Meraih Kemerdekaan Jiwa dengan Jalan Cinta

Posted on Updated on

bebasWahai saudaraku. Pada zaman moderen ini, begitu banyak orang yang lupa bahwa jiwa dan ruhani sebenarnya lebih penting dari benda-benda. Pikiran tidak bermanfaat apabila tidak didasari dengan nilai spiritualitas. Dan suatu masyarakat tidak akan memiliki sendi-sendi kehidupan sosial dan politik yang kuat apabila tidak memiliki moral yang tangguh dan spiritualitas yang tinggi. Masyarakat tidak dapat didorong menjadi aktif tanpa keadaan jiwa dan pikiran yang diliputi rasa mabuk kepayang dan antusiasme ketuhanan. Sebagaimana keadaan jiwa dan pikiran yang menguasai diri seseorang, keduanya timbul dari dorongan cinta yang kuat, sehingga seseorang menjadi berani menggapai sebuah cita-cita walaupun harus ditempuh melalui berbagai kesukaran serta dituntut pengorbanan besar, yaitu membuang kepentingan pribadi.

Ya. Masyarakat yang sedang mengalami krisis multidimensi perlu mempelajari kembali nilai-nilai keruhanian dari agama, bukan hanya sebatas bentuk formalitas peribadatan, aspek legalitas formal dan bentuk doa-doa saja. Karena apabila manusia telah berhenti menjadi makhluk kerohanian dan cenderung menjadi makhluk kebendaan, maka manusia akan mudah dilanda nihilisme dan keputusasaan yang hebat. Jika sudah demikian, maka pertahanannya akan rapuh dalam melawan krisis yang setiap kali bisa datang dalam hidupnya. Apalagi dalam suatu masyarakat yang tatanan sosial dan kehidupan ekonominya belum mantap. Sebagaimana yang pernah dialami oleh kaum Muslim pada abad ke 13 Masehi di bekas wilayah kekhalifahan Abasiyah di Baghdad, Iraq.

Oleh karena itu, perilaku jiwa, kepribadian dan pemikiran seseorang  bisa berubah apabila sikap, pandangan hidup dan gambaran dunia dalam jiwa mereka mengalami perubahan. Lalu agar itu bisa terjadi, maka kesadaran batinnya harus diubah. Ini merupakan tugas ilmu-ilmu agama, khususnya tasawuf dan falsafah. Karena pikiran seseorang akan terang dan memperoleh pencerahan apabila ia memiliki perasaan positif terhadap segala sesuatu, yang bisa pelajari dari mengenal ilmu tasawuf dan falsafah.

Ya. Pada setiap jiwa sesungguhnya telah diciptakan satu potensi untuk dapat berhubungan dengan Yang Ilahi. Akan tetapi hubungan itu tidak akan pernah terjadi selama jiwa masih mencintai kenikmatan-kenikmatan alam materi yang amat rendah dan masih menghadapkan dirinya kepada alam rendahan ini. Kecintaan pada kenikmatan alam materi dan penghambaan diri kepadanya akan memalingkan jiwa dari alam metafisik. Kecintaan dan kegemaran pada kenikmatan materi serta nafsu hewaniah bisa memalingkan jiwa dari kenikmatan sejati di negeri keabadian nanti (akherat).

Muhammad-al-Fatih-Penakluk-Konstantinopel

Untuk itu, orang yang beriman itu adalah yang menganggap kesempurnaan jiwa adalah kebahagiaannya, seperti halnya ketidaksempurnaannya adalah kesengsaraannya. Keduanya tergantung pada sejauh mana ia melapaskan diri dari kungkungan raga (jasmani). Kesempurnaannya bisa terwujud dengan terus mengadakan latihan, khususnya batin, sehingga ia bisa memperoleh makrifat ketuhanan langsung dari alam yang Maha Tinggi, bukan dari luar dirinya lewat panca indera, terus memperkaya diri dengan nilai-nilai keutamaan sehingga menimbulkan kecintaan pada Yang Maha Benar dan mengenal-Nya lebih dekat lalu terus merindukan keindahan kehadiran-Nya. Semua ini harus di lakukan terus menerus hingga menjadi akhlak yang senantiasa melekat dan kebiasaan yang tak pernah ditinggalkan. Sedangkan ketidaksempurnaan jiwa adalah kebalikan dari itu. Yaitu jiwa yang tidak mengenal Yang Maha Kuasa, tidak mencintai-Nya, tidak merindukan-Nya, berperilaku hina dan rendah akhlak sebagai yang melekat di dalam perbuatan sehari-hari.

