Ilmu Kesempurnaan Diri

Posted on Updated on

Daya-SejatiIlmu tentang diri adalah jalan menuju kebahagiaan yang sejati. Ilmu ini bukan upaya intelektual atau petualangan sosial belaka. Karena ilmu tentang diri adalah jalan untuk mendapatkan kebijaksanaan yang mendalam. Dan Tasawuf adalah ilmu tentang diri yang akan membantu seseorang untuk mengatasi kedunguan yang menghalanginya untuk beroleh visi tentang Realitas Yang Sejati.

Untuk itu, sebelumnya setiap orang harus melakoni kehidupannya di dalam Sattva (komponen yang mewakili kemurnian spiritual dan pengetahuan) dan harus menjadi etis terlebih dulu sebelum menjadi spiritual. Pada level spiritual, kita harus bisa melampaui dualitas dan bertindak dalam bimbingan terang dan kekuatan Jiwa yang ada di dalam diri kita. Dengan demikian, kita tidak bertindak demi kepentingan diri atau menghindari penderitaan atau kesulitan pribadi, melainkan sebagai alat Yang Ilahi. Sehingga beruntunglah bagi pribadi yang terlatih dalam Sukrtinah (budi pekerti yang luhur) dan mereka yang terarah pada kehidupan yang lebih mulia berkat keluhuran budi itu sendiri.

Ya. Kemajuan di jalan menuju kesempurnaan sangatlah lambat dan setiap orang harus menjalani sekian banyak halangan sebelum sampai pada kesempurnaan itu. Namun demikian, tak ada upaya yang sia-sia. Jalinan hubungan yang kita bangun dan kekuatan yang kita peroleh tidaklah musnah dengan kematian. Jalinan hubungan dan kekuatan itu akan menjadi titik keberangkatan kita dalam kehidupan yang baru dan abadi nanti. Yang tentunya akan memudahkannya.

Lalu, untuk mencapai kesadaran tentang kehadiran Ilahi, kita harus mencapai kesadaran cinta Ilahiah dengan menanggalkan semua jenis cinta yang lain. Jika kita menyandarkan diri sepenuhnya pada belas kasih Tuhan, Dia akan menanggung semua kedukaan dan keinginan kita. Kita bisa mengandalkan kasih sayang-Nya yang menyelamatkan dan rahmat-Nya yang membangkitkan energi jiwa dan diri.

Selain itu, seseorang harus melakukan pemberian atau penyerahan diri yang total. Ini harus di lakukan karena akan membawa kita pada sikap pasrah untuk menyerahkan semua tindakan kepada Tuhan. Serbuan gelombang tugas dan tanggungjawab hidup sehari-hari harus dihadapi sebagai bentuk pemujaan kepada Tuhan. Cinta kepada-Nya bukanlah pelarian dari pahit getir, kerasnya kehidupan, tapi sebentuk pengabdian untuk melayani. Karmamarga atau jalan kerja yang dimulai dengan kewajiban melaksanakan syariat yang diperintahkan diakhiri dengan posisi bahwa semua tugas dan  kewajiban akan menjadi suci jika dilakukan dengan semangat pelayanan dan bebas dari sikap ego, pamrih dan mementingkan diri sendiri.

best-natural

Ya. Masalah yang dihadapi manusia adalah integrasi personalitas, perkembangan eksistensi Ilahi, dimana prinsip spiritual berkuasa atas semua kekuatan jiwa dan tubuh. Kehidupan yang integral ini diciptakan oleh jiwa. Perbedaan antara jiwa dan tubuh yang menghubungkan manusia dengan kehidupan alam bukanlah kehidupan yang paling tinggi. Kehidupan integral ini tidak ada (exist) dalam pengertian yang radikal, karena selalu dalam pengertian cinta. Kehidupan jiwa meresapi kehidupan tubuh, seperti kehidupan tubuh berpengaruh pada kehidupan jiwa. Dan pada manusia, maka antara kehidupan tubuh dan jiwa itu ada sebentuk kesatuan yang sangat vital.

