Kapitayan, Agama Universal Dari Tanah Jawa

Posted on Updated on

orang jawaWahai saudaraku. Jauh sebelum era perhitungan Masehi dimulai, khususnya di tanah Jawa sudah ada satu keyakinan pada Ke-Esaan Tuhan. Para leluhur kita dulu SUDAH SADAR DIRI, jauh sebelum ajaran agama baru yang di import dari Timur Tengah, India dan China hadir di Nusantara. Para beliau merasa bahwa KEYAKINAN itu adalah untuk DIPERCAYA dan DILAKUKAN ajarannya, bukannya menjadi bahan perdebatan atau malah dicarikan eksistensinya lalu menjadi sumber pertikaian dan peperangan. Oleh sebab itu, nenek moyang orang Jawa sudah membekali dirinya dengan pengetahuan tentang Dzat (kenyataan) Tertinggi serta tentang bagaimana bisa menemukan-Nya.

Ya. Orang Jawa di masa lalu telah percaya akan keberadaan suatu entitas yang tak kasat mata namun memiliki kekuatan Adikodrati yang menyebabkan kebaikan dan keburukan dalam kehidupan dunia. Mereka tidak pernah menyembah selain kepada Tuhan Yang Maha Agung. Meskipun ia adalah seorang Dewa atau Bhatara sekalipun, semua itu tetaplah mereka anggap sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dan tentunya tidak layak untuk disembah sebagaimana Dzat Yang Maha Kuasa sendiri. Tuhan-lah yang orang Jawa yakini dan mereka sembah, yang telah mereka pahami sebagaimana yang disebut kemudian dengan istilah Sang Hyang Taya. [baca: Prabu Harustasya: Jalan menemukan Tuhan]

Memang pada masa itu orang Jawa belum memiliki Kitab Suci, tetapi mereka telah memiliki bahasa sandi yang dilambangkan dan disiratkan dalam semua sendi kehidupannya dan mempercayai ajaran-ajaran itu tertuang di dalamnya tanpa mengalami perubahan sedikitpun karena memiliki pakem (aturan yang dijaga ketat). Kesemuanya merupakan ajaran yang tersirat untuk membentuk laku utama yaitu Tata Krama (Aturan Hidup Yang Luhur) dan untuk menjadikan orang Jawa sebagai sosok yang hanjawani (memiliki akhlak terpuji).

Karena itulah, masyarakat Jawa yang cair (ramah dan santun), juga menerima dengan baik ajaran agama yang dibawa oleh kaum migran (Hindu, Buddha, Islam, Nasrani dan lainnya) selama mempunyai konteks yang sama dengan ujung MONOTHEISME (Tuhan yang satu). Sebab inilah banyak agama yang dibawa kaum migran lalu memilih basis dakwahnya dari tanah Jawa.

Sungguh, leluhur Jawa dulu selalu melihat bahwa agama itu sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan “ibadah”). Ajaran mereka biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat dan menekankan pada konsep “keseimbangan”. Mereka hampir tidak pernah mengadakan kegiatan perluasan ajaran, tetapi melakukan pembinaan secara rutin. Simbol-simbol “laku” berupa perangkat adat asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya itu menampakan kewingitan (wibawa magis), bukan inti ajarannya. Namun memang tidak bisa dipungkiri telah banyak orang (termasuk penghayat Kejawen sendiri) yang dengan mudah memanfaatkan ajaran leluhur itu dengan praktik klenik dan perdukunan, padahal sikap itu tidak pernah ada dalam ajaran para leluhur dulu.

tradisi-selamatan

Kemudian jauh sebelum agama Islam masuk, di Nusantara terdapat agama kuno yang disebut Kapitayan – yang secara keliru dipandang sejarawan Belanda sebagai Animisme dan Dinamisme. Agama ini adalah perkembangan dari ajaran dan prinsip keyakinan kepada Sang Hyang Taya sebelumnya. Dimana Kapitayan ini adalah suatu ajaran yang memuja sesembahan utama yang disebut Sang Hyang Taya, yang bermakna Hampa atau Kosong atau Suwung atau Awang-uwung. Dia-lah Dzat Yang Maha Kuasa dan Pencipta segala sesuatu.

Perlu diketahui bahwa konsep Hyang adalah asli dari sistem kepercayaan masyarakat Nusantara, khususnya di tanah Jawa, bukan konsep yang berasal dari ajaran Hindu atau Buddha dari India. Kata Hyang dikenal dalam bahasa Melayu, Kawi, Jawa, Sunda dan Bali sebagai suatu keberadaan kekuatan Adikodrati yang supranatural. Keberadaan spiritual ini bersifat Ilahiah yang mencipta, mengatur dan mempengaruhi segala sesuatu yang ada di alam jagat raya. Sesuatu Yang Absolut yang tidak bisa dipikir dan dibayang-bayangkan (Niskala). Tidak bisa didekati dengan panca indera. Orang Jawa lalu mendefinisikan Sang Hyang Taya dalam satu kalimat “Tan kena kinaya ngapa” alias tidak bisa diapa-apakan keberadaan-Nya. Untuk itu, agar bisa disembah, Sang Hyang Taya mempribadi dalam nama dan sifat yang disebut TU atau TO, yang bermakna “daya gaib” yang bersifat Adikodrati.

