Mandala Bhakti: Ajaran Mulia Bangsa Nusantara

Posted on Updated on

ajaran leluhurDalam budaya Nusantara, khususnya Jawa dan Sunda, telah dipahami bahwa Tuhan itu Maha Universal dan kekuasaan-Nya tiada terbatas. Pun dalam banyak falsafah mereka, maka yang ada itu hanyalah wujud “laku spiritual” dalam tataran batiniahnya, dan “laku ritual” dalam tataran lahiriahnya. Laku ritual merupakan simbolisasi dan kristalisasi dari laku spiritual. Ambil contoh misalnya mantra, sesaji, laku sesirih (menghindari sesuatu atau berpantangan) serta laku semedhi atau meditasi. Semua itu adalah wujud nyata tentang tindakan spiritual yang dituangkan dalam perilaku tradisi dan budaya turun temurun.

Tapi, sungguh sangat disayangkan begitu banyak kalangan yang tidak memahami asal usul dan makna dari semua itu, lantas begitu saja berasumsi bahwa mantra sama halnya dengan doa. Sedangkan sesaji, laku sesirih dan semedhi dipersepsikan sama maknanya dengan ritual menyembah Tuhan. Padahal asumsi dan persepsi semacam itu salah besar dan ngawur.

Wahai saudaraku. Mantra tidaklah sama maknanya dengan doa. Bila doa merupakan permohonan langsung kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka mantra itu seumpama menarik pemicu senapan yang bernama daya hidup. Daya hidup manusia itu ada karena pemberian Tuhan Yang Maha Kuasa. Sehingga pemberian sesaji, laku sesirih (mencegah) dan laku semedhi disini memiliki makna tatacara memberdayakan daya hidup agar dapat menjalankan kehidupan yang baik, benar, dan tepat. Yakni menjalankan hidup dengan mengikuti kaidah “Hamemayu hayuning buwana : Menata keindahan dunia”. Daya kehidupan manusia menjadi faktor adanya aura magis (gelombang elektromagnetik metafisika) yang melingkupi badan manusia. Karena perbedaan esensi dan unsur-unsur pembentuk jasad, maka aura magis dalam diri manusia memiliki sifatnya masing-masing. Unsur-unsur tersebut berasal dari bumi, langit, cahaya dan tejo (pelangi) yang keadaannya selalu dinamis sepanjang masa. Untuk menjabarkan hubungan antara sifat-sifat dan esensi dari unsur-unsur jasad tersebut, lahirlah ilmu Jawa yang bertujuan untuk menandai perbedaan aura magis demi mencapai tujuan akhir yaitu kebebasan (moksa). Baca tulisan berikut: Mitologi dan agama: Tentang ajaran Moksa.

Perlu diketahui bahwa aura magis dalam diri manusia dengan aura alam semesta terdapat kaitan yang sangat erat. Yakni gelombang energi yang saling mempengaruhi secara kosmis-magis. Dinamika energi yang saling mempengaruhi mempunyai dua kemungkinan, yakni pertama; bersifat saling berkaitan secara kohesif dan menyatu (sinergi) dalam wadah keharmonisan. Kedua, energi yang saling tolak-menolak (adesif). Sehingga laku sesirih (meredam segala nafsu) dan semedhi (olah batin) merupakan sebuah upaya harmonisasi dengan cara mensinergikan aura magis mikrokosmos dalam kehidupan manusia dengan aura alam semesta makrokosmos. Semua itu bertujuan agar tercipta suatu hubungan transenden yang harmonis dalam dimensi vertikal (pancer) antara manusia dengan Tuhan dan hubungan horizontal yakni manusia sebagai jagad alit (jagat kecil) dengan sesama dan jagad ageng (alam semesta).

