, maka tercapailah suatu periode yang disebut 1 Manwantara. Selanjutnya, setelah 14 Manwantara berlangsung, maka dicapailah suatu periode yang disebut Kalpa. Lalu pada saat periode Kalpa tersebut sudah dicapai, maka alam semesta dihancurkan, yang berarti kiamat. Berikutnya hanya Tuhan lah yang tahu apalagi yang akan terjadi.

Untuk itu, perlu diketahui disini bahwa karakter setiap zaman itu tentu berbeda-beda. Dan agar lebih jelasnya, maka berikut ini adalah uraiannya:

1. Era Satya Yuga
Pada masa Satya Yuga, kesadaran umat manusia akan Dharma (kebenaran, kebajikan, kejujuran) sangat tinggi. Budaya manusia sangat luhur. Moral manusia tidak rusak. Kebenaran sangat dijunjung tinggi sebagai aturan hidup. Hampir tidak ada kejahatan dan tindakan yang melanggar aturan. Maka dari itu, zaman tersebut disebut juga ‘zaman keemasan’.

2. Era Treta Yuga
Pada masa Treta Yuga merupakan zaman kerohanian. Sifat-sifat kerohanian sangat jelas tampak. Agama menjadi dasar hidup. Meskipun begitu, orang-orang mulai berbuat dosa dan penjahat-penjahat mulai bermunculan. Pada zaman ini, seseorang yang pandai, memiliki pengetahuan dan wawasan luas, serta ahli filsafat akan sangat dihormati.

3. Era Dwapara Yuga
Pada masa Dwapara Yuga, manusia mulai bertindak rasional. Penjahat-penjahat dan orang-orang berdosa bertambah. Kelicikan dan kebohongan mulai tampak. Yang diutamakan pada zaman ini adalah pelaksanaan ritual tanpa isi (hakekat). Asalkan mampu melaksanakan upacara dan ritual ibadah, maka seseorang akan dihormati. Akhir zaman Dwapara dimulai ketika Kresna meninggal, setelah itu dunia memulai zaman terakhir, Kali Yuga.

4. Era Kali Yuga
Zaman terakhir, Kali Yuga, merupakan zaman kehancuran. Banyak manusia mulai melupakan Tuhan. Banyak moral manusia yang rusak parah. Kaum pria banyak berkuasa dan wanita dianggap sebagai objek pemikat nafsu mereka. Banyak siswa berani melawan gurunya. Banyak anak durhaka dan orang-orang yang mencari nafkah dengan tidak jujur. Dan banyak lagi kepalsuan, kebohongan, kejahatan, kemunafikan dan tindak kekerasan. Pada zaman ini, uang yang paling berkuasa. Hukum dan jabatan mampu dibeli dengan uang.

Selain itu, sesuai dengan karakter pada masing-masing zaman, terdapat hal-hal yang diutamakan dan ini sangat mempengaruhi keadaan zamannya. Yaitu:

1. Dhyana (bermeditasi, mengheningkan pikiran) pada Satya Yuga.
Pada masa itu, pelaksanaan meditasi dan memusatkan pikiran kepada Tuhan yang paling diutamakan dan orang yang melaksanakannya akan dipuji-puji dan dihormati.

2. Jnyana (belajar, memiliki pengetahuan) pada Treta Yuga.
Pada masa itu, pengetahuan yang diutamakan dan pendidikan mendapat perhatian penuh. Orang-orang yang pandai dan terpelajar akan diistimewakan dan sangat dihormati.

3. Yajnya (mengadakan ritual) pada Dwapara Yuga.
Pada zaman tersebut, pelaksanaan ritual yang diutamakan. Asalkan seseorang melaksanakan ritual, maka ia akan dihormati, tidak peduli kaya atau miskin, baik atau jahat.

4. Dana (memiliki uang, memberi kekayaan) pada Kali Yuga.
Pada zaman itu, uang dan kekayaan yang paling diuatamakan. Asalkan seseorang memiliki kekayaan, maka ia akan dihormati dan berkuasa. Budi pekerti tidak lagi dihiraukan, malah orang yang pandai dan alim akan menjadi bahan ejekan. Pada masa ini, dengan uang seseorang dapat membeli kehormatan dan kedudukan.