Perlu diketahui juga bahwa TU atau TO adalah tunggal dalam Dzat, Satu Pribadi. TU lazim disebut dengan nama Sang Hyang Tunggal. Dia memiliki dua sifat, yaitu Kebaikan dan Kejahatan. TU yang bersifat Kebaikan disebut TU-han disebut dengan nama Sang Hyang Wenang. TU yang bersifat Kejahatan disebut dengan nama Sang Hyang Manikmaya. Demikianlah, Sang Hyang Wenang dan Sang Hyang Manikmaya pada hakikatnya adalah sifat saja dari Sang Hyang Tunggal. Karena itu baik Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Wenang dan Sang Hyang Manikmaya bersifat gaib, tidak dapat didekati dengan panca indera dan akal pikiran. Hanya diketahui sifat-Nya saja.

Lalu, oleh karena Sang Hyang Tunggal dengan dua sifat itu bersifat gaib, maka untuk memuja-Nya dibutuhkan sarana-sarana yang bisa didekati panca indera dan alam pikiran manusia. Itu sebabnya, di dalam ajaran Kapitayan dikenal keyakinan yang menyatakan bahwa kekuatan gaib dari Pribadi Tunggal Sang Hyang Taya yang disebut TU atau TO itu ‘tersembunyi’ di dalam segala sesuatu yang memiliki nama TU atau TO. Para pengikut ajaran Kapitayan meyakini adanya kekuatan gaib pada wa-TU, TU-gu, TU-lang, TU-nggul, TU-ak, TU-k, TU-ban, TU-mbak, TU-nggak, TU-lup, TU-rumbuhan, un-TU, pin-TU, TU-tud, TO-peng, TO-san, TO-pong, TO-parem, TO-wok, TO-ya. Dalam melakukan bhakti memuja Sang Hyang Taya, orang menyediakan sesaji berupa TU-mpeng, TU-mbal, TU-mbu, TU-kung, TU-d kepada Sang Hyang Taya melalui sesuatu yang diyakini memiliki kekuatan gaib.

Kalau dalam Islam ada tingkatan-tingkatan ibadah seperti Syari’at, Thariqah, Hakikat dan Makrifat, maka di Kapitayan praktek di atas adalah proses ibadah tingkatan syari’at yang dilakukan oleh masyarakat awam kepada Sang Hyang Tunggal. Untuk para ‘ulama’-ulama’ sufi’ nya Kapitayan, mereka menyembah langsung kepada Sang Hyang Taya dengan gerakan-gerakan tertentu, pertama melakukan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap Tutuk (lubang) sambil mengangkat kedua tangan dengan maksud “menghadirkan’ Sang Hyang Taya di dalam Tutu-d (hati). Setelah merasa sudah bersemayam di hati, langkah selanjutnya adalah tangan diturunkan dan didekapkan di dada yang disebut swa-dingkep (memegang ke-aku-an diri). Setelah dirasa cukup proses Tu-lajeg ini, kemudian dilanjutkan dengan Tu-ngkul (membungkuk menghadap ke bawah), lalu dilanjutkan lagi dengan Tu-lumpak (duduk bersimpuh dengan kedua tumit diduduki), dilanjutkan proses terakhir yaitu To-ndhem (bersujud). Sedangkan tempat ibadahnya disebut Sanggar, yaitu bangunan persegi empat beratap tumpak dengan lubang di dinding sebagai lambang kehampaan. Kalau Anda kesulitan membayangkan tempatnya, maka modelnya tidak jauh berbeda dengan langgar/musholla di desa-desa pada umumnya.

Javanen_offerend_bij_Tjandi_Parikesit

Untuk itu, seorang hamba pemuja Sang Hyang Taya yang dianggap shaleh akan dikaruniai kekuatan gaib yang bersifat positif (TU-ah) dan yang bersifat negatif (TU-lah). Mereka yang sudah dikaruniai TU-ah dan TU-lah itulah yang dianggap berhak untuk menjadi pemimpin masyarakat. Mereka itulah yang disebut ra-TU atau dha-TU (cikal bakal gelar Ratu dan Datu bagi para pemimpin kerajaan Nusantara).

Mereka yang sudah dikaruniai TU-ah dan TU-lah, gerak-gerik kehidupannya akan ditandai oleh PI, yakni kekuatan rahasia Ilahi Sang Hyang Taya yang tersembunyi. Itu sebabnya, ra-TU atau dha-TU, menyebut diri dengan kata ganti diri: PI-nakahulun. Jika berbicara disebut PI-dato. Jika mendengar disebut PI-harsa. Jika mengajar pengetahuan disebut PI-wulang. Jika memberi petuah disebut PI-tutur. Jika memberi petunjuk disebut PI-tuduh. Jika menghukum disebut PI-dana. Jika memberi keteguhan disebut PI-andel. Jika menyediakan sesaji untuk arwah leluhur disebut PI-tapuja lazimnya berupa PI-nda (kue tepung), PI-nang, PI-tik, PI-ndodakakriya (nasi dan air), dan PI-sang. Jika memancarkan kekuatan disebut PI-deksa. Jika mereka meninggal dunia disebut PI-tara. Sehingga seorang ra-TU atau dha-TU, adalah pengejawantahan kekuatan gaib Sang Hyang Taya. Seorang ra-TU atau dha-TU adalah citra Pribadi Sang Hyang Tunggal.

