Jalan Cinta dan Keindahan

Posted on Updated on

jalanWahai saudaraku, mari sekali lagi kita membicarakan tentang cinta dan keindahan. Karena tanpa kedua hal ini, maka hidup kita tidak akan terasa bahagia. Tidak ada tujuan yang jelas jika tanpa adanya cinta dan keindahan. Karena keduanya adalah kebutuhan pokok dan tujuan yang paling utama dalam kehidupan ini.

Ya. Cinta sanggup membawa para pemiliknya pada kondisi ketika mereka menyaksikan rahasia-rahasia gaib, terutama gaibnya Sang Kekasih. Keberadaan cinta terhadap keindahan yang terdapat pada segala yang wujud dapat membangunkan jiwa yang bersih dari kelalaiannya, lalu membawanya naik ke alam aslinya, dan dari alam asli jiwa itu dibawa ke hadirat nan Kudus. Semua keelokan, keindahan, cahaya dan sinarannya yang bertebaran pada segala sesuatu yang ada di dalam rendah (duniawi) ini, semua itu berasal dari cahaya alam tinggi (metafisika) yang turun dan memancar darinya. Cahaya-cahaya yang bertebaran itu, pertama-tama menjadi petunjuk tentang cahaya asal, dan pada akhirnya menjadi penyampai pada cahaya asal tersebut.

Lalu, keindahan yang melekat pada beraneka ragam tetumbuhan berasal dari cahaya keindahan potensi nabati (naluri tetumbuhan). Keindahan yang terdapat pada hewan, berupa keelokan dan keserasian anggota badannya serta keindahan bentuknya, berasal dari potensi hewani (naluri kebinatangan). Keindahan yang tampak pada manusia berupa tindak tanduk yang baik, makna-makna yang lembut, dan perasaan halus yang memancar kepada seluruh anggota badan yang elok; semua ini berada dari cahaya potensi insani (naluri kemanusiaan). Ketiga jiwa ini, potensi nabati, potensi hewani dan potensi insani, cahaya dan keindahannya berasal dari keindahan alam metafisik. Ketiga jiwa tersebut merupakan sarana manifestasi keindahan alam metafisik yang merupakan sumber cahaya-cahaya nan kudus. Cahaya dan keindahan nan suci inilah yang menjelma di alam, baik alam metafisik ataupun alam fisik (dunia). Akan tetapi, semua yang wujud menerima cahaya Tuhan ini sesuai dengan kesiapan yang telah ditetapkan oleh Tuhan bagi mereka masing-masing. Tidak ada sesuatu yang tidak disinari cahaya-Nya, tetapi tingkat penerimaan mereka terhadap cahaya itu berbeda satu sama lainnya. Tergantung sebatas mana ia berusaha mendekati-Nya.

Untuk itu, ketika menyaksikan cahaya-cahaya keindahan yang bertaburan di alam ini, seorang ahli makrifat akan mentransfernya dari penglihatan mata ke alam imajinasi. Kemudian, pikiran membebaskannya dari segala ikatan dan kerangka jasmaniahnya, lalu menyampaikannya kepada jiwa yang berakal. Di dalam jiwa ini ia menyaksikan cahaya-cahaya itu secara murni, apa adanya, bebas dari segala keterikatan jasmaniah, lalu bersatu dengannya, dan bersamanya naik ke tempat asalnya yang amat tinggi serta sumber aslinya yang teramat suci lagi mulia.

mountain

Sungguh, keadaan orang-orang yang mencintai keindahan itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan objek yang mereka cintai. Dalam hal ini, keindahan terbagi menjadi dua; Keindahan mutlak dan keindahan terbatas. Keindahan mutlak adalah keindahan Dzat Yang Maha Kuasa. Sedangkan keindahan terbatas terbagi menjadi dua; keindahan universal dan keindahan parsial. Keindahan universal adalah keindahan yang mencakup segala sesuatu yang ada di alam ini, baik yang ada di atas (langit) maupun di bawah (bumi). Sedangkan keindahan parsial adalah keindahan yang secara khusus dimiliki oleh sebagian benda tetapi tidak oleh sebagian lainnya.

