Sistem Kasta di Era Majapahit: Bukti Kehebatan Bangsa Nusantara

Posted on Updated on

kerajaan majapahit 1Wahai saudaraku. Dalam kesempatan kali ini ada baiknya kita kembali menggali sejarah kehidupan leluhur kita di masa lalu. Tujuannya untuk dijadikan sebagai perbandingan dan atau pelajaran bagi kehidupan peradaban kita sekarang. Karena memang model kehidupan leluhur kita itu sudah sangat tertata dan beradab, sehingga bisa dijadikan sebagai acuan hidup. Mereka pun – bila dibandingkan sekarang – tidak kampungan, bahkan terasa lebih beradab dari kita yang sudah menganggap diri sebagai manusia yang paling hebat.

Untuk mempersingkat waktu, mari ikuti penelusuran berikut ini:

Sesuai judul tulisan di atas, maka istilah kasta yang dikenal sekarang ini berasal dari bahasa Spanyol dan Portugis yaitu Casta yang berarti pembagian masyarakat. Pengertian yang semacam ini berakar dari prinsip kolonialisme kedua bangsa itu ketika mereka menjajah negeri-negeri di kawasan Asia, Afrika dan Amerika. Padahal makna kasta yang sebenarnya merupakan perkumpulan tukang-tukang atau orang-orang ahli dalam bidang tertentu. Pengertian ini selaras dengan ajaran agama Kapitayan dan Hindu yang pernah ada di Nusantara, khususnya di tanah Jawa dan Sumatera.

Kasta menurut pengertian leluhur Nusantara adalah sebagai sifat dan bakat kelahiran setiap individu dalam mengabdi kepada masyarakat dan negara berdasarkan kecintaan yang menimbulkan gairah kerja. Jadi, dengan kata lain kasta itu adalah penggolongan masyarakat ke dalam beberapa jenis berdasarkan tugas dan aktivitasnya dalam masyarakat yang sifatnya tidak turun menurun. Bukan pula hanya menurut ukuran tingkatan tinggi rendah derajat seseorang saja. Setiap orang dapat saja menduduki jabatan atau kedudukan manapun asalkan memiliki kemampuan, keahlian, keadaan dan kondisinya mengizinkan untuk itu, tergantung pada karmanya.

Lalu, berdasarkan pemaparan di atas, maka di era kerajaan Majapahit, leluhur kita telah membagi kasta itu bukan hanya sekedar empat (Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra) sebagaimana lazimnya di India, melainkan ada 7 kasta. Memang, adanya pembagian masyarakat seperti ini sepintas lalu kesannya sangat feodal dan tidak menghargai HAM. Karena ada warga yang berada di kelas tertinggi, yakni kelas 1, dan ada yang berada di kelas terbawa, yakni mereka yang digolongkan kelas ke 7. Padahal spiritnya bukan perbedaan kelas atau strata sosial masyarakat sebagaimana yang terjadi di masa kolonial Hindia Belanda atau yang berlaku umum di masyarakat Hindu di tanah India. Tapi lebih kepada pembagian berdasarkan realitas yang ada dan berdasarkan pada ukuran-ukuran yang diyakini saat itu, yang bersesuaian dengan fungsi dan peran kelompok warga dalam negara. Kasta ini pun tidak melekat selamanya pada setiap individu, karena ia boleh dan berhak mengubah kastanya berdasarkan kemampuan yang dimiliki.

Kota-Majapahit

Parameter atau ukuran dalam pembagian golongan sosial masyarakat ketika itu ditentukan berdasarkan pada kuat tidaknya keterikatan seseorang atau kelompok warga pada materi atau urusan duniawi. Makin jauh ketertarikan seseorang atau warga dengan materi dan keduniawian, maka semakin tinggi martabatnya di tengah masyarakat. Sebaliknya, jika semakin kuat ketertarikan seseorang atau warga pada materi dan hasrat keduniawian, maka semakin rendahlah martabatnya.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini dijelaskan jenis kasta yang pernah ada di wilayah Majapahit. Di antaranya yaitu:

1. Brahmana
Kasta jenis ini adalah yang tertinggi di seluruh wilayah Majapahit. Di duduki oleh para rohaniawan yang umumnya juga sekaligus menjadi seorang budayawan. Mereka hidup di hutan, gunung, lembah, dan gua yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk perebutan akses dan penguasaan atas materi duniawi. Seluruh lapisan masyarakat yang ada dibawahnya sangat menghormati dan melindungi kaum rohaniawan ini (Brahmana, Resi, Mpu). Mereka inilah yang dianggap sebagai warga kelas satu alias golongan tertinggi dan paling mulia, karena tugasnya membimbing semua orang (sebagai guru) pada kebenaran.

