Keseimbangan Hidup demi Kedamaian Hati

Posted on Updated on

keseimbangan hidupWahai saudaraku. Saat ini, disadari atau tidak, banyak dari kita yang terdampar di sebuah dunia yang gonjang-ganjing. Kita pun acap kali menjadi manusia yang kosong atau manusia yang kehilangan maknanya. Kita sering terperangah, gagap tak siap berkejaran dengan perubahan yang membuat hari semakin cepat usang. Ada banyak tawaran dan kita selalu ditarik ke berbagai arah tanpa tahu sepenuhnya standar apa yang mau kita pakai untuk memilih gaya hidup tanpa merasa “kuno”. Jutaan iming-iming juga terus mendesak kita, yang penuh dengan risiko yang tidak sedikit. Hidup pun terasa semakin menggelisahkan, bukan hanya teror bom yang bisa membunuh siapa, dimana dan kapan saja, tetapi juga polusi udara, air, tanah bahkan suara. Bila bom bisa mencederai dalam waktu yang singkat, maka polusi itu justru membunuh secara perlahan.

Kemudian, dalam dunia yang serba cepat ini, secara bersamaan pula muncul upaya-upaya untuk mempercepat kesuksesan hidup dengan jalan pintas: korupsi, menipu dan maksiat. Hal ini bahkan telah begitu subur hingga merambah ke semua lapisan masyarakat dan birokrasi. Bila teroris itu mengerikan karena terang-terangan menghancurkan dalam sekejap, maka korupsi, penipuan dan maksiat itu justru menggerogoti suatu bangsa secara diam-diam dan perlahan. Akibatnya pun tidak main-main, karena jika tidak segera diberantas, bangsa tersebut akan mengalami kemandulan lalu merasakan kehancuran yang dahsyat.

Wahai saudaraku, untuk keseimbangan hidup dan kedamaian hatimu, aku akan selalu berdoa agar kebenaran yang ada di dalam jiwamu tetap ada dan terjaga. Tidak ada yang perlu ku nasihatkan lagi, kecuali jagalah rasa cinta dan kasih sayang di dalam dirimu. Tebarkan hal itu pada siapa pun tanpa memandang siapa orangnya dan dimana tempatnya. Lakukan saja dengan murni, tanpa ada niat dan tujuan lain kecuali cinta dan kasih sayangmu pada mereka. Dengan begitu, niscaya hidup dan kehidupanmu akan bahagia.

Ya. Agar bisa menjadi kuat dan tangguh, maka tak baiklah dirimu marah atau putus asa saat mendapatkan ujian. Tetaplah tenang dalam setiap kemalangan, dengan menenangkan jalan pikiranmu sendiri. Jangan terbawa suasana atau kondisi di sekitar lingkungan tempat tinggalmu. Masa lalumu juga tidak lagi penting, dan jangan biarkan itu menghantuimu. Tapi sebaliknya, teruslah berjuang dan berusaha untuk apa yang ada hadapanmu kini. Tak perlu berpikir untuk siapa engkau berbuat atau berharap agar engkau bisa menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya kepada orang lain. Karena nilai seseorang itu tidak dilihat dari warna kulit, bentuk fisik, kemampuan, kepemilikan atau masa lalunya, tapi pada apa yang sekarang dan nantinya ia lakukan bagi semua orang. Dan itu akan terus diingat, bahkan sampai ia meninggal dunia.

“Banyak orang mengira bahwa hanya dengan kekuatan yang hebat yang mampu menahan kekuatan jahat. Tapi tidak denganku. Karena yang ku ketahui bahwa hal kecil itu, seperti perbuatan baik dan rasa cinta dari orang biasa, bisa menyingkirkan kegelapan”

Untuk itu, terlepas dari situasi apapun, engkau harus tetap tenang dan terus melakukan banyak kebaikan. Kau harus senantiasa melakukannya dengan sabar dalam pasang surut kehidupan ini. Jangan mengambil jalan pintas, karena tipu daya dan fitnah hanya akan menunjukkan bahwa dirimu lemah meskipun banyak meraih kemenangan. Bawalah selalu kehormatan hidup ini, dengan menghormati kehidupanmu sebagai manusia yang sejati.