Untuk itu, setiap sesuatu mempunyai kesempurnaan dan kekurangannya masing-masing. Masing-masing dari keindahan universal dan parsial terbagi menjadi lahir dan batin. Keindahan batin adalah keindahan yang terlepas dari kerangka jasmaniah, yaitu keindahan yang tampak dalam rongga jiwa yang berasal dari cahaya Yang Maha Esa. Sedangkan keindahan lahir adalah keindahan yang menempel pada kerangka jasmaniah dan tempatnya ditemukan oleh inderawi. Keindahan lahir terbagi lagi menjadi dua; keindahan lahir yang mempunyai tempat tertentu dan keindahan lahir yang tidak mempunyai tempat tertentu. Semua jenis keindahan ini merupakan cahaya-cahaya ruhaniah-Ilahiah. Akan tetapi sebagiannya lebih sempurna dan lebih halus dari sebagian lainnya. Keindahan universal merupakan ruh dan rahasia keindahan parsial, keindahan batin merupakan ruh dan rahasia keindahan lahir, dan keindahan mutlak merupakan ruh dan rahasia semua keindahan. Dengan demikian, keindahan mutlak adalah ruhnya segala ruh dan rahasianya segala rahasia. Maha Suci Dzat yang memiliki keindahan mutlak.

Lalu orang yang mencintai keindahan terbagi menjadi tiga kelompok. Yaitu:

1. Kelompok yang mencintai keindahan murni (yang terlepas dari kerangka ragawi) dan dengan kecintaan pada keindahan murni ini jiwa mereka meraih kesempurnaan. Kemudian dengan kesempurnan jiwa itu mereka meraih cinta-Nya. Mereka adalah orang-orang yang termasuk dalam kalangan khusus.

2. Kelompok yang mencintai keindahan lahiriah yang menempel pada kerangka fisik yang indah. Mereka tidak hanya mencintai satu objek fisik tertentu, tetapi semua keindahan yang terdapat pada objek-objek fisik yang dianggap indah. Mereka menyaksikan keindahan pada semua bentuk yang dianggap indah dan tidak membeda-bedakan antara keindahan yang terdapat pada hewan, yang ada pada tumbuh-tumbuhan maupun benda-beda. Bahkan mereka menyaksikan keindahan pada segala sesuatu dan melihat bahwa segala yang ada di alam ini mempunyai bagian tertentu dari keindahan Ilahi, sedikit atau banyak. Kelompok kedua ini kedudukannya berada di bawah kelompok pertama, karena mereka tidak sanggup memurnikan keindahan dari kerangka ragawi, sehingga mereka tidak bisa menyaksikan keindahan itu dalam diri mereka sendiri kemudian di alam ruhani.

3. Kelompok yang mencintai keindahan kecuali yang ada pada tempat tertentu, kelompok, atau sosok manusia tertentu. Karena cinta yang artifisial dan sempit ini, kelompok ini terhalang dari Yang Ilahi dan dari alam tinggi (alam metafisika). Tabir penghalang itu tidak akan hilang selama tujuan cinta mereka bukan kepada Yang Maha Kuasa. Lalu ketika ia mencintai keindahan fisik dan meyakini bahwa keindahan fisik itu adalah tujuan akhirnya, dan bahwa tidak ada yang lebih sempurna dan lebih mulia daripada keindahan fisik serta mengingkari Tuhan Pencipta keindahan, yang keindahan merupakan salah satu ciptaan-Nya, maka ia telah kafir kepada Tuhan dan menjadi hamba berhala.

