Zaman Kehancuran Dunia

Posted on Updated on

perang duniaWahai saudaraku. Mari sejenak kita merenungkan apa yang terjadi di sekitar kita sekarang. Ini tidak bisa lagi ditunda, karena lihatlah, bahwa sejak abad ke-21 saja, Bumi yang kita tinggali ini penuh dengan huru-hara yang memilukan. Baik oleh sebab bencana alam maupun kelalaian dan pertikaian manusia, rasanya dunia ini terus saja mendekat pada jurang kehancuran yang perih.  Apakah ini adalah tanda nyata bahwa zaman akan segera berganti, tapi harus di awali dengan kehancuran yang dahsyat?

Ya. Saat ini orang yang angkuh tidak pernah menyadari keangkuhannya. Lalu ketika orang mengatakan keangkuhannya, ia akan menyerang balik dengan keangkuhan yang sama. Pikirannya tidak lagi jernih. Ia pun akan melihat setiap upaya membukakan kelemahannya sebagai serangan pada dirinya. Mereka yang angkuh ini juga menghabiskan waktu hanya dengan bersenang-senang dan melakukan berbagai atraksi konyol dan pesta yang mewah. Mereka menjadi penyembah duniawi, karena hidupnya hanya dihabiskan dengan mengikuti keinginan dari nafsu yang keliru saja. Mereka sama sekali tidak punya disiplin hidup dan kerendahan hatinya telah sirna. Yang membuat mereka terus tenggelam dalam dosa dan kehinaan.

Padahal ingatlah! Bahwa kehidupan dunia itu seperti roda pedati, yang kadang di atas dan kadang di bawah. Jika saat ini manusia telah sampai pada puncak peradabannya, maka tentu tidak lama lagi akan ada masa kehancurannya. Dan itu tidak semata-mata karena kehendak Tuhan, tetapi lebih kepada akibat dari yang di lakukan oleh manusia sendiri dalam kehidupannya. Dan kini, begitu banyak manusia yang lupa dengan tujuan dan hakekat dari hidupnya sebagai makhluk. Mereka tidak lagi peduli bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan ada kehidupan yang abadi setelah kematian. Dimana setiap orangnya akan dimintai pertanggungjawaban atas semua tindakannya di dunia. Sehingga mereka pun tidak pernah sibuk mempersiapkan bekal yang banyak untuk akherat nanti, dengan banyak berbuat kebaikan.

O… Apa gunanya kita terlahir sebagai manusia jika tidak pernah melakukan perbuatan yang gagah berani? Seorang manusia meskipun diberkahi dengan kesaktian yang luarbiasa, tidak akan menjadi mahsyur jika tidak pernah membuktikan kemampuannya. Semangat adalah cikal bakal keberhasilan. Nasib baik akan menghampiri kita jika kita melakukan tugas dan kewajiban dengan sungguh-sungguh. Bahkan orang yang kuat pun bisa gagal jika ragu-ragu menggunakan kemampuan yang ia miliki. Sebagian orang gagal karena mengabaikan kekuatannya sendiri. Dan kita tahu bahwa kita memiliki kekuatan sejak dilahirkan. Kita tidak perlu takut menggunakan kekuatan itu. Tapi kenapa engkau berpikir kita tidak bisa melakukannya?

Wahai saudaraku. Masa lalu telah berlalu dengan menyenangkan, tetapi masa depan akan menanti dengan kedukaan yang menyakitkan. Dunia telah melewati kegairahan orang muda seperti mimpi indah dan sekarang akan memasuki zaman kepahitan, kedukaan dan penderitaan. Waktu pun terus berjalan dan engkau tidak perlu menunggu untuk menyaksikan kemalangan-kemalangan yang akan menimpa manusia di dunia ini. Sebaiknya engkau segera meninggalkan kejahatan (keserakahan, kemunafikkan, kemaksiatan, kedurhakaan, dll) dari sekarang dan menuju pada kebenaran hidup. Karena hanya dengan begitulah kau akan selamat saat pergantian zaman terjadi nanti – dan itu tidak lama lagi waktunya.