Selain itu, jangan pernah menganggap orang yang berada diluar ideologi, keyakinan, agama, ras atau bangsamu adalah orang-orang jahat. Karena ada banyak juga yang baik. Engkau boleh saja berperang, tapi berperanglah demi melawan orang-orang yang tersesat, bukan orang-orang yang telah kembali ke jalan yang benar atau mereka yang tidak pernah memerangimu. Dan jadilah sosok yang dipenuhi perasaan cinta dan kasih sayang. Bahkan jika seseorang itu adalah musuhmu, kalian itu tetaplah sama. Kalian sama-sama manusia, yang tak pantas untuk saling membeda-bedakan antara ideologi, keyakinan, ras, bangsa atau negara. Tugas kalian itu adalah saling mencintai dan menebarkan kasih sayang di dunia ini. Semua itu harus tetap dilaksanakan, agar hidupmu bisa seimbang dan penuh dengan kedamaian.

Selain itu, janganlah membiasakan dirimu larut dalam keserakahan, sifat iri, dengki atau mendendam. Karena itu hanya akan membakar dirimu sendiri dalam banyak kesalahan dan dosa. Hidupmu tidak akan pernah tenang, sementara pikiranmu akan tetap terguncang (stress), tanpa ada obatnya.

stress

O.. Perhatikanlah berbagai keprihatinan atau gejolak sosial di tengah-tengah masyarakat dunia ini. Dan janganlah engkau menjadi orang yang cinta mati pada negara, bangsa, ras, ideologi, keyakinan atau agamamu, sampai pada titik dimana sudah tidak tahu lagi mana yang benar dan mana pula yang salah. Itu sangat keliru. Sehingga temukanlah kembali diri sejatimu, dengan menjalani hidup ini dalam rasa cinta yang seimbang. Temukanlah sendiri jalan kebenaranmu, dengan mengembangkan sifat kasih sayang di dalam hatimu. Dengan begitu, engkau akan menemukan sesuatu yang mulia dan sangat berharga dalam kehidupan ini.

Pun, lihatlah dan buka lebar-lebar cakrawala berpikirmu, bahwa setiap ras manusia itu punya kelebihannya sendiri. Setiap bangsa dan keyakinan itu juga punya keahlian dan keunikannya sendiri. Sehingga mengapa tidak disatukan dalam usaha untuk bisa mencapai kesejahteraan hidup? Mengapa semua yang berbeda dan unik itu tidak digabungkan dalam kerjasama dan saling mengisi kekurangan yang dimiliki? Karena hanya dengan begitulah kehidupan di dunia ini akan aman, damai dan penuh dengan kebahagiaan. Sebaliknya, jika tanpa adanya kerjasama yang saling menguntungkan serta usaha untuk saling mengisi kekurangan, maka kehidupan dunia ini akan berada dalam kegelapan, atau bahkan kehancuran.

Ya. Semua orang sebenarnya hanya ingin perdamaian dan persatuan. Dan terkecuali orang “gila”, maka tak ada yang suka menyerang atau diserang. Tidak ada yang menginginkan perselisihan, pertikaian dan pertempuran. Karena semua orang itu pasti senang dengan persahabatan dan persaudaraan. Semua makhluk menyukai hubungan yang akrab dan penuh kemesraan. Karena hanya dengan begitulah hidup ini akan jadi berarti.

Tapi kini, di hampir seluruh belahan bumi ini sering terjadi krisis kemanusiaan seperti perselisihan, kerusuhan, pertikaian, pertempuran dan pembunuhan massal. Bahkan saat ini tidak sebatas karena alasan beda ras, suku atau bangsa. Dan kenyataannya memang banyak di antara satu ras, suku, bangsa atau keyakinan dan agama pun saling berbenturan sangat keras hanya karena masalah yang sepele dan tidak penting. Bahkan mereka sudah tidak lagi melihat apa dan siapa, karena yang terpenting itu adalah apa yang ia inginkan bisa segera tercapai. Itu pun terus diusahakan mati-matian, bahkan meski harus membunuh rakyat yang tak berdosa dan mereka tidak tahu apa-apa. Padahal, bukankah hanya dengan saling bekerjasama maka hidup ini bisa lebih mudah? Bukankah dengan saling menghormati dan mengisi kekurangan diri akan memunculkan keuntungan yang banyak?