Untuk itu saudaraku, memandang dan mencintai keindahan itu bisa menjadi ibadah jika memenuhi dua syarat, yaitu:

1. Tujuan mencintainya adalah sampai kepada Penciptanya. Tidak ada jalan untuk mengetahui keluasan ilmu Sang Pencipta dan kekuasaan-Nya selain dengan memperhatikan kesempurnaan dan keindahan ciptaan-Nya.

2. Menanggalkan semua nafsu syahwat yang menjerumuskan manusia ke alam kebinatangan.

Sebab, tidak akan sampai kehadirat-Nya kecuali jiwa yang bersih dan lembut. Jika kecintaan jiwa pada sesuatu bukan dengan tujuan ini, melainkan sebatas kecintaan pada kerangka jasmaniah yang tak seberapa harganya, maka jiwa tetap bersama sesuatu yang dicintainya dan hanya itu yang ia dapatkan. Dan sesuatu itu akan menjadi penghalang baginya dari Tuhan untuk selamanya. Sebab, sesuatu selain Yang Maha Esa adalah penghalang dari-Nya.

Wisata-Pantai-di-Indonesia-yang-Menyuguhkan-Keindahan-Alam

Di hikayatkan bahwa seorang dipecut sebanyak seratus kali tapi ia tidak merasa sakit. Kemudian setelah itu ia dipecut sekali lagi saja, ia kesakitan dan menjerit. Lalu ia ditanya tentang hal itu. Ia menjawab; “Ketika aku dipecut sebanyak seratus kali aku sedang memperhatikan sepasang mata yang memandangku dengan tajam. Karena itu aku tidak merasakan sakit. Tetapi ketika sepasang mata itu tidak lagi memandangku dan aku tidak lagi memperhatikannya, maka satu kali pecutan saja terasa sakit”

Dihikayatkan juga bahwa Basyar ibn Al-Harits berkata; “Aku melihat seseorang di Baghdad dipecut sebanyak seratus kali, tapi ia diam saja. Ketika ia dibawa ke penjara, aku mengikutinya dan aku bertanya mengapa ia diam saja sewaktu dipecut sebanyak itu? Ia menjawab; “Sewaktu aku dipecut sebanyak itu, aku melihat kekasihku berada di depanku memandangku” Aku bertanya lagi; Bagaimana jika kamu melihat Kekasih yang paling agung? Mendengar pertanyaanku itu, ia memangis sejadi-jadinya lalu jatuh tersungkur dan mati”

Kedua hikayat di atas adalah contoh yang luarbiasa, karena bahkan sebagian dari mereka (para pecinta) ada yang ketika kekasihnya menyuruhnya mati ia rela mati. Sebagaimana dihikayatkan bahwa seorang pemuda tergila-gila pada seorang gadis dan pada suatu hari ia mendengar gadis yang dicintainya itu bernyanyi dengan kata-kata seperti ini: “Tanda kekuasaan cinta atas para pecinta adalah tangis. Terlebih jika seorang pecinta tidak temukan tempat mengadu” Mendengar itu si pemuda berkata; “Engkau benar, demi Tuhan wahai tuan puteriku. Apakah kau izinkan daku untuk mati?” Maka si gadis berkata kepadanya’ “Matilah!” Maka si pemuda itu meletakkan kepalanya di atas bantal kemudian merapatkan mulutnya dan memejamkan matanya. Ketika tubuhnya digerakkan ternyata ia telah mati. Kejadian seperti ini cukup banyak terjadi di masa lalu. Siapapun yang tidak merasa senang dengan siksaan kekasihnya, maka ia jauh dari hakikat cinta.

