Kisah Mahabharata: Relevansi dengan Kondisi Bangsa

Posted on Updated on

mahabharata 1Siapa yang tidak mengenal kisah Mahabharata? Sebuah epos yang sangat mahsyur yang ditulis oleh Begawan Wiyasa. Kisah luarbiasa ini menceritakan lika-liku perjalanan hidup dua sepupu, yaitu para Pandawa dan Kurawa, yang berakhir dengan pertempuran besar di padang Kurusetra. Dari kisah ini, siapapun bisa mengambil hikmah untuk mengisi arti kehidupannya. Atau setidaknya bercermin diri tentang mana yang benar dan mana yang salah, mana yang harus dan mana pula yang tidak boleh. Dengan harapan untuk bisa hidup dalam kebahagiaan dan kesejahteraan.

Kisah mahsyur ini tidak akan lekang oleh zaman dan peradaban. Dan siapa yang tidak tahu karya besar ini, artinya ia tidak tahu keagungan dan kedalaman jiwa manusia. Ia juga meluputkan percobaan dan tragedi, serta keindahan dan keagungan hidup manusia. Itu terjadi karena kisah Mahabharata tidak sekedar sebuah epik atau dongeng pengantar tidur. Di dalamnya terdapat banyak roman yang menceritakan kisah laki-laki dan wanita yang heroik, serta beberapa tokoh luar biasa lainnya. Kisah ini adalah gambaran tentang apa yang ada di dalam diri setiap orang dan apa saja yang terjadi di setiap zamannya. Semua yang terjadi di dunia ini, tidak akan jauh berbeda dengan apa saja yang pernah terjadi dalam kisah Mahabharata. Terulang dan terulang kembali terus menerus.

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang judul tulisan di atas, mari kita cermati dulu ringkasan ceritanya:

Untuk bisa memahami kisah ini secara menyeluruh, tentunya kita harus mengetahui dulu kisah hidup si penulisnya. Dimana Begawan Wiyasa itu adalah anak dari Begawan Pulasara (anak dari Begawan Sakri bin Sakutrem bin Manumayasa bin Parikenan bin Bhatara Bremani bin Sang Hyang Brahma bin Sang Hyang Guru), Resi yang terkenal dari gunung Rahtawu. Ibunya bernama Dewi Setyawati, tapi telah pergi meninggalkannya sejak masih bayi.

Sejak ditinggalkan ibunya, ayahnyalah yang membesarkan dan mendidiknya. Mula-mula mereka berkelana dari negeri satu ke negeri lainnya, tetapi kemudian menetap di pertapaan Sata Arga yang ada di gunung Rahtawu. Dari Begawan Palasara, Wiyasa lalu mewarisi bakat sebagai pertapa dan resi, selain juga mendapatkan pendidikan tentang kesusastraan dan ketatanegaraan.

Begawan Wiyasa ini memiliki beberapa nama lain, yaitu Abiyasa, Dewayana, Kaniyasin, Sutikna, Rancakaparawa atau Prabu Kresna Dwipayana ketika ia menjadi raja di Hastinapura. Ini terjadi sebelum pemerintahan Prabu Pandu Dewanata dan Destarastra. Pada waktu itu, ia adalah seorang raja yang mahsyur karena bersikap arif bijaksana, alim karena merupakan seorang pertapa yang ulung, dan dikenal sebagai negarawan yang tegas, adil dan memiliki ilmu yang tinggi, bahkan tahu apa saja yang belum terjadi.

Demikianlah gambaran singkat dari sosok yang telah menuliskan kisah yang mahsyur ini ke dunia. Karena setelah merasa cukup dengan kehidupan duniawinya, ia lalu turun dari tahta dan fokus hanya sebagai seorang resi. Ia lalu mendirikan sebuah Asrama (pertapaan) yang diberi nama Wukir Retuwu yang ada di sekitar gunung Rahtawu. Disinilah ia kemudian menjalani hidup dengan menjadi tempat bersandar bagi para cucunya, khususnya para Pandawa, untuk memperoleh ilmu dan pemahaman tentang kebijaksanaan hidup, keutamaan dan petunjuk dalam menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi.

begawan wiyasa

Selain itu, dalam usianya yang panjang, Begawan Wiyasa juga menyaksikan dan mengalami berbagai peristiwa yang dialami oleh para cucunya, terutama tentang lika-liku kekuasaan yang berjalan di Hastinapura. Karena itulah, di pertapaan Wukir Retuwu itulah ia juga merumuskan sebuah kisah hidup yang ia saksikan sendiri kejadiannya – yang kemudian dikenal luas sebagai Mahabharata. Dan setelah lengkap, Begawan Wiyasa lalu memikirkan cara untuk bisa menyampaikan kisah agung ini pada dunia.

