Renungan Akhir Zaman: Kewajiban Untuk Mencintai Bumi dan Segala Isinya

Posted on Updated on

earthWahai saudaraku. Kehidupan di atas dunia ini, apa dan siapa itu tentunya memiliki hubungan yang saling mengikat. Jika satunya sakit, maka yang lainnya akan merasakan sakit. Begitu pula antara kehidupan manusia dengan Bumi yang menjadi tempatnya dan makhluk lain yang menjadi patnernya. Jika salah satunya sakit, maka yang lainnya akan merasakan hal yang sama, cepat atau lambat, disadari atau tidak sama sekali.

Ya. Segala yang ada di Bumi ini hidup dan memiliki ”ruh” nya sendiri. Diri manusia adalah saudaranya, yang dapat berhubungan baik atau buruk dengan makhluk yang lainnya. Jika ia mampu bersikap baik dan menjalin hubungan yang baik pula, maka ia akan beroleh keuntungan. Sebaliknya, jika salah bertindak atau bahkan bersikap sombong, maka siapa pun akan merasakan penderitaan. Karena itulah, manusia harus bersikap bijak dalam hubungannya dengan Bumi dan segala isinya.

Untuk itu ketahuilah, pada mulanya Bumi itu merupakan sekumpulan kabut asap (gas dan partikel air) yang kemudian mengembang dan berubah bentuk menjadi sekumpulan air. Setelah batas waktu yang telah ditentukan oleh Tuhan Sang Pencipta usai, maka sekumpulan air tersebut lalu memadat dan berubah bentuk lagi menjadi kristal. Di dalam kristal itu lalu muncullah api yang berpijar dengan nama Barsuha, yang menyebabkan berbagai reaksi kimia berantai yang terjadi secara terus menerus. Karena itulah, proses berikutnya adalah dimana kristal yang ada itu lalu menjadi hamparan tanah yang luas lengkap dengan apa yang ada di dalamnya (api, air, logam, bebatuan, dll). Hal ini bahkan terus saja berproses sampai pada kondisi yang ada saat ini, lengkap pula dengan gravitasi dan beragam bentuk kehidupan di atasnya.

Mother-Earth

Jadi, planet Bumi kita adalah satu-satunya tempat yang diketahui memiliki kehidupan. Hidrosfer-nya yang cair adalah khas di antara planet-planet kebumian yang lain dan juga merupakan satu-satunya planet yang diobservasi memiliki lempeng tektonik. Atmosfer Bumi sangat berbeda dibandingkan dengan planet lainnya. Perbedaan itu karena dipengaruhi juga oleh keberadaan makhluk hidup – terutama tumbuh-tumbuhan – yang menghasilkan 21% oksigen. Semuanya itu sudah menjadi kehendak Tuhan dan telah diatur sedemikian rupa oleh-Nya.

Selain itu, Bumi juga berada dalam kondisi yang berlapis-lapis, dari lapisan yang pertama di permukaan sampai pada lapisan yang ke tujuh di pusat Bumi. Masing-masingnya bernama: Kanila, Hatula, Bakila, Wasula, Jamula, Suwala, dan Aswila. Di setiap lapisan-lapisan itu terjadilah pembakaran oleh Barsuha (inti Bumi) yang menghasilkan batu-batuan, logam, minyak, gas, uranium, berbagai fosil, dan lain sebagainya. Lalu, di permukaan Bumi, tumbuh-tumbuhan menyerap sari-sari Bumi dan energi Surya yang digunakan untuk mengembangkan batang, cabang, ranting, daun, bunga dan buah. Dengan demikian, maka tumbuh-tumbuhan bisa berkembang biak dan memberi banyak manfaat bagi kehidupan makhluk lainnya di muka Bumi. Dan karena tumbuh-tumbuhan juga menyerap sari-sari dari alam semesta, maka energi Surya pun ikut masuk ke dalam perut Bumi. Menjadi energi yang tersimpan dan ikut menggerakkan kehidupan dari beragam makhluk hidup yang ada.

