Mengembalikan Visi Catur Asrama di Nusantara

Posted on Updated on

visionWahai saudaraku. Saat menjalani kehidupan ini, tentunya setiap orang itu harus memiliki pedoman yang jelas. Dan selain dari kitab suci agama, maka tidak ada salahnya bila mengambil pedoman itu dari beberapa prisip dasar yang telah ada di dalam sejarah masa lalu. Yaitu tentang keselarasan hidup antar sesama makhluk ciptaan Tuhan, tanpa membeda-bedakan suku, bangsa atau keyakinannya. Dan setiap bagiannya bisa diambil dari warisan para leluhur kita yang bijak, atau dari pengalaman hidup mereka sehari-hari.

Dari hal di atas, terlebih saat dikaitkan dengan judul artikel ini, penulis akan sedikit menguraikan apa saja yang dulu pernah diterapkan oleh nenek moyang kita dalam kehidupannya sehari-hari. Baik dalam urusan personal maupun bersama masyarakat dan negaranya. Semua prinsip itu tidak hanya berlaku bagi satu kelompok atau keyakinan tertentu, tapi bisa juga berlaku bagi semua makhluk yang berakal – bahkan waktunya sampai Hari Kiamat nanti. Dan karena prinsip itu selalu diterapkan dalam setiap lini kehidupan, maka nenek moyang kita dulu bisa hidup dalam kondisi aman, damai, makmur dan penuh kesejahteraan.

Wahai saudaraku. Sebagaimana yang umum dirasakan oleh setiap orang, maka manusia itu mempunyai keinginan yang bersifat naik turun. Sifat ini pula yang menyebabkan hidup setiap orang itu terkadang terasa senang namun sebaliknya susah dan menyedihkan. Bahkan dimana saja tempatnya, maka rasa hidup seseorang akan terasa kadang sebentar senang lalu menjadi terasa susah. Yang semua itu sangat dipengaruhi oleh keinginan yang ada, karena setiap keinginan itu pasti bersifat seperti di atas tadi. Dan jika seseorang tidak mempunyai keinginan, maka ia bukanlah manusia.

Jadi, rasa hidup semua manusia di dunia ini sama saja. Apakah dia itu orang kaya atau miskin, rupawan atau jelek, laki-laki atau wanita, tua atau muda, raja atau buruh, wali atau bajingan, maka rasanya sama alias sebentar senang dan sesaat kemudian susah dan sedih. Dan yang pasti kesamaan itu adalah sama-sama merasakan senang dan susahnya, berat dan ringannya, atau cepat dan lambatnya. Sedangkan yang membedakannya hanyalah masalah bentuk atau jenis yang disenangi dan disusahi saja. Misalnya antara orang kaya dan orang miskin. Orang kaya senang saat bisa mengoleksi mobil mewah dengan harga selangit, sementara orang miskin senang saat bisa memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari. Jika orang kaya suka melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ia butuhkan, maka orang miskin senang hanya bila mampu memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Keduanya memiliki kesenangan, tetapi jenis dan maknanya menjadi sangat berbeda.

happy

Untuk itu, agar hidup lebih terarah atau tidak melakukan hal yang sia-sia dan merugikan sehingga menambah penderitaan, maka ada empat hal yang perlu dipahami terlebih dulu oleh setiap pribadi. Ke empat hal itu lalu harus menjadi patokan dan terus di laksanakan saat mengarungi kehidupan ini. Tujuannya agar siapapun punya target yang jelas dan tujuan hidup yang benar disertai kebahagiaan. Dan ke empat prinsip itu lalu disebut dengan Catur Asrama atau empat tingkatan dan tujuan dalam kehidupan ini. Adapun di antaranya sebagai berikut:

1. Brahmacharya (tahap seseorang yang sedang mencari ilmu)
Tahap ini merupakan satu tingkatan masa hidup untuk mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan dengan cara berguru. Disini tentu berkaitan erat pula dengan mendidik diri untuk bisa mencapai kesempurnaan pribadi. Jadi pada tahapan ini artinya setiap orang itu harus menuntut ilmu demi kehidupan yang lebih baik, mulai dari ilmu yang bersifat jasmaniah (ilmiah, sastra, bela diri, dll) hingga yang terkait dengan urusan ruhaninya.