O.. Mengapa banyak orang lebih menyukai kebangkrutan dari pada keuntungan? Mengapa pula banyak di antaranya yang lebih memilih kegaduhan dari pada ketenangan? Apa gunanya berdebat, bermusuhan atau bertikai itu? Padahal tidak ada untungnya, karena kenyataannya pasti menyisakan kesedihan. Dendam kian membara, orang-orang saling membenci, kehidupan makin sulit karena tidak ada lagi kedamaian, dan akhirnya peradaban pun bisa terseret dalam kehancuran.  Bahkan dunia akan jadi padang keserakahan dan angkara murka, sehingga yang tertinggal hanyalah penderitaan.

krisis kemanusiaan

Sungguh, kehidupan orang di dunia ini tidak akan merasakan kedamaian yang sejati bila tidak adanya sikap saling menghargai dan kerjasama. Antara orang perorang atau di antara ras, suku, bangsa, ideologi, keyakinan dan agama itu harus bisa bekerjasama dengan baik. Semua manusia harus segera menyadari bahwa ia tidak bisa hidup sendiri di dunia ini. Dan ketika Tuhan telah menciptakan setiap jenis dan golongan itu berbeda-beda, itu bukan untuk saling berselisih atau bermusuhan. Tapi justru untuk bisa melengkapi kekurangan dirinya dan terus mengikat rasa persaudaraan dan cinta. Dengan adanya perbedaan, maka seharusnya setiap individu itu sudah bisa menyadari bahwa ia tidak bisa hidup sendiri dan bukanlah satu-satunya makhluk yang punya kelebihan. Bagaimana pun hebatnya dia, maka tetap saja ia butuh orang lain demi kelangsungan hidupnya sendiri.

“Tak peduli seberapa hebatnya diri kalian, jika tanpa adanya persatuan, tentu akan mudah dihancurkan”

Untuk itu, penuhi tujuan hidupmu dengan menciptakan ketenangan pikiran agar hatimu merasa damai. Biasakan pula dirimu dengan sikap yang seimbang dan selalu menjunjung tinggi kehormatan manusia. Yang semua itu hanya bisa terwujud saat kalian percaya pada rasa persaudaraan dan menerapkan sifat cinta kepada siapapun. Tanamkan pula sikap kerjasama yang saling menguntungkan, sebab gaya hidup yang tanpa berselisih atau bertikai, akan membuat jiwamu merasa nyaman. Dengan begitu, kau pun bisa tahu kepada siapa seharusnya engkau berpihak. Bahkan tidak perlu lagi ditanyakan, karena dirimu selamanya akan berjuang – bahkan rela mengorbankan nyawa – untuk kebenaran yang ada di dalam hatimu.

Lalu, agar bisa mencapai tujuan hidup yang mulia itu, maka menjadi satu keharusan untuk tidak hidup dalam satu sisinya saja. Artinya, seseorang itu haruslah menyadari hal yang berkaitan dengan lahiriah dan juga batiniah. Karena memang, khususnya manusia itu telah diciptakan lengkap dengan kedua sisi tersebut;  yaitu unsur lahiriah dan yang batiniah. Makanya, untuk bisa seimbang hidupnya, siapa pun wajib menjalankan sisi lahiriah dan juga sisi batiniah dirinya secara bersamaan. Tanpa hal itu, bisa dipastikan ia tidak akan pernah seimbang, alias tidak “waras”.

Ya. Dalam hal ini setiap orang itu memang harus mengetahui banyak hal tentang yang lahiriah (ilmiah), contohnya ilmu fisika, matematika, ekonomi, biologi, kedokteran, teknik, geologi, dll). Tapi agar hidupnya tetap seimbang dan meraih kebahagiaan yang sejati, maka ia juga harus mengetahui, memahami dan menjalankan disiplin ilmu yang bersifat batiniah. Disini berarti ia juga harus memahami sisi yang tak terlihat oleh matanya sendiri. Sesuatu yang tersembunyi jauh dibalik tubuh fisiknya. Dimana hal itu adalah keadaan hatinya sendiri, karena hati adalah sumber batiniah dari setiap orang. Yang akan mengarahkan kemana langkah hidupnya.

Wahai saudaraku. Hati itu bisa dibagi setidaknya ke dalam empat stasiun. Adapun di antaranya sebagai berikut:

1. Shadr (dada)
Stasiun pertama ini adalah inti dari tindakan. Ia tempat interaksi antara kepribadian kita dan alam spiritual. Kita memerlukan kepribadian untuk beraksi, namun kita juga membutuhkan bimbingan kearifan yang dalam dari hati. Di dalam dada saja – bukan kepala/pikiran, kita dapat mengubah kecenderungan negatif kita menjadi positif. Disinilah letak pentingnya dalam memahami ilmu yang bersifat batiniah. Tanpa hal itu, seseorang akan melakukan banyak hal yang bersifat negatif saja.