Untuk itulah, manusia mempunyai dua keadaan. Pertama, keadaan ketika ia kehilangan (tidak sadar) dirinya tapi ada dengan keberadaan Kekasihnya. Keadaan ini dinamai keadaan bersatu. Ketika ia kehilangan kesadaran akan dirinya, maka ia juga kehilangan kesadaran akan seluruh alam. Sebab, dirinya merupakan bagian yang paling dekat dengan alam. Kedua, keadaan ketika ia melihat (menguasai) dirinya. Keadaan ini dinamai keadaan berpisah. Orang yang berada pada keadaan bersatu akan melihat Kekasihnya pada segala sesuatu, mendengar ucapan-Nya dari segala sesuatu, dan pengetahuannya tentang-Nya tidak terbatas oleh waktu dan tempat tertentu. Kapan dan dimanapun ia berada tidak pernah luput dari Kekasihnya. Sebab, tempat (sarana) untuk mengenal-Nya tidak terbatas, sehingga setiap sesuatu dapat menjadi media untuk mengenal-Nya. Bahkan dalam keadaan itu, ia yakin bahwa ia menyaksikan Kekasihnya pada setiap titik terkecil, lahir dan batinnya.

Wahai saudaraku. Sesungguhnya tidak ada penghalang bagi jiwa untuk menyaksikan alam gaib selain kesibukkannya dengan alam indriawi-fisik dan gerak-geriknya di alam rendah (duniawi). Salah satu bukti bahwa alam indriawi-fisik menjadi penghalang bagi disaksikannya alam gaib adalah kenyataan bahwa jika jasad diselimuti tidur maka jiwa kerap menyaksikan perkara-perkara goib. Sebab, ketika itu jiwa tidak disibukkan dengan hal-hal yang dibawa oleh anggota tubuh. Sekali lagi, alam lahir merupakan penghalang bagi teraksesnya alam gaib. Kekosongan jiwa dari kesibukan alam indriawi-fisik sewaktu tidur hanya sementara. Jika dalam kekosongan sementara saja jiwa sudah sanggup “melongok” ke alam gaib, maka gerangan apa menurutmu jika kekosongan jiwa dari kesibukkan alam fisik itu berlangsung lebih lama atau bahkan selamanya? Tidak bisa dibantah lagi bahwa penglihatannya atas alam gaib pasti lebih berkesinambungan dan beritanya tentang alam itu lebih jernih. Namun kesinambungan dan kejernihan itu berbeda-beda antara jiwa yang satu dengan lainnya, tergantung pada hubungan jiwa dengan alam tinggi (alan ruhani). Jika hubungannya itu dengan cahaya-cahaya kudus, maka berita yang disampaikannya mencakup keseluruhan alam gaib. Tapi jika hubungannya itu dengan jiwa-jiwa yang parsial, maka beritanya hanya tentang bagian-bagian tertentu dari alam gaib. Dan jika tidak dari kedua hal di atas itu, maka beritanya hanyalah kebohongan. Ia hanya akan tertipu oleh makhluk gaib (iblis dan syetan) dan nafsunya saja. Dan inilah yang banyak terjadi di tengah-tengah kita sekarang, terutama pada orang-orang yang mengaku sebagai paranormal dan anak indigo.

Ya. Jasad merupakan tambahan yang berada diluar inti jiwa. Sedangkan unsur-unsur kemanusiaan, tanpa jasad, dicerna dalam benak (nalar), sebab ia adalah makna universal yang melekat dalam jiwa yang bebas dari segala unsur tambahan dan segala bentuk fisik. Akal tidak akan memahami hakikat kemanusiaan kecuali kemanusiaan itu bebas dari faktor-faktor eksternal tersebut. Jadi, akal baru bisa memahami kemanusiaan ketika kemanusiaan berada pada tempatnya dan apa adanya.