Dengan prasyarat-prasyarat sebagaimana terurai di atas, kedudukan ra-TU dan dha-TU tidak bersifat kepewarisan mutlak. Sebab seorang ra-TU atau dha-Tu dituntut keharusan secara fundamental untuk memiliki TU-ah dan TU-lah, tidak bisa diwariskan secara otomatis pada anak keturunannya. Seorang ra-TU harus berjuang keras menunjukkan keunggulan TU-ah dan TU-lah, dengan mula-mula menjadi penguasa wilayah kecil yang disebut Wisaya. Penguasa Wisaya diberi sebutan Raka. Seorang Raka yang mampu menundukkan kekuasaan raka-raka yang lain, maka ia akan menduduki jabatan ra-TU. Dengan demikian, ra-TU adalah manusia yang benar-benar telah teruji kemampuannya, baik kemampuan memimpin dan mengatur strategi maupun kemampuan Tu-ah dan TU-lah yang dimilikinya.

Tapi kemudian, pengaruh Kapitayan dalam sistem kekuasaan Jawa dengan konsep ra-TU dan dha-TU, mengalami perubahan ketika pengaruh Hinduisme terutama ajaran Bhagavatisme yang dianut oleh para pemuja Vishnu masuk ke Nusantara. Ajaran Bhagavatisme dianggap lebih mudah dalam pelaksanaan ditambah sistem kepewarisan tahta yang bersifat kewangsaan, telah memberi motivasi bagi raja-raja Nusantara yang awal untuk menganut Vaishnava. Hanya saja, sekalipun pengaruh sistem kekuasaan Hindu dengan konsep rajawi dianut oleh penguasa-penguasa di Nusantara, namun sistem lama yang bersumber dari ajaran Kapitayan tidak dihilangkan. Keberadaan seorang raja atau maharaja misalnya, selalu ditandai oleh kedudukan ganda sebagai ra-TU atau dha-TU. Sehingga seorang raja, dipastikan memiliki tempat khusus yang disebut ‘keraton’ atau ‘kedhaton’ di samping bangsal dan puri. Selain itu, seorang raja selalu ditandai oleh kepemilikan atas benda-benda yang memiliki kekuatan gaib seperti wa-TU, TU-nggul, TU-mbak, TU-lang, TO-san, TO-pong, TO-parem, TO-wok, dll. Karena memang dulu sistem kekuasaan di Nusantara mensyaratkan keberadaan ra-TU atau dha-TU dengan benda-benda yang ber-TU-ah.

Namun zaman pun berganti dan keadaan dunia juga berubah sangat drastis. Dan ironisnya agama Kapitayan sebagai tuan rumah pernah di tekan hebat oleh para tamunya. Contohnya ketika zaman kerajaan Kadhiri, penganut agama Hindu yang mampu merangkul penguasa saat itu menekan golongan Kapitayan sehingga mereka harus naik ke gunung Klothok dan gunung Wilis (artefak peninggalan Kapitayan banyak tersebar disana, sebagian dibawa kaum penjajah ke Leiden dan berkembang menjadi aliran kepercayaan Hasoko Jowo yang justru bermarkas di Leiden-Belanda sana). Lalu di zaman kerajaan Tumapel/Singosari kejadiannya pun sama, penganut agama Hindu-Buddha menekan hebat kelompok ini hingga mengungsi ke pesisir selatan tanah Jawa. Selanjutnya di zaman kerajaan Demak, penganur agama Islam  yang melakukan penetrasi bahkan hingga sekarang ini. Dan yang terakhir di zaman Kolonoial, penganut agama Nasrani mendapat tempat elite di sosial kemasyarakatan dan lainnya.

Sungguh, jika Anda mau bertanya seberapa ramah dan besarnya pengorbanan suatu peradaban menerima perobahan? Itu hanya milik peradaban tanah Jawa di Nusantara. Andai saja mereka bersikukuh pada keyakinannya dan mengabaikan nilai universal yang dipahaminya, saya amat yakin bahwa TIDAK AKAN ADA AJARAN AGAMA IMPORT BEGITU MUDAHNYA MASUK DI TANAH JAWA, bahkan tanpa pertumpahan darah. Justru yang belum yakin itulah yang bertanya dan kearifan tanah ini menjawab dengan bahasa semesta. Ketika agama Buddha dipahami dari sudut pandang Jawa, kita memiliki Borobudur yang dikagumi seluruh dunia dan dijadikan tempat pendidikan kelas dunia di masanya. Hal yang sama juga terjadi pada agama Hindu dengan candi Prambanan dan masyarakat Balinya. Kemudian agama Islam bahkan dengan pendekatan kebudayaannya telah menjadikan Walisongo sebagai ulama kelas wahid di Asia Tenggara dan lainnya, dan kini timbullah dengan apa yang dikenal dunia kini dengan sebutan Islam Nusantara.

