Sang Avatar Nusantara

Posted on Updated on

avatarSudah saatnya para spiritualis di bumi Nusantara ini mulai bersatu kembali dalam satu misi dan visi kehidupan. Segala pertikaian remeh temeh tentang materialisme-spiritualistik harus diselesaikan sekarang juga. Tugas yang sangat penting tengah menanti, bukan sekedar tugas prophetic, tetapi tugas yang benar-benar menyangkut keberlangsungan eksistensi seluruh spesies di tanah bekas Atlantis, di bumi yang indah ini. Tugas ini tidak bisa hanya dikerjakan oleh satu dua orang Nabi atau Resi atau Buddha seperti pada masa lalu, tetapi oleh seluruh “manusia biasa” Nusantara. Semua orang harus terlibat di dalam tugas yang sangat penting ini, demi kehidupan bahagia yang menjadi tujuan.

Ya. Ketika terjadi ketegangan dan pertikaian yang serius dalam kehidupan, ketika sebentuk materialisme yang merasuk ke segala aspek kehidupan menikam hingga masuk ke dalam relung-relung hati manusia, maka kehadiran manifestasi kebijaksanaan dan kebenaran menjadi mendasar untuk menjaga keseimbangan. Lalu Yang Maha Agung akan menghadirkan kepada dunia sosok yang dipenuhi petunjuk dan bimbingan-Nya. Ia akan hadir di tengah-tengah kehidupan makhluk di Bumi, lalu mengajak mereka untuk meraih kesejahteraan dan kedamaian sejati.

Sungguh, dialah yang kini disebut dengan istilah Avatar atau Matreya atau Satrio Piningit atau Imam Mahdi oleh sebagian kelompok manusia. Sosok pribadi yang akan menata dunia baru, di zaman yang baru. Lalu dengan petunjuk dan arahan-Nya, ia akan menunjukkan bagaimana manusia bisa mencapai tingkatan hidup yang lebih tinggi. Ia akan mencontohkan makna cinta dan perilaku benar atau salah yang sesungguhnya. Karena masalah benar dan salah merupakan persoalan yang sangat penting dalam kehidupan ini. Dan Tuhan berkarya disisi kebenaran, sehingga kebenaran akan mengalahkan kejahatan. Sementara cinta dan belas kasih jauh lebih kuat daripada kebencian dan kekerasan.

Lalu bersama pengikutnya, sosok terpilih ini – dengan contoh teladan mereka, mereka akan mempengaruhi masyarakat yang mereka singgahi. Mereka menjadi hati nurani masyarakat. Kata-kata mereka bebas dan tidak memihak, visi dan misi mereka bersih dari aroma kepentingan. Meskipun berakar dari akar tradisi agama, mereka tumbuh berkembang mengatasi agama. Berkat pikiran yang bebas dan cara pandang yang universal, mereka akan menempatkan diri sebagai penentang dari setiap kekuasaan yang korup dan kompromi sinis para penguasa yang tiran dan zalim. Kehidupan mereka yang mengatasi kehidupan sosial masyarakat merupakan kesaksian atas validitas nilai-nilai asali, sumber nilai-nilai sosial lain. Mereka adalah para bijak yang menjalankan kehidupan dengan rasa cinta dan kasih sayang. Mereka adalah para kesatria yang menegakkan hukum Tuhan demi keadilan dan kesejahteraan semuanya.

O.. Ketahuilah bahwa yang terberkati itu sudah hadir di dunia ini, di antara kita, tapi masih menyembunyikan dirinya. Ia telah di restui langit dan bumi, karena dia adalah pribadi yang tercerahkan sepenuh-penuhnya, terberkati dan mulia. Ia kaya akan cinta, kebijaksanaan dan kebaikan. Ia berbahagia dengan pengetahuan tentang dunia-dunia dan dimensi-dimensi yang ada di dalam waktu. Semesta batinnya jauh melampaui siapapun. Ia adalah sosok panglima yang tak tertandingi dalam kemampuan ilmu kanuragan, kadigdayan, kasepuhan, dan kasampurnan. Sifatnya penuh kasih sayang dan senang membimbing manusia-manusia fana yang rentan dosa. Dia adalah guru bagi para dewa, manusia, jin, peri, naga, hewan dan tumbuhan. Pemimpin yang terberkati dalam petunjuk Ilahi. Dia menyatakan kebenaran, baik dalam kata maupun dalam perbuatan dan jiwa. Indah dalam awal mula, indah dalam proses perkembangan dan indah dalam kesempurnaannya. Dia menunjukkan level kehidupan yang lebih tinggi dalam seluruh kemurnian dan kesempurnaannya.

