Mitologi dan Agama: Tentang Ajaran Moksa

Posted on Updated on

moksaWahai saudaraku. Sesungguhnya mitologi (kisah masa lalu) itu adalah bagian dari integral agama. Mitologi adalah bagian yang mendasar bagi suatu agama dan kebudayaan yang besar. Sehingga mitologi menjadi sesuatu yang sangat penting untuk diketahui. Karena kita tidak akan dapat menyarikan agama dengan sendirinya tanpa mitologi. Setiap pemahaman membutuhkan penjelasan yang luas, dan salah satunya dengan mempelajari mitologi yang berkembang di dalam kehidupan masyarakat (tradisi, seni dan budaya).

Salah satu dari mitologi agama itu adalah adanya ajaran tentang moksa. Tapi banyak yang tidak tahu atau bahkan menyangkal tentang fenomena ini. Dan khususnya bagi mereka yang hidup di zaman ini, maka sebagian dari mereka menolak dengan mengatakan itu hanyalah cerita dongeng dan mitos belaka, tidak pernah benar-benar terjadi. Begitu pun sebagiannya lagi – dari kalangan fanatik agama – justru mengatakan bahwa moksa itu adalah sesat dan menyesatkan.

Dari persoalan di atas, maka dalam tulisan ini saya akan mencoba meluruskan kesalahpahaman itu. Saya tidak akan menyalahkan mereka yang menolak fenomena moksa ini, karena saya pun menyadari itu semua bisa terjadi lantaran keterbatasan pengetahuan mereka dan kurangnya literatur yang menjelaskan tentang fenomena luarbiasa ini. Terlebih moksa sendiri bukanlah hal yang mudah untuk dipahami atau di praktekkan, bahkan oleh mereka yang pintar.

Perlu diketahui bahwa kata “moksa” berasal dari bahasa Sanskerta yang memiliki makna pelepasan jiwa. Selain itu dalam tradisi Jawa kata moksa juga bisa diartikan sebagai pencarian, pembebasan atau juga perpindahan diri seseorang dari satu tempat ke tempat lainnya. Yang dimaksudkan dengan perpindahan disini adalah perpindahan di dalam dimensi ruang dan waktunya. Jika sebelumnya seseorang berada dan hidup pada dimensi nyata (di muka Bumi), maka moksa ini berarti ia sudah berpindah tempat ke dimensi lainnya. Ini terjadi tidak hanya sukma/ruhaninya saja, tetapi jasadnya pun mengikuti. Artinya, orang yang moksa adalah mereka yang sudah berpindah tempat tinggal, baik jasad maupun ruhaninya, dari alam nyata duniawi ke alam gaib (dimensi lain). Tetapi disini mereka tidak bisa disamakan dengan wafat. Karena wafatnya seseorang merupakan satu fenomena yang lain lagi.

Lalu mengapa seseorang melakukan moksa?

Jawaban dari pertanyaan ini adalah bahwa saat seseorang sudah menguasai ilmu (kesaktian) tingkat tinggi, maka pada akhirnya ia harus menyatu dengan alam semesta. Artinya, memang sudah menjadi ketentuannya bahwa bila seseorang sudah mencapai derajat keilmuan yang tinggi, maka ia sebaiknya moksa. Tapi disini tetaplah hanya atas dasar keinginan sendiri, tidak bisa dipaksakan, karena sesuatu yang dipaksa atau terpaksa tidak akan membuahkan hasil yang baik bagi siapapun. Karena justru bisa mencelakakan dirinya saja.

Lantas bagaimana moksa itu bisa terjadi pada seseorang?

Moksa ini bukanlah hal yang sepele dan mudah untuk di praktekkan oleh semua orang. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi dan konsekuensi yang sangat mengikat kepada seseorang bila ia memutuskan untuk moksa. Tidak sembarang orang bisa memenuhi syarat dan bisa pula melakukannya, ibarat seorang murid, maka ia harus melalui jenjang pendidikan yang ada dulu; TK, SD, SMP, SMU, dan Universitas. Tidak bisa tiba-tiba langsung ingin moksa.

Tujuan utama dari menguasai ilmu di setiap tingkatan itu adalah untuk bisa melatih kekuatan dan mengembangkan kemampuan diri seseorang. Karena ia haruslah kuat dan mampu secara jasmani maupun ruhani di dalam menghadapi segala tantangan yang lebih berat di masa yang akan datang. Dengan berlatih jurus beladiri misalnya, maka seseorang sesungguhnya juga sedang melatih konsentrasi dan kepekaan batinnya. Dan ini sangat dibutuhkan pada saat ia ingin menaikkan tingkat keilmuannya. Bahkan termasuk hal yang paling utama untuk bisa moksa.

Untuk itulah, karena pentingnya arti dari moksa ini, maka di dalam ajaran Hindu – khususnya di tanah Jawa dan Bali – bahkan menjadi tahapan terakhir yang sebaiknya dilalui oleh seseorang dalam hidupnya, yang lain bahkan mengatakan wajib. Namun tentunya dengan melalui beberapa tahapan dengan lancar dan sukses. Adapun di antara tahapan itu sebagai berikut:

1. Brahmacharya (tahap seseorang yang sedang mencari ilmu)
Tahap ini merupakan satu tingkatan masa hidup untuk mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan dengan cara berguru. Disini tentu berkaitan erat pula dengan mendidik diri untuk bisa mencapai kesempurnaan pribadi. Jadi pada tahapan ini artinya setiap orang itu harus menuntut ilmu demi kehidupan yang lebih baik, mulai dari ilmu yang bersifat jasmani (ilmiah, sastra, bela diri, dll) hingga yang terkait dengan urusan ruhaninya.

2. Grahastha (tahap seseorang yang membangun rumah tangga)
Tahap ini adalah tingkat hidup pada masa berumah tangga. Grahastha berasal dari kata “graha” yang berarti rumah tangga dan “stha” yang berarti berdiri atau membina. Jadi Grahastha dapat diartikan sebagai masa membina rumah tangga. Pada masa Grahastha ini, maka yang menjadi prioritas tujuan hidup adalah mencari harta benda dan memenuhi kebutuhan hidup – termasuk menghasilkan keturunan, yang tentunya berdasarkan kebenaran. Sementara kewajiban yang harus ditunaikan pada masa ini adalah dengan bekerja mencari nafkah secara halal, menjadi pemimpin keluarga dan anggota keluarga yang bertanggungjawab, serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan penuh kebersamaan.