2. Ksatria
Setelah Brahmana, berikutnya ada golongan Ksatria yang menjadi abdi negara. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak memiliki kekayaan pribadi, mereka mengabdi pada negara dan hidup dari negara (dalam arti dibiayai kebutuhan sandang, pangan dan papan). Termasuk dari golongan ini adalah raja dan keluarganya, para menteri dan pembesar kerajaan, para raja bawahan atau adipati, juga termasuk didalamnya adalah kalangan perwira tentara kerajaan. Mereka ini jika perang dan berhasil membawa harta pampasan perang, kekayaan itu bukan untuk dimiliki sendiri tapi untuk diserahkan kepada negara. Dan jika ada ksatria yang diketahui memiliki rumah pribadi yang megah, maka dia akan disebut ksatria panten, yaitu ksatria yang harus dihindari atau dikucilkan. Masyarakat tidak boleh melayani orang seperti itu, dan negara harus bersih dari orang yang mempunyai pamrih pribadi.

3. Waisya
Golongan ketiga ini merupakan kaum petani, seniman, tukang bangunan/arsitek, dan nelayan. Kaum ini lebih rendah dibandingkan dua golongan di atas, sebab kaum ini dianggap sudah punya keterikatan pada materi keduniawian. Alasannya karena mereka sudah punya rumah, punya tanah dan pekarangan, punya sawah ladang atau kapal layar, punya ternak, atau dengan kata lain ada kepemilikan pribadi atas aset kekayaan yang notabene adalah manifestasi dari hasrat keduniawian. Meskipun demikian merekalah yang menjamin ketersediaan pangan dan kebutuhan hidup lainnya bagi seluruh warga. Untuk itulah, mereka tetap menjadi kelas yang cukup terhormat.

4. Sudra
Dibawah golongan Waisya ada kaum Sudra, yaitu para saudagar, rentenir, para tuan tanah, atau mereka yang memiliki kekayaan berlebihan. Mereka ini tidak boleh berbicara tentang agama. Mereka tidak boleh membahas kitab suci. Menurut pandangan yang berlaku pada waktu itu, maka menumpuk kekayaan adalah manifestasi nafsu atau hasrat keinginan duniawi. Dan golongan Sudra ini dilarang berbicara tentang agama, sebab mental dagang dan mencari keuntungan mereka itu akan merusak agama, karena mereka ini akan menjual ayat-ayat agama demi keuntungan pribadinya.

Disini perlu digarisbawahi, sebenarnya ajaran Islam sudah masuk ke wilayah Nusantara, khususnya di pulau Jawa sejak abad ke-7 atau 8 Masehi, tapi agama ini tidak bisa berkembang. Salah satu alasannya adalah pada waktu itu, pada masa awal kedatangannya, yang menyebarkan agama Islam adalah para saudagar. Di mata penduduk pribumi, saat itu profesi berdagang tidak cukup dipandang sebagai pekerjaan yang baik. Karena itulah agama Islam baru berkembang pesat dan bisa diterima secara luas oleh penduduk Nusantara pada abad ke-14, ketika yang datang menyebarkannya adalah para tokoh intelektual dan ulama yang punya wawasan luas dalam ilmu dan budaya, suci dari hasrat keinginan duniawi, yang tinggi tingkat spiritualnya, yang mereka ini kemudian dikenal sebagai para Wali, termasuklah Wali Songgo.

5. Candala
Setelah golongan Sudra maka ada golongan Candala, yaitu mereka yang berprofesi sebagai jagal (pembunuh) dan termasuk didalamnya adalah petugas negara yang tugasnya membunuh terpidana mati seperti algojo. Mereka ini dianggap lebih rendah strata sosialnya karena untuk hidup saja mereka harus membunuh sesama makhluk. Meskipun pekerjaannya disahkan oleh negara, tapi hidupnya dibayar atau mendapatkan nafkah dari membunuh orang. Termasuk dalam golongan ini adalah mereka yang pekerjaannya adalah mengkremasi mayat.