Selanjutnya, manusia yang kemudian tercipta setelah adanya tumbuh-tumbuhan dan hewan, menikmati kosalya atau alam semesta bagi kehidupannya. Populasi manusia juga bertambah banyak dan kepandaiannya pun kian berkembang pesat. Pada awalnya manusia hanya bisa membuat api yang tersimpan pada tetumbuhan dan di Bumi. Namun kemudian mereka bahkan bisa menciptakan api lain (listrik) yang berguna bagi perkembangan teknologi dan peradabannya.

Ya. Pada mulanya manusia itu hidup dari hasil pertanian dan peternakan. Ketika itu keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam terjaga baik, karena manusia sangat berkepentingan pada kelestarian alam. Mereka juga bisa hidup bahagia, karena pola hidup sebagai petani dan peternak diliputi dengan nilai-nilai spiritual yang tinggi. Setiap orang juga telah meyakini bahwa Tuhanlah yang menganugerahkan kekayaan alam, karenanya mereka pun harus menjaga kelestarian alam sebagai wujud nyata dalam memuja Tuhan. Tanah, tetumbuhan, hewan, dan sumber-sumber air pun dihormati dan disayangi, dijaga kelestariannya dan disakralkan dengan membayangkan Dzat Yang Maha Kuasa itu ada di dalam berbagai bentuk manifestasi-Nya. Keyakinan yang menjadi kepercayaan luhur seperti ini berlanjut hingga turun temurun, sampai pada saat dimana manusia mulai berpikir lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dan benar, terjadilah banyak penggalian tanah, penebangan dan pembakaran hutan dimana-mana tanpa batas. Memang benar, karena hal itulah muncul peradaban besar yang sangat maju di berbagai sudut Bumi ini. Tapi karena pengerusakan alam juga terus di lakukan secara aktif, akibatnya kekuatan Mahadaya yang tersimpan jauh di dalam perut Bumi (Barsuha) bangkit dan energinya mengguncang daratan. Es di kedua kutub juga mencair, sehingga permukaan air laut pun meninggi dan terbentuklah pulau-pulau yang tadinya berupa daratan atau benua yang luas. Disini, pada akhirnya banyak dari peradaban besar yang harus hancur bahkan hilang di telan Bumi. Di antaranya seperti Diyaspala, Kusaradha, Lemuria, dan Atlantis.

Atlantis-deluge

Selanjutnya, kehidupan dunia sempat kembali normal karena pada saat itu manusia juga kembali pada kehidupan yang sederhana, atau bahkan ada yang primitif. Tidak banyak pengerusakan alam, karena memang teknologi manusia kala itu masih sangat sederhana dan sifat mereka juga belum serakah. Manusia juga kembali menghargai alam dan kehidupan makhluk lainnya, seperti yang pernah di lakukan oleh nenek moyang mereka dulu, Namun, perlahan-lahan itu semua berubah sejak kelompok-kelompok manusia tertentu mulai membangun kerajaan besarnya (imperium/kekaisaran). Mereka mulai menjadikan alam sebagai ladang eksploitasi yang bisa digarap sesukanya, bahkan bila perlu harus menjajah, memperbudak, berperang dan membunuh orang banyak. Hal itu terus saja berlanjut dari zaman ke zaman, sehingga menyebabkan Bumi ini sekali lagi harus memasuki masa kritisnya.

