Persamaan Hak Wanita di Barat: Benarkah Bisa Membuat Mereka Bahagia?

Posted on Updated on

wanita sholehahWahai saudariku. Melanjutkan tulisan sebelumnya yang berjudul Risalah Wanita: Ciptaan yang Sangat Mulia, maka di dalam tulisan ini kita masih membicarakan tentang kesejatian kaum wanita. Pembahasan ini penting, karena akan sangat berpengaruh pada cara pandang manusia dalam kehidupan ini, khususnya yang bisa mendatangkan kebahagiaannya. Dan wanita itu adalah tiangnya negara, juga sumber dari kejayaan sebuah bangsa. Karena itulah harus ada perhatian khusus tentang hal ini, dari semua pihak.

Untuk mempersingkat waktu, mari ikuti uraian berikut ini:

Wahai semuanya. Adakalanya para wanita yang hidup di Barat seperti di kota Paris, London, New York atau Moskow tidak mengetahui hakikat kemuliaan yang diraih oleh wanita Muslim di neger-negeri Timur. Selain letak geografisnya yang jauh, maka apabila ada berbagai media informasi yang menyajikan sebagian berita tentang kondisi wanita yang hidup di Timur, maka sebenarnya media tersebut hanya memuat gambaran yang tidak lengkap, cacat dan tidak menceritakan hal yang sebenarnya. Mereka bahkan terlibat dalam konspirasi global yang dibiayai oleh kalangan tertentu, yang memiliki agenda khusus atau punya sejuta kepentingan politik dan ekonomi untuk itu.

Namun, ketika wanita dari negeri Barat datang ke negeri-negeri yang berada di Timur yang Muslim dan melihat keadaan kaum wanita disana dari dekat, tentulah ia akan mengetahui hakikat sebenarnya, yang selama ini tidak mereka ketahui. Ia juga dapat merasakan langsung sentuhan kebahagiaan yang dihayati oleh wanita Muslim disana, yaitu kebahagiaan yang tidak diperoleh oleh kaum wanita yang tinggal negeri Barat.

Inilah fakta kehidupan sosial di hampir semua negeri Barat, dan memang ini pula yang pernah dirasakan oleh seorang hakim wanita dari Perancis yang bernama Christine, yang kisah pengalamannya itu pernah diceritakan kepada kita oleh Yasir `Abdu Rabbihi yang dimuat di majalah Yasmin.

Wahai saudariku, maukah Anda membaca kisah nyata ini yang pasti akan menarik untukmu?

Sejarah mencatat bahwa selama dua abad lebih kaum wanita di Perancis melakukan perjuangan yang sengit terhadap kaum pria, negara dan undang-undangnya. Kaum wanita menjumpai bahwa kaum pria disana menguasai berbagai kedudukan penting di pemerintahan, maka kaum wanita menuntut persamaan hak dengan kaum pria. Kaum wanita juga menjumpai bahwa kaum pria dapat bekerja dan memperoleh penghasilan diberbagai bidang perdagangan, perekonomian dan politik, maka kau wanita pun mengangkat suaranya dan berjuang dengan gigihnya menuntut persamaan hak. Selanjutnya, kaum wanita telah menjumpai kaum pria menjadi pilot pesawat terbang dan mengendarai mobil, maka kaum wanita lalu berteriak di hadapan kaum pria seraya mengatakan; “Mengapa kami tidak boleh menjadi pilot dan menyetir mobil?”

Women's_March_on_Versailles

Akhirnya, pemerintah Perancis memberikan semua permintaan yang dituntut oleh kaum wanita di Perancis secara bertahap. Sekarang kaum wanita di Perancis sudah hidup dalam naungan undang-undang yang menyakamannya dengan kaum pria. Sehingga pekerjaan apapun kini tidak hanya di monopoli oleh kaum pria saja, bahkan kaum wanita Perancis menuntut pula agar diperbolehkan menduduki jabatan dan memang mereka sudah berhasil meraihnya. Sekarang ini seseorang akan menjumpai di Perancis bahwa wanitanya ada yang menjadi menteri, wakil parlemen, dokter, hakim, perwira polisi, supir taksi, kepala pabrik, petani, peternak, dan masih banyak lagi bidang lainnya. Semua karena telah ditetapkannya persamaan hak yang sudah diatur dalam undang-undang di negara ini.