Singkat cerita, Begawan Wiyasa lalu segera bersemedhi untuk memohon petunjuk dan bantuan. Tak lama kemudian di balas dengan kedatangan seorang yang agung dari Kahyangan, yang ternyata Sang Hyang Brahma. Dewa itu lalu menyarankan agar Begawan Wiyasa meminta bantuan dari Ganapati untuk menuliskannya. Selain itu, Sang Hyang Brahma juga menyampaikan sebuah janji. Katanya; “Apa yang tidak ada di dalam kisah agung ini tidak akan ada dimana pun” Lalu setelah mengatakan hal itu, beliau pun menghilang.

Perlu diketahui juga, bahwa sewaktu bayi, Begawan Wiyasa pernah berebut air susu (asi) Dewi Setyawati dengan bayi Dewabrata (Bisma). Waktu itu, Sentanu datang ke Hastinapura bersama anaknya yaitu Dewabrata dan minta agar Dewi Setyawati untuk mau membagi asinya pada Dewabrata. Dewi Setyawati yang saat itu adalah permaisuri dari Palasara (ayah Wiyasa) tidak berkeberatan. Namun ternyata Dewabrata sangat rakus, sehingga sering kali Wiyasa tidak kebagian air susu (asi) ibunya sendiri. Hal ini lalu membuat Palasara yang saat itu sudah menjadi raja Hastinapura dengan gelar Prabu Dipakiswara pun marah.

Singkat cerita, karena persoalan asi tersebut, akhirnya Sentanu berperang tanding (adu kesaktian) dengan Palasara. Bhatara Narada yang turun dari Kahyangan segera melerai mereka. Dewa itu mengatakan bahwa sesuai kehendak dari para Dewa, Palasara harus mengalah pada Sentanu. Ia bahkan harus merelakan tahta kerajaan Hastinapura dan permaisurinya Dewi Setyawati. Dengan begitu, ketika masih bayi Wiyasa harus kehilangan ibunya. Namun ketika dewasa Wiyasa tetap menjadi raja di Hastinapura dan memiliki tiga orang istri, yaitu Dewi Ambika yang menurunkan seorang putra bernama Destarastra. Istri kedua bernama Dewi Ambalika yang menurunkan putra bernama Pandu Dewanata, dan yang terakhir bernama Dewi Niken Datru yang menurunkan putra bernama Yama Widura. Kemudian setelah tahta Hastinapura diserahkan kepada anak keduanya yaitu Pandu Dewanata, Wiyasa lalu kembali ke pertapaan Wukir Retuwu di pegunungan Rahtawu. Seperti leluhurnya terdahulu.

Kisah anak keturunan Begawan Wiyasa pun berlanjut. Dan karena anak tertuanya yang bernama Destarastra terlahir buta, maka anak keduanya yaitu Pandu Dewanata yang menggatikannya sebagai raja. Namun, setelah dilantiknya Pandu Dewanata sebagai raja baru di Hastinapura, ia pernah melakukan satu kesalahan yang fatal. Saat itu Pandu secara tidak sengaja membunuh Resi Kimindana dan istrinya saat mereka sedang bercengkerama di tengah hutan. Oleh sebab kesalahan itu, Pandu harus turun dari tahta untuk mengasingkan diri ke hutan, sementara tahta kerajaan Hastinapura lalu diserahkan kepada kakaknya yaitu Destarastra. Kedua istrinya yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madrim juga ikut dalam pengasingan itu. Di pengasingan, kedua istrinya lalu melahirkan lima orang putra. Tiga dari Dewi Kunti (Yudistira, Bima, Arjuna) dan dua dari Dewi Madrim (Nakula, Sadewa). Sementara kakaknya yaitu Destarastra dan istrinya Dewi Gandari yang tinggal di istana kerajaan Hastinapura menurunkan anak yang berjumlah 101 orang. Mereka ini lalu dikenal sebagai Kurawa.