Lalu, khususnya sejak abad ke-19 Masehi, keadaan Bumi ini telah berubah sangat drastis. Revolusi industri kemudian bergulir ke seluruh dunia, mengajarkan pola hidup manusia yang baru, yang mengabaikan kesakralan tanah, air, tetumbuhan, dan hewan. Tiada lagi rasa bersalah atau berdosa karena merusak alam demi kepentingan usaha-usaha: industri, perdagangan, jasa, atau untuk real estate/pemukiman. Akibatnya tetumbuhan, hewan dan mata air semakin berkurang, sementara bumi terus dibor untuk menghisap minyak atau gas dan digali untuk menemukan batu bara, emas, perak, timah, tembaga, besi, intan, dan sebagainya. Pencemaran lingkungan juga terjadi dimana-mana dan keadaannya semakin parah. Pertanian yang tadinya hanya menggunakan pupuk organik juga diganti dengan pupuk kimia buatan pabrik. Semua itu lalu menyebabkan tetumbuhan menderita akibat keracunan pada akar, batang, daun dan buahnya. Bahkan pada akhirnya keadaan yang buruk ini juga menyebar ke tubuh manusia – yang juga ikut keracunan – karena memakan hasil dari pertanian.

Oleh karena itulah, dalam kondisi yang sedemikian parah ini, kemampuan tetumbuhan dalam mengelola energi alam kian berkurang. Tanah menjadi tidak stabil karena diperas habis-habisan dan sebagiannya lagi keras (tidak subur) atau gersang dan kekeringan. Bahkan pada akhirnya tanah dan tetumbuhan juga tak mampu lagi menyerap energi alam untuk disalurkan ke berbagai tempat yang semestinya. Sehingga, energi yang terpendam di dalam perut Bumi kembali bangkit menjadi Mahadaya yang merusak. Barsuha (inti Bumi) terguncang, yang menyebabkan energi di lapisan Aswila keluar dari pusat Bumi dan bersifat menghancurkan. Maka dari itu terjadilah banyak gunung meletus, gempa bumi, tsunami, banjir, hujan badai, angin ribut, bumi yang terus memanas dan perubahan iklim yang tak menentu seperti sekarang ini. Es di kedua kutub Bumi dan di puncak-puncak gunung tertinggi terus mencair, permukaan laut meninggi, sehingga pulau-pulau dan benua akan tenggelam bersama-sama dengan segala bentuk kehidupan di atasnya. Keadaan ini lalu disebut dengan Pralaya. Sebuah kondisi yang mendekati akhir zaman bagi peradaban moderen.

kehancuran dunia 1

Namun kini, meskipun berbagai bencana alam telah nampak jelas di depan matanya, maka tidak sedikit orang yang katanya “pintar” yang justru tidak peduli dan tetap saja bersikap yang seenaknya pada lingkungan hidup. Ketika mengetahui informasi tentang bencana alam yang kini kerap terjadi secara acak, banyak pula dari mereka yang justru tertawa dan bersikap acuh tak acuh. Hanya segelintir orang saja yang merespon ancaman besar “di akhir zaman ini” dengan mengerahkan para ilmuwan untuk mencari alternatif agar bisa menanggulangi kerusakan Bumi secara langsung. Padahal kehidupan di muka Bumi ini laksana roda pedati yang terus berputar. Dimana cepat atau lambatnya perputaran “roda” itu sangat tergantung dari sikap umat manusia terhadap alam. Segala yang terjadi sekarang – khususnya bencana alam – hanyalah pengulangan terhadap apa yang pernah terjadi di masa lalu. Dan ini sudah bisa dibuktikan secara ilmiah, bahwa dulu memang keadaan daratan di muka Bumi ini sangat berbeda dari sekarang. Khususnya di wilayah Nusantara bagian barat, maka di sekitar ±15.000 tahun lalu saja masih bergabung dengan benua Asia dan menjadi satu daratan yang luas yang dikenal kini sebagai SundaLand. Artinya, dulu ada sebuah bencana dahsyat yang menyebabkan perubahan geografi yang luarbiasa di tanah Nusantara. Yang semuanya itu juga berkaitan erat dengan sikap buruk manusia pada saat itu. [Baca: Atlantis ada di Nusantara]

Sungguh, di masa lalu manusia pernah mencapai peradaban yang tinggi lengkap dengan berbagai kemampuan ilmu dan teknologinya. Tapi dikarenakan sikap mereka yang kurang bijak terhadap Bumi dan makhluk lainnya, akhirnya alam pun menghukum mereka dalam bencana yang dahsyat. Di antaranya seperti banyak daratan yang luas kemudian tenggelam dan berubah menjadi lautan. Sementara peradaban besar yang telah susah payah mereka bangun pada saat itu juga ikutan hancur seiring dengan datangnya bencana besar. Sejarah kehidupan mereka pun akhirnya terpaksa hilang dari catatan dan ingatan umat manusia. Sungguh memilukan.