Selanjutnya, apabila jiwa bersih dan lembut, maka ia akan menyerupai alam metafisik, tergambar padanya bentuk-bentuk makhluk semesta, mampu “menerawang” alam gaib – disini tidak sama dengan yang terjadi pada paranormal, dan mempunyai pengaruh terhadap makhluk-makhluk lain yang lebih rendah kedudukannya. Seperti besi, apabila disepuh dan ditempa dengan api, maka ia akan mempunyai efek seperti yang dimiliki oleh api. Karena ia mempunyai keserupaan dengan api. Oleh karena itu, pengaruh jiwa di alam ini tergantung pada keserupaannya dengan alam metafisik. Semakin tinggi tingkat keserupaan jiwa dengan alam tersebut, maka semakin besar pula daya pengaruhnya. Demikian sebaliknya, semakin rendah tingkat keserupaannya dengan alam tersebut, maka semakin kecil pula pengaruh yang dimilikinya. Jika keserupaan jiwa dengan alam tersebut benar-benar sempurna, maka ia berhak menyandang gelar kesempurnaan insani atau insan sempurna (insan kamil). Artinya, ia memiliki keserupaan dengan alam kudus dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh Tuhan.

jalan cinta

Lalu, jika seseorang telah sampai pada batas ini, maka ia akan menyaksikan keindahan universal yang merupakan sumber keindahan partikular, sekaligus sebagai unsur terpentingnya. Setelah menyaksikan keindahan universal itu, ia siap untuk mendapatkan sinaran cahaya kebenaran yang memancar dari sisi-Nya. Dengan cahaya ini, ia sampai pada keindahan Dzat yang wajib adanya karena Dzat-Nya. Dan ketika ia menyaksikan keindahan itu, keseluruhan  dirinya “lebur” sehingga tidak ada yang tersisa dari dirinya. Maka, jadilah ia termasuk golongan orang-orang yang sangat dekat dengan-Nya. Dalam keadaan itu ia disinari cahaya kebenaran Tuhan, yang berasal dari kemurahan-Nya. Dan jiwanya yang bening lagi suci siap untuk menerima cahaya itu. Setiap kali jiwa bersih setiap itu pula ia menerima cahaya, dan setiap kali ia menerima cahaya setiap itu pula kesuciannya bertambah. Begitulah seterusnya sampai keseluruhan jiwa menjadi cahaya nan suci. Lalu tersingkaplah baginya keindahan Ilahiah yang mulia dan dibukakan baginya tabir keagungan dari pelataran keindahan. Maka ia menyaksikan dari keindahan hadirat Ilahiah itu keindahan yang tak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan tidak pernah terbesit dalam hatinya. Jika demikian, maka bagaimana bisa memahamkan hakikat sesuatu yang tidak pernah terbesit dalam hati manusia, atau bagaimana mungkin menerangkannya dengan kata-kata?

Ya. Anda boleh berkata; “Tidak diragukan lagi bahwa cinta melembutkan dan membeningkan jiwa yang menjadi syarat bagi diperolehnya kebahagiaan abadi dan diterimanya cahaya-cahaya keTuhanan. Akan tetapi, penulis menemukan tidak sedikit orang yang terjun ke dunia cinta berhenti hanya sampai pada kecintaan kepada keindahan fisik dan mata saja, bahkan saat meninggal dunia pun ia sedang berkutat dalam kecintaan pada keindahan fisik. Apabila Anda berkata demikian, maka saya berkata “Jika cinta membawa pada kebahagiaan maka seperti itulah cinta sejati adanya. Sedangkan orang-orang yang mengklaim memiliki cinta tapi kecintaan mereka hanya pada keindahan-keindahan fisik semata, maka pastilah itu akibat lemahnya perangkat jalan cinta yang mereka miliki. Karena cinta sejati itu menyucikan jiwa dan dengan kesucian itu jiwa mencintai serta menerima hakikat-hakikat ruhaniah. Apabila dihadapkan pada jiwa yang bersih bagian dari kekasihnya, maka bagian itu tergambar dengan jelas padanya, seperti cermin yang bening ketika dihadapkan pada sebuah benda, apa saja bendanya. Barangsiapa yang cintanya tertuju pada makna-makna ruhani, maka yang ia perhatikan pada diri kekasihnya bukanlah keindahan fisik, melainkan keindahan sejati yang ada di baliknya. Keindahan sejati itulah yang ia cari dan kepadanya perhatiannya tertuju.

