Cinta Suci Para Pecinta Sejati

Posted on Updated on

cinta-suciWahai saudaraku. Telah berlaku tradisi Ilahi dan hikmah ke-Tuhanan bahwa cahaya bertalian dengan kerangka fisik, ruh dengan jasmani, makna dengan kemasan lahir, dimana itu semua sebagai sebuah jalinan “halus kasar” atau “tinggi rendah”, agar yang dekat (rendah) menunjukkan keberadaan yang jauh (tinggi) dan yang lahir menunjukkan keberadaan yang batin. Oleh karena itu, seorang pecinta berdalil akan keberadaan penghuni dengan adanya rumah.

Sehingga, ketahuilah bahwa Yang Maha Kuasa telah “menampakkan” Diri-Nya pada hamba-hamba-Nya – meski tidak semuanya – pada segala sesuatu. Mereka dapat menyaksikan-Nya pada segala yang mereka saksikan dan dapat mengamati-Nya bersama segala yang wujud. Itu bisa terjadi ketika mereka kehilangan kesadaran diri (keadaan ekstasi) karena terpana “menyaksikan” Dzat-Nya, tapi bukan dalam makna al-hulul (menyatukan diri dalam Dzat-Nya). Sebab al-hulul merupakan salah satu sifat makhluk yang tidak mungkin Dia terkena sifat ini. Ketika itu seorang hamba akan menyaksikan Tuhannya, seakan-akan Dia, dan tidak ada yang lain selain-Nya, dan Dia kini seperti apa ada-Nya. Inilah penafsiran yang benar untuk kondisi-kondisi ruhani yang biasa dialami oleh para pecinta saat mereka larut dalam “bercengkerama” dengan-Nya dan “mabuk” dalam kondisi itu.

Untuk itu, selama seorang pecinta belum sampai pada maqam (kedudukan ruhani) melebur dengan sang kekasih, tabir-tabir penghalang antara dirinya dan kekasihnya tidak pernah sirna. Tabir-tabir itu banyak sekali, tetapi sebagiannya lebih tipis dan lebih berkilau dari sebagian yang lainnya. Setiap kali ia berhasil melewati satu tabir, maka jiwanya terpacu untuk melewati tabir berikutnya dan begitu seterusnya. Hal ini berlangsung hingga seluruh tabir terlewati dan lenyap saat bersatu dengan kekasihnya. Tabir-tabir itu merupakan penghalang dari hakekat penyaksian. Tabir terakhir adalah apabila si pecinta masih melihat dirinya pada saat menyaksikan kekasihnya. Apabila si pecinta masih melihat dirinya saat menyaksikan kekasihnya, itu merupakan tabir yang masih menghalangi dan mengaburkan hakekat penyaksian. Tabir ini akan sirna apabila si pecinta meleburkan dirinya ke dalam diri kekasihnya saja. Hanya dalam keadaan seperti itulah ia akan menyaksikan hakekat kekasihnya apa adanya. Selama ia belum bisa meleburkan dirinya ke dalam diri kekasihnya, ia tidak akan bisa menyaksikan kekasihnya secara apa adanya. Ia hanya bisa mengetahui sedikit dan itu pun tidak sesuai dengan hakekat kesempurnaan kekasihnya.

Makanya, selama diri si pecinta masih terpisah dengan diri kekasihnya, maka selama itu pula ia tidak akan menyaksikan hakekat kesempurnaan dan keindahan kekasihnya saat penyaksian. Jika penyaksian ini mencapai kesempurnaannya, maka tidak ada yang lebih nikmat, lebih agung dan lebih mulia di alam wujud ini selain darinya. Dan apabila kesempurnaan penyaksian ini berhasil diraih, maka redalah kerinduan yang menggelora dan menjadi sumber kegelisahan jiwa. Kerinduan pun berubah menjadi kenikmatan murni tanpa ada resah dan gelisah. Berbeda halnya dengan kerinduan, yaitu kenikmatan berbaur kegelisahan, maka kenikmatan murni ini merupakan salah satu konsekuensi dari cinta. Kenikmatan murni tersebut menggerakkan jiwa dengan sangat kuat untuk mencapai tingkat kesempurnaan itu, yaitu penyaksian sejati, dan tidak rela dengan apapun selainnya.

