Risalah Wanita: Ciptaan yang Sangat Mulia

Posted on Updated on

risalah wanita 1Wahai saudaraku. Mari kita membahas tentang kaum wanita dan tentunya disini mengenai wanita yang shalihah. Mengapa begitu? karena wanita shalihah merupakan sebaik-baik dan semulia-mulia gelar yang diberikan oleh Tuhan kepada kaum Hawa AS. Titel atau gelar itu bukan hanya sekadar nama dan kebanggaan, tetapi sebagai buah dari perjuangan panjang dalam kehidupan seorang wanita baik-baik.

Ya. Banyak wanita yang mendambakan gelar itu, tetapi sungguh sangat sedikit yang sampai kepada tujuan yang dirindukan. Sebab, perjalanan panjang yang harus ditempuh oleh seorang wanita shalihah mengharuskannya untuk melalui jalan yang terjal, berkelok, berbatu, naik bukit dan turun gunung, bahkan penuh onak dan duri. Sampai-sampai pada saat ini sangat jarang dijumpai ada seorang wanita yang shalihah, tidak hanya sebatas penampilannya, tapi lebih kepada perilaku yang anggun dan sesuai dengan kodratnya.

Karena itulah, gerakan dan aktivitas yang mengarah kepada emansipasi wanita, persamaan hak antara pria dan wanita, serta semua yang katanya mengatasnamakan kemajuan zaman, telah banyak bermunculan di tengah-tengah kehidupan kita. Dan seiring itu pula, maka pada masa sekarang gaya hidup dan pemikiran moderen sekitar wanita banyak di propraganda oleh banyak pihak yang berkepentingan untuk itu – ujung-ujungnya tentu hanya demi uang. Semuanya menggiurkan dan memperdaya kita, bahkan tanpa kita sadari telah mengeluarkan kita dari fitrah Islami yang sebenarnya akan mengantarkan kita pada kemuliaan.

Padahal Tuhan telah menciptakan laki-laki dan wanita pada fitrahnya masing-masing. Siapa yang menetapi fitrahnya, maka ia akan menemukan kebahagiaan dan keselamatan abadi, di dunia dan akherat. Karena itulah, pada saat seperti sekarang inilah peran dan kehadiran Islam dengan segala keagungan dan kemuliaannya menjadi sangat signifikan dan mendesak. Dan memang benar, bahwa solusi yang ditawarkan oleh ajaran Islam untuk mengatasi segala permasalahan tersebut cukup mengejutkan para pakar dibidang apapun. Bahkan sebenarnya semua permasalahan yang muncul sekarang ini sudah diprediksikan sejak 14 abad yang lalu. Karena itulah, maka sejak dulu sudah ada pula solusinya menurut Islam.

Allah SWT telah berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar-Ruum [30] ayat 21)

Wahai saudariku. Melalui tulisan ini saya harus mengingatkan kepadamu agar berhati-hati dan jangan mudah teperdaya. Kembalilah wahai kaum Mukminah, kembalilah pada fitrah dirimu yang sejatinya sangat mulia. Kembalilah dengan menjadikan tuntunan Islam sebagai pedomannya. Niscaya kalian akan menemukan kebahagiaan dunia dan akherat. [baca: Keutamaan kaum wanita: Menuju keshalihan, Sikap Islam terhadap kaum perempuanJilbab dan aurat Muslimah]

Allah SWT telah berfirman:

“Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agamamu” (QS. Al-Maidah [5] ayat 3)

Sungguh, kaum wanita memiliki peran yang sangat mulia. Sesuai dengan fitrah dan naluri yang telah diciptakan oleh Allah SWT dalam dirinya, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa wanita itu adalah tiangnya negara. Sebab apabila kaum wanitanya baik, maka menjadi baiklah bangsa itu. Sebaliknya, jika wanitanya rusak, maka akan rusaklah negaranya. Dan hal ini telah terbukti benar, karena studi penelitian masa kini sudah membuktikan bahwa bila kaum wanita ditempatkan pada posisi dan proporsi yang sebenarnya sesuai dengan fitrah yang telah diciptakan Tuhan dalam dirinya, maka akan banyaklah keajaiban yang tidak bisa dicapai oleh kaum pria. Demikianlah karena sesungguhnya yang mampu melahirkan generasi unggul dan baik itu hanyalah kaum wanita yang beriman, shalih dan memahami peran dan fungsinya sebagai wanita sejati.

risalah wanita 7

Untuk membuktikan kebenaran ini, maka terdapat bukti paling akurat yang menunjukkan bahwa selama 50 tahun kaum wanita telah melakukan perjuangannya untuk mencapai kesamaan derajat dalam segala bidang agar setara dengan kaum pria. Ironisnya, sesudah mereka berhasil mendudukan kaum wanita sama rata dengan kaum pria, mereka justru merevisi kembali semua eksperimen yang telah dijalaninya selama beberapa dasa warsa itu. Dan kita bisa mengambil contoh dari pimikiran para pakar dan tokoh dunia Timur ataupun Barat untuk membuktikannya, bahwa betapa naifnya usaha mereka itu bila dibandingkan dengan konsep Islam yang bersumber dari Sang Maha Pencipta manusia.