Untuk itu, di tanah Jawa terdapatlah tradisi memberikan sajen atau sesaji. Dan sesungguhnya ini bukanlah perilaku syirik atau menyekutukan Tuhan. Sebab, maksud dari sesaji sebenarnya merupakan suatu upaya harmonisasi melalui jalan spiritual yang kreatif untuk menselaraskan dan menghubungkan antara daya aura magis manusia dengan seluruh ciptaan Tuhan yang saling berdampingan di dunia ini, khususnya kekuatan alam maupun makhluk gaib. Dengan kata lain, sesaji merupakan harmonisasi manusia dalam dimensi horizontal terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan. Harmonisasi disini bisa juga diartikan sebagai kesadaran diri manusia. Sekalipun manusia dianggap (menganggap diri) sebagai makhluk paling mulia, namun tidak ada alasan untuk “mentang-mentang” merasa diri paling mulia di antara makhluk lainnya. Karena kemuliaan manusia tergantung dari caranya dalam bersikap bijak lahir dan batin. Juga tentang bagaimana pula ia bisa memanfaatkan akal-budi dalam dirinya untuk menciptakan keselarasan dan keharmonisan hidup yang saling berdampingan secara kasar maupun halus. Bila akal-budi digunakan untuk kejahatan, maka kemuliaan diri manusia menjadi hilang, bahkan lebih hina bila dibandingkan dengan binatang yang paling hina sekalipun.

Ya. Mekanisme kehidupan di alam semesta ini adalah bersifat dinamis. Dinamika kehidupan itu berada dalam pola hubungan yang mengikuti prinsip-prinsip keharmonisan, keseimbangan, atau keselarasan (sinergi) jagad raya dan segala isinya. Dinamika dan pola hubungan demikian sudah menjadi hukum atau rumus dari Tuhan Yang Maha Memelihara sebagai anugerah terindah kepada semua wujud ciptaan-Nya; baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Dan di antara anugerah terindah itu, maka dalam terminologi Jawa disebut Wahyu. Wahyu adalah sesuatu yang diartikan sebagai sebuah konsep yang mengandung pengertian suatu karunia Tuhan yang diperoleh manusia secara gaib. Wahyu juga tidak dapat dicari, tetapi hanya diberikan oleh Tuhan, sedangkan manusia hanya dapat melakukan upaya dengan melakukan mesu raga dan mesu jiwa dengan jalan tirakat, ber-semedhi, bertapa, maladi hening, dan berbagai jalan lain yang berkonotasi melakukan laku batin. Tapi tidak setiap kegiatan laku batin itu akan mendapatkan wahyu, selain atas kehendak atau anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan wahyu menurut kamus Purwadarminta mempunyai pengertian suatu petunjuk Tuhan atau ajaran Tuhan yang perwujudannya bisa dalam bentuk mimpi, ilham dan sebagainya. Dalam konteks budaya Jawa, wahyu dipandang sebagai anugerah Tuhan yang sekaligus membuktikan bahwa Tuhan bersifat Universal, Maha Luas tanpa batas, dan Tuhan yang Maha Pengasih tidak akan melakukan pilih kasih dalam menorehkan wahyu. Sehingga dalam falsafah Jawa, wahyu bukanlah hak atau monopoli dari satu suku, ras, golongan, atau bangsa tertentu. Melainkan bagi siapa saja yang terus mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan jalan laku raga dan batin dengan benar dan disiplin. Baca tulisan berikut: Wahyu keprabon untuk pemimpin besar Nusantara.

Jadi, perlu kami tegaskan lagi bahwa mantra BUKANLAH DOA, akan tetapi merupakan sejenis SENJATA atau ALAT yang berwujud kata-kata atau kalimat khusus sebagai “teknologi spiritual” tingkat tinggi hasil karya leluhur Nusantara di masa silam. Mantra merupakan teknologi kuno dan dibuat melalui tahapan spiritual yang tidak mudah; bentuknya laku prihatin, perilaku utama dan mendekatkan diri kepada Tuhan, yang ditempuh dengan cara yang tidak ringan. Hasilnya beragam, dan secara garis besar ada dua jenis mantra (baca; senjata) yakni:

1. Khusus menurut fungsinya
Hanya dapat digunakan untuk keperluan tertentu, misalnya menaklukkan musuh di medan perang. Atau diperuntukkan sebagai alat “medis” sebagai media untuk penyembuhan.

2. Khusus menurut sifatnya
Dibagi dua; pertama, mantra yang hanya dapat BEKERJA jika digunakan untuk hal-hal yang sifatnya baik saja. Mantra jenis ini tidak dapat disalahgunakan untuk hal-hal buruk oleh si pemakai. Mantra jenis ini paling sering digunakan di lingkungan kraton sebagai salah satu tradisi turun temurun. Kedua; mantra yang bersifat umum. Mantra ini bebas digunakan untuk acara dan keperluan apa saja tergantung kemauan si pemakai. Ibarat pisau dapat digunakan sebagai alat bedah operasi, alat memasak, atau disalahgunakan untuk mencelakai orang. Namun mantra jenis ini setiap penyalahgunaannya pasti memiliki konsekuensi yang berat berupa karma atau hukuman dari Tuhan yang dirasakan langsung maupun kelak setelah kematian. Dan bisa dikatakan pula bahwa jenis kedua ini – jika telah di salahgunakan – bukanlah sebuah mantra dalam arti yang sesungguhnya, melainkan kemusyrikan dan ilmu hitam (sihir) warisan iblis si pembangkang Tuhan.