Lalu disini, apakah wanita Perancis memang dapat merealisasikan kebahagiaannya?

Ini adalah satu contoh nyata, Christine adalah seorang gadis Perancis yang manis, lahir di Paris dari seorang ayah berkebangsaan Perancis dan demikian pula ibunya yang berasal dari Marsaielle. Karena dia adalah anak pertama, seluruh keluarga pun memperhatikan pendidikannya, sehingga ia berhasil lulus dan meraih galar sarjana di fakultas hukum. Dan sebagai seorang sarjana hukum, maka sudah keharusan baginya untuk bekerja di kantor salah seorang hakim atau pengacara. Lama-kelamaan dia bisa naik pangkat sehingga sudah saatnya bagi Christine untuk bekerja sendiri di kantor yang khusus baginya.

Lebih lengkapnya Christine menceritakan kisahnya berikut ini:
“Aku bangun pukul enam pagi meskipun masuk kerja mulai jam sembilan. Lalu aku mandi dan minum kopi dengan tergesa-gesa. Selanjutnya, aku berlari-lari kecil dari rumah menuju ke halte metro yang akan mengantarkanku melalui 26 halte menuju ke kantor tempat aku bekerja. Perjalanan memakan waktu lebih dari satu jam. Sesampainya di kantor, bossku masih belum datang. Aku pun terlebih dulu membaca koran sembari mendengarkan siaran radio yang memberitakan sepak terjang kaum hartawan sampai bossku datang, yang biasanya selalu dengan wajah yang murung. Selanjutnya, dia memberikan perintah-perintahnya kepadaku dengan serius, lalu aku segera melaksanakannya, baik yang menyangkut keputusan maupun yang naik banding dalam bermacam-macam kasus yang tidak ku pedulikan lagi pihak mana yang akan menang, terlebih lagi pihak yang kalah. Sewaktu istirahat tengah hari, aku langsung menuju ke rumah makan rakyat, lalu aku menyantap beberapa suap makanan tanpa merasakan kelezatan apapun. Setelah itu aku kembali ke kantor untuk mempelajari beberapa kasus yang ditugaskan oleh bossku untuk ku selesaikan. Pada petang harinya aku kembali naik metro dalam perjalanan yang melalui 26 halte. Ku tabahkan diriku saat ada seorang laki-laki mabuk yang mengajakku untuk makan malam atau lelaki yang mengajukan kepadaku berbagai pertanyaan yang dungu dengan maksud merayuku. Terpaksa semuanya itu ku jawab meskipun aku telah memahami niat busuk yang dimaksud olehnya.

wanita karir stress

Aku sampai di rumah dalam keadaan lelah, lalu aku menonton televisi tanpa ada rasa tertarik kepada siaran manapun yang ditayangkan. Sesudah itu aku makan malam. Setelah kantuk menyerangku, aku pun langsung tidur. Pada pagi harinya adegan itu kembali berulang hingga tibalah liburan yang lamanya dua hari, tetapi apa yang harus ku lakukan? Di rumah banyak juga pekerjaan yang cukup berat. Pada hari Sabtu aku harus membeli keperluan rumah untuk sepekan mendatang dan merapikan sebagian barang-barang. Pada hari Minggu aku harus mencuci pakaianku yang kotor karena dipakai sepekan dan juga menyapu rumah dan membersihkannya. Pekerjaan lainnya adalah di kebun rumahn, pohon yang ini harus dibersihkan dahan-dahannya dan pohon bunga yang itu harus diberi pupuk khusus dan yang lainnya lagi adalah pohon baru yang harus ditanam dan masih banyak lagi pekerjaan kebun lainnya.