Sebagai contoh, terdapat seorang tokoh politik sekaligus presiden yang terkenal dari dunia Timur yang sosialis, yaitu Mikhail Gorbachev. Suatu ketika sebagai presiden Uni Soviet ia pernah mencetuskan untuk mereformasi pemahaman di negaranya. Dengan istilah yang kemudian dikenal dengan Perestroika, pada intinya Gorbachev ingin mengembalikan kaum wanita pada peran mereka yang sebenarnya, yang mereka diciptakan untuk itu. Dalam hal ini Gorbachev pernah berkata:

“Sepanjang tahun-tahun yang dialami oleh kehidupan sejarah perjuangan kita yang cukup berat, kita masih tidak mampu untuk memperhatikan hak-hak khusus bagi wanita dan kebutuhannya yang dituntut oleh perannya sebagai seorang ibu rumah tangga dan tugas pengajaran yang harus diberikan olehnya kepada anak-anaknya”

Wahai saudaraku. Perhatikan kalimat luarbiasa itu, ini sebuah ungkapan yang datang bukan dari seorang syekh Muslim untuk mengingatkan kekeliruan yang di lakukan oleh masyarakatnya karena menjauhkan wanita dari tugas yang sesuai dengan fitrah kejadiannya. Ungkapan ini bukan pula keluar dari seorang agamawan Nasrani atau Hindu atau Buddha yang telah mengetahui latar balakang alpanya wanita dari rumah yang berakibat telah menimbulkan berbagai macam problem sosial yang serius. Tapi ungkapan ini justru berasal dari seorang pemimpin negara komunis terbesar di dunia. Dan semua itu ia sampaikan setelah mengalami kegagalan yang pahit dalam eksperimennya, yaitu mengeluarkan wanita dari rumahnya untuk bekerja seperti kaum laki-laki dengan alasan bahwa tinggal di rumah baginya sama dengan pengangguran.

Padahal menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik itu bukanlah hal yang mudah. Bagi saya pribadi justru sangat sulit dan tidak semua orang bisa menunaikannya. Lihatlah, sejak subuh hari seorang ibu yang baik sudah harus bekerja menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Setelah itu, setelah suaminya berangkat kerja dan anak-anaknya ke sekolah, seorang ibu akan melanjutkan pekerjaannya, seperti mencuci piring, mencuci baju, menyetrika, membersihkan dan menata rumah, belanja kebutuhan dapur ke pasar, memasak menu makan siang dan malam, mendidik anak-anaknya tentang berbagai norma dan moral kehidupan, mengajari anak-anak membuat PR, hingga melayani suami di kamar tidur. Begitulah beratnya pekerjaan seorang wanita di rumah, karena bahkan terkadang ia sampai tidak sempat mengurus dirinya sendiri. Ia lebih mempedulikan dan mendahulukan suami dan anak-anaknya karena alasan cinta dan kasih sayang. Tidak mudah berada dalam posisi wanita seperti ini, terlebih bagi mereka yang tidak sabar dan ikhlas. Tapi yakinlah, semua kerja keras dari seorang wanita yang tulus sebagai ibu rumah tangga yang benar akan menghasilkan keluarga yang harmonis. Lalu dari keluarga yang harmonis inilah, harapan peradaban yang gemilang akan nyata di depan mata. Sehingga jangan pernah menyepelekan peran penting dari seorang wanita. JANGAN PERNAH! karena bisa kuwalat. [baca: Ibu, sosok yang sangat berharga]

risalah wanita 4

Untuk itu saudaraku. Apakah engkau tidak merenungkan pengakuan dari seorang Gorbachev di atas, yang secara transparan mengakui kegagalan sistem komunis dan para pemimpin Russia selama kurun waktu lebih dari setengah abad untuk memberikan perhatian secara khusus bagi hak-hak wanita dan segala kebutuhannya sebagai seorang ibu rumah tangga dan tugas mendidik atau mengajari anak-anaknya? Dan hal ini tidak sampai disitu saja, karena di dalam bukunya yang terkenal dengan judul Perestroika, Gorbachev melanjutkan pengakuannya tentang pelanggaran mereka terhadap hak-hak kaum wanita. Untuk itu, ia mengatakan;