Wahai saudaraku. Jika diibaratkan seperti Lembu Dharma (simbol perkembangan moralitas), keempat siklus Yuga (Catur Yuga) itu seperti lembu yang berdiri dengan empat kakinya, di mana setiap zaman berganti, maka kaki lembu juga ikut berkurang satu, simbol moralitas yang berkurang setiap zaman. Zaman Satya Yuga itu seperti lembu yang berdiri dengan empat kaki, moralitas mantap. Sedangkan zaman Treta Yuga seperti lembu yang berdiri dengan tiga kaki. Masa Dwapara Yuga dengan dua kaki, dan masa Kali Yuga (zaman sekarang) hanya dengan satu kaki. Pada zaman ini, moralitas tidak bisa berdiri lagi dengan mantap. Akibatnya kehidupan dunia menjadi kacau balau, tidak beradab dan menuju pada kehancurannya.

Sungguh, umat manusia dan alam/lingkungan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Namun, melalui penelitian spiritual kami menemukan bahwa manusia memberikan pengaruh terhadap iklim sampai batas 90%, sedangkan alam bereaksi buruk terhadap pengaruh manusia hanya sebatas 10% saja. Lalu kita bertanya pada diri kita sendiri, dari mana pengaruh kuat manusia terhadap alam ini berasal? dan kita bisa menemukan bahwa hal itu muncul pada tingkat fisik, psikologis dan spiritual seperti berikut:

1. Pada tingkatan fisik: 25%
Hal ini terjadi ketika terdapat penebangan hutan/pohon yang berlebihan, tumpahan minyak, emisi gas dari pabrik-pabrik, dst.

2. Pada tingkatan psikologis: 25%
Ini adalah titik dimana kita bertanya mengapa orang-orang menambah efek gas rumah kaca dan mencemari planet ini. Jawabannya terletak pada pikiran umat manusia yang selalu merasa kurang. Dan masing-masing dari setiap kita terdiri dari tiga komponen dasar halus (triguna). Permutasi yang berbeda dari ketiga komponen dasar halus ini (triguna) menentukan sifat dasar seseorang. Begitu pula kualitas-kualitas dalam kepribadian seseorang seperti kerapian, kebersihan, kejujuran, ketenangan, kemurahan hati, kerendahan hati, dan sebagainya merupakan tanda-tanda dari komponen Sattva yang dominan. Namun sayang, di dunia saat ini rata-rata orang dipenuhi dengan lebih banyak komponen Tama yang ditandai oleh gangguan-gangguan kepribadian seperti keegoisan, keserakahan, amarah, kebencian, kikir, agresivitas, sikap posesif, dll. Sehingga, karena itulah orang-orang lalu menyalahgunakan sumber daya Bumi dengan membabi buta, yang pada akhirnya berdampak buruk bagi kehidupan saat ini.

3. Pada tingkatan spiritual: 50%
Dalam hal ini, maka perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh kematangan spiritual atau tingkat pencapaian spiritualnya. Contohnya, seorang yang Suci (Saint) pada tingkat pencapaian spiritual 70% akan memiliki rasa hormat kepada semua makhluk hidup sebagai bagian dari hakekat Tuhan YME, dan akan merawat segalanya dengan penuh rasa cinta kasih, dari mahkluk hidup hingga ke benda-benda tidak hidup. Selain itu, cinta spiritual seorang Suci (Saint) kepada semua manusia akan merawat, menginspirasi dan memotivasi orang lain untuk mengembangkan sifat ekspansif yang sama di dalam diri mereka juga.

Sebaliknya, orang-orang pada tingkat pencapaian spiritual lebih rendah (misalnya 20%) akan memiliki ego yang tinggi dan dengan egois berfokus hanya untuk meraih kebahagiaan untuk dirinya sendiri; seringkali dengan mengorbankan alam, manusia dan makhluk hidup lainnya. Sebagai hasilnya, terdapat peningkatan dalam komponen Raja dan Tama di lingkungan yang juga dikenal sebagai polusi spiritual. Hantu-hantu (iblis, setan dan energi-energi negatif, dll) dari dimensi non-fisik atau spiritual memanfaatkan peningkatan komponen Raja dan Tama dalam umat manusia kini. Energi-energi negatif merasa lebih mudah untuk merasuki orang-orang yang kini lebih dominan komponen Raja dan Tama-nya dan membuat mereka berperilaku seperti binatang. Semua ini hanya menambahkan lebih banyak kerusakan di muka Bumi ini.