2. Grahastha (tahap seseorang yang membangun rumah tangga)
Tahap ini adalah tingkat hidup pada masa berumah tangga. Grahastha berasal dari kata “graha” yang berarti rumah tangga dan “stha” yang berarti berdiri atau membina. Jadi Grahastha dapat diartikan sebagai masa membina rumah tangga. Pada masa Grahastha ini, maka yang menjadi prioritas tujuan hidup adalah mencari harta benda dan memenuhi kebutuhan hidup – termasuk menghasilkan keturunan, yang tentunya berdasarkan kebenaran. Sementara kewajiban yang harus ditunaikan pada masa ini adalah dengan bekerja mencari nafkah secara halal dan tidak serakah, menjadi pemimpin keluarga dan anggota keluarga yang bertanggungjawab, serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan penuh rasa kebersamaan.

Untuk itulah, disini berarti setiap orang itu – khususnya laki-laki – haruslah punya pekerjaan yang mapan dan penghasilan yang cukup sebelum ia membina rumah tangga. Karena hal itu menjadi salah satu yang utama demi keharmonisan hidupnya nanti. Dan semuanya itu bisa terwujud hanya jika sebelumnya ia sudah membekali dirinya dengan banyak ilmu pengetahuan melalui belajar kepada seorang guru atau di sekolah.

3. Wanaprastha (tahap seseorang yang menjadi pertapa atau telah meninggalkan kesibukan duniawi)
Tahap ini adalah tingkatan hidup manusia pada masa persiapan untuk melepaskan diri dari ikatan keduniawian. Wanaprastha berarti mengasingkan diri ke suatu tempat (hutan, gunung, lembah) yang jauh dari keramaian kota. Jadi, disini berarti seseorang tidak lagi berurusan dengan pangkat, jabatan dan harta benda duniawi. Jika sebelumnya ia punya jabatan, kedudukan atau harta benda yang berlimpah, maka di tingkatan ini semuanya itu sudah ia tinggalkan. Ia hanya fokus pada hal-hal yang bersifat kemanusiaan dan keTuhanan saja. Dan pada masa ini seseorang juga mulai secara bertahap melepaskan diri dari belenggu duniawi dan lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Karena tujuan hidup pada masa ini adalah persiapan mental dan fisik untuk bisa moksa (pelepasan jiwa). Untuk itulah, di tingkatan ini biasanya seseorang akan disebut dengan Rsi/Resi.

4. Sanyasin atau Biksuka (tahap seseorang yang telah mencapai kesempurnaan hidup hingga pada akhirnya moksa)
Tahap yang terakhir ini berada di atas tahap Wanaprastha, karena seseorang sudah tidak lagi berurusan dengan keduniawian. Ia hanya berfokus pada urusan yang berkaitan dengan alam tinggi (keTuhanan) saja. Namun jika ada urusan duniawi yang ia kerjakan, itu karena ia memang harus sedikit terlibat demi kemaslahatan orang banyak. Pada masa ini seseorang merasa sudah tidak memiliki apa-apa dan tidak terikat sama sekali dengan materi. Ia juga selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena itulah, di tingkatan ini biasanya seseorang akan disebut dengan Siddharesi, Maharesi atau Brahmaresi.

Jadi, untuk bisa mencapai tujuan hidup sebagai manusia sejati atau meraih kesempurnaan diri, maka siapapun harus memegang erat ke empat prinsip di atas. Karena setelah seseorang memahaminya – terlebih saat bisa menunaikannya, barulah ia akan siap memenuhi berbagai kesempurnaan dalam dirinya. Lalu untuk bisa memenuhi setiap tahapan dalam Catur Asrama di atas, maka salah satu cara yang harus dilakukan yaitu dengan menjalani Catur Sarana Pura. Yaitu empat hal yang harus ia usahakan untuk bisa memenuhi tujuan kehidupan yang sejati. Adapun di antaranya sebagai berikut:

1. Dharma (kebaikan, kebenaran atau perilaku luhur)
Prinsip ini mempunyai pengertian yang sangat luas dan tidak bisa dibatasi hanya pada satu keyakinan atau agama tertentu saja. Karena makna dari Dharma sendiri telah melintasi ruang dan waktu, bahkan menjadi prinsip dasar bagi setiap keyakinan dan agama yang ada. Terlebih Dharma yang berarti kebaikan, kebenaran atau perilaku luhur itu adalah sebuah istilah yang prinsip dasarnya sudah ada dan harus diterapkan pada setiap ajaran agama atau keyakinan apapun. [Baca: Ajaran luhur Budhi Dharma Nusantara]