“Manakala wanita dipekerjakan di bidang penelitian ilmiah, proyek-proyek pembangunan dan industri, serta ikut dalam aktivitas inovasi di segala bidang, berarti mereka tidak punya waktu lagi untuk menunaikan kewajiban sehari-harinya, seperti menunaikan pekerjaan rumah tangga, mendidik anak-anaknya, dan menciptakan nuansa kehidupan rumah tangga yang ideal. Sesungguhnya kita menemukan bahwa banyaknya problematika yang menghambat kita, baik menyangkut sepak terjang anak-anak dan para pemuda, sumber daya manusia kita, pendidikan kita, maupun kemampuan produksi, biang keladinya secara detail bersumberkan dari kacaunya hubungan kekeluargan dan adanya sikap acuh tak acuh terhadap tanggungjawab keluarga. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi dari timbulnya pertentangan antara keinginan kita yang tulus dan legitimasi politik yang memperjuangkan persamaan hak antara kaum wanita dan kaum pria dalam segala hal. Sekarang di era Perestroika ini, kita mulai berupaya untuk menanggulangi kondisi kita seperti ini, dan karena alasan yang sama sejak sekarang kita mulai melakukan perdebatan yang sengit melalui surat-surat kabar, organisasi-organisasi kemasyarakatan (LSM), dan juga di tempat kerja untuk memuluskan jalan bagi wanita agar kembali pada tugas kewanitaannya secara murni” 

tokoh komunis, mikhail gorbachev

Wahai semuanya. Memperhatikan ungkapan dari Gorbachev di atas, dimanakah orang-orang yang menggembar-gemborkan apa yang mereka sebut dengan istilah emansipasi wanita? Dimanakah orang-orang yang menyuruh keluar wanita Muslim dari rumahnya dan menjauhkan antara dia dengan prinsip-prinsip agama dan fitrahnya? Hendaknya mereka itu mau membaca dan mendengarkan ungkapan ini. Ungkapan yang jelas-jelas telah membela kaum wanita dari segala macam bentuk eksploitasi. Dan seandainya ungkapan ini bukan keluar dari seorang Gorbachev yang komunis, tentulah mereka akan menudingnya sebagai seorang yang feodalis dan orde lama.

Ya. Sesungguhnya Gorbachev pun telah mengetahui kekeliruan ini, yaitu kekeliruan dalam membebankan wanita untuk melakukan pekerjaan diluar fitrah dan kodratnya. Untuk itu ia mengatakan; “Disana ada masalah lain, yaitu mempekerjakan wanita dibidang pekerjaan berat lagi kasar yang membahayakan kesehatannya. Padahal keadaan ini merupakan warisan peninggalan masa perang yang mengakibatkan kita banyak kehilangan kaum pria dalam jumlah yang sangat besar. Sehingga kita mengalami kondisi kekurangan tenaga kerja, yang grafik penurunannya diberbagai posisi dan di seluruh bidang produksi begitu tajam. Sesungguhnya kita sekarang mulai menanggulangi masalah ini dengan kerja keras yang penuh dengan kesungguhan”

Ungkapan dari Gorbachev di atas sejurus dengan apa yang pernah disesalkan oleh seorang mantan menteri keuangan negara Jepang, Reotaro Hashimoto. Ia pernah menyesalkan kebijakan pemerintahnya yang menganjurkan secara gencar kepada kaum wanita Jepang untuk melanjutkan studi mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini secara tidak langsung telah menganjurkan kepada kaum wanitanya agar menikah di usia yang tidak layak lagi bagi mereka untuk memproduksi bibit manusia yang unggul. Demikian itu karena menurut prediksinya, bila rencana ini dibiarkan terus berlanjut, niscaya dalam 20 tahun kedepan Jepang akan menjadi negara yang dihuni penuh oleh para kakek nenek dan tidak akan mampu lagi menghadapi saingan dengan negara lain pada saat sektor perindustrian Jepang memerlukan tenaga kerja yang muda-muda lagi energik dan sedang berada di puncak kekuatan dan kreatifitasnya. Akibatnya, tentunya negara Jepang pun akan mengalami kemunduran atau bahkan kejatuhan (bangkrut).

