Pribadi Yang Menakjubkan

Posted on Updated on

menakjubkanWahai saudaraku. Siapakah di antara kalian yang ingin menjadi pribadi yang menakjubkan? Dimana pribadi yang seperti itu akan mengubah dunia dan menyelamatkanmu di akherat nanti. Dari pertanyaan itu, tentu semua orang akan mengatakan; “Iya, saya sangat menginginkannya”. Namun disini apakah sudah banyak yang tahu apa syarat yang harus dipenuhi untuk hal itu? Apakah sudah banyak yang menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari?

Wahai saudaraku sekalian. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA dikatakan bahwa suatu ketika selepas shalat subuh, seperti biasa Rasulullah SAW duduk menghadap para sahabat. Kemudian beliau bertanya: “Wahai manusia, siapakah makhluk Tuhan yang imannya paling menakjubkan?” Para sahabat menjawab; “Malaikat ya Rasulullah”. Rasulullah berkata; “Bagaimana malaikat tidak beriman, sedangkan mereka pelaksana perintah Tuhan?” Kemudian sahabat menjawab lagi; “Kalau begitu para Nabi ya Rasulullah” Kemudian Rasulullah pun berkata lagi; “Bagaimana Nabi tidak beriman, sedangkan wahyu dari langit turun kepada mereka?” Untuk ketiga kalinya sahabat menjawab; “Kalau bagitu para sahabat-sahabatmu ya Rasulullah” Kemudian Rasulullah pun berkata lagi; “Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman sedang mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan. Mereka bertemu langsung denganku, melihatku, mendengar kata-kataku, dan juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri tanda-tanda kerasulanku” Lalu Nabi SAW terdiam sejenak, kemudian dengan lembut beliau pun bersabda; “Yang paling menakjubkan imannya adalah kaum yang datang sesudah kalian semua. Mereka beriman kepadaku tanpa pernah melihatku. Mereka membenarkanku tanpa pernah menyaksikanku. Mereka menemukan tulisan dan beriman kepadaku. Mereka mengamalkan apa-apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka membela aku seperti kalian membelaku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku itu”

Dari hadits di atas, maka setidaknya kita bisa mengetahui apa syarat untuk bisa menjadi sosok yang menakjubkan. Kita pun harus mencintai dan mengikuti sunnah dari Rasulullah SAW itu dengan rasa suka. Karena itulah, sebagai umat yang mengaku cinta dan mengikuti Rasulullah SAW, adakah waktu yang kalian sisihkan untuk ber-khalwat (menyendiri) bersama Allah SWT? Adakah kalian memiliki waktu di malam hari atau di waktu dhuha hanya untuk menyendiri dengan Allah SWT? Adakah kalian di waktu malam hari, saat istri, suami atau anak-anak kalian tertidur kalian justru bertafakur dan menangisi dosa-dosamu? Karena ketahuilah bahwa junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW itu selalu merasa senang untuk ber-khalwat (menyendiri) dan ber-muhasabah (intropeksi diri). Dan beliau pernah bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah berikut ini:

“Orang yang paling mulia kedudukannya di sisi Allah dari kalian adalah orang yang paling lama menahan lapar dan merenung. Dan orang yang paling di benci oleh Allah adalah orang yang banyak tidur, banyak makan dan banyak minum” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

“(Keselamatan adalah ketika) rumahmu mencukupimu, kamu menahan lidahmu, dan kamu menangisi dosamu” (HR. At-Tirmidzi)

Wahai saudaraku. Kehidupan ini memang penuh dengan lika-likunya dan kita terkadang dipaksa untuk menghabiskan waktu siang dan malam hanya untuk mencari rezki. Tapi ketahuilah, bahwa uang, harta dan kedudukan itu tetaplah semu dan sementara saja. Semuanya jauh dari kekal. Karena itulah, seharusnya kita juga mau mempersiapkan bekal non-materi untuk kehidupan yang abadi nanti (akherat). Salah satu contohnya adalah pergi ke suatu tempat, melaksanakan ibadah sunnah dan melakukan muhasabah (intropkesi diri). Tidak perlu ada orang yang mengetahuinya, hanya engkau dan Allah SWT saja. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini:

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, bersih dan tersembunyi” (HR. Muslim)

Ya. Demikianlah yang di lakukan oleh para sahabat, ulama dan waliyullah. Bertahun-tahun mereka menangis di malam hari dan merasa sangat takut untuk berjauhan dengan Tuhannya. Dan demikianlah pula di awal kenabian, dimana Rasulullah SAW merasa senang untuk ber-khalwat (menyendiri) bersama Tuhannya. Sehingga pikirkanlah wahai saudaraku sekalian, bahwa memang saat ini kita butuh ber-khalwat bersama Allah SWT. Kebutuhan itu bahkan telah sangat besar dan mendesak, karena zaman kita sekarang ini adalah zaman Fatrah (zaman kemunafikkan yang merajalela). Zaman dimana orang-orang telah semakin lupa diri dan lupa pula tujuan kenapa ia diciptakan; yaitu mengagungkan Allah SWT.