Sungguh, sang Avatar atau Matreya atau Satrio Piningit atau Imam Mahdi ini mempunyai sejumlah fungsi dalam proses kosmik. Saat ini ia pun sudah hadir di dunia ini, tapi belum sepenuhnya dikenali. Namun ia pasti akan menunjukkan bahwa kehidupan spiritual dan kehidupan dunia itu tidak saling bertentangan. Jika kehidupan di dunia tak sempurna dan dikendalikan oleh keinginan daging dan kejahatan, maka tugas sang terpilih dan kitalah untuk menyempurnakannya demi kedamaian jiwa. Ia juga akan menunjukkan jalan yang bisa membawa manusia untuk melangkah keluar dari cara hidup kebinatangan menuju mode kehidupan spiritual dengan memberikan keteladanan kehidupan ruhani. Ia juga akan menjelaskan bahwa keilahian tidak ditampakkan dalam wujud inkarnasi, tapi dimediasi dengan sifat-sifat mulia diri manusia.  Karena dengan cara yang memikat, kehidupan siapapun akan menguraikan aspek-aspek pokok kehidupan manusia yang mengarah pada pemenuhan jati diri yang sejati.

landscape-1-sm

Selain itu, dia tidak hanya mengajarkan ajaran kebenaran yang akan melepaskan kita dari sikap mementingkan diri sendiri yang fana dan bersatu dengan Yang Abadi. Karena ia juga akan merelakan dirinya menjadi jalan rahmat bagi peradaban – karena ia akan menyatakan dirinya sebagai jalan kebenaran dan pengetahuan. Dengan mengundang jiwa-jiwa agar percaya dan mencintai Tuhan Yang Maha Perkasa, dia berjanji untuk membawa mereka pada pengetahuan tentang Yang Hakiki. Dia pun akan membantu siapapun untuk mencapai potensi terbesar yang dimiliki, dalam ilmiah ataupun batiniah.

Ya. Sosok agung ini tak memiliki tujuan yang mementingkan diri sendiri atau harapan pribadi. Ia tak tergangu oleh pengaruh hal-hal duniawi. Ia menerima apapun yang terjadi tanpa kelekatan atau penolakan. Ia tak menginginkan apapun, ia tak iri hati dan benci pada siapapun. Ia tak menginginkan dan meminta apapun lagi, kecuali kedamaian dan keadilan di dunia. Selain itu, ia akan mengatakan bahwa ajaran yang ia dedahkan tidaklah baru. Ia hanya menyatakan kembali ajaran kuno, kebenaran abadi yang diturunkan Tuhan kepada hamba terpilih di masa lalu. Sesuatu yang merupakan penemuan kembali, pemulihan kembali pengetahuan kuno yang telah lama terlupakan. Ia hanyalah sekedar membuka kembali jalan kuno yang telah lama dilupakan oleh sebagian besar manusia saat ini.

Selanjutnya, ia tidak mengaku dirinya sebagai orang pertama, tapi menegaskan bahwa ia mendedahkan kembali ajaran kuno yang pernah ada di bumi Nusantara. Itulah kebenaran utama, kebenaran yang digunakan untuk menilai semua ajaran, sumber kebenaran abadi semua agama dan filsafat, yaitu filsafat abadi Budhi Dharma. Karena sesungguhnya perwahyuan tak pernah berhenti. Dan selama hati manusia menunjukkan cinta, bakti dan persahabatan, maka Tuhan akan menunjukkan rahasia-rahasia-Nya. Sejauh hati seseorang jujur dan merindukan kehadiran-Nya, maka pewartaan dari Yang Ilahi akan selalu mungkin. Perwahyuan Yang Ilahi tak pernah menjadi peristiwa masa lalu, karena ia akan selalu terjadi di sepanjang zaman. Perwahyuan ini tidak hanya milik segelintir manusia, tapi bagi seluruh makhluk di alam semesta.