Demikianlah tentang mantra dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sungguh sangat disayangkan bahwa zaman semakin berubah, perilaku budi daya yang memiliki nilai kearifan (wisdom) yang tinggi telah banyak ditinggalkan oleh orang Jawa dan Sunda sendiri. Manusia telah menjadi seteru Tuhan, karena telah melanggar rumus (hukum) kodratullah, yakni harmonisasi dan keseimbangan alam semesta. Alasannya demi “mikul duwur mendhem jero : mengangkat tinggi memendam dalam” falsafah dan budaya asing. Atau takut oleh tuduhan-tuduhan subyektif yang hanya berdasarkan prasangka buruk (su’udhon) dan tidak berdasarkan metode ilmiah maupun informasi yang lengkap dan jelas. Dan sebuah nasib yang tragis pun terjadi! Tradisi yang masih dapat dijalankan pun akhirnya hilang nilai kesakralannya. Grebeg, suran, sadranan dan apitan pun telah melenceng dari nilai luhur yang sesungguhnya, yakni menyatukan prana (sinergisme dan harmonisasi energi vertikal-horizontal, mikro-makro kosmos, inner world dengan alam semesta, jagad kecil dengan jagad besar) kehidupan. Sebaliknya tradisi tersebut hanya sekedar tontonan murahan, menjadi kebiasaan yang diulang-ulang, dan pemerintah pun melestarikan tardisi itu hanya karena bermotif materialistis laku dijual, atau karena bisa menjadi daya tarik turis asing karena mungkin dianggap aneh dan lucu saja. Seaneh dan selucu cara bangsa ini memandang dan memahaminya.

budaya sunda

Sungguh, ajaran Jawa dan Sunda menekankan keharusan untuk eling lan waspodo (ingat dan waspada). Sikap eling lan waspodo akan memelihara seseorang dalam mendayagunakan prana yang berwujud mantra yang dimanfaatkan untuk kebaikan hidup bersama – demi menggapai ketentraman dan kesejahteraan. Dan terkait dengan mantra, maka yang paling utama itu bilamana semua jenis mantra itu ditujukan sebagai upaya untuk keselarasan dan harmonisasi alam semesta – dalam dimensi horizontal dan vertikal – dengan Yang Transenden. Mantra adalah salah satu bentuk pencapaian dalam pergumulan laku spiritual “Sastra Jendra”, sedangkan tujuannya yang mulia menjadi makna di balik “Hamemayu Hayuning Rat, Hamemayu Hayuning Bawono, lan Pangruwating Diyu”. Lalu menjadi satu kalimat dalam falsafah Jawa tingkat tinggi yakni “Sastra jendra, hayuning Rat, pangruwating diyu”. Yang tidak lain untuk menyebut pencapaian spiritual dalam konteks kemanunggalan diri dengan alam semesta (Hamemayu Hayuning Bawono). Ini dalam rangka panembahan pribadi yang dimanifestasikan dalam budi pekerti luhur (Hangawula kawulaning Gusti/Pangruwating diyu), dan keduanya BERPANGKAL dan BERUJUNG pada panembahan kepada Tuhan Yang Maha Tunggal (Hamemayu Hayuning Rat). Dengan kata lain, budi pekerti itu membangun dua dimensi jagad, yakni; jagad alit (pribadi) dan jagad ageng (yaitu manembah kepada Tuhan Yang Maha Esa).