Reotaro Hashimoto 1

Wahai saudariku. Betapa tidak perlunya kita sebagai kaum Muslim terhadap berbagai problem seperti ini yang untuk solusinya harus melibatkan mereka yang membebek kepada dunia Timur atau Barat? – padahal mereka sendiri menginginkan kita agar tidak mengikuti tuntunan Tuhan Yang Maha Mengetahui, Yang Menguasai Timur dan Barat. Apakah sesudah adanya pengakuan dari para pemimpin dan para pemikir besar dunia yang telah menyadari kekeliruan mereka terhadap kaum wanita – karena menugaskannya dalam posisi yang bertentangan dengan fitrahnya, kita masih juga terus mengikuti jejak mereka untuk memasuki setiap “lubang biawak” yang sudah rusak yang telah mereka masuki sebelum kita? Sungguh tidak perlu bukan?

Untuk itu, sekarang sudah saatnya bagi orang-orang yang bekerja di bidang informasi untuk sadar diri dan menghentikan kegiatannya, tidak lagi menganjurkan wanita Muslim untuk melucuti diri dari norma-norma agamanya yang tinggi atau menyimpang dari manhaj syariat agamanya yang mulia. Sudah saatnya juga bagi orang-orang yang suka menyesatkan orang lain untuk kembali ke jalan petunjuk sesudah kesesatan yang dialami oleh pemikiran mereka dan penyimpangan yang terjadi dalam hati mereka. Sudah saatnya pula bagi wanita-wanita Muslim yang telah menanggalkan jilbabnya untuk kembali mengenakannya dengan benar dalam keadaan bertaubat, kembali ke jalan Allah SWT, dan memohon ampun kepada-Nya dengan penuh penyesalan, lalu kembali memelihara diri mereka sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT. Dan sudah waktunya juga bagi kaum Muslimah untuk memikirkan kembali tentang peran mereka di luar rumah, karena jangan sampai hanya demi alasan karir yang gemilang atau HAM, maka peran utamanya sebagai seorang ibu atau istri yang shalihah lalu di abaikan atau di nomorduakan. Itu sangat keliru.

risalah wanita 5

Selain itu, sudah saatnya pula sekarang bagi orang-orang yang berkompeten di negeri-negeri Muslim dan mayoritas berpenduduk Muslim untuk meluruskan berbagai kurikulum pendidikan dan membuang darinya tiap-tiap kurikulum yang bertentangan dengan kodrat wanita. Dan bagi kalian kaum laki-laki yang bisanya hanya menonton, sesungguhnya kalian juga ikut bertanggungjawab dengan hal ini dan akan dimintai pertanggungjawabannya nanti. Sehingga bersikap baiklah kepada kaum wanita dan muliakanlah mereka dengan menempatkan fitrah dan kodrat mereka sebagaimana mestinya. Sesuai dengan syariat Tuhan. Karena Dia-lah yang telah menurunkan syariat bagi kita, yaitu agama yang menjamin kita untuk bisa bahagia dan berhasil di dunia dan akherat. Bersikap lembutlah dengan kaum wanita, sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW pernah bersikap.

Berikut ini diberikan beberapa dalil tentang kewajiban dalam bersikap baik kepada wanita. Yaitu:

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ruf” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 228)

“Dan pergaulilah mereka (istri, wanita) dengan cara yang baik” (QS. An-Nisaa [4] ayat 19)

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda; “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia tidak mengganggu tetangganya. Jagalah pesanku tentang kaum perempuan agar mereka diperlakukan dengan baik. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau berusaha untuk meluruskannya, tulang itu akan patah. Jika engkau membiarkannya, tulang itu tetap bengkok. Oleh karena itu, jagalah pesanku tentang kaum perempuan agar mereka diperlakukan dengan baik” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

“Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka sikapilah para wanita dengan baik” (HR. Al-Bukhari dalam kitab an-Nikah no.5186)

“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang paling baik kepada istrinya dan aku adalah orang yang paling baik kepada istriku” (HR. At-Thirmidzi no.3895 dari Aisyah RA, Ibnu Majah no. 1977 dari hadits Ibnu Abbas RA dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (lihat As-Shahihah no 285))

“Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum Mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya”. (HR. At-Thirmidzi no.1162 dari Abu Hurairah RA dan Ibnu Majah no.1987 dari Abdullah bin ‘Amr RA, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (lihat As-Shahihah no 284))

“Sebaik-baik kalian (adalah) yang sikapnya paling baik terhadap perempuan-perempuan mereka (sendiri)” (HR. At-Tirmidzi)