Jadi, Dharma itu bisa juga berarti kebajikan dan kebijaksanaan yang memang wajib untuk dilakukan oleh setiap orang. Yang kemudian bisa dibagi menjadi dua macam, yaitu:

1) Swa Dharma. Ini adalah kewajiban diri sendiri karena setiap orang tentu punya kewajibannya sendiri, baik kepada Tuhan atau pun kepada sesamanya.
2) Para Dharma. Ini adalah kewajiban dalam menghormati atau menghargai tugas dan kewajiban orang lain. Begitu pula dengan kewajiban untuk tidak memandang rendah atau menyepelekan tugas dan kewajiban orang lain.

Lebih jauhnya lagi tentang arti penting dalam menjalankan kewajiban Dharma ini adalah sebagai sarana dalam mencapai kesempurnaan dan memperoleh Syurga. Ia juga bisa menghilangkan segala macam penderitaan dan marabahaya, sumber datangnya kebahagiaan sejati bagi yang menjalankannya, dan dapat meleburkan dosa-dosa. Karena itu pula, Dharma menjadi harta kekayaan orang yang shaleh yang tidak bisa dicuri dan nilainya lebih tinggi dari semua harta dan kedudukan. Bahkan dengan Dharma, maka jalan keselamatan dapat di tempuh dengan lancar dan sukses. Baik di dunia maupun di akherat nanti.

Ya. Melalui Dharma inilah terpancar cahaya kesadaran. Bahkan siapapun yang teguh di dalamnya, maka ia akan melampaui belenggu dunawi dan melihat diri sejati, dan merasakan sumber kekuatan-kekuatan kreatif. Dirinya tak lagi menjadi alat permainan alam yang tanpa daya. Karena ia akan menjadi bagian dari dunia bebas yang mengatasi dunia bawah.

2. Arta (harta benda)
Prinsip ini dapat dipenuhi dengan baik dan benar hanya ketika seseorang sudah bisa menjalankan Dharma dalam kehidupannya sehari-hari. Jika tidak, tentunya arta (harta benda) yang diperoleh akan berasal dari sesuatu yang tidak sah alias haram. Lalu ketika apa yang ia miliki itu – baik uang maupun harta benda lainnya – berasal dari cara-cara yang haram, tentunya akan mendatangkan keburukan dalam hidup. Bahkan tidak jarang bisa menimbulkan kesengsaraan yang berlarut-larut, atau seseorang akan merasa tidak bisa tenang dan itu jelas membuatnya sangat menderita.

Untuk itu, memang dalam hidup ini manusia perlu harta benda. Tapi itu tidak boleh menjadi alasan untuk terus menumpuk harta benda dengan serakah, atau meraup keuntungan yang berlebihan dalam hidup ini. Seseorang harus tahu batasan antara mana yang bisa dan mana yang tidak bisa, mana yang layak dan mana yang tidak layak. Karena tanpa hal itu, maka manusia menjadi tidak ada bedanya dengan binatang, atau bahkan sama saja dengan setan yang terkutuk.

Karena itulah, agar arta (harta benda) yang dimiliki itu menjadi berguna di dunia dan menguntungkan di akherat nanti, maka perlu dibagi ke dalam tiga fungsinya. Yaitu:

1) Sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini wajib dilaksanakan, tapi harus dengan catatan hanya untuk kebutuhan primer dan seperlunya saja yang bersifat sekunder. Tidak untuk memenuhi semua keinginan yang bersifat tersiar atau yang sebenarnya tidak begitu penting atau berarti dalam hidup ini.

2) Sarana untuk mengembangkan usaha. Disini contohnya untuk meningkatkan hasil produksi jika mempunyai usaha, atau banyak menabung untuk persiapan hari tua dan rencana untuk bisa melakukan perjalanan ibadah Haji dengan layak. Sehingga arta (harta benda) itu bisa terus berkembang atau bahkan bisa juga untuk membantu orang lain.