candi Borobudur

candi prambanan 1

Tapi, ketika semua dijalankan dengan kaku dan harus seperti aslinya dimana agama itu diturunkan, maka terjadilah benturan yang nyata. Dan ketika ada orang yang menganggap adalah sempurna bila agama dijalankan sejurus dengan adat dimana ia diturunkan. Maka JAWABANNYA ADALAH SALAH BESAR, karena tata nilai agama itu bersifat universal, sedangkan adat dianugerahkan pada suatu komunitas dan kekhususan lokasi. Sehingga jangan mimpi untuk bisa hidup sempurna jika memaksakan sesuatu – terutama keyakinan – tanpa menyatupadukan dengan kultur dan karakter bangsa setempat. Sebab, getaran semestanya (nyata dan gaib) akan melawan dengan hebat. Akan ada hukuman bagi siapa saja yang keliru dan bersikap tidak adil dan tidak bijaksana kepada sesama. Dan Tuhan itu adalah Sang Maha Kuasa, Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, lantas mengapa masih saja ada orang yang berani mengkerdilkan keperkasaan-Nya itu dengan mengatakan “Tuhan hanya paham bahasa atau cara kami saja”?. Sungguh aneh.

“Akan tiba waktunya di tanah Nusantara ini bangkit kembali ajaran kuno yang pernah berjaya di masa silam. Bukan hanya di tanah Jawa, tetapi membawa pengaruh bagi seluruh dunia. Ajaran itu sangat indah karena di dalamnya terdapat aturan hidup yang menuhankan Tuhan Yang Satu, mengabdi kepada Dzat Yang Maha Mulia, dan tunduk hanya kepada Dia Yang Maha Kuasa. Sebagaimana yang telah dikabarkan di dalam kitab suci semua agama besar dunia”

Wahai saudaraku. Semoga kita tetap bisa menjadi pribadi yang tidak berpikiran picik atau fanatik yang buta, karena itu hanya akan menyusahkan. Bahkan jika terus dipertahankan, maka kehidupan pun akan semakin kacau, karena kepicikan dan fanatik itu sendiri adalah sumber dari kebodohan. Bersikaplah bijaksana disertai hati yang lapang, dengan begitu tujuan hidup di dunia akan tercapai.

Jambi, 09 Desember 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

Referensi:
* https://ahmadsamantho.wordpress.com/2012/10/12/kejawen-kapitayan-kepercayaan-asli-manusia-jawa/
* http://richyramadhani.blogspot.co.id/2012/06/kapitayan-agama-kuno-masyarakat.html

35 thoughts on “Kapitayan, Agama Universal Dari Tanah Jawa

    Jejak Parmantos said:
    Desember 9, 2015 pukul 9:21 am

    Wah info baru ini… sejak kapan ya kepercayaan ini berkembang?

      oedi responded:
      Desember 10, 2015 pukul 12:05 am

      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Hmm.. ya sesuai dengan tulisan di atas, maka ajaran ini sudah ada jauh sebelum era Masehi, salah satu bukti peninggalannya adalah situs Piramida Gunung Padang yang ada di Jawa Barat, yang menurut berbagai kalangan diyakini sudah ada sejak lebih dari 10.000 tahun silam..

    kuropriest97 said:
    Desember 9, 2015 pukul 10:09 am

    Kalau menurut saya, memang TUHAN YANG ESA itu layak disembah tetapi Dia tidak butuh disembah karena Dia adalah MAHA PEMBERI. Jadi, selaku kita tidak harus menyembah-Nya asalkan kita mengetahui keberadaan Dzat-Nya, menghormati keberadaan-Nya itu sudah cukup karena Dia MAHA KUASA yang tidak butuh disembah tetapi dihormati keberadaan-Nya saja.

      kuropriest97 said:
      Desember 9, 2015 pukul 10:15 am

      Sekaligus anda di sini membedakan Kapitayan dengan Kejawen tetapi mengapa sumbernya berasal dari Kejawen? Sungguh aneh. Padahal Kejawen jelas-jelas salah satu kepercayaan yang berasal dari kepercayaan imigran (bangsa Barat yang tidak lain berasal dari ajaran freemason).