Lalu, bentuk panembahan pada tingkat tata lahir (sembah raga/syariat) dimanifestasikan dalam berbagai kearifan budaya yang menampilkan berbagai keindahan tradisi, misalnya upacara ruwat bhumi seperti grebeg, suran, nyadranan, apitan dan sebagainya. Atau berbagai upacara kidungan, ritual gamelan, bedhaya ketawang, dan seterusnya. Intinya adalah rasa kebersamaan dalam manembah pada tingkat tata batin (sembah jiwa), menyatukan kekuatan hidup atau prana kehidupan untuk mewujudkan mantra agung (maha mantra) yakni Sastra Jendra yang berfungsi membangun keseimbangan dan keselarasan antara aura spiritual manusia dengan aura spiritual jagad raya seisinya. Tujuan utama dari keseimbangan dan keselarasan jelas sekali jauh dari tuduhan subyektif musyrik maupun bid’ah. Karena jelas bahwa ia sebagai bentuk konkritisasi doa kepada Tuhan untuk mohon keselamatan bagi alam semesta dan seluruh isinya.

Tapi, kini memang kebanyakan manusia telah menjadi seteru Tuhan Penguasa Jagad. Manusia juga tidak lagi peduli dengan prinsip keseimbangan kehidupan, alam pribadi dan alam semesta. Padahal rusaknya prinsip keseimbangan alam itu berakibat fatal dan kini dapat kita rasakan dan saksikan sendiri bahwa hujan telah salah musim, jadwal musim kemarau dan penghujan tidak disiplin, banyak kekeringan, kebakaran, banjir, tsunami, tanah longsor, badai topan, gunung meletus, gampa bumi, elevasi suhu bumi, distorsi cuaca, hutan gundul, sungai banyak kering, satwa liar semakin langka dan mengalami kepunahan. Distorsi musim juga mengakibatkan gagal panen, hama tanaman, wabah penyakit aneh-aneh (pagebluk), serangan hawa panas dan hawa dingin secara ekstrim (el-nino & la-nina). Akibatnya kehidupan dunia pun kian carut marut dan tidak lagi terasa indah.

Untuk itu saudaraku. Adalah sangat tidak relevan bila menganggap bahwa mengikuti ajaran leluhur atau berinteraksi dengan leluhur itu sama dengan musyrik, bid`ah apalagi dianggap non-sense. Bagi saya anggapan itu merupakan kemunduran dalam kesadaran batin sekalipun jika di banding zaman animisme dan dinamisme. Menurut pemahaman saya, musyrik adalah persoalan dalam hati dan cara berfikir, bukan dalam manifestasi tindakan. Saya tetap percaya bahwa tanpa adanya kuasa dan kehendak Tuhan Yang Maha Esa, apalah artinya leluhur. Leluhur sekedar sebagai perantara dimana Tuhan menurunkan ilmu kepada mereka untuk dipergunakan dengan bijak oleh mereka lalu oleh kita sebagai anak cucunya. Seperti halnya Anda mendapatkan rejeki melalui perantara perusahaan tempat Anda bekerja. Jika Anda menuhankan perusahaan tempat Anda bekerja, itu sama halnya berprilaku musyrik. Dan orang dungu sekalipun tak akan pernah menuhankan leluhur, karena leluhur itu roh (manusia) yang jasadnya telah lebur kembali menjadi tanah. Artinya mereka hanyalah makhluk yang fana dan tidak memiliki kuasa apa-apa tanpa izin dan kehendak dari Tuhan Yang Maha Esa.

Sehingga, hubungan dengan leluhur itu sesungguhnya seperti halnya hubungan dengan guru, orang tua, saudara, kakek-nenek atau tetangga yang masih hidup yang sering kita mintai tolong. Perbedaannya hanyalah sekedar yang satu masih memiliki jasad kotor karena masih tinggal di bumi, sedangkan leluhur kita sudah meninggalkan jasad kotornya. Bila kita mohon doa restu pada orang hidup yang masih dibungkus jasad kotor tak dituduh musyrik, lalu mengapa kepada leluhur justru dianggap musyrik? Padahal untuk menjadi musyrik itu pun sangat mudah dan Anda tinggal berfikir saja jika seorang dokter dengan resep obat yang Anda minum adalah mutlak menjadi penyembuh penyakit di luar kuasa Tuhan. Atau Anda meminta tolong kepada tetangga untuk membetulkan genting bocor, dan orang itu lalu Anda anggap dapat bekerja sendiri tanpa kuasa Tuhan. Kedua contoh itu sudah cukup sebagai bukti bahwa kemusyrikan Anda telah nyata. Karena saya fikir konsep musyrik disini adalah cara berfikir dan berprilaku orang-orang yang hidup di zaman jahiliyah saja. Atau mungkin manusia yang hidup jauh sebelum perhitungan Masehi seperti yang pernah dilakukan oleh Namrud dan Firaun beserta para pengikut mereka yang justru menuhankan manusia. Namun, tuduhan musyrik menurut saya merupakan satu tindakan yang keji dan penjahiliahan diri manusia. Sebab, hanya Tuhan saja yang punya hak untuk menilai setiap tindakan kita dan hanya Dia pula Yang Maha Mengetahui isi hati seseorang apakah ia benar-benar beriman atau sesungguhnya telah lama kafir dan atheis.