Wahai saudaraku. Jadikanlah dirimu sebagai sosok yang merdeka jiwanya dan tidak lagi terbelenggu oleh dunia materi. Dan jika ingin mencapai kebebasan (sadhanavastha), maka kerja dengan semangat yang benar dengan pengingkaran batin akan membantu kita. Ketika dirimu telah mencapai tataran penguasaan diri (siddhavasta), engkau akan bekerja, bukan karena sesuatu tujuan tertentu, melainkan dari keberlabuhanmu dalam kesadaran Tuhan. Dengan kerja dirimu berjuang mencapai penguasaan diri, dan ketika penguasaan diri tercapai, engkau beroleh kedamaian. Tapi ingat! ini tidak berarti kita kemudian meninggalkan semua kerja dan pekerjaan.

O.. Kita harus membebaskan pikiran dari semua hasrat keinginan indriawi, memisahkan pikiran dari semua objek-objek eksternal dan menyerapnya ke dalam objek meditasi. Dengan mengerahkan seluruh energi pikiran dan memusatkannya pada satu titik, kita akan meningkatkan kemampuan seluruh diri kita. Karena ada sesuatu di kedalaman diri kita yang hebat dan bisa cepat berkobar setelah tersulut api Tuhan Yang Maha Perkasa. Dan dulu bangsa Nusantara selalu mengamalkannya, sehingga menjadi bangsa yang perkasa dan pemimpin dunia. Kini siapapun bisa, dan caranya sebagai berikut:

1. Rahasi (dalam kesendirian)
Orang yang ingin berhasil memerdekakan jiwanya harus mencari tempat yang tenang dengan lingkungan sekitar yang tenang, seperti pinggir sungai atau puncak bukit dan gunung. Tempat-tempat semacam itu akan membuka hati dan memudahkan konsentrasi pikiran. Di dunia yang semakin hari semakin hiruk pikuk ini, manusia yang beradab wajib menyediakan waktu khusus untuk menemukan ketenangan dalam dirinya. Ia harus mengundurkan diri ke tempat yang tenang dan meninggalkan hingar bingar dunia eksternal.

2. Ekaki (sendirian)
Orang yang mencari ketenangan hati harus pergi sendirian – atau setidaknya ada seorang yang menemani – agar bisa merasakan belaian dan bisikan yang lembut melambai tanpa gangguan siapapun.

3. Satatam (secara konsisten, tetap)
Praktik ini harus di lakukan secara rutin, teratur dan terus menerus. Karena praktik meditasi yang di lakukan secara tidak teratur jelas tidak ada gunanya. Upaya kreatif yang terus menerus semakin perlu di lakukan juga untuk meningkatkan tataran kesadaran yang semakin intens, lebih tinggi. Dan pada bagian inilah, seseorang bisa mengasah dan mengembangkan kemampuan yang ada di dalam dirinya, seperti membuka pintu-pintu cakra dan membangkitkan kundalini-nya. Semuanya tentu bukan untuk tujuan pamer, tetapi lebih kepada menguatkan jasmani dan ruhaninya.

4. Yatacittatma (penguasaan diri)
Seseorang harus bisa mengendalikan dirinya, tak terlalu gembira, terlalu tegang atau cemas. Belajar menjadi diam tenang dihadapan Tuhan (tafakur) berarti hidup yang penuh kendali dan disiplin. Dan tidak ada gunanya meninggalkan hingar bingar dunia dan masuk ke tempat ibadah atau tempat doa jika masih membanyangkan urusan tetek bengek kehidupan sehari-hari. Tidak boleh ada kegelisahan atau gangguan konsentrasi apapun. Melalui pikiran kita menuju budi, dengan keheningan kita sentuh kedalaman diri kita. Dan jika ingin merenungkan Tuhan, yang hanya bisa dilihat dan ditemui oleh mereka yang berhati bersih, maka hati kita pun harus bersih murni. Kita harus masuk jauh ke dalam keheningan dan menantikan kehadiran Sang Cahaya dalam ketenangan.