Untuk itulah, disini berarti setiap orang itu – khususnya laki-laki – haruslah punya pekerjaan yang mapan dan penghasilan yang cukup sebelum ia membina rumah tangga. Karena hal itu menjadi salah satu yang utama demi keharmonisan hidupnya nanti. Dan semuanya itu bisa terwujud hanya jika sebelumnya ia sudah membekali dirinya dengan banyak ilmu pengetahuan melalui belajar kepada seorang guru atau di sekolah.

3. Wanaprastha (tahap seseorang yang menjadi pertapa atau telah meninggalkan kesibukan duniawi)
Tahap ini adalah tingkatan hidup manusia pada masa persiapan untuk melepaskan diri dari ikatan keduniawian. Wanaprastha berarti mengasingkan diri ke suatu tempat (hutan, gunung, lembah) yang jauh dari keramaian kota. Jadi, disini berarti seseorang tidak lagi berurusan dengan pangkat, jabatan dan harta benda duniawi. Jika sebelumnya ia punya jabatan, kedudukan atau harta benda yang berlimpah, maka di tingkatan ini semuanya itu sudah ia tinggalkan. Ia hanya fokus pada hal-hal yang bersifat kemanusiaan dan keTuhanan saja. Dan pada masa ini seseorang juga mulai secara bertahap melepaskan diri dari belenggu duniawi dan lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Karena tujuan hidup pada masa ini adalah persiapan mental dan fisik untuk bisa moksa. Untuk itulah, di tingkatan ini biasanya seseorang akan disebut dengan Rsi/Resi.

4. Sanyasin atau Biksuka (tahap seseorang yang telah mencapai kesempurnaan hidup hingga pada akhirnya moksa)
Tahap terakhir ini berada di atas tahap Wanaprastha, karena seseorang sudah tidak lagi berurusan dengan keduniawian. Ia hanya berfokus pada urusan yang berkaitan dengan alam tinggi (keTuhanan) saja. Namun jika ada urusan duniawi yang ia kerjakan, itu karena ia memang harus sedikit terlibat demi kemaslahatan orang banyak. Pada masa ini seseorang merasa sudah tidak memiliki apa-apa dan tidak terikat sama sekali dengan materi. Ia juga selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena itulah, di tingkatan ini biasanya seseorang akan disebut dengan Siddharesi, Maharesi atau Brahmaresi.

Wahai saudaraku. Ke empat tingkatan di atas itu disebut Catur Asrama. Semuanya itu dahulu dipegang erat dan di tanamkan di dalam sanubari orang-orang yang hidup di tanah Jawa, Sumatera, Bali dan Kalimantan. Satu persatu berusaha mereka terapkan dalam kehidupannya sehari-hari, hingga pada akhirnya bisa menimbulkan banyak kebaikan dan kegemilangan. Mereka bahkan mampu mencapai peradaban yang sangat tinggi, yang bahkan tidak bisa dicapai oleh banyak bangsa besar di dunia.

Jadi, tingkatan ilmu (atau kesaktian) yang ada itu semuanya hanya untuk bisa meningkatkan daya kemampuan diri yang bersangkutan. Dan setelah seseorang bisa melalui tahapan-tahapannya dengan benar dan sukses, maka ia baru bisa melakukan moksa. Karena hanya dengan begitulah ia baru akan mampu memenuhi syarat dan menunaikan tata cara moksa yang sungguhlah tidak mudah. Ia harus membekali dirinya terlebih dulu dengan berbagai ilmu dasar di dalam moksa, yaitu ilmu-ilmu lahir dan batin yang ditunaikan secara teratur dan disiplin.

Oleh sebab itu, di masa lalu di tanah Jawa terdapat satu ajaran (agama) yang disebut Saiwasiddhanta. Agama ini asli dari Jawa dan menitikberatkan tentang pengetahuan spiritual yang tinggi, yaitu cara-cara untuk bisa moksa (kelepasan jiwa) melalui semedhi (meditasi). Lalu untuk bisa mencapai hal tersebut, maka seorang harus membekali dirinya dengan pengetahuan tentang Dzat (kenyataan) Tertinggi serta tentang bagaimana bisa menemukan-Nya. Dan bagi ajaran Saiwasiddhanta, maka Dzat Tertinggi tersebut mempunyai tiga tattwa (hakikat). Yaitu:

1. Siwatattwa
Tattwa (hakikat) yang pertama ini bersifat Niskala (tidak berwujud) yang disebut Paramasiwa atau Parameswara.

2. Sadasiwatattwa
Tattwa (hakikat) yang kedua ini bersifat Sakala Niskala (berwujud-tak berwujud).

3. Sakalatattwa
Tattwa (hakikat) yang ketiga ini bersifat Sakala (berwujud) yang berhubungan langsung dengan peristiwa alam, yaitu penciptaan alam (diwujudkan sebagai Brahma), penjagaan dan pengaturan alam, (yang diwujudkan dengan Wisnu) serta penghancuran alam (diwujudkan sebagai Iswara). Ketiga wujud ini lalu dikenal dengan istilah Trimaya atau Trimurti pada masa sekarang.

Jadi, orang Jawa di masa lalu tidak pernah menyembah selain kepada Tuhan Yang Maha Agung. Meskipun ia adalah seorang Dewa, Bhatara atau Sang Hyang sekalipun, semua itu tetaplah mereka anggap sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dan tentunya tidak layak untuk disembah sebagaimana Dzat Yang Maha Kuasa sendiri. Tuhan-lah yang orang Jawa yakini dan mereka sembah, yang telah mereka pahami sebagaimana yang terdapat dalam ajaran agama Saiwasiddhanta di atas. Karena itulah, ketika ajaran Hindu, Buddha, Nasrani, Konghucu dan Islam masuk ke tanah Jawa, maka tidak serta merta di tolak. Itu bisa terjadi karena pada prinsipnya, agama-agama yang datang dari India, China dan Timur Tengah itu memiliki beberapa kesamaan, terutama tentang pengakuan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Pencipta. Namun sayang, karena ajaran asli orang Jawa sudah terkontaminasi oleh ajaran agama yang datang kemudian itu, maka selanjutnya banyak dari orang Jawa justru terjebak dalam penyembahan hanya kepada para dewa, bhatara dan sang hyang, bukannya tetap hanya menyembah Dzat Tuhan Yang Maha Tinggi. Sebab hanya dengan cara itu saja kebenaran tauhid mereka bisa tetap terjaga dengan murni dan kebangkitan spiritual bangsa akan tetap terwujud secara sempurna.