2. Kehadiran perang besar dan bencana alam dahsyat
Wahai saudaraku. Sekarang ini sedang terjadi pertempuran non-fisik (tak kasat mata) di antara ‘baik’ dan ‘jahat’. Ini bisa dirasakan atau bahkan dilihat oleh mereka yang sudah menempuh jalan kasuyatan. Katalisator di balik sebagian besar peristiwa-peristiwa kelam yang kita lihat di berita disebabkan terutama oleh aktivitas dari setan-setan tingkat tinggi. Mereka mengambil keuntungan dari komponen Raja dan Tama dalam umat manusia dan merasuki orang-orang tersebut. Mereka memanfaatkan gangguan-gangguan kepribadian pada orang-orang seperti kebencian kepada orang lain atau keserakahan yang bisa membuat mereka melakukan tindakan-tindakan yang sangat mengerikan terhadap sesama warganya. Semua ini semakin menambah kegelapan dunia ini. Setan-setan itu hanya bisa dilawan dengan cara-cara spiritual seperti melakukan praktik spiritual yang efektif sesuai ajaran agama. Dengan melawan energi buruk dalam diri (Raja dan Tama) dan mengalahkan setan-setan itu, barulah kehidupan di dunia ini akan kembali damai dan indah.

Ya. Sama seperti kotoran dan asap yang membuat pencemaran pada tingkatan fisik, komponen Raja dan Tama merupakan pencemaran pada tingkatan non-fisik (tak kasat mata). Sebagaimana dibahas sebelumnya, tanpa adanya praktik spiritual dan kebajikan akan meningkatkan keseluruhan Raja dan Tama dari manusia dan dengan demikian berdampak pula pada lingkungan. Karena peningkatan dalam komponen dasar Raja dan Tama berarti peningkatan dalam polusi spiritual non-fisik (tak kasat mata) di dunia. Sama seperti kita mencoba untuk membersihkan debu/kotoran dari ruangan yang kita gunakan dari waktu ke waktu pada tingkatan fisik, alam merespon kepada kebutuhan untuk membersihkan dan memperbaiki polusi non-fisik (tak kasat mata) Raja dan Tama di lingkungan.

battle of light & dark

Tapi, kenyataannya kini begitu banyak pergerakan keseimbangan yang mendukung komponen Raja dan Tama, sangat sedikit yang  tetap berpegang teguh pada Sattva. Padahal ketidakseimbangan (kelebihan) dari Raja dan Tama tersebut menimbulkan pengaruh buruk melalui suatu media dari kelima unsur Kosmik Absolut (Bumi, Air, Api, udara, Eter). Dengan bertindak melalui kelima unsur Kosmik Absolut tersebut, Raja dan Tama termanifestasi dalam meningkatnya bencana alam seperti gempa bumi, banjir, gunung meletus, badai, dll. Oleh sebab itu, ketika unsur Bumi Absolut terpengaruh, hasilnya adalah gempa bumi dan gunung meletus. Ketika unsur Air Absolut terpengaruh, hal ini dapat menimbulkan kelebihan air (seperti banjir atau salju berlebihan, yang menyebabkan terbentuknya zaman es) atau tidak adanya air (misalnya kekeringan/kemarau). Dan ketika unsur udara yang terpengaruh, maka badai dahsyat sering tercipta dan menyapu peradaban manusia.

Ya. Bencana-bencana yang disebutkan di atas dapat dilihat; maka kita menyadari keberadaan mereka. Namun, peningkatan dalam komponen Raja dan Tama memiliki dampak luas yang merugikan pada tubuh, pikiran dan intelek terhadap setiap manusia. Dampak ini, karena bersifat non-fisik dan tak kasat mata, tidak mudah dikenali dan manusia hanya akan menyadari hal itu ketika dampak ini termanifestasi sebagai perubahan iklim yang sangat nyata. Sayangnya, pada tahapan ini, perubahan yang terjadi tidak dapat dibalik.