Lalu kebun yang kurawat itu tiada satupun yang menghasilkan buah dan tiada setangkai pun mawar yang muncul merekah dan tiada bunga bakung pun yang tumbuh. Kehidupan memaksakan diriku selamanya untuk berlari dan aku bertanya-tanya mengapa? Ternyata tiada jawaban yang bisa ku dapatkan. Aku memandang diriku di cermin, ternyata ku jumpai diriku cukup cantik, tetapi tiada seorang lelaki pun yang datang melamarku atau mengawiniku. Lalu kuberikan kepadanya semua yang dimiliki oleh wanita, seperti kecintaan, kasih sayang dan pemeliharaan. Akhirnya aku mengetahui bahwa seorang lelaki hanya mau mengawini wanita yang memiliki spesifikasi feminine, halus dan lembut. Adapun diriku, sebagai seorang wanita karir, tidak memiliki itu semua, meskipun aku dapat menghasilkan sejumlah uang. Akan tetapi, apakah uang dapat memberikan kebahagiaan?”

Christine melanjutkan kisahnya: “Pada tahun yang lalu aku memperoleh liburan panjang dan aku bertekad untuk mengunjungi negeri-negeri Timur Arab, tetapi sebagian dari teman-teman wanitaku menasihatiku untuk tidak melakukan petualangan yang tidak menjamin hasilnya ini. Kata mereka; “Bagaimana engkau akan pergi mengunjungi negeri-negeri yang terbelakang yang kaum wanitanya dianggap sebagai budak perempuan di tangan lelaki dan lelaki adalah tuan dan penguasa di rumah? Demikianlah kata mereka kepadaku. Selanjutnya, mereka juga mengatakan: “Bagaimana engkau akan pergi ke negeri-negeri yang kaum wanitanya sama sekali tidak mengenal hak-haknya barang sedikitpun? Bahkan wanita tidak dapat melihat, kecuali hanya suaminya saja yang selalu berada di depan matanya?” Akan tetapi aku telah bertekad untuk pergi sejak semula, maka akhirnya aku pun pergi juga, kata Christine.

keluarga harmonis 1

keluarga harmonis

Selama tujuh pekan kuhabiskan waktuku untuk mengunjungi Beirut, Damaskus, Amman, dan Baghdad, dan sekarang aku kembali ke Paris. Tetapi pengalaman apa sajakah yang telah ku jumpai? Disana telah ku jumpai seorang lelaki pergi ke tempat kerjanya sejak pagi hari. Dia bekerja dengan susah payah dan terus bekerja hingga petang harinya. Ia pulang ke rumah menemui istrinya dengan membawa roti; beserta dengan roti adalah rasa cinta, kasih sayang, dan pemeliharaannya terhadap istri dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Perempuan di negeri-negeri tersebut tidak punya pekerjaan selain mendidik generasi penerusnya dan melayani suami yang dicintainya atau paling tidak lelaki yang menghormatinya. Di belahan dunia Timur wanitanya bisa tidur nyenyak, bermimpi dan dapat merealisasikan apa yang diinginkannya, karena suami telah menyediakan untuknya roti, cinta, ketenangan dan kesenangan. Sedang di negeri kami (Barat/Eropa), kaum wanita berjuang untuk menuntut hak persamaannya dengan kaum pria. Akan tetapi, apa yang dapat diraihnya?

Lihatlah wanita di belahan Barat Eropa, maka ia tidak terlihat di mata Anda kecuali bagaikan komoditi. Seorang suami berkata kepadanya; “Bangunlah untuk mencari rotimu sendiri, karena engkau telah menuntut persamaan hak, maka selama aku bekerja, engkau pun harus ikut bekerja seperti diriku untuk sama-sama mencari roti”. Karena jerih payah, kelelahan, dan kerja keras, wanita pun lupa kepada kefemininannya dan lelaki (suami) lupa kepada teman hidupnya, maka hidup yang dijalaninya terasa hambar tidak punya arti dan tujuan. Seorang wanita di dunia Barat terpaksa harus bekerja untuk mencari rotinya sendiri meskipun berada di rumah keluarganya atau rumah suaminya. Wanita di negeri Barat adakalanya menuntut persamaan hak, tetapi merugi karena kehilangan kefemininannya.”