O… Tidak diragukan lagi, apabila jiwa terlampau mencintai benda-benda fisik-materiil sehingga merusak sendi-sendinya, maka tidak ada lagi harapan untuk menghadap pada makna-maka ruhani lewat jalan cinta. Namun, ia masih mempunyai jalan lain yaitu jalan latihan yang keras. Dari jalan ini jiwa bisa sampai pada tujuan jika telah digariskan baginya kebaikan. Karena jalan cinta hanya untuk jiwa-jiwa yang sadar dan kuat daya tangkapnya. Pada jiwa-jiwa seperti ini tidak terdapat kecintaan pada benda-benda fisik-materiil. Kecintaan pada benda-benda fisik-materiil hanya ada pada jiwa-jiwa yang lemah dan pengecut.

Untuk itulah, jika Anda berkata; “Bukankah segala sesuatu di alam ini adalah ciptaan Tuhan dan menjadi dalil tentang keberadaan-Nya?” Lalu mengapa Anda hanya berdalil dengan wujud dan keindahan bentuk manusia saja serta menjadikan wujud dan keindahan bentuk manusia itu sebagai titian awal dalam pendakian menuju-Nya? Mengapa Anda tidak memperhatikan juga benda-benda padat, tumbuh-tumbuhan dan hewan yang tidak berakal? Bukankah pada setiap jenis dari jenis-jenis ciptaan Tuhan itu juga terdapat keelokan penciptaan dan keindahan hikmah yang tak bisa diungkap dengan kata-kata? Dan bukankah orang yang merenungkan ciptaan Tuhan itu secara seksama hampir bisa dipastikan bakal meyakini wujud dari Sang Maha Pencipta serta menangkap keindahan-Nya?

*****

Ya. Makhluk ciptaan Tuhan itu terbagi setidaknya ke dalam tiga bagian; benda-benda (padat, cair dan gas), tumbuhan dan hewan. Hewan terbagi menjadi dua; hewan yang berakal yaitu manusia dan hewan tidak berakal yaitu binatang. Sehingga berdalillah tentang Tuhan dengan ketiga ciptaan ini, karena siapapun akan semakin cerdas dan bisa menemukan keindahan yang sejati. Dan khusus mengenai manusia, maka ia memiliki semua kesempurnaan yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan dan hewan. Bahkan manusia mempunyai kesempurnaan yang tidak pernah dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan dan hewan. Kalau saja manusia tidak memiliki keistimewaan yang dipunyai hewan dan tumbuh-tumbuhan, berupa potensi nabatiah dan hewaniah, maka mereka tidak mempunyai kelebihan atas kedua makhluk itu. Dengan begitu, mereka tidak akan dipandang indah. Karena sesuatu dipandang indah kalau memiliki keindahan khas yang membedakannya dari sesuatu yang lain. Manusia sebagai makhluk yang makan dan minum, tumbuh dan melahirkan menyerupai tumbuh-tumbuhan. Manusia sebagai makhluk yang mempunyai rasa, bergerak karena dorongan keinginan, memiliki syahwat dan marah yang menyerupai hewan. Namun manusia sebagai makhluk yang memiliki jiwa yang berakal, mengetahui Tuhannya, dibekali pengetahuan rasional dan ilmu-ilmu bawaan yang senantiasa berusaha memperoleh nilai-nilai keutamaan dan mencintai nilai-nilai kesempurnaan; dalam hal ini manusia bahkan menyerupai malaikat. Sehingga tidak ada di alam ini yang lebih sempurna dari manusia, sebab ia secara keseluruhan merupakan semesta kecil (mikrokosmos) yang meramu segala yang ada di semesta besar (makrokosmos). Dan cahaya Ilahi yang diterima oleh manusia lebih sempurna daripada yang diterima oleh makhluk lainnya. Sebab, jiwa manusia merupakan tiupan ruh ketuhanan nan lembut lagi suci yang dinisbahkan Tuhan kepada Diri-Nya.