Selain itu, kemungkinan kuat akan terjadinya peristiwa-peristiwa katastropik dengan intensitas tinggi akan terjadi, kecuali umat manusia mengubah cara-cara hidupnya dan mengadopsi gaya hidup yang lebih Sattvik dengan mengambil praktik spiritual sesuai dengan ajaran agama yang Universal. Dan peristiwa-peristiwa katastropik ini akan terjadi dalam bentuk bencana-bencana alam yang belum pernah terjadi sebelumnya dan peperangan. Kehancuran yang menyusul ini akan membersihkan planet dari orang-orang yang lebih banyak unsur Raja dan Tama dalam sifat alaminya. Cuaca aneh dan efek-efek pemanasan global akan lebih buruk sebelum menjadi baik. Kehancuran yang sudah dan akan terjadi lagi itu untuk membersihkan planet ini dari dominasi komponen Raja dan Tama. Kerusakan tersebut akan disebabkan oleh baik bencana alam ataupun perang besar (perang kosmik). Bahkan pemanasan Global saat ini, perubahan-perubahan iklim dan bencana alam yang telah mengkhawatirkan kita semua hanyalah permulaan dari suatu periode pembersihan spiritual besar-besaran untuk membebaskan dunia ini dari komponen Raja dan Tama yang sangat merugikan.

3. Kesimpulan
Wahai saudaraku. Jika kita tidak mengetahui sumber keberadaan kita, berarti kita tidak hidup sesuai dengan hukum alam, dan hal itu akan membawa masalah bagi diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus melakukan meditasi, tafakur, tadabbur, dan berpikir. Mencoba untuk menemukan sumber dari semua kecerdasan dan kekuatan ini dengan jalan spiritual. Lalu kita kembali kepadanya atau paling tidak kita menyesuaikan dengannya. Setelah itu, maka hidup kita akan menjadi lebih harmonis dengan seluruh alam semesta. Akibatnya, kehidupan ini akan terasa damai dan kita barulah menjadi bahagia! Kita lalu tidak mempunyai halangan. Kita juga tidak asal lari entah ke mana saja, tetapi kita berada dalam jalur yang benar, dengan kecepatan yang sesuai. Ini sama sekali tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Tetapi, mungkin ilmu pengetahuan saja yang tidak menjelaskan daya yang menggerakkan semua elemen.

Ya. Ilmu pengetahuan hanya membahas tentang zat, elemen-elemen yang ada dalam diri Anda, saya, dan semua benda. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan sudah mendapatkan penemuan besar. Akan tetapi, bagaimana mungkin ilmu pengetahuan bisa menggunakan metode ilmiah untuk menemukan sesuatu yang tidak berbentuk? Yaitu daya kosmik kita yang menggerakkan segala sesuatu yang biasa kita sebut sebagai Jiwa yang merupakan bagian dari daya kosmik. Dan kita harus bisa menemukannya dengan jalan olah batin (spiritual). 

energi kosmik

Karena itulah, benda-benda yang muncul berbeda-beda sesuai dengan seberapa jauh letak mereka dari pusat daya pusaran kosmik pada saat terjadinya pergerakan besar tersebut. Oleh sebab itu, kita berbeda dalam bentuk, ukuran, daya, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk bergerak serta berpikir.

Jadi, segala sesuatu akan kembali ke pusat itu dan kemudian berkembang. Jika mereka ingin berada lebih dekat, maka mereka harus lebih bijaksana, karena pusat tersebut adalah pusat kebijaksanaan. Oleh karena itu, mereka harus berkembang dan itulah alasan yang tepat untuk berevolusi. Mereka harus berevolusi, yaitu menjadi lebih bijaksana, lebih agung, lalu mereka bisa lebih dekat ke pusat, karena pusat tersebut mempunyai daya magnet yang besar, menghisap segala sesuatu masuk kembali dan kemudian mendorong mereka keluar kembali, berevolusi setiap saat.