Selain itu, shadr (dada) juga merupakan tempat cahaya agama, tempat menjaga pengetahuan yang didengar dan dipelajari, seperti ilmu tentang berbagai hukum, berita dan semua yang dijelaskan lewat lisan. Dari shadr (dada) inilah keluar berbagai bisikan kehendak dan pikiran. Dan ketika menetap dalam waktu yang lama, bisikan itu juga menuju ke hati. Namun demikian, shadr (dada) juga tempat masuknya sifat iri, dengki, syahwat, angan-angan, dan berbagai keperluan. Ia bahkan tempat berkuasanya nafs al-ammarah bi al-su` (jiwa yang memerintahkan keburukan). Karena di dalamnya ada pintu masuk bagi jiwa tersebut. Untuk itulah, kadangkala dada terasa sempit dan kadangkala pula terasa lapang. Sehingga, dari penjelasan di atas, maka sekali lagi ditekankan bahwa penguasaan terhadap ilmu batiniah itu menjadi sangat penting bagi seseorang. Tanpa hal itu ia akan seperti orang buta yang berjalan di pinggir jurang yang licin, pada malam hari yang gelap dan tanpa tongkat di tangannya. Sangat berbahaya sekali.

2. Qalb (hati)
Stasiun kedua ini berada di dalam shadr (dada). Ia adalah tempat pengetahuan yang lebih mendalam dan keimanan terhadap ajaran spiritual dan keagamaan yang murni. Ia juga tempat kesadaran kita akan kehadiran Tuhan, sebuah kesadaran yang mengarahkan diri kita pada transformasi pemikiran dan tindakan.

Selain itu, qalb (hati) merupakan sumber cahaya iman, cahaya khusyuk, taqwa, cinta, ridha, yakin, takut, harap, dan qonaah (merasa cukup). Hati juga sumber pokok pengetahuan, sebab ia ibarat sumber mata air, sementara shadr (dada) itu ibarat telaga. Air keluar dari mata air menuju ke telaga. Demikian pula dengan pengetahuan, ia keluar dari hati menuju dada. Qalb (hati) menjadi sumber atau pangkal, sementara shadar (dada) menjadi cabangnya. Dan cabang itu baru bisa terbentuk setelah adanya pangkal.

“Jadilah hamba hati, atau setidaknya yang tunduk kepadanya. Sebab jika tidak, kau akan kehilangan daya bagaikan seekor keledai yang terjebak di dalam lumpur. Jika seseorang tak memiliki hati, ia tidak akan memperoleh keberuntungan” – Jalaluddin Rumi –

Untuk itu, qalb (hati) diposisikan sebagai lampu. Dan lampu bisa berfungsi secara baik dengan adanya cahaya. Cahaya tersebut tidak lain berupa cahaya ketakwaan dan keyakinan. Sebab, ketika kosong dari cahaya, hati seperti lampu yang padam. Setiap amal yang tidak berasal dari hati, ia tidak akan mendapat nilai. Sehingga hati yang dikuasai oleh nafs (jiwa) bukanlah rahmat dari Tuhan. Sebab hati adalah raja, dan nafs (jiwa) itu adalah kerajaannya.

3. Fu`ad (hati lebih dalam)
Stasiun ketiga ini berkedudukan lebih dalam lagi, tetapi sangat dekat hubungannya dengan qalb (hati). Ia tempat pengetahuan langsung. Hati kita – secara intelektual memahami bahwa kita berada dibawah pengawasan Tuhan, namun pada tingkat lubuk hati terdalam – merasakan kehadiran Tuhan dengan sangat jelas, seakan-akan kita bisa melihat Tuhan itu berada di hadapan kita. Tapi bagi yang tidak terlatih dalam mengasah hatinya, hal ini tentunya tidak bisa dirasakan. Itu terjadi karena memang ia seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu “manusia kosong” tanpa makna.

Fu`ad merupakan tempat melihat, tetapi ketika fu`ad melihat maka qalb (hati) mengetahui. Ketika pengetahuan dan penglihatan itu menyatu, sesuatu yang gaib jadi terlihat jelas. Hati juga dikaitkan dengan proses “melihat”. Hanya saja, ia melihat dengan cahaya yang memancar di dalamnya (fu`ad). Karena itulah, qalb dan fu`ad terkadang disebut dengan istilah bashar (penglihatan), karena keduanya merupakan tempat untuk melihat. Dan orang yang mempunyai bashar (penglihatan) bisa mengambil pelajaran hanya dengan melihat setiap bentuk dan ciptaan. Mereka inilah orang yang mempunyai hati, yaitu orang yang bisa menyaksikan dengan cahaya iman dan kebenaran.