5. Nirasi (bebas, bersih dari hasrat keinginan)
Seseorang harus membebaskan diri dari semua hasrat, syahwat duniawi dan kecemasan yang dilahirkannya, bebas dari sifat rakus dan rasa takut. Ia harus melepaskan diri dari belenggu-belenggu mental ini dan bebas dari semua gangguan dan prasangka. Pun, menanggalkan semua kelekatan pada kecenderungan mental, tujuan-tujuan hidup, kelekatan pada keluarga dan sahabat. Ia harus tidak mengharapkan dan menginginkan apa-apa.

6. Aparigrahah (bebas dari keinginan untuk memiliki)
Ini adalah tahap kebebasan spiritual dan bukan kondiri material. Seseorang harus mengendalikan keinginan untuk memiliki, membebaskan diri dari tirani harta dan jabatan bahkan pahala dari setiap perbuatan baik. Karena ia tidak akan bisa mendengar suara Tuhan jika masih gelisah dan berpusat pada diri sendiri atau jika masih saja dikuasai oleh rasa pamrih, rasa bangga diri, yakin diri atau keinginan untuk memiliki sesuatu.

Sehingga tradisi untuk bersemedhi, bertapa, meditasi dan yoga tidak bisa serta merta dikatakan sesat dan musyrik. Siapapun harus benar-benar memahaminya terlebih dulu secara mendalam, tidak hanya sebatas kulit luarnya saja. Karena hakekat dari tradisi yang disebutkan di atas (semedhi, bertapa, meditasi dan yoga) tidak salah dan tidak pula bertentang dengan ajaran hakekat dari semua agama – bahkan itu merupakan ajaran syariat dari para Nabi terdahulu. Tinggal sebatas mana seseorang memahaminya dan memiliki niat. Apakah untuk kebaikan, atau justru hanya demi sesuatu yang tidak baik.

Untuk itu ketahuilah. Hal yang paling berharga di alam wujud ini adalah kebahagiaan abadi. Kebahagiaan ini hanya akan tercapai dengan mencintai Yang Maha Suci sepenuh hati, bahkan tidak menyukutukan cinta kepada selain-Nya. Dan kecintaan yang utuh hanya akan tercapai dengan mengetahui kesempurnaan Dzat yang dicintai dan keindahan-Nya. Siapa yang tidak mengenal-Nya tidak akan mencintai-Nya. Manakala Dzat yang dicintai dengan sifat-sifat-Nya yang teramat indah telah diketahui hakikatnya secara sempurna, niscaya kecintaan akan tumbuh pada diri orang yang mengetahui sifat-sifat-Nya secara sempurna itu.

Oleh karena itu, diri manusia adalah dalil yang paling nyata dan argumen yang paling kuat untuk menunjukkan wujud Sang Pencipta. Itu karena manusia telah diberi-Nya keistimewaan di antara makhluk lainnya, yaitu berupa rahasia-rahasia kepemilikan dan kerajaan-Nya, serta keindahan-keindahan dan keajaiban-keajaiban alam Ilahiah. Sehingga, diri manusia sekali lagi adalah bukti paling agung dan tanda paling nyata akan keberadaan Tuhan. Diri manusia adalah semesta kecil (mikrokosmos) dengan segala kandungannya, dari yang terbawah sampai yang teratas.

Hanya saja, jiwa tidak bisa diketahui oleh manusia untuk pertama kalinya lepas dari jasmani (tubuh). Sebab tubuh adalah semacam wadah jiwa dimana ia (jiwa) tidak bisa tampak tanpa tubuh. Bentuk lahir dari jiwa adalah bentuk manusia dalam perbaduan dirinya yang seimbang. Jika tubuh seimbang, maka ia akan suci. Jika tubuh suci, maka ia akan dengan mudah menerima cahaya-cahaya jiwa yang tak lain berasal dari cahaya Yang Maha Suci.