Dan jika hal ini diabaikan, maka bencana alam terdahsyat dan perang terbesar (perang kosmik) akan segera terjadi. Ini sudah menjadi satu keniscayaan, karena sudah menjadi hukum alam yang mengikat. Tuhan tidak perlu bekerja, karena Dia hanya menentukan Hukum Universal bagi siapapun yang hidup di alam semesta ini. Siapa saja yang melanggar tentunya akan menerima hukuman-Nya.

Untuk itu, jika kita tidak mengubah cara hidup kita pada tingkatan mental dan spiritual (sejalan dengan langkah-langkah fisik seperti mengurangi emisi karbon), maka tidak dapat dihindari bahwa kita akan terus mengalami efek-efek dari pemanasan global (dampak pemanasan global), bencana alam yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan perang katastropik selama dekade berikutnya. Hanyalah praktik spiritual yang dapat mentransformasi pikiran manusia yang tercemar kepada yang murni. Yang inilah sebenarnya kesejatian diri manusia.

4. Penutup
Wahai saudaraku. Terobosan yang berkaitan dengan konsep fisika moderen memberikan contoh bagus yang lain dari keselarasan antara ilmu pengetahuan dengan kerohanian (spiritual). Ketika ilmu pengetahuan tentang molekul dikembangkan, manusia mulai mengubah pandangannya terhadap objek materi di dunia ini. Mereka menyadari bahwa berbagai benda padat sebenarnya tidaklah benar-benar padat dan segala benda di dunia ini dibentuk dari berbagai molekul dengan ruang besar di antara mereka. Ketika ilmu fisika berkembang lebih maju, orang-orang menyadari bahwa molekul dalam alam semesta tak terhitung banyaknya, tetapi molekul tersebut mempunyai jenis atom yang dapat dihitung yang terdiri dari partikel dasar seperti elektron, proton, neutron, dan lain-lain.

Lalu, pandangan manusia terhadap dunia materi kembali berubah drastis ketika mekanika kuantum diperkenalkan pada permulaan abad ke-20. Mekanika kuantum memandang bahwa partikel dasar dari dunia materi bukanlah suatu “partikel,” tetapi suatu gelombang atau energi dalam berbagai tingkat getaran. Benda-benda seperti cangkir dan mangkuk yang kita lihat dan rasakan itu sebenarnya tidak ada; benda itu hanya berupa energi dalam tingkat getaran tertentu yang membuat kita merasa sebagai sebuah cangkir dan mangkuk. Singkatnya, semua benda di dunia ini adalah khayalan dan hanya terdiri dari energi yang bergetar.

Penemuan besar ini sesuai dengan ajaran agama bahwa dunia kita ini adalah khayalan. Mekanika kuantum juga sesuai dengan ajaran spiritual yaitu segala sesuatu diciptakan dari Suara Agung (Tao, Firman, atau Getaran). Semua alam, dari yang tinggi hingga yang rendah, terhubungkan antara satu dengan yang lainnya melalui Suara ini. Semua benda di alam semesta ini, baik batu, tanaman, atau manusia, juga bergetar pada frekuensi mereka masing-masing. Suara ini ada ketika penciptaan dimulai. Ketika Suara ini muncul, barulah segala sesuatu muncul. Suara ini adalah firman Tuhan, Suara ini adalah penciptaan. Segala sesuatu di dunia ini disatukan oleh Suara ini.

Untuk itu. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban, kita seharusnya juga mengembangkan spiritualitas. Jika tidak, maka kita tidak akan seimbang, kita pun berada dalam bahaya dan hal itu akan menghancurkan diri kita sendiri. Perkembangan ilmu pengetahuan, jika tidak dikendalikan oleh kekuatan dan pemahaman spiritual, itu bagaikan sebilah pisau di tangan seorang anak kecil. Ia bisa saja melukai dirinya sendiri atau membunuh anak yang lain. Sangat berbahaya.