the_pandawa_brothers_by_elangkarosingo-d5nzdq2

Dalam pengasingannya, Pandu Dewanata akhirnya meninggal dunia saat usianya masih muda. Sehingga pada awal kehidupan anak-anaknya, kelima putra yang kemudian dikenal sebagai Pandawa itu lalu dibesarkan oleh para Resi. Dan ketika Yudistira sudah berumur 16 tahun, para resi membawa mereka kembali ke Hastinapura dan mempercayakan kelimanya itu pada pamannya Destarastra dan kakek tiri mereka yaitu Dewabrata (Bisma) disana.

Waktu terus berlalu dan dalam masa yang singkat, Pandawa sudah mampu menguasai berbagai ilmu dan pengetahuan yang perlu dikuasai oleh para kesatria. Namun demikian, para Kurawa (saudara sepupu Pandawa) jadi iri hati dan berusaha untuk mencederai kelimanya dengan berbagai cara. Hal itu bahkan dibantu pula oleh paman mereka dari pihak ibu yang bernama Sengkuni. Dia adalah kakak kandung dari Dewi Gandari, seorang yang sangat licik dan menjadi penyebab utama dari meletusnya perang Mahabharata.

Tak butuh waktu lama, maka perselisihan antara Pandawa dan Kurawa kian sengit. Bibit pertikaian semakin subur di antara kedua pihak. Di satu sisi para Pandawa berusaha untuk tetap sabar karena berpegang teguh pada Dharma dan keluhuran budi, tapi disisi lain para Kurawa justru terus memancing emosi dan sering menyakiti atau menyebarkan fitnah keji. Konflik keduanya pun kian memuncak, sehingga memaksa Dewabrata (Bisma) yang menjadi sesepuh kerajaan harus turun tangan. Ia berusaha untuk menasehati dan mendamaikan kedua belah pihak dengan berbagai cara, bahkan sampai harus membuatkan perjanjian. Dengan perjanjian itu kerajaan lalu dibagi dua. Pemerintahan juga dipisahkan, dimana Pandawa memerintah di kota Amarta, sementara Kurawa tetap di Hastinapura.

Di Amarta, para Pandawa bisa membangun peradaban yang damai, makmur dan sejahtera. Hal ini justru membuat para Kurawa menjadi iri kepada mereka. Lalu karena hasutan dari pamannya Sengkuni, mereka berencana merebut kekayaan negeri Pandawa itu tapi tidak harus dengan berperang. Mereka melancarkan tipu muslihat untuk para Pandawa dengan berbagai cara, termasuk membakar istana, beradu ketangkasan atau bermain judi. Hingga kemudian terjadilah permainan judi Dadu di antara para Kurawa dan Pandawa untuk mempertaruhkan barang berharga, tahta kerajaan, bahkan istri mereka sendiri. Sengkuni yang licik ikut bermain di pihak Kurawa dan berhasil mengalahkan Yudistira. Akibatnya, para Pandawa langsung dipermalukan dan harus mengasingkan diri selama 13 tahun. Mereka meninggalkan kerajaan dan pergi ke dalam hutan bersama Drupadi (istri Yudistira) selama 12 tahun. Setelah itu, sisa satu tahunnya harus dijalani dengan cara menyamar sebagai orang lain dan tidak boleh ketahuan oleh pihak Kurawa. Karena jika sampai ketahuan, maka mereka harus mengulangi masa pengasingan itu selama 13 tahun lagi.