happy

Untuk itulah, manusia pun diharapkan bisa memanfaatkan perpaduan yang ada di dalam dirinya itu. Yaitu dengan cara menjadikan unsur lahiriah sebagai jalan untuk membuktikan keberadaan unsur batiniah dalam dirinya, sebagai pijakan untuk meniti tangga menuju bagian yang tinggi. Memang ada dua sisi dalam diri manusia, salah satunya berhubungan dengan alam materi yang bisa diketahui dengan panca indera. Alam inilah yang kemudian melahirkan ilmu-ilmu pasti (Matematika, fisika, dll). Satu sisi lagi berhubungan dengan alam tinggi, yaitu alam cahaya Tuhan dan keindahan nan suci. Untuk bisa mencapai alam ini atau kepada-Nya, maka setiap manusia harus menempuh sisi ini.

Tapi kini, banyak sekali jiwa yang keseluruhannya telah berpaling dari Yang Maha Esa serta dikuasai oleh kecintaan kepada hal-hal indriawi-materi dan nafsu syahwat jasmaniah. Bayangan-bayangan tentang kenikmatan duniawi menguasai jiwanya, sehingga ia mengingkari kenikmatan-kenikmatan ruhaniah dan pengetahuan-pengetahuan nalar. Inilah jiwa yang celaka. Ia terhalangi dari Tuhan, jauh dari sisi-Nya dan tidak ada harapan bagi keselamatannya. Jiwa ini dinamai jiwa yang selalu mendorong kepada keburukan (nafs ammarah).

Padahal jiwa diciptakan dalam keadaan siap untuk menerima dua hal, kebaikan dan keburukan. Kemudian Tuhan mengarahkan masing-masing dari keduanya kepada jiwa yang dikehendaki-Nya kepada kebaikan atau keburukan. Dan jangan mengira bahwa setelah jiwa berpisah dengan jasad (kematian), maka jiwa bisa memperbaiki diri sehingga mencapai kesempurnaannya. Karena setelah kematian, jiwa takkan lagi bisa melakukan apapun demi kesempurnaan dirinya. Dan perlu dicamkan, bahwa tidak ada bedanya antara hakikat yang diperoleh di dunia dan hakikat yang diperoleh di akherat nanti. Sebab, hakikat yang diperoleh di dunia adalah hakekat yang juga diperoleh di akherat. Perbedaannya hanya pada tingkat kejelasan dan kedetailannya saja. Seperti perbedaan antara membayangkan wajah kekasih dengan khalayalan dengan melihatnya langsung melalui mata kepala.

Ya. Bila jiwa telah sampai pada batas hanya mencintai keindahan dan kelezatan ruhaniah, maka semua yang terserak darinya akan terkumpul kembali. Seluruh kekuatannya akan terhimpun dan semua kemampuannya akan terkonsentrasi hanya pada satu objek, yaitu ruhani, setelah sebelumnya terpecah pada kenikmatan indriawi juga. Setelah sebelumnya tercerai berai, kini perhatiannya hanya ada satu, yaitu meraih kecintaan pada makna yang paling mulia dan berada dekat dengan alam yang maha kudus.

Makanya, cinta adalah pangkal dari semua tingkatan spiritual (maqom) dan segenap keadaan jiwa. Seluruh tingkatan berada di bawah naungan cinta. Ia bisa merupakan jalan bagi tingkatan atau merupakan salah satu dari hasil-hasil tingkatan ruhani seperti keinginan, kerinduan, rasa takut, berharap, zuhud, sabar, kerelaan, tawakal, tauhid dan makrifat. Adapun keadaan jiwa yang mengiringi cinta adalah seperti merasa begitu dekat, keterbukaan, merasa berada dalam genggaman sang kekasih, merasa dipantau, takut, lebur dalam diri sang kekasih, kekal bersama Sang Kekal, dan menyaksikan kehadiran Sang Kekasih di alam ruhani. Cinta mencakup semua tingkatan dan keadaan jiwa ini. Semuanya berangkat dari cinta dan berjalan menujunya; dari dan untuk cinta.