Akhirnya, semoga semakin banyak orang yang peduli atau mau belajar memahami tentang kesejatian dirinya sendiri. Terus belajar dan tidak pernah merasa sudah punya ilmu yang paling tinggi. Ingatlah! Masih banyak yang belum Anda ketahui. Karena itulah jangan merasa paling hebat atau paling benar sendiri. Tetaplah bersikap rendah hati, teruslah mengembangkan spiritual dalam diri dan selalu mempersiapkan diri sebaik mungkin. Karena mungkin saja tidak lama lagi akan ada bencana dahsyat atau perang kosmik yang bertujuan untuk memurnikan kehidupan dunia ini. Dan itu semua bisa terjadi karena komponen Raja dan Tama memang sudah menguasai kehidupan dunia ini.

Jambi, 11 Februari 2016
Mashudi Antoro (Oedi`)

Referensi:
* https://id.wikipedia.org/wiki/Yuga
* http://www.kontaktuhan.org/meditasi/meditasi_35_sains_spiritual.htm
* https://www.spiritualresearchfoundation.org/indonesian/spiritualresearch/spiritualscience/sattva_raja_tama
* http://www.spiritualresearchfoundation.org/indonesian/permasalahan-global/dampak-pemanasan-global/

 

4 thoughts on “Keseimbangan Diri Manusia dan Pengaruhnya Terhadap Bencana Alam dan Perang Kosmik

    […] Filed under: Info Terbaru, Tulisan_ku Source link […]

    […] Wahai saudaraku. Di karenakan jalan atau cara dalam menguasai ilmu Sastra Jendra ini berkedudukan pada tingkat hidup tertinggi, maka ilmu ini juga dinamakan sebagai “Benih seluruh alam semesta”. Itu terjadi karena ilmu puncak ini bisa dibilang juga sebagai kunci untuk dapat memahami isi dari Rasa Sejati. Dimana untuk bisa mencapainya, maka diperlukan sesuatu yang luhur dan perbuatan yang mutlak sesuai dengan kebenaran Tuhan. Silahkan juga baca artikel berikut: Proses penciptaan dalam kebatinan jawa dan Keseimbangan diri manusia dan pengaruhnya terhadap bencana alam dan perang kosmik. […]

    […] Ya. Kehidupan di Bumi ini sudah menjelang pergantian zaman. Tidak lama lagi akan ada masa peningkatan dari dimensi ketiga menuju ke dimensi keempat bahkan kelima. Karena itu, Bumi pun sedang menghadapi bahaya “katalis matik”, sebab telah terjadi kerusakan-kerusakan pada medan magnetik yang mengitari Bumi. Hal ini disebabkan oleh getaran-getaran (aura) negatif yang dipancarkan oleh diri manusia selama berabad-abad. Untuk lebih jelasnya baca artikel ini: Keseimbangan diri manusia dan pengaruhnya terhadap bencana alam dan perang kosmik. […]

    […] Sungguh, banyak dari manusia yang masih saja belum mengetahui hakikat dirinya. Jika ada dari mereka yang bisa, itu hanya mengetahui tentang sedikit saja dari rahasia kehidupan dunia yang melingkupinya. Itu terjadi karena manusia memiliki keterbatasan dalam berfikir, menafsirkan, serta berimajinasi, dan dirinya sendiri merupakan satu bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan yang ingin dia ketahui hakikatnya. Sehingga tiada alasan bagi setiap diri manusia untuk tidak terus belajar, menggali dan memohon petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Dzat Yang Menciptakan semua makhluk, untuk mendapatkan jawaban tentang siapakah diri sejatinya itu. Dan jika ia telah menganggap bahwa dirinya itu memang sempurna, maka ia harus bisa membuktikan terlebih dulu kesempurnaannya itu. Misalnya dengan membuktikan bahwa ia tidak pernah berbuat jahat dan melakukan kerusakan di muka Bumi ini, atau tidak pernah bertindak yang tidak sesuai dengan hukum alam universal yang telah Tuhan tetapkan. Tanpa bisa membuktikan itu, maka seseorang hanya bisa dikatakan sebagai yang mengaku-ngaku saja. Dan itu tidak lebih baik dari pada berdusta. Silahkan baca tulisan berikut: Menjaga keseimbangan hidup demi keselamatan diri atau Cara menjadi pemenang makna dibalik bunyi nang ning nung neng gung atau Keseimbangan diri manusia dan pengaruhnya terhadap bencana alam dan perang kosmik. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s