Dengan aspek-aspek yang tampak, pikiran kita harus tercerap masuk ke dalam pengembaraan spiritual dan sampai pada keagungan Tuhan yang tak tampak oleh mata lahir. Jika kondisi spiritual ini tak bisa dicapai secara langsung karena kecenderungan pikiran atau kondisi kita yang lemah, lakukanlah semuanya demi Tuhan. Dengan cara ini, maka kita akan selalu menyadari realitas Yang Abadi.

Selanjutnya, kita harus menjalankan tugas dan tanggungjawab kita, mengarahkan seluruh jiwa kita kepada Tuhan dan melepaskan diri dari semua kelekatan pada dunia ini serta melepaskan diri dari rasa permusuhan dengan semua makhluk. Apapun panggilan dan watak kita, apakah kita seorang pemikir kreatif, penyair kontemplatif atau laki-laki atau perempuan sederhana yang tak mempunyai talenta yang istimewa, maka jika beroleh berkat istimewa cinta Tuhan, maka kita akan menjadi alat (perantara) Tuhan, bahkan saluran cinta dan kehendak Tuhan. Sehingga ketika dunia jiwa-jiwa yang hidup ini bisa menghubungkan diri dengan Tuhan dan hidup hanya untuk menjalankan kehendak-Nya, maka tercapailah tujuan hidup sebagai manusia.

Untuk itu, bakti akan menghancurkan kedunguan dan membawa terang cahaya. Ketika kedunguan dihancurkan, Tuhan akan “mewahyukan diri” dalam jiwa manusia. Ketika cinta dan kebijaksanaan terlahir, Yang Abadi akan mewujud dalam diri individu. Bakti juga merupakan jalan menuju kesempurnaan ilmu dan tentunya sampai pada kesempurnaan diri. Sehingga dengan bakti yang tak tergoyahkan kepada Yang Ilahi, seseorang akan beroleh rahmat dan kekuatan yang besar dari Yang Ilahi.

Tapi, mereka yang jahat tidak akan bisa mencapai Yang Ilahi, karena hati dan pikiran mereka hanya menuruti nafsu, ego dan bukan kehendak-Nya. Mereka tidak berusaha mengendalikan hasrat rendah (zina, maksiat, serakah, dll), tapi larut dalam bujuk rayu rajas (tergesa-gesa, iri hati, congkak, kasar, dll) dan tamas (malas, bodoh, dusta, licik, keras kepala, dll) dalam diri mereka. Jika seseorang bisa mengendalikan kedua dorongan itu dengan Satwam (tindakan yang berdasarkan moral, yang lepas dari keterikatan yang dilakukan tanpa mengharap suatu pamrih dan yang dilakukannya bukan karena cinta atau benci) yang juga ada di dalam diri, tindakannya akan menjadi lebih tertata dan tercerahkan. Tindakannya juga akan tidak lagi dikendalikan oleh nafsu dan kebodohan. Sehingga akan mewujudkan kebahagiaan yang sejati.

landscape-1-sm

Sungguh, Yang Ilahi ada di dalam diri kita. Ia adalah sebentuk kesadaran yang mendasari kesadaran individu sehari-hari tapi sekaligus mengatasinya. Keduanya adalah dua jenis kesadaran yang saling berbeda. Tapi kesadaran Yang Ilahi bisa disadari oleh mereka yang mau melepaskan kehidupan demi menyelamatkan kehidupan itu sendiri. Karena untuk sebagian besar hidup kita, kita tidak menyadari kehadiran Yang Ilahi di dalam diri kita. Perhatian kita banyak tersita oleh objek-objek yang kita sukai dan tidak sukai. Untuk mencapai kesadaran tentang adanya Yang Ilahi di dalam diri, maka kita harus melepaskan diri dari objek-objek itu. Tanpa kesadaran tentang ketakbermaknaan, ketidakbergunaan dan nilai-nilai rendah hidup sehari-hari kita, Diri Yang Sejati akan menjadi musuh hidup kita sehari-hari. Padahal Diri Universal bisa jadi sahabat atau lawan diri pribadi, dengan menanggalkan hasrat keinginan dan nafsu rendah. Bahkan dengan mengalahkan dorongan naluri egoistik, kita akan jadi cerminan Diri Universal. Dan jika bisa mengendalikan dorongan hasrat keinginan – khususnya yang tidak baik, dan jika diri personal bisa membuka diri, maka Diri Universal akan menjadi pembimbing langkah dan guru dalam hidup kita. Tapi memang setiap orang bebas memilih untuk bangkit atau membiarkan dirinya jatuh, karena masa depan itu tergantung dengan diri sendiri, dan dia sendiri pula yang akan merasakan konsekuensinya.