jiwa

Ya. Sifat-sifat yang dimiliki oleh Kekasih; Tuhan, meski jumlahnya tak terhingga, namun dari waktu ke waktu datang bergantian dan berbeda-beda sesuai perbedaan keadaan di setiap zamannya. Dan secara umum sifat-sifat itu terbagi menjadi tiga, yaitu:

1. Keindahan
Artinya, sifat-sifat-Nya yang menimbulkan kekaguman dalam jiwa seperti murah hati, kebaikan, kasih sayang, kelapangan, kelembutan yang menyeluruh, keramahtamahan yang sempurna, terbuka, mudah ditemui, akrab, bersahabat, dan menyenangkan.

2. Keagungan
Artinya, sifat-sifat-Nya yang mengindikasikan keagungan, kemuliaan, keperkasaan, kebesaran, kekuasaan, ketegasan, kekuatan dan semacamnya. Pada saat yang sama, sifat-sifat ini dalam diri si pecinta menimbulkan perasaan hina, rendah, kecil, miskin, tidak berdaya, dan berada dalam genggaman keagungan dan keperkasaan-Nya. Akibat perasaan ini, maka semua yang dimilikinya seperti ditelanjangi dan semua sifat dirinya seperti dipereteli.

3. Kesempurnaan
Artinya, sifat-sifat-Nya yang tidak pantas kecuali untuk-Nya saja, seperti ilmu, kodrat, takdir, ketunggalan dalam mencipta dan mengadakan makhluk, kaya secara mutlak, keberdirian; yang dengannya segala yang wujud berdiri, kemandirian mutlak, ketinggian derajat, kewibawaan sempurna, cahaya yang melimpah kepada segenap alam wujud dan dengannya semua yang wujud ada. Disisi lain, sifat-sifat ini menimbulkan kecintaan dan kerinduan akan kesempurnaan pengetahuan tentang-Nya (makrifat) dalam diri si pecinta, dimana tidak ada yang mengetahui hakekat dirinya selain Penciptanya.

Untuk itu, setelah jiwa berhasil menangkap gambaran-gambaran ruhaniah oleh dirinya sendiri tanpa membutuhkan bantuan indera, dan setelah yakin bahwa apa yang ia dapatkan merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda alam tinggi (alam metafisik), maka muncullah dalam dirinya kerinduan pada keseluruhan alam itu. Dan ketika itu, ia siap untuk menerima keindahan yang utuh dan menyeluruh yang berasal dari alam metafisik. Maka mengalirlah kepada jiwa keindahan yang utuh dan menyeluruh dari alam bertabur cahaya dan ia pun menikmati keindahan itu. Oleh karena ia begitu menikmati keindahan sejati itu, maka ia menganggap kecil keindahan-keindahan jasmaniah-insaniah.

Ya. Kegembiraan hati itu adalah karena menyaksikan keindahan sang kekasih tanpa merasa dipantau oleh orang lain, bahkan lupa akan masa lalu dan yang akan datang. Keadaan ini menimbulkan keceriaan dan kegembiraan bagi diri si pecinta, karena hidupnya terasa begitu menceriakan. Dalam suasana penuh suka cita dan kegembiraan ruhani, ia merasa bahwa seluruh isi semesta menemaninya menikmati keceriaan waktunya dan ikut merasakan dan menyaksikan itu semua di taman terbuka bertabur cahaya. Di sekelilingnya bunga-bunga yang mekar menawarkan keceriaan dan menghembuskan wewangian, angin-angin sepoi-sepoi menambah suasana gembira bagi hati yang sedang bersuka cita. Lalu ditemani orang terkasih dengan wajah yang tidak hentinya mengumbar senyum penuh makna dan keindahan yang mempesona.