3) Sarana untuk mencapai tujuan dari Dharma. Disini agar arta (harta benda) itu bisa mendatangkan berkah, maka perlu mempergunakan sebagiannya untuk kegiatan amal keagamaan seperti membayar zakat dan infaq, membantu orang yang susah atau terlilit hutang, menyantuni anak yatim dan orang jumpo, memperbaiki atau membangun tempat ibadah, sekolah dan perpustakaan, atau amal ibadah yang lainnya yang tentunya untuk kepentingan bersama.

Jadi, setiap arta (harta benda) yang dimiliki pun harus diatur dengan prinsip Dharma agar peruntukkannya berkah dan mendatangkan manfaat. Dan jika itu selalu ditunaikan dengan tulus, maka kehidupan seseorang akan lebih bahagia dan bisa meraih kemuliaan. Tanpa hal itu, setiap harta benda hanya akan menjadi beban dan mendatangkan banyak penderitaan dan penyesalan, cepat atau lambat.

3. Kama (nafsu atau hasrat keinginan)
Dalam hidup ini orang memerlukan kenikmatan dan kenikmatan itu bisa dirasakan saat keinginannya sudah terpenuhi. Tapi jika tidak benar waktu dan tempatnya, maka justru akan berakibat tidak baik bagi siapapun. Disinilah pentingnya untuk bisa mengendalikan Kama (nafsu atau hasrat keinginan), agar jalan hidup itu tetap benar dan mendapatkan ridho dari Tuhan. Dan ini bisa dipenuhi dengan tepat hanya ketika seseorang mampu mengendalikan indera yang ia miliki. Karena nafsu atau hasrat keinginan itu bisa memberikan kenikmatan dan tujuan hidup atau sebaliknya hanya akan mendatangkan musibah.

Ya. Kama (nafsu atau hasrat keinginan) itu timbul karena manusia memiliki indera. Indera itu pula yang selalu membangkitkan kama di dalam diri setiap orang. Dan setiap manusia itu telah dianugerahi sepuluh indera yang disebut dengan Dasa Indriya. Lalu untuk lebih memudahkan pemahaman, maka ke sepuluh indera itu lalu dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu:

1. Panca Budindriya
1) Caksu indriya, indera ini terletak pada mata yang berfungsi untuk melihat.
2) Sruta indriya, indera ini terletak pada telinga yang berfungsi sebagai penilai.
3) Grana indriya, indera ini terletak pada hidung yang bersungsi sebagai penciuman.
4) Jihwa indriya, indera ini terletak pada lidah yang berguna untuk mengecap.
5) Twaka indriya, indera ini terletak pada kulit untuk merasakan sentuhan dan suhu atau meraba.

2. Panca Karma Indriya
1) Pana indriya, ini adalah indera penggerak pada tangan untuk bisa memegang atau mengambil.
2) Pada indriya, ini adalah indera penggerak pada kaki untuk bisa beranjak atau berjalan.
3) Waka indriya, ini adalah indera penggerak pada mulut untuk bisa berkata-kata, makan dan minum.
4) Upasta indriya, ini adalah indera penggerak pada kelamin untuk membuang air kecil/seni dan alat pemuas hasrat biologis.
5) Paywa indriya, ini adalah indera penggerak pada anus yang berfungsi untuk membuang kotoran/air besar.

Jadi, dari ke sepuluh indera yang diterangkan di atas, tentunya dalam kehidupan ini manusia perlu sekali mengendalikan Kama-nya. Sebab, bila tidak dikendalikan akan mendatangkan kehancuran pada diri manusia itu sendiri. Seperti nyala api yang disirami minyak, atau tungku yang ditambahkan kayu bakarnya, begitulah akibatnya bila keinginan atau nafsu yang ada tidak dikendalikan atau selalu dituruti. Begitu pula dengan Kama ini, ia harus dikendalikan dengan Dharma agar tidak menyebabkan penderitaan dan penyesalan. Dan ketika Dharma seseorang telah mengendalikan Kama-nya sendiri, maka kesempatan untuk meraih kebahagiaan dan kesempurnaan hidup menjadi semakin terbuka lebar.