6. Mleccha
Golongan yang masuk dalam jenis ini adalah orang asing yang tinggal di Majapahit. Sejak zaman Mataram kuno (Medang), golongan ini memang sudah ada. Dimana semua orang asing dimasukkan ke dalam golongan wong kiwahan, yang artinya orang rendahan atau pelayan. Karena penduduk asli diberi kedudukan sebagai wong yekti, wong mulia atau wong agung. Jadi, orang asing itu jika mereka ada di wilayah Mataram kuno (Medang) sampai di masa wilayah Majapahit, mereka bekerja sebagai pelayan dan tidak boleh lebih dari itu. Jika mereka mau lebih, maka harus punya keahlian khusus dan setia kepada negara. Lalu pada saat itu, jika ada pribumi yang bekerja sebagai pelayan akan diadili. Karena tidak boleh ada pribumi yang bekerja sebagai pelayan. Negara mampu memberikan pekerjaan yang layak bagi warga pribumi, baik di darat maupun lautan. Sehingga ini berbanding terbalik dengan keadaan bangsa Nusantara kini, karena yang mulia itu justru orang asing, dan rakyat kita sendiri terus saja dijadikan pelayan dan buruh dari kepentingan asing (investor). Sungguh memalukan dan amat memilukan.

7. Tuccha
Golongan terakhir dibawah semua golongan di atas adalah kaum Tuccha, yaitu kalangan pecinta materi duniawi dan yang tak mau memahami hak orang lain. Yang termasuk dalam golongan ini adalah para penipu, penjudi, pencuri, pelacur dan mucikari, begal atau rampok dan perompak (termasuk untuk istilah ini adalah mereka yang melakukan korupsi, tapi saat itu tidak ada korupsi). Mereka dianggap paling rendah dan hina martabatnya, sebab untuk hidup saja mereka justru senang melanggar hukum dan hak-hak orang lain.

Wahai saudaraku. Apapun itu, maka leluhur kita selalu meletakkan spiritual sebagai hal yang paling utama dalam setiap lini kehidupan ini. Dan karena hal itulah, maka peradaban mereka bisa mencapai puncak kejayaannya. Dan itu terjadi karena di dalam kehidupan mereka dulu selalu menerapkan prinsip keseimbangan hidup, yaitu kemampuan olah raga dan batin dan mampu menyeimbangkan antara energi mikrokosmos dan makrokosmos. Karena bagi mereka, dunia ini akan jadi carut marut jika sebuah negara dan para pemimpin atau rakyatnya telah memandang hidup ini adalah sebuah kenikmatan materi saja. Atau menganggap kehidupan dunia ini – secara sadar atau tidak sadar – hanya untuk mengejar kesenangan ragawi dan untuk terus mengikuti kemauan diri. Ya seperti kebanyakan orang-orang yang hidup di Nusantara saat ini. Yang semakin hari semakin banyak saja yang mencintai duniawi hingga melupakan akherat. Mereka lupa bahwa dunia ini hanya bersifat sementara – disinilah waktunya untuk mempersiapkan bekal, sedangkan akherat itu kekal dan abadi. Yang setiap orangnya nanti akan dimintai pertanggungjawaban atas perilaku hidupnya di dunia dan menerima balasan yang setimpal untuknya.

*****

Wahai saudaraku. Dari uraian di atas, sekali lagi di tegaskan bahwa menurut leluhur kita dulu, maka kasta itu bukanlah perbedaan tinggi rendahnya derajat seseorang. Tapi lebih kepada pembagian berdasarkan realitas yang ada dan berdasarkan pada ukuran-ukuran yang diyakini saat itu, yang bersesuaian dengan fungsi dan peran kelompok warga dalam negara. Atau dengan kata lain kasta itu adalah penggolongan masyarakat ke dalam beberapa jenis berdasarkan tugas dan aktivitasnya dalam masyarakat yang sifatnya tidak turun menurun. Jadi kasta ini pun tidak melekat selamanya pada setiap individu, karena ia boleh dan berhak untuk mengubah kastanya berdasarkan kemampuan yang dimiliki. Tidak ada larangan – sebagaimana pemahaman yang berkembang selama ini – bagi seseorang untuk berhubungan dan atau menikah dengan kasta yang berbeda. Contohnya saja Ken Arok yang menjadi raja dan pendiri kerajaan Singosari, Damarwulan yang menjadi raja Majapahit dan menikahi putri raja Majapahit dan Gajah Mada yang menjadi Maha Patih Majapahit yang termahsyur. Mereka semua berlatar belakang dari orang biasa alias rakyat jelata, bukan dari kalangan bangsawan atau ningrat yang kaya raya. Mereka bisa meraih kedudukan tinggi itu karena ketekunan, kemampuan khusus dan usaha keras yang di lakukan.