        oedi responded:
        Desember 10, 2015 pukul 1:26 am

        Hmm.. disini saya sedang tidak membedakan antara Kapitayan dan Kejawen. Tulisan di atas sama sekali tidak bertujuan untuk itu.
        Setahu saya, ajaran Kejawen itu sudah ada jauh sebelum orang Barat-Eropa sampai di tanah Nusantara, tetapi tidak lebih dulu dari ajaran Kapitayan. Ajaran Kejawen itu keterusan dari ajaran Kapitayan yang sudah berkolaborasi atau “terkontaminasi” oleh ajaran Hindu, Buddha dan Islam. Jadi bisa dikatakan bahwa ajaran Kejawen itu bukan lagi murni dari ajaran Kapitayan dan sudah ada sejak zaman para Wali Songgo berdahwah di tanah Jawa. Lalu ajaran ini berkembang pesat di zaman kerajaan Demak, Pajang dan terutama Mataram Islam.
        Karena itulah, ajaran Kejawen disini bukan berasal dari luar Jawa, karena akar ajarannya tetap asli dari Jawa; yaitu Kapitayan, dan berakulturasi dengan ajaran dari luar Jawa. Dan tentu disini tidak ada hubungannya dengan ajaran freemason, karena ajaran Kejawen itu tetaplah berasal dari pikiran dan pemahaman orang Jawa (Rohso sejati, sejatining Rohso) – yang terakulturasi dengan ajaran Hindu, Buddha dan Islam, bukan berasal dari Barat apalagi freemason. Ajaran freemason masuk ke tanah Jawa, tepatnya sejak di Banjarnegara lalu berkembang pesat di Jogjakarta itu baru ada setelah bangsa Eropa menjajah tanah Jawa, khususnya melalui perantara VOC nya.

        kuropriest97 said:
        Desember 10, 2015 pukul 1:54 am

        Apakah anda sudah menolosok informasi ini lebih jauh dan bisakah informasi anda dikatakan valid atau berasal dari sumber tepercaya?

        oedi responded:
        Desember 10, 2015 pukul 2:07 am

        Iya…

      oedi responded:
      Desember 10, 2015 pukul 12:49 am

      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Hmm.. itu menurut Anda, saya sangat menghargainya.. Tapi saya pun punya pendapat sendiri, dan apa yang Anda sampaikan di atas tidak salah tetapi sepertinya belum lengkap. Karena selain Maha Pemberi, Tuhan juga Maha Pengatur dan Memerintah. Tujuannya tentu untuk kebaikan bagi setiap hamba-Nya, karena DIA tahu mana yang terbaik bagi makhluk-Nya. Untuk itulah, dalam kasih sayang-Nya Tuhan pun menurunkan tata aturan – dari zaman ke zaman – yang kemudian disebut dengan agama kepada para utusan-Nya (Nabi dan Rasul) untuk disampaikan kepada umat manusia. Dimana di setiap zamannya, maka tata aturan itu akan terus disesuaikan dengan kebutuhan dari setiap makhluk-Nya dan keadaan zamannya. Sehingga disini manusia akan selalu dimudahkan dan bisa terus mengikutinya tanpa merasa kesulitan.
      Nah, di dalam agama itu ada aturan yang jelas tentang tata nilai dan tata cara untuk mengenal, mendekatkan diri dan mengabdikan diri kepada Tuhan. Semuanya sudah sangat teratur dan bermanfaat, tinggal bagaimana setiap pribadinya itu mau menjalankannya dengan sungguh-sungguh, tekun dan ikhlas. Dan memang harus ada pakem (pedoman utama) yang jelas agar kehidupan di dunia ini pun bisa tetap teratur dan damai. Tidak bisa hanya sekedar yakin saja, karena keyakinan itu pun harus dibuktikan dalam praktek nyata tentang kepatuhan pada aturan yang sudah Tuhan tetapkan – karena itu pula yang menjadi bukti iman seseorang kepada Tuhan. Tentang bagaimana caranya, disinilah peran penting dari para utusan-Nya (Nabi dan Rasul) yang memang semuanya bertugas untuk memberikan contoh teladan dan mengajarkan dengan penuh kasih sayang kepada manusia. Seseorang harus membuktikan keyakinannya akan keberadaan Tuhan itu dengan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tidak cukup hanya sebatas di batin saja, tetapi juga secara lahiriah. Tanpa pembuktian dari keduanya itu (lahir dan batin), maka apapun itu belum cukup dan tidak sempurna.
      Benar, bahwa DIA itu tidak butuh sembah bakti kita, bahkan diri kita ini pun DIA juga tidak membutuhkannya, karena selamanya kitalah yang selalu membutuhkan DIA. Dan DIA itu memang harus di yakini dan dihormati keberadaan-Nya, wajib hukumnya, namun karena itulah kita harus membuktikannya dalam bentuk ketundukan (penyembahan tulus kepada-Nya) dan pengamalan murni pada setiap aturan-Nya. Sekali lagi, tidaklah cukup jika hanya sebatas yakin dan percaya di hati saja. Harus ada standar yang jelas dan dibuktikan langsung baik secara lahir maupun batin, karena itu pula yang bisa dikatakan lengkap. 🙂

    quinnieshe said:
    Desember 17, 2015 pukul 12:10 am

    Saya penasaran dengan kepercayaan Kapitayan, apakah kira2 termasuk Agama Ibrahimiah / Ibrahimovic ya yang lahir dari era Nabi Ibrahim AS?
    Atau malah memang sudah ada dari bangsa Nusantara lama/Sundaland/Atlantis yang pulang kampung dari Kapal Nabi Nuh AS termasuk Yafeth bin Nuh AS ya?