Sungguh, wanita khususnya istri itu adalah ketenangan bagi laki-laki seperti halnya rumah yang memberikan keteduhan, ketenangan dan ketenteraman. Dan bahwa laki-laki tidak dapat hidup tenang dan tenteram tanpa wanita – tentunya wanita yang shalihah. Kaum laki-laki atau para suami mustahil dapat menyumbangkan potensi yang dimilikinya secara optimal tanpa didukung oleh peran wanita yang mendampinginya di rumah, melayani dan memberikan semangat, menghiburnya, dan bisa menenteramkan hatinya. Keliru besar pihak yang menempatkan wanita pada posisi yang tidak sesuai dengan kodratnya, karena kodrat wanita itu sangat mulia. Dan bagaimana peradaban dunia akan tetap indah dan seimbang, jika masih saja kaum wanitanya dituntut untuk sama persis dengan pria, atau masih saja harus terus bekerja keras diluar rumah sampai ia melupakan kewajiban dasarnya di dalam rumah? Pria dan wanita jelas-jelas punya peran dan kodratnya sendiri. Jangan diubah-ubah sesuai dengan hasrat keinginan pribadi, karena justru akan banyak mencelakakan.

Dari Ibn Abbas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ada empat perkara siapa yang memilikinya berarti mendapat kebaikan di dunia dan akhirat, yaitu hati yang bersyukur, lisan yang selalu berzikir, tubuh yang bersabar ketika ditimpa bala bencana (musibah) dan isteri yang tidak menjerumuskan suaminya dan merusakkan harta bendanya” (HR. At-Thabrani dengan isnad Jayyid)

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah” (HR. Muslim)

risalah wanita 2

Tapi, memang perlu diakui bahwa saat ini banyak sekali kamuflase, pengelabuan, dan berbagai macam iming-iming yang menggiurkan dengan kedok kemajuan, kedudukan, imbalan materi, dan sebagainya. Bahkan berbagai media ikut andil besar dalam mempopulerkannya, sehingga memperdaya banyak kaum wanita, terlebih bagi mereka yang masih gadis yang belum berpengalaman. Mereka menjadi sasaran empuk bagi pengelabuan yang direkayasa sedemikian rupa itu, padahal kesudahannya justru tetap menzalimi kaum wanita itu sendiri. Memposisikan mereka pada jalur yang menyimpang dari fitrah asal kejadiannya. Akibatnya, kehidupan di dalam sebuah peradaban akan semakin rusak dan menunggu waktu kehancurannya.

Karena itu, sekali lagi, tetaplah berada dalam fitrah dirimu yang sebenarnya wahai saudariku. Wanita disini tidak berarti akan dikekang setiap kebebasannya untuk berbuat sesuatu yang baik. Mereka tetap bebas untuk bertindak – terlebih untuk membantu ekonomi keluarga, karena istri Baginda Nabi SAW pun seorang pekerja keras bahkan sebagai seorang saudagar, hanya saja seorang wanita itu tetap harus tahu batasan dirinya dan mengerjakan kewajibannya terlebih dulu. Jangan hanya demi karir yang gemilang atau karena alasan kepuasan diri dan HAM, justru mengorbankan keluarga dan rumah tangganya sendiri. Dan jangan sampai pula anak-anak kaum Muslim justru menjadi “anaknya pembantu”. Itu terjadi lantaran ibunya selalu sibuk di luar rumah dan tidak pernah mengurus dan mendidik mereka. Ingat! Dahulukan yang wajib barulah yang sunnah. Dan selama dirimu tetap bisa menunaikan kewajiban utamamu sebagai seorang ibu atau istri dengan benar, maka mengerjakan yang sunnah tidak menjadi soal. Karena justru bisa membawa berkah bagi keluarga.

Semoga kaum wanita selalu menyadari keutamaan dan fitrah dirinya sebagai hamba Tuhan yang mulia. Dengan begitu, kehidupan dunia akan seimbang dan tetap indah.

Jambi, 27 Januari 2016
Mashudi Antoro (Oedi`)

Referensi:
* Buku Risalah Mukminah; Jangan Teperdaya, karya: Muhammad Rasyid Al-`Uwaid, penerbit: IBS (Irsyad Baitus Salam) Bandung.

 

One thought on “Risalah Wanita: Ciptaan yang Sangat Mulia

    […] saudariku. Melanjutkan tulisan sebelumnya yang berjudul Risalah Wanita: Ciptaan yang Sangat Mulia, maka di dalam tulisan ini kita masih membicarakan tentang kesejatian kaum wanita. Pembahasan ini […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s