Untuk itulah, dalam perjuangannya nanti, maka setidaknya ia akan mengingatkan manusia untuk selalu melawan ke enam perkara ini. Yaitu:

1. Kama (hawa nafsu; maksiat, zina, menipu, dll)
2. Loba (serakah, tamak, sombong)
3. Kroda (amarah)
4. Moha (kebingungan)
5. Mabuk (narkoba)
6. Masarya (iri hati, dengki)

Lalu mengapa ke enam hal di atas menjadi salah satu fokusnya? itu karena kini, kelekatan manusia pada credo (pernyataan iman) membutakan mereka pada keutuhan Tuhan yang lebih luas. Ini adalah buah dari egoisme di ranah agama. Padahal meskipun ada banyak dan beragam keyakinan dan praktek keagamaan, maka kesadaran spiritual yang di tuju pada dasarnya satu dan sama. Tapi, fanatisme pada kebenaran, keseluruhan kebenaran kelompok, dan kebenaran yang tak lebih dari sekedar kegelisahan atas kondisi yang sebenarnya serba meraba-raba hanya akan menghasilkan pandangan yang tak jauh dari pandangan kaum inkuisitor (para pemaksa dan penyiksa di dalam satu agama tertentu di abad pertengahan).

Ya. Iman itu sangat penting untuk mencapai kebijaksanaan. Tapi iman sendiri bukanlah kepercayaan yang membuta. Iman adalah kehendak jiwa untuk mencapai kebenaran yang berujung pada kebijaksanaan hidup. Iman adalah cerminan dalam diri sendiri yang paling dalam, bahwa kebijaksanaan itu nyata. Dan jika tetap konstan, maka iman akan membawa kita pada kemuliaan, bebas dari segala keraguan dan derita.

Sementara itu, pengetahuan intelektual yang menjadi tempat kita menyandarkan data-data inderawi dan kesimpulan logis, keraguan, dan skeptisme memiliki tempat tersendiri. Tapi kebijaksanaan dan kemuliaan tidak diperoleh dengan pencarian intelektual semata. Kita harus menghayatinya dari dalam hati dan menumbuhkannya ke dalam realitas kehidupan ini. Karena kebijaksaan dan kemuliaan hanya bisa dicapai melalui iman dan pengendalian diri yang nyata secara lahir batin.

Yosemite National Park

Sungguh, untuk mencapai sesuatu yang tinggi, maka tidak cukup hanya mempelajari atau menguasai satu jenis ilmu saja, apalagi hanya menggilai ilmu ilmiah saja. Perlu pendalaman terhadap salah satunya ilmu filsafat agama. Namun sayang, banyak orang yang menganggap filsafat tidak berguna bagi hidup. Kata mereka filsafat berhubungan dengan semesta realitas yang tak berubah, sementara hidup berurusan dengan dunia proses yang senantiasa berubah. Pandangan ini mendapatkan pembenaran dari fakta bahwa di Barat, filsafat spekulatif berasal dari negara-negara kota di Yunani kuno. Disana, ada dua kelas masyarakat. Satu adalah kalangan bangsawan yang kaya raya dan menghabiskan waktu dengan bersenang-senang dan satu kelas lagi adalah budak yang berjumlah sangat besar yang sama sekali tidak bersentuhan dengan seni adiluhung dan praktis. Bahkan kemudian ada pandangan yang dikatakan oleh Karl Marx, bahwa “para filsuf hanya menafsirkan dunia, sementara kerja yang sebenarnya adalah mengubah dunia”. Padahal sesungguhnya filsafat itu tak hanya memberikan penafsiran filosofis, tapi juga program praktis. Karena memang, dunia kita ini lebih dari sekedar tontonan yang untuk direnungkan. Dunia kita adalah medan perang, dan hanya dengan memperbaiki individu. Kita bisa meningkatkan kesejahteraan, kebaikan fisik dan material masyarakat. Hal itu bisa tercapai saat pemahaman filsafat kehidupan sudah dijalankan sehari-hari.

Ya. Jika kita tidak ingin dunia jatuh ke dalam kesengsaraan fisik dan kemunduran akhlak, jika kita ingin kehidupan yang pantas dan bermartabat, maka tindakan-tindakan kita di masyarakat harus dikendalikan oleh etika keagamaan. Tujuan agama adalah untuk menspiritualkan masyarakat, untuk membangun persaudaraan di dunia beserta peradabannya. Kita harus terinspirasi oleh harapan untuk mewujudkan cita-cita yang luhur itu dalam lembaga-lembaga di masyarakat dan negara.