Ya. Saya pribadi percaya bahwa leluhur kita masih dapat memberikan bimbingan dan arahan (njangkung dan njampangi) juga bisa memberikan doa dan restu kepada anak keturunannya. Komunikasi pun tetap bisa berlangsung melalui berbagai media, ambil contoh misalnya melalui mimpi (puspa tajem), suara hati nurani, bisikan gaib setelah tirakat khusus, atau dapat berkomunikasi langsung dengan para leluhur dengan cara membangkitkan kemampuan mata ketiga atau indera keenam.

Tapi barangkali di antara pembaca ada yang menganggap hal ini sebagai bualan kosong saja, bahkan menganggap ini adalah bisikan gaib yang dipastikan dari suara setan yang akan menggoda iman. Boleh dan sah-sah saja ada pendapat seperti itu. Hanya saja tidak perlu ngotot untuk mempertahankan tingkat pemahaman sendiri. Sebab jika belum pernah menyaksikan sendiri noumena atau eksistensi di alam gaib sebagai being yang ada, maka kesadaran kita masih dikuasai oleh kesadaran akal-budi, dimana kesadarannya hanya dalam batas kesadaran jasad/lahiriah semata. Sebaliknya, kesadaran batinnya justru menjadi mampet dan tak bisa berkembang alias kerdil dan akhirnya mati. Padahal untuk memahami tentang kesejatian hidup ini, maka sangat diperlukan sarana kesadaran batiniah atau ruhani yang tinggi. Yang semua itu bisa terjadi hanya dengan salah satunya mengikuti ajaran leluhur Nusantara. Dan jika seseorang memang tekun dalam mengikutinya, maka kehidupannya akan kian sempurna dan bisa mencapai tujuan yang paripurna.

Ajaran Mandala Bhakti
Wahai saudaraku. Dari uraian di atas, maka di masa lalu, di tanah Jawa telah lahir sebuah prinsip hidup yang agung. Di antara prinsip itu adalah “berbuat baik dan benar yang dilandasi oleh kelembutan rasa welas asih (cinta dan kasih sayang)”. Lalu pola dasar tersebut diterapkan melalui Tri Dharma (Tiga Kebenaran) yang kemudian menjadi pemandu “ukuran” nilai atas keagungan diri seseorang atau derajat manusia yang diukur berdasarkan kebaikan. Adapun di antara tiga dharma itu adalah sebagai berikut:

1. Dharma Bakti
Ini adalah tahapan dimana seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap diri, keluarga serta di lingkungan kecil tempat ia hidup. Sosok manusianya lalu bergelar “Manusia Utama”.

2. Dharma Suci
Ini adalah tahapan dimana seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap bangsa dan negara. Manusianya lalu bergelar “Manusia Unggul Paripurna” (menjadi idola).

3. Dharma Agung
Ini adalah tahapan dimana seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap segala peri kehidupan baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, yang tersentuh dan tidak tersentuh, yang tercium, dan segala kebaikan yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Manusianya lalu bergelar “Manusia Adi Luhung”.

Lalu nilai-nilai yang terkandung di dalam Tri Dharma ini kelak menjadi pokok ajaran “Budhi-Dharma” yang mengutamakan budhi kebaikan sebagai bukti dan bakti rasa welas-asih terhadap segala kehidupan untuk mencapai kebahagiaan, atau pembebasan diri dari kesengsaraan. Dalam agama Islam bisa jadi arti dan makna ini adalah tingkatan dari Syariat, Tarikat dan Hakikat yang jika semua sudah tercapai menjadi Makrifat.