kehancuran dunia

Selain itu, engkau akan mengalami banyak kesusahan dan penderitaan selama bertahun-tahun. Tanda-tanda yang ada kini menunjukkan bahwa akan terjadi kehancuran di antara golongan Timur dan Barat, antara kaum materialis dan spiritualis, dan itu belum selesai dengan banyaknya bencana dan musibah. Dan jauh lebih mengerikan daripada itu, ratusan pemimpin akan tewas, jutaan orang akan binasa, gedung-gedung akan hancur dan tatanan kehidupan yang lama akan berganti baru. Malapetaka ini akan timbul karena permusuhan di antara anak-anak Adam yang lintas bangsa dan agama. Satu di pihak yang benar, dan satunya lagi berpihak pada kejahatan dan keangkaramurkaan. Permusuhan ini akan berujung pada perang terbesar dalam sejarah dunia, yang hampir-hampir menghancurkan dunia itu sendiri. Dan tidak ada yang dapat melawan takdir ini. Sehingga teguhkanlah hatimu dan tegakkanlah keluhuran budi pekertimu. Waspadalah dan ajaklah orang-orang disekitarmu dengan sikap arif bijaksana. Dengan begitu, semoga engkau diselamatkan.

Ya. Nanti dengan cara yang sangat keterlaluan, orang-orang akan bersikap diluar kemanusiaan. Padahal itu akan membuka jalan bagi mereka sendiri untuk menuju kehancuran dan siksaan. Bahkan di masa sekarang, amarah dan kebencian sudah mengantarkan manusia pada penderitaan dan kehancuran, tanpa memandang usia, jenis kelamin atau kondisi. Lalu pada hari-hari yang lebih kemudian, banyak terjadi tindakan-tindakan yang biadab dan tidak menunjukkan sikap kesatria. Padalah kesatriaan dan aturan perang tetap bisa ditegakkan karena manusia memiliki martabat. Tetapi situasi yang pelik dan godaan-gondaan terus muncul hingga sulit ditolak apalagi ketika benih-benih kebencian telah membiak dan bermandikan darah. Bahkan, orang-orang besar pada waktu itu akan melakukan banyak kecurangan dan hal itu menjadi contoh yang sangat buruk bagi yang lainnya. Rasa lapar juga akan menghancurkan akal manusia. Rasa lapar bisa membuat orang-orang meninggalkan jalan kebenaran. Lapar bisa membuat orang berpikiran jahat yang sangat jahat. Bahkan orang yang shaleh sekalipun, karena rasa lapar bisa kehilangan kesabaran dan meninggalkan ketabahan hatinya. Semakin hari kebenaran semakin ditinggalkan dengan mudah dan sering sekali terjadi. Maka, terjadilah kekejaman demi kekejaman dan memunculkan kehinaan, karena dunia sudah terseret dalam lubang gelap kejahatan.

Selain itu, orang-orang juga akan bersikap linglung dan kebingungan, karena ada berbagai macam ketidakberpihakan dalam perang. Ada yang berasal dari pilihan sadar untuk menolak perang, tapi ada pula yang karena alasan kepentingan diri sendiri atau kesombongannya. Ada pula yang diam saja karena takut pada horornya kematian atau memang sudah tidak peduli. Sedangkan pelajaran yang dapat kita petik adalah, menghentikan kejahatan dengan jalan kekerasan dan perang adalah tindakan yang kurang bijak, bahkan sia-sia. Perang yang dimaksudkan untuk tujuan baik adakalanya justru akan menimbulkan ketidakbaikan. Apalagi perang yang di lakukan dengan tindak kekerasan fisik, itu hanya akan menghasilkan sekian banyak tindakan jahat lainnya dan pada akhirnya justru menambah penderitaan dan kejahatan.

