Kebaktian Kepada Tuhan: Awal Kebangkitan Nusantara

Posted on Updated on

1Wahai saudaraku. Saat ini kita telah berada tepat di akhir periode zaman. Sehingga benar-benar telah banyak perubahan dimana-mana. Ini adalah zaman fatrah, zaman dimana kemunafikkan telah merajalela. Sehingga sadarkan diri kita agar tidak termasuk sosok yang menghamba kepada makhluk – khususnya dunia. Karena kini banyak yang memandang makhluk dan beramal untuk mereka. Banyak pula yang telah melupakan pandangan Tuhan kepadanya dengan tampaknya beramal untuk Tuhan padahal semua amal dan tujuannya hanya untuk dunia.

Untuk itu, agar hidupmu berarti dan sejahtera, maka kembalilah ke dirimu yang sesungguhnya. Di antaranya dengan memahami hakekat dari berbakti kepada Tuhanmu. Karena bhakti adalah jalinan hubungan iman dan cinta kepada Tuhan Yang Kuasa. Bhakti akan membawa pada jnana atau kebijaksanaan. Dan ketika pemujaan atau sembah puja kepada Tuhan telah mencapai puncaknya, Tuhan yang bersemayam di dalam jiwa dengan rahmat pemberian-Nya akan mencurahkan cahaya kebijaksanaan. Dalam keadaan yang demikian, orang akan merasakan kedekatan yang amat sangat dengan Tuhan, yang dialami sebagai kehidupan dimana semua antitesa hilang lenyap. Ia pun melihat Tuhan ada di dalam dirinya dan dirinya berada di dalam Tuhan.

Ya. Pemujaan kepada Dia yang tak termanifestasikan tidaklah mudah bagi umat manusia pada umumnya. Karena bhakti berasal dari akar kata dalam bahasa Sanskerta yaitu “bhaj” yang berarti melayani. Disini lebih tepatnya adalah melayani Tuhan. Sehingga pelayanan ini adalah sebentuk kelekatan penuh cinta kepada Tuhan. Karena bhakti adalah sebentuk penyerahan diri dalam wujud percaya pada pemberian rahmat Tuhan.

Selain itu, bhakti merupakan penyerahan diri yang utuh menyeluruh kepada Diri Yang Tunggal. Bhakti adalah mengimani, mencintai dan menjadi umat yang berbakti kepada Tuhan, bahkan masuk ke dalam hakekat Tuhan. Seorang yang mempunyai bhakti ini, maka di dalam dirinya terdapat pengetahuan tertinggi dan energi manusia yang sempurna. Dan jiwa manusia bisa mencapai kedekatan dengan Dia Yang Ilahi melalui permenungan kuasa, kebijaksanaan dan kebaikan-Nya. Dengan terus merenungkan-Nya dengan hati yang penuh bhakti, dengan membicarakan keagungan-Nya dengan orang lain dan melaksanakan semua kerja sebagai bentuk pelayanan kepada-Nya pula.

natural

O.. Tuhan Yang Abadi tidak bisa dipandang sebagai Tuhan spekulasi filsafat, karena Tuhan harus dipahami sebagai Tuhan rahmat yang dibutuhkan dan dicari-cari oleh semua hati dan jiwa makhluk. Yang membangkitan rasa percaya dan cinta, sikap hormat yang personal dan penyerahan diri yang penuh kesetiaan. Karena itulah, hanya rahmat Tuhan yang bisa membawa kita pada keluhuran budi. Berkat rahmat Tuhan yang diberikan dengan berlimpah, sebagian kita akan terpilih untuk masuk ke Syurga. Bukan karena kita pantas atau kita baik dan beramal yang banyak, tapi hanya karena berkat rahmat dari Tuhan Yang Maha Pengasih. Tak ada alasan lain selain pilihan Tuhan yang tanpa pamrihlah yang menentukan siapa yang akan dihukum di Neraka dan siapa pula yang akan mendapatkan kebahagiaan di Syurga. Sehingga berbuat dan beramallah dengan penuh keikhlasan dan pengabdian yang tulus kepada-Nya.