Saat masa pengasingan selama 13 tahun selesai, para Pandawa kembali dan meminta Duryudana (anak tertua para Kurawa) untuk mengembalikan kerajaan mereka, tapi ia menolak. Lobi dan diplomasi berulang kali di lakukan, namun Duryudana tetap tidak bergeming sedikitpun. Akibatnya, terjadilah perang yang sangat besar di padang Kurusetra, bahkan terbesar di zamannya. Dalam perang itu, padang Kurusetra menjadi saksi bisu pertempuran bebas yang tak terhitung jumlahnya. Kedua belah pihak saling bunuh dengan garang tanpa belas kasihan. Mereka tidak mempedulikan apapun, yang penting musuh dapat dikalahkan. Di padang itu juga mayat-mayat berserakan dari kalangan kesatria, prajurit, sais kereta, penunggang kuda, penunggang gajah, dan hewan. Bahkan kengeriannya tidak sampai disitu saja, karena pada hari-hari berikutnya, banyak pula terjadi tindakan-tindakan yang biadab dan tidak lagi menunjukkan sikap kesatria. Keperwiraan dan aturan perang yang telah disepakati bersama lalu dilanggar sendiri. Orang-orang semakin buas dan merasa saling mendendam, iri hati, dengki dan penuh kebencian. Bahkan, orang besar pun melakukan kecurangan dan menghalalkan segala cara, dan hal itu menjadi contoh bagi yang lainnya. Semakin hari kebenaran kian hilang, dan yang tersisa hanyalah kejahatan. Sehingga terjadilah kekejaman demi kekejaman yang sangat mengerikan.

mahabharata12

Perlu diketahui bahwa saat itu mereka tidak berperang sendirian. Artinya, setiap kubu yang saling berlawanan ini telah menjalin koalisi dengan kerajaan lainnya. Tercatat ada 275 kerajaan yang ikut bergabung dengan pihak Kurawa, sementara di pihak Pandawa ada 100 kerajaan. Dan pada zaman itu, jumlah dari satu divisi pasukan itu terdiri dari 65.500 pasukan berkuda, 25.500 pasukan gajah, 21.670 kereta kuda, dan 109.350 orang prajurit pejalan kaki (infantri) yang dilengkapi dengan berbagai senjata perang (pedang, panah, tombak, tameng, dll). Sangat banyak jumlah pasukan yang berperang pada saat itu. Karena jika setiap kubu memiliki 10 divisi saja, maka jumlah orang yang terlibat pada saat itu sebanyak ±2.220.200 orang. Jumlah pasukan yang sangat besar, bahkan untuk ukuran zaman sekarang.

Perang besar itu pun terus saja terjadi dan setelah berjuang habis-habisan selama berhari-hari, para Pandawa akhirnya berhasil mengalahkan para Kurawa dan mendapatkan kembali kerajaan warisan keluarga mereka. Kelima Pandawa lalu memerintah kerajaan selama 30 tahun. Selama itu, keadaan negeri menjadi stabil, aman, damai dan makmur dari sebelumnya. Setelah itu, tahta kerajaan diserahkan kepada cucu mereka yang bernama Parikesit (anak Abimanyu bin Arjuna bin Pandu Dewanata bin Wiyasa). Kemudian mereka mengundurkan diri ke hutan untuk meninggalkan urusan duniawi dan mempersiapkan diri dalam mencapai Moksa (pelepasan jiwa).

Demikianlah ringkasan dari kisah Mahabharata. Sebuah epos yang sangat luarbiasa dan kita bisa mengambil ajaran luhur melalui kisah ilustratif yang ada. Dari kisah perjalanan Begawan Wiyasa hingga ke anak cucunya para Pandawa dan Kurawa, kita pun bisa memetik hikmah dalam kehidupan ini. Kita juga bisa mengatakan bahwa kisah Mahabharata merupakan samudera luas dan dalam yang berisikan permata dan mutiara ilmu. Setiap peristiwanya akan menjadi sesuatu yang sangat berharga dan tak terhitung nilainya. Bahkan bisa juga dijadikan sumber etika dan kebudayaan yang tak lekang oleh waktu dan peradaban.

Lalu bagaimana relevansinya dengan keadaan yang kini terjadi di sekitar kita, pada zaman ini?

Tidak begitu sulit untuk mencari kaitan atau relevansi antara kisah Mahabharata dengan apa yang terjadi sekarang ini, khususnya di Nusantara. Karena apapun yang telah diceritakan dalam epos tersebut juga sedang terjadi dimasa sekarang. Di antaranya:

1. Kejahatan Kurawa
Dalam kisah Mahabharata, di gambarkan bahwa pihak Kurawa itu adalah orang yang senang memihak kebatilan, seperti angkuh, serakah, mengumbar nafsu, riya` (pamer dan pamrih), gila jabatan, bersikap kasar dan sewenang-wenang, suka menabrak aturan dan budaya, dan cinta gila pada duniawi. Karena itulah, di zaman ini contohnya tampak sangat banyak dan jelas sekali di sekitar kita. Mereka itu adalah orang-orang yang menuhankan duniawi. Yaitu orang-orang yang menjadikan harta benda, materi, kedudukan, popularitas, dan nafsu syahwat sebagai tujuan akhir dari kehidupannya. Dan sifat seperti ini banyak sekali di sekitar kita sekarang, baik di kota maupun di desa, baik di negara maju ataupun negara yang masih berkembang, bahkan di tempat-tempat umum atau pun di rumah ibadah. Padahal sifat itu hanya akan mendatangkan banyak masalah. Bahkan karena itulah, suatu saat nanti akan menjadi penyebab utama datangnya azab Tuhan di seluruh dunia.

Dalam hal ini, saya juga pernah menyinggungnya pada tulisan sebelumnya, seperti dalam kalimat berikut ini:

“Jaman saiki akeh manungso podho seneng nyalah. Akeh sing lali asale, akeh sing lali kamanunsan, lali kabecikan lan budi pekerti soyo ilang. Akeh sing mung ngutamake dhuwit, akeh wong sing wani nglanggar sumpahe dhewe, akeh janji sing ora ditetepi. Ratu ora adil, akeh pangkat sing jahat lan ganjil. Wong olo kapujo nanging sing agung kasinggung. Iku tondone ukuman Gusti Kang Moho Agung selot-selote teko: Zaman sekarang banyak manusia yang senang berbuat salah. Banyak yang lupa asalnya, banyak yang lupa kemanusiaan, lupa kebajikan dan budi pekerti semakin hilang. Banyak yang hanya mengutamakan uang (harta benda), banyak orang yang berani melanggar sumpahnya sendiri, banyak janji yang tidak ditepati. Pemimpin tidak adil, banyak pejabat yang jahat dan aneh. Orang jahat dipuja-puja tapi yang mulia dilecehkan. Itu tandanya azab Tuhan Yang Maha Agung lambat laun akan tiba”

Ya. Selama masih banyak orang-orang yang berjiwa Kurawa, maka negeri ini tidak akan pernah bangkit dan memimpin dunia. Bangsa ini hanya akan menjadi penonton dan pengekor dalam percaturan dunia. Nusantara hanya akan menjadi negeri yang makmur tapi rakyatnya tetap saja miskin. Tidak pernah merdeka, lantaran masih saja dijajah dalam hal ekonomi, politik, hukum dan ketatanegaraannya. Tidak hanya oleh bangsa lain, tapi juga oleh bangsanya sendiri. Dengan begitu, bisa dipastikan akan ada kehancuran besar di negeri khatulistiwa ini. Dan negara yang kini bernama Indonesia itu hanya akan tinggal sejarah dan jadi kenangan yang sangat memilukan.

2. Kelicikan Sengkuni
Tokoh seperti Sengkuni ini juga sering ada dimana-mana. Dan jika kita perhatikan dengan seksama, maka sosok licik seperti ini banyak yang sudah duduk di dalam stuktur pemerintahan dan dewan yang terhormat (di pusat dan daerah). Bahkan di dalam semua birokrasi dan organisasi kemasyarakatan (partai, LSM, dll) atau keagamaan pun tidak luput darinya. Itu terbukti setelah mereka di lantik atau mendapatkan jabatan dan amanah, bukannya terus mengabdi kepada bangsa dan negara demi kepentingan rakyat, tapi justru hanya untuk kepentingan pribadi dan atau kelompoknya sendiri. Mereka dengan senang hati memanfaatkan jabatan dan kesempatan yang ada itu hanya untuk memenuhi nafsu dan keserakahannya. Dan sama seperti Sengkuni yang licik, banyak sekali pembesar di negeri ini yang rela untuk mengorbankan orang lain atau bahkan kehormatan bangsa dan negaranya demi memenuhi hasrat keinginannya sendiri. Itulah orang-orang yang sama dengan Sengkuni, penyebab utama sebuah bangsa sampai hancur berantakan.