Tapi, ini adalah takdir yang telah Tuhan tetapkan sejak awal penciptaan. Kebangkitan dan kehancuran peradaban manusia itu selalu dipergilirkan di antara kaum-kaum yang ada. Semuanya bisa ada karena niat dan perbuatan mereka sendiri. Dan orang yang melawan takdir ini pasti akan tersesat, kehilangan pengetahuan tentang yang baik dan buruk. Sehingga waktu akan meluluhlantakkan semua hal, dan tidak butuh gada yang besar untuk memecahkan kepala mereka yang ingkar. Waktu pun akan meluluhlantakkan pengetahuan dan teknologi yang sangat diagungkan manusia saat ini, padahal sering membuat orang bertindak gila dan mengundang kehancurannya sendiri.

reruntuhan perang

Untuk itu, orang yang dapat menaklukkan dunia adalah orang yang sabar menghadapi caci maki orang lain. Orang yang dapat mengendalikan emosi ibarat seorang kusir yang dapat menaklukkan dan mengendalikan kuda liar. Dia dapat mengambil jarak dari amarahnya seperti ular yang menanggalkan kulitnya. Hanya mereka yang tidak gentar menghadapi siksaan akan berhasil mencapai apa yang dicita-citakan. Seperti yang tertulis dalam kitab suci, mereka yang tidak pernah marah jauh lebih mulia daripada orang yang taat menjalankan ibadah selama bertahun-tahun. Orang yang tidak mampu mengendalikan amarah akan ditinggalkan oleh para sahabat, teman, saudara, keluarga, bahkan kebajikan dan kebenaran. Karena orang yang bijaksana sejatinya tidak akan memasukkan kata-kata “anak muda” yang penuh emosi ke dalam hatinya.

Begitu pula seorang pemimpin selain harus memiliki nama besar, juga harus memperlihatkan kekuatan tindakan. Tidak ada yang akan percaya pada kekuatan yang tidak pernah diperlihatkan. Urusan kenegaraan harus dirahasiakan tapi bukti nyata suatu rencana yang bijaksana adalah pelaksanaannya. Selain itu, yang jahat harus segera diberangus habis, karena jika dibiarkan hanya akan menjadi duri yang membusukkan daging. Tidak hanya musuh yang kuat, musuh yang lemah juga tidak boleh diabaikan begitu saja. Karena bahkan bara api yang kecil dapat menimbulkan kebakaran besar di hutan yang luas.

Wahai saudaraku. Kehidupan keluarga yang baik dengan kebudayaan dan kebahagiaan hanya mungkin terjadi di negara yang diperintah oleh pemimpin yang shaleh dan kuat. Harta benda dan harta kekayaan lain apapun itu juga tidak akan aman jika tidak ada pemerintahan yang kuat melindunginya. Karena itulah, hanya mereka yang dapat menghindarkan diri dari musuh-musuh yang licik bisa lepas dari bahaya. Ada banyak senjata yang lebih tajam daripada senjata dari besi dan baja. Dan orang bijaksana yang dapat melepaskan diri dari kehancuran pasti tahu cara melindungi diri. Sebab, api yang menghanguskan hutan belantara tidak akan dapat membakar tikus yang bersembunyi di dalam lubang atau landak yang menggali lubang di dalam tanah tidak akan terkena api kebakaran hutan. Begitu pun orang yang bijaksana pasti bisa membaca peruntungannya hanya dengan melihat fenomena alam dan rasi bintang-bintang di langit. Masalahnya kini, ada berapa banyak orang yang hidup dalam kebijaksanaan?