Sungguh, cinta adalah pemulihan terhadap kesombongan yang lekat dalam diri manusia, tabib segala kelemahan dan duka cita. Cinta juga adalah kekuatan yang menggerakkan perputaran dunia dan alam semesta. Dan cinta pulalah yang memberikan makna bagi kehidupan dan keberadaan kita. Makin seseorang mencintai, maka semakin larutlah ia terserap ke dalam tujuan-tujuan Ilahiah kehidupan ini. Dalam tujuan-tujuan Ilahiah penciptaan inilah manusia memperoleh makna yang sebenarnya dari kehidupannya di dunia dan itu pulalah yang memberinya kebahagiaan rohaniah yang tak terkira nilainya.

Pun, dari cinta mesti lahir kesabaran untuk bersusah payah mencari, dan disela-sela itu muncul rasa takut kalau yang sedang dicintai tak dijumpai serta harapan bahwa yang sedang dicari sudah dekat dan segera dijumpai. Selanjutnya cinta membuahkan kerelaan terhadap semua keinginan Kekasih, menutup diri dari selain Kekasih, meyakini bahwa hanya kekasihnya yang memiliki kesempurnaan sedang selainnya dianggap tidak ada dan menyandarkan segala urusan kepadanya dengan penyerahan diri sepenuhnya.

*****

Ya. Tujuan hidup orang berakal sehat dan berkepribadian luhur adalah mendapatkan kebahagiaan tertinggi. Makna kebahagiaan tertinggi adalah kehidupan yang langgeng di alam Malakut, menyaksikan Cahaya “kehadiran” Tuhan Yang Maha Suci, menikmati keindahan-Nya nan Maha Agung, dan melihat langsung pancaran Cahaya suci yang amat mengagumkan. Kebahagiaan ini tidak akan didapatkan kecuali oleh jiwa yang bersih. Yaitu jiwa yang sejak awal telah tergerak untuk menempuh jalan-jalan ilmu dan amal yang murni, terdorong untuk meraih cinta yang hakiki dan selalu merindukan cahaya-cahaya Ilahiah. Dengan diperolehnya kebahagiaan ini, jiwa yang suci akan merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang belum pernah di lihat oleh mata, didengar oleh telinga dan terlintas di hatinya.

Dan kebahagiaan ini tidak bisa diperoleh hanya dengan indera lahiriah, tidak pula dengan kekuatan jasmani yang tersimpan dibalik susunan fisik. Indera lahiriah dan kekuatan jasmaniah hanya bisa menangkap dan menikmati hal-hal indriawi-materi semata. Kenikmatan-kenikmatan indriawi-materi sangat berbeda dan terpisah jauh dari kebahagiaan sejati yang baru saja disebutkan di atas. Karena kenikmatan indriawi-materi juga merupakan penghalang perjalanan menuju Tuhan dan menuju alam kemuliaan. Kebahagiaan sejati ini, seperti yang telah kami jelaskan, hanya bisa didapat dan dinikmati oleh pribadi-pribadi yang luhur, jiwa-jiwa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan yang sempurna. Sesungguhnya kebahagiaan ini merupakan bagian dari alam metafisik yang sangat tinggi dan merupakan gambaran sejati tentang alam itu.

Derelict House, Burra, South Australia

Untuk itu, setiap diri harus membersihkan diri dari rasa suka dan tidak suka, melupakan diri atau meninggalkan kepentingan diri. Dengan meninggalkan semua tujuan atau maksud keinginan, dengan membunuh ego, dengan penyerahan diri secara total pada kehendak Yang Ilahi, orang bisa mencapai kondisi pikiran yang seperti Yang Abadi. Dalam derajat tertentu, ia akan ikut ambil bagian dalam kesadaran abadi yang tak terbedakan dengan yang ia pahami.

Sehingga untuk bisa mencapai kesadaran tentang kebenaran dan menjadi sosok yang merdeka jiwanya, maka seseorang harus melepaskan diri dari hiruk pikuk urusan praktis yang menyertai kehidupan eksterior dan material. Kondisi yang terutama adalah keadaan lepas dari hingar bingar kepentingan duniawi yang disiplin. Ia harus mengembangkan kemampuan untuk terus berada di dalam jalan cinta dan melihat segala sesuatu sebagaimana layaknya makhluk berbudi yang bisa melihat tanpa terdistorsi dan bebas.