Pun, hanya Dia-lah yang memberikan berkat rahmat. Dia-lah tujuan sembah puja yang sejati. Kepada-Nya kita harus persembahkan seluruh kerja. Dia-lah kebijaksanaan yang menyelamatkan. Dan kita harus mengikuti hukum tradisional (dharma), karena Tuhanlah yang memerintahkan dan Tuhan pula yang menegakkan tatanan moral. Dan hukum bukanlah tujuan dalam dirinya sendiri, karena persatuan dengan Tuhanlah tujuan yang paling purna.

Lalu mengapa harus dharma? Karena secara literal, dharma berarti cara hidup. Dharma juga berarti sifat mengada mendasar yang menentukan cara bertindak. Sejauh tindak-tanduk kita selaras dengan sifat mengada yang mendasar itu, kita menjalani hidup yang benar. Jika keseimbangan dunia ini berasal dari keselarasan semua makhluk dengan sifat dasar mereka, maka ketidakseimbangan dunia disebabkan oleh ketidakselarasan semua makhluk dengan sifat dasar mereka.

Untuk itu, masalah benar dan salah merupakan persoalan yang sangat penting, sedangkan Tuhan berkarya disisi kebenaran. Cinta dan belas kasih jauh lebih kuat daripada kebencian dan kekerasan. Dharma akan mengalahkan adharma, sementara kebenaran akan mengalahkan kebohongan. Dan Tuhan tidak akan tinggal diam ketika kita menyalahgunakan kebebasan dan menyebabkan ketidakseimbangan. Dia tidak hanya akan membawanya ke dalam tangan-Nya, mengembalikanya ke jalur yang benar dan membiarkan kembali berjalan sendiri dengan seimbang. Karena tangan-Nya yang penuh kasih akan selalu membimbing siapapun, khususnya yang mau mendekati-Nya.

Ya. Hanya ia yang memuja sembah kepada Dia Yang Ilahi, akan mencapai kebahagiaan yang tak terbatas. Jika di lakukan dengan penuh bhakti, maka sembah puja akan memurnikan hati dan mempersiapkan kita untuk bisa menuju pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Seperti garis cakrawala yang selalu sejajar dengan pandangan kita, maka setinggi apapun kita mendaki, citra Tuhan yang kita miliki takkan pernah jauh lebih tinggi daripada tingkat kesadaran kita.

Tapi, perlu diketahui bahwa terdapat tingkatan pribadi setiap orang. Dimana pada tingkatan yang rendah, seseorang berdoa untuk memohon kekayaan dan kehidupan. Sehingga pada tingkatan ini ia hanya akan memandang Tuhan sebagai Dia yang menyediakan semua keperluan material. Di tingkat selanjutnya adalah meditasi. Pada tingkatan ini, seseorang akan menyelaraskan dirinya dengan kehendak-kehendak baik, yang adalah kehendak Tuhan. Sedangkan di tingkatan yang tertinggi, maka seseorang akan menjadikan Tuhan itu sebagai puncak kepuasannya yang tertinggi, karena Dia-lah yang melengkapi dan mempurnakan jiwanya.

green-natural-scenes-31

Untuk itu, Realitas Dia Yang Maha Tinggi bukanlah persoalan yang harus dipecahkan dengan dialektika atau percakapan yang takkan bisa dimengerti oleh sebagian besar umat manusia. Percakapan atau dialektika dalam dirinya sendiri dan tanpa perujukan pada pengalaman personal yang dalam takkan memberikan iman atau keyakinan yang mendalam pada diri seseorang. Hanya pengalaman spirituallah yang bisa memberikan bukti tentang eksistensi Tuhan.

Lalu ketika individu yang terbatas mengembangkan kualitas spiritual dan memperlihatkan wawasan dan belas kasih yang besar, ia akan duduk menilai dunia dan mulai melakukan perubahan spritual dan sosial secara bersamaan. Karena setiap individu itu adalah murid, orang yang ingin mencapai kesempurnaan, orang yang mencari Tuhan dan jika ia mencari dengan kesungguhan, dengan iman yang mantap, Tuhan Sang Tujuan akan menjadi pembimbing langkah-langkahnya.

Namun kita tak mungkin hanyut dalam kesalehan batin sementara ada orang yang miskin kelaparan, telanjang dan mati di dekat pintu rumah kita. Keyakinan kepada Tuhan itu selalu mengajak kita untuk menjalani hidup di dunia ini dan menyelamatkannya – khususnya orang-orang yang kesusahan. Sehingga jika tindakan di dasarkan pada alasan-alasan yang keliru, tindakan itu hanya akan membelenggu jiwa manusia. Jika hidup kita didasarkan pada kedunguan atau ketidaktahuan, sebaik atau semulia apapun tindakan kita, maka tindakan itu akan tetap membelenggu diri kita, bahkan menjadi hal yang sia-sia.