Selain itu, ketika seorang pencinta merindukan hembusan angin keindahan, dan ketika untuk sementara waktu tertutup baginya kilauan cahaya keagungan, ia bangkit untuk menyusuri jejak keindahan yang dirindukan dan mencari berita tentang keagungan yang didambakan. Ia berjalan di sela-sela reruntuhan, sesekali langkahnya terhenti dan jiwanya bertanya-tanya dimana gerangan kekasihnya berada, dimana kiranya ia bersembunyi. Manakala tak ada seorang pun yang tahu dimana kekasihnya berada, maka ia sendiri yang harus mencari dan menyusuri jejaknya meski sulit dan jauh. Karena di antara tanda jiwa yang merdeka adalah merindukan tempat dimana cinta berada, menuju arah dimana kiranya kekasih itu berada, merindukan waktu dimana ia bisa bertemu dengan yang dikasihi.

wallpapers-nature-ocean-natural-beautifull-sea-beauty-landscapes-beach-149295

O… Orang yang mendapat petunjuk dari Tuhan mempunyai cara untuk meningkatkan cintanya pada tingkat cinta yang lebih tinggi lagi. Yaitu dengan menyadari bahwa kekasihnya yang sesungguhnya adalah gambaran (makna) yang ia miliki tentang kekasihnya. Ia sadar bahwa kerangka dan bentuk fisik hanyalah unsur-unsur sekunder yang datang melengkapi makna itu. Dan seandainya makna itu meninggalkan kerangka dan bentuk fisik, maka kerangka dan bentuk fisik itu bukanlah apa-apa. Ketika sadar akan hal ini ia akan lebih condong pada makna yang sejatinya; tidak memerlukan unsur-unsur tambahan (polesan), sehingga kemudian makna ini melekat dan berpadu dengan jiwanya dalam perpaduan cinta. Dengan makna ini jiwa pun menjadi lembut, bersinar, siap menerima cahaya suci lagi mulia, dan melihat makna-makna ruhaniah dalam dirinya, serta senantiasa mencari makna yang lebih mulia hingga mencapai kesempurnaan yang telah diperuntukkan baginya.

Untuk itu, jelas sudah bahwa kecintaan Tuhan pada hamba-Nya adalah yang hakiki dan dengannya kecintaan hamba kepada-Nya terjadi. Kalau tidak ada kecintaan Tuhan pada hamba-Nya, maka di dunia ini tidak akan ada yang namanya cinta sama sekali. Cinta Tuhan kepada makhluk-Nya merupakan simpul besar yang kepadanya segala ikatan cinta – baik yang terjadi di langit maupun yang di bumi – merujuk. Segala jalinan cinta makhluk adalah dari, oleh dan untuk cinta-Nya.

Selanjutnya, jika dirimu benar-benar memperhatikan, engkau akan mendapati bahwa seluruh penjuru semesta itu merupakan tempat dimana kau bisa menemukan Sang Kekasih, tempat cahaya-Nya. Bahkan pada setiap butir pasir di pesisir pantai kau bisa menjumpai jejak-Nya. Engkau juga akan mendapati seorang pecinta pada hakekatnya ia adalah “penjelmaan” Kekasihnya dari segenap relung hatinya dan seluruh ufuk jiwanya. Kemudian pandanglah dengan pandangan yang sungguh-sungguh, maka engkau akan mendapati bahwa bentuk luar dari segala sesuatu mengingatkan dan menunjukkan akan inti dan makna ruhani yang dikandungnya. Dirimu juga akan melihat bahwa memperhatikan bentuk-bentuk lahir dari sesuatu akan mendorong pada tergalinya rahasia-rahasia di balik bentuk-bentuk lahir itu. Oleh karena itu, syariat datang dengan menghargai bentuk-bentuk formal seraya menunjukkan makna-makna dan ruh (semangat) batiniah. Di antaranya dengan menghormati mushaf Al-Qur`an sebagai bentuk formal yang menunjukkan makna-makna kalam Tuhan; Allah SWT.

O.. Jika seorang pecinta telah dikuasai oleh cinta, “mabuk” dengan “tuaknya”, terkurung  di lembahnya dan terbakar oleh api kerinduan yang membara, serta cinta yang bergelora, maka ia akan mendekati apa saja yang mempunyai hubungan dengan kekasihnya dan melakukan apa saja yang ia nilai dapat mempertemukannya dengan kekasihnya itu. Lalu setelah ia sadar dari “mabuknya” itu dan kembali menguasai diri setelah berada di lembah kebingungan, ia melihat bahwa memperhatikan bentuk-bentuk fisik dan bagian luar saja teryata merupakan penghalang baginya untuk menyaksikan si pemilik sejati keindahan, dan bahwa mengarahkan penglihatan pada benda-benda fisik inderawi semata merupakan kendala bagi diperolehnya hakikat keindahan.