Untuk itu, perlu dilakukan pembenaran sejarah tentang makna dan realitas dari kasta ini dimasa lalu. Jangan lagi mempercayai anggapan dan tulisan dari para penjajah (Belanda, Inggris, Portugis) yang faktanya pernah ratusan tahun menjajah negeri ini. Karena dari penjelasan di atas, terlihat jelas bahwa nenek moyang kita dulu bukanlah orang-orang biadab yang tak punya hati nurani. Mereka adalah orang-orang yang hebat dan punya karakter yang sangat kuat dalam membangun peradabannya. Mereka bukanlah orang-orang bodoh yang meletakkan aturan seenaknya dan hanya untuk menguntungkan segelintir orang saja. Mereka bukan sosok yang senang mengekang hak azasi manusia dan kesempatan dari setiap orang, namun telah menata sedemikian rupa prinsip berbangsa dan bernegara agar mensejahterakan, khususnya tentang kehidupan sosial masyarakatnya. Dimana hanya dengan menata seperti itulah kehidupan di negeri mereka akan bisa lebih teratur, punya ukuran/standar yang jelas, bisa maju dan berjaya di seluruh dunia. Tidak seperti sekarang yang justru hanya bisa ikut-ikutan bangsa lain dan semuanya telah lepas kendali. Layaknya seekor banteng liar yang dilepas bebas ke tengah orang banyak setelah kupingnya dimasuki semut api.

Ya. Adalah hal yang wajar (jika tidak dikatakan harus) untuk segera mengikuti jejak leluhur dalam membangun negeri tercinta ini. Bukan pula hal yang tabu untuk bisa kembali mendirikan prinsip atau ketatanegaraan yang pernah ada di masa lalu; yaitu sistem kerajaan. Dimana sebuah negeri (dari Sabang sampai Merauke) hanya dipimpin oleh seorang Raja yang bijaksana dan mendapat bimbingan dari langit. Seorang pribadi yang mandiri dan tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun karena telah mendapatkan pencerahan dengan menerima Wahyu Keprabon.

Sungguh rindu dan inginnya diri ini bisa melihat perikehidupan seperti dulu lagi. Satu sistem kemaharajaan yang mengayomi bumi Nusantara jaya. Semoga itu segera terjadi setelah revolusi besar, satu atau dua tahun lagi.

Jambi, 06 Januari 2016
Mashudi Antoro (Oedi`)

10 thoughts on “Sistem Kasta di Era Majapahit: Bukti Kehebatan Bangsa Nusantara

    saladinreborn said:
    Januari 19, 2016 pukul 8:23 am

    wah.. sangat menarik sekali pembahasannya. Kalo melihat kembali yang ada di buku-buku IPS jaman sekolah dulu, sangat minim informasi yang disampaikan. Kebanyakan berisi sekedar nama kerajaan, tokoh-tokohnya, selanjutnya kisah kerajaan ini serang kerajaan itu, balas dendam keluarga, dsb. Malah tidak ada penjelasan tentang keadaan sosial di masa itu, teknologi yang berkembang sudah sejauh mana, dan hal-hal lain yang lebih menarik untuk dipelajari. Kalo boleh tau, bisa belajar sejarah tentang kerajaan-kerajaan masa lalu seperti itu dari buku apa ya?