3. Kesatriaan Pandawa
Pihak Pandawa ini melambangkan sikap kesatria, keluhuran budi, kesabaran, tidak terlalu mencintai duniawi dan taat pada Dharma (kebaikan dan kebenaran). Mereka adalah orang-orang yang kini tidak terlalu banyak, bahkan hampir saja tidak ada. Karena menurut saya pribadi, saat ini sosok seperti para Pandawa itu masih dalam “pengasingannya”. Seperti pihak Pandawa yang harus menjalani hidup terasing selama 13 tahun dulu sebelum melakukan gebrakan, maka di zaman ini pun sama. Mereka juga harus “mengasingkan diri” untuk menempa dirinya sebaik mungkin. Dan setelah semuanya dirasa cukup, mereka akan keluar dari “pengasingannya” itu dan menuntut hak mereka atas tanah Nusantara ini. Mereka tidak akan rela jika tanah pertiwi yang dianugerahi Tuhan dengan sangat berlimpah ini dikelola oleh mereka yang berjiwa Kurawa atau Sengkuni. Para “Pandawa” itu akan mengembalikan setiap hak dan kewajiban rakyat, sebagaimana dulu pernah terjadi di tanah Nusantara.

Hal ini sebagaimana yang pernah saya singgung pada tulisan sebelumnya dengan kalimat berikut:

“Wahai kekasihku. Tidak lama lagi akan muncul sekelompok orang yang mampu mengubah tatanan dunia. Mereka ini adalah jiwa-jiwa yang telah mencapai kebebasan. Mereka ini adalah kaum terpilih yang memiliki kekuatan spiritual yang telah sampai pada kebijaksanaan. Mereka adalah para pemimpin alami umat manusia, karena apapun tindakan yang ia lakukan, maka persatuannya dengan Tuhan yang konstan tetap tak tergoyahkan”

“Mbesuk yen wis teko ratu Ageng sing duwe pengaruh lan prajurit gede, negorone ambane separo buwono. Sopo sing angkoro murko uripe ngrantes lan kepencil. Iku tondone jaman Aryawira wis teko: Nanti jika sudah datang pemimpin mulia yang sangat berpengaruh dan punya prajurit besar/banyak, negaranya seluas setengah dunia. Siapa yang jahat akan hidup merana dan tersisih. Itulah tandanya zaman Aryawari (kejayaan Nusantara) telah datang”

Dua kalimat di atas memiliki maksud bahwa di tanah Nusantara ini akan muncul sosok “para Pandawa” yang akan menegakkan keadilan. Saat ini mereka masih tersembunyi namun bukan karena takut atau lemah dan bodoh. Mereka itu adalah orang-orang pilihan yang kini memang harus tetap tersembunyi dan tidak pernah tampil ke hadapan publik, apalagi memangku jabatan atau terkenal. Semua itu tentu ada maksud dan tujuannya sendiri. Dan akan ada waktunya dimana mereka itu tiba-tiba muncul dengan segala gebrakan yang luarbiasa, bahkan jika perlu harus berperang, karena memang semua pasukannya yang besar sudah siap untuk berperang. Pada saat itu mereka memang sedang menuntut haknya atas kepemimpinan di negeri ini. Dan memang sudah waktunya pula negeri ini ditata dan di kelola kembali dengan benar. Dengan begitu, kejayaan Nusantara bisa kembali terwujud, sebagaimana dulu pernah memimpin dan menjadi pusat peradaban dunia.

“Dunia kini membutuhkan sosok kesatria yang tangguh, yang memahami seluk beluk kehidupan di masa lalu dan masa depan. Ia haruslah pribadi yang berkemampuan khusus dan tidak pernah ikut-ikutan dalam rusaknya peradaban dunia kini. Tujuan hidupnya adalah mematuhi perintah Tuhannya. Sementara perjuangannya adalah menegakkan hukum-Nya dan mendirikan pusat peradaban dunia yang baru”

Ya. Harus muncul sosok seperti “para Pandawa” yang memimpin negeri ini. Tidak bisa seperti sekarang, yang pemimpinnya justru sengaja dimunculkan atau dibuat oleh partai politik atau konglomerat dan koruptor, dengan paket pencitraannya. Rakyat pun akhirnya gigit jari, karena ternyata hanya dijadikan sebagai alat untuk meraih kekuasaan dan pihak yang tertipu oleh rayuan manis. Bahkan tokoh pemimpin yang sebelumnya dianggap sebagai orang hebat atau merakyat itu, sesungguhnya hanyalah sebagai pion dalam percaturan keserakahan. Akibatnya negara semakin terpuruk, kehidupan sosial bertambah rusak, ekonomi, politik, hukum dan ketatanegaraan menjadi morat marit, dan jati diri bangsa juga terus dilecehkan oleh bangsa lain.