Yosemite National Park

Sehingga pilihannya adalah sering bangun malam dalam heningnya ibadah dan tafakur. Karena orang yang terbiasa bangun malam dapat melihat Yang Ilahi dengan hatinya, sehingga hatinya yang tercerai berai jadi menyatu, melebur menjadi satu, dan menyebabkan runtuhnya penghalang antara dirinya dan Tuhannya. Ia pun akan meleburkan bangunan fisik dan menyisakan inti sari, serta menyebabkan hilangnya perantara. Oleh karena itu, tidak ada yang menetap dalam dirinya kecuali Yang Ilahi. Ia tutup mulut dan tidak bergerak. Tidak ada kesenangan atas sesuatu sehingga keadaan ini telah benar padanya. Apabila ia telah benar, maka sempurnalah urusan haknya. Pada tahap awal ia keluar dari penghambaan dan peribadahan kepada dunia, lalu dari makhluk, kemudian ia pun keluar dari segala sesuatu selain-Nya secara menyeluruh. Sehingga ia bisa terus dalam hubungan dengan-Nya.

Selain itu, setiap orang yang telah benar dan baik agamanya akan melakukan sesuatu yang bermanfaat dan berpaling dari sesuatu yang sia-sia. Menyibukkan dirinya dengan sesuatu yang tidak bermanfaat merupakan kesia-siaan, dan menghalangi ridha Ilahi. Barangsiapa yang tidak menyibukkan dirinya dengan perintah Tuhan, maka ia akan disibukkan dengan sesuatu yang dilarang oleh-Nya. Ini merupakan penghalang dan kematian baginya. Kesibukkanmu dengan dunia ini membutuhkan niat yang shalih, dan bila tidak berniat shalih, maka engkau akan celaka dan dibenci. Sehingga sibukkanlah dirimu dengan membersihkan hati terlebih dulu, karena hal itu merupakan amalan wajib. Kemudian arahkan pandanganmu ke arah makrifat (mengenal Tuhan). Bila kau menyia-nyiakan yang pokok, maka kesibukannya dengan yang cabang tidak akan diterima. Tidaklah bermanfaat kebersihan anggota tubuh bila hatimu kotor. Bersihkan anggota tubuhmu dengan yang sunnah tapi hatimu dengan yang wajib. Jagalah hatimu, sehingga ia akan memelihara anggota tubuhmu.

“Segala sesuatu yang berada di dalam hatimu akan berpengaruh terhadap anggota tubuh dan kelakukanmu. Karena setiap wadah berpengaruh terhadap apa yang berada di dalamnya. Sehingga jadilah orang yang berakal dan berhati nurani yang bersih”

*****

Ya. Hati seseorang bila sudah benar dan bersih, maka akan mendengarkan panggilan Tuhan dari berbagai arah. Ia juga mendengarkan seruan dari para Nabi dan Rasul, orang-orang shalih dan para wali untuk berlaku benar dalam kehidupan ini. Saat itu dia akan dekat dengan Tuhannya, sehingga ia pun merasa hidup bila dekat dengan-Nya seperti mati bila jauh dari-Nya. Dia akan rela dalam munajat pada-Nya, menerima segala sesuatu yang datang dari-Nya, bahkan tidak peduli bila dunia lenyap darinya. Tidak mempedulikan lapar, haus dan letih, karena itulah keindahan orang yang berkehendak untuk berbuat taat dan keindahan bagi orang bijak yang kedekatannya dikehendaki oleh-Nya.