Karena itulah, untuk bisa moksa maka seseorang harus membekali dirinya dulu dengan pengetahuan suci tentang Dzat Yang Tertinggi yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa dan berbagai tata cara ritual yang kongkrit mengenai moksa. Ini berkaitan erat dengan aspek yang mempermasalahkan sikap tubuh, menampakkan diri pada kata kunci sila (aturan dasar), dan perilaku batin yang tulus ikhlas. Dan untuk bisa moksa, maka tiada pilihan lain bagi seseorang kecuali ia harus melatih dirinya dengan banyak meditasi dan olah batin lainnya. Jadi, sebelum seseorang bisa moksa, maka ia harus menguasai berbagai ilmu yang dimulai dari tingkat Kanuragan hingga ke tingkat Kasapuhan, atau lebih baiknya lagi sampai di tingkatan Kasampurnan. [Silahkan baca: Ilmu Kesempurnaan Diri]

Selain itu, ada satu cara yang juga merupakan satu di antara cara dalam menempa diri. Cara itu disebut dengan membersihkan aliran Chakra dengan membangkitkan Kundalini. Lalu apa itu kundalini? Kundalini berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti lingkaran atau gulungan. Kundalini adalah suatu kekuatan yang luar biasa yang dimiliki setiap orang yang letaknya di perineum; yaitu di antara anus dan kemaluan. Dalam keadaan tertidur, kundalini berbentuk sebuah gulungan tiga setengah lingkaran dibawah tulang ekor. Saat bangkit, maka kundalini akan merambat ke atas melalui tulang ekor dan tulang punggung untuk mencapai puncak kepala (mahkota).

simbol kundalini

Saat merambat ke atas, kundalini akan melakukan pembersihan-pembersihan dari seluruh hambatan dan karma – yaitu akibat dari setiap interaksi dalam bentuk perbuatan ataupun pemikiran – termasuk yang berasal dari kehidupan di masa lalu. Apabila kundalini mencapai sebuah pusat energi eterik (chakra), chakra tersebut akan terbuka, dan kemampuan psikis dari chakra tersebut mulai aktif. Proses kebangkitan kundalini ini bisa dikatakan sempurna setelah kundalini dapat membuka chakra mahkota. Sehingga jika ini bisa diteruskan, maka yang bersangkutan dapat mencapai pencerahan.
.

chakra manusia

Wahai saudaraku. Perlu diketahui bahwa Chakra berasal dari kata Sanskerta untuk “roda” atau “berpaling”. Dalam beberapa tradisi dan sistem kepercayaan lainnya, chakra ini merupakan pusat Prana atau akar kehidupan atau kekuatan hidup atau energi vital. Chakra akan sesuai dengan titik-titik penting dalam tubuh fisik yaitu pleksus utama arteri, vena, dan saraf. Karena itulah, membersihkan aliran chakra dan mengaktifkannya menjadi hal yang penting bagi kehidupan seseorang, khususnya demi kesehatan dan kekuatannya.

Jadi, pada saat seseorang membangkitkan kundalini-nya, itu artinya ia juga telah membuka satu persatu “pintu” chakra yang terdapat di dalam dirinya. Dengan bangkitnya kundalini, maka energi dari kundalini akan dapat dipergunakan untuk membersihkan jalur energi dan chakra-chakra secara menyeluruh. Dengan pembersihan yang maksimal pada jalur energi dan chakra-chakra, maka tubuh seseorang akan menjadi lebih bersih (sehat jasmani dan rohani), emosinya akan lebih terkontrol, kesadarannya akan terus meningkat dan hubungan kepada Tuhan akan jauh lebih baik (khusyuk).

Namun, pada saat inti kundalini mencapai chakra mahkota, energi inti yang naik masih kecil sekali sehingga energi kundalini yang dapat digunakan masih lemah. Meskipun energi kundalini yang dapat dipergunakan masih lemah, namun dapat membantu sedikit menyempurnakan kemampuan supranatural bagi orang-orang yang sudah mempunyai kemampuan tersebut. Bagi yang belum mempunyai kemampuan tersebut, ia harus melatihnya jika mempunyai keinginan untuk memilikinya. Dan kemampuan kewaskitaan (mata ketiga/mata batin) tidak tergantung dari kundalini, tetapi berasal dari latihan atau kekuatan batin sendiri.

Untuk itu, kemampuan dalam supranatural bermacam-macam dan harus dilatih satu persatu dengan objek meditasi yang berbeda sesuai dengan kemampuan supranatural yang di inginkan (terbang di udara, jalan di atas air, masuk ke bumi, hidup di dalam air, mengubah wujud, kemampuan mencipta, telepati, dll). Hanya saja jika kundalini seseorang sudah pada tingkat sempurna, maka pelatihan untuk kemampuan supranatural apa saja akan menjadi sangat mudah.

Perlu diketahui juga bahwa pada saat energi kundalini sudah selebar tubuh seseorang, barulah seluruh bibit kemampuan supranatural akan bangkit dengan sempurna. Dan untuk melatih sampai ke tahap sempurnanya kundalini, memerlukan waktu yang lama dan amat tergantung dari bakat dan latihan seseorang. Pelatihan kundalini harus diarahkan ke spiritual atau pencarian Tuhan, tidak kepada tujuan untuk mengembangkan kekuatan supranatural, karena akan jadi berbahaya. Sekali seseorang yang mempunyai kekuatan supranatural berbuat jahat, maka ia sangat mudah untuk lebih banyak berbuat jahat lagi. Sehingga pada dasarnya pencapaian dalam kesempurnaan kundalini itu bukanlah pencerahan, tetapi baru pencapaian duniawi yang tertinggi dan harus dilanjutkan kepada pencapaian yang ada di luar duniawi atau sebuah pencerahan. Siapapun yang belum mencapai tingkat pencapaian luar duniawi (pencerahan), maka ia masih mempunyai ego. Jadi tidak benar bahwa jika inti kundalini seseorang sudah mencapai cakra mahkota maka ia pun telah mencapai pencerahan, karena itu bahkan masih awalnya saja.