Selain itu, kata fu`ad adalah turunan dari kata fa`idah (manfaat). Sebab, ia melihat berbagai manfaat dari cinta-Nya. Fu`ad bisa meraih manfaat dari proses melihat dan hati merasa nikmat dengan pengetahuan yang ada. Selama fu`ad tidak bisa melihat, hati tidak akan bisa mengambil manfaat dari pengetahuan yang ada. Kemudian, fu`ad juga sebagai lokus makrifat, lintasan hati, dan penyaksian. Karena itulah, fu`ad itu terletak di tengah-tengah qalb (hati), sebagaimana hati terletak di tengah-tengah shadr (dada). Ia seperti mutiara yang terpendam di dalam mulut kerang.

4. Lubb (inti hati terdalam)
Stasiun yang terakhir ini berada di luar jangkauan kata-kata, teori-teori dan pemikiran-pemikiran. Disini artinya seseorang telah memasuki wilayah yang maha luas dan alam tinggi – tapi hanya bagi kalangan terbatas saja yang bisa mencapainya. Karena di tingkat ini, orang-orang shaleh sudah memasuki dunia puisi, bukan lagi prosa.

Lubb itu seperti sumbu lampu yang tidak bergeser dan bergerak. Ia menjadi faktor utama tegaknya agama dan kebenaran. Seluruh cahaya kembali kepadanya dan memagari sekitarnya. Cahaya-cahaya tersebut awalnya tidak sempurna dan kekuasaannya tidak terwujud kecuali dengan tegaknya lubb. Cahaya tersebut hanya bisa kokoh bila lubb kokoh dan hanya bisa ada bila lubb ada. Dengannya, hakikat penghambaan yang murni dan cahaya pengagungan menjadi nyata. Sehingga karena itu pula, lubb juga disebut sebagai akal yang tertanam di ladang tauhid. Ia hanya diperuntukkan bagi orang yang beriman, yaitu hamba Tuhan yang istimewa, yang taat kepada-Nya dan telah berpaling dari nafsu duniawi.

Selain itu, lubb juga merupakan tempat cahaya tauhid dan cahaya pengesaan. Ia adalah cahaya yang paling sempurna dan penguasa yang paling agung. Di dalamnya terdapat berjuta kebajikan dan kebijaksanaan sejati. Dan bagi yang telah sampai pada pengetahuan sirr (rahasia tersembunyi), maka ia pun akan menyaksikan Al-Haqq (Sang Maha Benar) dalam nuansa yang sangat agung.

mountain

Jadi, dari ke empat stasiun di atas, maka sudah seharusnya setiap orang itu mengenali dirinya sendiri dengan mengetahui kondisi hatinya. Karena setiap stasiun hati itu mewadahi cahaya sendiri. Dada (shadr) mewadahi cahaya agama (praktek ibadah dan amal shaleh). Hati (qalb) mewadahi cahaya iman. Hati lebih dalam (fu`ad) mewadahi cahaya makrifat atau pengetahuan akan kebenaran spiritual. Sedangkan inti hati terdalam (lubb) mewadahi dua cahaya tauhid, yaitu cahaya kesatuan dan cahaya keunikan, yang merupakan dua “wajah” Ilahi.

Lalu, ke empat stasiun atau lapisan itu juga dikaitkan dengan maqam (kedudukan) spiritual yang berbeda-beda, tingkat pengetahuan dan pemahaman yang berbeda, juga tingkat nafs (jiwa) yang berbeda. Semuanya bagaikan area yang berbeda dari sebuah rumah. Dada (shadr) adalah area terluar, bagaikan pinggiran rumah yang berbatas langsung dengan dunia luar; tempat binatang-binatang buas dan orang-orang asing berkeliaran. Hati (qalb) dapat disamakan dengan rumah itu sendiri, yang menjadi tempat berlindung. Ia dilingkari oleh tembok dan diamankan dengan gerbang atau pintu yang terkunci. Hanya anggota keluarga serta tamu yang diundanglah yang boleh memasukinya. Hati lebih dalam (fu`ad) adalah kamar terkunci yang menyimpan benda-benda pusaka berharga milik keluarga tersebut. Hanya segelintir saja yang memiliki kuncinya. Sedangkan inti hati terdalam (lubb) adalah ruangan khusus yang terahasia. Hanya satu orang saja yang mengetahui dan memegang kuncinya. Dialah sang pemilik rumah sejati, itupun jika ia telah mampu dan bisa mengetahuinya secara rahasia.

