Mengingat Tuhan Dengan Mengingat Kematian

Posted on Updated on

kematianWahai saudaraku. Dunia ini adalah pasar, dan sesaat lagi tidak akan ada yang tersisa atau tetap tinggal seorang pun. Lalu ketika malam tiba, seluruh penghuni akan pergi meninggalkannya. Oleh karena itu, hendaklah bersungguh-sungguh bahwa engkau tidak akan menjual dan tidak akan membeli di pasar ini kecuali apa yang bermanfaat bagi dirimu kelak di negeri akherat.

Perangilah nafsumu sehingga kau menjadi tenteram. Apabila dirimu telah tenteram, ajaklah nafsu itu bersama dirimu menuju ke pintu-Nya. Janganlah mengikuti nafsu kecuali setelah melakukan riyadhah (latihan), ta`lim (pengajaran), berbudi baik, serta merasa tenteram terhadap janji Tuhan ataupun ancaman-Nya – karena engkau hanya berbuat kebaikan saja. Karena nafsu itu buta, tuli, gila serta tidak mengenal Tuhannya, bahkan memusuhi-Nya. Dengan senantiasa memeranginya, maka akan terbukalah kedua matanya, tertutuplah mulutnya, telinganya jadi mendengar, serta hilanglah kegilaan, kebodohan dan permusuhannya kepada Tuhannya. Tapi hal ini membutuhkan banyak tali pengikat, sejumlah keberanian, dan kontinuitas di setiap hari dalam kebaikan. Dan semua ini tidak mungkin bisa dicapai hanya dengan mujahadah (menahan nafsu dari kesenangannya) sesaat, sehari atau sebulan saja.

Ya. Kebenaran-kebenaran jiwa hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah mempersiapkan diri dengan disiplin yang ketat. Untuk mencapai kebijaksanaan spritual, kita harus membersihkan pikiran dari segala kekacauan dan kebingungan, serta membersihkan hati dari segala kebusukan. Sekali lagi, penerimaan kebenaran itu akan menghasilkan pembaruan hidup. Wilayah jiwa tidak terpisah dari wilayah kehidupan. Sehingga membagi manusia menjadi keinginan daging dan sifat batin sama saja dengan memecah-mecah keutuhan hidup manusia. Karena jiwa yang tercerahkan adalah anggota kerajaan Tuhan. Ia akan mempengaruhi dunia yang ia sentuh dan menjadi juru selamat bagi manusia yang lain.

Makanya, Tuhan adalah prinsip yang menopang, mengontrol jiwa seperti jiwa menopang tubuh. Tuhan dan jiwa adalah satu, bukan karena keduanya sama tapi karena Tuhan mendiami dan ada di dalam jiwa. Dia-lah penuntun batin, yang tinggal jauh di kedalaman lubuk jiwa dan demikianlah prinsip kehidupan jiwa. Namun demikian, imanensi tidak sama dengan indentitas. Karena sekarang dan untuk selamanya, makhluk ciptaan tetap terpisah dengan Sang Pencipta.

Natural-mountain-wallpapers

O.. Di tempat yang rahasia di kedalaman jiwa manusia, Tuhan hadir. Tetapi hanya dengan pengetahuan yang membebaskan, jiwa bisa menyadari kehadiran-Nya itu. Pengetahuan itu bisa kita peroleh dengan melayani Tuhan dengan sepenuh hati dan jiwa raga. Sehingga bagi dia yang mencinta dalam gelora cinta, maka tidak ada bedanya apakah ia berbaring di dada atau apakah ia membelai lembut kaki sang kekasihnya. Dan bagi mereka yang telah mencapai pencerahan, apakah ia berada dalam keadaan ekstasi yang luar biasa atau melayani Tuhan dengan sepenuh bakti adalah dua hal yang sama. Tapi mereka yang meninggalkan tugas kewajiban dan hanya menyerukan nama Tuhan – bahkan dalam teriakan yang lantang – adalah musuh-musuh Tuhan dan pendosa. Karena ketika orang beriman telah sungguh-sungguh memasrahkan diri kepada Tuhan, Tuhan pun akan menjadi gelora semangat yang dominan dalam pikirannya, dan apapun yang ia lakukan tentu ia lakukan demi kemuliaan Tuhan, bukan justru hanya demi memuliakan dirinya sendiri.