    Terimakasih mas Oedi.

      oedi responded:
      Desember 22, 2015 pukul 3:22 am

      Sama” mas/mbak Quinnieshe, terimakasih juga karena masih mau berkunjung di blog ini, semoga tetap bermanfaat..🙂
      Hmm.. saya belum tahu pasti apakah Kapitayan termasuk agama Ibrahimiah, tapi yang jelas saya pribadi lebih menyakini bahwa keyakinan Kapitayan ini berkaitan erat dengan syariatnya Nabi Syish AS yang memang juga pernah berkembang di tanah Nusantara, bahkan jauh sebelum era Nabi Ibrahim AS. Dan yang jelas entah itu berasal dari Nabi Syish AS atau Nabi Ibrahim AS atau Nabi Sulaiman AS, tetap saja inti ajarannya sama, yaitu memuja, menyembah dan mengagungkan Satu Tuhan saja. Tata cara ritual dan ibadahnya bisa saja berbeda-beda, karena memang sebagian besar Nabi itu membawa syariatnya sendiri. Semuanya itu sesuai pula dengan kondisi dan waktu zaman yang bersangkutan.

    […] Seperti ditulis oleh Saudara Mashudi Antoro (Oedi`) dalam blognya bahwa: “Untuk para ‘ulama’-ulama’ sufi’ nya Kapitayan, mereka menyembah langsung kepada Sang Hyang Taya dengan gerakan-gerakan tertentu, pertama melakukan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap Tutuk (lubang) sambil mengangkat kedua tangan dengan maksud “menghadirkan’ Sang Hyang Taya di dalam Tutu-d (hati). Setelah merasa sudah bersemayam di hati, langkah selanjutnya adalah tangan diturunkan dan didekapkan di dada yang disebut swa-dingkep (memegang ke-aku-an diri). Setelah dirasa cukup proses Tu-lajeg ini, kemudian dilanjutkan dengan Tu-ngkul (membungkuk menghadap ke bawah), lalu dilanjutkan lagi dengan Tu-lumpak (duduk bersimpuh dengan kedua tumit diduduki), dilanjutkan proses terakhir yaitu To-ndhem (bersujud). Sedangkan tempat ibadahnya disebut Sanggar, yaitu bangunan persegi empat beratap tumpak dengan lubang di dinding sebagai lambang kehampaan. Kalau Anda kesulitan membayangkan tempatnya, maka modelnya tidak jauh berbeda dengan langgar/musholla di desa-desa pada umumnya”. (Sumber: https://oediku.wordpress.com/2015/12/09/kapitayan-agama-universal-dari-tanah-jawa/) […]

    fitra said:
    Februari 18, 2016 pukul 12:00 am

    Mirip islam dalam segi penuhanan. Sangat logis (ada kekuatan yang maha kuat) cuma belum terarah. Sama halnya yang di alami sidarta gautama dan nabi ibrahim. Mereka pencari Tuhan. Ibrahim menemukan jawaban. Budha tidak bertemu tapi tetap yakin atas adanya kekuatan yang maha besar

      oedi responded:
      Februari 22, 2016 pukul 3:08 am

      Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Hmm.. tidak menutup kemungkinan bahwa ajaran Kapitayan ini awalnya adalah syariat dari para Nabi sebelum masa Nabi Ibrahim AS.. Dan sepengetahuan saya, maka sejak dulu kala ajaran Tuhan itu sudah bernama Islam. Hanya saja, di setiap zamannya ada perubahan dan penyempurnaannya, ini sesuai dengan situasi dan kondisi di masa itu..
      Tentang mencari Tuhan, terkadang Dia hanya menunjukkan kepada yang Dia kehendaki saja.. Karena itulah, hasil yang didapatkan antara Nabi Ibrahim AS dan Sidharta Gautama menjadi berbeda.. Dia-lah yang Maha Mengetahui alasannya dan Yang Maha Bijaksana bagi setiap makhluk-Nya.

    Siti Alfijah [Alfi Satiti] said:
    Februari 24, 2016 pukul 4:45 am

    Saya membaca kalimat ini. Berkali-kali. “Akan tiba waktunya di tanah Nusantara ini bangkit kembali ajaran kuno yang pernah berjaya di masa silam. Bukan hanya di tanah Jawa, tetapi membawa pengaruh bagi seluruh dunia. Ajaran itu sangat indah karena di dalamnya terdapat aturan hidup yang menuhankan Tuhan Yang Satu, mengabdi kepada Dzat Yang Maha Mulia, dan tunduk hanya kepada Dia Yang Maha Kuasa. Sebagaimana yang telah dikabarkan di dalam kitab suci semua agama besar dunia.”

      oedi responded:
      Februari 25, 2016 pukul 2:22 am

      Oh ya? Hmm kalimat itu muncul dari satu keyakinan yang kuat di dalam diri saya pribadi mbak.. Semua itu lalu diperkuat dengan berbagai literatur yang pernah saya baca, baik dari sudut pandang agama maupun sejarah dan sastra kuno.. bahwa nanti akan ada pergantian zaman yang mengubah semua kehidupan di Bumi ini. Dan perubahan yang menakjubkan itu akan berawal dan berpusat di Nusantara lalu menyebar ke seluruh belahan dunia ini… Kini tanda-tandanya sudah semakin jelas terlihat di sekitar kita, tapi hanya mampu dilihat dan dirasakan oleh mereka yang sudah membukan mata batinnya…
      Wokey.. terimakasih atas kunjungan dan dukungannya mbak Siti, semoga bermanfaat..🙂