      oedi responded:
      Januari 31, 2016 pukul 2:46 am

      Syukurlah kalau suka dengan tulisan ini, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Iya, bahkan menurutku harus dilakukan revisi untuk semua buku-buku pelajaran sekolah, khususnya yang bermuatan sejarah Nusantara.. Sekarang sudah banyak penelitian dan penemuan terbaru, yang bahkan sangat bertolak belakang dengan apa yang ditulis sejak masa Orde Lama.. Dan yang lebih menyedihkannya lagi bahwa bangsa kita ini masih saja berpatokan pada informasi sejarah dari para penjajah – dimana mereka punya tujuan kolonialisme, padahal zaman sudah berganti dan terkologi pun kian maju, otomatis penelitian dan penemuan sejarah terbaru kian berkembang pesat.. Untuk itulah perlu sekali dilakukan revisi besar-besaran terhadap sejarah Nusantara agar anak cucu kita bisa lebih cerdas.
      Hmm.. tentang belajar sejarah, saya pribadi mendapatkannya dari mana saja mas, mulai dari buku-buku sejarah, catatan kuno, cerita rakyat, artikel di website atau blog, sampai urusan metafisika.. Saya juga harus rajin untuk mencari informasi, sabar dalam menganalisa data dan membuka cakrawala berpikir (jangan fanatik dan selalu menerima hal-hal baru) mas…🙂

    NUROKHMAN said:
    Januari 22, 2016 pukul 11:25 am

    Indah sekali rasanya jika Indonesia bisa tertata seperti itu…

      oedi responded:
      Januari 31, 2016 pukul 2:13 am

      Iya mas, seandainya bangsa ini bisa tertata seperti dulu lagi, pasti bisa lebih bermartabat dan tentunya akan lebih berjaya..🙂

    hasan said:
    April 18, 2016 pukul 11:52 am

    Tulisan yg sangat bermutu…..sangat bagus…

      oedi responded:
      April 20, 2016 pukul 3:06 am

      Syukurlah kalau mas Hasan suka dengan tulisan ini, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    ms.umri said:
    Oktober 30, 2016 pukul 2:48 pm

    mantap.. analisa dan tulisannya sistem sosial majapahit.. terus produktif mas oedi.. semoga jadi ilmu yang bermanfaat … slam kenal..ms umri di musi rawas..

      oedi responded:
      November 2, 2016 pukul 1:31 am

      Syukurlah kalau suka dengan tulisan ini mas Umri, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Siaaap… saya akan terus berusaha untuk menulis dan berbagi informasi… doakan saja tetap diberi kekuatan dan kesahatan…🙂
      Iya mas Umri, salam kenal juga… seneng amen kenal wong kito dewek.. pacak jadi sedulur..🙂

    ms.umri said:
    Oktober 30, 2016 pukul 2:51 pm

    (Sungguh rindu dan inginnya diri ini bisa melihat perikehidupan seperti dulu lagi. Satu sistem kemaharajaan yang mengayomi bumi Nusantara jaya. Semoga itu segera terjadi setelah revolusi besar, satu atau dua tahun lagi.) @tanya: dapat info dari mana mas oedi klo akan terjadi revolusi besar 1 atau 2 tahun lagi …

      oedi responded:
      November 2, 2016 pukul 1:40 am

      Jujur, saya pun sama” merindukan sistem ke-Ratu-an atau ke-Datu-an atau ke-Maharaja-an di negeri ini mas.. Rasanya negeri ini akan jauh berwibawa karena ada pemimpin yang mendapatkan Wahyu Keprabon seperti leluhur kita dimasa lalu.. semoga itu bisa terjadi, cepat atau lambat..🙂
      Tentang info revolusi, saya dapatnya dari banyak sumber mas, bahkan dengan cara metafisika.. leluhur kita juga sudah menyampaikannya lewat beberapa tulisan (serat, kitab) dan tutur kata yang diwariskan secara turun temurun.. Termasuk pula Jongko Joyoboyo dan Ungga Wangsit Prabu Siliwangi yang terbukti benar karena semua yang disampaikan dalam ramalan mereka tentang apa yang terjadi di Nusantara terbukti benar sampai hari ini.. Terlebih jika benar-benar dicermati, maka kondisi di sekitar kita pun mendukung revolusi terbesar itu terjadi. Lihatlah betapa bencana alam besar terjadi silih berganti di negeri ini, bahkan seluruh dunia. Lihatlah betapa carut marutnya negeri ini, lantaran sikap para pemimpin yang korup dan tidak amanah. Tiap hari kita disuguhkan dengan berbagai masalah keadilan dan kebenaran yang tidak ditegakkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.. semua itu sudah cukup untuk menimbulkan revolusi di negeri ini, di luar adanya kekuatan adidaya supranatural yang juga akan melakukan pemurnian total…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s