Wahai saudariku. Setelah membaca kisah hidup Christine di atas, apakah Anda masih perlu dengan persamaan hak? Apakah Anda juga masih ngotot kalau semuanya itu harus di sama-ratakan? Benarkah begitu wahai semuanya? Terlebih mengenai hak antara kaum wanita dan pria, mengapa banyak dari kalian yang masih saja bingung? Bukankah setiap pribadi itu telah diciptakan dengan membawa peran dan tugasnya masing-masing? Keduanya harus saling melengkapi dan tidak boleh ada yang menguasai sepenuhnya atau mengurangi sebagiannya. Semuanya harus tetap pada posisi dan porsinya masing-masing, jangan pula diubah-ubah sesuka hati. Dengan begitu, kehidupan di dunia ini pasti akan seimbang dan mensejahterakan semua pihak.

Untuk itu, di dalam ajaran Islam semuanya menjadi terang benderang. Islam pun sudah mengatur secara rinci tentang peran antara kaum pria (suami) dan wanita (istri). Keduanya punya peran yang sangat penting dalam membangun sebuah keluarga yang harmonis. Tidak ada yang boleh di lecehkan disini atau dikurangi perannya, karena baik pria maupun wanita memiliki tugas dan kewajiban yang sangat penting. Bahkan menurut pandangan Islam, maka khususnya kaum wanita (istri) itu telah menduduki posisi yang sangat istimewa. Ia adalah sumber dari kebahagiaan keluarga dan pencetak generasi yang cerdas dalam membangun bangsa yang akan terus maju. Tentunya disini adalah wanita yang cerdas dan juga shalihah.

Tapi, dengan prinsip yang selalu menyamaratakan hak bagi setiap individu, maka hal ini justru akan menjadi sumber dari banyak masalah. Dan sebagaimana yang telah dikisahkan oleh Christine di atas, maka jika kaum wanita harus sama rata dengan kaum pria, maka sesungguhnya ia telah membuang kebahagiaannya sendiri. Kaum wanita harus kembali ke fitrah dirinya yang sesungguhnya, dimana mereka memang diciptakan untuk itu. Mereka harus mengerjakan tugas utamanya (kewajiban) terlebih dulu baru yang sunnah. Dan di antara tugas yang wajib sekaligus utama disini adalah sebagai istri atau ibu yang shalihah di dalam rumah tangganya – ini sulit terjadi jika si wanita terlalu lama berada di luar rumah (wanita karir yang sibuk). Dengan begitu niscaya keluarganya akan harmonis, dan dengan keluarga yang harmonis inilah, maka kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik pun bisa terwujud. Dimana pada akhirnya akan bisa membangkitkan kejayaan bagi bangsa dan agamanya sendiri.

Semoga banyak dari kaum wanita saat ini yang sadar diri dan mau segera kembali kepada fitrah dirinya yang sesungguhnya – ingat! disini bukan berarti seorang wanita akan di kekang hak dan kebebasannya. Jangan egois, karena hal ini penting dan mendesak demi kebaikan bangsa dan dunia ini. Dan sekali lagi perlu saya tegaskan, bahwa wanita itu adalah tiangnya negara. Jika wanitanya baik (sesuai kodrat dan fitrahnya), maka baiklah sebuah negara. Sebaliknya, jika kondisi wanitanya sudah rusak (tidak sesuai kodrat dan fitrahnya), maka rusaklah sebuah negara, bahkan dunia ini.

Jambi, 05 Februari 2016
Mashudi Antoro (Oedi`)

Referensi:
* Buku Risalah Mukminah; Jangan Teperdaya, karya: Muhammad Rasyid Al-`Uwaid, penerbit: IBS (Irsyad Baitus Salam) Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s