Ya. Hati adalah sebuah istilah yang mencakup seluruh lapisan batin manusia. Pada batin tersebut ada beberapa tempat. Sebagian yang termasuk bagian luar hati dan sebagian lagi merupakan bagian dalam hati. Tiap-tiap stasiun atau lapisan itu mempunyai hukum dan pengertian yang berbeda. Namun semuanya saling membantu dan manfaatnya saling berkaitan. Segala yang berada dibagian luar menjadi landasan bagi sesuatu yang bersambung kepadanya dari dalam. Dan kesempurnaan hidup itu bergantung dari kesempurnaan dari semuanya.

Selanjutnya, ketika seseorang sudah memahami – atau bahkan menerapkan dalam kehidupannya sehari-hari –  ke empat stasiun di atas, barulah ia akan mengetahui dengan benar siapa dirinya dan siapa pula Tuhan yang sebenarnya. Atau setidaknya ia akan benar-benar memahami hakekat dari kehidupan ini, yang semuanya berasal dari dan akan kembali lagi kepada-Nya. Ia baru akan mengerti hakekat siapa Tuhan itu sebenarnya dan mengapa ia harus tunduk dan patuh hanya pada setiap aturan dan hukum-Nya saja. Karena bagi orang yang telah memahami ke empat stasiun di atas (shadr, qalb, fu`ad dan lubb) lalu menerapkannya, maka ia baru akan benar-benar menyadari dan menyakini bahwa Sang Khalik itu memiliki tiga tattwa (hakekat), yaitu:

1. Siwatattwa
Tattwa (hakikat) yang pertama ini bersifat Niskala (tidak berwujud).

2. Sadasiwatattwa
Tattwa (hakikat) yang kedua ini bersifat Sakala Niskala (berwujud-tak berwujud).

3. Sakalatattwa
Tattwa (hakikat) yang ketiga ini bersifat Sakala (berwujud) yang berhubungan langsung dengan peristiwa alam, yaitu penciptaan alam, penjagaan dan pengaturan alam, serta penghancuran alam. Ketiga hal itu merupakan sebagian dari sifat-Nya yang mengikat bagi siapapun. Tidak ada yang bisa menghindari ketetapan-Nya walau sesaat. Karena hanya Dia pula Yang Maha Kuasa.

Selanjutnya, ketika ia benar-benar memahami ketiga tattwa (hakekat) Tuhan di atas, barulah ia akan benar-benar sadar diri. Ia akan mudah mengikuti perintah yang baik karena menyadari bahwa Tuhan itu adalah Sang Maha, dan senang menjalankan kebenaran dari-Nya walaupun sulit. Dengan begitu, maka hidupnya akan bahagia, karena telah menyeimbangkan antara unsur yang lahiriah dan yang batiniah. Ia pun akan menjalani hidup dengan mengutamakan kesempurnaan hidup, yaitu hidup dengan sempurna sebagai hamba Tuhan yang patuh. Sebaliknya, tanpa pemahaman yang benar akan ketiga tattwa (hakekat) Tuhan di atas – yang harus dilalui dengan menguasai kondisi ke empat stasiun hati (shadr, qalb, fu`ad dan lubb) – maka setiap orang hanya akan tahu tapi tidak paham. Artinya, keimanan dan keyakinan yang ia miliki – atau dikatakannya – itu hanya sebatas lisan tanpa makna.

Wahai saudaraku. Dari uraian di atas, jika kita terus menyelam ke dalam hati kita sendiri, maka semakin dekat pula kita kepada Tuhan Sang Maha Benar dan Maha Bijaksana. Semakin kita dekat dengan-Nya, semakin pula kita menyerap dan memancarkan kebaikan dan kebenaran bagi alam semesta. Karena itu, apa lagi yang menahan dirimu untuk menjelajahi kedalaman hatimu sendiri? selain urusan duniawi dan segala materinya.

Oleh sebab itulah, saat ini banyak sekali pribadi manusia yang kosong, yang bimbang setiap kali harus mengambil keputusan. Ia tak tahu apa yang sejatinya diinginkan dan dibutuhkan. Bahkan ia pun kerap tak mampu memilih jalan hidup yang berarti bagi dirinya sendiri, karena ia sudah terasing atau teralienasi. Dan semua itu bisa terjadi lantaran ia tidak lagi menyeimbangkan hidupnya sendiri (unsur lahiriah dan batiniah) demi kedamaian hatinya.