Untuk itu, janganlah menghindar dari jalan Tuhan, karena dengan nafsu yang ada di dalam dirimu itu Dia hendak mengujimu. Dia lebih mengetahui kemaslahatanmu daripada dirimu sendiri. Tidaklah Dia menguji dirimu melainkan ada faidah dan hikmahnya. Apabila Dia mengujimu, hendaklah senantiasa tabah. Ingatlah dosa-dosamu serta perbanyaklah memohon ampunan dan tobat. Hendaklah memohon kepada-Nya kesabaran dan ketabahan atas ujian itu. Tetaplah disisi-Nya dan carilah rahmat-Nya selalu. Hendaklah memohon kepada-Nya agar tersingkaplah hijab di balik ujian atas dirimu itu dan kejelasan aspek kebaikannya.

“Di antara pemeliharaan Tuhan adalah membuatmu tidak mampu dan unggul, sebab bila tidak, maka boleh jadi kau akan terjerumus pada kemaksiatan. Bila Tuhan membuat fakir dan lemah, maka boleh jadi itu akan menjagamu dari kemaksiatan. Sehingga tetaplah menerimanya, semangatlah, dan banyaklah bersyukur hanya kepada-Nya”

Lalu, persiapkanlah diri untuk beramal, kemudian apabila Tuhan menetapkan amalmu, maka engkau pun akan beramal. Carilah jalan untuk beramal, bertawakkallah dan tetaplah di atas jalan amal yang ikhlas. Terjunkan dirimu ke lautan tawakkal (berserah diri kepada Tuhan) sehingga engkau akan menemukan jalan menuju amal yang murni dan mengamalkannya.

Ya. Dunia ini sementara, sedangkan akherat adalah kekal abadi. Dunia dibangun untuk sementara, sedang akherat dibangun untuk kepastian yang kekal. Oleh karena itu, janganlah meninggalkan amal di tempat yang sementara dan janganlah melemahkan kekuatan amal untuk tempat yang kekal dan pasti itu. Beramallah di tempat sementara sesuai dengan kebutuhannya dan janganlah menganggap kekal semua yang sementara ini. Karena orang yang beriman itu tidak akan menaruh kepercayaan pada dunia ini dan juga pada isinya. Dia akan mengambil bagiannya dari dunia ini seperlunya saja lalu akan menyingkirkan dengan hatinya untuk menuju Yang Ilahi. Dia diam disana, sehingga ia menyingkirkan dan merobohkan dunia. Dia memperkenankan hatinya untuk masuk ke jalan-Nya – karena banyak yang tidak berkenan untuk hal ini – dengan perantaraan batinnya. Dan batinnya lalu membawa hatinya menuju jiwa yang tenang dan anggota badan yang taat kepada-Nya.

Namun, sebagian besar manusia hanya menghendaki dunia. Sedikit saja di antaranya yang menghendaki akherat. Dan yang jarang sekali adalah yang menghendaki wajah Tuhan Yang Menguasai dunia dan akherat. Dan ingatlah! bahwa maya kadang dikatakan sebagai sumber ilusi (moha). Karena kekuatan maya, kesadaran kita menjadi parsial dan kebingungan. Kita kehilangan kesadaran tentang realitas dan hidup di dunia inderawi. Dunia lalu dikatakan menipu karena Tuhan menyembunyikan diri di balik ciptaan.

Padahal ketahuilah bahwa dunia bukan tipuan, tapi peluang untuk perwahyuan Tuhan. Kita harus menembus semua tampilan luar, melongok ke dalam, melihat apa yang ada di balik tampilan permukaan dan menemukan realitas. Dunia dan perubahan-perubahannya merupakan perwahyuan diri Tuhan atau “penyamaran” Tuhan melalui ciptaan. Namun ali-alih mengarahkan pikiran kepada Tuhan Sang Maha Pencipta, banyak manusia justru hanya melihat objek-objek inderawi semata dan ia merasa sangat puas untuk itu.

Scnary-And-Natural-Scenery-Landscape-Site-HD-Resolutions-Wallpapers

Untuk itu, hendaklah menjadi orang yang berakal. Kembalilah kepada Tuhan dengan amal-amal ikhlasmu. Disisi-Nya kau tidak sebanding sekalipun dengan sayap nyamuk. Sehingga ikhlaslah dan teruslah tunduk dan patuh pada perintah dan larangan-Nya. Dan ingatlah! Bahwa harta yang tidak akan binasa adalah keikhlasan, kejujuran, takut kepada-Nya, senantiasa menaruh harapan kepada-Nya, dan selalu berusaha untuk bisa kembali kepada-Nya dalam segala hal. Dan tetaplah percaya dengan ini, karena hal itu dapat di temukan selama kau berusaha.