Memang benar, setiap orang harus mencapai tataran tertinggi, tapi tataran tertinggi itu biasanya hanya bisa dicapai secara pelan-pelan, bukan dengan lompatan yang tiba-tiba. Sehingga bahkan pandangan yang sederhana pun memiliki sesuatu yang bisa membantu orang yang menginginkan hidup secara benar. Tradisi-tradisi yang mengandung asosiasi-asosiasi historis merupakan kendaraan bagi keyakinan-keyakinan yang tak terkatakan, meskipun mungkin kurang dipahami secara memadai. Kualitas pikiran, dan bukan objeknyalah yang menentukan apakah sumber itu memiliki kualitas religius atau tidak.

Jadi, orang harus bertindak selaras dengan budi yang luhur – yang diketahui dari ajaran agama. Jika menjadi budak dari hasrat keinginan (nafsu), kita akan kehilangan arah hidup dan tanpa akal budi seperti binatang liar. Tanpa adanya pengendalian nafsu, kelekatan dan rasa enggan akan menentukan tindakan kita. Jika kita bertindak karena suka dan tidak bertindak karena tidak suka, kita akan terikat oleh tindakan kita. Tapi jika kita berhasil mengendalikan hasrat keinginan (nafsu) itu dan bertindak berdasarkan kewajiban dan rasa cinta, maka kita akan bebas lepas dari ikatan duniawi. Karena kebebasan manusia itu terkondisikan dan tidak dibatalkan oleh kebutuhan-kebutuhan alam saja.

Sehingga, meskipun tak sempurna, maka mengerjakan pekerjaan sendiri itu akan lebih membahagiakan daripada sempurna mengerjakan pekerjaan orang lain. Karena setiap kita mempunyai bakat kemampuan yang berbeda-beda. Yang paling penting itu bukan apakah kita dianugerahi lima atau hanya satu bakat kemampuan, tapi yang paling penting itu adalah seberapa setia kita dalam menjalankan kepercayaan yang diberikan kepada kita. Kita harus melakukan apa yang menjadi bagian kita dengan sepenuh hati, tak peduli apakah itu besar atau kecil. Kebaikan merupakan kesempurnaan kualitas, bukan kuantitasnya. Setakmenyenangkan apapun kewajiban kita, maka kita harus setia menjalaninya sampai mati.

Untuk itu, jika seseorang sungguh-sungguh ingin mencapai pembebasan dari ikatan meterial, maka ia harus mengerti perbedaan antara perbuatan, tidak melakukan perbuatan, dan perbuatan yang tidak dibenarkan. Seseorang harus menekuni analisis perbuatan, reaksi dan perbuatan yang terputar balik seperti itu. Sebab itu merupakan mata pelajaran yang sulit sekali. Untuk mengerti kesadaran Tuhan dan perbuatan menurut sifat-sifat-Nya, seseorang harus mempelajari hubungan antara dirinya dengan Yang Maha Pencipta. Sementara orang yang sudah mempelajari hal ini secara sempurna, akan mengetahui bahwa setiap makhluk hidup itu adalah hamba Tuhan. Dan karena itu, ia harus bertindak dalam kesadaran atas nama Tuhannya pula, sehingga akan penuh dengan rasa cinta kasih.

Sebaliknya, jika menerima apa yang dikatakan dalam kitab-kitab suci atau yang diajarkan oleh para utusan-Nya dengan kepercayaan yang buta, siapapun hanya akan menuai kegagalan. Itu terjadi karena ia belum memiliki pengetahuan pribadi yang cukup tapi hanya mendengarnya saja. Dengan begitu ia takkan bisa memahami makna hakiki dari kitab suci, seperti sendok yang tak pernah tahu bagaimana lezatnya sup daging. Hal ini sungguh bertentangan dengan ajaran dan tradisi penyelidikan, refleksi dan perenungan diri.

kesederhanaan cinta

Sehingga diperlukanlah yang namanya intelektual. Tapi pemahaman intelek semata tak akan membuahkan hasil. Intelek hanya akan mengantarkan pada pandangan yang terfragmentasi, pandangan sekilas tentang Yang Ilahi. Pemahaman intelek tak akan pernah bisa mengantarkan pada kesadaran tentang Yang Abadi. Karena untuk membangun hubungan yang personal dengan Tuhan, kita harus membuka keseluruhan diri kita. Siapapun harus menapaki relung-relung batinnya, dengan tafakur, muhasabah, atau meditasi. Karena otoritas tertinggi adalah cahaya batin yang bersih dari dorongan hasrat keinginan (nafsu). Dengan kerja keras dan pengingkaran diri, seseorang akan mampu menghancurkan prasangka-prasangka yang menghambat dan membiarkan terang cahaya kebijaksanaan yang ada di dalam diri bersinar cerah.