“Tak ada orang yang tak berguna. Sehingga bayangkan satu hal yang baik kemudian cepat laksanakan. Dengan begitu engkau sudah melakukan perubahan besar”

Untuk itu, jadilah sosok yang seimbang dalam hidupnya. Yaitu pribadi yang menyadari bahwa hidup di dunia ini bersifat sementara. Engkau boleh saja mengejar cita-cita, tapi jangan lupakan bahwa semua itu harus dipertanggungjawabkan nanti. Sebaiknya ikuti saja kebiasaan orang dulu yang mengatur hidupnya dengan membatasi kapan ia harus memulai dan kapan pula ia harus berhenti. Semuanya ada waktu untuk memulainya dan harus ada waktunya pula untuk segera berhenti. Tidak bisa terus-terusan mengejar apa yang kau inginkan, terlebih tentang materi duniawi ini. Karena dengan seperti itu, bisa dipastikan hidupmu tidak akan pernah seimbang, apalagi sempurna dan bahagia.

Nah, disinilah letak pentingnya tata kehidupan yang terstruktur. Dan sebagaimana yang pernah saya jelaskan pada tulisan sebelumnya (baca: Mitologi dan Agama: Tentang Ajaran Moksa), maka orang Nusantara dulu telah menerapkan empat tahapan dalam kehidupan ini. Tujuannya agar setiap orang itu bisa menggapai tujuan sejati dari kehidupannya. Selain itu, dengan empat tahapan tersebut, siapa pun bisa tahu dan menyadari – selama hidupnya – kapan ia harus memulai dan kapan ia harus berhenti. Dengan begitu, maka kehidupannya akan terarah dan mendatangkan banyak makna. Ia tidak akan merasa kosong, karena sudah merasa sangat lengkap dan bahagia. Sebaliknya, tanpa hal itu, bisa dipastikan kehidupannya akan kacau dan membosankan.

Untuk mengingatkan kembali, disini akan disampaikan ke empat tahapan hidup orang Nusantara dulu. Yaitu:

1. Brahmacharya (tahap seseorang yang sedang mencari ilmu)
Tahap ini merupakan satu tingkatan masa hidup untuk mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan dengan cara berguru. Disini tentu berkaitan erat pula dengan mendidik diri untuk bisa mencapai kesempurnaan pribadi. Jadi pada tahapan ini artinya setiap orang itu harus menuntut ilmu demi kehidupan yang lebih baik, mulai dari ilmu yang bersifat jasmani (ilmiah, sastra, bela diri, dll) hingga yang terkait dengan urusan ruhaninya.

2. Grahastha (tahap seseorang yang membangun rumah tangga)
Tahap ini adalah tingkat hidup pada masa berumah tangga. Pada masa Grahastha ini, maka yang menjadi prioritas tujuan hidup adalah mencari harta benda dan memenuhi kebutuhan hidup – termasuk menghasilkan keturunan, yang tentunya berdasarkan kebenaran. Sementara kewajiban yang harus ditunaikan pada masa ini adalah dengan bekerja mencari nafkah secara halal, menjadi pemimpin keluarga dan anggota keluarga yang bertanggungjawab, serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan penuh kebersamaan.

Untuk itulah, disini berarti setiap orang itu – khususnya laki-laki – haruslah punya pekerjaan yang mapan dan penghasilan yang cukup sebelum ia membina rumah tangga. Karena hal itu menjadi salah satu yang utama demi keharmonisan hidupnya nanti. Dan semuanya itu bisa terwujud hanya jika sebelumnya ia sudah membekali dirinya dengan banyak ilmu pengetahuan melalui belajar kepada seorang guru atau di sekolah.

3. Wanaprastha (tahap seseorang yang menjadi pertapa atau telah meninggalkan kesibukan duniawi)
Tahap ini adalah tingkatan hidup manusia pada masa persiapan untuk melepaskan diri dari ikatan keduniawian. Wanaprastha berarti mengasingkan diri ke suatu tempat (hutan, gunung, lembah) yang jauh dari keramaian kota. Jadi, disini berarti seseorang tidak lagi berurusan dengan pangkat, jabatan dan harta benda duniawi. Jika sebelumnya ia punya jabatan, kedudukan atau harta benda yang berlimpah, maka di tingkatan ini semuanya itu sudah ia tinggalkan. Ia hanya fokus pada hal-hal yang bersifat kemanusiaan dan keTuhanan saja. Dan pada masa ini seseorang juga mulai secara bertahap melepaskan diri dari belenggu duniawi dan lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Karena tujuan hidup pada masa ini adalah persiapan mental dan fisik untuk bisa moksa (pelepasan jiwa). Untuk itulah, di tingkatan ini biasanya seseorang akan disebut dengan Rsi/Resi.