Di lain hal, dalam mencapai rahasia ketuhanan, jalan cinta melengkapi jalan ilmu atau pengetahuan. Peradaban dan kebudayaan umat manusia tidak akan berkembang subur apabila hanya didasarkan pada ilmu beserta metodologi dan teknologi yang dihasilkannya. Cinta menyempurnakan jalan ilmu, sebab cinta merupakan dorongan terpendam dalam diri manusia untuk selalu mencari yang sempurna dalam hidupnya. Dorongan menimbulkan kehendak, hasrat dan kerinduan mendalam. Dengan demikian, cinta menggerakkan manusia untuk berikhtiar sekuat tenaga dengan segala kemampuan yang ada pada dirinya. Jalan ilmu yang dilengkapi dengan jalan cinta juga membuat seseorang mampu mencapai makrifat atau kebenaran tertinggi yang merupakan rahasia terdalam dari ajaran agama. Cinta juga memiliki kekuatan transformatif, yaitu kekuatan yang mengubah keadaan jiwa manusia yang negatif menjadi positif.

O.. Cinta merupakan sifat orang-orang yang sangat dekat dengan-Nya. Dengan sifat inilah tercapai kesempurnaan dan keutuhan makhluk hidup. Segala sesuatu di alam ini mempunyai kaitan dengan cinta. Sejauh mana cinta dimiliki seseorang, maka sejauh itu pula kedekatannya dengan Sang Penciptanya. Semakin kuat cinta yang ia miliki, maka semakin dekat ia dengan Sang Penciptanya. Sebaliknya, semakin lemah cinta yang ia miliki, maka semakin dekat ia dengan level kehidupan binatang dan dunia yang rendah (hina). Tidak ada yang dapat membangkitkan semangat untuk menggapai alam Cahaya kecuali cinta. Ia merupakan jalan yang paling mulia dan sifat yang paling sempurna yang dimiliki oleh setiap ahli makrifat sejati.

Dan sadarilah bahwa cinta itu ada di setiap inti benda. Tidak ada sesuatu yang wujud di alam ini kecuali mempunyai kaitan dengan cinta, sedikit atau banyak, tersembunyi atau tampak. Cinta merupakan ikatan yang paling menyeluruh di alam wujud ini. Seberapa besar sesuatu memiliki cinta, sebesar itu pula keserasian dan kebersamaannya dengan benda-benda lainnya. Dan sejauh mana seseorang memilikinya, maka sejauh itu pula dorongannya untuk naik menuju alam ruhaniah. Sehingga jiwanya menjadi bebas merdeka.

Untuk itu. Watak dasar jiwa yang mulia lebih condong untuk menerima bentuk-bentuk ruhaniah ketimbang bentuk-bentuk jasmaniah, selama ia masih lurus dan seimbang serta belum dikuasai oleh angan-angan dan prasangka. Tetapi jika angan-angan dan prasangkan telah menguasai, jiwa akan kehilangan keseimbangan dan jalannya tak lagi lurus. Sehingga ia akan menganggap indah kenikmatan jasmaniah, condong kepadanya, dan tak bisa lagi melihat hakikat-hakikat Ilahiah. Karena barang siapa yang mengingkari kenikmatan-kenikmatan rasional, maka ia telah kehilangan mata batinnya sendiri. Yang membuatnya tidak bisa memerdekakan jiwanya sendiri, karena masih terbelenggu oleh duniawi yang menipu.

Yogyakarta 30 April 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

2 thoughts on “Meraih Kemerdekaan Jiwa dengan Jalan Cinta

    Tasawuf Jawa « Perjalanan Cinta said:
    Juli 7, 2015 pukul 6:58 am

    […] Tulisan yang terkait dengan artikel ini: * Ajaran luhur budhi dharma Nusantara * Kebangkitan spiritual modal kebangkitan Nusantara * Kebaktian kepada Tuhan awal kebangkitan Nusantara * Meraih kemerdekaan jiwa dengan jalan cinta […]

    […] ia telah mendapatkan segalanya dalam kehidupan ini, bahkan tanpa harus moksa. [Silahkan baca: Meraih Kemerdekaan Jiwa dengan Jalan Cinta, atau Kebangkitan Spiritual Modal Kebangkitan Nusantara, atau Tasawuf […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s