Ya. Kita harus melawan kejahatan, tapi jika kita membiarkan diri dikuasai oleh kebencian dan kesombongan, itu sama saja artinya dengan membiarkan diri mengalami kekalahan secara spiritual. Mungkin saja kita terpaksa harus melakukan pekerjaan yang menyakitkan, tapi kerja itu harus dilaksanakan dengan cara yang sedemikian rupa sehingga tidak mengembangkan kesadaran ego yang terpisah. Karena setiap orang bisa mencapai kesempurnaan sementara ia juga menjalankan tugas dan kewajibannya dengan benar.

Makanya, tindakan yang di lakukan sepenuh bhakti dan sepenuh hati, tanpa kelekatan pada hasil, akan membawa siapapun pada sifat dasar kita. Dimana kita adalah manusia yang sederhana, yang murah hati jika melihat ada anak kecil menangis atau seorang wanita yang diperlakukan secara kasar, kita akan ikut sedih dan berlari menghampiri. Atau yang akan terhenyak hatinya dan merasa kasihan ketika melihat seekor anjing yang terluka. Karena manusia yang sejati itu akan selalu mengajak untuk mengedepankan persaudaraan, cinta dan welas asih.

*****

Wahai saudaraku. Pada zaman yang diliputi oleh bencana dan dinodai perbudakaan – terutama oleh duniawi – dan pertikaian seperti sekarang ini, maka sang juru selamat dunia terlahir. Jiwa yang bebas ini beroleh inspirasi dari pengetahuan Ilahi dan digerakkan oleh kehendak-Nya. Dialah sosok yang akan menuntun kehidupan dunia ini pada arah yang benar dan penuh cinta. Dan dia telah hadir di tengah-tengah kita. Hanya saja masih tersembunyi dan tidak ada orang yang bisa tahu tentang siapa dirinya, kecuali ia sendiri yang memberi tahukannya.

Sebab, ketika memberikan kehendak bebas kepada manusia, Tuhan tidak serta merta meninggalkan kita untuk memilih segalanya sendiri. Ketika kebebasan itu semakin banyak yang disalahgunakan dan dunia terjebak dalam rutinitas belaka, Dia “menciptakan Diri-Nya” sendiri untuk mengangkat dunia dari rutinitas itu dan memasangnya pada jalur atau jalan yang baru. Dan ketika terjadi jalan buntu, Tuhan akan turun tangan dan membukakan jalan yang buntu itu. Namun konsep perwahyuan yang unik ini sepertinya sulit untuk sejalan dengan pandangan alam semesta kita dewasa ini. Karena Tuhan kesukuan atau golongan secara bertahap menjadi Tuhan seluruh Bumi, dan Tuhan seluruh Bumi lalu menjadi Tuhan seluruh alam semesta. Padahal sangat sulit diterima jika Tuhan Yang Maha Kuasa itu hanya peduli pada salah satu suku, golongan, Bumi bahkan alam semesta saja. Sebab, bahkan alam semesta yang selama ini diketahui oleh manusia moderen hanyalah satu dari sekian banyak alam semesta yang ada.

Ya. Akan ada perubahan yang sangat besar di tanah pertiwi ini, dan beruntunglah bagi diri yang sejak kini telah mempersiapkan dirinya. Yaitu dengan mendalami hakekat agama dan nilai-nilai spiritual yang murni. Terus mempertahankan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang, dan tidak lagi terpengaruh dengan gaya hidup yang hanya mengejar kesenangan badani. Bahkan terus mencari kebenaran yang hakiki. Karena mengetahui kebenaran sama artinya dengan membuka hati kita kepada Dia Yang Maha Agung dan memuja-Nya. Ia yang mengetahui kebenaran juga adalah seorang umat beriman dan yang terbaik di antara umat beriman.