Ya. Di India banyak orang yang meninggalkan kehidupan normalnya dan mengkhususkan diri dalam kehidupan spiritual. Mereka berusaha membangkitkan kundalini dengan melakukan berbagai latihan yang sungguh-sungguh. Orang-orang ini melakukan latihan-latihan teratur – salah satunya dengan meditasi – dalam waktu yang cukup panjang sampai puluhan tahun. Namun yang berhasil amatlah sedikit lantaran tujuan mereka hanya untuk kesaktian saja dan bukan mencapai Tuhan. Sehingga, orang-orang pada masa kini banyak yang menganggap bahwa kundalini pada masa silam itu hanyalah semacam legenda. Tetapi zaman pun telah berubah, dan nanti, di zaman yang baru, maka kebangkitan kundalini ini akan dapat dicapai kembali, bahkan dengan cara yang lebih mudah.

Apakah mungkin itu bisa terjadi?

Tidak ada yang tidak mungkin dalam hal ini. Hanya saja memang sangat tidak mudah untuk melakukannya, apalagi oleh orang-orang di zaman sekarang (saat penjelasan ini di tulis) yang sangat gandrung dengan kenikmatan semu duniawi. Sebagai contoh, untuk bisa moksa maka orang-orang di zaman dulu haruslah terbiasa dengan yang namanya olah raga dan olah batin. Artinya, dalam kehidupan sehari-hari, mereka itu sudah terbiasa dalam urusan tirakat (mengurangi makan, minum, dan tidur), berpuasa, bahkan bertapa brata (tidak makan, minum dan bergerak/mematung) dalam waktu tertentu. Dan ini tidak dalam waktu setahun atau dua tahun saja, karena dulu banyak orang yang pernah melakukannya selama puluhan atau ratusan tahun. Bahkan ada pula di antara mereka ini yang bertapa brata selama ribuan, jutaan bahkan milyaran tahun. Mereka inilah yang sekarang di kenal dengan para Resi, Sang Hyang, Bhatara, Dewa, Dewi, yang karena lamanya pertapaan itulah mereka bisa memiliki kesaktian yang sangat luarbiasa. Lalu dengan kemampuan yang luarbiasa itu, maka tidak perlu heran bila nenek moyang bangsa Nusantara itu dulunya pernah membangun peradaban yang besar, salah satunya yang dikenal kini dengan bangsa Atlantis itu. Bahkan oleh sebab kesaktian yang luarbiasa itu, maka nenek moyang bangsa Nusantara pada akhirnya justru di sembah-sembah oleh banyak manusia – khususnya bangsa di belahan bumi lainnya (Yunani, Norwegia, India, Mesir, Persia, China, Amerika, dll) – layaknya Tuhan sendiri. [Silahkan baca: Ajaran Luhur Budhi Dharma Nusantara atau Negeri Arya Nuswantara]

Selain itu, cara dalam bertapa brata ini pun bermacam-macam. Ada yang dengan posisi duduk bersila, berdiri, berdiri kaki satu, berbaring, menggelantung (kaki di atas sementara kepala di bawah), atau bagi yang sudah sakti mandraguna bahkan ia bisa mengapung di laut atau mengambang di udara. Tempatnya juga beraneka macam. Ada yang di gunung, di hutan, di dalam goa, di dekat air terjun, di dalam air (menyelam di sungai, danau atau lautan) dan di dalam tanah (di kubur hidup-hidup). Semua itu di lakukan untuk terus mengasah kemampuan diri dan mencapai satu tujuan tertentu.

orang-meditasi
Perlu saya jelaskan sedikit tentang tapa brata (semedhi). Ini adalah satu tindakan dari seseorang dalam menghilangkan kebiasaan dirinya sehari-hari. Jika biasanya ia akan makan, minum dan beraktifitas secara normal, maka pada saat bertapa brata ia tidak lagi melakukan itu semua. Ia hanya akan berdiam diri di satu tempat, tidak makan dan minum, bahkan tidak bergerak sama sekali dalam waktu tertentu. Bagaimana itu bisa dilakukan? Tentu saja sebelumnya ia sudah melatih dirinya – salah satunya berpuasa dan meditasi – dalam waktu yang tidak singkat. Dan tentang bagaimana tubuhnya bisa bertahan tanpa ada makan dan minum? Maka itu bisa saja terjadi karena memang sebelumnya ia sudah melatih fisiknya untuk bisa menyerap energi yang terdapat di alam untuk bisa masuk ke dalam tubuhnya dan menjadi kekuatan (daya hidup). Disini tentunya ada teknik khusus dan kunci rahasianya. [Silahkan baca: Kebaktian Kepada Tuhan: Awal Kebangkitan Nusantara]

Selain itu, pada saat semedhi dengan benar, maka suatu saat seseorang akan merasakan seolah badannya tidak bernapas dan indera perasa tidak merasakan sesuatu apapun, namun ia sadar bahwa dirinya tetaplah hidup. Pada tahap ini kadang terdengar suara-suara (gaib) yang terasa asing dan aneh. Suara-suara tersebut berasal dari dimensi lain. Itu terjadi karena kesadarannya telah berada di ambang batas antara dunia nyata dengan dunia gaib. Suara-suara tersebut bukanlah sengaja mengganggu, karena justru menunjukkan bila dirinya sudah mulai berhasil mengubah dirinya menjadi “radio transistor”. Bahkan jika lebih khusyuk lagi, maka ia bisa juga melihat sosok-sosok yang berada pada dimensi lainnya – yang selama ini tidak bisa dilihat dengan kasat mata – dan juga bisa berkomunikasi dengan mereka. Nah, pada tahap ini terkadang ia bisa menangkap petunjuk-petunjuk yang berasal dari para leluhur (orang yang telah moksa).