Untuk itu, penampilan atau usia bukan ukuran untuk menilai kedalaman pengetahuan dan pemahaman seseorang. Orang tua yang berpenampilan zuhud mungkin saja bodoh dan tidak tahu apa-apa. Begitu pula rambut beruban dan jenggot yang menjuntai bukanlah cerminan kematangan jiwa seseorang. Karena orang yang benar-benar matang adalah orang yang telah mempelajari dan memahami kitab suci, menguasai isinya dan meresapi ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga belajarlah dari sikap seorang perempuan yang sejati. Karena apakah ada yang lebih mengagumkan daripada kesabaran dan kesucian seorang perempuan? Ia melahirkan anak, setelah menantikan dan menjaganya seperti nyawanya sendiri selama sembilan bulan. Ia lalu melahirkan anaknya itu ke dunia dengan rasa sakit dan kecemasan yang luarbiasa. Setelah itu, satu-satunya hal yang ia pikirkan hanyalah kesehatan dan kebahagiaan si anak. Dengan hati seluas samudera dan penuh pengampunan, seorang perempuan sejati juga terus mencintai si anak meski ia durhaka, atau sayang pada suaminya, meskipun ia kasar dan jahat, menyia-nyiakan, membenci dan membuatnya menderita. Sungguh, betapa anehnya dunia ini jika engkau tidak mau belajar.

Untuk itu saudaraku, manusia bisa mencapai kesempurnaan jika selalu tekun dan ikhlas menjalani setiap tugas yang dipercayakan kepadanya, khususnya tentang amanah menjadi khalifah (pemimpin) di muka Bumi ini. Ketekunan dan keikhlasan inilah bentuk sujud bakti kita kepada Yang Maha Kuasa. Kewajiban ini mungkin adalah pekerjaan yang ditekuni di masyarakat atau mungkin yang dipaksakan oleh keadaan atau hasil pilihan sadar. Namun demikian, yang paling penting adalah semangat keikhlasan dan kesetiaan dalam menjalankan kewajiban tersebut.

Pun, jika merenung sedikit lebih dalam, maka orang akan bisa melihat secara lebih jelas. Kita perlu mengingat bahwa orang yang bijak sekalipun tidak luput dari kesalahan – meskipun sedikit sekali. Karena seterpelajar apapun seseorang harus tetap waspada dan rendah hati jika ingin menghindari perbuatan yang melanggar hukum Tuhan. Namun kini, justru film-film moderen bahkan menampilkan banyak hal yang jahat dan immoral. Apapun alasan yang dimunculkan oleh sang protagonis, maka yang jahat ditampilkan dalam bentuk dan wujud yang menarik, sehingga bisa membuai dan membujuk orang-orang untuk menempuh jalan yang bertentangan dengan kebenaran.

Dan kenyataannya kini, sebagian besar dari kita bahkan tidak merasa perlu untuk berjuang mencapai kesempurnaan hidup. Banyak dari kita yang cukup puas dengan suara tradisi dan otoritas klasik. Dari antara mereka yang berjuang mencari kebenaran dan mencapai yang dicitakan, hanya sedikit yang benar-benar berhasil. Dan dari antara yang beroleh kesempatan melihat kebenaran, bahkan tak satupun belajar menjalani dan menghidupinya.

kebaikan

Ya. Pada umumnya manusia cenderung meremehkan orang-orang yang berkemampuan lebih rendah. Yang kaya melecehkan yang miskin, yang cantik meremehkan yang berwajah biasa-biasa saja, yang kuat merendahkan yang lemah, yang pemberani meremehkan yang penakut. Lalu di dunia ini kini juga banyak sekali orang yang merasa iri pada orang lain karena ia lebih baik keadaannya. Kemudian ia tidak bisa menerima kenyataan. Hal ini sebenarnya aneh, sebab orang tidak perlu merasa menderita disebabkan kebaikan orang lain. Karena seharusnya ia turut berbahagia, karena dengan begitu suatu saat nanti ia juga akan mendapatkan banyak kebaikan. Yakinlah tentang hal ini!

Makanya, dorongan hasrat keinginan dan nafsu harus digantikan dengan pengetahuan tentang tindakan yang benar. Tapi ketika tujuan yang paling tinggi yaitu kebebasan jiwa telah tercapai, individu tidak lagi bertindak berdasarkan insting ataupun aturan hukum, melainkan dari wawasan yang dalam tentang jiwa semua kehidupan. Namun pada umumnya, kita bertindak berdasarkan hasrat keinginan pribadi, baru kemudian menyesuaikan tindakan-tindakan kita dengan tatanan yang ada dan bertindak seturut aturannya.