Ya. Orang beriman itu adalah pribadi yang telah memutuskan hatinya dari makhluk, bahkan dari jabatan, harta dan keluarganya. Dia hanya sibuk dengan mereka sedangkan hatinya tidak sama sekali. Ia hanya fokus menunggu datangnya utusan Tuhan yang menyampaikannya ke pintu negeri keabadian. Tapi saya melihat perilakumu bukanlah seperti perilaku orang-orang yang merasa selalu diawasi oleh Tuhanmu dan takut kepada-Nya. Engkau berhubungan dengan orang-orang sesat dan berbuat kerusakan. Engkau memutuskan hubungan dengan para wali dan orang shalih. Engkau mengosongkan hatimu dari Yang Ilahi serta memenuhinya dengan kebahagiaan duniawi, dengan penghuninya dan dengan benda-benda di dalamnya saja. Apakah kau tidak tahu bahwa takut kepada Tuhan merupakan keuntungan dan memberikan makanan kepada hati dan penerang bagi jalan kehidupan? Apabila kau selalu dalam kondisi tersebut, maka kau akan meraih keselamatan di dunia dan akherat.

Wahai engkau yang tidak memikirkan dan mengimani hal ini, engkau ibarat kulit tanpa isi, ibarat sepotong kayu yang disandarkan dan menyakitkan yang layak untuk dibakar, kecuali bila kau bertobat, beriman dan berbuat yang benar. Dan nasihatilah dirimu dengan terus mengingat kematian yang selalu mengintaimu. Ikatkanlah dirimu dengan Tuhan segala penguasa, Yang Maha Pencipta, Maha Agung dan Maha Mengetahui. Berhubunganlah dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, dengan banyak bersyukur. Janganlah terus disibukkan dengan urusan kebutuhan duniawi saja sehingga melalaikan-Nya. Karena hal itu dapat menghalangimu untuk dekat disisi-Nya, dan pasti akan membuatmu celaka.

Lalu, apabila kau mengingat kematian, maka kau akan sedikit bersuka ria di dunia ini dan banyak berzuhud di dalamnya. Karena akhir dari kebahagiaan, kesedihan, kekayaan, kemiskinan, beratnya ujian, kelapangan, sakit dan pengobatan adalah kematian. Barangsiapa yang mati berarti kiamatnya telah datang, dan hak-haknya yang jauh menjadi dekat. Dan sungguh mengerikan bagi siapa saja yang tidak sempat mempersiapkan dirinya di dunia ini dengan banyak berbuat kebaikan atas nama Tuhannya.

*****

Wahai engkau yang lalai, siapakah pemilik kekuasaan yang telah kau lalaikan dan bermaksiat kepadanya? Jangan melupakan Dzat yang tidak pernah melupakanmu dan jangan lalai dari Dzat yang tidak pernah lalai kepadamu. Ingatlah kematian, karena malaikat maut ditugaskan untuk menggenggam ruhmu. Janganlah terpedaya oleh keremajaan, kekayaan dan segala sesuatu yang kau miliki, sebab dalam waktu dekat kau akan disia-siakan oleh hari-hari yang pelik, sehingga kau menyesali sesuatu yang tidak bermanfaat. Tidak lama lagi akan ada azab terbesar yang mendatangi seisi Bumi ini, dan engkau merasakannya langsung, baik di dalam rumah atau di perjalanan, karena mungkin saja kau termasuk orang yang di azab itu. Dan dalam waktu dekat kau juga akan meninggal dunia, sehingga ingatlah perkataan dan nasihat ini. Dengarkanlah apa yang disuarakan oleh hati dan batinmu. Karena keduanya selalu menyuruh pada kebaikan dan mencegah kejahatan.

“Mbesuk yen ono peperangan teko soko wetan, kulon, kidul lan lor, akeh wong apik soyo sengsoro nanging sing jahat soyo makmur. Durjana soyo ndadi lan akeh wong mati jalaran poro pangkat akeh sing kesasar lan salah paham. Iku tondone selot-selote jaman Durganala wis teko: Kelak jika terjadi peperangan yang datang dari timur, barat, selatan dan utara, maka banyak orang baik yang makin sengsara tapi yang jahat makin senang. Kejahilan makin merajalela dan banyak orang mati di karenakan para pembesar banyak yang tersesat dan salah paham. Itulah tandanya lambat laun zaman Durganala sudah tiba”