Baiklah. Tapi ada satu pertanyaan terkait penjelasan di atas. Bagaimana bisa seseorang itu hidup dalam waktu ratusan, ribuan, jutaan bahkan milyaran tahun?

Ini memang terkesan mengada-ada dan tidak masuk akal. Terlebih jika dikaitkan dengan logika, maka sangat bertentangan dengan disiplin ilmiah pada umumnya. Tapi sadarilah, masih banyak hal yang belum bisa dijelaskan oleh ilmiah, bahkan tidak akan bisa dijelaskan olehnya. Ilmiah memiliki banyak keterbatasan untuk bisa menjelaskan berbagai fenomena yang terjadi di seputaran hidup kita – sejak dahulu kala. Karena ilmu Tuhan itu sangatlah luas, baik sifat ataupun cakupannya. Manusianya saja yang senang mengkotak-kotakkan dan membatasinya berdasarkan apa yang mereka anggap benar. Padahal ilmu Tuhan itu tidak bisa dibatasi, karena ia tidak pernah terbatas.

Jadi, dalam hal ini maka tidak ada yang aneh dengan waktu ratusan bahkan milyaran tahun. Itu semua terjadi karena memang bagi siapa saja yang bertapa brata – dengan cara yang benar – maka umurnya akan bertambah panjang dengan sendirinya, atau lebih tepatnya jadi terhenti. Dan jika ia terus melanjutkan pertapaannya itu, maka umurnya akan terus mengikutinya atau bisa pula dikatakan berhenti (tidak berkurang). Ia tidak akan mati sebelum ia bisa menyelesaikan pertapaannya (mati di tengah jalan). Kecuali memang ada faktor-faktor lainnya yang merupakan bagian dari sesuatu yang ia langgar dalam pertapaannya itu. Misalnya, selama bertapa, maka pada saat ia dalam keheningannya itu, sukma-nya melakukan pengembaraan ke dimensi lain dan bertemu dengan sosok-sosok gaib yang ada disana. Lalu dengan sosok-sosok tersebut ia pun berseteru dengan sengit sehingga menyebabkan dirinya terluka parah dan akhirnya tewas. Nah dalam hal ini, maka karena sukma-nya sudah “terluka dan tewas”, maka dirinya (jasad) yang ada di alam nyata duniawi pun akan mengalami suatu kegawatan, bahkan bisa ikutan tewas. Sehingga pertapaan yang sedang dikerjakan pun menjadi gagal total, karena yang bersangkutan telah tewas ketika dalam pengembaraannya di alam gaib.

Selain itu, bahkan beberapa di antaranya ada yang ketika melakukan tapa brata – baik jasad dan sukmanya – justru menghilang dan berpindah tempat. Keseluruhan dirinya (jasmani dan ruhaninya) berpindah ke dimensi lain dengan sendirinya, yang disana tidak terikat lagi dengan ketuaan dan kematian. Disana ia akan melakukan pengembaraan sampai batas waktu yang di tentukan atau yang dia inginkan. Hingga pada akhirnya ia pun memang harus kembali ke dunia nyata karena harus menuntaskan semua pertapaannya sejak awal.

Tapi perlu diketahui juga disini bahwasannya sangat tidak mudah untuk bertapa brata. Diperlukan fisik dan jiwa yang mapan, karena akan ada banyak sekali tantangan, halangan dan godaannya. Tidak hanya kondisi alam dan ganguan dari makhluk halus saja, karena di beberapa kasus yang pernah terjadi di masa lalu justru para dewa dewi kahyangan sering “menganggu” seorang pertapa, dengan tujuan untuk menggagalkan pertapaannya. Dan itu sengaja mereka lakukan karena merasa jika orang yang bertapa itu bisa berhasil mencapai tujuannya, maka akan mengganggu kedudukan kedewaan mereka. Mereka sangat tidak ingin ada yang menyaingi kemampuan mereka sebagai dewa di kahyangan. Mereka takut itu terjadi, sehingga berusaha menggagalkannya dengan berbagai cara. Di antaranya dengan menggoda si pertapa melalui kecantikan seorang dewi dan lainnya. Sehingga memanglah bertapa brata itu tidak mudah dan hanya berlaku untuk mereka yang sudah siap lahir dan batinnya saja. Seseorang harus lebih dulu membekali dirinya dengan banyak kemampuan raga dan batin. Karena bila tanpa hal itu, maka sudah bisa dipastikan seseorang akan gagal total, bahkan sebelum memulainya.

Jadi, inilah salah satu karunia terbesar yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka yang bertapa brata. Yaitu umurnya akan otomatis berubah panjang atau lebih tepatnya dikatakan berhenti selama ia melakukan tapa bratanya. Dan ini memang sulit untuk diterima akal, karena hanya bisa dibuktikan jika seseorang sudah melakukannya sendiri. Sebagaimana yang di lakukan oleh orang-orang sakti dimasa lalu.

Baiklah jika begitu. Lantas apa yang terjadi bila seseorang moksa ?

Perlu diketahui bahwa di dalam waktu itu setidaknya ada 100 lapisan dimensi, salah satunya adalah dimensi alam nyata duniawi; tempat manusia, hewan dan tumbuhan berada. Setiap dimensi telah dihuni oleh berbagai jenis makhluk yang berbeda-beda. Mulai dari yang sudah diketahui oleh manusia hingga pada yang tidak pernah diketahui oleh kebanyakan dari mereka. Sebagai contoh, setiap manusia, hewan dan tumbuhan itu tinggal pada dimensi yang pertama (alam nyata duniawi) yang disebut dengan Arsyasyi, sedangkan sebagian dari bangsa jin berada di lapisan yang kedua yang disebut dengan Martayasyi. Bangsa peri berada di lapisan yang ke tujuh yang disebut Ramatasyi atau juga yang berada di lapisan dimensi ke sembilan yang disebut dengan Samsyi. Sedangkan bangsa naga berada di lapisan dimensi ke lima yang disebut dengan Nilbati. Setiap dari mereka ini telah ditentukan seperti itu sejak awal kehidupan. Tetapi bagi yang mengetahui rahasianya dan atau yang mau melakukannya, maka manusia, jin, peri dan naga bisa saja memasuki atau berpindah tempat ke dimensi lainnya. Disana mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan dengan lebih leluasa. Tetapi disini dibatasi hingga pada lapisan yang ke 56 saja, karena mulai dari yang ke 57 sampai yang ke 100 adalah tempat khusus bagi para malaikat dan yang sejenisnya.