muhasabah

Wahai saudaraku semuanya. Bagaimana tidak kita harus ber-khalwat, sementara waktu kita terus saja habis siang dan malamnya hanya demi urusan duniawi? Selama 24 jam, kita mungkin hanya menyempatkan waktu untuk mengingat Allah SWT dalam shalat lima waktu saja, itu pun cuma beberapa menit saja. Selebihnya waktu itu kita habiskan dengan urusan dunia dan segala kesenangannya saja. Sehingga disini terlihat jelas bahwa kita terus saja mengejar yang sementara dan lupa untuk berduaan dengan Yang Abadi, Yang Maha Pencipta, Diri Yang Maha Agung dan Pengasih. Karena setiap hari, dari pagi hingga malamnya, beragam motivasi dan dorongan sampai kepada kita untuk terus memuja kesenangan duniawi. Kita pun mengikuti dan senang sekali dengan hal itu dengan sangat aktif bermain Facebook, Twitter, Instagram, Line, Youtube, dll. Smartphone kita juga tidak pernah lepas dari tangan kita. Seakan-akan ia tidak ingin membiarkan kita bermesraan dengan Allah SWT. Padahal semua itu hanya bisa menyebabkan kita semakin lupa dan lalai akan tujuan hidup ini; yaitu mempersiapkan bekal akherat. Dan siapakah Tuhanmu yang sesungguhnya? Karena lihatlah betapa engkau telah begitu cinta dan tak ingin berpisah dengan smartphone mu itu. Sikapmu itu bahkan menunjukkan bahwa engkau lebih mencintai, membutuhkan, “mengagungkan”, dan tak ingin berjauhan dengan sebuah benda kecil. Bahkan itu jelas melebihi rasa cinta, butuh, rindu dan sikap sayangmu kepada Allah SWT. Padahal bukankah sikap yang seperti itu bisa dikatakan musyrik?

Wahai saudaraku. Lihatlah bahwa saat ini orang-orang terus saja saling memuji atau menghujat dengan tanpa batas – baik langsung atau melalui media masa dan media sosial. Jarang dari mereka yang mau menasehati pada hal-hal yang positif atau mengingatkan dampak buruk dari kejahilan. Mereka terus saja disibukkan dengan hal yang tidak penting, sehingga dengan begitu lantas kapan ia akan ber-muhasabah (intropeksi diri) dan ber-khalwat (menyendiri) bersama Tuhannya? Bukankah hanya dengan sering ber-muhasabah dan ber-khalwat saja diri seseorang bisa semakin baik dan mengikis kesombongan, bersikap rendah hati dan terhidar dari dosa? Karena saat itu, ia akan bersimpuh dihadapan-Nya sembari berkata; “Ya Allah, inilah hamba-Mu yang penuh salah dan dosa. Yang terlalu sombong tetapi bodoh. Yang sering melupakan-Mu dan lalai dengan rasa syukur kepada-Mu. Inilah diriku yang terlalu bangga dan mengagungkan diri sendiri. Merasa sudah mulia padahal masih teramat hina. Inilah diriku yang terlalu banyak tertipu dengan yang semu dan lupa dengan Yang Nyata. Begitu pun diriku ini adalah termasuk orang-orang yang masih terbujuk oleh angan-angan pada kesenangan duniawi, sehingga belum juga bertobat kepada-Mu. Begitu banyak yang memujiku dengan pujian yang tinggi. Mereka memanggilku syeikh, kiyai, ustadz, proffesor, panglima, tuan, wahai yang mulia, wahai yang hebat, wahai yang pintar…, tetapi Engkau wahai Tuhanku, selalu Mengetahui siapa diriku ini. Inilah hamba-Mu yang banyak lalai dan melakukan pelanggaran terhadap aturan-Mu. Hamba hanyalah sosok yang sering lupa diri dan terus saja dilalaikan oleh dunia dan segala isinya. Inilah hamba.. inilah hamba.. dan Engkau Maha Mengetahui diri hamba yang sebenarnya. Karena saat sendirian atau dalam keramaian Engkau tahu siapa hamba ini. Saat hamba terjaga atau tertidur Engkau pun mengetahui siapa diri hamba ini. Engkau pun pasti tahu setiap niat dan tujuan dari lisan dan perbuatanku. Dan inilah hamba-Mu yang teramat hina dan lemah, yang memohon ampunan dan ridha-Mu”

Muhasabah 1

Untuk itu saudaraku, marilah sejak saat ini kita menyediakan waktu untuk dapat sejenak ber-khalwat dan ber-muhasabah. Terlebih di zaman sekarang ini, maka kebutuhan itu sangat penting dalam hidup kita. Janganlah kita termasuk golongan orang-orang yang lalai terhadap akherat dengan tidak lagi mau ber-khalwat dan ber-muhasabah. Jangan lagi kita merasa puas dan bangga dengan hanya ikut-ikutan gaya hidup manusia pada umumnya – karena yang umum itu belum tentu benar. Karena jika demikian, maka harapan untuk bisa menjadi pribadi yang menakjubkan telah sirna dari kehidupan kita. Dan jika itu terjadi, maka kesempatan untuk mendapatkan keuntungan, kebahagiaan dan keselamatan di akherat pun kian sirna.

Sungguh, ikutilah utusan yang terbaik; Rasulullah Muhammad SAW dalam kehidupanmu. Dan demikianlah Rasulullah SAW pernah be-khalwat dan ber-muhasabah sepanjang hidupnya untuk kebaikan. Beliau pun menganjurkan sikap itu kepada para sahabatnya untuk kebaikan diri mereka juga. Sehingga para sahabat beliau pun bisa menjadi sosok yang shalih dan menakjubkan.

Semoga kita bisa menjadi sosok yang menakjubkan, karena kesempatan itu jelas nyata adanya. Dan janji tersebut sudah terpatri di Lauh Mahfuz, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA di atas. Bahwa “Yang paling menakjubkan imannya adalah kaum yang datang sesudah kalian semua.” Lalu siapakah kaum itu? Itulah diri kita sekarang wahai umat Islam, tetapi dengan syarat minimal mau ber-khalwat dan ber-muhasabah kepada Allah SWT secara rutin.

Jambi, 24 Desember 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s