Sungguh, orang yang terbiasa bangun malam – dan ber-tafakur (merenungkan) – dapat melihat Tuhan dengan hatinya. Sehingga hatinya yang tercerai-berai jadi menyatu, melebur menjadi satu, menyebabkan runtuhnya penghalang antara dirinya dan Diri-Nya. Lalu mereka juga mampu meleburkan bangunan fisik dan menyisakan inti sarinya, serta menyebabkan hilangnya perantara. Oleh karena itu, tidak ada yang menetap dalam diri mereka kecuali Tuhan. Mereka tutup mulut dan tidak bergerak. Tidak ada kesenangan atas sesuatu, sehingga keadaan ini telah benar pada mereka. Apabila mereka telah benar, maka sempurnalah urusan hak mereka. Pada tahap awal mereka keluar dari penghambaan dan peribadahan pada dunia, kemudian kepada makhluk lalu keluar dari segala sesuatu selain Yang Ilahi secara menyeluruh. Mereka senantiasa dalam hubungan dengan-Nya dan sangat erat.

Tapi, berapa banyak orang yang belajar namun tidak beramal. Padahal carilah ilmu dan sibukkan dirimu dengan beramal disertai ikhlas. Bila kau tidak melakukannya, maka kau tidak akan meraih kebahagiaan. Pelajarilah ilmu, karena perbuatanmu digerakkan oleh Tuhan. Sibukkan pula diri dengan dzikir (mengingat) kepada-Nya, jangan menyibukkan dirimu hanya dengan berbagai permohonan kepada-Nya. Jika tujuanmu adalah kehendak-Nya, maka Dia akan memenuhinya. Jika kau berhasil menjadikan Tuhan sebagai tujuanmu, maka Dia akan memberikan kunci-kunci simpanan-Nya dalam hatimu.

Makanya, jadilah orang yang berakal karena engkau tidaklah berada di atas sesuatu. Setiap dirimu mencari kepemimpinan di tengah makhluk tanpa alat yang sesuai. Padahal menjadi pemimpin bagi makhluk harus diawali dengan zuhud di dunia dari nafsu, tabiat dan keinginan. Kepemimpinan datang dari langit, bukan dari bumi. Kewalian datang dari Tuhan, bukan dari makhluk.

“Barang siapa yang mencintai Tuhannya, ia tidak akan mencintai yang selain-Nya. Dia akan meleyapkan cintanya pada yang selain-Nya dari dalam hatinya. Bila kecintaan kepada Yang Ilahi telah bersemayam dalam hati seseorang, maka hatinya akan kosong dari rasa cinta kepada selain-Nya. Dia akan menyibukkan zahir dan batinnya hanya kepada-Nya. Dia akan keluar dari kebiasaan, keluar dari tempat-tempat ramai menuju Tuhannya”

Ya. Kehidupan dunia ini akan sampai pada batas yang telah ditentukan, sedangkan akhirat tanpa batas. Hidupmu di dunia ini sampai pada batas yang ditetapkan, sedangkan hidupmu di akherat nanti tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Sehingga bersungguh-sungguhlah agar kehidupanmu dipenuhi kebaikan dan ketaatan. Bila kau dapat melakukan hal itu, maka kau akan bertemu dengan Tuhanmu dalam wajah yang berseri-seri. Karena awal setiap urusanmu adalah kegelapan, sampai ketika datang penyingkapan dari-Nya yang akan membukakan kegelapan tersebut. Seperti bulan purnama, bila kau menyaksikan matahari ilmu terhadap Yang Ilahi, maka akan hilanglah ketentuan dan kegelapan. Akan jelaslah bagaimana keadaanmu dan mengapa Dia jauh darimu. Akan semakin jelas kesulitan-kesulitan yang kau hadapi sebelumnya. Engkau akan bisa membedakan antara yang jelek dan bagus, antara yang hak dan kewajiban. Engkau akan bisa membedakan antara kehendak makhluk dan kehendak Tuhan. Engkau dapat melihat pintu makhluk dan pintu Tuhan. Lalu disana kau baru bisa menyaksikan sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum didengar telinga, bahkan belum terlihat oleh hatimu.

Untuk itu ingatlah! Bahwa malaikat maut akan mendatangi hidupmu, mencabut nyawamu, memisahkan dirimu dengan segala sesuatu yang ada di dunia nyata ini. Sehingga berusahalah supaya nyawamu tidak dicabut pada saat kau benci untuk menjadi orang baik atau benci untuk berjumpa dengan Tuhan. Tunggulah detik-detik kematianmu dengan amal yang baik dan selalu mengingat Tuhanmu, karena dihadapan Tuhan engkau lebih baik dari pada ketika di dunia ini.

Yogyakarta, 24 April 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s