keindahan agama

Oleh sebab itu, untuk memuliakan dan mengagungkan ruhnya, manusia sebagai makhluk biologis tidak pernah dinisbahkan kecuali kepada tanah. Kemudian ia dianugerahi keindahan yang tinggi, cahaya yang lembut, keelokan yang sempurna, penciptaan yang lengkap, serta dibekali kemampuan akal dan kejernihan hati nurani. Maka untuk mengetahui dan meyakini wujud Sang Pencipta, tidak ada yang lebih baik dari berdalil dengan wujud manusia.  Bukankah manusia itu adalah “salinan” dari wujud semesta dan “replika” dari alam metafisik? Adakah makhluk di alam ini yang lebih tepat untuk dijadikan dalil tentang wujud Sang Pencipta selain daripada manusia? Adakah keindahan yang lebih sempurna daripada manusia? Atau adakah kesempurnaan yang lebih mengagumkan daripada manusia? Adakah jiwa yang senantiasa merindukan kesempurnaan dan keindahan selain jiwa manusia? Adakah jiwa yang sanggup mengalahkan nafsu amarah dan menjadikannya siap untuk menerima berbagai pengetahuan selain jiwa manusia?

Sehingga, manusia yang sempurna itu adalah sosok pribadi yang telah sampai kepada Yang Maha Esa lewat jalan yang paling sempurna, yaitu cinta. Dan tidak ada dalil yang paling sempurna tentang wujud Sang Pencipta selain ciptaan-Nya yang paling sempurna, yaitu manusia. Tidak ada di alam ini makhluk yang paling sempurna selain manusia. Jika ada yang menyimpang dari kenyataan ini, maka itu sama sekali tidak mengurangi kesempurnaan manusia. Kenyataan bahwa mata kelelawar tidak sanggup melihat cahaya matahari sama sekali tidak mengurangi kesempurnaan matahari. Bahwa tidak sedikit manusia yang tersesat (keliru) dalam memahami kitab suci Tuhan yang mengandung hidayah, cahaya, kebenaran yang nyata dan jalan yang lurus, sedikitpun tidak akan mengurangi kesempurnaan Kitab-Nya sebagai pembawa hidayah dan cahaya kehidupan.

Tapi ingatlah! Orang sakit memang enggan menyantap makanan yang enak. Bahkan orang yang kehilangan rasa mungkin lebih memilih makanan-makanan yang menjijikkan ketimbang makanan yang lezat. Demikian pula dengan jiwa, apabila ia sakit dan lemah daya nalarnya, maka ia akan menyenangi hal-hal yang hina, merasa puas dengannya, dan tidak merindukan nilai-nilai keutamaan hidup. Syahwat dunia, seberapa pun lamanya, hanyalah seperti mimpi. Orang menikmati mimpi hanya selagi ia tidur saja. Begitu bangun, mimpi itu terputus dan yang tersisa hanyalah kesedihan dan penyesalan.

Untuk itu, penyesalan datang atas apa yang telah terjadi ketika tabir disingkap dan tidak mungkin memperbaiki apa yang telah berlalu. Ketika itu penyesalan tiada berguna, kesedihan pun tiada arti. Dan para pemuja nafsu syahwat tidak ada yang kekal dengan kesenangannya, tidak akan ada yang dapat mengobati kesedihan mereka, dan tidak akan ada yang bisa membawa mereka kepada kebahagiaan hakiki di akhirat. Inilah puncak kesengsaraan. Dan baiklah kita selalu memohon perlindungan kepada-Nya dari kesengsaraan itu.

Yogyakarta 29 Mei 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s