Jadi, moksa itu akan terjadi dalam dua tahapan. Pertama, ketika hendak moksa, maka terlebih dulu seseorang akan membagi dirinya menjadi dua. Diri yang pertama akan tetap tinggal di alam dunia nyata selama beberapa waktu, sedangkan yang kedua telah lebih dulu berpindah tempat ke dimensi lainnya, tepatnya yang berada di lapisan ke tiga yang disebut Galatasyi. Kedua, antara 1-3 tahun, barulah diri seseorang yang masih berada di alam nyata duniawi akan ikut berpindah ke dimensi ketiga (Galatasyi) untuk segera bisa menyatu kembali dengan dirinya yang lain. Penyatuan ini bisa terjadi seketika saat keduanya bertemu. Kapan waktunya dimulai? Semua proses moksa dimulai setelah ia sudah bisa melihat – ketika masih di alam nyata duniawi – sebuah pintu dimensi yang berwarna putih bercahaya, yang itu hanya disediakan bagi mereka yang akan moksa.

pintu dimensi

Selanjutnya, mereka yang sudah bisa berpindah tempat ke dimensi ketiga (Galatasyi) inilah yang akhirnya dikatakan telah moksa. Disana ia akan hidup tidak jauh berbeda dengan apa yang ia lakukan di dunia nyata. Hanya saja apa yang ia lakukan disana sudah tidak lagi semata-mata untuk urusan perut dan dibawah perutnya saja. Artinya, kebiasaan buruk yang melekat pada manusia di dunia nyata, seperti gandrung dengan urusan meteri, tidak lagi ia lakukan. Karena memang itulah salah satu tujuan utama mengapa seseorang memilih untuk bisa moksa. Yaitu meninggalkan kesenangan duniawi yang sebenarnya menipu untuk meraih kesenangan dan ketenangan yang sejati.

Lantas apa lagi yang terjadi bagi mereka yang moksa itu?

Pada dimensi yang ketiga, seorang yang tadinya moksa lalu diberikan pilihan untuk tetap tinggal disana atau berpindah ke dimensi lainnya. Tentunya semua itu dengan beberapa syarat dan harus berdasarkan kemampuan diri dari yang bersangkutan. Semakin “sakti”, maka ia pun bisa menjelajahi lebih banyak lapisan dimensi, bahkan sampai yang ke 56.

Selain itu, apa saja yang mereka lakukan disana?

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa kehidupan pada dimensi ketiga atau yang lainnya itu pada dasarnya hampir sama dengan yang ada di atas muka Bumi ini. Ada padang rumput, hutan, gunung, air terjun, sungai, danau, lautan, langit, awan, hujan dan sebagainya. Semuanya tidak jauh berbeda dengan yang ada di alam nyata duniawi, hanya saja disana wilayahnya jauh lebih luas dan kondisinya terasa lebih indah dan menyenangkan. Bahkan ada beberapa dimensi yang kondisinya tidak bisa lagi dibandingkan dengan kondisi di Bumi ini, karena memang sangat berbeda, saking indahnya.

dimensi lain

Jadi, orang-orang yang moksa akan sangat bahagia dalam hidupnya. Mereka juga bisa melakukan apa saja dan kemana saja yang mereka inginkan tanpa alat bantu dan kendaraan, bahkan hanya dalam waktu sekejab mata. Sesama mereka juga bisa bersosialisasi dengan berbincang-bincang atau berdiskusi tentang banyak hal – termasuklah tentang apa saja yang sedang terjadi di alam dunia nyata – secara langsung tatap muka atau dari jarak jauh (telepati). Tidak ada bahasa yang akan membatasi mereka disana, karena setiap orang bisa berbicara dalam semua bahasa yang ada meskipun mereka berbeda bangsa dan ras. Begitu pula dengan sandang, pangan dan papan bukanlah hal yang pokok bagi mereka semua. Tetapi jika mereka menginginkannya, maka mereka akan melakukannya.

Disana tidak ada batas negara dan tidak pula ada pemimpin. Semua orang memiliki hak yang sama, tidak ada yang bisa menindas atau pun mencela orang lain. Terlebih masalah kepercayaan atau agama, maka siapapun memiliki keyakinannya sendiri. Setiap orang akan melakukan ibadah sesuai pula dengan keyakinannya masing-masing. Hanya saja memang beberapa di antara mereka ada yang tetap menjalankan dakwah Islami, sebagaimana yang telah ia lakukan di alam nyata duniawi dulu. Mereka ini biasa disebut Waliyullah. Dan mengapa ini bisa terjadi? Karena disana masih banyak pula yang belum mengenal atau menyakini Islam dan kebenarannya. Sehingga mereka ini (para wali) ditugaskan untuk memberi tahu tentang hakekat Islam, dengan harapan ada yang tertarik untuk mengikutinya dengan penuh kesadaran, tanpa ada paksaan.

Lalu apakah hanya itu saja yang mereka lakukan?

Tentu tidak. Karena selain beraktifitas disana, terkadang mereka ambil bagian di dalam urusan dunia nyata. Ini biasanya untuk membantu manusia yang masih hidup di dunia nyata saat mereka sedang kesulitan, khususnya jika itu di alami oleh keturunan mereka.

Sebagai contoh, pada masa periode zaman Dirgantara sampai pada masa awal zaman kita sekarang (sebelum Masehi), mereka yang moksa ini – khususnya para resi atau pun dewa-dewi – beberapa kali muncul ke alam dunia nyata untuk membantu para manusia. Mereka ini biasanya memberikan beberapa petunjuk yang harus dilakukan oleh seseorang agar ia bisa mencapai keinginannya. Dan biasanya ini berkaitan dengan masalah kerajaan atau pun membangun sebuah kerajaan baru. Dengan bantuan dari para resi ataupun dewa-dewi ini dan tentunya atas izin dari Tuhan, maka segala urusan bisa terselesaikan atau tercapai dengan sukses.