gotong royong

Sehingga, jika banyak orang atau bangsa ini bisa menjadi umat yang berbhakti kepada Tuhan – dengan beriman dan menjalankan keimanan itu dalam kehidupan sehari-hari – yang penuh cinta dan persaudaraan, maka pada saat itulah Nusantara ini akan kembali bangkit. Slogan “Gemar ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo” pun bukan hanya sekedar slogan tanpa kenyataan. Karena ketika suatu bangsa telah sadar diri bahwa dirinya itu hanyalah makhluk ciptaan Tuhan dan tunduk patuh pada setiap perintah-Nya, maka saat itulah kejayaan akan hadir. Karena dengan rahmat-Nya, maka Tuhan akan mengilhamkan tentang bagaimana caranya membangun peradaban yang gemilang. Dia pun akan memerintahkan kepada makhlak-Nya (malaikat, jin, hewan, tumbuhan, dan alam) untuk membantu manusia Nusantara. Yang menyebabkan kehidupan di dunia ini, bahkan akherat menjadi indah dan membahagiakan.

O.. Cahaya terang yang gemerlap muncul dari antara malam yang paling pekat. Malam yang pekat itu teramat kaya dengan misteri dan perwahyuan. Carilah pada malam itu, karena kehadiran malam tidak membuat keberadaan Cahaya menjadi tak berarti lagi. Dan ketika cahaya Ilahi terlahir di dalam hati kita, tirai yang menutupi mata zahir kita tersingkap, gembok yang mengunci penjara hati kita akan terbuka. Dan Tuhan bersemayam di hati setiap makhluk dan ketika tirai rahasia itu tersingkap, kita akan mendengar bisikan Tuhan, beroleh terang cahaya-Nya, dan mendapatkan kekuatan untuk bertindak dari kuasa Tuhan. Sehingga datanglah kesejahteraan.

Untuk itulah, ketika cermin pemahaman dibersihkan dari debu-debu nafsu, maka cahaya kesadaran yang murni akan bisa terpantul daripadanya. Ketika semuanya seperti tersesat, maka cahaya dari langit akan menyeruak masuk, memperkaya hidup manusia dengan cara yang tak bisa dijangkau oleh kata-kata. Dan tiba-tiba kita beroleh pencerahan batin, dan hidup menjadi tampak segar dan baru. Sehingga saat itulah banyak orang baru tersadar, bahwa bumi Nusantara telah berubah dan berwibawa indah seperti dulu kala.

Yogyakarta, 15 April 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

3 thoughts on “Kebaktian Kepada Tuhan: Awal Kebangkitan Nusantara

    Sejarah Hebat Bangsaku; Nusantara « Perjalanan Cinta said:
    April 18, 2015 pukul 6:47 am

    […] keprabon untuk pemimpin besar Nusantara atau Kebangkitan spiritual modal kebangkitan Nusantara atau Kebaktian kepada Tuhan: Awal kebangkitan Nusantara atau Ilmu-kesempurnaan diri]. Sehingga pada masa itu nanti, bangsa ini tidak lagi menjadi pengekor […]

    Tasawuf Jawa « Perjalanan Cinta said:
    Juli 7, 2015 pukul 6:58 am

    […] ini: * Ajaran luhur budhi dharma Nusantara * Kebangkitan spiritual modal kebangkitan Nusantara * Kebaktian kepada Tuhan awal kebangkitan Nusantara * Meraih kemerdekaan jiwa dengan jalan […]

    […] Perlu saya jelaskan sedikit tentang tapa brata (semedhi). Ini adalah satu tindakan dari seseorang dalam menghilangkan kebiasaan dirinya sehari-hari. Jika biasanya ia akan makan, minum dan beraktifitas secara normal, maka pada saat bertapa brata ia tidak lagi melakukan itu semua. Ia hanya akan berdiam diri di satu tempat, tidak makan dan minum, bahkan tidak bergerak sama sekali dalam waktu tertentu. Bagaimana itu bisa dilakukan? Tentu saja sebelumnya ia sudah melatih dirinya – salah satunya berpuasa dan meditasi – dalam waktu yang tidak singkat. Dan tentang bagaimana tubuhnya bisa bertahan tanpa ada makan dan minum? Maka itu bisa saja terjadi karena memang sebelumnya ia sudah melatih fisiknya untuk bisa menyerap energi yang terdapat di alam untuk bisa masuk ke dalam tubuhnya dan menjadi kekuatan (daya hidup). Disini tentunya ada teknik khusus dan kunci rahasianya. [Silahkan baca: Kebaktian Kepada Tuhan: Awal Kebangkitan Nusantara] […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s