Selanjutnya, pembentukan Tri Dharma di atas harus dilakukan melalui tahapan yang berbeda sesuai dengan tingkatan umur dan pemikirannya, yaitu:

1. Dharma Rasa
Yaitu mendidik diri untuk dapat memahami “rasa” (kelembutan) di dalam segala hal, sehingga mampu menghadirkan keadaan “ngarasa jeung rumasa : menyadari rasa dan memahami perasaan” (empati). Dengan demikian dalam diri seseorang kelak muncul sifat menghormati, menghargai, dan kepedulian terhadap sesama serta kemampuan merasakan yang dirasakan oleh orang lain (pihak lain). Hal ini merupakan pola dasar pembentukan sifat “welas-asih” dan manusianya kelak disebut “Dewa-Sa”.

2. Dharma Raga
Yaitu mendidik diri dalam bakti nyata (bukti) atau mempraktekan sifat rasa di dalam hidup sehari-hari (bukan teori). Sehingga kelak keberadaan/kehadiran diri dapat diterima dengan senang hati (bahagia) oleh semua pihak dalam keadaan “ngaraga jeung ngawaruga : menjelma dan menghadirkan“. Hal ini merupakan pola dasar pembentukan perilaku manusia yang dilandasi oleh kesadaran rasa dan pikiran. Pribadi yang telah mencapai tingkatan ini disebut “Dewa-Ta”.

3. Dharma Raja
Yaitu mendidik diri untuk menghadirkan “Jati Diri” sebagai manusia “welas-asih” yang seutuhnya dalam segala perilaku kehidupan “memberi tanpa diberi” atau memberi tanpa menerima (tidak ada pamrih). Tingkatan ini merupakan pencapaian derajat manusia paling terhormat yang patut dijadikan suri teladan bagi semua pihak serta layak disebut (dijadikan) pemimpin utama.

Untuk itu, dengan adanya prinsip Tri Dharma dan tentang bagaimana usaha untuk memenuhinya, maka di Jawa Kulon (Barat) khususnya, di masa lalu telah ada sebuah ajaran yang sangat agung yang menjadi Tji/Ci (cahaya) kehidupan. Ajaran itu disebut dengan Mandala Bhakti, yang di dalamnya terdapat beberapa tingkat pencapaian hidup dari setiap pribadi. Adapun di antaranya yaitu:

1. Mandala Hyang
Ini adalah tahapan yang tertinggi namun hanya bisa dicapai jika seseorang telah dan hanya memikirkan tentang kesemestaan.

2. Mandala Agung
Hanya bisa dicapai jika seseorang telah memikirkan tentang kehidupan berbangsa dan bernegara dengan benar.

3. Mandala Wangi
Hanya bisa dicapai jika seseorang telah memikirkan tentang kebenaran.

4. Mandala Wening
Hanya bisa dicapai jika seseorang telah memikirkan tentang cinta dan kasih sayang.

5. Mandala Raja
Hanya bisa dicapai jika seseorang telah memikirkan tentang kebijakan dan kebajikan.

6. Mandala Seba
Ini adalah sifat dan sikap seseorang yang tidak baik karena hanya memikirkan tentang dirinya sendiri (egois, oportunis, sombong, serakah, kikir, dll).

7. Mandala Kasungka
Ini adalah kualitas pribadi yang paling rendah, karena sifat dan sikap seseorang disini masih selalu memikirkan tentang sex, gaya hidup, jabatan, kekuasaan, harta benda, serta segala yang bersifat kebinatangan. Sehingga ia pun menjadi lebih hina dari binatang yang terhina.

mandala bhakti

Demikianlah bagaimana ajaran Mandala Bhakti yang sudah disarikan oleh leluhur kita dulu telah menjadi pokok ajaran untuk perilaku hidup. Bagaimana keadaan diri seseorang bisa berkaca langsung pada ke 7 tingkatan yang terdapat di dalam ajaran tersebut. Ajaran ini lalu bersifat acuan dasar dan dorongan utama agar setiap pribadi bisa hidup dalam kebaikan, kebagusan dan kebenaran yang sejati. Ini adalah intisari atau puncak dari perilaku hidup yang sejati yang bisa dicapai atau dihindari oleh setiap pribadi yang berakal. Sehingga dalam pandangan kepercayaan Sundayana (bangsa Galuh kuno) jika seseorang tidak mampu melakoni ajaran Mandala Bhakti ini, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai orang Jawa (benar, waras). Dan jika ia sampai tidak memiliki rasa welas-asih, maka ia sudah tidak layak lagi untuk disebut sebagai manusia, lebih tepatnya sering disebut sebagai Duruwiksa (Buto/raksasa) atau makhluk biadab. Karena di dalam ajaran Sundayana sendiri terbagi dalam tiga bidang ajaran dalam satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan (kemanunggalan). Di antaranya yaitu;

1. Tata-Salira (Kemanunggalan Diri)
Berisi tentang pembentukan kualitas manusia yaitu meleburkan diri dalam “ketunggalan” agar menjadi “diri sendiri” (si-Swa) yang beradab, merdeka dan berdaulat atau menjadi seseorang yang tidak tergantung kepada apapun dan siapapun selain kepada diri sendiri (mandiri).