Ya. Agama bukanlah upaya untuk menyeragamkan masyarakat – yang jelas tidak mungkin – tapi sebuah upaya untuk menyatukan berbagai perbedaan. Meskipun demikian, setiap individu mempunyai peran yang sama penting bagi masyarakat. Sumbangsih atau peran serta setiap pribadi, dengan situasi dan posisi yang berbeda-beda, sama pentingnya bagi dunia. Setiap individu itu ikut berperan bagi kebaikan bersama dengan cara yang berbeda-beda, dengan menyediakan kebutuhan-kebutuhan mendasar yang disadari semua dan menghayati kehidupan mereka sendiri serta melakukan kegiatan kerja yang mengungkapkan kebenaran dan keindahan. Sedangkan masyarakat adalah organisasi fungsional dan semua fungsi yang menjadi kesehatan setiap individu harus dipandang setara atau sama penting. Karena setiap individu yang mempunyai bakat kemampuan yang berbeda-beda terikat bersama di dalam sistem sosial organik yang hidup.

Untuk itu, manusia yang sejati adalah pribadi yang tahu bahwa ia berada dalam keadaan transisi. Ia menyadari tujuannya lalu bangkit meninggalkan dunia kebinatangan dan mencapai cita-cita Ilahiah. Sehinga ketika ia telah mencapai kebebasan yang hakiki, maka ia akan melakukan kerja sebagai alat di tangan Tuhan dan untuk menjaga tatanan kosmik. Ia melakukan tindakan-tindakan, bahkan yang besar, tanpa pamrih atau hasrat keinginan yang egoistik, tapi karena tugas kewajiban yang telah ditakdirkan. Dan yang penting bukanlah pekerjaannya, tapi semangat atau niat yang menjiwai tindakan itu.

Makanya, kebahagiaan adalah cita-cita hidup yang universal. Memang, kebahagiaan ini dapat dibedakan menjadi tiga hal yang dominan dalam sifat kita. Jika sifat tamasa yang dominan, maka kita akan terpuaskan dengan kekerasan, kemalasan, kedunguan, dan kekeliruan. Jika sifat rajasa yang dominan, maka kekayaan, kekuasaan, kebanggaan, dan kejayaan akan membuat kita bahagia. Sedangkan jika sifat sattvika, maka rasa cinta dan kasih sayang, tolong menolong, kesetiaan, rendah hati, kesederhanaan hidup, kejujuran dan keadilan akan membuat kita bahagia. Sementara kebahagiaan yang sejati tidak terletak pada kepemilikan hal-hal duniawi, melainkan pada kepenuhan atau kesempurnaan pikiran dan jiwa, pada kematangan apa yang ada di dalam diri kita. Mungkin saja itu berarti kita harus merasakan sakit dan pengekangan diri yang berat, tapi itu akan membawa kita pada kebahagiaan dan kebebasan. Kita bisa mencapai kedamaian dan kebahagiaan hati yang abadi, kebahagiaan jiwa yang sejati, ketika sudah menjadi satu dengan Diri Tertinggi dan menjadi satu dengan semua makhluk.

Lalu ada hal yang harus di lakukan oleh seseorang demi hadirnya kebahagiaan sejati. Yaitu membuka pintu kebahagiaan dengan membuka tiga tirai yang menyelubungi hati seorang peziarah. Ketiganya harus dibuka satu persatu. Tirai pertama, ia tak boleh tergoda oleh pujian atau kemurahan hati, karena ia yang mudah tergoda adalah orang yang berjiwa lemah. Orang yang mudah tergoda dengan hal ini akan terhalang dari kebenaran, karena seorang peziarah itu harus selalu berpikiran mulia. Tirai kedua, jika kepemilikan di kedua dunia ditawarkan kepadanya sebagai rahmat pemberian yang abadi, ia tak boleh bergembira, karena dia yang berbahagia atas hal-hal yang fana adalah orang yang masih tamak. Lalu tirai ketiga, jika ia mempunyai kekuasaan di kedua dunia dan kekuasaan itu harus diambil daripadanya, ia tak boleh bersedih atas hilangnya kekuasaan itu. Karena kesedihan adalah tanda amarah dan ia yang hanyut dalam amarah akan sengsara.