Ya. Apa yang sudah diuraikan di atas semakin nampak nyata sekarang ini. Lalu pertanyaan yang muncul kemudian adalah, sadarkah umat manusia akan ancaman yang sedang dihadapi ini? Selanjutnya, apa saja upaya kita untuk menanggulangi atau meminimalisir kerusakan alam yang sudah terjadi sekarang? Apakah masih saja tidak bersikap bijaksana dalam hidup ini? atau bahkan tetap saja serakah dalam mengeksploitasi alam demi memenuhi setiap kebutuhan daging?

Untuk itu saudaraku, sudah waktunya bagi kita semua untuk berpikir dan segera merenung demi menyelamatkan kehidupan anak cucu kita. Mari sejak saat ini kita juga bertindak dengan berdasarkan pengetahuan yang relevan demi keberlangsungan peradaban kita. Dan marilah kita kembali menghargai hidup ini dengan bersikap bijaksana terhadap alam dan terus menghargai kehidupan makhluk lain yang ada di muka Bumi ini. Karena sesungguhnya kehidupan kita pun sangat bergantung dengan keberlangsungan hidup mereka. Tanpa mereka, maka cepat atau lambat kita pun akan musnah. Atau setidaknya peradaban kitalah yang segera musnah.

Jogjakarta, 23 September 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

(Disarikan dari berbagai sumber dan diskusi)

2 thoughts on “Renungan Akhir Zaman: Kewajiban Untuk Mencintai Bumi dan Segala Isinya

    Tufail (@TufailRidha) said:
    Desember 1, 2016 pukul 12:28 pm

    Disini, pada akhirnya banyak dari peradaban besar yang harus hancur bahkan hilang di telan Bumi. Di antaranya seperti Diyaspala, Kusaradha, Lemuria, dan Atlantis. Alangkah indah dan senangnya apabila Kang Harun mau berbagi kisah dari perdaban besar tsb untuk dituliskan di sini 🙏 karena saya baru tahu ada peradaban lainnya seperti Diyaspala dan Kusaradha atau banyak lagi kisah besar lainnya dengan berbagai macam sejarah yang bisa saya ambil hikmahnya tentang pelajaran hidup untuk selalu berserah diri kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) apabila yang lainnya sudah banyak yang menuliskannya walaupun dengan beragam versi dan cerita menurut saya kurang greget kalau tidak dari mpu-nya kang “Harunata-Ra” 😁 😍 yang menuliskan artikel tsb.
    Rahayu Salawasna. 🙏

      oedi responded:
      Desember 3, 2016 pukul 12:33 am

      Sekali lagi nunuh kang atas kunjungannya.. semoga tetap bermanfaat..🙂
      Iya kang, banyak sekali peradaban besar di masa lalu. Dua nama yang asing itu (Diyaspala, Kusaradha) hanya sebagian kecilnya aja kok, masih banyak yang lainnya.. bahkan lebih besar dan maju.. tapi memang semuanya telah hilang dari catatan sejarah umum, di lupakan pula dalam ingatan dan sirna dari cerita legenda dan dongeng.. Penyebab utamanya jelas karena rentan waktu yg sudah terlalu lama, beda zaman pula..
      Betul kang, dengan membaca sejarah maka kita bisa mengambil hikmah untuk kehidupan kita sekarang.. ada banyak pelajaran dan ilmu pengetahuan yang bisa kita serap utk sekarang.. Ya semoga suatu saat nanti saya bisa membagikan informasi itu di blog ini, tapi saya tak janji ya, karena ada protap yang harus tetap saya patuhi..🙂
      Rahayu Bagio..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s