O… Yang Ilahi adalah Sang Abadi yang tanpa permulaan dan akhir, tak dilahirkan dan Dia juga Tuhan penguasa jagat raya. Semua eksistensi berasal dari-Nya, karena Dia adalah Dzat Yang Maha Agung dan menjadi sumber dari segala sesuatu. Semua kemuliaan pun berawal dan berujung serta hanya untuk Diri-Nya saja. Sehingga Dia mempengaruhi dunia demi kesejahteraan makhluk, sementara Dia sendiri tetap terpisah darinya.

Yang Ilahi juga selalu bersemayam di dalam segala hal. Dia jauh lebih menonjol dari pada siapapun. Dia lebih tampak dalam hidup dibandingkan dalam materi, dalam kesadaran dari pada kehidupan dan terutama pada diri orang shalih. Tetapi tak ada mata badani yang sanggup melihat wujud Sang Maha Kuasa. Mata manusia tidak diciptakan untuk bisa menyaksikan cahaya yang sedemikian terang benderang itu. Mata manusia hanya bisa melihat wujud permukaan, sebagian kecilnya ada yang bisa melihat lebih dalam di kedalam jiwanya.

Makanya, Dia Yang Maha Agung menegaskan bahwa kita bisa membawa alam pada tingkatan spiritual dan membawakan kualitas yang lain pada alam itu. Kita tidak boleh menghancurkan atau memusnahkan alam. Sehingga Yang Ilahi tidak harus dipandang hanya sebagai misteri yang transenden, tapi juga sebagai pribadi yang dekat, seperti seorang kekasih kepada kekasihnya. Dan dalam Tuhan, maka hubungan yang manusiawi ini mencapai kepenuhan dan cukup. Sehingga setiap pribadi haruslah menggunakan konsep ini secara lebih penuh.

natural_green_wallpaper_beautifull

Untuk itu, ada pengetahuan yang bisa kita peroleh dengan upaya kita sendiri, yaitu pengetahuan yang didasarkan pada kemampuan panca indera dan kualitas intelektual. Jenis pengetahuan yang lain yang lebih utama adalah pengetahuan realitas spiritual yang langsung berada di hati sanubari. Dengan menerapkan ilmu pengetahuan ini, maka seseorang akan merasakan bahwa Tuhan Yang Maha Tinggi menguatkan iman setiap orang yang beriman dan memberikan rahmat yang mereka pinta. Ketika jiwa mulai bangkit berusaha mendekatkan diri kepada-Nya, maka pada saat itu juga Dia akan mengulurkan tangan menggapainya.

Sehingga berdirilah dihadapan kekuasaan-Nya di atas kehancuran akal dan ilmumu, agar engkau memperoleh ilmu-Nya. Hendaklah engkau bersedia bingung terlebih dulu dan tidak langsung menentukan pilihan. Biarlah kau merasa bingung terlebih dulu hingga datang kepadamu pengetahuan tentan Diri-Nya. Bingung dahulu kemudian sampai pada pengetahuan yang kedua, kemudian sampai pada pengetahuan ketiga dan seterusnya. Dengarlah dan kemudian amalkanlah. Dikehendaki terlebih dulu barulah sampai pada yang dikehendaki. Dimaksudkan terlebih dulu baru kemudian sampai pada yang dimaksud.