4. Perang besar
Sekarang ini, hampir dimana saja – terutama di Timur Tengah dan Afrika – telah terjadi pertempuran yang penyebabnya sendiri tidak begitu jelas, bahkan tidak penting. Semua itu terjadi karena banyak orang yang menjalani kehidupan ini seperti pihak Kurawa yang senang dengan kebatilan. Keserakahan, amarah dan senang mengumbar nafsu syahwat menjadi tujuan hidup. Akibatnya, banyak orang yang tidak lagi bersikap selayaknya manusia atau tak peduli dengan kemanusiaan. Mereka juga lupa bahwa kehidupan dunia ini bersifat sementara, dimana setiap orang itu harus terus berbuat kebajikan untuk bekal akheratnya nanti. Bahkan meskipun perang Dunia ke-1 dan 2 pernah terjadi hingga merusak segala yang ada di dunia, itu juga tidak pernah mereka jadikan pelajaran yang sangat berharga dalam hidup ini. Tetap saja banyak yang senang bertikai dan membunuh – bahkan warganya sendiri seperti di Suriah. Padahal tak ada untungnya dari perang itu, selain penderitaan dan kehancuran belaka.

Tentang hal ini, saya juga pernah menyinggungnya dalam tulisan lainnya dengan kalimat:

“Mbesuk yen ono peperangan teko soko wetan, kulon, kidul lan lor, akeh wong apik soyo sengsoro nanging sing jahat soyo makmur. Durjana soyo ndadi lan akeh wong mati jalaran poro pangkat akeh sing kesasar lan salah paham. Iku tondone selot-selote jaman Durganala wis teko: Kelak jika terjadi peperangan yang datang dari timur, barat, selatan dan utara, maka banyak orang baik yang makin sengsara tapi yang jahat makin senang. Kejahilan makin merajalela dan banyak orang mati di karenakan para pembesar banyak yang tersesat dan salah paham. Itulah tandanya lambat laun zaman Durganala sudah tiba”

Jadi, perang besar yang menjadi puncak masalah dalam kisah Mahabharata itu adalah gambaran hidup yang terus saja terulang di setiap zamannya. Kesedihannya akan terasa abadi, karena perang itu sendiri tidak lagi mengindahkan rasa cinta dan kemanusiaan. Orang-orang akan terlarut dalam amarah, kebencian dan dendam kesumat. Mereka bahkan tidak lagi peduli dengan kerabat atau saudara sebangsa dan setanah air. Yang penting perang, dan bisa menghancurkan musuhnya meski harus membantai rakyatnya sendiri. Mereka beralasan bahwa itu harus dilakukan demi kemenangan dan keamanan negara. Padahal saat itu di laksanakan, maka yang muncul justru tragedi dan penderitaan yang berlimpah. Bahkan itu pun tidak hanya sampai disitu saja, karena bagi rakyat yang menjadi korban perang, maka sebagiannya juga harus berjuang dan mempertaruhkan nyawa untuk menyeberangi lautan sebagai imigran. Seperti yang terjadi sekarang ini di seputaran Laut Mediterania. Sebuah kenyataan dari sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan.

5. Kemakmuran
Setelah para Pandawa berhasil mengalahkan pihak Kurawa, barulah kehidupan di Hastinapura dan Amarta kembali normal, bahkan lebih aman dan makmur dari sebelumnya. Begitu pula dengan Nusantara ini. Mau tidak mau, maka hal seperti itu juga akan benar-benar terjadi setelah kemunculan “para Pandawa” dari tempat persembunyian atau pengasingannya. Memang tidak ada yang tahu secara pasti dimana tempat mereka bersembunyi saat ini – kecuali bagi mereka yang sudah diberi tahu oleh “para Pandawa” itu, karena namanya juga rahasia. Namun yang jelas, bila sudah tiba waktunya nanti, golongan ini akan muncul dan segera menegakkan tatanan kehidupan dunia baru. Mereka akan memerangi “para Kurawa” di negeri ini dan kembali menerapkan apa yang sudah hilang di dalam kehidupan bangsa ini. Mengembalikan apa saja yang dulu pernah menjadi ciri khas dan prinsip dasar bangsa Nusantara dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegaranya. Karena tanpa hal itu, bangsa ini akan sulit bangkit dan terus menjadi jongos atau budaknya bangsa lain. Dan Anda tak perlu cemas tentang prinsip Demokrasi atau HAM, karena sesungguhnya bangsa Nusantara dulu adalah pencetus dari kedua prinsip itu. Yang kemudian diikuti oleh bangsa-bangsa besar di dunia, tapi sayang kini sudah tidak lagi murni.