4. Sanyasin atau Biksuka (tahap seseorang yang telah mencapai kesempurnaan hidup hingga pada akhirnya moksa)
Tahap terakhir ini berada di atas tahap Wanaprastha, karena seseorang sudah tidak lagi berurusan dengan keduniawian. Ia hanya berfokus pada urusan yang berkaitan dengan alam tinggi (keTuhanan) saja. Namun jika ada urusan duniawi yang ia kerjakan, itu karena ia memang harus sedikit terlibat demi kemaslahatan orang banyak. Pada masa ini seseorang merasa sudah tidak memiliki apa-apa dan tidak terikat sama sekali dengan materi. Ia juga selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena itulah, di tingkatan ini biasanya seseorang akan disebut dengan Siddharesi, Maharesi atau Brahmaresi.

Wahai saudaraku. Ke empat tingkatan di atas itu disebut dengan Catur Asrama atau empat tingkatan dalam pendidikan hidup. Semuanya itu dahulu dipegang erat dan di tanamkan di dalam sanubari orang-orang yang hidup di tanah Jawa, Sumatera, Bali dan Kalimantan. Satu persatu berusaha mereka terapkan dalam kehidupannya sehari-hari, hingga pada akhirnya bisa menimbulkan banyak kebaikan dan kegemilangan. Mereka bahkan mampu mencapai peradaban yang sangat tinggi, yang bahkan tidak bisa dicapai oleh banyak bangsa besar di dunia.

syurga dunia

Untuk itu, dalam upaya untuk menggapai keseimbangan hidup dan kedamaian hatimu, maka visi Catur Asrama di atas menjadi layak untuk diikuti. Setiap tahapannya, bila dijalani dengan tekun dan benar, akan mendatangkan banyak keuntungan bagimu. Di dunia ini engkau akan merasakan apa arti hidup ini yang sebenarnya. Sedangkan di akherat nanti, kau pun akan merasakan kebahagiaan dan kedamaian jiwa yang paripurna. [Baca: Mengembalikan Visi Catur Asrama di Nusantara]

*****

Wahai saudaraku. Dari uraian di atas, marilah kita segera mengembalikan jati diri kita sendiri sebagai manusia yang utuh. Yaitu sosok makhluk yang sejak awal telah dibekali dengan dua sisi dirinya sendiri; lahiriah dan batiniah. Janganlah mau menjadi sosok yang “tidak waras”, yaitu orang yang hanya menjalani kehidupan ini dari sisi lahirah atau batiniah saja. Keduanya harus diterapkan secara bersamaan dan seimbang antara satu sama lainnya. Dengan begitu, bisa dipastikan bahwa hidupmu akan bermakna dan meraih kebahagiaan yang sejati.

Sebaliknya, orang yang tidak menjalankan kehidupan itu ke dalam dua hal (lahiriah dan batiniah) sekaligus, pastinya ia tidak akan merasa damai. Bisa saja ia mengatakan sudah bahagia, atau berpenampilan paling ceria dari siapapun, tapi yakinlah bahwa ia pasti merasakan ada yang kurang dalam hidupnya. Hatinya sendiri merasa sepi, gundah dan hambar, karena apa yang sudah diraih itu ternyata tidak ada artinya. Ia terus saja mencari kesenangan materi yang dikiranya sebagai puncak dari kenikmatan hidup. Padahal itu semua hanya akan berujung pada kesia-siaan dan penyesalan, tanpa bisa menemukan apa yang sebenarnya ia harapkan. Bahkan tanpa disadari ia pun telah menjadi sosok yang paling hina, karena terus-terusan menjadi “alas kaki” dari setan yang terkutuk.

Untuk itu, mari sejak saat ini kita mengembalikan jati diri kita yang sebenarnya. Yaitu sebagai makhluk yang sempurna dengan menggunakan bekal lahiriah dan batiniah secara bersamaan. Asah kemampuan dari kedua sisi itu sekaligus, karena hidup yang sempurna itu adalah dengan bisa mengembangkan potensi dalam diri kita sendiri. Terus menerus harus di lakukan secara kompak dan penuh kesabaran, sampai ajal datang menjemput. Dengan begitu, siapapun akan mencapai kesempurnaan diri, karena telah menerapkan keseimbangan hidup dan kedamaian hati yang sesungguhnya.

Jogjakarta, 21 September 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

Referensi:
* Buku: Al-Fard bayna al-shadr wa al-qalb wa al-fu`ad wa al-lubb, karya Muhammad ibn Ali Al-Hakim Al-Tirmizi. Penerbit Dar al-Jil, Beirut 1414 H/1992 M.
* Buku: Misteri Gajah Mada, karya Purwadi. Penerbit Garailmu, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s