Untuk itulah, mengendalikan setiap indera ini menjadi sangat penting bagi siapapun. Karena ketika kita bisa mengalahkan dan mengendalikan setiap indera, nyala api ruh akan terang dan menyala, seperti terang pelita di tengah ruang yang berangin tenang. Cahaya kesadaran akan bersinar terang, memperlihatkan sifat dasarnya, yaitu kebaikan dan ketundukan pada Tuhan. Sehingga oleh sebab itu pula, ia akan mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan.

4. Moksa
Sebagaimana yang pernah dijelaskan pada tulisan sebelumnya: Mitologi dan Agama; Tentang Ajaran Moksa, istilah “moksa” ini berasal dari bahasa Sanskerta yang memiliki makna pelepasan jiwa. Selain itu, dalam tradisi Jawa kata moksa juga bisa diartikan sebagai pencarian, pembebasan atau juga perpindahan diri seseorang dari satu tempat ke tempat lainnya. Disini artinya ketika seseorang telah moksa, maka ia bisa merasakan terbebas dari semua ikatan materi duniawi. Sedangkan orang yang bisa merasa terbebas dari materi duniawi itu adalah orang yang benar-benar bisa merasakan kebahagiaan. Karena itu pula, moksa ini menjadi tujuan akhir dalam perjalanan kehidupan ini. Setiap orang yang bisa mencapainya akan merasakan kenikmatan yang luarbiasa. Dan ketika seseorang mampu mencapai moksa saat ia masih hidup di dunia ini, maka ia disebut dengan Jiwa Mukhti atau jiwa yang telah sempurna.

Untuk itu, kebahagiaan yang mutlak dan abadi itu hanya dapat dirasakan bilamana ruhani seseorang dapat mencapai kesempurnaan hidup (moksa). Dan itu bisa dilakukan salah satunya dengan menjalankan tiga prinsip Catur Sarana Pura sebelumnya (Dharma, Arta, Kama) dengan benar. Karena dengan begitu, maka seseorang akan mampu memberikan kebahagiaan yang diliputi rasa senang dan tenang dalam hidupnya sendiri. Dan ketika itu sudah terpenuhi terus menerus, maka seseorang akan hidup dalam tingkat kebijaksanaan yang sesungguhnya.

Wahai saudaraku. Agar seseorang bisa melalui setiap tingkatan dalam Catur Asrama dengan benar, maka selayaknya ia menerapkan apa yang telah diuraikan pada prinsip Catur Sarana Pura di atas. Tanpa memahami dan melaksanakan prinsip itu, maka sangat sulit bagi siapapun bahkan hanya untuk sekedar hidup dengan layak dan tidak celaka. Sebaliknya, ketika ia memahami dan mau menunaikannya dengan tekun disertai sikap yang sabar, maka kesempatan untuk bisa meraih kebahagiaan hidup menjadi terbuka lebar. Ia akan benar-benar sampai pada tujuan hidup yang sejati sebagai manusia, yaitu kesempurnaan jiwa.

*****

Ya. Kebahagiaan dan penderitaan makhluk itu merupakan kodrat dari Tuhan baginya. Tindakan dan niat manusia ada yang baik dan buruk, salah dan benar. Karena itulah, sudah menjadi tugas kita untuk bisa menentukan mana tindakan atau niat yang akan kita lakukan dalam hidup ini, atau berada di sebelah mana diri kita memihak. Apakah tetap berada disisi kebenaran dan kesucian seperti ketika baru dilahirkan atau memilih jalan kejahatan dan kesesatan. Namun yang jelas apa yang benar pada suatu waktu belum tentu benar pada waktu lainnya. Demikian pula apa yang benar pada suatu tempat atau keadaan belum tentu benar pada tempat atau keadaan lainnya. Semuanya itu memerlukan wawasan yang luas dan kebijaksaan diri yang tinggi.