Tapi ingat! Ada perbedaan antara pengingkaran badaniah dan pengingkaran batin. Mungkin saja kita menolak suatu objek tapi hasrat keinginan (nafsu) itu masih tetap ada. Ini tidak boleh terjadi, karena hasrat keinginan itu akan serta merta lenyap hanya ketika kehadiran Yang Ilahi bisa dirasakan. Dan ini bisa terjadi pada saat seseorang sudah bisa melepaskan keterikatannya pada hasrat keinginan saja. Sebab, pengekangan itu harus terjadi tidak hanya pada tingkat tubuh, tapi juga pikiran. Pembebasan dari tirani tubuh tidaklah cukup, karena kita juga harus dibebaskan dari tirani hasrat keinginan (nafsu) yang ada di dalam diri sendiri.

Ya. Ketika tak kuasa mengendalikan hafsu, jiwa akan kehilangan ingatan, budi menjadi keruh dan manusia akan hancur. Yang kita butuhkan bukan memaksakan diri untuk mengasingkan diri dari dunia atau menghancurkan kehidupan inderawi, tapi pengunduran diri batin secara konstan. Membenci indera sama kelirunya dengan mencintainya. Kuda-kuda indera tak semestinya dilepaskan dari kereta, tetapi dikendalikan dengan tali kekang pikiran.

Untuk itu, yang paling penting adalah apa yang diwahyukan dalam kitab suci, apa yang dipikirkan pikiran, dan apa yang disadari oleh jiwa melalui kerja dan permenungan harus selaras. Kita harus menggauli, memahami gagasan besar masa lalu (Budhi Dharma : baca tulisan ini Ajaran luhur budhi dharma Nusantara), dan secara intuitif mengerti nilai-nilai abadi dari gagasan besar itu. Itulah ajaran Tuhan yang menyelamatkan diri.

*****

Ya. Kebahagiaan, ketenangan batin, kesadaran tentang kekuatan batin dan kebebasan, keberanian dan kekuatan cita-cita dan kehidupan yang terus menerus berpusat pada Tuhan adalah ciri-ciri yang tampak pada mereka – yang telah belajar kepada sang Avatar atau Matreya atau Satrio Piningit atau Imam Mahdi. Mereka merepresentasikan poin-poin evolusi peradaban manusia yang terus menerus berkembang. Dengan hidup mereka, mereka memberikan kesaksian tentang sifat dan kesadaran, bahwa manusia bisa melampaui keterbatasan-keterbatasan yang kita asumsikan, bahwa gelombang revolusi terus mendesak satu tingkatan yang lebih tinggi. Mereka berikan teladan dan mengajak kita untuk berdiri mengatasi sikap mementingkan diri sendiri dan kelemahan kita saat ini. Kemudian membawa kita pada satu tatanan kehidupan yang benar dan peradaban yang paling gemilang, di tanah Nusantara ini.

Dengan demikian, pandangan bahwa jiwa yang telah terbebaskan akan berhenti bekerja, karena semua kerja akan berarti kemunduran dari kondisi tertinggi, kembali pada kondisi tak sadar, tak bisa diterima. Karena selagi nyawa masih dikandung badan, maka tindakan tak bisa dihindari. Berpikir juga merupakan tindakan, hidup juga merupakan tindakan dan tindakan-tindakan ini menimbulkan banyak sekali akibat. Bebas dari hasrat keinginan (nafsu), dari ilusi kepentingan pribadi, adalah non-aksi (non tindakan) yang sejati dan bukan penyangkalan fisik pada aktivitas. Ketika dikatakan kerja berhenti bagi orang yang mencapai kebebasan, maka yang dimaksudkan disini adalah ia tak lagi memiliki alasan pribadi untuk bekerja. Ini tidak berarti ia menghindar dari kerja atau tindakan dan melarikan diri ke dalam ketiadaan kerja yang membahagiakan. Ia akan terus bekerja, karena Tuhan pun terus bekerja, tanpa suatu alasan yang mengikat atau ketaksadaran yang mendesak. Bahkan ketika ia bekerja, ia tak melibatkan diri. Karena ketika egoisme telah dilepaskan, tindakan akan bersumber dari kedalaman batin dan dibimbing oleh Yang Maha Tinggi, yang telah bertahta di dalam hatinya. Setelah terbebas dari hasrat keinginan (nafsu) dan kelekatan, menyatu dengan semua ada, maka tindakannya akan berasal dari kedalam jiwa yang paling dalam, yang dibimbing oleh Diri Tertinggi, Ilahi.