2. Tata-Naga-Ra (Kemanunggalan Negeri)
Yaitu memanunggalkan masyarakat/bangsa (negara) dalam berkehidupan di Bumi secara beradab, merdeka dan berdaulat. Ini adalah ajaran untuk membangun negara yang mandiri, tidak menjajah dan tidak bisa dijajah.

3. Tata-Buana (Kemanunggalan Bumi)
Yaitu kebijakan universal (kesemestaan) untuk memanunggalkan Bumi dengan segala isinya dalam semesta kehidupan agar tercipta kedamaian hidup di seluruh Buana (dunia).

Selain itu, dalam pandangan penganut Sundayana (bangsa Galuh kuno), maka yang dimaksud dengan “peradaban sebuah bangsa (negara)” itu tidak diukur berdasarkan nilai-nilai material yang semu dan dibuat-buat oleh manusia seperti bangunan megah, harta berupa emas serta batu permata dan lain sebagainya, melainkan terciptanya keselarasan hidup bersama alam (keabadian). Prinsip tersebut tentu saja sangat bertolak-belakang dengan negara-negara lain yang kualitas pribadi dan budayanya tidak sebaik milik bangsa beriklim tropis seperti di Nusantara. Leluhur orang Sunda (Galuh kuno) mengajarkan tentang prinsip kejayaan dan kekayaan sebuah negara sebagai berikut:

Gunung kudu pageuh, leuweung kudu hejo, walungan kudu herang, taneuh kudu subur, maka bagja rahayu sakabeh rahayatna : Gunung harus kokoh, hutan harus hijau, sungai harus jernih, tanah harus subur, maka tentram damai sentausa semua rakyatnya

Gunung teu meunang dirempag, leuweung teu meunang dirusak : Gunung tidak boleh dihancurkan, hutan tidak boleh dirusak

Sehingga, secara mendasar ajaran para leluhur orang Sunda (Galuh kuno) dapat diterima di seluruh bangsa (negara) di dunia, karena mengandung tiga pokok ajaran yang bersifat universal (logis dan realistis), tanpa tekanan dan paksaan. Di antaranya yaitu:

1. Pembentukan nilai-nilai pribadi manusia (seseorang) sebagai landasan pokok pembangunan kualitas keberadaban sebuah bangsa (masyarakat) yang didasari oleh nilai-nilai welas-asih (cinta dan kasih sayang).

2. Pembangunan kualitas sebuah bangsa menuju kehidupan bernegara yang adil-makmur-sejahtera dan beradab melalui segala sumber daya bumi (alam/lingkungan) di wilayah masing-masing, yang dikelola secara bijaksana sesuai dengan kebutuhan hidup sehari-hari.

3. Pemeliharaan kualitas alam secara harmonis yang kelak menjadi pokok kekayaan atau sumber daya utama bagi kehidupan yang akan datang pada sebuah bangsa, dan kelak berlangsung dari generasi ke generasi berikutnya (berkelanjutan).

Demikianlah ajaran Sunda (Sundayana/Surayana) menyebar ke seluruh penjuru Bumi yang dibawa oleh para Guru Hyang dan memberikan warna dalam peradaban masyarakat dunia. Ajaran itu lalu diserap dan diungkapkan (diterjemahkan) melalui berbagai bentuk tanda berdasarkan pola kecerdasan masing-masing bangsanya. Ajaran Sundayana juga menyesuaikan diri dengan letak geografis dan watak masyarakatnya secara selaras (harmonis). Itulah sebabnya bentuk bangunan suci (tempat pemujaan) tidak menunjukan kesamaan 100% di setiap negaranya, tergantung kepada potensi alamnya. Namun demikian, pola dasar bangunan dan filosofinya tetap memiliki kandungan makna yang sama, yaitu tetap merujuk kepada bentuk gunungan atau punden berundak (piramida). Sebagaimana bentuk piramida yang terdapat di Mesir, China, Bosnia, Mexico, dll.