Sehingga dengan adanya penjelasan tentang Catur Asrama dan Catur Sarana Pura ini, maka seseorang bisa berkaca pada dirinya sendiri. Atau setidaknya mengetahui mana yang harus ia kerjakan dan mana pula yang wajib ia hindari dalam hidup ini. Inilah sebagian ilmu pengetahuan yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita yang bijak. Semuanya harus dipahami dan dijadikan sebagai pedoman utama dalam menjalani kehidupan ini. Karena didalamnya sudah mengandung banyak nilai religius yang paripurna. Sehingga dengan begitu, maka tujuan hidup yang sejati pun bisa terpenuhi dan seseorang akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Sungguh, bangsa Nusantara dulu sangat menyadari bahwa hanya dengan menjalani prinsip hidup yang benar dan terarah saja, mereka baru bisa meraih kebahagiaan yang sejati. Dan di antara prinsip itu adalah visi Catur Asrama dan Catur Sarana Pura di atas. Karena kedua visi tersebut berasal dari ajaran dan rahmat Tuhan melalui para utusan-Nya. Sehingga dengan sikap tekun dalam mengikutinya, maka siapapun akan menjadi sosok yang memiliki keluhuran budi. Dan ketika seseorang telah memiliki keluhuran budi, jiwanya akan tunduk dan memasrahkan diri ke hadapan Tuhan. Akibatnya, Tuhan Sang Maha Kuasa akan memberikan berbagai pengetahuan, mengangkat kesalahan dan membuang jauh semua kekurangan untuk kemudian mengubahnya masuk ke dalam cahaya terang-Nya yang tak terbatas dengan kemurnian kebaikan universal.

Selain itu, jika kita kaitkan prinsip di atas dengan kebangkitan sebuah bangsa, maka tiada alasan untuk tidak segera menerapkan kembali nilai-nilai luhur dari visi Catur Asrama dan Catur Sarana Pura ini di tanah Nusantara. Sebab, kedua prinsip dan jalan hidup itu sudah melingkupi apa saja yang paling dibutuhkan oleh setiap pribadi dalam kehidupannya di dunia ini. Dan ia harus sungguh-sungguh dalam memahami dan melaksanakannya di kehidupan ini. Jika tanpa itu, bisa dipastikan kehidupan dunia ini hanya menjadi sesuatu yang semu dan tak berarti sama sekali. Atau peradaban yang telah dibangun akan segera hancur dan meninggalkan penderitaan. Dan semua itu bisa terjadi lantaran manusia yang ada sudah tidak lagi berbeda dengan binatang atau bahkan sama persis dengan setan yang terkutuk.

Untuk itulah saudaraku, bila manusia bertindak tanpa ilmu pengetahuan yang jelas dan benar, maksud dan tujuan hidupnya tidak akan tercapai. Ia tidak akan bisa meraih kesempurnaan, karena ibarat orang yang menanak nasi, maka saat ia tidak memiliki pengetahuannya, maka berasnya tidak akan menjadi nasi atau rasanya tidak akan enak. Sebab itulah, bagi setiap diri manusia, maka ilmu pengetahuan menjadi mutlak dimiliki untuk bisa mencukupi setiap kebutuhannya dan sarana dalam mencapai tujuan dari hidupnya sendiri. Dan satu hal lagi yang paling penting dari itu semua adalah mau melaksanakan setiap ilmu pengetahuan yang telah dimiliki itu dengan benar dan penuh semangat. Dengan begitu, siapapun akan mendapatkan keuntungan dan kebahagiaan yang berlimpah.

Semoga bangsa ini bisa segera bangkit dan berjaya lagi. Tapi dengan terlebih dulu mengembalikan visi Catur Asrama dan Catur Sarana Pura di dalam setiap lini kehidupan di tanah Nusantara. Tanpa hal itu, maka bangsa ini akan hancur dalam waktu yang tak begitu lama.

Jogjakarta, 10 September 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

Referensi:
* Buku: Misteri Gajah Mada, karya Purwadi. Penerbit Garailmu, 2009.

One thought on “Mengembalikan Visi Catur Asrama di Nusantara

    Keseimbangan Hidup demi Kedamaian Hati « Perjalanan Cinta said:
    September 29, 2015 pukul 4:00 am

    […] Untuk itu, dalam upaya untuk menggapai keseimbangan hidup dan kedamaian hatimu, maka visi Catur Asrama di atas menjadi layak untuk diikuti. Setiap tahapannya, bila dijalani dengan tekun dan benar, akan mendatangkan banyak keuntungan bagimu. Di dunia ini engkau akan merasakan apa arti hidup ini yang sebenarnya. Sedangkan di akherat nanti, kau pun akan merasakan kebahagiaan dan kedamaian jiwa yang paripurna. [Baca: Mengembalikan Visi Catur Asrama di Nusantara] […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s