kedamaian 4

Kita juga harus menghindarkan diri dari melihat hal-hal (benda-benda) duniawi sebagai sarana untuk mencapai kepuasan. Jika ingin mendapatkan ketenangan hati dan integritas diri, maka kemurnian diri harus terus melekat dalam diri. Kita pun harus melihat semua hal sebagai perwujudan Yang Nyata dan bukan sebagai objek yang bisa diraih dan bisa dimiliki secara mudah. Untuk mengembangkan sikap lepas bebas pada semua hal ini, maka permenungan (tafakur, meditasi) merupakan kebutuhan yang sangat mendasar.

Ya. Seperti sepasang kekasih, maka Tuhan dan manusia tak lagi membutuhkan pihak ketiga. Tak ada yang lebih dekat dengan Tuhan daripada diri itu sendiri. Dan untuk mendekati-Nya dan beroleh rahmat-Nya, kita hanya butuh ketekunan hati, hati yang murni, berdiri “telanjang” dan sendirian tanpa penengah di hadapan Tuhan. Disini baru akan terjadi pertemuan abadi antara Tuhan dan manusia. Dan terjadilah dialog yang terus menerus sampai tercapai harmoni tujuan secara utuh. Karena Yang Ilahi tidak berada jauh, tapi selalu dekat dengan kita. Tuhan bukanlah penonton yang terpisah, atau hakim yang menilai dari jauh. Ia adalah kekasih dan sahabat yang selalu ada bersama kita. Lalu terkait dengan sang Avatar atau Matreya atau Satrio Piningit atau Imam Mahdi ini, maka ia adalah sosok yang akan membimbing dan guru bagi tercapainya tujuan itu.

Untuk itu, beruntunglah bagi siapa saja yang teguh dalam prinsip kebenaran hidupnya. Dalam kepatuhannya kepada segala perintah dan larangan Tuhan, maka siapa saja yang percaya tentang hal ini akan mendapat keunggulan untuk bisa bergabung dengan sang Avatar dan murid-muridnya. Bersama mereka, maka nanti akan berdirilah satu peradaban besar yang menentang “gilanya” peradaban dunia saat ini. Dan sesungguhnya itu bukanlah hal yang baru sepenuhnya. Karena apa saja kejayaan yang muncul nanti adalah sesuatu yang pernah terjadi di Nusantara. Hanya saja memang, ada beberapa penyempurnaannya, yang tentunya lebih hebat dan gemilang kadarnya. Sehingga bersiaplah wahai saudaraku sekalian. Mari kita persiapkanlah lahir dan batin kita dari sekarang.

Yogyakarta, 12 Mei 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

Baca tulisan yang terkait dengan Avatar di atas:
* Avatar dalam berbagai agama (Hindu, Buddha, Zoroaster, Nasrani, Islam)
* Ramalan Jayabaya tentang Nusantara
* Pesan bijak leluhur untuk kita sekarang: kehancuran NKRI

3 thoughts on “Sang Avatar Nusantara

    […] tulisan yang terkait dengan tulisan Avatar di atas: * Sang Avatar Nusantara * Ramalan Jayabaya tentang Nusantara * Pesan bijak leluhur untuk kita sekarang; kehancuran […]

    […] tulisan yang terkait dengan tulisan Avatar di atas: * Sang Avatar Nusantara * Ramalan Jayabaya tentang Nusantara * Pesan bijak leluhur untuk kita sekarang; kehancuran […]

    Sang Avatar Nusantara | Bayt al-Hikmah Institute said:
    Juni 27, 2015 pukul 12:37 pm

    […] Sang Avatar Nusantara […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s