*****

Wahai orang-orang yang mengharapkan ilmu dan mencari dunia dari hamba-hamba dunia sambil menghinakan mereka, sesungguhnya Tuhan telah menyesatkanmu pada ilmu dengan menghilangkan berkah dari ilmumu itu, melenyapkan intisarinya dan hanya meninggalkan kulit luarnya saja. Dan kalian yang mengharapkan ibadah sedang hatimu menyembah makhluk, mengabdi kepadanya dan selalu mengharapkan bantuannya, berarti lahiriah ibadahmu untuk Tuhan dan batinmu untuk makhluk. Semua permintaan dan keinginanmu hanya pada apa yang mereka miliki berupa uang, harta dan kedudukan. Sesungguhnya engkau melakukannya karena mengharapkan pujiannya, dan pada saat yang sama takut terhadap celaannya serta takut dipalingkan darinya. Kalian menakuti halangannya dan mengharapkan pemberiannya melalui tipu daya dan halus tutur kata. Jika demikian keadaanmu, celakalah kalian. Sebab telah bersikap yang hina dan jauh dari kebenaran.

Sebaliknya, jika keimananmu meningkat dan pohonnya terus meninggi, maka Dia akan mencukupimu dan menghilangkan ketergantunganmu kepada makhluk. Dia akan mencukupimu dalam usaha dan pekerjaan yang kau lakukan. Dia akan menyenangkanmu, juga hati dan jiwamu. Dia akan memberikan petunjuk jalan menuju-Nya. Dia akan mencukupimu dari kefakiran ilmu jika engkau selalu mengingat-Nya dan bersikap tunduk kepada-Nya. Dia juga akan senang menurunkan kemampuan luarbiasa kepadamu. Sehingga janganlah sering memperhatikan – atau bahkan mengikuti – orang yang makan dan menyibukkan dirinya hanya dengan urusan duniawi. Dan jangan pula selalu memperhatikan orang yang memiliki harta yang berlimpah, sehingga pandanganmu kepadanya menjadi kabur. Tetapi perhatikanlah selalu dirimu dan Diri-Nya dan bagaimana keadaan serta hubungannya.

Ya. Apakah yang bersemayam di dalam diri itu (Adhidaivam)? Dan apa pula yang bersemayam di dalam diri semua makhluk hidup (Adhibhutam)? Maka jawaban dari pertanyaan di atas adalah bahwa Dzat Yang Maha Tinggi meliputi semua makhluk bahkan segala sesuatu. Semua itu hanyalah sebagian dari wujud Yang Maha Esa. Yang setiap diri yang ingin meraih ilmu kesempurnaan diri harus mengenal dan memahaminya.

Yogyakarta, 27 Maret 2015
Mashudi Antoro (Oedi`)

2 thoughts on “Ilmu Kesempurnaan Diri

    Sejarah Hebat Bangsaku; Nusantara « Perjalanan Cinta said:
    April 18, 2015 pukul 5:43 am

    […] keprabon untuk pemimpin besar nusantara atau Kebangkitan spiritual modal kebangkitan Nusantara atau Ilmu-kesempurnaan diri] . Sehingga pada masa itu, bangsa ini tidak lagi menjadi pengekor bangsa lain, tetapi bangsa […]

    […] Karena itulah, untuk bisa moksa maka seseorang harus membekali dirinya dengan pengetahuan suci tentang Dzat Yang Tertinggi yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa dan berbagai tata cara ritual yang kongkrit mengenai moksa. Dan untuk bisa moksa, maka tiada pilihan lain bagi seseorang kecuali ia harus melatih dirinya dengan banyak meditasi dan olah batin lainnya. Jadi, sebelum seseorang bisa moksa, maka ia harus menguasai berbagai ilmu mulai dari tingkat Kanuragan hingga ke tingkat Kasapuhan, atau lebih baiknya lagi sampai di tingkatan Kasampurnan. [Silahkan baca: Ilmu Kesempurnaan Diri] […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s