Namun, setiap wadah itu memercikkan apa yang terdapat di dalamnya. Dan saat ini banyak pribadi yang menaruh air comberan dalam wadahnya, sementara ia mengharap percikan air bunga mawar. Tiada kemuliaan baginya. Ia beramal di dunia semata-mata demi dunia, tetapi ia mengharapkan akhirat dapat di raih. Jelas, nanti tidak ada kemuliaan baginya, karena ia beramal semata-mata demi makhluk, tetapi berhasrat untuk bertemu dengan Sang Khalik, dekat dengan-Nya dan meraih cinta-Nya dengan bisa memandang-Nya pula. Pasti kelak tidak akan ada kemuliaan bagi mereka yang seperti ini, karena hal ini adalah sesuatu yang sangat jelas dan lumrah.

sujud

Untuk itulah, bila seseorang membersihkan hati dari segala sesuatu selain-Nya, maka ketika ia mencintai akan berubah menjadi orang yang dicintai. Begitupun seorang yang sempurna akan menjadi hamba yang dicintai, hilang darinya segala kecelakaan dan datanglah ketenangan yang sesungguhnya. Bahkan bila hati seseorang telah sampai kepada Yang Ilahi, maka ia bisa sangat dekat dengan-Nya dan langsung bermunajat kepada-Nya. Ia juga bisa merasakan ketenteraman disisi-Nya, sehingga tidak ingin kembali kepada selain-Nya. Sehingga sampainya hati pada kedudukan ini adalah dengan menunaikan semua kewajiban, sabar dalam menjauhi yang haram dan syahwat, serta berusaha meraih segala sesuatu bukan dengan hawa nafsu, melainkan dengan rasa cinta yang tulus. Dengan begitu, Tuhan akan memberinya makanan anugerah dan minuman ramah tamah. Saat itu dia akan melihat sesuatu yang belum disaksikan oleh mata, di dengar oleh telinga dan belum terlintas di dalam pikirannya. Karena kembalinya seorang hamba Tuhan merupakan sebab diberinya hidayah dan kerajaan. Caranya dengan tetap mencintai-Nya tanpa pernah menduakan-Nya.

Tapi ingat! Tidaklah sempurna berpuasa di siang hari dan shalat serta dzikir di malam hari, bersikap sederhana dalam makan, minum dan berpakaian, jika disertai nafsu pamrih, tabiat, kebodohan dan memandang makhluk. Semua itu tidak dapat mengantarkan dirimu kehadirat Tuhan, karena justru engkau akan celaka dan menyesal. Tapi berbuatlah ikhlas, maka kau akan direlakan-Nya. Berbuatlah dengan benar, sungguh kau akan diantarkan pada cita-citamu, serta kedudukanmu ditinggikan. Berserah dirilah, maka kau akan selamat. Lalu sesuaikanlah dirimu dengan kehendak-Nya, maka Dia akan memberi kesesuaian padamu. Ridhalah, maka kau akan diridhai-Nya. Dan bergegaslah, sungguh Tuhan telah menyempurnakanmu.

Lalu, hendaklah berada pada barisan pertama (dalam urusan kebenaran), karena itu merupakan barisan orang yang berani. Jauhilah barisan belakang, karena itu adalah barisan orang-orang pengecut dan pecundang. Persiapkanlah dirimu dengan tekad yang kuat. Karena orang yang tidak memilikinya tidak akan mampu mengangkat beban masa depan, sebab ia masih tertidur sementara segala beban ada padanya. Bersikap zuhudlah terhadap segala sesuatu dengan benar saat kau punya kekuatan iman dan keyakinan, sehingga kau menjadi salah satu dari hamba Tuhan, bukan menjadi hamba dunia ataupun hamba dari makhluk. Karena engkau tidak akan melangkah menuju pintu Tuhanmu bila kau selalu bersama nafsu dalam rumah tabiatmu.

Dan taatilah Tuhanmu, karena Dia memuliakan orang-orang yang menaati-Nya. Cintailah Tuhanmu dan janganlah bermaksiat kepada-Nya, karena orang yang bermaksiat kepada-Nya akan menjadi hina dina. Pertolongan dan kehinaan itu selalu di tangan-Nya. Dia memuliakan orang yang Dia kehendaki dengan pertolongan dan taqarrub (mendekatkan diri kepada Tuhan), dan menghinakan orang-orang yang Dia kehendaki dengan ilmu, kebodohan dan kehancuran.

Yogyakarta, 20 Mei 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s