      Alvian said:
      April 25, 2016 pukul 6:33 pm

      “Akan tiba waktunya di tanah Nusantara ini bangkit kembali ajaran kuno yang pernah berjaya di masa silam. Bukan hanya di tanah Jawa, tetapi membawa pengaruh bagi seluruh dunia. Ajaran itu sangat indah karena di dalamnya terdapat aturan hidup yang menuhankan Tuhan Yang Satu, mengabdi kepada Dzat Yang Maha Mulia, dan tunduk hanya kepada Dia Yang Maha Kuasa. Sebagaimana yang telah dikabarkan di dalam kitab suci semua agama besar dunia.”

      Kalimat ini hampir sama dengan sumpah dari Sabdo Palono Noyo Genggong yang beliau ucapkan sebelum mengghilang di hadapan Brawijaya. Bahwa dia akan kembali muncul dalam kurun waktu 500 tahun dimana agama dijawa akan berubah menjadi agama Budi.

        wanto said:
        Juli 10, 2016 pukul 10:32 pm

        maaf numpang lewat sabdo palono noyo genggong itu orang yang tidak pernah ada.

      imam ashari said:
      September 10, 2016 pukul 10:42 pm

      MUGI2 enggal2o bali maleh,,,mbah buyut pastinya uda lama menunggu kapan cucu2nya kembali mengingat perjuanganya dulu,,,,tanah jawa yg uda di wariskan tapi tdak ada seorangpun anak cucunya yang mengingat bila di bayangkan betapa sedihnya beliau,,,,,

    Andi isdianTO said:
    April 13, 2016 pukul 11:29 am

    SETUJU.. HueebaaaT… wong jowo sing jowo..hehehe..
    wah salahe mbah-mbah mbiyeen.. laopo duwe roso nrimo, bahkan”slalu nrimo”
    yeaach.. anak cucunya skrng udah pada Bingung dan malahan banyak yg bertengkar/ribut masalah keyakinan.
    ANDAIkan mbah-buyut jaman dahulu tdk mo nerima ajaran PARA pendatang baru… mungkin agama di KTP saya adalah: agama jawa/kejawen ato AGAMA: INDONESIA SATU… wkwkwkwk

    salam damai kangMas yg di Jambi.. suwun

      oedi responded:
      April 14, 2016 pukul 2:36 am

      Hmmm.. kurang bijak kalau kita menyalahkan para leluhur… Tolong dipahami dulu mas apa maksud dari “Nrimo” yang diyakini dan dilakukan oleh leluhur kita dulu. Itu jelas tidak sama loh dengan pemahaman “nrimo” dari orang sekarang.. Orang sekarangnya aja yang gak faham dan sudah lupa ingatan, lupa jowonya dan lupa pula dengan jati dirinya sendiri.. makane saiki akeh wong jowo ning orang jowo.
      Wokey, salam damai juga mas Andi, nuwun atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    agung irawadi (@agungirawadi) said:
    Mei 5, 2016 pukul 5:33 am

    kok jadi tentrem ya membacanya…memang menjadi banyak tanya di hati. rahayu.

      oedi responded:
      Mei 6, 2016 pukul 7:16 am

      Syukurlah kalau gitu, terimakasih mas Agung atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Wah sama, karena saat menuliskan artikel ini di dalam hati saya pun semakin banyak bertanya-tanya mas, karena tanya adalah sesuatu yang harus selalu ada. Tanpa itu kita justru akan berhenti, berhenti itu sendiri berarti mati dalam hidup dan hidup dalam kematian..
      Salam Rahayu _/\_🙂

        andi said:
        Mei 15, 2016 pukul 12:33 am

        Agama kapitayan menurut saya salah satu dri agama samawi purba yang dibawa salah satu nabi, mengingat jawa juga termasuk ras kuno dan tidak sangat mungkin nenek moyangnya adalah turunan terdekat dari nabi adam as.

        Dari salah satu cerita ulama di tempat saya mereka (umat agama kapitayan) beribadah di tempat yg disebut sanggar…..ketika walisongo hadir diubah dengan sebutan langgar…di sini kecerdasan mereka sebagai bentuk pendekatan agar islam bisa diterima….

        Dan jika dipelajari ajaran kapitasan ini dalam mensifati Tuhan Alloh adalah sama, yaitu Satu, Berdiri Sendiri, dan Sempurna, persis dgn ajaran monotheisme (ketauhidan) dalam Islam

        Dan saya yakin Islam adalah agama kapitayan versi terbaru jika kita mau mengkaji lebih dalam jika mau mengaji tidak hanya ada di kulitnya saja….