Jadi, karena mereka ini dulunya adalah manusia bahkan pernah mengalami hal yang serupa, maka tidak jarang pula mereka pun mau membantu manusia yang masih hidup di alam nyata duniawi. Terlebih kepada anak cucunya sendiri, maka tidak ada kata tidak mau. Hanya saja memang tidak mudah untuk bisa melakukan hal itu. Terlebih saat manusia yang tinggal di dunia nyata tidak lagi mau melakukan olah batin (semedhi, tapa brata). Karena hanya dengan cara itulah keduanya bisa berkomunikasi, bahkan bekerja sama. Tanpa hal itu, maka tidak akan bisa, sebagaimana yang sudah terjadi sekarang ini. Dan itu pula yang menjadi salah satu penyebab mengapa bangsa ini sulit untuk bangkit dan memimpin dunia seperti dulu, seperti pada masa jauh sebelum Masehi. Karena tidak lagi mendapatkan bantuan dan masukan dari para leluhur yang sangat hebat namun telah moksa.

Jadi orang yang moksa ini berarti tidak pernah mati?

Bisa dikatakan demikian. Tetapi disini perlu dipahami juga bahwa orang yang moksa itu bukan berarti ia akan hidup selamanya. Mereka hanya tidak mengalami kematian sebagaimana umumnya manusia di dunia. Mereka tidak pula di datangi oleh malaikat pencabut nyawa untuk di ambil nyawanya, namun mereka ini tetap akan mati di suatu saat nanti. Hanya saja waktunya tidak sekarang, melainkan nanti bersamaan dengan datangnya Hari Kiamat. Saat dimana semua makhluk yang ada di alam semesta ini dihancurkan dan binasa.

Jika begitu, maka orang yang moksa ini bisa diartikan sebagai sosok yang umurnya ditangguhkan?

Benar. Mereka yang moksa ini adalah pribadi yang telah ditangguhkan umurnya hingga datangnya Hari Kiamat. Begitulah kehendak Tuhan, dan ini tidak berlaku bagi semua makhluk yang ada di muka Bumi. Karena hanya khusus untuk kalangan yang sudah tahu rahasianya dan mampu melakukannya saja. Yang orang sekarang menyebutnya dengan istilah mengetahui “rahasia kehidupan abadi”.

Lalu apa rahasianya itu?

Maaf. Dalam hal ini saya tidak bisa menjelaskannya. Namanya juga rahasia, tentunya hanya bagi kalangan tertentu saja ia bisa diberikan. Itupun harus secara langsung kepada yang bersangkutan, setelah melihat apakah ia mau dan mampu melakukannya. Karena sekali lagi ini bukanlah hal yang sepele dan mudah untuk di lakukan oleh semua orang, terutama yang masih terikat dengan kesenangan semu duniawi ini. Selalu hanya bagi kalangan terbatas dan yang mampu saja.

*****

Wahai saudaraku. Banyak hal yang telah menjadi rahasia di dunia ini. Di muka Bumi, bahkan saat kini banyak hal yang telah menjadi bagian dari mitos dan dianggap tak terpisahkan dengan khayalan. Padahal banyak di antara mitos atau pun legenda itu berawal dari sebuah fakta di masa lalu. Namun karena lamanya waktu yang terlalui, maka perlahan ia menjadi legenda lalu mitos dan khayalan. Untuk itulah, semua yang mitos maupun legenda – menurut anggapan orang sekarang – perlahan-lahan akan muncul kembali di tengah-tengah kehidupan kita. Semua itu terjadi, sebagai pertanda bahwa perang kosmik akan segera terjadi di akhir zaman ini. Untuk mengawali kedatangan zaman yang baru.

Lalu dari semua penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa moksa itu adalah bagian dari mitologi agama. Karena moksa sendiri adalah salah satu karunia terbesar dari Tuhan Yang Maha Kuasa kepada umat manusia agar ia bisa menjalani kehidupan lain pada dimensi yang lainnya. Dimana disana sudah tidak lagi terikat dengan ketuaan dan kematian – kecuali kiamat. Tetapi dalam hal ini ia tidak pernah di paksakan dan tidak pula mudah untuk ditunaikan. Karena moksa sendiri hanyalah sebagai satu pilihan yang bisa diambil oleh seseorang dalam hidupnya. Sehingga lebih baik untuk tidak diwajibkan bagi siapapun – khususnya di masa kini. Tapi bagi yang mau dan mampu, ya silahkan saja, karena itu adalah pilihan hidup pribadi.

Sungguh tidak mudah untuk moksa dan tidak semua orang bisa berhasil melakukannya. Ia hanya diperuntukkan bagi mereka yang sebelumnya telah melakukan latihan yang keras, baik raga maupun batinnya. Tujuannya tiada lagi selain hanya untuk mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan yang sejati. Maka dari itulah, orang-orang yang mulia, yaitu para Nabi dan Rasul, meskipun mereka tahu namun tidak pernah mengajarkan secara luas tentang hal ini kepada umatnya. Mereka berbuat seperti itu karena khawatir bisa memberatkan dan menyengsarakan umatnya saja – terutama bagi yang lemah fisiknya. Terlebih dalam hal ini sesungguhnya moksa sendiri bukanlah satu-satunya cara untuk mendapatkan ketenangan yang sejati (pencerahan). Ada cara lainnya yang lebih mudah dan termaktub di dalam ajaran Tuhan, yaitu mengamalkan ajaran agama yang ada di dalam kitab suci para Rasul terdahulu dan tentunya Al-Qur`an dan Sunnah dengan benar dan bersungguh-sungguh.