Untuk itu, hati yang penuh dengan kebencian tidak akan pernah mengenal kata puas. Kebencian adalah bara api kejam yang menghabiskan energi orang yang menghidupinya. Begitu pun rasa takut itu bersifat instingtif, meskipun bisa dikalahkan dengan kekuatan kehendak atau kekuatan pendorong yang kuat, seperti cinta, rasa malu atau benci atau yang lebih umum dengan disiplin. Bahkan mereka yang melakukan tindakan-tindakan yang berani atau heroik telah mengatakan bahwa mereka pernah merasa takut ketika pertama kali menghadapi bahaya. Itu lumrah dan manusiawi, hanya saja tinggal siapakah yang mampu menjadikan ketakutan itu sebagai pengingat dan bukanlah ancaman yang menakutkan. Sedangkan tentang kebencian, maka siapapun harus membuangnya jika ingin berbahagia.

*****

Ya. Hukum sebab akibat dan kematian itu saat ini sudah terlihat sangat nyata. Karena hukum ini bisa mewujud dalam berbagai bentuk, seperti perang, wabah penyakit, bencana alam dan azab Tuhan. Hukum ini menjaga keseimbangan antara kelahiran dan kematian. Dengan demikian, kematian merupakan hukum kehidupan yang tidak bisa dielakkan dan memang dimaksudkan untuk kebaikan dunia. Sehingga tidaklah bijaksana menyesali kematian atau terlalu bersedih karena kematian seseorang – atau bahkan satu bangsa. Tidak ada alasan untuk menyayangkan kepergian mereka – terlebih saat mereka telah ingkar kepada aturan Tuhan – yang telah pergi menghadap kepada Yang Maha Pencipta. Karena ada lebih banyak alasan untuk bersedih bagi mereka yang masih hidup, terlebih saat mereka tetap beriman dan bersikap baik.

Memang ketidaksempurnaan dan kedosaan membuat kita mengingkari dorongan Ilahi dalam hati kita. Sehingga bertobatlah segera wahai saudaraku. Karena tanpa kembali kepada Tuhan dengan sepenuh hati, dosa tindakan masa lalu takkan bisa dibersihkan. Tapi jika bertobat setelah melakukan dosa, kau akan dibebaskan dari dosa. Lalu jika kau berteguh niat tak akan berbuat dosa lagi, maka dirimu akan disucikan. Karena Tuhan itu Maha Pengampun dan Pemberi karunia. Bahkan seorang pendosa pada titik kedosaan yang paling dalam sekalipun merasakan adanya cahaya terang di dalam batinnya. Cahaya terang itu tak mungkin padam – tetapi bisa semakin redup, meskipun seseorang berusaha mematikan dan mengabaikan sepenuhnya. Karena Tuhan tetap memegang kita – seburuk apapun kita jatuh ke dalam kedosaan – dengan akar-akar keberadaan kita dan selalu siap mengirimkan cahaya terang ke dalam hati kita yang pekat dan memberontak.

meditasi

O… Kualitas iman seseorang tidak tergantung pada ketaatan pada ajaran kitab suci, melainkan pada watak dan penghayatan hidup (bakti) yang ia jalani sehari-hari. Iman bukanlah penerimaan suatu keyakinan saja. Ia adalah perjuangan untuk mencapai kesejatian diri dengan memusatkan kekuatan pikiran dan rasa di hati pada suatu cita-cita tertentu – yang tentunya mulia. Iman juga merupakan anugerah Tuhan kepada umat manusia, kekuatan yang mendorong umat manusia pada sesuatu yang lebih baik – tidak hanya dalam tatanan spiritual, tapi dalam seluruh tatanan kehidupan pengetahuan dan peradaban. Iman itu adalah cahaya kebenaran di dalam hati, menunjukkan kepada manusia suatu cita-cita luhur yang kelak akan memancarkan cahaya yang lebih penuh dan utuh. Sehingga menimbulkan kesejahteraan dan kedamaian hidup.