*****

Wahai saudaraku. Dari semua uraian di atas, apakah dirimu masih meragukan kehebatan bangsa ini? Apakah engkau masih saja terbuai dengan apa yang datangnya dari bangsa lain? Lihatlah, bahwa leluhur kita itu sudah sejak dulu memiliki sebuah peradaban yang tinggi baik secara lahiriah maupun batiniah. Artinya, mereka sudah sampai pada tahap kesempurnaan hidup sebagai manusia dengan laku utama, yaitu menyeimbangkan antara energi mikrokosmos dan makrokosmos. Dimana kesempurnaan itu sangat sulit ditemukan pada bangsa lainnya. Dan kalaupun ada, ternyata semua yang bangsa lain itu miliki di dapat atau berasal dari Nusantara, dari ajaran yang berpangkal pada kebijaksanaan hati para leluhur kita.

Untuk itu, dari penjelasan tentang mantra, prana, Tri Dharma hingga ajaran Mandala Bhakti di atas, itu jelas menunjukkan bahwa sudah selayaknya kita semua untuk mengembalikan kejayaan Nusantara ini. Artinya mengembalikan ajaran kuno yang telah lama hilang (atau justru sengaja dihilangkan) untuk bekal utama kebaikan tanah pertiwi ini. Kita harus kembali ke jati diri kita sendiri sebagai bangsa yang telah Tuhan kehendaki untuk hidup di tanah Nusantara yang lengkap dengan tradisi, budaya dan ilmunya sendiri. Kita tidak harus mengagungkan ajaran yang berasal dari negeri atau bangsa lain, dan kalau terpaksa harus mengikuti maka cukuplah mengambilnya sebagai pelengkap saja, bukan dasar utama. Karena dasar utama untuk segala perikehidupan dunia dan akherat itu telah ada di tanah Nusantara, bahkan sejak milyaran tahun silam. Dimana semuanya itu merupakan ajaran dan warisan dari para leluhur yang bijaksana dan utusan Tuhan yang mulia (Nabi dan Rasul) yang hidup di masa lalu. Kita tinggal menggali dan mengikutinya saja dengan tekun. Insya Allah bangsa ini akan bangkit dalam kegemilangan dan memimpin dunia sekali lagi.

Semoga kita pribadi dan bangsa ini bisa cepat mengembalikan perikehidupan yang sesuai dengan ajaran kuno leluhur yang adi luhung. Karena hanya dengan begitu, maka kehidupan di atas dunia ini akan lebih mulia dan sempurna.

Yogyakarta, 03 Januari 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

Referensi:
* http://www.belida.com/religi/2012/03/18/178/sunda-itu-adalah-su-na-da-distorsi-sejarah-dalam-perjalanan-waktu
* https://id-id.facebook.com/notes/spiritual-indonesia/ajaran-leluhur-bangsa-nusantara-oleh-adi-putra-iwayan-/146454618729768/
* https://sabdalangit.wordpress.com/informasi-penting/hubungan-leluhur-kembalinya-kejayaan-nusantara/

4 thoughts on “Mandala Bhakti: Ajaran Mulia Bangsa Nusantara

    Rudi Saprudin said:
    Januari 5, 2016 pukul 3:39 pm

    Mas Oedi…terima kasih telah mencerahkan melalui tulisan ini. mohon ijin saya copas ke web kami di http://www.bhayangkaranusantara.com

      oedi responded:
      Januari 6, 2016 pukul 11:34 am

      Sama” mas Rudi, terimakasih juga atas kunjungan dan dukungannya, moga bermanfaat..🙂
      Silahkan saja mas, tapi tolong tetap disertakan sumbernya..🙂

    Maulana blues said:
    Januari 11, 2016 pukul 4:51 am

    Wah keren mas tulisannya..makin bangga jadi orng nusantara..jdi semangat perang hahaha…

      oedi responded:
      Januari 12, 2016 pukul 7:36 am

      Iya Ben, harus itu.. ngapain kagum sama bangsa lain kalau sebenarnya bangsa kita justru lebih mengagumkan… Seeplah kalau emang sudah siap perang, bekali aja diri terus menerus, biar mampu menghadapi keadaan yang memang akan sangat mencekam itu.. tetap semangat deh🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s