        Wallahu a’lam…

        oedi responded:
        Mei 15, 2016 pukul 4:21 am

        Setuju mas, saya pun berpikiran begitu, karena keyakinan saya adalah bahwa Nusantara itu dulunya memang negerinya para Nabi, atau menjadi tujuan utama dakwah dari para Nabi yang hidup jauh sebelum perhitungan Masehi di mulai.. Nusantara itu letaknya sangat strategis dan penuh dengan kekayaan alamnya. Karena itu tentulah wilayah ini menjadi “sesuatu” yang tidak bisa diabaikan, karena bahkan menjadi tujuan utama para penjelajah, pedagan dan bangsa lain di dunia. Begitu pun dengan para Nabi, tentulah mereka juga harus menyebarkan ajaran Tuhan di Nusantara, karena di wilayah ini telah muncul peradaban yang besar, bahkan sejak wilayahnya masih dalam satu daratan dan menyatu dengan benua Asia.
        Dengan alasan itu, maka sedikit banyak ajaran/syariat agama yang pernah dibawa oleh para Nabi itu masih tetap melekat dalam kehidupan masyarakatnya; Kapitayan adalah salah satunya. Lalu ketika datang ajaran/syariat agama baru yang juga datang kemudian dari para Nabi selanjutnya, maka khususnya masyarakat Jawa mudah menerimanya. Mereka pun tinggal mengikutinya saja, tidak ada pertentangan yang berarti, karena inti ajarannya – terutama tentang tauhidnya – pun tetap sama. Inilah yang menjadi alasan utama mengapa agama Islam pun mudah diterima oleh masyarakat Jawa hingga hari ini.
        Wokey.. Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂

    hadi purwanto said:
    Mei 21, 2016 pukul 8:31 am

    bisakah sy berkomunikasi dgn anda, matur suwun atas kesediaannya

    yulianto said:
    September 28, 2016 pukul 3:31 am

    saya rasa istilah Sang Hyang Taya di dalam ajaran Kapitayan mengacu pada istilah Sang Hyang Taya sbg perlambangan tingkat abhiseka pertama (kalasa-abhiseka) ——- karena generasi sekarang telah terputus dari ajaran leluhurnya yaitu Tantra Buddha, menyebabkan tidak dipahaminya lagi Tantra Buddha oleh generasi sekarang (kapitayan).

    silakan baca postingan saya ini bersertya koment-komentnya :
    https://www.facebook.com/groups/spiritual.indonesia/permalink/1175231642526358/

      oedi responded:
      September 30, 2016 pukul 3:38 pm

      Terimakasih atas kunjungannya, semoga bermanfaat..🙂

    singsot thekblung said:
    Oktober 4, 2016 pukul 5:19 pm

    terlalu pekat aroma ‘konspirasi’ penciptaan istilah ‘kapitayan’ ini.. terlalu mengada-ada dan ide-idenya terlalu muslim-based baget: gothak-gathuk dadi.. saya lebih seneng apabila jalan ceritanya: nusantara adalah pusatnya sistem kepercayaan monoteisme dan negeri-negeri timur tengah yg konon melahirkan para nabi tauhid itu hanya ‘clepretane’.. manusia pertama adalah pakdhe maryoto dan budhe sami.. merekalah yg kemudian menurunkan adam-hawa beserta para nabi lainnya, dan nantinya membawa ketiga agama samawi itu.. klo ceritanya gini saya lebih bangga, tidak hanya sekedar menjadi ‘tembelan’ kisah besar negeri timur tengah.. Hidup Nusantara!

      yuma said:
      Oktober 13, 2016 pukul 8:35 pm

      Bisa sebutkan buku-buku apa saja atau sumber-sumber yang melatarbelakangi tulisan ini om ? Aku kok merasa ada yang aneh sreg ya, masa iya ujug2 orang jawa(kapitayan)langsung mengenal Tuhan yang satu tanpa berbagai proses pendahulu2 nya
      Matursuwun

        sohib said:
        Oktober 21, 2016 pukul 6:42 am

        mas odie, smoga masa itu datang tanpa harus alam berbicara tapi karena kesadaran manusia, sungguh kisah yg syah bagi saya pribadi,

        oedi responded:
        Oktober 30, 2016 pukul 8:04 am

        Iya mas Sohib, semoga saja begitu, tapi menurut saya pribadi kemungkinanya tipis bila alam tidak berbicara.. itu bisa dirasakan langsung kok di sekitar kita sekarang, khususnya beberapa tahun belakangan ini.. alam secara silih berganti sudah menunjukkan kemurkaannya dalam bentuk bencana, dan saya yakin kedepannya akan semakin murka dengan level yang lebih menyeramkan..
        Mari kita selalu bersikap eling lan waspodo, hanya itu yang akan membantu dan menyelamatkan kita..🙂

        sohib said:
        Oktober 21, 2016 pukul 6:47 am

        maaf mas yuma, kira2 berapa persen kebenaran yg tercatan dalam buku sejarah kita, yg sdh dijajah sekian abad, sampai detik ini, jangan hanya berpegang sama yg tersurat tapi yg tersirat jg harus difahami

        oedi responded:
        Oktober 30, 2016 pukul 7:57 am

        Sudah dijawab oleh mas Sohib tuh mas Andre.. silahkan dipikirkan lagi dengan seksama, dengan hati terdalam..🙂

    Kun-Ba said:
    November 14, 2016 pukul 1:32 am

    Referensinya coba baca atlas walisongo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s