Dan perlu diingat! bahwa apa tujuan sebenarnya dari usaha menguasai ilmu atau bahkan moksa itu? Apakah tujuan dalam melatih diri itu hanya untuk mencari kekuatan supranatural atau mencari Tuhan? Jika seseorang hanya sekedar mencari kekuatan supranatural, maka ia akan mendapatkannya dan selesailah sampai disitu saja. Namun jika tujuannya adalah untuk mencari Tuhan, maka ia akan mendapatkan Tuhan. Dan ketika ia bisa mendapatkan Tuhannya, maka sesungguhnya ia telah mendapatkan segalanya dalam kehidupan ini, bahkan tanpa harus moksa. [Silahkan baca: Meraih Kemerdekaan Jiwa dengan Jalan Cinta, atau Kebangkitan Spiritual Modal Kebangkitan Nusantara, atau Tasawuf Jawa]

Sehingga janganlah menyia-nyiakan waktu hanya untuk sekedar melatih kemampuan-kemampuan supranatural yang pada akhirnya hanya untuk memperbesar ego dan menambahkan sifat keduniawian semata. Boleh saja mengasah kemampuan diri (lahir batin) dan itu sangat baik bagi kehidupan kita. Tetapi carilah Tuhan, karena itulah yang utama dan hanya dengan itu pula siapa pun bisa mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan yang sejati (pencerahan). Inilah prinsip yang sejalan dengan hakekat dari moksa (pelepasan jiwa) itu sendiri atau jiwa yang telah merdeka dan bebas dari belenggu duniawi. Yang pada akhirnya bisa kembali kepada Tuhan dengan selamat.

Semoga kita senantiasa ditunjukkan kepada jalan yang lurus, yang menuju kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan benar dan di ridhoi.

Jogjakarta, 03 Agustus 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

7 thoughts on “Mitologi dan Agama: Tentang Ajaran Moksa

    […] itu kini terlanjur dianggap kuno, nyeleneh, tidak masuk akal, gila dan sesat. [Silahkan baca: Mitologi dan agama: Tentang ajaran moksa atau Wahyu keprabon untuk pemimpin besar […]

    […] Moksa Sebagaimana yang pernah dijelaskan pada tulisan sebelumnya: Mitologi dan Agama; Tentang Ajaran Moksa, istilah “moksa” ini berasal dari bahasa Sanskerta yang memiliki makna pelepasan jiwa. […]

    Keseimbangan Hidup demi Kedamaian Hati « Perjalanan Cinta said:
    September 29, 2015 pukul 4:00 am

    […] yang terstruktur. Dan sebagaimana yang pernah saya jelaskan pada tulisan sebelumnya (baca: Mitologi dan Agama: Tentang Ajaran Moksa), maka orang Nusantara dulu telah menerapkan empat tahapan dalam kehidupan ini. Tujuannya agar […]

    […] Wahai saudaraku. Mantra tidaklah sama maknanya dengan doa. Bila doa merupakan permohonan langsung kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka mantra itu seumpama menarik pemicu senapan yang bernama daya hidup. Daya hidup manusia itu ada karena pemberian Tuhan Yang Maha Kuasa. Sehingga pemberian sesaji, laku sesirih (mencegah) dan laku semedhi disini memiliki makna tatacara memberdayakan daya hidup agar dapat menjalankan kehidupan yang baik, benar, dan tepat. Yakni menjalankan hidup dengan mengikuti kaidah “Hamemayu hayuning buwana : Menata keindahan dunia”. Daya kehidupan manusia menjadi faktor adanya aura magis (gelombang elektromagnetik metafisika) yang melingkupi badan manusia. Karena perbedaan esensi dan unsur-unsur pembentuk jasad, maka aura magis dalam diri manusia memiliki sifatnya masing-masing. Unsur-unsur tersebut berasal dari bumi, langit, cahaya dan tejo (pelangi) yang keadaannya selalu dinamis sepanjang masa. Untuk menjabarkan hubungan antara sifat-sifat dan esensi dari unsur-unsur jasad tersebut, lahirlah ilmu Jawa yang bertujuan untuk menandai perbedaan aura magis demi mencapai tujuan akhir yaitu kebebasan (moksa). Baca tulisan berikut: Mitologi dan agama: Tentang ajaran Moksa. […]

    wordwidewrite said:
    Maret 14, 2016 pukul 4:14 pm

    Bila diperhatikan, moksa dijalankan sebagian kecil pemeluk Islam setelah nabi Muhammad wafat, karena pemeluk Islam sebelumnya mempunyai ajaran Tauhid untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya, dengan berbekal ilmu Tasawuf, dan orangnya disebut Sufi, Untuk lebih umum disebut Ma’rifat kepada Alloh, upaya pendekatan terhadap Alloh, masalah keyakinan terhadap sang penciptanya bukan manusia yg mengukur, dosa atau pahala bukan manusia yang menentukan, kebajikan yang dilakukan manusia hasil akhirnya nanti diakherat, penilaian manusia kadang bisa salah, karena manusia tidak tahu akan hati orang lain, Alloh yg maha mengetahui, sebagai contoh seseorang yg berhati mulia, berbuat baik kepada sesama manusia, namun, bukan penganut suatu agama yg sama dengan kita, karena ketidaktahuan ajaran yg kita jalani, dan belum sampai ada yang mengajari, dan bila di bandingkan dengan seseorang yg bisa berkata aku telah beriman, dan melaksanakan kewajiban, tapi manusia itu masih berlaku sombong, punya rasa dengki, maka, Alloh yg menentukan siapa yg menjadi orang yang mendapat balasan yang baik diakhirnya.

      oedi responded:
      Maret 15, 2016 pukul 10:42 am

      Terimakasih atas kunjungan, dukungan dan komentarnya, semoga bermanfaat..🙂

    […] Ya. Dalam budaya dan keyakinan lain, Nirwana ini dijadikan sebagai sinonim untuk pemikiran mereka tentang Moksa (pelepasan jiwa), dan Nirwana dibicarakan dalam beberapa tulisan seperti dalam Tantra dan Sastra. Sehingga Nirwana disini dapat juga diartikan sebagai suatu kondisi lahir maupun batin seseorang yang mengalami pencerahan dan mengetahui. Umumnya keadaan ini dipergunakan untuk menyatakan bahwa seseorang telah berhasil keluar dari kegelapan atau kebodohan sehingga mencapai hakikat hidup yang tertinggi. [Silahkan baca tulisan ini: Mitologi dan agama: tentang ajaran moksa] […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s