“Berabad-abad kegelapan telah memayungi dunia ini. Tapi sebentar lagi cahaya kebenaran akan menyingkirkannya. Pada saat itu akan dimulailah perang yang sangat besar dan belum pernah terjadi, tapi di akhiri dengan satu kedamaian dan kebangkitan bangsa yang baru”

Jadi, dari lima hal di atas saja kita sudah bisa melihat bahwa apa saja yang ada di dalam epos Mahabharata masih sangat relevan dengan kondisi yang ada sekarang. Bahkan menurut saya, apa saja yang pernah terjadi di masa kisah Mahabharata akan selalu terjadi di setiap zamannya. Seperti roda pedati yang akan selalu berputar, maka kisah hidup yang ada di dalam epos Mahabharata akan terus terulang kembali. Dan sayangnya, kita sekarang ini sedang berada pada masa seperti saat menjelang pertempuran besar antara para Pandawa dan Kurawa itu terjadi. Bahkan tanda-tandanya sudah semakin jelas terlihat dan bisa dirasakan langsung oleh siapapun yang terbuka mata hatinya. Tinggal menunggu saja, kapan perang besar itu akan benar-benar terjadi di tanah Nusantara ini.

“Wahai saudaraku. Ada yang harus kau lihat dengan matamu, dan ada pula yang harus kau lihat dengan hatimu. Keduanya harus tetap terjadi. Tapi sekarang ini, tidak banyak lagi orang yang bisa melihat dengan hatinya. Itu terjadi karena mata hatinya sudah tertutupi oleh nafsu dan angkara murka saja”

*****

Wahai saudaraku. Tanpa disadari banyak orang, nanti akan bangkit satu tatanan negara yang paripurna, yang dibawa oleh “para Pandawa”. Sesungguhnya itu tidak baru, hanya saja kembali menerapkan apa yang pernah ada di bumi Nusantara ini. Sedikit pun ia (“para Pandawa”) tidak mau ikut-ikutan dengan sistem ketatanegaraan yang di tuhankan oleh negara-negara di dunia kini. Dan semuanya menjadi hal yang berbeda luar dalam. Karena apa yang bangkit itu adalah kejayaan dan kegemilangan seperti di masa lalu. Masa dimana bangsa Nusantara pernah memimpin dan menjadi pusat dari peradaban dunia.

“Dunia kini memerlukan pahlawan yang dapat di percaya. Sosok tangguh yang menguasai berbagai ilmu dan berjuang hanya demi keadilan. Ia bisa memberikan semangat dan tidak pernah tertarik dengan jabatan atau kekayaan. Dia selalu bersikap zuhud dan hidup dalam keimanan yang benar. Perjuangannya selalu dalam petunjuk Tuhan, sementara tujuan hidupnya bukanlah dunia ini, tetapi akherat yang abadi”

Untuk itu saudaraku. Pergantian zaman akan segera terjadi, karena dunia kini terasa makin hambar. Kebersihan peradaban akan datang, saat kehendak Tuhan lagi bekerja. Kepastiannya telah turun bagai wahyu yang takkan pernah bisa dilawan. Ia akan membongkar gunung-gunung kebatilan, dan segera membangkitkan kebenaran yang telah lama hilang. Saat itulah kejahatan telah surut, bagai dingin yang terusir panas api kebaikan.

Jogjakarta 12 September 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

Referensi:
* Buku: Atlas Tokoh-tokoh Wayang, karya Rizem Aidi. Penerbit DIVA Press, 2012.
* Buku: Mahabharata, karya C. Rajagopalachari. Penerbit IRCiSoD, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s