Tapi, di mata mereka yang belum mengalami pencerahan, di mata mereka yang pengertiaannya masih tertipu ilusi keanekaragaman fenomena nama dan wujud yang dimunculkan kebodohan, maka Yang Ilahi akan tampak tak dikenal, sulit dimengerti, amat jauh dan seolah-olah Dia adalah entitas yang terpisah dari dirinya. Padahal tidak dibutuhkan bukti apapun untuk mengetahui tubuh atau badan kita sendiri, demikian pula untuk mengetahui Diri Yang Agung, yang bahkan jauh lebih dekat daripada tubuh. Dan jika kita meninggalkan apa yang tampak dan melatih pengertian kita, semua ini akan bisa kita mengerti dengan mudah.

Lalu, dengan mengikuti bimbingan-Nya dalam pikiran, aspirasi dan usaha kita, secara bertahap kita akan mewujudkan kehendak Sang Maha Kuasa. Apa yang kita sebut agama adalah sebentuk penghayatan hidup yang mensyaratkan penghormatan pada hak setiap individu untuk menjadi seorang pribadi yang utuh, entitas yang lengkap. Kita tidak boleh memandang rendah orang lain, siapapun dia, karena setiap orang itu bisa melakukan sesuatu yang tak bisa di lakukan oleh orang lain. Sehingga bekerjasamalah, dengan begitu maka kehidupan ini akan lebih baik dan indah. Karena pribadi yang hidup dalam kesadaran spiritual yang lebih dalam tidak akan merasa perlu untuk melakukan tindakan yang salah. Karena tindakan yang jahat berasal dari kedunguan dan kesadaran yang terpisah. Kesadaran yang telah menyatu dengan Diri Tertinggi pasti akan menghasilkan tindakan yang benar, sehingga membawa kesejahteraan dan kebahagiaan.

Untuk itulah, jika dunia ini bisa dipenuhi dengan aturan Tuhan, maka kehidupan akan mengikuti tatanan yang mapan. Dengan tatanan yang paripurna itu, maka hadirlah kesejahteraan dan kedamaian di antara bangsa-bangsa di dunia. Semua itu bisa terjadi, karena segala yang diterapkan berasal dari Yang Maha Pencipta, Tuhan yang mengetahui segala kebutuhan makhluk-Nya. Tapi kaum materialistik menolak tatanan ini. Mereka percaya bahwa tidak ada tatanan yang teratur dan berpendapat bahwa semuanya muncul begitu saja – padahal sangat jelas mana ada yang kebetulan. Mereka juga percaya di dunia ini tidak ada tatanan yang teratur dan yang ada di dunia itu hanyalah kenikmatan duniawi. Sehingga dengan pandangan inilah, kaum materialistik mengajak manusia untuk makan, minum, dan bersenang-senang sepuasnya tanpa batas, karena anggapan mereka semua orang pasti mati dan tidak ada kehidupan setelah kematian.

Lalu kini, engkau saudaraku. Kepada siapa engkau bergabung? Kepada mereka yang mengikuti Tuhan, atau mereka yang selalu menyembah duniawi?

Yogyakarta, 25 Mei 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

2 thoughts on “Zaman Kehancuran Dunia

    Diella Hasan said:
    Mei 27, 2015 pukul 4:18 am

    TERBAEK RENCANA ANDA……..

      oedi responded:
      Mei 30, 2015 pukul 9:41 am

      Syukurlah kalau suka dengan tulisan ini, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga tetap bermanfaat..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s